Qanun Medika - Medical Journal Faculty of Medicine Muhammadiyah Surabaya
ISSN : -     EISSN : -
Qanun Medika is a medical journal from the Faculty of Medicine, University of Muhammadiyah Surabaya contains papers and scientific articles as the realization of the college tri dharma. The journal consists of three articles, in the form of research, case reports, and literature review.
Articles
49
Articles
Gambaran Kejadian Infeksi Pada Usia Lanjut

Prahasanti, Kartika

Qanun Medika - Jurnal FK UM Surabaya Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT Infection in the elderly is the second leading cause of morbidity and death in the world after cardiovascular disease. This event is closely related to the increase in the elderly population in the last few decades caused by an increase in human life expectancy. The causes of infection in elderly due to the presence of considerable chronic comorbidities, decreased resistance or immunity to infection, decreased communication power in the elderly and difficulty recognizing signs of infection early. Infection in the elderly is not only more frequent and more severe, but also have specialties related to clinical, laboratory and microbiological presentations. The purpose of this review is to provide an overview of the predisposition of infectious diseases in the elderly, immunesenescence in the elderly, the appropriate diagnostic and treatment approach in cases of infection in the elderly.Keywords                   : infection, elderly, immunesenescence Correspondence to      : drkartikaprahasanti@gmail.com ABSTRAK  Infeksi pada usia lanjut merupakan penyebab kesakitan dan kematian terbanyak kedua di dunia setelah penyakit kardiovaskuler. Kejadian ini berhubungan erat dengan peningkatan populasi penduduk usia lanjut pada beberapa dekade terakhir yang diakibatkan oleh peningkatan usia harapan hidup manusia. Penyebab terjadinya infeksi pada usia lanjut banyak disebabkan oleh karena adanya adanya penyakit komorbid kronik, penurunan daya tahan atau imunitas tubuh terhadap infeksi, penurunan kemampuan komunikasi pada usia lanjut sehingga jarang didapatkan keluhan serta sulitnya mengenal tanda infeksi secara dini. Infeksi pada usia lanjut tidak hanya lebih sering terjadi dan lebih berat, namun juga memiliki kekhususan terkait presentasi klinis, laboratorium maupun mikrobiologi. Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai predisposisi penyakit infeksi pada usia lanjut, gangguan respon imun pada usia lanjut (immunesenescence), pendekatan diagnosis dan tatalaksana yang tepat pada kasus infeksi pada usia lanjut. Kata kunci                  : infeksi, usia lanjut, gangguan respon imunKorespondensi             : drkartikaprahasanti@gmail.com

Pengaruh Durasi Pneumotorak Terhadap Tingkat Stress Oksidatif Paru Tikus Wistar

Muttaqien, Faisal, Bermansyah, Bermansyah, Saleh, Irsan

Qanun Medika - Jurnal FK UM Surabaya Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTLarge pneumothorax with long duration of symptoms can be dangerous. Large pneumothorax can cause hypoxemia and its duration states the duration of hypoxia. This long duration of hypoxia can affect changes in tissue conditions of the lungs, which if it reaches 72 hours can increase the permeability of the alveolar capillaries in the lungs to facilitate pulmonary edema. Large pneumothorax with long duration of symptoms can be a risk factor for re-expansion pulmonary edema (REPE). Meanwhile, hypoxia can also cause increased production of free radicals in lung tissue (pulmonary oxidative stress). This study investigated whether the duration of pneumothorax also affects the level of pulmonary oxidative stress, with experiments in rats. There were 4 groups consisting of 6 rats in each group: 24 hours of pneumothorax (A), 48 hours of pneumothorax (B), 72 hours of pneumothorax (C) and control (D). Pneumothorax is made by injecting air into the right pleural cavity of the chest, then we performed X-ray. All samples were examined for PaO2 to ensure hypoxia status. After that, the rats were examined for malondialdehyde (MDA) levels to express the level of oxidative stress. The result showed that all pneumothorax groups were hypoxemic (PaO2 below 80 mmHg). Mean MDA levels were higher in pneumothorax groups. However, only group C were significantly higher (p=0,031). MDA levels were 1,601 ± 0,739 in group A, 1,585 ±  0,714 in group B, 2,256 ± 0,513 in group C, and 1,243 ± 0,162 in group D.  We concluded that pneumothorax can cause pulmonary oxidative stress if the pneumothorax has a large volume and the duration of symptoms reaches 72 hours.Keywords   : Pneumothorax, REPE, Lung Edema, Free Radicals, Malondialdehyde, Hypoxia.Correspondance to : faisaldanyani@gmail.com ABSTRAKPneumotorak luas dengan durasi gejala yang lama dapat berbahaya. Pneumotorak luas dapat menyebabkan hipoksemia dan durasi gejalanya yang lama menyatakan durasi hipoksia parunya. Durasi hipoksia ini dapat mempengaruhi perubahan kondisi jaringan di paru, yang bila mencapai 72 jam dapat meningkatkan permeabilitas kapiler alveolar di paru sehingga memudahkan terjadinya edema paru. Pneumotorak luas dengan durasi gejala yang lama dapat menjadi faktor resiko reexpansion pulmonary edema (REPE). Sementara itu, hipoksia juga dapat menyebabkan peningkatan produksi radikal bebas di jaringan paru (stress oksidatif paru). Penelitian ini menginvestigasi apakah durasi pneumotorak juga mempengaruhi tingkat stress oksidatif paru, dengan eksperimen pada tikus. Terdapat 4 kelompok yang masing-masing terdiri dari 6 tikus: kelompok pneumotorak 24 jam (A), pneumotorak 48 jam (B), pneumotorak 72 jam (C) dan kontrol (D). Pneumotorak dibuat dengan cara injeksi udara ke rongga pleura dada kanan, lalu di X-ray. Semua sampel diperiksa PaO2 untuk memastikan tingkat hipoksianya. Setelah itu, tikus diperiksa kadar malondialdehid (MDA) parunya untuk mengetahui tingkat stress oksidasi parunya. Hasil penelitian menunjukkan semua kelompok tikus pneumotorak mengalami hipoksemia. Rata-rata kadar MDA lebih tinggi pada kelompok pneumotorak, namun secara statistik hanya bermakna pada kelompok 72 jam (C) dengan p=0,031. Kadar MDA pada masing-masing kelompok adalah 1,601 ± 0,739  pada kelompok A, 1,585 ± 0,714 pada kelompok B, 2,256 ± 0,513 pada kelompok C,  dan 1,243 ± 0,162 pada kelompok D. Kesimpulannya pneumotorak dapat menyebabkan stress oksidatif paru bila pneumotorak bervolume luas dan durasi gejala mencapai 72 jam.Kata kunci: Pneumotorak, REPE, Edema Paru, Radikal Bebas, Malondialdehid, HipoksiaKorespondensi : faisaldanyani@gmail.com

Physical Exercise and Bone Health

Sari, Gadis Meinar

Qanun Medika - Jurnal FK UM Surabaya Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTExercise was a planned and structured physical activity in which there was a movement repetition to maintain or enhance one or more components of physical fitness. The physical exercise on biological functions gave positive effects such as improving, but in certain circumstances, it could also give a negative effect such as inhibiting or disturbing the level of individual, system, cell, and molecular. Likewise the effect of physical exercise on bones, many factors affected bone both positively and negatively, among others; the dose of physical exercise which included frequency, intensity, type and time. The dosage of physical exercise was individual on each person. Some studies found that moderate intensity physical exercise provided positive benefits on bones. One of them was affecting the process of proliferation and differentiation of osteoblast, which was one of bone cells that had a function to form bone matrix. Moderate intensity physical exercise combined with salmon calcitonin would increase mouse bone density. Moderate-speed walking exercise would cause changes in IL-6 serum levels which had a role in the process of stem cell differentiation into osteoprogenitor and directly affected adult osteoblasts, whereas changes in PTH serum levels in the sub-acute phase of exercise played a role in the positive uncoupling process of bone remodeling directly.Keywords                   : moderate intensity physical exercise, bone healthCorrespondence to      : gadis-m-s@fk.unair.ac.id ABSTRAKOlahraga adalah latihan fisik yang merupakan bagian dari aktivitas fisik yang terencana, terstruktur, terdapat repetisi gerakan, dan mempunyai tujuan mempertahankan atau meningkatkan salah satu atau lebih komponen kebugaran fisik. Pengaruh latihan fisik terhadap fungsi biologis dapat memberi pengaruh positif yaitu bersifat memperbaiki, akan tetapi pada keadaan tertentu dapat pula memberikan pengaruh negatif yaitu menghambat atau mengganggu baik pada tingkat individu, sistem, sel maupun molekul. Demikian juga pengaruh latihan fisik terhadap tulang, banyak faktor yang mempengaruhi tulang secara positif maupun negatif, antara lain adalah dosis latihan fisik yang meliputi frekuensi, intensitas, jenis dan waktu melakukan latihan fisik. Dosis latihan fisik bersifat individual pada setiap orang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa latihan fisik intensitas sedang memberikan manfaat positif pada tulang. Antara lain mempengaruhi proses proliferasi dan diferensiasi sel osteoblas yaitu salah satu sel tulang yang berfungsi membentuk matriks tulang. Latihan fisik intensitas sedang dikombinasikan dengan salmon kalsitonin akan meningkatkan kepadatan tulang tikus. Latihan jalan dengan kecepatan sedang akan menyebabkan perubahan kadar IL-6 serum yang berperan pada proses diferensiasi stem cell menjadi osteoprogenitor dan secara langsung berpengaruh pada osteoblas dewasa, sedangkan perubahan kadar PTH serum pada fase subakut latihan berperan pada proses positive uncoupling remodeling tulang secara langsung.Kata kunci                  : latihan fisik intensitas sedang, kesehatan tulangKorespondensi            : gadis-m-s@fk.unair.ac.id

Telaah Sel Basofil Sebagai Sel Penyaji Antigen Pada Manusia

Jatmiko, Safari Wahyu

Qanun Medika - Jurnal FK UM Surabaya Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTThe discovery of basophils as antigen presenting cells in animals tries to raise a big question about the same role in humans. In order to solve the problem, the references had been searched through the US National Library of Medicine, National Institute of Health with the web site address http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed. The search had been done in May 2018 with key words: basophil, antigen presenting cell. Author used filter: publication less than 10 years and free full text article. Author found nine (9) articles that meet the criteria. Discussion from the existing article indicates that basophile cells are incapable of endocytosis of solid particles, unable to process and present antigens through MHC molecules, and basophils cells do not express the accessory molecules either before or after activated. It can be concluded that basophil has no role as antigen-presenting cells in humans.Keywords                   : Basophil, human, antigen presenting cellCorrespondence to       : safari.wahyu@ums.ac.id ABSTRAK Penemuan peran basofil sebagai sel penyaji antigen pada hewan coba menimbulkan pertanyaan besar mengenai peran yang sama pada manusia. Untuk menjawab permasalahan tersebut dilakukan penelusuran artikel melalui US    National    Library    of  Medicine,  National  Institute  of  Health dengan alamat web site  http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed. Pencarian sumber pustaka dilakukan pada bulan mei 2018 dengan   kata   kunci   Basophil, antigen presenting cell dengan filter publikasi yang berusia kurang dari 10 tahun dan merupakan free  full  text  article. Hasil pencarian ditemukan 9 artikel yang memenuhi kriteria. Pembahasan dari artikel yang ada menunjukkan bahwa sel basofil tidak mampu melakukan endositosis partikel padat, tidak mampu memproses dan menyajikan antigen melalui molekul MHC, dan sel basofil tidak mengekspresikan molekul asesori baik sebelum maupun setelah diaktifkan. Dapat disimpulkan bahwa basofil tidak mempunyai peran sebagai sel penyaji antigen pada manusia.Kata kunci                  : Basofil, manusia, antigen presenting cellKorespondensi             : safari.wahyu@ums.ac.id

Studi Epidemiologi Fraktur Vertebra di RSUD Dr.Soetomo Surabaya Pada Tahun 2013-2017

Widhiyanto, Lukas, Martiana, I Ketut, Airlangga, Primadenny Ariesa, Permana, Donny

Qanun Medika - Jurnal FK UM Surabaya Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

 AbstractThe incidence of spinal trauma in the world is 0.019-0.088% per year. However, the epidemiological data from each country varies according to the specificities of each country. Until now, there have been no reports of epidemiological research for vertebral trauma in Indonesia. This research is a descriptive analytic study. The sample of this study were all patients with vertebral fractures who entered the Dr. Soetomo Hospital in 2013-2017. The data were obtained through medical records and electronic data in hospital databases. The data are displayed in tables and graphs and comparative analysis of variables is carried out. Based on data from 2014-2017, there were a total of 442 patients with vertebral fractures, with male and female ratio of 3.3: 1. The mean age of patients was 43.6 year. The causes of vertebral fractures are due to fall from altitude (38%), traffic accidents (34%), and direct impact / hit burden (10%). Based on fracture level, most fractures were at the lumbar level (153 patients, 34,6%). At the lumbar level, the most fracture subtypes were type A with a percentage of 91.5% and the most mechanism of injury was due to falling from a height. Based on the fracture subtype, type A (compression or burst) fracture is the most common type of fracture. Lumbar vertebral fracture is the most fractured in vertebral fractures. The most common cause of fracture in the vertebrae is trauma with great energy due to falling from a height.Keywords: Epidemiology, vertebral fractures, spinal traumaCorrespondence to : dr.donnypermana@gmail.com Abstrak Insiden trauma spinal di dunia tercatat sebesar 0,019% hingga 0,088% per tahun, namun data epidemiologi dari masing-masing negara adalah berbeda-beda, sesuai dengan kekhususan dari masing-masing negara. Hingga saat ini, belum terdapat laporan penelitian epidemiologi untuk trauma vertebra di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik. Sampel penelitian ini adalah seluruh pasien dengan fraktur vertebra yang masuk di RS Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 2013-2017. Data penelitian ini didapatkan melalui data berkas rekam medis dan database elektronik rumah sakit. Data ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik serta dilakukan analisa komparasi dari variabel. Berdasarkan data tahun 2014-2017 didapatkan total 442 pasien dengan fraktur vertebra, dengan perbandingan laki-laki dan perempuan sebesar 3,3:1.  Rerata usia pasien adalah 43,6 tahun. Penyebab fraktur vertebra adalah akibat jatuh dari ketinggian (38%), kecelakaan lalu lintas (34%), dan benturan langsung/ tertimpa beban (10%). Berdasarkan level fraktur, fraktur terbanyak sejumlah 153 pasien (34,6%) pada level lumbal. Pada level lumbal didapatkan subtIpe fraktur terbanyak adalah tipe A dengan persentase 91,5% dan mechanism of injury terbanyak adalah akibat jatuh dari ketinggian. Berdasarkan subtipe frakturnya, fraktur tipe A (kompresi atau burst) merupakan jenis fraktur yang paling banyak terjadi. Fraktur vertebra lumbal adalah fraktur terbanyak pada kasus fraktur pada vertebra. Penyebab terbanyak fraktur pada vertebra adalah trauma dengan energi besar akibat jatuh dari ketinggian. Laki-laki 3 kali lebih banyak mengalami fraktur vertebra dibanding perempuan.Kata kunci: Epidemiologi, fraktur vertebra, trauma spinalKorespondensi  : dr.donnypermana@gmail.com

Uji Biokompabilitas pada Implan Orthopedi Antara Implan Impor, Implan Lokal dari Material Impor, dan Prototipe Stainless Steel 316L dari Material Lokal

Mahyudin, Ferdiansyah, Waskita, Heppy Chandra, Utomo, Dwikora Novembri, Suroto, Heri, Martanto, Tri Wahyu

Qanun Medika - Jurnal FK UM Surabaya Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT  Demands of orthopedic implants are increasing in Indonesia, but its production are limited and still imported. Stainless steel, especially 316L is one of metal that is used commonly. This research evaluates biocompatibility of stainless steel 316L implant prototype, local implant manufactured using imported stainless steel, and imported stainless steel implant. Cytotoxicity test used mesenchymal human cell with MTT assay. Irritation test, acute toxicity/pyrogenicity test, and implantation test used 24 Wistar rats respectively which were assigned to 4 groups. We evaluate Draize score, weight and rectal temperature changes, and fibrous capsule ring thickness. Cytotoxicity test shows viable cell percentage in stainless steel 316L implant prototype, local implant, and imported implant are 83.7%, 87.5%, and 83.7% respectively. Comparison test using One Way ANOVA shows no significant difference between 3 groups (p>0.05). Iritation test results in 3 groups are grade 0 (no edema and no erythema). Acute toxicity/pyrogenicity test shows no statistically significant difference (p>0.05) among all groups. There is also no significant difference (p>0.05) of fibrous capsule ring thickness on 1 and 4 weeks after implantation. Based on ISO for medical test guide, stainless steel 316L implant prototype is safe and has similar biocompatibility test result compared to local and imported implant.Keywords                   : stainless steel 316L, biocompatibility, orthopaedic implantCorrespondence to    : ferdiansyah@fk.unair.ac.id ABSTRAKKebutuhan implan orthopedi terus meningkat di Indonesia, namun produksinya terbatas dan sebagian besar masih impor dari luar negeri. Stainless steel, utama 316L adalah salah satu metal yang sering digunakan. Penelitian ini mengevaluasi biokompatibilitas dari prototipe implan stainless steel 316L, implan lokal yang diproduksi menggunakan stainless steel impor, dan implan stainless steel impor. Uji sitotoksisitas menggunakan sel mesenkim human dengan MTT assay. Uji iritasi, uji pirogenositas, dan uji implantasi menggunakan 24 tikus Wistar yang terbagi dalam 4 grup. Kami mengevaluasi skor Draize, perubahan berat dan temperatur rektal, dan ketebalan fibrous capsule ring. Uji sitotoksisitas menunjukkan persentase viabilitas sel pada prototipe stainless steel 316L, implan lokal, dan implan impor berturut-turut adalah 83,7%; 87,5%; dan 83,7%. Uji komparasi dengan One Way Anova tidak menunjukkan perbedaan signifikan diantara 3 grup (p>0,05). Hasil uji iritasi 3 grup menunjukkan grade 0 (tidak ada edema dan eritema). Uji pirogenositas tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada semua grup (p>0,05). Tidak ada perbedaan signifikan (p>0,05) pula pada ketebalan fibrous capsule ring di minggu ke 1 dan 4 setelah implantasi. Berdasarkan ISO untuk pedoman uji di bidang medis, prototipe stainless steel 316L aman dan memiliki kesamaan hasil uji biokompatibilitas bila dibandingkan dengan implan lokal dan impor.Kata kunci              : stainless steel 316L, uji biokompatibilitas, implan orthopaediKorespondensi       : ferdiansyah@fk.unair.ac.id

Proses Penyembuhan Luka Ditinjau dari Aspek Mekanisme Seluler dan Molekuler

Primadina, Nova, Basori, Achmad, Perdanakusuma, David S

Qanun Medika - Jurnal FK UM Surabaya Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTWound is the discontinue of the anatomical structure of the body tissue, the healing phase consists of 3 stages, they are the inflammatory phase, which is divided into early inflammation, and late inflammation that occurs from day 0 to day 5 after injury. The Proliferation phase, which includes three main processes, namely: Neoangiogenesis, fibroblast formation and re-epithelialization, occurs from day 3 to day 21 after injury. Maturation phase occurs from day 21 to 1 year after injury which aims to maximize the strength and structural integrity of new tissue fillings, epithelial growth and scar tissue formation. These three phases influence each other and many cells and cytokines play a role in each phase. The amount of research on the wound healing process to achieve satisfactory results with a shorter time than the nominal phase results in a theory of the process of wound healing that is increasingly detailed which will be explained from the aspects of cellular and molecular mechanisms.Keywords : wound healing, wound healing process, wound healing mechanism, cellular mechanism of wound healing, molecular mechanism of wound healingCorrespondence to  : novaprimadina@fk.um-surabaya.ac.id ABSTRAKLuka adalah terputusnya kontinuitas struktur anatomi jaringan tubuh, dimana fase penyembuhannya terdiri dari 3 tahap yaitu Fase Inflamasi yang dibagi menjadi early inflammation (Fase haemostasis), dan late inflammation yang terjadi sejak hari ke 0 sampai hari ke 5 pasca terluka. Fase Proliferasi, yang meliputi tiga proses utama yakni: Neoangiogenesis, pembentukan fibroblast dan re-epitelisasi, terjadi dari hari ke-3 sampai hari ke-21 pasca terluka. Fase Maturasi terjadi mulai hari ke-21 sampai 1 tahun pasca luka.yang bertujuan untuk memaksimalkan kekuatan dan integritas struktural jaringan baru pengisi luka, pertumbuhan epitel dan pembentukan jaringan parut. Ketiga fase ini saling mempengaruhi satu sama lain dan banyak sel dan sitokin yang berperan didalam setiap fase. Banyaknya penelitian tentang proses penyembuhan luka untuk mencapai hasil yang memuaskan dengan waktu yang lebih singkat dari fase nomal menghasilkan teori proses penyembuhan luka yang semakin detail yang akan dijelaskan dari aspek mekanisme seluler dan molekuler.Kata kunci  :penyembuhan luka, proses penyembuhan luka, mekanisme penyembuhan luka, mekanisme seluler penyembuhan luka, mekanisme molekuler penyembuhan lukaKorespondensi : novaprimadina@fk.um-surabaya.ac.id

Pengaruh EkstrakTeh Hijau Terhadap Kadar FSH, MDA Ovarium dan Diameter Folikel pada Tikus yang Dipapar MSG

Kamalah, Rizqi, Kalsum, Umi

Qanun Medika - Jurnal FK UM Surabaya Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT  Monosodium Glutamate (MSG) is a sodium salt of glutamic acid. The main function of glutamate is as a communicator cells, and also control GnRH. Consumption of MSG can causes the amount of glutamate in the plasma to increase so as to trigger the occurrence of oxidative stress To minimize the negative impact is needed endogenous antioxidants one of which is green tea. Polyphenol content in green tea is able to inhibit transcription factors of reduction, inhibit prooxidant enzymes. This study aims to determine the effect of MSG exposure and green tea ethanol extract on the prevention of decreased levels of FSH, prevention of the increasing levels of ovarian Malondialdehyde (MDA) and antral follicle diameter. The methode used in this research is elisa essay, spectrophotometry and haematoxylin eosin (HE). The rats were dividing into 5 grups, namely control grup, positive grup and treatment grups (PI,PII,PIII) treated with 0,7 mg/gBB of MSG and 0,7 mg, 1,4 mg, 2,8 mg of green tea ethanol extract (PI,PII,PIII). The results showed a significant correlation between giving green tea ethanol extract dose 1,4 mg and 2,8 mg can prevent decrease of FSH level and increase of ovarian MDA in rat exposed MSG (p=0,002, r=0,370 dan 0,366, p=0,021, r=0,039 dan 0,040, p=0,474). This study concludes that MSG exposure and green tea ethanol extract can increase FSH levels and decrease MDA ovary level of female rat but can’t prevent decrease diameter of follicle antral in rat with exposed MSGKeywords         : MSG, green tea extract, FSH, MDA ovary, antral follicle diameter.Correspondence to  : tantpopo16@gmail.com ABSTRAK Monosodium Glutamat (MSG) adalah garam natrium dari asam glutamat. Glutamat memiliki fungsi dalam komunikasi antar sel, dan juga dapat mengendalikan GnRH. Konsumsi MSG yang berlebihan dapat menyebabkan jumlah glutamat dalam plasma darah meningkat sehingga memicu terjadinya stres oksidatif. Untuk meminimalisirnya tubuh memerlukan antioksidan, khususnya antioksidan endogen seperti teh hijau. Teh hijau mengandung polifenol yang dapat menghambatan faktor transkripsi reduksi, menghambatan enzim prooksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian ekstrak etanol teh hijau terhadap kadar FSH, MDA ovarium dan diameter folikel antral pada tikus yang dipapar MSG. Metode yang digunakan dalam penelitian ini elisa essay, spectrophotometry dan Haematoxylin Eosin (HE). Sampel dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif dan perlakuan (PI,PII,PIII) masing-masing mendapat dosis MSG yang sama 0,7 mg/gBB. Dosis ekstrak etanol teh hijau untuk kelompok perlakuan (PI,PII,PIII) masing-masing mendapat dosis 0,7 mg, 1,4 mg dan 2,8 mg. Berdasarkan hasil analisis statistik, didapatkan hubungan yang signifikan bahwa pemberian ekstrak etanol teh hijau dosis dosis 1,4 mg dan 2,8 mg dapat mencegah penurunan kadar FSH, dapat mencegah peningkatan kadar MDA ovarium pada tikus yang dipapar MSG (p=0,002, r=0,370 dan 0,366, p=0,021, r=0,039 dan 0,040, p=0,474 ). Penelitian ini membuktikan bahwa pemberian ekstrak etanol teh hijau dapat mencegah penurunan kadar FSH, mencegah peningkatan kadar MDA ovarium, akan tetapi tidak dapat mencegah penurunan diameter folikel antral pada tikus yang dipapar MSGKata kunci    : MSG, ekstrak teh hijau, FSH, MDA ovarium, diameter folikel antralKorespondensi  :  tantpopo16@gmail.com

Success Of Pulmonary Tuberculosis Treatment Services In Bangetayu Primary Healthcare Semaranga Reviewed From The Aspect Of Quality Of Service

Lahdji, Aisyah

Qanun Medika - Jurnal FK UM Surabaya Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTPulmonary tuberculosis is a disease that until now has a high morbidity rate, including in Indonesia. Indonesia ranks second with the highest TB burden in the world. From 2013 to 2016, the percentage of the success rate of treatment in Semarang City was 83%, where the lift was still below the target of 90% and in the health profile of the Bangetayu Primary Health Care Semarang, the cure rate was 55% and complete treatment was 34%. One of the controls in TB disease is treatment with the Directly Observed Treatment Short-Course (DOTS) system by monitoring medication. The existence of these efforts still cannot increase the success rate of TB treatment. The purpose of this study was to analyze the scope of achievement of the success of pulmonary TB treatment in Bangetayu Primary Health Care in terms of service quality aspects. This study included descriptive observational research with a qualitative approach. Data collection in this study used interviews and observations by determining the source with the snowball sampling method, namely the head of the health care, the person in charge of the P2P program, the holder of the pulmonary TB program and laboratory officer. This research was conducted at Bangetayu Primary Health Care in November 2018 to December 2018. Assessment of service quality is seen from the aspects of input, process and 5 dimensions of service quality. The results of the study found that the quality of management services from input, process and 5 dimensions of service quality at the Bangetayu Primary Health Care were good. The conclusion of this study is that the Bangetayu Primary Health Care has implemented TB service management well, even though the achievements of TB treatment have not met the target, so that the failure to achieve success in TB treatment in Bangetayu Primary Health Care, Semarang is not caused by health service factors.Keywords                   : Pulmonary tuberculosis, Bangetayu Primary Health Care, service qualityCorrespondence to      : lahdjiaa@yahoo.com   ABSTRAKTuberculosis Paru (TB Paru) adalah  penyakit yang sampai saat ini memiliki angka kesakitan yang tinggi termasuk di Indonesia. Indonesia menduduki peringkat kedua dengan nilai beban TB tertinggi di dunia. Dari tahun 2013 hingga tahun 2016, presentase angka keberhasilan pengobatan di Kota Semarang sebesar 83%, dimana angkat tersebut masih berada dibawah target sebesar 90% . Pada profil kesehatan Puskesmas Bangetayu Semarang, didapatkan angka kesembuhan sebesar 55% dan pengobatan lengkap sebesar 34%. Salah satu pengendalian pada penyakit TB adalah pengobatan dengan system Directly Observed Treatment Short-Course (DOTS) dengan pemantauan minum obat. Adanya upaya tersebut masih belum bisa meningkatkan angka keberhasilan pengobatan TB secara optimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis  capaian keberhasilan pengobatan TB paru di Puskesmas Bangetayu yang ditinjau dari aspek mutu pelayanan. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif observatif dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi dengan penentuan narasumber dengan metode snowball sampling, yaitu kepala puskesmas, penanggungjawab program P2P dan pemegang program TB paru, petugas Laboratorium. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Bangetayu Semarang pada bulan November 2018 hingga Desember 2018. Penilaian mutu pelayanan dilihat dari aspek input, proses dan 5 dimensi mutu pelayanan. Hasil penelitian didapatkan bahwa mutu pelayanan manajemen dari input, proses dan 5 dimensi mutu pelayanan di Puskesmas Bangetayu Semarang sudah baik. Kesimpulan pada penelitian ini adalah Puskesmas Bangetayu sudah  menerapkan manajemen pelayanan TB dengan baik, meskipun capaian keberhasilan pengobatan TB belum memenuhi target, sehingga ketidakberhasilan capaian keberhasilan pengobatan TB di Puskesmas Bangetayu, Semarang tidak disebabkan oleh faktor pelayanan kesehatan.Kata Kunci     : TB Paru, puskesmas bangetayu, mutu pelayananKorespondensi : lahdjiaa@yahoo.com

The Effect Of Pagoda Leaf Extract (Clerodendrum Paniculatum L) On The IL-10 Level In Mammae Of Female Rats Strain (Sprague Dawley) Induced With Staphylococcus Aureus Bacteria

Suriati, Israini, Ahmad, Mardiana, Siagian, Nurul Aini, Prihantono, Prihantono

Qanun Medika - Jurnal FK UM Surabaya Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTMastitis is an infectious disease problems of found in breast feeding usually caused by Staphylococcus aureus. When Staphylococcus aureus bacteria enters the body’s tissues, IL-10 immune will active helped prevent cell broken. The immune system will get worse if there is no treatment. So that it takes complementary therapies like pagoda leaves, The content of the pagoda contains tannins, alkaloids and flavonoids, where is this compound can to improve immune system. This study aims to determine the effect of pagoda leaf extract on IL10 levels in rats induced by Staphylococcus aureus bacteria. The type of research used in this study is true experimental with pre and posttest control design. The use of 15 Sprague Dawley strain rats divided into 3 groups: 5 negative control groups (aqua pro injections 1ml/gramBB) five  tails were all given standard feed,  positive control group (Amoxicilin with 9.6ml / 250gramBB ) five tails were all given standard feed, and treatment group (Amoxicilin 9.6ml / 250gramBB plus pagoda leaf extract 50ml/250gramBB) five tails were all given standard feed. All groups were induced bacteria Staphylococcus aureus  (0,2 mlx108ml/CFU). IL-10 levels were examined using the R & D method of the Enzyme Linked Immonosorbent Assay (ELISA) Rat system. Data analysis used ANOVA + post hoc test, with a significant value ρ ≤ 0, 05. This study showed no difference in levels of IL10 cytokines, before induced Staphylococcus aureus bacteria in all groups with values (ρ> 0.05). Whereas after the treatment was given, the value of ρ <0.05) between all groups showed that there was a difference in IL10 levels after treatment between all groups. In the negative control group, IL10 experienced a decrease (mean ± 10.4 pg / ml). While the increase in IL-10 levels was greater in the treatment group (mean ± 58.4 pg / ml), compared to the positive group (mean ± 41.8 pg / ml). The conclusion in this study is that pagoda leaf extract (Clerodendrum Paniculatum L) has an influence in increasing IL-10 levels as an anti-inflammatory. Pagoda leaf extract can be used as a complementary therapyKeywords                    : Staphylococcus aureus , IL-10, Ekstrak Daun PagodaCorrespondence          : israinisuriati@yahoo.com.AbstrakMastitis adalah masalah penyakit infeksi yang ditemukan pada ibu menyusui yang biasanya disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Ketika bakteri Staphylococcus aureus masuk ke jaringan tubuh, kekebalan IL-10 akan aktif membantu mencegah sel- sel rusak. Sistem imun akan memburuk jika tidak ada penanganan. Sehingga dibutuhkan terapi komplementer seperti tanaman daun pagoda, kandungan dari tanaman daun pagoda terdiri dari tannins, alkaloids and flavonoids, di mana senyawa ini dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah true experimental dengan rancangan pre dan posttest control design. Yang menggunakan tikus strain Sprague Dawley sebanyak 15 ekor yang dibagi dalam 3 kelompok yaitu kelompok kontrol negatif (aqua pro injections) sebanyak 5 ekor  semuanya  diberikan  pakan  standar,  kelompok  kontrol  positif (Amoxicilin dengan dosis 9,6ml/250gramBB) sebanyak 5 ekor semuanya  diberikan  pakan standar, dan kelompok perlakuan (Amoxicilin 9,6ml/250gramBB ditambah dengan ekstrak daun pagoda (50ml/250gramBB) 5 ekor semuanya diberikan pakan standar. Semua kelompok diinduksisikan bakteri Staphylococcus aureus 0,2 ml/CFU. Pemeriksaan kadar IL-10 menggunakan metode R & D system Enzyme Linked Immonosorbent Assay (ELISA) Rat. Analisis data menggunakan uji ANOVA + post hoc, dengan nilai signifikan ρ ≤ 0, 05. Penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan kadar sitokin IL-10, sebelum diinduksikan bakteri Staphylococcus aureus pada semua kelompok dengan nilai (ρ > 0,05).. Sedangkan setelah diinduksikan bakteri Staphylococcus aureus ± 24 jam semua kelompok mengalami penurunan kadar IL10 dengan nilai (ρ > 0,05). Setelah diberikan treatment diperoleh nilai ρ < 0,05) antara semua kelompok hal ini menunjukkan ada perbedaan kadar IL-10 setelah diberikan treatment antara semua kelompok. Pada kelompok kontrol negatif kadari IL-10 mengalami penurunan (rerata ± 10,4 pg/ml). Sedangkan peningkatan kadar IL-10 lebih besar pada kelompok perlakuan (rerata ± 58.4 pg/ml), dibandingkan pada kelompok positif (rerata ± 41.8 pg/ml ). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah ekstrak daun pagoda (Clerodendrum Paniculatum L) memiliki pengaruh dalam meningkatkan kadar IL-10 sebagai anti-inflamasi. Ekstrak daun pagoda dapat dijadikan terapi komplementer.Kata kunci        : Staphylococcus aureus, IL-10, Ekstrak Daun PagodaKorespondensi : israinisuriati@yahoo.com.