cover
Filter by Year
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Published by Universitas Indonesia
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia adalah jurnal kedokteran penyakit dalam yang dikelola secara elektronik dengan standar peer-review yang profesional. Jurnal ini diterbitkan oleh Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sejak tahun 2014. Misi utama kami adalah untuk mendorong perkembangan ilmu kedokteran dan khususnya di bidang klinis penyakit dalam Jurnal Penyakit Dalam Indonesia merupakan open-accessed jurnal yang memuat publikasi naskah ilmiah dengan memenuhi tujuan penerbitan jurnal, yaitu menyebarkan hasil penelitian, laporan kasus, tinjauan pustaka di bidang penyakit dalam untuk praktik dokter penyakit dalam dan dokter umum di seluruh Indonesia. Artikel yang dipublikasikan oleh jurnal kami diharapkan dapat memberi informasi baru, menarik minat dan dapat memperluas wawasan praktisi di bidang penyakit dalam, serta memberi alternatif pemecahan masalah, diagnosis, terapi, dan pencegahan.
Articles
284
Articles
​
Depresi, Ansietas, dan Komplikasi Pasca Sindrom Koroner Akut

Indrajaya, Taufik

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Laporan World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa penyakit kardiovaskuler, termasuk sindrom koroner akut (SKA), masih menjadi penyebab utama kematian, walaupun sudah banyak dilakukan upaya pencegahan dan pengobatan terhadap semua faktor risikonya. Depresi dan ansietas merupakan kelainan yang banyak dijumpai pada pasien dengan SKA. Namun demikian, depresi dan ansietas tersebut sering underdiagnosed dan undertreated.

Hubungan antara Rasio Neutrofil Limfosit dengan Kejadian Penyakit Arteri Perifer Ekstremitas Bawah pada Penyandang Diabetes Melitus Tipe 2

Wibisana, Krishna Adi, Subekti, Imam, Antono, Dono, Nugroho, Pringgodigdo

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendahuluan. Penyakit arteri perifer (PAP) ekstremitas bawah merupakan salah satu komplikasi makrovaskular DM tipe 2 yang memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Proses inflamasi telah diketahui berperan dalam terjadinya PAP pada penyandang DM tipe 2. Rasio neutrofil limfosit atau neutrophil lymphocyte ratio (NLR) telah digunakan sebagai penanda inflamasi kronik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara NLR dengan kejadian PAP ekstremitas bawah pada penyandang DM tipe 2 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.Metode. Studi potong lintang dilakukan pada subjek penyandang DM tipe 2 yang menjalani pemeriksaan ankle brachial index (ABI) di poliklinik divisi Metabolik Endokrin RSCM periode Oktober 2015 – September 2016. Didapatkan 249 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dilakukan pengambilan data sekunder dari rekam medis mengenai data ABI, NLR, data demografik serta faktor perancu. Subjek dinyatakan menderita PAP ekstremitas bawah jika memiliki nilai ABI ? 0,9 dengan pemeriksaan probe doppler. Data NLR kemudian dikategorikan berdasarkan median nilai NLR dan dicari hubungan nilai NLR dengan kejadian PAP ekstremitas bawah. Uji chi square digunakan untuk analisis bivariat dan regresi logistik digunakan untuk analisis multivariat.Hasil. Penyakit arteri perifer ekstremitas bawah ditemukan pada 36 subjek (14,5%). Didapatkan nilai median NLR total sebesar 2,11. Nilai median NLR didapatkan lebih tinggi pada kelompok PAP daripada tanpa PAP (2,46 vs. 2,04). Terdapat hubungan yang bermakna antara nilai NLR ? 2,11 dengan kejadian PAP ekstremitas bawah pada penyandang DM tipe 2 (PR 2,46, IK 95% 1,23 – 4,87; p=0,007). Dengan menggunakan uji regresi logistik, diketahui bahwa hipertensi merupakan variabel perancu.Simpulan. Terdapat hubungan antara rasio neutrofil limfosit dengan kejadian penyakit arteri perifer ekstremitas bawah pada penyandang DM tipe 2 di RSCM.Kata Kunci: Diabetes melitus tipe 2, Inflamasi kronik, Penyakit arteri perifer ekstremitas bawah, Rasio neutrofil limfosit Relationship between Neutrophil Lymphocyte Ratio and Lower Extremity Peripheral Artery Disease in Patients with Type 2 Diabetes MellitusIntroduction. Lower extremity peripheral artery disease (PAD) is one of diabetic macrovascular complication which has high rate of morbidity and mortality. Chronic inflammation has been known to have a role in the pathogenesis of PAD in diabetic patient. Recently, neutrophil lymphocyte ratio (NLR) has been used as a marker of chronic inflammation. This study aimed to determine the relationship between neutrophil lymphocyte ratio and lower extremity peripheral artery disease in type 2 diabetic patient in Cipto Mangunkusumo hospital. Methods.  A cross sectional study was conducted on 249 patients with type 2 diabetes mellitus who underwent ankle brachial index (ABI) examination at Metabolic and Endocrinology Divison in Cipto Mangunkusumo Hospital between October 2015 – September 2016. The data were retrospectively collected from medical record. Lower extremity PAD was defined as having ABI value ? 0,9 by probe Doppler examination. Neutrophil lymphocyte ratio was categorized based on the median value and the relationship with lower extremity PAD were determined. Chi square test was used for bivariate analysis and logistic regression was used for multivariate analysis against confounding variables. Results. Lower extremity peripheral artery disease was found in 36 subject (14.5%). Median of NLR was 2.11. The median value of NLR was found higher in subjects with lower extremity PAD than without PAD (2.46 vs 2.04). There was an association between NLR value ? 2.11 and lower extremity PAD in type 2 diabetic patient (p=0.007; PR 2.46 and 95% CI 1.23 – 4.87). By using logistic regression, it was known that hypertension was the confounding variable. Conclusion. There is an association between neutrophil lymphocyte ratio and lower extremity peripheral artery disease in type 2 diabetic patients in Cipto Mangunkusumo Hospital. 

Gambaran Penyebab Rendahnya Positivitas Darah pada Penderita Sepsis

Yana, Krishna, Alisjahbana, Bachti, Hartantri, Yovita

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendahuluan. Sepsis dengan penyebab infeksi bakteri menjadi salah satu penyebab utama tingginya morbiditas dan mortalitas penyakit. Pada penatalaksanaan sepsis, deteksi adanya bakteriemi dengan pemeriksaan kultur darah mempunyai peranan penting, namun hingga saat ini positivitas hasil kultur darah di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) masih rendah (13,45%). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penyebab rendahnya positivitas hasil kultur darah pada pasien sepsis di RSHS.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan studi potong lintang pada penderita sepsis yang dirawat di unit gawat darurat (UGD) dan ruang rawat inap Ilmu Penyakit Dalam RSHS dari bulan Desember 2016 sampai dengan bulan April 2017. Penelitian ini mengumpulkan informasi klinis pasien, laboratorium, riwayat pemberian antibiotika, dan teknik pelaksanaan pemeriksaan kultur darah bakteri pada penderita sepsis.Hasil. Selama periode penelitian diperoleh 179 subjek. Subjek terutama menggunakan Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) untuk pembiayaan. Positivitas kultur darah ditemukan sebesar 24%. Rerata jumlah leukosit pada hasil kultur darah positif adalah 18.100/mm3 dan 79,07% kultur disertai nilai Neutrofil Limfosit Count Ratio (NLCR) >10. Waktu pengambilan kultur darah terutama dilakukan pada >6 jam sejak masuk perawatan. Jumlah pengambilan kultur darah paling banyak dilakukan 1 kali. Jumlah volume darah pada masing-masing tabung kultur sebagian besar adalah 5 cc. Pengambilan kultur darah terutama dilakukan oleh perawat berkompeten yang belum mendapatkan pelatihan pengambilan kultur darah.Simpulan. Positivitas hasil kultur darah pada penderita sepsis di RSHS masih rendah. Pengambilan kultur darah sebaiknya dilakukan sesuai dengan pedoman, yaitu tidak memberikan antibiotik sebelum pengambilan darah, waktu pengambilan darah dilakukan pada <6 jam sejak masuk perawatan, jumlah pengambilan darah untuk kultur dilakukan >1 kali, jumlah volume darah pada tabung kultur minimal 10 cc, penggunaan 2 macam antiseptik, penggunaan antiseptik pada tutup botol kultur, adanya jeda waktu antara tindakan antiseptik dengan pengambilan darah untuk kultur. Perlu dilakukan pemantauan terhadap faktor-faktor yang memengaruhi positivitas kultur darah pada penderita sepsis. Peneliti juga merekomendasikan pelatihan dan perbaikan kebijakan untuk meningkatkan positivitas kultur darah.Kata Kunci: Kultur darah positif, Sepsis Cause of The Low Positivity of Blood Culture in Septic PatientsIntroduction. Sepsis due to bacterial infection is one of the main causes of high disease morbidity and mortality. Management of sepsis, the detection of bacteriemia by examination of blood cultures has an important role, but until now the positivity of blood culture results at Hasan Sadikin Hospital (RSHS) is still low (13.45%). The purpose of this study was to determine profile the causes of low positivity of blood culture results in sepsis patients in RSHS.Methods. A cross sectional study was conducted on sepsis patient treated in Emergency Un it (ER) and inpatient of Hasan Sadikin hospital Internal Medicine from December 2016 until April 2017. This study collects patient clinical information, laboratory, history Administration of antibiotics, and techniques of examination of bacterial blood cultures in sepsis patients.Results. During the study period 179 subjects were obtained. The subject mainly uses the Health Guarantee Agency (BPJS) for financing. The positivity of blood cultures was found to be 24%. The mean leukocyte count on positive blood culture results was 18,100 / mm3 and there were 79.07% cultures with Neutrofil Limfosit Count Ratio (NLCR) >10. The time for taking blood cultures is mainly done at> 6 hours after admission. The number of blood cultures is taken at least once. The amount of blood volume in each culture tube is mostly 5 cc. Taking blood cultures is mainly carried out by competent nurses who have not received blood culture taking training.Conclusions. The positive results of blood culture in septic patients in RSHS are still low. Taking blood cultures should be carried out in accordance with the guidelines, which consist ofnot giving antibiotics before taking blood culture, taking blood time at <6 hours after admission, the number of blood taken for culture >1 time, the amount of blood volume in a culture tube is at least 10 cc, use 2 types of antiseptics, the use of antiseptics on culture bottle caps, the time lag between antiseptic action and blood collection for culture. It is necessary to monitor the factors that influence the positivity of blood cultures in septic patients. Researchers also recommend training and policy improvements to improve blood culture positivity. 

Hubungan Riwayat Jatuh dan Timed Up and Go Test pada Pasien Geriatri

Nurmalasari, Mifta, Widajanti, Novira, Dharmanta, Rwahita Satyawati

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendahuluan. Jatuh merupakan masalah kesehatan yang umum dijumpai pada kelompok lanjut usia karena menyebabkan gangguan fisik dan psikis, bahkan kematian. Timed up and go test (TUG) merupakan metode skrining yang umum digunakan dalam praktik medis sebagai pemeriksaan dasar untuk menilai mobilitas, keseimbangan, dan risiko jatuh. Tujuan penelitian ini untuk menentukan hubungan riwayat jatuh dan TUG pada pasien geriatri di Rumah Sakit Umum daerah (RSUD) Dr.Soetomo Surabaya, Indonesia.Metode. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik cross-sectional dengan pendekatan observasional retrospektif. Subjek adalah pasien geriatri di RSUD Dr. Soetomo dengan kriteria usia ? 60 tahun, nilai mini mental state examination (MMSE) ? 17, tidak menderita stroke hemiplegia, dan tidak menggunakan alat bantu berjalan. Subjek dengan kriteria tersebut dilakukan wawancara untuk mengetahui riwayat jatuh 12 bulan terakhir, tingkat pendidikan, dan komorbiditas. Selanjutnya dilakukan penilaian MMSE, pengukuran IMT (indeks massa tubuh), dan penilaian TUG. Analisis statistika dilakukan menggunakan uji Fisher exact test.Hasil. Sebanyak 73 subjek ikut serta pada penelitian ini yang 56,16% di antaranya adalah perempuan. Dari 73 subjek, sebanyak 18 subjek memiliki riwayat jatuh dan 72,22% di antaranya adalah perempuan. Hasil uji Fisher menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara riwayat jatuh dan TUG dengan nilai p = 0,048 dan koefisien kontingensi 0,305.Simpulan. Terdapat hubungan yang lemah antara riwayat jatuh dan TUG pada pasien geriatri di RSUD Dr.Soetomo Surabaya. Penelitian selanjutnya perlu menambah dan memilih sampel dengan sebaran karakteristik merata agar hasil yang didapat bisa merepresentasikan keseluruhan populasi lanjut usia di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Kata Kunci: Geriatri, Riwayat jatuh, Timed up and go test  Correlation between History of Fall and Timed Up and Go Test in GeriatricIntroduction. Fall is the global major problem in geriatrics as it causes physical and physicological impairment, even leads to mortality. Timed up and go test (TUG) is the screening method which commonly used in medical practice as standard examination to assess mobility, balance, and fall risk.This study aimed to determine the correlation between TUG and history of falls in geriatric patients at General Hospital Dr. Soetomo Surabaya, Indonesia. Methods. A cross-sectional study was conducted among geriatric patients in Dr. Soetomo hospital with criteria ? 60 years old, mini mental state examination (MMSE) score ? 17, did not suffer from hemiplegic stroke, and did not use walking aids. Subjects with these criteria were interviewed to know the fall history from the past 12 months, level of education, and comorbidity. Then the subjects carried out MMSE assessment, BMI (body mass index) measurement, and TUG assessment. Statistical analysis was done with Fisher exact test..Results. A total of 73 subjects participated in this study of which 56.16% were women. Among 73 subjects, 18 subjects had a history of falls and 72.22% of them were women. The Fisher test results showed a significant relationship between history of falls and TUG with p value= 0.048 and a contingency coefficient= 0.305.Conclusion. There was weak correlation between history of falls and TUG. Subsequent studies need to add and select samples with uniform distribution of characteristics, so that the results could represent the entire elderly population at General Hospital Dr. Soetomo Surabaya, Indonesia. 

Herpes Zoster Sebagai Pencetus Ketoasidosis Diabetikum (KAD)

Suwita, Christopher Surya, Johan, Michael, Tahapary, Dicky L., Darmowidjojo, Budiman

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ketoasidosis diabetikum (KAD) merupakan komplikasi akut diabetes yang sering dijumpai dan mengancam jiwa. KAD terjadi akibat defisiensi insulin berat dan seringkali muncul sebagai gejala pertama pada penyandang diabetes yang belum terdiagnosis meski dapat juga muncul pada individu yang sudah menyandang diabetes. Beberapa keadaan yang dapat memicu KAD antara lain infeksi, infark miokard, stroke, pankreatitis, trauma, atau kepatuhan berobat yang tidak baik. Infeksi jaringan kulit seperti herpes zoster merupakan jenis pencetus yang langka pada KAD. Artikel ini akan membahas suatu kasus KAD yang dicetuskan herpes zoster.Kata Kunci: Herpes zoster, Infeksi, Ketoasidosis diabetikumHerpes Zooster Induced Diabetic Ketoacidosis Diabetic ketoacidosis (DKA) is an acute, life-threatening complication of diabetes which is common in daily practice. DKA is the result of severe insulin deficiency and often presents as the first symptom of an undiagnosed diabetes even though it may also appear in individuals with diabetes.Some conditions that can trigger DKA include infections, myocardial infarction, stroke, pancreatitis, trauma, or poor treatment compliance. Skin tissue infections such as herpes zoster are rare inciting factor in DKA. This article will discuss a case of DKA that is triggered by herpes zoster.

Perbedaan Nilai Hitung Neutrofil Absolut Antara Infeksi Methicillin-Resistant Staphyloccocus aureus yang Berasal dari Rumah Sakit dengan yang dari Komunitas

Kurniyanto, Kurniyanto, Santoso, Widayat Djoko, Nainggolan, Leonard, Kurniawan, Juferdy

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendahuluan. Virulensi methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) yang berasal dari komunitas terutama disebabkan keberadaan toksin Panton Valentin Leukocidin (PVL) dan Phenol Soluble Modulin (PSM) yang tidak dimiliki oleh MRSA yang berasal dari rumah sakit. Kedua toksin tersebut diketahui menyebabkan lisis neutrofil yang kemudian menurunkan kadar neutrofil. Penelitian ini bertujuan untuk menilai perbedaan nilai hitung neutrofil absolut antara infeksi MRSA yang didapat dari rumah sakit dengan yang dari komunitas.Metode. Penelitian in merupakan studi potong lintang yang melibatkan pasien terinfeksi MRSA yang dirawat di RSCM pada kurun waktu 2012-2017. Klasifikasi varian MRSA dilakukan berdasarkan pola kepekaan dan resistensi kuman terhadap antibiotik non beta laktam menjadi community acquired MRSA (resisten ? 2 antibiotik non beta laktam) dan hospital acquired MRSA (resisten ? 3 antibiotik non beta laktam). Hitung neutrofil absolut diambil pada 24 jam dilakukan kultur yang positif MRSA. Data dianalisis menggunakan program SPSS versi 22 dengan uji T dan Mann-Whitney.Hasil. Dari penelitian ini didapatkan 62 subjek dengan infeksi MRSA dengan infeksi HA-MRSA (n=35) lebih banyak dibandingkan CA-MRSA (n=27). Median hitung neutrofil absolut CA-MRSA 7.410,7 (11.47,3-26.560,2) dan HA-MRSA 16.198,0 (3.921,6-28.794,1) dengan nilai p < 0,001.Simpulan. Terdapat perbedaan nilai hitung neutrofil absolut yang signifikan antara infeksi MRSA yang berasal dari rumah sakit dengan yang dari komunitas. Kata Kunci: Hitung neutrofil absolut, MRSA, Panton valentin leukocidinComparison of Absolute Neutrophil Count between Hospital and Community Acquired Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus InfectionIntroduction. The virulence factors from community acquired-methicillin resistant Staphylococcus aureus (CA-MRSA) mainly due to toxins like Panton Valentin Leukocidin (PVL) and Phenol Soluble Modulin (PSM). Both of toxins cause decrease of value through neutrophil lysis. This study aimed to identify different value of absolute neutrophil count between hospital and community acquired MRSA.Methods. A cross sectional was conducted which included subjects who were infected by MRSA and hospitalized during 2012-2017. Classification of MRSA were divided due to its sensitivity and resistance to non-beta lactam antibiotics. Isolate that resistance to ? 2 antibiotics were classified as CA-MRSA. The others with resistance to ? 3 antibiotics were classified as hospital acquired MRSA. Absolute neutrophils count (ANC) were collected 24 hours from the positive MRSA culture. Data were analyzed by using independent T test and Mann-Whitney test. Results.  We collected 62 subjects infected by MRSA which 35 subjects were HA-MRSA and 27 subjects were CA-MRSA. The median of ANC from CA-MRSA was 7,410.7 (1,147.3-26,560.2) and HA-MRSA was 16,198.0 (3,921.6-28,794.1) with p value < 0.001. Conclusion. There was a different value of absolute neutrophil count in infections due to community and hospital acquired MRSA.

Hubungan antara Gejala Depresi dan Ansietas dengan Major Adverse Cardiac Events (MACE) dalam 7 Hari pada Pasien Sindrom Koroner Akut di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo

Sari, Diah Pravita, Mudjaddid, E, Ginanjar, Eka, Muhadi, Muhadi

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendahuluan. Salah satu penyebab kematian pada sindrom koroner akut adalah terjadinya komplikasi major adverse cardiac events (MACE). Terdapat beberapa prediktor terjadinya MACE pada pasien sindrom koroner akut (SKA), di antaranya depresi dan ansietas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara depresi dan ansietas dengan MACE dalam 7 hari pada pasien SKA.Metode. Penelitian dengan desain kohort prospektif untuk meneliti hubungan antara depresi dan ansietas dengan MACE dalam 7 hari pasien SKA dengan menggunakan kuesioner HADS pada pasien SKA yang menjalani perawatan di ICCU dan rawat inap Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada bulan Januari–Mei 2018. Analisis bivariat dilakukan untuk menghitung risk ratio (RR) terjadinya MACE dalam 7 hari pada kelompok depresi dan ansietas dengan menggunakan program SPSS.Hasil. Didapatkan jumlah subjek yang memenuhi kriteria inklusi yaitu sebanyak 114 orang. Depresi didapatkan pada 7% subjek, ansietas pada 28,95% subjek, dan MACE pada 9,6% subjek. Pada kelompok depesi, MACE 7 hari terjadi pada 12,5% subjek. Pada kelompok ansietas, MACE 7 hari terjadi pada 21,2% subjek. Pada analisis bivariat didapatkan ansietas meningkatkan risiko terjadinya MACE dalam 7 hari pada pasien SKA, dengan risiko relatif (RR) sebesar 4,2 (IK 1,34– 13,70).Simpulan. Ansietas pada pasien SKA merupakan prediktor independen terjadinya MACE dalam 7 hari dan meningkatkan risiko terjadinya MACE 7 hari. Tidak didapatkan hubungan antara depresi dengan MACE dalam tujuh hari pada pasien SKA. Kata Kunci: Ansietas, Depresi, Major adverse cardiac Event, Sindrom koroner akut Relationship between Symptoms of Depression and Anxiety with Major Adverse Cardiac Event in 7 days in Patients with Acute Coronary Syndrome in Cipto Mangunkusumo Hospital Introduction. Major adverse cardiac events (MACE) are important causes of mortality in acute coronary syndrome (ACS) patients. There are several predictors of the occurence of MACE in patients with ACS, including depression and anxiety. This study aimed to determine the association between depression and anxiety with major adverse cardiac events within 7 days in patients with acute coronary syndrome.Methods. A prospective cohort study to examine the association between depression and anxiety with MACE within 7 days was conducted using HADS questionnaires among ACS patients undergoing treatment at ICCU and hospitalized in Cipto Mangunkusumo hospital, Jakarta during January-May 2018. Bivariate analysis was performed to calculate the risk ratio (RR) of MACE occurrence within 7 days in the depression and anxiety group using SPSS program.Results. Total of 114 subjects were included in this study. Depression was obtained in 7% of subjects, anxiety was obtained in 28.95% of subjects, and MACE in 9.6% of subjects. In the depression group, MACE 7 days occurred in 12.5% of subjects. In the anxiety group, MACE 7 days occurred in 21.2% of subjects. In bivariate analysis, anxiety increased the risk of MACE within 7 days in patients with ACS, with relative risk (RR) of 4.2 (IC 95%: 1.34–13.70).Conclusions. Anxiety in patients with ACS is an independent predictor of MACE within 7 days and increases the risk of a 7 day MACE. There was no correlation between depression and MACE within 7 days in patients with ACS.

Pengaruh Kurkumin Terhadap Kadar NF-?B dan Derajat Fibrosis Hati pada Tikus Fibrosis Hati

Supriono, Supriono, Pratomo, Bogi, Praja, Dedy Indra

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendahuluan. Inflamasi kronik merupakan mekanisme utama penyebab fibrosis hati. NF-?B  berfungsi mengatur inflamasi, penyembuhan luka, serta kematian sel. Kurkumin berperan sebagai antiinflamasi, antifibrotik, dan induksi apoptosis, salah satunya melalui hambatan terhadap NF-?B. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kurkumin terhadap perubahan kadar NF-?B dan korelasi antara lama pemberian kurkumin terhadap kadar NF-?B dan derajat fibrosis hati.Metode. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental in vivo menggunakan 32 ekor tikus wistar yang dibagi dalam 8 kelompok perlakuan, tiap kelompok terdiri dari 4 ekor tikus. Perlakuan terhadap tikus berupa induksi CCl4 dan pemberian kurkumin. Pengukuran kadar NF-?B dengan metode ELISA. Derajat fibrosis hati menggunakan Metavir scoring system. Analisis data menggunakan uji korelasi, one-way Anova, unpair T-test, Mann-Whitney, Chi-square, Kruskal-Wallis dan analisis jalur model struktural dengan nilai p signifikan yaitu p<0,05. Hasil. Terdapat perbedaan yang signifikan kadar NF-?B dan derajat fibrosis hati antara kelompok kontrol positif dengan kelompok kontrol negatif. Terdapat pengaruh yang signifikan pemberian kurkumin dan lama pemberian kurkumin terhadap perubahan derajat fibrosis hati dan kadar NF-?B jaringan hati. Terdapat korelasi negatif antara lama pemberian kurkumin dengan perubahan kadar NF-?B dan korelasi positif antara perubahan kadar NF-?B dengan derajat fibrosis hati.Simpulan. Pemberian kurkumin dapat menurunkan kadar NF-?B dan derajat fibrosis hati. Lama pemberian kurkumin berkorelasi dengan penurunan kadar NF-?B dan penurunan kadar NF-?B berkorelasi dengan penurunan derajat fibrosis hati. Kata Kunci: Derajat fibrosis hati, Kurkumin, NF-?B, Tikus model fibrosis hati The Effects of Curcumin on NF-?B Level and Degree of Liver Fibrosis in Rat Liver Fibrosis Introduction. Chronic inflammation is the main mechanism responsible for liver fibrosis. NF-?B regulates inflammation, wound healing, and cell death. Curcumin acts as an antiinflammatory, antifibrotic and induced apoptosis, one of them through resistance to NF-?B. This study aimed to determine the effect of curcumin on NF-?B levels and the correlation between the duration of curcumin on NF-?B and degree of liver fibrosis. Methods. This study was an experimental in rats using a completely randomized design. The treatment of rats was induced with CCl4 and given curcumin. Measurement of NF-?B levels by ELISA method. Degree of liver fibrosis using metavir scoring system. The data were analyzed using correlation test, one-way anova, unpair T-test, mann-whitney, chi-square, kruskal-wallis, structural model with significant p value p < 0,05. Results. There were significant differences in NF-?B level and degree of liver fibrosis between the positive control group and the negative control group. There was a significant effect of curcumin administration on the level of NF-?B and degree of liver fibrosis. There was a negative correlation between duration of curcumin and NF-?B level and positive correlationbetween NF-?B levels and degree of liver fibrosis. Conclusions. Curcumin can decrease NF-?B levels and decrease the degree of liver fibrosis. The duration of the curcumin administration correlated with decreased levels of NF-?B and decreased NF-?B levels correlated with decreased degree of liver fibrosis in rat liver fibrosis. 

Infeksi Malaria Plasmodium knowlesi pada Manusia

Asmara, I Gede Yasa

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 4 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Plasmodium knowlesi (P. knowlesi) telah dikenal sebagai penyebab kelima infeksi malaria pada manusia setelah P. vivax, P. falciparum, P. malariae, dan P. ovale. Epidemiologi dan gambaran klinis penyakit ini telah banyak dibahas, namun hanya pada beberapa studi, sejak kasusnya meningkat di Divisi Kapit, Sarawak, Malaysia pada tahun 2004. Penelitian skala besar mengenai angka pasti kejadian penyakit ini di Asia tenggara penting untuk dilakukan. Oleh karena siklus hidupnya yang singkat, jumlah parasit dalam darah dapat cepat meningkat, sehingga infeksi P. knowlesi berpotensi menjadi penyakit yang berat. Aspek patofisiologi penyakit ini masih belum begitu jelas terutama terkait bagaimana sampai timbulnya malaria berat seperti yang terjadi pada infeksi P. falciparum. Deteksi dini menggunakan pemeriksaan molekuler merupakan baku emas diagnosis malaria knowlesi. Walaupun berbagai macam obat antimalaria masih sensitif terhadap infeksi P. knowlesi, tatalaksana segera sangat penting mengingat penyakit dapat memburuk dengan cepat. Kata Kunci: Infeksi, Malaria, Manusia, Plasmodium knowlesi Infection of Plasmodium Knowlesi Malaria in HumanPlasmodium knowlesi (P. knowlesi) has been recognised as the fifth of malaria infections in human after P. vivax, P. falciparum, P. malariae and P. ovale. Epidemiology and clinical features of the disease have much been discussed only in several literatures since the incidence increased in Kapit Division, Sarawak, Malaysia in 2004. A large-scale research investigating real incidence of the infection in South East Asia is important. Because of rapid life cycle, the number of parasite in the blood can increase significantly, result in potential severe malaria. Pathophysiology aspect of the disease has not been clear yet, particularly on how severe malaria can be occurred as similar as in P. falciparum infections. Early detection using moleculer technique is the gold standar of the diagnosis of knowlesi malaria. Although P. knowlesi infection is still sensitive to many anti-malaria drugs, prompt treatment is crucial since the infection might deteriorate fast.

Hubungan antara Konsentrasi D-Dimer dengan Parameter Laboratorium Kebocoran Plasma pada Infeksi Dengue

Suwarto, Suhendro, Diahtantri, Riyanti Astrid, Hudiya, Elian

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : Internal Medicine Department, Faculty of Medicine Universitas Indonesia-RSCM

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.924 KB)

Abstract

Pendahuluan. Salah satu petanda demam berdarah dengue adalah kebocoran plasma dan aktivasi sistem koagulasi yang menyebabkan peningkatan konsentrasi D-dimer akibat degradasi bekuan fibrin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan D-dimer dengan parameter laboratorium kebocoran plasma yaitu: trombositopenia, hipoalbuminemia, hemokonsentrasi, dan peningkatan serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT).  Metode. Penelitian retrospektif dilakukan di rumah sakit swasta di Jakarta pada bulan Desember 2016 sampai dengan Maret 2018. Penderita berusia >14 tahun dengan infeksi dengue dan NS-1 positif diikutsertakan ke dalam penelitian ini dan dibagi menjadi kelompok demam dengue (DD) atau demam berdarah dengue (DBD).  Uji Mann Whitney digunakan untuk variabel non parametrik, sedangkan uji Spearman digunakan untuk korelasi antara variabel numerik yang tidak terdistribusi normal. Hasil. Tujuh puluh tiga penderita infeksi dengue yang terdiri atas 29 (39,7%) wanita dan 44 (60,3%) pria ikut dalam penelitian ini. Sebanyak 43 (58,9%) merupakan kelompok penderita DD, sedangkan 30 (41,1%) kelompok penderita DBD. Konsentrasi D-dimer fase demam kelompok DBD lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok DD (p = 0,004). Didapatkan korelasi lemah antara konsentrasi D-dimer fase demam dengan derajat penurunan trombosit (r = 0,35; p = 0,003) dan korelasi terbalik lemah antara konsentrasi D-dimer fase demam dengan konsentrasi albumin (r = -0,34; p = 0,049). Didapatkan korelasi lemah antara konsentrasi D-dimer fase kritis dengan derajat penurunan trombosit (r = 0,39; p = 0,034) dan korelasi terbalik sedang antara konsentrasi D-dimer fase kritis dengan konsentrasi albumin (r = -0,43; p = 0,032).Simpulan. Konsentrasi D-dimer pada penderita DBD pada fase demam lebih tinggi dibandingkan penderita DD. Konsentrasi D-dimer berkorelasi dengan derajat penurunan trombosit dan hipoalbuminemia.Kata Kunci: D-dimer, Hemokonsentrasi, Hipoalbuminemia, Infeksi dengue, SGOT, TrombositThe Association between D-dimer Concentration and Laboratory Parameters for Plasma Leakage in Dengue InfectionIntroduction. Plasma leakage and activation of the coagulation system are the pathological hallmark of dengue hemorrhagic fever (DHF) that causes an increase in D-dimer concentration due to the degradation of fibrin clots. This study was conducted to determine the association between of D-dimer and laboratory parameters of plasma leakage, namely: thrombocytopenia, hypoalbuminemia, hemoconcentration and concentration of serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) in dengue infected patients.Methods. A retrospective study was conducted at private hospitals in Jakarta, from December 2016 to March 2018. Patients >14 years with dengue infection and positive NS-1 were included in this study, and were classified into dengue fever (DF) group or DHF group. The Mann Whitney test was used for non-parametric variables and the Spearman test was used for the correlation for non-normally distributed numeric variables.Results. Seventy-three dengue infected patients included in this study consists of 29 (39.7%) female and 44 (60.3%) male. Total of 43 (58.9%) were classified as DD group, 30 (41.1%) were classified as DHF group. The D-dimer concentration of the DHF group in the fever phase was higher compared to the DD group (p = 0.004). There was a weak correlation in the fever phase between D-dimer concentration and the degree of thrombocytopenia (r = 0.35; p = 0.003) and weak inverse correlation in the fever phase between D-dimer concentration and albumin concentration (r = -0.34; p = 0.049). We found a weak correlation in the critical phase between D-dimer concentration and the degree of thrombocytopenia (r = 0.39; p = 0.034) and the moderate inverse correlation in the critical phase between the D-dimer concentration and albumin concentration (r = -0.43; p = 0.032).Conclusions. D-dimer concentrations in DHF patients in the fever phase are higher compare to DD patients. D-dimer concentration correlates with the degree of thrombocytopenia and hypoalbuminemia.