cover
Filter by Year
Panggung
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Articles
401
Articles
​
Nusantara Berdendang: Seremoni Multikulturalisme oleh Kabinet Kerja

Rahman, Arief, Pitanav, Titis Srimuda, Abdullah, Wakit

PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT Following the 1945 Constitution, the state is obliged to preserve the arts and culture of Indonesia. Kabinet Kerja commemorating 88 Years of Sumpah Pemuda with Nusantara Berdendang show at Istana Merdeka on October 28, 2016. This study discussesa multiculturalism discourse presented in the performance based on the Cultural Studies paradigm with the support of Stuart Hall's representation theory and power theory of Foucault. The research usesa qualitative method with descriptive and interpretative analysis.The multiculturalism discourse is produced by the Kabinet Kerja through performing arts that appear in Nusantara Berdendang. Performing arts are used by the state as a tool to show diversity, as well as a unifying symbol. The state ceremony becomes a discursive area of multiculturalism to implement the unity and unity of Indonesia. Multiculturalism discourse is used to facilitate the success of the Nawacita program. The implication is that Indonesia's image is a bhinneka state, (2) a tolerant and peaceful image of Indonesia,and (3) obedience to the government authorities. Keywords: multiculturalism, Kabinet Kerja, performing art, diversity, ethnicity ABSTRAK Sesuai dengan Undang-undang Dasar 1945, negara berkewajiban memelihara kesenian dan kebudayaan Indonesia.Kabinet Kerja memperingati 88 Tahun Sumpah Pemuda dengan pergelaran Nusantara Berdendang di Istana Negara pada 28 Oktober 2016. Penelitian ini membaca diskursus multikulturalisme yang dihadirkan dalam pergelaran tersebut dengan paradigma Kajian Budaya dengan dukungan teori representasi Stuart Hall (2003)  dan teori kuasa/pengetahuan. Penelitian menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dan interpretatif.Diskursus multikulturalisme diproduksi oleh Kabinet Kerja melalui seni pertunjukan yang tampil di Nusantara Berdendang.Seni pertunjukan digunakan oleh negara sebagai alat untuk menunjukkan keberagaman, sekaligus sebagai simbol pemersatu.Seremoni negara menjadi area diskursif multikulturalisme untuk merawat kesatuan dan persatuan Indonesia. Diskursus multikulturalisme dilakukan oleh Kabinet untuk memperlancar suksesnya program Nawacita. Implikasinya, citra Indonesia merupakan negara bineka, (2) citra Indonesia yang toleran dan damai, serta (3) kepatuhan pada penguasa pemerintahan. Kata kunci: multikulturalisme, Kabinet Kerja, kesenian, keberagaman etnik

Ketoprak,Seni Pertunjukan Tradisional Jawa di Sumatera Utara: Pengembangan dan Keberlanjutannya

Naiborhu, Torang, Karina, Nina

PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT Ketoprak (Ketoprak Dor) is a Javanese art performance found in North Sumatera which was originated from Surakarta, Central Java. The Performance combines dialogue, drama, dance, and music. It is performed on stage, taking stories about history, old kingdom, fairy tale, daily life, and others with an interspersed joke. Data collection is collected through observation and interviews with the ketoprak artists, owners of the studio, and the spectators, and documentation. The data is analyzed by qualitative analysis technique using performing art theory, ethnomusicology, and history. The results are, first, ketoprak in North Sumatera began to be slowly abandoned despite the adoption of local culture in music, story, clothing, as well as vocabularies used. Second, for its development, it requires strategies for the survival of the performing art among its audiences, particularly Javanese community.Keywords: KetoprakDor, ketoprak in North Sumatra, developing ketoprak, art performance  ABSTRAK Ketoprak (Ketoprak Dor)adalah seni pertunjukan Jawa di Sumatera Utara yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Pementasannya menggunakan dialog, drama, tarian, dan musik. Ketoprak dipertunjukkan di atas panggung dengan mengambil cerita sejarah, kerajaan, dongeng, kehidupan sehari-hari, dan lainnya dengan diselingi lawak.Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan danwawancara kepada seniman ketoprak, pemilik sanggar, dan masyarakat pengguna, dokumentasi,dan hasilnya dianalisis dengan teknik analisis kualitatif menggunakan teori seni pertunjukan, etnomusikologi, dan metode sejarah. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ketoprak di Sumatera Utara secara perlahan mulai ditinggalkan walaupun telah mengadopsi budaya setempat dalam hal musik, cerita, busana, atau tata bahasa yang dipakai. Untuk pengembangannya diperlukan upaya-upaya strategis agar seni pertunjukan ini dapat bertahan dan tetap diminati oleh masyarakat, khususnya komunitas Jawa.Katakunci: KetoprakDor, ketoprak di Sumatra Utara, pengembanganketoprak, seni pertunjukan     

Program Variety Show Dangdut Academy Asia 2 sebagai Alat Diplomasi Publik Indonesia

Futri, Intan Rizkia, Mahzuni, Dade, Rahmat, Nandang

PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT Music as cultural diplomacy has been a subject of scholarly attention around the world. This research explores the subject within the Asia region. The purpose of this research is to describe the efforts in strengthening international diplomacy of Indonesia through dangdut music, namely Dangdut Academy Asia 2 TV program, throughout Asia specifically. Dangdut music which is originated from Indonesia gains a strong base of enthusiasts. The music genre has also established a niche market in the world of music. Popular culture and cultural diplomacy theories used in the research to explain how dangdut music which is formatted into a television variety show can positively affect the life of the society, nation, and state within Indonesia and throughout Asia. From this research, I found that the TV program has contributed in a very positive way to cultural diplomacy for Indonesia. This cultural diplomacy has been done through various cultural forms, including costumes, songs, foods, tourist attraction information, etc.Keywords: dangdut show, pop culture, cultural diplomacy, Dangdut Acadaemy Asia 2, variety show   ABSTRAK Musik sebagai diplomasi budaya telah menjadi perhatian ilmiah di seluruh dunia. Penelitian ini juga mengeksplorasi subjek di wilayah Asia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan upaya Indonesia dalam memperkuat diplomasi internasional melalui musik dangdut, yaitu program TV Dangdut Academy Asia 2, yang ditayangkan khusus di Asia. Musik dangdut berasal dari Indonesia yang memiliki penggemar fanatik. Jenis musik ini telah membentuk pasar khusus di dunia musik. Teori budaya populer dan diplomasi budaya digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana musik dangdut yang dikemas menjadi program variety show  televisi dapat secara positif memengaruhi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara di Indonesia dan Asia.Dari penelitianini penulis menemukan bahwa program TV tersebut telah berkontribusi sebagai sarana diplomasi budaya Indonesia. Diplomasi budaya ini dilakukan melalui berbagai bentuk budaya yang tersaji dalam acara tersebut, seperti pakaian, lagu-lagu, makanan, informasi tempat wisata, dan lain-lain.Kata kunci: pertunjukandangdut, budaya pop, diplomasi budaya, Dangdut Academy Asia 2, variety show.

Makna Simbolik Tari Ilau Nagari Sumani, Kabupaten Solok Sumatera Barat

Nursyam, Yesriva, Supriando, Supriando

PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstractIlau dance is one type of dance in Minangkabau which is performed in traditional customs in Nagari Sumani. The tradition of the Nagari Sumani community in the wedding ceremony has its own uniqueness that is interesting to study. As a cultural product, ilau dance has meanings and symbols, which is manifested in a visual form that gives a certain meaningful content but is communicative for its people. This study aims to find the symbolic meanings of Ilau dance. This study uses a descriptive method with data collection through observation and interviews to get an overview of the subjects and research objects of the ilau dance. The results of the study show that the symbolic meaning of the Ilau dance can be interpreted from the people’s point of view and their understanding of cultural life, both textually and contextually.Keywords: Ilau dance, marriage custom, symbol, Nagari Sumani.AbstrakTari Ilau merupakan salah satu jenis tarian di Minangkabau yang dipertunjukkan dalam adat perkawinan di Nagari Sumani. Tradisi masyarakat Nagari Sumani dalam upacara perkawinan memiliki keunikan tersendiri yang menarik untuk dikaji. Sebagai sebuah produk budaya, tari ilau memiliki makna dan simbol, yang diwujudkan dalam bentuk visual yang memberi muatan makna tertentu, tetapi bersifat komunikatif bagi masyarakatnya.  Penelitian ini bertujuan untuk menjawab makna simbolik yang terdapat pada tari Ilau. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan perolehan data melalui observasi dan wawancara untuk mendapatkan gambaran terhadap subyek dan obyek penelitian tari ilau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna simbolis tari Ilau dapat diinterpretasi dari sudut pandang dan pemahaman berkaitan dengan kehidupan masyarakat pemilik kebudayaan, baik secara tekstual maupun kontekstual. Kata kunci: Tari ilau, adat perkawinan, simbol, Nagari Sumani.

Negosiasi Kultural dan Musikal Dangdut Koplo pada Orkes Melayu Sonata di Jombang

Raditya, Michael HB, Simatupang, ,G.R. Lono Lastoro

PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT This article deals with some aspects in dangdut that are rarely discussed, that is Melayu Orchestra. In this research, we deal with one of the Melayu Orchestra group, Orkes Melayu Sonata (O. M. Sonata). O. M. Sonata is a Melayu Orchestra group from Jombang which has a significant contestation in developing dangdut music. They experienced the dangdut constellation since 1990. Here, we not only describe Melayu Orchestra, but we also articulate its existence from its negotiation and practices, by using the Pierre Bourdieu concept of habitus. This concept helps us to map the pattern of musical creativity. To obtain the data, we employ literature study and ethnographic methods. The result is a diachronic reading of Melayu Orchestra showing the important role of Melayu Orchestra in dangdut. This article also articulates the complexity of music that is often underestimated, that is a popular music.Keywords: Dangdut, habitus, a cultural negotiation, Orkes Melayu Sonata, dangdut koplo  ABSTRAK             Artikel ini membahas keberadaan unsur dalam dangdut yang jarang dibahas, yakni Orkes Melayu. Salah satu Orkes Melayu dengan trayektori yang panjang adalah Orkes Melayu Sonata. O.M. Sonata merupakan Orkes Melayu dari Jombang yang memiliki kontestasi yang cukup penting dalam jagat musik dangdut. Diawali pada tahun 1990, grup ini telah mengalami secara langsung konstelasi musik ketika itu. Alih-alih hanya menarasikan Orkes Melayu semata, penelitianini mengartikulasikan praktik negosiasi pada Orkes Melayu Sonata dengan menggunakankonsep habitus dari Pierre Bourdieu. Kerangka habitus Bourdieu membantu memetakan pola kreativitas musik dari O.M. Sonata. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi literatur dan etnografi. Hasil penelitian ini adalah artikulasi dari pembacaan Orkes Melayu secara diakronik. Hal ini menunjukkan pentingnya peran Orkes Melayu pada dangdut, serta mengartikulasikan kompleksitas pada musik yang kerap dianggap remeh, yakni musik populer.Kata Kunci: Dangdut, habitus, negosiasi kultural, Orkes Melayu Sonata, dangdut koplo

Bentuk Pengembangan Baru Tari Manyakok sebagai Upaya Pelestarian Tradisi

Ariastuti, Idun, Risnawati, Risnawati

PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstractManyakok dance is a traditional dance of the Pangean community, Kuantan Singingi Regency, RiauProvince, which describes the daily routine of people's lives in fishing. This activity is called manyakok by the community. Initially, this dance had an important role in its supporting community, as entertainment in traditional events and others. However, nowadays, the dance has almost disappeared. This study uses two methods, namely, qualitative and Research & Development (R & D). A Qualitative methodis carried out through observation, interviews, and documentation studies. While interpretive analysis is used in the research to dig the concept of dance itself. Research & Deployment is employed through some stages: (1) product design; (2) design validation; (3) design improvements; (4) product trials; (5) product revisions; and (6) production. Through the emic approach, the results of this study indicate that Manyakok dance has a potential to be developed in the packaging of dance entertainment. Meanwhile, from an aesthetic point of view, the structure of the Manyakok dance is still very simple, does not have a well-ordered pattern. Therefore, creativity is required to maintain its continuity.Keywords: creativity, manyakok dance, developing art, the preservation of traditionAbstrakTari manyakok merupakan tari tradisional masyarakat Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, yang menggambarkan rutinitas kehidupan masyarakat sehari-hari dalam menangkap ikan. Kegiatan ini oleh masyarakat setempat disebut dengan manyakok.Awalnya, tari ini memiliki peran yang penting bagi masyarakat pendukungnya, yakni sebagai hiburan dalam acara adat dan acara lainnya.Akan tetapi, sekarang tari tersebut sudah hampir hilang keberadaannya.Penelitianinimenggunakanduametode,yaitu kualitatif dan Research & Depelopment (R&D).Metode kualitatif dilakukan melalu iobservasi, wawancara, dan studi dokumentasi.Sedangkan analisis interpretatif digunakan dalam penelitian untuk menggali konseptari itu sendiri.Research &Depelopment dilakukan melalui tahapan: (1)desain produk; (2)validasi desain; (3)perbaikan desain; (4) uji coba produk; (5) revisi produk; dan (6) produksi. Melalui pendekatan emik, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tari manyakok memiliki potensi untuk dikembangkan dalam kemasan tari hiburan. Sedangkan apabila ditinjau dari sudut estetika, struktur tari manyakok masih sangat sederhana, belum memiliki pola yang tertata dengan baik. Oleh karena itu, dituntut kreativitas untuk mempertahankan kontinuitasnya.Kata kunci:kreativitas, tarima nyakok, pengembangan seni, pelestarian tradisi 

Patriotisme Perempuan Sunda dalam Tari Ratu Graeni

Rosilawati, Riyana, Mulyati, Eti

PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstractThis study aims to reveal the meaning of Ratu Graenidanceas a symbolic dance,i.e a Sundanese woman withher patriotic spirit. The dance deals with a woman who has a courageous spirit to overcome all problems, both internally and externally. The method employed is descriptive analysis through in-depth interviews and participant observation. The results are that from its performance form, Ratu Graenidancetells the story about the Queen who was preparing to practice a war with cingeus movement, which was disclosed through her head and body movements as a picture of the female characters who is agile and enthusiastic in facing various challenges of life. Her agility is also revealed in herfoot movements, such asmincid, trisik, and so forth. This is associated with the philosophical elements of the dance, which is useful for life. The meaning contained in this dance is that women can also play a role in a life, equally with men, with a sense of toughness, patriotic/struggle, and the perseverance behind the tenderness of a woman. Keywords: Patriotism, Sundanese woman, Ratu Graenidance AbstrakPenelitian ini bertujuan ingin mengungkapkan makna tari Ratu Graenisebagai tarian simbolik mengenai jiwa patriotisme seorang perempuan Sunda.Yakni, seorang perempuan yang mempunyai jiwa pemberani dalam mengatasi segala macam persoalan, baik secara internal maupun eksternal.Metode yang digunakanadalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, yaitu melalui wawancara mendalam dan observasi berperanserta. Hasil yang diperoleh adalahdari segi bentuk pertunjukan, tari Ratu Graenimenggambarkan Sang Ratu yang sedang berlatih perangdengan menggunakan gerakan cingeus(gesit) yang ditarikandengan gerak kepala dan badan sebagai gambaran karakter perempuan yang gesit, penuh antusias dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Kegesitan terungkap pula dalam gerakannusuk, nangkis,kiprat soder,serta gerak kaki, sepertimincid, trisik, dan tincak tilu. Hal ini terkait dengan unsur filosofis dari tarian tersebut yang sangat bemanfaat bagi kehidupan. Makna yang terkandung dalam tarian ini bahwa wanita dapat berperan juga dalam kehidupan sejajar dengan kaum pria, yang sama-sama memiliki ketangguhan, berjiwa patriotik/perjuangan, dan kegigihan dibalik kelembutan seorang wanita. Kata kunci:Patriotisme, perempuan Sunda, tari Ratu Graeni

Kerajinan Payung Geulis sebagai Kearifan Lokal Tasikmalaya

Sofyan, Agus Nero, Sofianto, Kunto, Sutirman, Maman, Suganda, Dadang

PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTThis study entitled " The Payung Geulis Craft as a Local Wisdom of Tasikmalaya" aims to obtain data on a local wisdom as ancestral culture of Tasikmalaya. The method employed is a descriptive-analytical approach, which is used to describe phenomena taking place in the present or the past. Data collection techniques in this study are interviews, direct observations, and written sources from the community and a local government. The problems addressed in this study are to find the historical, economic, and aesthetic values existed at the Tasikmalaya craft; and how does the umbrella craft pass down from the older generation to the younger generation. The outcome of this research are, first, a Geulis umbrella  is a product based on local knowledge that characterisize a Tasikmalaya society; the Geulis umbrella crafthas cultural, economic, and aestheticsignificances; and the existence of Geulis umbrella today isnearly extinct.Keywords: local wisdom, indigenous crafts, geulis umbrellas, Tasikmalaya. ABSTRAKPenelitian berjudul “Kerajinan Payung Geulissebagai Kearifan Lokal Tasikmalaya”ini bertujuan untuk memperoleh data dan informasi tentang kearifan lokal Payung Geulis sebagai budaya leluhur Tasikmalaya.Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitik, yaitu metode yang digunakan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, pengamatan secara langsung, dan pengambilan sumber-sumber tertulis dari masyarakat dan pemerintah setempat. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah bagaimana nilai historis, ekonomis, dan estetis yang ada pada kerajinan Payung Geulis Tasikmalaya; dan bagimana regenerasi kerajinan Payung Geulis itu dari generasi tua kepada generasi muda. Hasil yang dicapai dari penelitian ini adalah kerajinan Payung GeulisTasikmalaya merupakan kearifan lokal yang menjadi ciri dari masyarakat Tasikmalaya; kerajinan Payung Geulismemiliki nilai kultural, ekonomis, dan estetis yang cukup tinggi; eksistensi dan keberadaan Payung Geulis dewasa ini sudah semakin sulit ditemukan.Kata Kunci: kearifan lokal, kerajinan lokal, Payung Geulis, budaya, Tasikmalaya.

Inovasi Talempong Gandang Lasuang dalam Upaya Pelestarian Seni Tradisi

Susandrajaya, Susandrajaya, Yurnalis, Yurnalis, Indriyetti, Indriyetti

PANGGUNG Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT Talempong Gandang Lasuang is a traditional musical ensemble originated from Pariaman. This music is usually played by women during the cooking activity at the wedding party. This traditional art is almost extinct, therefore it is necessary to conduct research to make it survival and functional in its milieu. The effort to make this revivalis innovation and development of the art, by producing a new art form, both musical and aesthetical aspects without eliminating the traditional values. This research uses qualitative method with anthropological approach, sociology, aesthetics, and musicology. Data collection are obtained through observation, interviews, and documentation. The final result of this research is a new composition of ensemble ofTalempong Gandang Lasuang, which has functions and economic values, especially for the artists.Keywords: Tradition, innovation, concept ofperforming arts, Talempong Gandang Lasuang. ABSTRAK             Talempong Gandang Lasuang merupakan ensambel musik tradisi yang hidup di Pariaman. Musik ini biasanya dimainkan pada saat kegiatan memasak oleh ibu-ibu paruh baya pada upacara pesta perkawinan. Seni tradisi ini hampir mengalami kepunahan, oleh karenanya perlu dilakukan penelitian agar seni tradisi ini bisa kembali hidup dan berfungsi di tengah masyarakat. Usaha yang dapat dilakukan agar seni tradisi ini bisa eksis kembali di tengah masyarakat adalah perlu adanya sentuhan inovasi dan pengembangan, sehingga meghasilkan bentuk garapan baru, baik dari garapan musik maupun pada estetika pertunjukannya.Namun, hal itu tidak menghilangkan nilai ketradisiannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan antropologi, sosiologi, estetika dan musikologi. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil akhir penelitian ini berupa garapan atau komposisi baru dari ensambel Talempong Gandang Lasuang, yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi terutama bagi seniman pendukungnya.Kata Kunci: Tradisi, inovasi, konsep seni pertunjukan Talempong Gandang Lasuang.

Makna Simbolik Kesenian Obros sebagai Visualisasi Karya Seni Islami

Darmasti, Darmasti

PANGGUNG Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract Obros is an art developed in Petugan, Jebengsari Village, District Salaman, Magelang, Central Java. Obros is a form of folk art using movement patterns of tradition that relies on footwork. Obros was developed from rodhat which was revitalised by a local figure, Badran. Themes of soldiering, heroism, and communality become values that are represented in Obros. This study uses a descriptive approach with the analysis of symbols in the art system to dismantle layers making up this art including the background of the story, movements, actors, fashion, accompaniment, property, and contextualization. Meanwhile, ethenography method is used to collect data in the field. The results show that Obros is not just an artistic object and expression, but also a livelihood and communal power binding. Obros becomes a means of education for the people, both as a review of history, as well as a visionary reflection of the future.Keywords: Obros, symbol, Islamic art AbstrakKesenian Obros adalah kesenian yang berkembang di Dusun Petugan, Desa Jebengsari, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kesenian Obros adalah sebuah bentuk pertunjukan kesenian rakyat yang menggunakan pola-pola gerak tradisi yang bertumpu pada gerak kaki. Obros merupakan perkembangan dari kesenian rodhat yang direvitalisasi oleh seorang tokoh setempat, yaitu Badran. Tema keprajuritan, kepahlawanan, dan komunalitas menjadi nilai-nilai hidup yang direpresentasikan dalam Obros. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan analisis simbolik untuk membedah lapisan-lapisan yang menyusun kesenian ini di antaranya latar belakang cerita, gerak, pelaku, busana, iringan, properti, dan kontekstualisasi. Adapun metode etnografi digunakan dalam pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenian Obros bukan sekadar sebuah ekspresi seni, tapi juga sebuah penghidupan dan daya pengikat komunal. Kesenian Obros menjadi sarana pendidikan bagi masyarakat setempat, baik sebagai tinjauan sejarah, refleksi, maupun sebagai pandangan visioner terhadap masa depan.Kata kunci: Obros, simbol, seni Islami

Issues
All Issue Vol 28, No 4 (2018): Dinamika Seni Tradisi dan Modern: Kontinuitas dan Perubahan Vol 28, No 3 (2018): Identitas Kelokalan dalam Keragaman Seni Budaya Nusantara Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision