cover
Contact Name
Arif Abadi, S.Kom.
Contact Email
penerbitan@isbi.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
penerbitan@isbi.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Panggung
ISSN : -     EISSN : 25023640     DOI : -
Core Subject : Education,
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue " Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa" : 18 Documents clear
Strategi Evaluasi Formatif sebagai Peningkatan Keterampilan Menari Triana, Dinny Devi
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.157

Abstract

ABSTRACT This study aims to improve her dancing skills through assessment strategies as a formative evaluation, thereby increasing  the dancing skills of students and faculty  assist in conducting the assessment is not only done in the midterm and final exams. This is necessary due to the charac- teristics of different dance practice  learning  the theory that is both classical  learning.  Based on these objectives,  then the classroom action  research (PTK) with design Clasroom Action  Re- search  developed Kemmish  and Tagart, where action  and observation conducted simultaneously. Results  from the study  showed a significant  increase,  where the percentage  increased  from a pre-condition  to cycle 1 was 17%, while  from  the  end of the  second  cycle  of 4.7%. Thus the assessment strategy as one of the formative evaluation will be to encourage  students  to improve the ability to dance,  because at this event will take place reflection  and does not cause psycho- logical distress as well as when testing skills. Keywords: Assessment  strategies,  formative evaluation,  dancing  skills,  learningdance  practice ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan keterampilan menari melalui strategi penilaian sebagai evaluasi formatif, sehingga akan meningkatkan keterampilan menari peserta didik dan membantu tenaga pengajar dalam melakukan penilaian yang tidak hanya dilakukan dalam ujian tengah semester dan ujian akhir se- mester. Hal ini diperlukan karena karakteristik pembelajaran praktik tari berbeda dengan pembelajaran teori yang bersifat klasikal.Berdasarkan tujuan tersebut, maka dilakukan pe n e li ti a n t in da k an  ke la s ( P TK )  d e n g an  de sa i n  Cla s ro o m Act i on  Re s ea r ch ya n g dikembangkan Kemis dan Tagart, di mana tindakan dan observasi dilakukan bersamaan. Hasil dari penelitian menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan, di mana pada prosentasi kenaikan dari pra kondisi ke siklus 1 sebesar 17%, sedangkan dari akhir siklus2 sebesar 4,7%. Dengan demikian strategi penilaian sebagai salah satu evaluasi formatif akan dapat mendorong peserta didik dalam meningkatkan kemampuan menari, karena pada kegiatan ini akan terjadi refleksi dan tidak menimbulkan tekanan psikologis seperti halnya apabila dilakukan tes keterampilan. Kata kunci: Strategi penelitian, evaluasi formatif, keterampilan menari, pembelajaran praktek tari.
Pelestarian dan Pengembangan Seni Ajeng Sinar Pusaka pada Penyambutan Pengantin Khas Karawang Wikandia, Rosikin
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.162

Abstract

ABSTRACT Ajeng art preservation Hamlet  origin  Bambu  Duri, Karangpawitan.  Karawang,  many obstacles.  Passive  role of the local artist community,  the lack of regeneration  culture  of origin, not pro-active  good relations  between relevant  agencies as well as the entry  of modern art, the art of Ajeng  undeveloped and eroded extinction.  Ajeng art is a kind of art that has its peculiari- ties such as art pangajeng-ngajeng  (Pangwilujeng)  accompanied by Soja dances that were held at the welcoming  ceremony  the bride or the guest  of honor.  Through  research  with qualitative descriptive approach to the socio-cultural  aspects in a systematic, empirical, and cultural  theory is expected to  be the  presentation  of Ajeng  art Maya art aesthetic  tradition  and loved young people in the conservation and development  of the  art of Ajeng. Keywords: Ajeng,  Dance Soja     ABSTRAK Pelestarian seni Ajeng asal Dusun Bambu Duri, Karang Pawitan. Kabupaten Karawang, banyak mengalami hambatan. Pasifnya peran komunitas seniman setempat, kurang adanya regenerasi budaya asal, tidak pro aktifnya hubungan baik antara dinas terkait serta masuknya kesenian modern, maka seni Ajeng tidak berkembang dan tergerus kepunahan. Seni Ajeng merupakan jenis seni yang memiliki kekhasan seperti seni pangajeng-ngajeng (Pangwilujeng) dengan diiringi tarian Soja yang biasanya dilaksanakan pada acara upacara pengantin atau penyambutan tamu kehormatan. Melalui penelitian dengan pendekatan deskriftif kualitatif pada aspek sosial budaya secara sistematis, empiris, dan teori budaya diharapkan seni Ajeng menjadi penyajian seni Ajeng yang estetik tradisi dan dicintai generasi muda dalam rangka pelestarian dan pengembangan seni Ajeng. Kata kunci: Ajeng, Tari Soja
Rekontruksi Model Manajemen Rurukan dalam Upacara Adat Suhaenah, Euis; Rochaeni, Ai Juju; Listiani, Wanda
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.158

Abstract

ABSTRACT The research  found the community  management  theory especially  the rurukan  manage- ment  and  the  model of rurukan  management  in the ritual. Accredited Scientific  journal or international   reputation,  memoir  and  the  textbook for the cultural and  art student  are the output  of this  fundamental research.This  research use the qualitative descriptive analysis, field observation  is applied  as the  first  step.The  observation  focuses  on  interview  and  event recording.The  interview conducted with the performers, the prominent figures,  and the artists that involved in the ritual.Depth  interview  technique through the main informan  to get the valid  data for the solid result  and comprehend description.The  results  of this research made reference to the Sundanese social-mindset in the manner  of the Tritangtu concept in ritual tra- dition  through  the three steps of the Rurukan  discipline-management;  Musyawarah  (Confer- ence),  Ngalaksanakeun  (Implementation),  and Wawarian  (evaluation)also  called MNW. Keywords: Community  management,  ritual tradition,  rurukan   management in Sumedang  ABSTRAK Penelitian ini menemukan teori manajemen komunitas khususnya manajemen rurukan dan model manajemen rurukan dalam upacara adat. Luaran penelitian Fundamental ini berupa jurnal ilmiah terakreditasi atau bereputasi internasional, laporan penelitian dan buku ajar bagi mahasiswa seni budaya. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif analisis kualitatif, sebagai langkah awal pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan observasi lapangan. Hal ini menitikberatkan pada pengamatan yang didukung dengan wawancara dan perekaman kejadian.Wawancara dilakukan dengan pelaku, tokoh yang terlibat langsung, dan tokoh seniman yang terlibat didalamnya.Teknik wawancara yang mendalam dengan cara memilih informan kunci guna mendapatkan validitas data yang menghasilkan deskripsi yang lebih utuh dan menyeluruh. Hasil penelitian merujuk pada pola pikir masyarakat Sunda dengan konsep Tritangtu. Dalam upacara adat ada 3 (tiga) tahapan dalam proses pengolaan manajemen rurukan; yakni musawarah, ngalaksana-keun, wawarian yang disebut MNW. Kata kunci: manajemen komunitas, upacara adat, manajemen rurukan, Sumedang
Fenomena Musik Ring Back Tone (RBT): Kapitalisme, Budaya Popular, dan Gaya Hidup Minawati, Rosta
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.163

Abstract

ABSTRACT RBT music is a phenomenon enjoyed by millions  of fans.  RBT, better known as ring back tones  have become part of the lifestyle  of subscribers.  Ring back tones have sound meanings  (as music) which are experienced by callers after placing their calls. The music is heard by callers till the phone is answered.  The phenomena of RBT is capable of gaining  the interest  of a million customers. In Indonesia  cellphone use has become widespread, cheap and available.  The  func- tion  of the  cellular  telephone can facilitate  the acquisition  of needs for its owner. In general urban centers around the world will form social  networks,  engage in capitalism,  popular cul- ture  and life styles. The  development  of this phenomenon is inseparable from capitalism  itself. Through RBT consumers can easily  download their favorite songs. In the context  of this phe- nomenon capitalism,  pop culture  and lifestyle represent three inseparable interrelated  elements. Keywords: Music RBT, Capitalisme, CulturalPopular,  Lifestyle.     ABSTRAK Musik RBT merupakan fenomena yang digemari berjuta pelanggan. RBT atau yang lebih dikenal dengan   nada sambung menjadi gaya hidup para pelanggannya. Nada sambung (ring back tone) memiliki arti suara (musik) yang di dengar lewat jalur telepon oleh pihak penelepon setelah melakukan pemanggilan. Musik tersebut dapat di dengar pihak yang menghubungi sampai telepon dijawab.Fenomena RBT mampu meraih berjuta pelanggan. Di Indonesia, pengguna Hp menjadi sangat umum, murah dan terjangkau. Fungsi telepon seluler akan lebih memfasilitasi pemenuhan kebutuhan pemiliknya. Secara umum, kota-kota urban di dunia akan membentuk jaringan sosial, kapitalisme, budaya popular, dan gaya hidup. Perkembagan fenomena ini tidak terlepas karena adanya kapitalisme.Melalui RBT, para konsumen dengan mudah mendownloadlagu-lagu yang digemari. Berkaitan dengan fenomena tersebut, kapitalisme, budaya pop(ular) dan gaya hidup merupakan tiga serangkai yang tidak dapat dipisahkan. Kata kunci: Kapitalisme, Budaya Populer, Gaya Hidup
Nilai Interaksi Simbol Tradisi dalam Wujud Pelinggih pada Ruang Publik Julianto, I Nyoman Larry; Jodog, Made; Santoso, Imam
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.159

Abstract

ABSTRACT In public space in North Bali, there has been concept  change  of symbol tradition  visualiza- tion in the form of pelinggih  which is in the form  of car. But its essential function as a place  of worship has not changed. The surrounding  community  can accept that phenomenon as adop- tion process and identity  of cultural heritage.Through qualitative  research, try to be understood  a ‘creative  process’ outside ‘context  of the self’ in communicating  the message through  visual media. From this research stated that visual form of pelinggih  not only the expression result of beauty,  but also to communicate  the message. Ritual principles  of a pelinggih is still maintained.  Its materialization  concept has undergonenovelty  identity  due to unification  of aesthetic  value, art, spiritual and ‘moderniza- tion’ in the context  of ‘worldly’  life. Symbol  visualization  in an effort to communicate  that message,  contains  elements  of cultural system  acculturation   of today’s society to mutually  in- teract. Keywords: symbol tradition,  visual change,  identity  of novelty,  public  space  ABSTRAK Pada ruang publik di Bali Utara, terjadi perubahan konsep visualisasi simbol tradisi dalam wujud pelinggih, yakni berbentuk mobil. Fungsi esensinya sebagai tempat pemujaan tidak berubah. Masyarakat sekitar dapat menerima fenomena tersebut sebagai proses adopsi dan identitas warisan budaya.Melalui penelitian kualitatif, berupaya dipahami sebuah ‘proses kreatif’ diluar ‘konteks diri’ dalam mengomunikasikan pesan melalui media visual. Dari penelitian ini, dinyatakan bahwa wujud visual pelinggih tidak hanya hasil ekspresi keindahan, tetapi juga mengomunikasikan pesan. Prinsip–prinsip ritual sebuah pelinggih tetap dipertahankan. Konsep perwujudannya mengalami identitas kebaruan akibat dari penyatuan nilai estetis, seni, spiritual serta ‘modernisasi’ dalam konteks kehidupan ‘duniawi’. Visualisasi simbol dalam upaya mengomunikasikan pesan tersebut, mengandung unsur–unsur akulturasi sistem budaya masyarakat masa kini untuk saling berinteraksi. Kata kunci : simbol tradisi, perubahan visual, identitas kebaruan, ruang publik
Desain Produk Kerajinan dan Ornamen Bangunan Bergaya Etnik Dayak dari Hasil Pengolahan Injeksi Limbah Plastik -, Suwarto; -, Rusda
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.164

Abstract

ABSTRACT The increase  of plastic  use in Indonesia in general  and in Kalimantan in particular will also increase the amount  of plastic  waste  that will be produced.  By using  plastic  waste heater device which driven by 3 tones  hydraulic,    be able to produce fine  quality  of   handcraft  and building ornament  product, this can be seen  in the test  result  of device so that the recycling process can take place. By heating at the temperature  of 270º - 280ºC on bengkirai  wood mold combined with iron plate, plastic bag ( HDPE), household wastes  can be molded into  Dayak’s motif which then can be used for ornament  building. Processed injection  plastic modul which then can be arranged  into ornament  building.  To be used as the building ornament the modules of plastic injection  are glued on the wooden frame which itended to facilitate  when combined as ornament of building. Key Words:  Plastic, Heater, Mold, Modules, Dayak.  ABSTRAK Dengan meningkatnya penggunaan plastik di Indonesia umumnya dan Kalimantan pada khususnya maka akan meningkatkan juga jumlah limbah plastik yang akan dihasilkan. Dengan menggunakan alat pemanas limbah plastik yang digerakkan dengan hydraulic berkapasitas 3 (tiga) ton mampu menghasilkan produk kerajinan dan orna- ment bangunan yang berkualitas baik, ini terlihat pada hasil uji alat sehingga proses re- cycle dapat berlangsung. Dengan pemanasan pada mesin pencetak menggunakan suhu2700-2800  pada cetakan kayu bengkirai kombinasi plat besi, plastik kresek (HDPE) limbah rumah tangga dapat dicetak menjadi modul bermotif Dayak yang selanjutnya dapat digunakan untuk ornamen bangunan. Dihasilkan modul plastik injeksi yang kemudian dapat dirangkai menjadi ornamen bangunan. Untuk dapat digunakan sebagai ornamen bangunan modul-modul hasil injeksi plastik tadi di rekatkan pada bingkai kayu dimaksudkan agar memudahkan pada saat di gabungkan sebagai ornamen bangunan. Kata kunci : Plastik, Pemanas, Cetakan, modul, Dayak
Pertunjukan Pajoge Makkunrai pada Masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan -, Jamilah
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.160

Abstract

ABSTRACT This paper discusses the Performances Pajoge Makkunrai using textual approach multilapis Marco de Marinis. They were collected by observation and interview  with the Pajoge  Makkunrai players and the prominent  figures  of the lokal society.  The research  result  of Pajoge  Makkunrai are consists of dancers (Pajoge), nurse (Indo pajoge), guardian (Pengibing),  musician (Paganrang), dance, consists of Tettong mabborong  (assembled),   Mappakaraja  (reverence),  Mappasompe (gift giving), Ballung (lay down),  Mappaccanda  (rejoice),  Mattekka (cross), Massesere  (sur- round), Majj u lek ka  le bba (tre ad width) ,  Mattap po (s owi ng), Mag gali o  (con tor t  bod y), Mappaleppa  (clapping)  and motion  Massimang   (goodbye). Playing (Paganrang) consists of two tambour,  and one gong  beater.  The musical  accompaniment  consists  of a drum beat and the lyrics sung. Pattern floor consists  of a range themselves one (mabbulo sipeppa), circle (mallebu), and quadrangular   (sulapa eppa).  Beautiful makeup dadasa,  and costumes  is baju bodo  and pakambang. Jungge accessories,  fans and shawls  property.  The show of Pajoge  Makkunrai  on the stage (Baruga). Keywords: Pajoge,  Indo Pajoge,  and Pengibing  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertunjukan Pajoge Makkunrai  dengan menggunakan pendekatan tekstual multilapis Marco de Marinis. Pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara dengan para pemain Pajoge Makkunrai dan tokoh- tokoh masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertunjukan Pajoge Makkunrai terdiri atas penari (Pajoge), inang pengasuh (Indo Pajoge), pengawal (Pengibing), pemusik (Paganrang), ge r ak  tari,  te rdir i  atas  Tetto ng  m ab boro ng ( be rkumpul ),  Mappak araja (pe n gh or ma ta n) ,  M ap pa so mp e  (member i  h ad ia h) ,  B al l u ng (m e r e b a hk an  ba da n) , Mappaccanda (bergembira), Mattekka (menyeberang), Massesere (mengelilingi), Majjulekka lebba  (melangkah lebar), Mattappo  (menabur), Maggalio  (meliukkan badan), Mappaleppa (bertepuk tangan) dan gerak Massimang  (pamit). Musik iringan terdiri atas tabuhan gendang dan syair atau elong  kelong.  Pola lantai bersaf satu (mabbulo sipeppa), lingkaran (mallebu),  dan segi empat (Sulapa Eppa). Tata rias cantik disertai dadasa,  kostum baju bodo  dipakai di istana,   baju pakambang  dipakai di luar istana. Asesoris jungge, properti kipas dan selendang. Pertunjukan Pajoge Makkunrai  bertempat pada sebuah panggung (Baruga). Kata kunci: Pajoge,  Indo Pajoge,  dan Pengibing
Kreativitas Mang Koko dalam Karawitan Sunda Ruswandi, Tardi
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.165

Abstract

ABSTRACT The focus of this study is on Mang Koko’s creativities  in composing songs and gending as a counterpoint. Mang Koko’s creativities  are then analyzed by Supriadi‘s  theory (1994: 7) which explains that creativity is a person’s ability to create something new, either in the form  of ideas and real  works. Mang Koko  was one of creative  and prolific  artists whose creations  are   still taken into  consideration. In developing and creating  new genre  of Karawitan  Sunda,  Mang Koko had been indeed inspired  by some kind of Karawitan   Sunda and the patterns  of Western music so that his creative process was really based on the aspects of intensification  and compo- sition.  The results  of  Mang Koko’s creativities  had been grouped into  Sekar  Jenaka,  Kawih songs  (anggana  dan rampak sekar),  Gamelan  Wanda  Anyar, Kacapian,  Etude  Kacapi,  and Drama Suara (Gending Karesmen). Key Word: Mang Koko, Kreativitas,  Karawitan  Sunda  ABSTRAK Penelitian ini terfokus pada kreativitas Mang Koko dalam menciptakan lagu-lagu dan gending sebagai pengiring lagu. Kreativitas Mang Koko dianalisis dengan menggunakan teori Dedi Supriadi (1994:7) yang menjelaskan bahwa kreativitas merupakan kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, yang relatif   berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Mang Koko merupakan seniman kreatif dan produktif dalam berkarya yang hingga saat ini masih diperhitungkan. Dalam mengembangkan karawitan Sunda dan melahirkan genre baru, Mang Koko terilhami oleh beberapa jenis karawitan Sunda dan terinspirasi oleh pola-pola musik Barat sehingga proses kreatifnya berpijak pada aspek penggalian dan penciptaan. Hasil kreativitas Mang koko dikelompokkan menjadi Sekar Jenaka, lagu-lagu Kawih (anggana dan rampak sekar), Gamelan Wanda Anyar, Kacapian, Etude Kacapi, dan Drama Suara (Gending Karesmen). Kata kunci: Mang Koko, Kreativitas, Karawitan Sunda
Film Indie “Tanda Tanya (?)”, Representasi Perlawanan, Pembebasan, dan Nilai Budaya Belasunda, Riksa; Sabana, Setiawan
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.161

Abstract

ABSTRACT The study was conducted in an effort to learn more about  the notion that indie film as a representation  of resistance  against restrictions as well as a representation  of liberation  and democratization  of post-reform  media. Aa well as an effort to find out more about  how the free interpretation   of audience’s  on the film’s text. The case study  conducted through  the research object  indie film “Tanda  Tanya (?)”.  A qualitative  research  approach  to cultural studies through  interdisciplinary   research  method hermeneutic  phenomenology with descriptive inter- pretative techniques. The film’s text is a representation  of resistance  on the socio-political condi- tion of the New Order  period are influenced  by: (a) reform euphoria that created  freedom; (b) the expression  of which is contrary to the narrative  of nation  hegemony; (c) circulation  of audio- visual media; (d) highlighted  the efforts  of local identity  and local-global dialectic.  In relation to the interpretation   of the text contained cultural values; radical relativity  and the plurality. Keywords: indie film, film’s text, resistance and liberation, cultural values     ABSTRAK Penelitian dilakukan sebagai upaya untuk mengetahui lebih jauh anggapan bahwa film indie sebagai representasi perlawanan atas pembatasan sekaligus sebagai representasi pembebasan dan demokratisasi media pasca reformasi. Juga sebagai upaya untuk mengetahui lebih jauh bagaimana interpretasi bebas penonton atas teks film. Studi kasus dilakukan lewat obyek penelitian film indie “Tanda Tanya (?)”. Merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan cultural studies melalui metode penelitian interdisiplin fenomenologi hermeneutik dengan teknik deskriptif interpretatif. Teks film ini merupakan representasi perlawanan atas kondisi sosial-politik masa Orde Baru yang dipengaruhi oleh: (a) euforia reformasi yang menciptakan kebebasan; (b) ekspresi yang bertentangan dengan narasi hegemoni negara; (c) sirkulasi media audio-visual; (d) upaya menonjolkan identitas lokal dan dialektika lokal-global. Dalam kaitannya dengan interpretasi teks terdapat nilai- nilai budaya; relativitas radikal dan nilai pluralitas. Kata kunci:  film indie, teks film, perlawanan dan pembebasan, nilai-nilai budaya
Rekontruksi Model Manajemen Rurukan dalam Upacara Adat Suhaenah, Euis; Rochaeni, Ai Juju; Listiani, Wanda
PANGGUNG Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v26i1.158

Abstract

ABSTRACT The research  found the community  management  theory especially  the rurukan  manage- ment  and  the  model of rurukan  management  in the ritual. Accredited Scientific  journal or international   reputation,  memoir  and  the  textbook for the cultural and  art student  are the output  of this  fundamental research.This  research use the qualitative descriptive analysis, field observation  is applied  as the  first  step.The  observation  focuses  on  interview  and  event recording.The  interview conducted with the performers, the prominent figures,  and the artists that involved in the ritual.Depth  interview  technique through the main informan  to get the valid  data for the solid result  and comprehend description.The  results  of this research made reference to the Sundanese social-mindset in the manner  of the Tritangtu concept in ritual tra- dition  through  the three steps of the Rurukan  discipline-management;  Musyawarah  (Confer- ence),  Ngalaksanakeun  (Implementation),  and Wawarian  (evaluation)also  called MNW. Keywords: Community  management,  ritual tradition,  rurukan   management in Sumedang  ABSTRAK Penelitian ini menemukan teori manajemen komunitas khususnya manajemen rurukan dan model manajemen rurukan dalam upacara adat. Luaran penelitian Fundamental ini berupa jurnal ilmiah terakreditasi atau bereputasi internasional, laporan penelitian dan buku ajar bagi mahasiswa seni budaya. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif analisis kualitatif, sebagai langkah awal pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan observasi lapangan. Hal ini menitikberatkan pada pengamatan yang didukung dengan wawancara dan perekaman kejadian.Wawancara dilakukan dengan pelaku, tokoh yang terlibat langsung, dan tokoh seniman yang terlibat didalamnya.Teknik wawancara yang mendalam dengan cara memilih informan kunci guna mendapatkan validitas data yang menghasilkan deskripsi yang lebih utuh dan menyeluruh. Hasil penelitian merujuk pada pola pikir masyarakat Sunda dengan konsep Tritangtu. Dalam upacara adat ada 3 (tiga) tahapan dalam proses pengolaan manajemen rurukan; yakni musawarah, ngalaksana-keun, wawarian yang disebut MNW. Kata kunci: manajemen komunitas, upacara adat, manajemen rurukan, Sumedang

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol 29, No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi Vol 29, No 2 (2019): Konstruksi Identitas Budaya dalam Seni dan Sastra Vol 29, No 1 (2019): Pegeseran Estetik Dalam Seni Budaya Tradisi Masa Kini Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Estet Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelajar Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 21, No 1 (2011): Seni, Lokalitas, Vitalitas, dan Pemaknaan Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 15, No 36 (2005): JURNAL PANGGUNG: JURNAL SENI STSI BANDUNG Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision More Issue