cover
Filter by Year
Panggung
ISSN : -     EISSN : -
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Articles
401
Articles
Pengemasan Seni Pertunjukan Tradisional Sebagai Daya Tarik Wisata di Istana Basa Pagaruyung

Elina, Misda, Murniati, Murniati, Darmansyah, Darmansyah

PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.11 KB)

Abstract

 Abstract This research aims to describe the traditional performing arts of Minangkabau performed in the tourist attraction of Basa Pagaruyung palace. This research uses the descriptive-analysis method by registering the traditional performing arts of Minangkabau in the surrounding environment of the palace, both in textual and contextual approach. The theory used in this research is the packaging theory of performing arts. The research results show that the tourist attraction of Basa Pagaruyung palace has various attractions visited by many tourists in holidays namely its natural landscape, culinary, and museum, but it is lack of the traditional performing arts included. The performances are only performed in 25% of the total amount of holidays in one year. Around this tourist attraction, there are approximately 200 art studios that have the performing arts packages, namely music performances, dance performances; and Minangkabau traditional theatre. The packages consist of traditional arts and newly choreographed or composed arts, both in their materials and costumes.Keywords: The package of performing arts, traditional, tourist attraction  Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan seni pertunjukan tradisional Minangkabau yang ditampilkan pada obyek wisata Istana Basa Pagaruyung. Penelitian ini menggunakan metode deskritif analisis, dengan mendata secara tekstual dan kontekstual seni pertunjukan tradisional di sekitar kawasan obyek wisata Istana Basa Pagaruyung. Teori yang digunakan adalah teori kemasan seni pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa obyek wisata Istana Basa Pagaruyung memiliki berbagai daya tarik wisata alam, kuliner, dan museum yang ramai dikunjungi wisatawan pada hari libur. Namun demikian, obyek wisata ini belum memanfaatkan seni pertunjukan tradisional secara optimal. Pementasan ini dilakukan hanya 25 % dari jumlah hari libur yang ada dalam satu tahun. Di sekitar obyek wisata terdapat lebih kurang 200 sanggar seni pertunjukan tradisional yang memiliki paket seni pertunjukan musik, pertunjukan tari, dan teater tradisional. Paket seni pertunjukan terdiri dari seni tradisional dan paket seni yang telah dikreasikan, baik dari segi garapan materi dan kostum.Kata kunci: kemasan seni pertunjukan, tradisional,  daya tarik  wisata  

Kreativitas Sebagai Strategi Pengembangan Musik Kompang Grup Delima di Bantan Tua Bengkalis

Minawati, Rosta, Nursyirwan, Nursyirwan

PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.975 KB)

Abstract

ABSTRACTThis article aims to discover the strategy of creativity used by performers of Kompang music in Bantan Tua, Bengkalis. The data was collected through observation, interviews, and documentation. The Kompang Delima Group is one of the kompang groups that has developed kompang as performing art. In 2012 the Delima Group started to include creative movements in their performances. The movement creativities were inspired by the social and cultural life of the people. “Nunduk” is one of the characteristic movements of the Delima Group in Bantan inspired by menoreh (harvesting a rubber). The creativities are developed through the elements of local culture, including movements, formations, and floor patterns, and the emphasis on the clarity of articulation in each line of the recitation of the barzanzi text in order to gain more aesthetic impression of performance.Keywords: creativity, Kompang music, Delima group, BengkalisABSTRAKTulisan ini bertujuan mengungkap strategi kreativitas pemain musik Kompang di Bantan Tua Bengkalis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Grup Kompang Delima adalah salah satu grup Kompang yang mengembangkan musik Kompang sebagai seni pertunjukan. Pada tahun 2012, Grup Delima mulai memasukkan gerak yang kreatif di dalam pertunjukannya. Hasil kreativitas yang dilakukan dengan menggarap gerak yang terinspirasi dari kehidupan sosial dan kultur masyarakatnya. Nunduk adalah gerakan yang khas yang dimiliki grup Delima di Bantan Tua yang terinspirasi dari menoreh (mengambil karet). Kreativitas dilakukan dengan mengembangkan gerak, formasi dan pola lantai, serta penekanan pada kejelasan artikulasi setiap syair barzanji yang dilafalkan agar tercapai kesan estetik dalam penampilannya.Kata kunci: kreativitas, musik Kompang, grup Delima, Bengkalis

Pelestarian Budaya Suku Sawang di Kabupaten Belitung Timur

Anggara, Sahya

PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.254 KB)

Abstract

ABSTRACTSawang culture preservation in East Belitung regency faces many obstacles. Less role of local government, lack of regeneration, and the infiltration of other cultures, causing Sawang culture continue to erode and it is going to extinction. The preservation of Sawang culture, in Selinsing Village, Gantung District, East Belitung Regency needs to be improved further through appropriate programs from Culture and Tourism Department of East Belitung Regency, so that the culture keeps growing among Sawang community. Through qualitative and descriptive analysis with sociology, anthropology, and public policy approaches, this research aims to find methods to preserve and to develop Sawang culture so it can provide input for the local government to preserve Sawang culture.Keywords: policy, culture, Sawang ethnic, preservation ABSTRAK Pelestarian budaya Suku Sawang di Kabupaten Belitung Timur banyak mengalami hambatan. Kurang optimalnya peran pemerintah daerah, kurangnya regenerasi budaya dan pengaruh budaya luar, menyebabkan budaya Suku Sawang terus tergerus dan terancam mengalami kepunahan. Pelestarian budaya Suku Sawang, di Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur perlu lebih ditingkatkan melalui program pembinaan yang baik dari Dinas Kebudayaan dan Parwisata Kabupaten Belitung Timur, sehingga budaya tersebut tetap tumbuh dan terus berkembang di kalangan masyarakat Suku Sawang. Melalui penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi, antropologi, dan kebijakan public, diharapkan penelitian dapat menjadi bahan masukan bagi pemerintah daerah dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya Suku Sawang agar tidak mengalami kepunahan.Kata kunci: kebijakan, budaya, Suku Sawang, pelestarian         

Gandrung Temu: Peran Perempuan dalam Kehidupan Seni Pertunjukan

Windrowati, Trinil

PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.551 KB)

Abstract

ABSTRACTTemu Misti is an important figure as a Gandrung Banyuwangi women dancer. She develops the different types of Gandrung songs, which become specialty of Banyuwangi ethnic. Using the concept of Ritzer’s micro social and qualitative methods, the author explains the existence of Gandrung dancer named Temu in the village of Kemiren in Banyuwangi. As a gandrung dancer, Temu has expertise in dance, vocals, and organizational management. As an outstanding dancer, Temu received an award as an inspirational woman in the recording industry, her role as a dancer who has golden voice as well as a manager of cultural arts organization. Temu has succesfully created generations of gandrung dancers. For her achievements, Temu is categorized as a public figure in art and culture who is able to influence and to drive thoughts and actions of individuals or groups of people by which they positioned Temu as an inspiring woman.keywords: Temu, gandrung, role, inspirational, women dancerABSTRAKTemu Misti adalah seorang perempuan inspirasional sebagai penari gandrung Banyuwangi yang berhasil mengembangkan lagu-lagu gandrung menjadi khas etnik Banyuwangi. Penulis menggunakan konsep eksistensi sosial mikro oleh Ritzer dengan metode kualitatif, untuk menjelaskan keberadaan seorang penari kesenian gandrung bernama Temu di Desa Kemiren Banyuwangi. Sebagai penari gandrung, Temu memiliki keunggulan di bidang olah gerak, olah suara, dan manajemen organisasi. Temu sebagai penari yang unggul dalam olah gerak dan olah suara telah mendapat penghargaan sebagai wanita inspiratif dan sukses, baik dalam industri rekaman, sebagai penari nomor satu bersuara emas, maupun sebagai pengelola organisasi seni budaya sehingga ia mampu menciptakan generasi penari gandrung. Atas prestasinya, Temu dikategorikan sebagai tokoh masyarakat bidang seni budaya yang mampu memengaruhi dan mengarahkan pikiran dan tindakan individu atau kelompok masyarakat hingga membuahkan pernyataan-pernyataan yang memosisikan Temu sebagai individu pada derajat ketokohan wanita inspiratif.Kata Kunci: Temu, gandrung, peran, inspiratif, penari perempuan.

Gaya Retro dan Ekplorasi Material dalam Tren Desain Mebel Karya Desainer Muda Indonesia

Jamaludin, Jamaludin, Kusnaedi, Iyus, Widia, Edwin

PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5807.612 KB)

Abstract

AbstractThis article discusses the work of young designers in the field of furniture design that shows the trend of furniture design today. The trend here is the tendency of furniture design characteristics emerged in current Indonesia. Most of the works appeared at national and international furniture fairs which make them recognizable, both nationally and globally. The type of furniture discussed is limited to the design of chairs with rattan and wood materials. Furniture design trends also give an effect to the interior design. The method in this research is observation and critical analysis of furniture design characteristics. The results of observation and analysis show that the design trend of Indonesian furniture generally uses the design style of the 1960s until the 1980s as an inspiration. The design style is now called retro or vintage and is now a trend of the furniture world. In terms of materials, the trend of furniture design today is characterized by the merger of two materials such as rattan with metal or wood with metal.Keywords: retro, trends, furniture design, rattan furniture, young designers. Abstrak Artikel ini mendiskusikan karya desainer muda dalam bidang desain mebel yang menunjukkan tren desain mebel dewasa ini. Tren yang dimaksud adalah kecenderungan karakter desain mebel yang muncul belakangan di Indonesia. Sebagian besar karya-karya desainer muda muncul di pameran mebel skala nasional dan internasional sehingga cepat dikenal baik secara nasional maupun global. Desain mebel yang dibahas dibatasi pada kursi dengan bahan rotan dan kayu.  Tren  desain mebel juga memberi pengaruh pada desain interior. Metode dalam penelitian ini adalah observasi dan analisis kritis mengenai karakteristik desain mebel yang sedang tren karya para desainer muda. Hasil observasi dan analisis menunjukkan bahwa tren desain mebel Indonesia umumnya menggunakan gaya desain tahun 1960-an hingga tahun 1980-an sebagai inspirasi. Gaya desain masa itu sekarang disebut retro atau sekarang menjadi bagian dari tren mebel dunia. Dari segi material, tren desain mebel dewasa ini ditandai dengan penggabungan dua material seperti rotan dengan metal atau kayu dengan metal.Kata kunci:  retro, tren, desain mebel, mebel rotan, desainer muda.

Kesempurnaan Wong Menak dalam Wayang Sasak

Qodri, Muh. Syahrul

PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.249 KB)

Abstract

AbstractThe problem discussed in this article is the values of perfection in the main character of Jayengrana in Wong Menak story of Wayang Sasak in its relation to other figures in the puppet. To explore this issue, the analysis method used is Roland Barthes’ semiotic perspective. Data were collected from interviews and literature study. After applying the stages of semiotic analysis, which is based on 5 codes of Roland Barthes’ semiotics (i. e. hermeneutic, connotation, symbolic, proaretic, and cultural codes), it can be concluded that the perfection of Wong Menak story lies on the glory of himself as wong menak as represented through the his nicknames which prevails on every journey of life. This is because of his ability to manage the five characters that exist in companions and manifest themselves in wong menak itself. Keywords: perfection, wong menak, puppet sasak. AbstrakMasalah yang dibahas dalam artikel ini adalah tentang nilai kesempurnaan yang dimiliki oleh tokoh utama Jayengrana dalam Wong Menak di dalam Wayang Sasak yang dikaitkan dengan tokoh-tokoh lainnya dalam wayang tersebut. Untuk mengupas persoalan tersebut, metode analisis yang digunakan adalah semiotika perspektif Roland Barthes. Data yang dianalisis adalah data dari hasil wawancara dan studi pustaka. Setelah melewati tahapan analisis semiotika yang berlandaskan pada lima kode Roland Barthes (yaitu kode hermeneutik, konotatif, simbolik, proaretik, dan kode kultural), dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa kesempurnaan Wong Menak terletak pada kejayaan dirinya sebagai wong menak yang direpresentasikan lewat nama-nama julukan yang disandangnya, sehingga senantiasa berjaya pada setiap perjalanan kehidupannya. Hal ini disebabkan oleh kemampuannya mengelola kelima karakter yang ada pada diri sahabat-sahabatnya dan  menyatu dalam diri wong menak itu sendiri. Kata kunci: kesempurnaan, wong menak, wayang sasak

Modifikasi Rumah Kutai Knockdown Sebagai Solusi Perumahan Daerah Rawa

Rulia, Anna, Esfianto, Anton

PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.784 KB)

Abstract

AbstractIn order to fulfil the needs of housing in Indonesia, a construction in the swampy area is a significant challenge due to its wet condition. Housing offered by the developers commonly appears as a permanent construction which closes the waterway and enlarges the risk of flooding. The permanent construction also takes more time to build in comparison with a traditional housing. Meanwhile, people prefer a permanent construction and modern architecture to a traditional style such as Kutai housing style. This research aims to explore the design of Kutai housing style with the knockdown system as an alternative solution to fulfil the needs of housing in the swampy area. By using the five steps architectural design methods, this design is considered to be more effective due to the shorter time used as well as its effectiveness to prevent flooding. Moreover, the simple yet beautiful design of Kutai housing style gives a strong sense of place and can be seen as a way to preserve a traditional architecture that can also be sold outside the island.Keywords: swamp, Kutai, housing, knockdown designAbstrak Untuk memenuhi kekurangan perumahan di Indonesia, konstruksi pada daerah rawa merupakan tantangan tersendiri karena karakternya yang khas. Perumahan yang dibangun oleh developer umumnya merupakan konstruksi permanen yang pengerjaannya lebih lambat dibandingkan dengan rumah tradisional serta menutup jalur air rawa sehingga dapat mengakibatkan banjir. Selain itu, masyarakat pun saat ini lebih memilih desain permanen ketimbang arsitektur tradisional seperti rumah Kutai. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskusikan rancangan rumah Kutai sebagai solusi alternatif dengan sistem knockdown, sebagai pemenuhan kekurangan perumahan di daerah rawa, seperti Kalimantan. Dengan metode perancangan lima langkah dalam arsitektur, desain ini diharapkan dapat lebih efektif karena singkatnya waktu pengerjaan dan efektivitasnya dalam mencegah banjir. Desain rumah Kutai yang sederhana tapi estetis ini dapat memberi daya tarik kelokalan yang khas, dapat menjaga kelestarian arsitektur tradisional, juga dapat memberi dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.Kata kunci: lahan rawa, Kutai, rumah, model knockdown 

Langen Carita Jaka Tingkir Opera Edukasi Anak

Pramutomo, R.M., Slamet MD, Slamet MD, Mulyadi, Tubagus

PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.479 KB)

Abstract

ABSTRACTThis article discusses the Java opera called Langen Carita from early 19th century which was used as educational media for the Javanese native. A figure of Hadi Sukatno was firstly trusted by Ki Hadjar Dewantara, a founder of Taman Siswa School, to use a Langen Carita. Specifically, this article deliberates Jaka Tingkir as Langen Carita in its current performance. This article based on qualitative reserach combined with the historical arts method. It uses a heuristic method to validate data and to critisize the sources. The main approach of this article is ethnochoreology according to the materials used in a dance drama as a branch of performing arts studies. Ethnochoreological perspectives are needed to find the basic creation of an opera dance drama in which dance is viewed as a cultural product.Keywords: langen carita, opera, values of education, history.ABSTRAKArtikel ini mendiskusikan sebuah fenomena opera Jawa yang sejak awal dirancang untuk media pembelajaran bagi para warga pribumi. Sosok Ki Hadi Sukatno yang pertama kali dipercaya oleh Ki Hadjar Dewantara untuk menggunakan media Langen Carita. Secara khusus, artikel ini membahas Langen Carita Joko Tingkir di masa kini. Kajian artikel ini bersifat kualitatif, dengan menggunakan metode sejarah seni. Sebagaimana dalam metode sejarah, maka di dalam sejarah seni sifat data kualitatif itu dicermati melalui kritik sumber. Langkah kritis ini lazim disebut sebagai langkah heuristik pada metode sejarah. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan sebuah objektivitas pada kajian. Selain itu, pendekatan utama dalam pengkajian ini adalah pendekatan etnokoreologi. Pendekatan ini lazim dilakukan dalam spesifikasi metode sejarah seni yang agak berbeda dengan metode sejarah. Pendekatan etnokoreologi adalah pendekatan dengan menempatkan kedudukan tari sebagai objek multidimensional. Dikarenakan objek tari adalah multidemensi, maka diperlukan pengkajian setiap sisi dimensi yang ada pada objeknya. Etnokoreologi secara metodologis cocok untuk melihat Langen Carita sebagai genre dramatari yang merupakan sebuah produk budaya.Kata Kunci: langen carita, opera, nilai edukasi, sejarah

Fungsi dan Peran Api dalam Seni dan Kehidupan Masyarakat Bali

Sudibya, I Gusti Ngurah, Sukerta, Pande Made, Kusumo, Sardono Waluyo, Supriyanto, Eko

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTFire is made up of three elements, such as: heat, combustible materials and oxygen. Fire has heat and light. Fire is used in real life in various human life from cooking, to marriage and to burning dead bodies. Fire is available in space, on earth, and in oneself. Symbolically the fire is employed as a symbol of spirit, a sanctification, a destruction, enlightenment, heating temperatures, fire of romance, and fire of revenge. Overheated is possible when one ignores norms, ethics, and rules. Library studies, interviews, observations, and experiments are the methods used in this compilation. Fire both as symbol and text, functioned according to the capacity / role of each, both in and outside themselves, the use of it must be controlled for the harmony of the macrocosms and microcosms, when is the right time is to use small, medium and large fire, because all of them is important.Keywords: function, fire, symbol, harmonic.ABSTRAKApi terbentuk dari tiga elemen yakni, panas, bahan mudah terbakar dan oksigen. Api memiliki panas dan cahaya. Api digunakan dalam kehidupan manusia dari memasak, penerangan, perkawinan sampai pembakaran jenazah. Api terletak di angkasa, di bumi, dalam diri. Api dijadikan simbol semangat, penyucian, peleburan, pencerahan, api asmara, api dendam. Terjadi over heated/panas berlebih yang tidak lagi mengindahkan norma, etika, aturan. Studi kepustakaan, wawancara, observasi, dan percobaan merupakan metode yang digunakan dalam penyusunan ini. Seyogyanya api baik sebagai simbol maupun teks, difungsikan sesuai kapasitas/perannya masing-masing, baik dalam diri maupun diluar diri, semua itu harus dikendalikan penggunaannya, agar keharmonisan bhuana alit dan bhuana agung dapat terwujud, kapan menggunakan api kecil, sedang maupun besar, karena semuanya penting.Kata kunci : fungsi, api, simbol, harmonis.

Pengembangan Koreografi Tari Podang Perisai dari Tradisi menjadi Modern di Kuantan Singingi Riau

Irdawati, Irdawati Irdawati, Sukri, Sukri Sukri

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstractThis paper explores the development of Podang Perisai dance from a traditional form to a modern one, both textually and contextually. In textual analysis, Podang Perisai dance is related to dance composition including motion, dancers, musical accompaniment, costume, make up and floor patterns, created by traditional artists who have not had any knowledge about a choreography in its modern meanings. This makes Podang Perisai dance is very simple following requirements at that time. Podang Perisai dance has seven different motions of mulai, sosor, paliang, rantak sabolah, rantak duo bolah, kuak ilalang and lantiang pauah. In its contextual analysis, Podang Perisai dance analyzed related to values of its struggle s in the past to maintain the performance to make it keeps alive following changes in the new era with the advance of technology which can bring tradition to be neglected.  The method used in development of Podang Perisai dance is R&D (Ressearch & Development)method. Furthermore, it also discusses the functions of dance and symbolic meanings contained in those seven different motions.Keywords: development, PodangPerisai dance, modern, tradition. Abstrak Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang pengembangantari Podang Perisai dari tradisi menjadi modern, baik secara tekstualmaupunkontekstual. Secara tekstual, tari Podang Perisai berkaitan dengan komposisi tari meliputi gerak, penari, musik pengiring, busana, rias dan pola lantai, yang diciptakan oleh seniman tradisi yang belum mempunyai ilmu tentang koreografi sehingga tari Podang Perisai sangat sederhana sesuai dengan kebutuhan pada waktu itu. tari Podang Perisaimempunyai tujuh ragam gerak yaitu gerak mulai, sosor, paliang, rantak sabolah, rantak duo bolah, kuak ilalang dan lantiang pauah. Dari segi kontekstual, tari Podang Perisai dianalisis mengenai nilai-nilai perjuangan masa lalu yang harus dipertahankan agar tidak hilang begitu saja dengan hadirnya teknologi yang semakin canggih yang membuat nilai-nilai tradisi semakin terabaikan. Metode yang digunakan dalam pengembangan tari Podang Perisaiadalah R&D (Ressearch & Development). Selanjutnya,tulisan ini juga membahas tentang fungsi tari dan makna simbolis yang terkandung dalam tujuh ragam gerak.Kata kunci: pengembangan, tari Podang Perisai, modern, tradisi.     

Issues
All Issue Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision