cover
Contact Name
Evy Yunihastuti
Contact Email
Evy Yunihastuti
Phone
-
Journal Mail Official
cp.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 24068969     EISSN : 25490621     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia adalah jurnal kedokteran penyakit dalam yang dikelola secara elektronik dengan standar peer-review yang profesional. Jurnal ini diterbitkan oleh Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sejak tahun 2014. Misi utama kami adalah untuk mendorong perkembangan ilmu kedokteran dan khususnya di bidang klinis penyakit dalam Jurnal Penyakit Dalam Indonesia merupakan open-accessed jurnal yang memuat publikasi naskah ilmiah dengan memenuhi tujuan penerbitan jurnal, yaitu menyebarkan hasil penelitian, laporan kasus, tinjauan pustaka di bidang penyakit dalam untuk praktik dokter penyakit dalam dan dokter umum di seluruh Indonesia. Artikel yang dipublikasikan oleh jurnal kami diharapkan dapat memberi informasi baru, menarik minat dan dapat memperluas wawasan praktisi di bidang penyakit dalam, serta memberi alternatif pemecahan masalah, diagnosis, terapi, dan pencegahan.
Arjuna Subject : -
Articles 315 Documents
Wanita 30 Tahun dengan Sepsis, Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak, dan Obesitas Widinartasari, Franzeska Anna Dewi Mursita; Sodiq, Muhammad Ali; Sofro, Muchlis Achsan Udji
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas meningkatkan morbiditas dan mortalitas melalui efeknya terhadap hampir semua sistem kekebalan tubuh manusia. Obesitas memiliki efek terhadap respon imun sehingga meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. ß lactamase adalah enzim bakterial yang menginaktivasi antibiotik ß-lactam dengan cara hidrolisis. Salah satu kelompok penghasil ß lactamases, yaitu extended-spectrum ß lactamases (ESBLs), memiliki kemampuan untuk menghidrolisis dan menyebabkan resistensi terhadap berbagai antibiotik terbaru. Manajemen infeksi kulit dan jaringan lunak (skin and soft tissue infection/SSTI) dengan infeksi polimikrobial dan multi drug resistance dapat menjadi suatu masalah yang menantang. Kami melaporkan sebuah kasus mengenai pasien obesitas dengan SSTI polimikrobial. bPasien tersebut menunjukkan tanda dan gejala klinis sepsis dengan gangguan ginjal akut. Dengan resusitasi cairan, pemberian antibiotik dini, dan tindakan bedah, pasien mengalami perbaikan klinis. Kunci untuk manajemen pasien dengan SSTI yang berat memerlukan kewaspadaan awal dan tindakan debridement bedah. Klinisi perlu mempertimbangkan terapi antibiotik empiris kombinasi dini pada SSTI. Kata Kunci: ESBL, infeksi, jaringan lunak, kulit, obesitas, saluran kencing, sepsis  A 30 Years Old Woman with Sepsis, Skin and Soft Tissue Infection, and ObesityObesity increases morbidity and mortality through its multiple efects on nearly every human system. Obesity has efect on the immune response which leads to susceptibility to infections. ß lactamases are bacterial enzymes that inactivate ß-lactam antibiotics by hydrolysis. One group of ß lactamases, extended-spectrum ß lactamases (ESBLs), have the ability to hydrolyse and cause resistance to various types of the newer ß-lactam antibiotics. The management of skin and soft tissue infection with polymicrobial infection and multi drug resistance can be challenging problem. We present a case of an obese patient with polymicrobial SSTI. bPatient showed clinical sign of sepsis with acute kidney injury. With fluid rescucitation, early antibiotic administration and surgical treatment, she gained clinical improvement. The key to successful management of patients with severe skin and soft tissue infection are early recognition and complete surgical debridement. Clinicians need to consider appropriate early empirical antibiotic combination therapy coverage or the use of combination therapy to treat SSTI.
Faktor-faktor yang Berkorelasi dengan Status Nutrisi pada Pasien Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) Yulianti, Mira; Suhardjono, Suhardjono; Kresnawan, Triyani; Harimurti, Kuntjoro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Perubahan status nutrisi dikaitkan dengan tingginya mortalitas pada kelompok pasien penyakit ginjal tahap akhir (PGTA). Berbagai penelitian menunjukkan tingginya prevalensi malnutrisi pada pasien dialisis kronik, namun hingga saat ini, penelitian lebih banyak dilakukan pada pasien yang menjalani hemodialisis. Dengan latar belakang berkembangnya CAPD di Indonesia, perlu diteliti faktor-faktor yang berkaitan dengan kesintasan pasien CAPD untuk menekan tingginya morbiditas dan mortalitas pada kelompok pasien tersebut, salah satunya adalah faktor nutrisi.Metode. Penelitian ini merupakan studi potong lintang pada kelompok pasien PGTA yang menjalani CAPD yang kontrol keRSCM dan RS Satelit. Dilakukan pengumpulan data denga wawancara, pemeriksaan fisik, penjelasan mengenai metode pencatatan makanan dengan food record oleh dietisian dengan menggunakan alat bantu food model. Pada saat kontrolberikutnya pasien diminta untuk mengembalikan food record dan menjalani pemeriksaan darah (hsCRP dan AGD vena).Hasil. Sebanyak 33 (75%) subjek penelitian memiliki status nutrisi baik dan 11 (25%) pasien memiliki status nutrisi kurang. Pada analisis bivariat penelitian ini didapatkan korelasi (r=0,433 ; p=0,003) antara hsCRP dan status nutrisi.Simpulan. Faktor yang berkorelasi dengan status nutrisi  pada pasien CAPD adalah inflamasi. 
Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Celiac Oktadiana, Harini; Abdullah, Murdani; Renaldi, Kaka; Dyah, Nury
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit celiac merupakan penyakit enteropati proksimal terkait sistem imun yang bersifat reversibel, terjadi karena interaksi antara diet yang mengandung gluten dengan sistem imun di usus. Penyakit celiac memiliki manifestasi klinis yang beragam dan dapat terjadi pada usia berapapun. Jumlah penderita baru yang didiagnosis penyakit celiac meningkat karena meningkatnya kesadaran dan berkembangnya alat diagnosis yang lebih baik. Standar diagnosis penyakit celiac adalah berdasarkan uji serologi positif dan pemeriksaan histopatologi dari biopsi duodenum. Tata laksana penyakit celiac dengan diet bebas gluten akan memperbaiki gejala, kualitas kehidupan, mengurangi risiko keganasan dan komplikasi lainnya. Strategi pengobatan penyakit celiac dengan terapi non diet saat ini masih terus dikembangkan. Kata Kunci: diagnosis, penyakit celiac, tata laksana Diagnosis and Treatment of Celiac DiseaseCeliac disease is a reversible, proximal immune enteropathy resulting from the interaction of dietary gluten with the intestinal immune system. Celiac disease can produce varied manifestations and may develop at any age. New cases have increased substantially, due to increase awareness and better diagnostic tools. Standard diagnosis of celiac disease is based on positive serologic tests and histopathologic examination of duodenal biopsies. Treatment of celiac disease with free gluten diet will improve symptoms, quality of life, reduce risk of malignancy and complication. Nowadays, treatment strategy of celiac disease with non-dietary therapies is still underdevelopment. 
Prevalensi dan Faktor Prediktor Atopi pada Pasien HIV/AIDS Prevalence and Predictors of Atopy in HIV/AIDS Patients Tesiman, Jimmy; Sundaru, Heru; Karjadi, Teguh H; Setiati, Siti
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Infeksi HIV menyerang pusat kontrol dari sistem imun yang mengakibatkan terjadinya infeksi opportunistik, keganasan dan kematian. Disregulasi dari sistem imun memegang peranan penting dalam progresifitas penyakit HIV. Beberapa penelitian melaporkan bahwa pasien-pasien HIV mempunyai kecenderungan untuk menderita penyakit alergi seperti sinusitis, asma dan dermatitis atopik. Juga dilaporkan terjadinya peningkatan kadar serum imunoglobulin E (IgE) dan peningkatan prevalensi atopi.Metode. Studi potong lintang dilakukan pada 92 orang terinfeksi HIV dan 90 orang non-HIV. Adanya atopi dinyatakan berdasarkan pemeriksaan uji tusuk kulit dengan menggunakan enam macam aeroalergen yang umum di lingkungan. Terhadap pasien-pasien yang sudah didiagnosis dengan HIV dilakukan pemeriksaan kadar IgE total, jumlah limfosit CD4 serta anamnesis terkait.Hasil. Dari 92 orang dengan infeksi HIV/AIDS dan 90 orang non-HIV yang diteliti, terdiri 65 laki-laki (70,7%) dan 27 perempuan (29,3%) pada kelompok HIV, sedangkan pada kelompok non-HIV terdiri atas 40 laki-laki (44,4%) dan 50 wanita (55,6%). Umur subjek penelitian berkisar antara 20-55 tahun dengan rerata 29,3 (5,7) tahun pada kelompok HIV, sedangkan rerata kelompok umur kontrol adalah 27,9 (4,5) tahun. Berdasarkan rute transmisi HIV, didapatkan sebanyak 52 subjek melalui penggunaan obat intravena (56,5%), 35 melalui hubungan seksual (38%) sedangkan sisanya (5,5%) mempunyai risiko keduanya. Jumlah limfosit CD4+ berkisar 2-674 sel/uL dengan median 160 sel/uL. Kadar IgE total berkisar dari 3-20.000 IU/ mL dengan median 283,5 IU/mL. Kejadian atopi lebih tinggi pada subjek dengan HIV dibandingkan dengan kelompok non-HIV (p= 0,001). Aeroalergen tersering yang menimbulkan sensitasi adalah Dermatophagoides farinae sebanyak 50% dan Dermatophagoides pteronyssinus sebanyak 30%. Didapatkan adanya korelasi negatif yang bermakna antara jumlah limfosit CD4+ dengan kadar IgE total (r=-0,544, p<0,001). Namun demikian, tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, rute transmisi, riwayat alergi di keluarga serta jumlah limfosit CD4+ dengan kejadian atopi.Simpulan. Prevalensi atopi pada pasien HIV/AIDS berdasarkan uji tusuk kulit lebih tinggi dibanding kelompok non-HIV. Terdapat korelasi negatif antara kadar IgE total dengan jumlah limfosit CD4+.Kata kunci: atopi, HIV, tes tusuk kulitPrevalence and Predictors of Atopy in HIV/AIDS PatientsIntroduction. HIV infection attacks the center of immune control system resulting opportunistic infection, malignancy and death. Immune system dysregulation plays the central role in the progression of the disease. Some studies reported that HIV-infected patient prone to have allergic disease such as sinusitis, asthma and atopic dermatitis. Elevated serum immunoglobulin E (IgE) and increased prevalence of atopy had also been reported in HIV-infected patient. Methods. A cross sectional study was performed in 92 HIV-infected persons and 90 non-HIV persons. Atopy diagnosis was based on immediate hypersensitivity to six common aeroallergen using skin prick test. CD4 cell count, total serum immunoglobulin level and medical history were taken. Results. Among total of 92 HIV/AIDS patients and 90 non-HIV persons, there were 65 males (70.7%) and 27 female (29.3%) in HIV group and 40 males (44.4%) and 50 females (55.6%) in non-HIV group. Age of all subjects range from 20 to 55 years old, mean age of HIV-infected patients was 29.3 (SD 5.7) years while mean age of controls was 27.9 (4.5) years old. Based on HIV route transmission, there were 56.5% subjects infected from intravenous drug user, 38% from heterosexual intercourse and 5.5% subjects had both risk. CD4+ lymphocyte counts of the subject range from 2-674 cells, median 160 cells/uL. Serum total IgE levels range from 3-20.000 IU/mL with median 283.5 IU/mL. Atopy was higher in subjects with HIV than non-HIV (p= 0,001). The most common aeroallergen is Dermatophagoides farinae (50%) and Dermatophagoides pteronyssinus (30%). There was a negative correlation between CD4+ lymphocyte count and total IgE level (r=-0,544, p<0,001), but there is no relation between gender, HIV route of transmission, allergic history in family and CD4+ lymphocyte count with atopy. Conclusions. Prevalence of atopy based on skin prick test among HIV/AIDS patients was higher than non-HIV group. There was a negative correlation between CD4+ lymphocyte count and total IgE level. Keywords: atopy, CD4, HIV, IgE
Korelasi Forced Expiratory Volume in 1 Second % Prediksi dengan Tekanan Rerata Arteri Pulmonalis Menggunakan Ekokardiografi pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik Stabil Munadi, Munadi; Yamin, M; Ujainah, Anna; Rumende, Cleopas Martin
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Hipertensi pulmonal merupakan komplikasi tersering pada penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Angka kematian akan meningkat tajam apabila pasien PPOK sudah mengalami komplikasi ini. Selama ini pengukuran tekanan arteri pulmonalis hanya diukur pada saat pasien PPOK eksaserbasi dirawat di ruang intesif dengan cara invasif menggunakan alat right heart catherization (RHC). Data kelompok PPOK stabil yang mengalami hipertensi pulmonal yang diukur dengan cara non invasif masih relatif sedikit yang dipublikasi. Saat ini sudah ada ekokardiografi yang dapat digunakan sebagai pengganti RHC pada kelompok PPOK stabil. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara penurunan forced expiratory volume in 1 second (FEV1) % prediksi dengan peningkatan rerata tekanan arteri pulmonalis (mean pulmonary arterial pressure, mPAP) dan mencari titik potong terbaik secara klinis antara FEV1 % prediksi dan mPAP.Metode. Studi potong lintang pada lima puluh delapan subjek PPOK stabil yang dilakukan spirometri dan pengukuran mPAP dengan menggunakan ekokardiografi doppler pada potongan short axis setinggi aorta.Hasil. Nilai rerata FEV1 % prediksi 26,6 (SB 4,7) dan rerata mPAP 37,61 (18,1-59) mmHg. 74 % subjek mengalami hipertensi pulmonal, dengan karakteristik 24 % ringan, 31 % sedang dan 19 % berat. Terdapat korelasi negatif kuat antara penurunan FEV1 % prediksi dengan peningkatan mPAP. Semakin turun FEV1% prediksi semakin meningkat mPAP. Nilai titik potong terbaik secara klinis 55,3 % dengan sensitivitas 93%.Simpulan. FEV1 % prediksi berkorelasi negatif yang sangat kuat dengan tekanan rerata arteri pulmonalis. FEV1 % prediksi 55,3 % memiliki kemampuan yang cukup baik membedakan PPOK stabil yang sudah mengalami hipertensi pulmonal.Kata Kunci: ekokardiografi, FEV1 %, mPAP, PPOK stabil, spirometri  Correlation of Forced Expiratory Volume in 1 Second Prediction with Mean Pulmonary Arterial Pressure Using Echocardiography in Stable Chronic Obstructive Pulmonary Disease Introduction. Pulmonary hypertension is the most common complication of chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Mortality rate will increase when COPD complication with pulmonary hypertension. Right heart catheterization (RHC) is the most common tool to measure mean pulmonary arterial pressure (mPAP) either in COPD patients with exacerbations treated in intensive care unit. Data of pulmonary hypertension in stable COPD group is still relatively rare. Alternatively to RHC, nowadays echocardiography is used to measure mean pulmonary arterial pressure in stable COPD group.Methods. A cross-sectional study was conducted on fifty-eight stable male COPD patients (mean age: 67,6) underwent spirometry. Mean pulmonary arterial pressure was measured using transthoracic echocardiography at short axis view in aortic level. Results. Mean value of forced expiratory volume in 1 second (FEV1)% was 26,6 % (SD 4,7) with median value of mean pulmonary arterial pressure was 37,61 mmHg (range 18,3-59). As many as 74% subjects were pulmonary hypertension; 24 % mild, 31 % moderate and 19% severe respectively. The correlation test showed a significant strong-negative correlation (r = -0,948, p <0,001). The best cut-off point of FEV1% prediction, which had a clinical value correlated with mPAP, was 55,3% with the sensitivity 93 %. Conclusions. Forced expiratory volume in one second (FEV1)% prediction has a significant correlation with mean pulmonary arterial pressure in stable COPD patients. The cut-off point FEV1% prediction 55,3% has a good capability to discriminate pulmonary hypertension in stable COPD patient. Keywords: echocardiography, FEV1% prediction, mean pulmonary arterial pressure, stable COPD
Pengembangan Model Prediksi Mortalitas 3 Bulan Pertama pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis Umami, Vidhia; Lydia, Aida; Nainggolan, Ginova; Setiati, Siti
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Mortalitas pasien yang menjalani hemodialisis (HD) paling tinggi pada tiga bulan pertama. Data mengenai insidens dan prediktor mortalitas dini pada pasien HD sangat terbatas. Suatu model prediksi dapat menjadi alat bantu yang sederhana untuk mengetahui pasien yang berisiko tinggi sehingga pada akhirnya upaya pencegahan dapat dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidens dan prediktor mortalitas 3 bulan pada pasien hemodialisis baru dan membuat suatu model prediksi.Metode. Penelitian dengan disain kohort retrospektif terhadap 246 pasien PGTA yang baru menjalani HD di Unit HD RSCM antara Januari 2011-Januari 2012. Dilakukan analisis chi-square untuk mendapatkan nilai OR (Odds Ratio) terhadap variabel usia, pembiayaan, jenis HD, akses pembuluh darah, anemia, hipoalbuminemia, kelainan EKG, kardiomegali, komorbid, waktu rujukan ke nefrologis, dan kepatuhan. Prediktor yang bermakna kemudian dimasukkan pada model regresi logistik untuk mendapatkan sistem skor.Hasil. Sebanyak 78 (31,7%) dari 246 pasien meninggal dalam 3 bulan pertama. Terdapat 5 variabel yang berhubungan dengan terjadinya mortalitas 3 bulan yaitu usia > 60 tahun, hemoglobin <8 g/dl, albumin serum <3,5 g/dl, kelainan EKG, dan akses femoral. Skor prediksi untuk prediktor usia, hemoglobin, albumin serum, kelainan EKG, dan akses pembuluh darah berturut-turut sebesar 1, 3, 1, 3, 1. Jumlah skor kemudian dikategorikan menjadi risiko rendah (skor 0-3), sedang (skor 4-6), dan tinggi (skor 7-9). Tiap kelompok memiliki prediksi mortalitas 3 bulan berturut-turut sebesar 1,23%, 26,69%, dan 86,04%.Simpulan. Insidens mortalitas 3 bulan pada pasien HD baru sebesar 31,7%. Usia > 60 tahun, hemoglobin <8 g/dl, albumin serum <3,5 g/dl, kelainan EKG, dan akses femoral merupakan prediktor yang bermakna terhadap terjadinya mortalitas dalam 3 bulan pertama HD.
Pendekatan Diagnosis dan Tata Laksana Lesi Dieulafoy’s Saifuddin, Anshari; Renaldi, Kaka
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lesi Dieulafoy’s merupakan salah satu penyebab perdarahan saluran cerna yang cukup jarang terjadi namun menjadi salah satu penyebab yang penting. Patogenesis penyakit ini berkembang dari awal penemuannya sampai sekarang. Dari studi terakhir dikatakan bahwa etiologi kelainan ini bermacam-macam, mulai dari genetik sampai pengaruh usia. Kelainan ukuran dan bentuk arteriol diketahui menjadi patogenesis utama kelainan ini. Endoskopi menjadi teknik diagnosis utama dengan efektivitas mencapai lebih dari 90%. Namun, pada beberapa keadaan kelainan ini sulit ditemukan melalui teknik endoskopi. Tata laksana utama adalah dengan teknik hemostasis via endoskopi. Teknik tersebut saat ini sudah berkembang dan bervariasi, mulai dari termal koagulasi, mekanik, sampai injeksi epinefrin. Seiring perkembangan teknologi kedokteran, prognosis penyakit ini saat ini cukup baik. Kata Kunci: diagnosis, lesi Dieulafoy’s, tata laksana  Diagnostic Approach and Treatment of Dieulafoys LesionDieulafoy’s lesion is a rare cause of upper gastrointestinal bleeding but become an important etiology. Pathogenesis of the disease evolved from earlier of its invention till now. It has been stated in recent study that the etiology of this disease is vary, from age to genetic. Size and arteriol configuration abnormality has been known as the main pathogenesis of the disease. Endoscopic procedure become the primary diagnostic tool, which effectiveness reached more than 90%. However, in some situation, it’s difficult to find the abnormality by endoscopic procedure. Hemostatic procedure via endoscopy is the main therapy of Dieulafoy’s lesion, which has been progressed from thermal coagulation, mechanical procedure, and epinephrine injection. The development of medical technology has made the better prognosis of the disease. 
Perubahan Konsentrasi Amino Terminal Pro B-Type Natriuretic Peptide (NT-proBNP) dan Fraksi Ejeksi Ventrikel Kiri pada Pasien Kemoterapi Doksorubisin Kamelia, Telly; Waspadji, Sarwono; Makmun, Lukman Hakim; Effendi, Shufrie; Ramli, Muchlis; Timan, Ina Susanti
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Pada pasien kanker yang mendapat rejimen kemoterapi mengandung doksorubisin dapat mengalami efek samping kemoterapi pada jantung yang disebut kardiotoksisitas. Pemeriksaan NR-proBNP dapat dipakai sebagai parameter baru untuk mengidentifikasi secara dini dan memantau perkembangan efek samping kemoterapi pada jantung, selain pengukuran fraksi ejeksi ventrikel kiri. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan perubahan nilai konsentrasi NT-proBNP dan fraksi ejeksi ventrikel kiri pada pasien kanker yang diberi rejimen kemoterapi mengandung Doksorubisisn siklus I-IV.Metode. Studi pre and post test design dilakukan untuk melihat perubahan konsentrasi NT-proBNP dan fraksi ejeksi ventrikel kiri pada pasien yang mendapat kemoterapi doksorubisin sebelum dan setelah kemoterapi siklus I sampai siklus IV di Rumah Sakit dr. Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta. Dilakukan pengambilan sampel darah sebelum kemoterapi dan sesudah kemoterapi siklus I-IV. Analisis statistik dilakukan dengan uji two way Anova dan uji non parametrik Friedman.Hasil. Selama periode bulan Oktober 2007-Juni 2008 terkumpul 29 pasien kemoterapi doksorubisin terdiri dari 16 pasien kemoterapi CHOP (Siklofosfamid, Doksorubisin, Vinkristin, Prednison) dan 13 pasien kemoterapi FAC (5 Fluorourasil, Doksorubsisin, Siklofosfamid). Didapatkan peningkatan nilai median konsentrasi NT-proBNP antara kemoterapi naïve dengan: pasca kemoterapi siklus I 32 pg/mL (12,5-124,6 pg/mL), pasca kemoterapi siklus II 135 pg/mL (44-275,2 pg/mL), pasca kemoterapi siklus III 275,1 pg/mL (97,8-907,2 pg/mL), dan pasca kemoterapi siklus IV 514,6 pg/mL (80,6-6458,2 pg/mL). Dengan uji Friedman, didapat nilai p<0,000. Dengan uji Anova two way, didapatkan penurunan rerata fraksi ejeksi ventrikel kiri dibandingkan fraksi ejeksi ventrikel naïve; pasca kemoterapi siklus I penurunan sebesar 5,1% (p 0,000), pasca kemoterapi siklus II 8,9% (p 0,000), pasca kemoterapi siklus III 11,2% (p 0,000), dan pasca kemoterapi siklus IV sebesar 12,5% (p 0,000).Simpulan. Didapatkan peningkatan nilai median konsentrasi NT-proBNP dan penurunan rerata fraksi ejeksi ventrikel kiri pada pasien yang mendapat rejimen kemoterapi mengandung doksorubisin. Kata Kunci: doksorubisin, fraksi ejeksi, kardiotoksisitas, kemoterapi, NT-proBNP, ventrikel kiri  The Changes of Amino Terminal Pro B-type Natriuretic Peptide (NT-proBNP) Concentration and Left Ventricular Ejection Fraction on Doxorubicin Chemotherapy PatientsIntroduction. Cancer patients who received chemotherapy regimen containing doxorubicin has been known to have serious side effect in heart, called as cardiotoxicity. The measurement of NT-proBNP proposed to be used as a new parameter to identify and evaluate cardiotoxicity in cancer patients earlier before it has been manifested, superior than measurement of left ventricle ejection fraction (LVEF). The aims of this study to examine the changes of NT-proBNP concentration and LVEF on patients with cancer who receive chemotherapy regimen containing doxorubicin.Methods. The study used pre and post test design to observe the changes of NT-proBNP concentration and LVEF on the patients who receive naïve doxorubicin chemotherapy and after chemotherapy-cycle I to cyce IV at the Ciptomangunkusumo hospital, Jakarta. Echocardiography and NT-proBNP were examined on naïve chemotherapy and after chemotherapy each cycle. Statistical analysis was performed by using two way Anova and Friedman nonparametric test. Results. During the period of October 2007 to June 2008, a total of 29 consecutive patiets receiving doxorubicin chemotherapy regimen CHOP (Cyclophosphamide, doxorubicin, Vincristine, Prednisone and FAC-5 Fluorouracil, doxorubicin, Cyclophosphamide) were collected. The increase of median NT-proBNP concentration between naïve chemotherapy and: post chemotherapy cycle I was 32 pg/mL (12,5-124,6 pg/mL), post chemotherapy cycle II was 135 pg/mL (44-275,2 pg/mL), post chemotherapy cycle III was 275,1 pg/mL (97,8-907,2 pg/mL), post chemotherapy cycle IV was 514,6 pg/mL (80,6-6458,2 pg/mL). With Friedman test, p< 0,000. With Anova two way test, it was found the difference between naïve LVEF and LVEF: post chemotherapy cycle I was 5,1% (p 0,000), post chemotherapy cycle II 8,9% (p 0,000), post chemotherapy cycle III 11,2% (p 0,000), post chemotherapy cycle IV 12,5% (p 0,000). Conclusions. Elevated NT-proBNP concentration and LVEF reduction had been observed in doxorubicin chemotherapy patients.  
Hipoalbuminemia pada Pasien Usia Lanjut dengan Pneumonia Komunitas: Prevalensi dan Pengaruhnya Terhadap Kesintasan Kurniawan, Wawan; Rumende, C Martin; Harimurti, Kuntjoro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Hipoalbuminemia merupakan salah satu penanda risiko mortalitas, tetapi belum banyak yang mempertimbangkan faktor waktu (seberapa cepat terjadinya mortalitas). Penelitian ini mengevaluasi pengaruh hipoalbuminemia terhadap kecepatan terjadinya mortalitas pada pasien usia lanjut dengan pneumonia komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi hipoalbuminemia dan pengaruhnya terhadap kesintasan pasien usia lanjut yang dirawat dengan pneumonia komunitas.Metode. Penelitian dengan disain kohort retrospektif dilakukan terhadap 142 pasien usia lanjut dengan pneumonia komunitas yang dirawat di RSCM pada kurun waktu Januari-Oktober 2010. Data klinis dan laboratoris diambil dalam 24 jam pertama kedatangan (data sekunder) dan kemudian diikuti dalam 30 hari untuk melihat status mortalitasnya. Perbedaan kesintasan hipoalbuminemia ditampilkan dalam kurva Kaplan Meier dan perbedaan kesintasan diantara dua atau lebih kelompok akan diuji dengan Log-rank test, dengan batas kemaknaan <0.05, serta analisis multivariat dengan Cox’s proportional hazard regression untuk menghitung adjusted hazard ratio (dan interval kepercayaan 95%-nya) antara pasien usila dengan pneumonia yang mengalami hipoalbuminemia terhadap yang normoalbuminemia dengan koreksi terhadap variabel-variabel perancu.Hasil. Prevalensi hipoalbuminemia pada pasien usila dengan pneumonia komunitas sebesar 71,1% (IK95% 0,64-0,78). Rerata kesintasan pada kelompok dengan kadar albumin normal adalah 27 hari (IK95% 24,35-30,98), sedangkan pada kelompok albumin 2,5-3,4 g/dL rerata kesintasannya adalah 22 hari (IK95% 19,66-25,13) dan pada kelompok albumin kurang dari 2,5 g/dL rerata kesintasannya adalah 19 hari (IK95% 13,07-26,23). Crude hazard ratio (HR) pasien dengan kadar albumin antara 2,5-3,4 g/dL adalah 4,49 (IK95% 1,05-19,20) dan pada pasien dengan kadar albumin kurang dari 2,5 g/dL adalah 7,26 (IK95% 1,46-36,09) bila dibandingkan dengan pasien dengan kadar albumin normal (≥3,5 g/dL). Setelah penambahan variabel perancu, didapatkan fully adjusted hazard ratio sebesar 3,81 (IK95% 0,86-16,95) untuk kelompok albumin antara 2,5-3,4 g/dL dan 11,09 (IK95% 1,79-68,65) untuk kelompok albumin kurang dari 2,5 g/dL.Simpulan. Prevalensi hipoalbuminemia pada usia lanjut dengan pneumonia komunitas adalah 71,1%. Terdapat perbedaan kesintasan 30 hari pasien pneumonia usia lanjut yang mengalami hipoalbuminemia dibanding dengan yang normoalbuminemia (≥3,5 g/dL). Kesintasan pada pasien dengan keadaan hipoalbuminemia yang berat lebih buruk dibandingkan pada keadaan hipoalbuminemia ringan.
Diagnosis dan Tata Laksana Paroksismal Nokturnal Hemoglobulin Pramono, Laurentius A; Karim, Birry; Iskandar, Martha; Yanto, Asnawi
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paroksismal nokturnal hemoglobinuria (PNH) merupakan kelainan darah yang sangat jarang. Penegakan diagnosis PNH cukup panjang, mulai darianamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan laboratorium (darah dan urin) dimulai dari yang sederhana sampai lanjutan. Penyelidikan ini tidak saja memerlukan perencanaan klinis yang matang, melainkan juga waktu dan tenaga yang banyak, serta biaya yang mahal. Selain itu, sampai saat ini, pilihan pengobatan untuk PNH masih sangat terbatas, dengan keberhasilan yang belum memuaskan sepenuhnya. Berikut kami laporkan sebuah kasus PNH pada seorang perempuan 18 tahun.

Page 2 of 32 | Total Record : 315