cover
Contact Name
Evy Yunihastuti
Contact Email
Evy Yunihastuti
Phone
-
Journal Mail Official
cp.jurnalpenyakitdalam@ui.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 24068969     EISSN : 25490621     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia adalah jurnal kedokteran penyakit dalam yang dikelola secara elektronik dengan standar peer-review yang profesional. Jurnal ini diterbitkan oleh Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sejak tahun 2014. Misi utama kami adalah untuk mendorong perkembangan ilmu kedokteran dan khususnya di bidang klinis penyakit dalam Jurnal Penyakit Dalam Indonesia merupakan open-accessed jurnal yang memuat publikasi naskah ilmiah dengan memenuhi tujuan penerbitan jurnal, yaitu menyebarkan hasil penelitian, laporan kasus, tinjauan pustaka di bidang penyakit dalam untuk praktik dokter penyakit dalam dan dokter umum di seluruh Indonesia. Artikel yang dipublikasikan oleh jurnal kami diharapkan dapat memberi informasi baru, menarik minat dan dapat memperluas wawasan praktisi di bidang penyakit dalam, serta memberi alternatif pemecahan masalah, diagnosis, terapi, dan pencegahan.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
Risiko Kardiovaskuler pada Pasien Artritis Reumatoid Hidayat, Rudy
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artritis reumatoid (AR) adalah salah satu penyakit autoimun di bidang reumatologi yang paling banyak ditemukan dalam praktik sehari-hari. Penyakit autoimun ini bersifat sistemik dan non-organ spesifik, sehingga selain manifestasi artikuler (sinovitis poliartikular), juga didapatkan manifestasi ekstra-artikuler. Salah satu manifestasi ekstra-artikuler yang saat ini menjadi perhatian para klinisi dan para peneliti adalah keterlibatan kardiovakuler, yang secara signifikan memberikan kontribusi peningkatan angka morbiditas dan mortalitas pasien AR.
Kesintasan Lima Tahun Pasien Penyakit Jantung Koroner Tiga Pembuluh Darah dengan Diabetes Melitus yang Menjalani Bedah Pintas Koroner, Intervensi Koroner Perkutan atau Medikamentosa di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo Setiawan, Andreas Arie; Panggabean, Marulam; Yamin, M; Setiati, Siti
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Hasil revaskularisasi pada pasien diabetes melitus (DM) dengan penyakit jantung koroner 3 pembuluh darah (PJK 3PD) dengan bedah pintas koroner (BPK) lebih baik dibandingkan intervensi koroner perkutan (IKP) atau medikamentosa. BPK tidak selalu menjadi prosedur yang dikerjakan meskipun sudah direkomendasikan sesuai Skor Syntax. Selain itu, tidak semua pasien bersedia menjalani BPK atau IKP. Perlu diketahui apakah pilihan revaskularisasi tersebut mempengaruhi kesintasan 5 tahun.Metode. Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif dengan pendekatan analisis kesintasan untuk meneliti kesintasan 5 tahun pasien PJK 3PD DM yang menjalani tindakan BPK, IKP atau medikamentosa. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sekunder 126 pasien PJK 3PD DM yang menjalani BPK, IKP, maupun medikamentosa di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada tahun 2006-2007 dan diikuti sampai dengan tahun 2011-2012 dengan dilihat adakah kejadian meninggal.Hasil. Kesintasan terbaik diketahui yaitu pada kelompok BPK (93,5%). Proporsi kematian terbesar terdapat pada kelompok medikamentosa (36,1%). Selain itu, hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok IKP memiliki kesintasan yang lebih baik dibanding medikamentosa (69,5% vs 63,9%). Meskipun tidak bermakna secara statistik, namun pada kelompok IKP proporsi keluhan yang ditemukan setelah tindakan lebih sedikit dibanding kelompok medikamentosa (52% vs 38%). Skor Syntax yang berperan menilai kompleksitas stenosis diketahui turut menentukan kesintasan (p=0,039).Simpulan. Kesintasan 5 tahun pasien PJK 3PD dengan DM yang paling baik didapatkan pada kelompok yang menjalani BPK. Kesintasan 5 tahun pasien PJK 3PD dengan DM yang menjalani IKP lebih baik dibandingkan medikamentosa, namun secara statistik tidak bermakna. Faktor yang berpengaruh pada kesintasan 5 tahun pasien PJK 3PD adalah kompleksitas stenosis yang dilihat dengan menggunakan skor Syntax.Kata kunci: DM, kesintasan 5 tahun, PJK 3PD Five-Year Survival in Patients with 3-Vessels Coronary Artery Disease and Diabetes Mellitus Undergoing Coronary Artery Bypass Graft, Coronary Percutaneus Intervention, or Receiving Pharmacological Therapy in Cipto Mangunkusumo HospitalIntroduction. Revascularization results in patients with diabetes mellitus (DM) and coronary artery disease involving 3 vessels (CAD 3VD) undergo coronary artery bypass surgery (CABG) are better compared with those undergo percutaneous coronary intervention (PCI) or medical therapy. However, CABG is not always done despite being recommended in accordance with Syntax Score because some patients unwilling to undergo CABG or PCI . This trial determined whether the choice of revascularization affect 5-years survival. Methods. This was a retrospective cohort study with survival analysis to examine the 5-years survival rate of CAD 3VD DM patients undergoing CABG, PCI, or medical therapy. The study was conducted using secondary data of 126 CAD 3VD DM patients who underwent CABG, PCI, or medical therapy at Cipto Mangunkusumo Hospital in 2006-2007 and followed up to 2011-2012 if there any incident died. Results. Best survival was seen in the CABG group (93.5%). The largest proportion of death occured in the medical therapy group (36.1%). The CABG survival was significantly better than the IKP (p=0.01) and medical therapy (p=0.001). PCI group had better survival than medical therapy (69.5% vs. 63.9%). Although not statistically significant, but the proportion of complaints after revascularization in PCI group were found less than medical therapy group (52% vs. 38%). Syntax score that assesses the complexity of stenosis had a significant association with survival (p 0.039). Conclusions.5-years survival of CAD 3VD DM patients is best obtained in the group that underwent CABG. 5-year survival of CAD 3VD DM patients who underwent PCI better than medical therapy but was not statistically significant. Factor that affect the 5-years survival is the complexity stenosis viewed by the Syntax score. Keywords: 5-years survival, CAD 3VD,DM
Perbedaan pH Lambung Pada Pasien Dispepsia dengan atau Tanpa Diabetes Melitus Tipe 2 Anam, Ilum; Syam, Ari Fahrial; Saksono, Dante; Abdullah, Murdani
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Sindroma dispepsia sering dialami oleh penderita DM. Asam lambung salah satu faktor agresif terjadinya sindroma dispepsia dan tukak lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mencari perbedaan pH lambung pada pasien dispepsia DM dengan yang bukan DM dan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara pH lambung dengan proteinuria dan HbA1c.Metode. Pasien terdiri dari 30 kelompok DM dan 30 kelompok bukan DM. Masing-masing kelompok dihitung pH lambung basal. pH lambung basal diukur dgn memasukkan elektroda kateter kedalam lambung selama 30 menit kemudian di rekam dgn alat pH Metri merek Digitrapper pH-Z. Beratnya komplikasi DM diukur dengan mikroalbuminuria, sedangkan kendali gula darah diukur dgn HbA1c. Dilakukan uji chi square utk mencari perbedaan pH lambung kelompok DM dgn yg bukan DM, dengan terlebih dahulu menentukan titik potong dgn analisa ROC (Receiver Operating Caracteristic). Dilakukan uji korelasi antara pH lambung basal dengan mikroalbuminuria dan HbA1c pada kelompok pasien DM.Hasil. pH lambung basal pada dispepsia DM vs non DM (2.30±0.83 vs 2.19±0.52). Dgn uji chi square terdapat perbedaan bermakna antara kelompok DM dengan yang bukan DM. Pada uji korelasi antara pH lambung dengan mikroalbuminuria dijumpai r = 0.47 dan p < 0.05, sedangkan HbA1c dijumpai r=0,59 dan p > 0.05Simpulan. Ada perbedaan bermakna pH lambung basal antara pasien dispepsia DM dengan pasien dispepsia bukan DM. Ada korelasi antara pH lambung basal dengan mikroalbuminuria, sedangkan dengan HbA1c tidak ada korelasi. pH lambung basal pada pasien DM adalah 2.03±0.83 sedangkan pada yang bukan DM adalah 2.19±0.52.
Proporsi Infeksi Virus Hepatitis B Tersamar pada Pasien yang Terinfeksi Human Immunodeficiency Virus Bratanata, Joyce; Gani, Rino Alvani; Karjadi, Teguh Haryono
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 3 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Infeksi hati kronik merupakan penyebab penting morbiditas serta mortalitas di antara penderita HIV positif pada pemakaian highly active antiretroviral therapies (HAART). Penyakit hati kronik dapat terjadi mulai dari infeksi tersamar sampai karsinoma hepatoselular. Kejadian VHB tersamar sering ditemukan pada pasien dengan kondisi imunosupresi seperti HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya proporsi hepatitis B tersamar, hitung CD4+, transmisi IVDU, proporsi hepatitis C dan proporsi anti-HBc yang positif pada koinfeksi hepatitis B tersamar pada pasien HIV/AIDS di RSCM.Metode. Studi potong-lintang dilakukan pada pasien HIV yang berobat di Pokdisus dan ruang rawat inap RSCM dengan pengambilan sampel secara consecutive. Kriteria inklusi adalah pasien HIV dengan hasil HBsAg negatif dan belum pernah mendapat terapi antiretroviral. Subjek dengan hasil HBsAg negatif dilanjutkan dengan pemeriksaan anti-HBc, anti-HCV dan HBV DNA dengan teknik double step (nested) polymerase chain reaction (PCR) secara kualitatif dengan sensitifitas mencapai 102 kopi genom per mililiter serum. Ekstraksi HBV DNA menggunakan High Pure Viral Nucleic Acid Kit ® (Roche Diagnostics). Primers yang digunakan pada nested PCR berasal dari HBV-DNA S gene. Amplifikasi nested PCR dilakukan sebanyak dua putaran.Hasil. Selama bulan Desember 2008 – Januari 2009 diperoleh 58 subjek HIV. Pada akhir penelitian didapatkan 57 pasien memenuhi kriteria inklusi (68,4% laki-laki, usia 26-35 tahun sebanyak 68,4%, penularan HIV/AIDS melalui penggunaan jarum suntik secara bersama-sama 42,1%, hubungan seks 36,8%, dan keduanya 21,1%) dilakukan evaluasi adanya hepatitis B tersamar. Proporsi anti-HBc positif pada penderita HIV sangat tinggi (91,2%). Proporsi hepatitis B tersamar didapatkan pada 5 dari 57 subjek (8,8%). Proporsi hepatitis B tersamar lebih banyak didapatkan pada subjek dengan hitung CD4+ < 200 sel/μL (80%), risiko penularan IVDU (60%) dan hasil anti-HBc positif (80%). Proporsi koinfeksi hepatitis C dengan hepatitis B tersamar relatif lebih sedikit yaitu 40%.Simpulan. Proporsi hepatitis B tersamar didapatkan 8,8%. Proporsi hepatitis B tersamar lebih banyak didapatkan pada subjek dengan hitung CD4+ < 200 sel/μL (80%), risiko penularan IVDU (60%) dan hasil anti-HBc positif (80%). Proporsi koinfeksi hepatitis C dengan hepatitis B tersamar relatif lebih sedikit yaitu 40%. Keterbatasan penelitian ini adalah sensitivitas dari metoda PCR yang digunakan untuk mendeteksi DNA VHB dan dilakukan hanya satu kali pada setiap subjek. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan sensitivitas PCR yang lebih tinggi dan jumlah sampel yang memadai untuk menentukan karakteristik dan hubungan berbagai faktor dengan kejadian infeksi virus hepatitis B tersamar pada pasien HIV.
Penghematan Biaya Perawatan Pasien Kanker Terminal Dewasa melalui Konsultasi Tim Paliatif di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Putranto, Rudi; Trisnantoro, Laksono; Hendra, Yos
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahaluan. Meningkatnya penderita kanker terminal di Indonesia akan meningkatkan kebutuhan perawatan paliatif dan akhir kehidupan (palliative and end of life care). Pelayanan kesehatan pada pasien kanker membebani rumah sakit, karena menyebabkan biaya tinggi dan lama rawat memanjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hubungan lama rawat inap dan tarif pelayanan rawat inap pasien kanker terminal dewasa dengan intervensi paliatif di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).Metode. Penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain kasus kontrol dan dilakukan di ruang rawat inap RSCM Jakarta selama bulan Januari–Desember 2015. Subjek adalah pasien kanker terminal dewasa di rawat inap kelas III pada tahun Januari-Desember 2015 dengan penjamin Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Data diperoleh dari data rekam medis dan billing dan dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney.Hasil. Diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara intervensi paliatif dengan pengeluaran pasien sesuai tarif RS (p=0,041), sedangkan tidak terdapat hubungan signifikan antara intervensi paliatif dengan lama hari rawat (p=0,873). Terdapat hubungan bermakna antara intervensi paliatif dan tarif pengeluaran kamar, visite, tindakan dan obat dan intervensi paliatif.Simpulan. Terdapat hubungan yang signifikan antara intervensi paliatif dengan pengeluaran pasien sesuai tarif RS. Terdapat hubungan bermakna antara intervensi paliatif dan tarif pengeluaran kamar, visite, tindakan dan obat dan intervensi paliatif.Kata Kunci: intervensi, lama rawat, perawatan paliatif, tarif Cost of Care Saving of Terminal Cancer Adult Patient Using Palliative Care Consultation in Cipto Mangunkusumo HospitalIntroduction. Terminal cancer patients was increasing in Indonesia, and need attention to approach palliative and end of life care. Terminal cancer management was burden the hospital, because it causes high costly and the length of stay This study aimed to get a general picture of service palliative at Cipto Mangunkusumo, then to evaluate the relationship hospitalization and rates of inpatient services people with terminal cancer adults who received the intervention palliative care and to evaluate the relationship variable rates for accommodation (room), doctor visit, procedure/surgery, medicines and consumables, laboratory and radiology to palliative interventions in patients with terminal cancer in inpatient Dr. Cipto Mangunkusumo Hospital. Methods. This research was descriptive study with case control design and performed in the inpatient unit, Dr Cipto Mangunkusumo Hospital, during the month of January to December 2015. The subjects were medical records and billing of terminal cancer patients were .hospitalized adults in class III in January - December 2015 with National Health Insurance (BPJS). Inclusion criteria are terminal cancer patients, beusia ≥ 18 years, received palliative care consultation team while exclusion criteria are patients receiving palliative consultation on treatment days ≥ 25 days.Results. It is known that there is a significant relationship between palliative interventions to patients with hospital rates (p= 0.041), whereas there was no significant relationship between palliative interventions by the length of stay (p = 0.873). There is a significant relationship between palliative interventions and expenditures room rates, visite, action and medicine and palliative interventions.Conclusions. There is a significant relationship between palliative interventions with hospital rates. There is a significant relationship between palliative interventions and expenditures room rates, visite, action and medicine and palliative interventions. These data showed that palliative care intervention was saving money for hospital. 
Pemeriksaan Kadar Laktat pada Tata Laksana Sepsis: Apakah Benar Diperlukan? Sinto, Robert
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai klinisi dan peneliti di seluruh dunia untuk menurunkan mortalitas pasien sepsis, khususnya sepsis yang disertai dengan gangguan fungsi organ atau yang dikenal dengan sepsis berat. Perumusan kriteria diagnosis, upaya stratifikasi derajat berat sepsis, penyusunan protokol resusitasi, penyusunan pedoman tata laksana komprehensif, hingga penggunaan berbagai modalitas terapi ajuvan adalah beberapa contoh upaya yang telah dikerjakan. Hasilnya, laporan penelitian pada beberapa daerah menunjukkan penurunan angka mortalitas, namun di beberapa daerah lain angka mortalitas tetap tinggi. Sebagai contoh Gattinoni, dkk. mencatat angka kematian pada penelitian sepsis di Perancis dapat mencapai 60-62%, sementara penelitian di Australia dan Selandia Baru hanya berkisar 22,9-25,6%. Ketimpangan yang besar ini boleh jadi tidak semata-mata menggambarkan perbedaan kualitas layanan sepsis di kedua negara maju tersebut, namun hanya merupakan akibat perbedaan yang besar pada derajat berat penyakit pasien yang diinklusi dalam penelitian-penelitian tersebut.
Perubahan Kadar Fibrinogen Plasma dan Korelasinya dengan Perubahan Kadar hs- CRP dan Aktivitas Fibrinolisis pada Sindroma Koroner Akut Sudrajat, Dedy G; Atmakusuma, Djumhana; Alwi, Idrus; Harimurti, Kuntjoro
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Peningkatan kadar fibrinogen yang menetap merupakan faktor risiko yang kuat untuk kejadian penyakit jantung koroner (PJK).  Di sisi lain peningkatan fibrinogen plasma dapat merupakan respon fase akut. Pada kondisi ini peningkatan fibrinogen plasma bukan merupakan faktor risiko PJK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah kadar fibrinogen plasma meningkat pada fase akut dan tetap tinggi pada fase pasca akut dan mengetahui korelasi antara perubahan kadar fibrinogen plasma dengan perubahan aktivitas inflamasi dan fibrinolisis.Metode. Desain penelitian adalah studi prospektif dengan metode pengambilan sampel secara konsekutif. Pengambilan sampel fase akut untuk hs-CRP, aktivitas fibrinolisis, dan fibrinogen masing-masing diambil pada hari ke-2, 5, dan 6 pasca awitan sedangkan fase pasca akut diambil pada hari ke-13 pasca awitan. Fibrinogen diperiksa dengan metode Clauss, hs-CRP dengan metode ELISA, dan aktivitas fibrinolisis dengan metode ECLT manual. Analisis beda rerata dilakukan dengan uji t-berpasangan dengan alternatif uji wilcoxon. Analisis korelasi dengan uji Spearman.Hasil. Sampai akhir penelitian didapatkan 38 subyek sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Terdapat penurunan median kadar fibrinogen plasma pada fase pasca akut dibandingkan fase akut (415,5vs380,5mg/dL;p<0,001). Terdapat penurunan median kadar hs-CRP fase pasca akut bila dibandingkan fase akut (22,62vs13,61mg/L;p<0,001). Terdapat penurunan rata-rata ECLT pada fase pasca akut bila dibandingkan fase akut (351,18vs189,61 menit; p<0,001). Subyek dengan hiperfibrinogenemia yang menetap pada fase pasca akut adalah sebesar 52,6%. Pada kelompok ini aktivitas inflamasi 65% subyek pada fase pasca akut masih tinggi meski terdapat penurunan bermakna dibanding fase akut, sedangkan aktivitas fibrinolisis fase pasca akut pada kelompok ini menunjukkan penurunan bermakna 65% telah pada kisaran normal. Hasil uji korelasi didapatkan hasil bahwa perubahan kadar fibrinogen plasma dan perubahan kadar hs-CRP didapatkan korelasi positif yang lemah (r=0,31; p=0,049), dan antara perubahan kadar fibrinogen plasma dan ECLT merupakan korelasi positif yang lemah (r=0,359; p=0,027).Simpulan. Pada sindroma koroner akut, perubahan aktivitas fibrinolisis dan inflamasi memiliki korelasi positif lemah terhadap perubahan kadar fibrinogen. Pada kelompok dengan hiperfibrinogenemia yang menetap kadar fibrinogen pasca akut masih dominan dipengaruhi aktivitas inflamasi yang masih cukup aktif.  
Korelasi Trigliserida Pascaprandial dengan Penanda Biologis Aktivasi Endotel pada Artritis Reumatoid Utari, Amanda Pitarini; Isbagio, Harry; Darmowidjojo, Budiman; Effendi, Shuffrie
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Terdapat peningkatan mortalitas akibat penyakit kardiovaskular (PKV) sebesar 50% pada pasien artritis reumatoid (AR). Trigliserida pascaprandial (TGPP) saat ini dikaitkan dengan risiko penyakit jantung iskemik, infark miokard, stroke iskemik, kematian, serta peningkatan kadar molekul adhesi. Kadar molekul adhesi yang meningkat merupakan tanda terjadinya aktivasi endotel, proses awal pada terbentuknya lesi aterosklerosis. Belum ada penelitian tentang peran TGPP dalam risiko kardiovaskular pada pasien AR. Penelitian ini ingin mengetahui hubungan antara TGPP dengan penanda biologis aktivasi endotel.Metode. Penelitian ini adalah studi potong lintang, yang menggunakan analisis korelasi dengan analisis multivariat. Sampel diambil dengan metode consecutive sampling. Pada subjek penelitian dilakukan pemeriksaan profil lipid dan penanda aktivasi endotel. Sebagai penanda biologis aktivasi endotel digunakan sICAM-1 dan sE-selectin. Dilakukan uji korelasi antara TGPP dengan sE-selectin dan sICAM-1.Hasil. Tidak terdapat korelasi antara TGPP dengan kadar sE-selectin dan sICAM-1 pada analisis multivariat. HDL mempengaruhi kadar sICAM-1 (R2=0,087). Sementara itu kadar sE-selectin dipengaruhi oleh DAS-28 (R2=0,174), indeks massa tubuh (R2=0,125), dan gula darah pascaprandial (R2=0,138).Simpulan. Tidak ditemukan kaitan antara TGPP dengan kadar sE-selectin dan sICAM-1 pada pasien AR.
Pengaruh Pemberian N-Acetylcysteine Oral terhadap High Sensitivity C Reactive Protein (Hs-CRP) pada Pasien Hemodialisis Kronis Dewi, Ratih Tri Kusuma; Siregar, Parlindungan; Alwi, Idrus; Rumende, Cleopas Martin
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 2, No 4 (2015)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Inflamasi dan stres oksidatif merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler pada pasien penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis. Pasien hemodialisis kronis akan mengalami peningkatan kadar Hs-CRP. Hs-CRP merupakan marker inflamasi yang telah terbukti pada beberapa penelitian bermanfaat dalam memprediksi cardiovascular event. Pemberian N-Acetylcysteine (NAC) oral dapat digunakan sebagai strategi untuk menurunkan proses inflamasi yaitu disfungsi endotel dan stress oksidatif yang berperan pada atherosclerosis pada pasien hemodialsis. Pemberian NAC ini diharapkan dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas karena penyakit kardiovaskuler.Metode. Penelitian eksperimen dengan Randomized Double Blind Controlled Trial pada 65 pasien hemodialisis kronis yang memenuhi kriteria inklusi di unit hemodialisis RS.Cipto Mangunkusumo Jakarta. Penelitian dilakukan pada Agustus sampai Oktober 2013Hasil. Perlakuan dengan NAC oral selama 60 hari tidak memberikan perbedaan dibandingkan dengan plasebo. Analisis statistik dengan Mann Whitney menunjukkan bahwa tidak ada penurunan kadar Hs-CRP yang signifikan diantara kedua kelompok dengan p value Δ post1-baseline, Δ post2-baseline, and Δ post2-post1 kelompok NAC dibanding kelompok plasebo secara berurutan yaitu 0.796, 0.379 dan 0.712. Sementara itu, hasil uji Wilcoxon Signed Ranks untuk membandingkan penurunan kadar Hs-CRP pada tiap kelompok dalam tiga interval pengukuran Hs-CRP menunjukkan p value dari perbandingan kadar Hs-CRP untuk masing-masing kelompok baseline:Post1, baseline:Post2 dan Post1:Post2 (kelompok NAC Vs kelompok plasebo) secara berurutan 0.821vs0.651; 0.845vs0.358 dan 0.905vs0.789.Simpulan. Pemberian N-Acetylcysteine oral belum terbukti dapat menurunkan kadar Hs-CRP pada pasien hemodialisis kronis.
Uji Validasi Simple Risk Index dan Evaluation of Methods and Management of Acute Coronary Events dalam Memprediksi Mortalitas Pasien Sindrom Koroner Akut di Intensive Coronary Care Unit Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Meutia, Rahmah Safitri; Nasution, Sally Aman; Makmun, Lukman H; Dewiasty, Esthika
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol 4, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Penyakit Dalam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan. Stratifikasi risiko merupakan komponen penting dalam tata laksana menyeluruh pasien sindrom koroner akut (SKA) untuk menghindari tindakan yang berlebihan pada pasien dengan risiko rendah, dan sebaliknya. Simple Risk Index (SRI) dan Evaluation of Methods and Management of Acute Coronary Events (EMMACE) telah divalidasi sebelumnya, namun uji validasi yang mengevaluasi performa skor SRI dan EMMACE di Indonesia dengan karakteristik pasien yang dapat berbeda dari negara lain belum dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi performa skor SRI dan EMMACE memprediksi mortalitas 30 hari pasien SKA.Metode. Studi kohort retrospektif dilakukan dengan menggunakan data rekam medis pasien SKA yang dirawat di Intensive Coronary Care Unit Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (ICCU RSCM) tahun 2003-2010. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode konsekutif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan program SPSS for Windows versi 17. Performa diskriminasi dinyatakan dengan nilai area under the receiver-operator curve (AUC) dan performa kalibrasi dinyatakan dengan plot kalibrasi dan uji Hosmer Lemeshow.Hasil. Didapatkan total subjek sebanyak 922 pasien yang terdiri dari 453 pasien STEMI, 234 pasien NSTEMI,  dan 235 pasien UAP yang dirawat di ICCU RSCM pada tahun 2003-2010. Skor SRI untuk STEMI memberikan performa diskriminasi dan performa kalibrasi yang baik dengan nilai AUC sebesar 0,92 dan plot kalibrasi (R2)= 0,98 dengan hasil uji Hosmer Lemeshow mendapatkan nilai p=0,01. Skor SRI pada pasien SKA secara keseluruhan juga memberikan performa diskriminasi dan kalibrasi yang baik. Performa diskriminasi skor SRI pada pasien SKA mencapai nilai AUC sebsar 0,87 dan performa kalibrasi menunjukkan nilai R2= 0,99 dengan nilai p pada uji Hosmer lemeshow sebesar 0,52. Sementara itu, skor EMMACE pada pasien SKA memberikan perfoma diskriminasi yang baik (AUC= 0,87), namun performa kalibrasi tidak sebaik skor SRI (R2= 0,54; nilai p= 0,52).Simpulan.  Skor SRI memiliki performa diskriminasi dan kalibrasi yang baik pada STEMI maupun SKA secara keseluruhan dalam memprediksi mortalitas pasien yang dirawat di ICCU RSCM. Skor EMMACE memiliki performa diskriminasi yang baik, namun performa kalibrasinya kurang baik. Kata Kunci: EMMACE, mortalitas, SKA, skor, SRI, validasi Validity of Simple Risk Index and Evaluation of Methods and Management of Acute Coronary Events to Predict Mortality in Acute Coronary Syndrome Patients in Intensive Coronary Care Unit Cipto Mangunkusumo HospitalIntroduction. Risk stratification is an important part in the management of patients with an Acute Coronary Syndrome (ACS) to avoid overtreatment or undertreatment. Although Simple Risk Index (SRI) and Evaluation of Methods and Management of Acute Coronary Events (EMMACE) have been validated in other countries, no study of its applicability has been performed in Indonesia with different patients’ characteristics. This study aims to obtain the calibration and discrimination performance of SRI and EMMACE to predict 30 days mortality in ACS patients in ICCU of Cipto Mangunkusumo Hospital.Methods. A retrospective cohort study with consecutive sampling was conducted in ACS patients hospitalized in the ICCU Cipto Mangunkusumo hospital between the period of 2003 up to 2010. Data analyzed performed by SPPS program for Windows Version 17. The discrimination performance was explained using a value of area under the receiver-operator curve (AUC) while calibration performance was evaluated using hosmer lemeshow and plot calibration.Results. A total of 922 patients were included in this study consisted of 453 STEMI patients, 234 NSTEMI patients and 235 UAP patients. Simple Risk Index (SRI) score for STEMI had presentable discrimination and calibration performance (AUC= 0,92; R2= 0,98; and p value= 0,01). Simple Risk Index (SRI) score for overall ACS also showed sufficient performance and calibration discrimination (AUC= 0,87; R2= 0,99; and p value= 0,52). Meanwhile, EMMACE score in ACS patients showed satisfactory performance discrimination (AUC= 0,87), but the calibration perfomance was not as satisfactory as the SRI score with the calibration plot (R2)= 0,54 (p value= 0,52).Conclusions. Simple Risk Index (SRI) score shows a satisfactory discrimination and calibration performance both in STEMI and overall ACS patients in predicting mortality of ACS patients in ICCU Cipto Mangunkusumo Hospital. Evaluation of Methods and Management of Acute Coronary Events (EMMACE) score, nonetheless, displays sufficient discrimination performance, but poor performance of calibration.

Page 1 of 31 | Total Record : 302