cover
Filter by Year
Panggung
Panggung is online peer-review journal focusing on studies and researches in the areas related to performing arts and culture studies with various perspectives. The journal invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in those areas mentioned above related to arts and culture in Indonesia and Southeast Asia in different perspectives.
Articles
238
Articles
Fungsi dan Peran Api dalam Seni dan Kehidupan Masyarakat Bali

Sudibya, I Gusti Ngurah, Sukerta, Pande Made, Kusumo, Sardono Waluyo, Supriyanto, Eko

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTFire is made up of three elements, such as: heat, combustible materials and oxygen. Fire has heat and light. Fire is used in real life in various human life from cooking, to marriage and to burning dead bodies. Fire is available in space, on earth, and in oneself. Symbolically the fire is employed as a symbol of spirit, a sanctification, a destruction, enlightenment, heating temperatures, fire of romance, and fire of revenge. Overheated is possible when one ignores norms, ethics, and rules. Library studies, interviews, observations, and experiments are the methods used in this compilation. Fire both as symbol and text, functioned according to the capacity / role of each, both in and outside themselves, the use of it must be controlled for the harmony of the macrocosms and microcosms, when is the right time is to use small, medium and large fire, because all of them is important.Keywords: function, fire, symbol, harmonic.ABSTRAKApi terbentuk dari tiga elemen yakni, panas, bahan mudah terbakar dan oksigen. Api memiliki panas dan cahaya. Api digunakan dalam kehidupan manusia dari memasak, penerangan, perkawinan sampai pembakaran jenazah. Api terletak di angkasa, di bumi, dalam diri. Api dijadikan simbol semangat, penyucian, peleburan, pencerahan, api asmara, api dendam. Terjadi over heated/panas berlebih yang tidak lagi mengindahkan norma, etika, aturan. Studi kepustakaan, wawancara, observasi, dan percobaan merupakan metode yang digunakan dalam penyusunan ini. Seyogyanya api baik sebagai simbol maupun teks, difungsikan sesuai kapasitas/perannya masing-masing, baik dalam diri maupun diluar diri, semua itu harus dikendalikan penggunaannya, agar keharmonisan bhuana alit dan bhuana agung dapat terwujud, kapan menggunakan api kecil, sedang maupun besar, karena semuanya penting.Kata kunci : fungsi, api, simbol, harmonis.

Pengembangan Koreografi Tari Podang Perisai dari Tradisi menjadi Modern di Kuantan Singingi Riau

Irdawati, Irdawati Irdawati, Sukri, Sukri Sukri

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstractThis paper explores the development of Podang Perisai dance from a traditional form to a modern one, both textually and contextually. In textual analysis, Podang Perisai dance is related to dance composition including motion, dancers, musical accompaniment, costume, make up and floor patterns, created by traditional artists who have not had any knowledge about a choreography in its modern meanings. This makes Podang Perisai dance is very simple following requirements at that time. Podang Perisai dance has seven different motions of mulai, sosor, paliang, rantak sabolah, rantak duo bolah, kuak ilalang and lantiang pauah. In its contextual analysis, Podang Perisai dance analyzed related to values of its struggle s in the past to maintain the performance to make it keeps alive following changes in the new era with the advance of technology which can bring tradition to be neglected.  The method used in development of Podang Perisai dance is R&D (Ressearch & Development)method. Furthermore, it also discusses the functions of dance and symbolic meanings contained in those seven different motions.Keywords: development, PodangPerisai dance, modern, tradition. Abstrak Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang pengembangantari Podang Perisai dari tradisi menjadi modern, baik secara tekstualmaupunkontekstual. Secara tekstual, tari Podang Perisai berkaitan dengan komposisi tari meliputi gerak, penari, musik pengiring, busana, rias dan pola lantai, yang diciptakan oleh seniman tradisi yang belum mempunyai ilmu tentang koreografi sehingga tari Podang Perisai sangat sederhana sesuai dengan kebutuhan pada waktu itu. tari Podang Perisaimempunyai tujuh ragam gerak yaitu gerak mulai, sosor, paliang, rantak sabolah, rantak duo bolah, kuak ilalang dan lantiang pauah. Dari segi kontekstual, tari Podang Perisai dianalisis mengenai nilai-nilai perjuangan masa lalu yang harus dipertahankan agar tidak hilang begitu saja dengan hadirnya teknologi yang semakin canggih yang membuat nilai-nilai tradisi semakin terabaikan. Metode yang digunakan dalam pengembangan tari Podang Perisaiadalah R&D (Ressearch & Development). Selanjutnya,tulisan ini juga membahas tentang fungsi tari dan makna simbolis yang terkandung dalam tujuh ragam gerak.Kata kunci: pengembangan, tari Podang Perisai, modern, tradisi.     

Rekonstruksi Tari Bedhaya Endhol-endhol di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Herawati, Kezia Putri, Prihatini, Nanik Sri

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTThe Bedhaya Endhol-endhol dance was created by Paku Buwono X and performed exclusively by the king’s daughters. After his death, the dance was no longer performed and its form was no longer known. The goal of this research is to reveal the process of reconstruction of the Bedhaya Endhol-endhol dance, as carried out by Gusti Kanjeng Ratu Wandansari, and to describe the form of the dance. The research method used is a qualitative method with an ethnochoreological approach. The results of the research show the process of reconstruction, including the concept and the process of unearthing the music, or gending, and the dance movements. The arrangement process involved the interpretation of all the different components making up the Bedhaya Endhol-endhol dance, in order to create a new form of bedhaya dance that is childlike (mbocahi). The new form of Endhol-endhol resulted from its reconstruction shows that Gusti Kanjeng Ratu Wandansari has used her authority to restore the dance that had formerly disappeared. Keywords: Bedhaya Endhol-endhol dance, reconstruction, authority, Gusti Kanjeng Ratu Wandansari.ABSTRAKTari Bedhaya Endhol-endhol yang khusus ditarikan oleh putri-putri raja diciptakan oleh Raja Paku Buwono X. Sejak beliau wafat tari ini tidak pernah dipentaskan dan bentuknya pun tidak dikenali lagi. Penelitian ini bertujuan  mengungkap proses rekonstruksi tari Bedhaya Endhol-endhol dan mendiskripsikan wujudnya yang telah dilakukan oleh Gusti Kanjeng Ratu Wandansari. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnokoreologi. Hasil penelitian meliputi proses rekonstruksi mencakup konsepnya, proses penggalian meliputi gending dan gerak tarinya. Pada proses penataan  dilakukan  interpertasi mengenai semua komponen yang membentuk tari Bedhaya Endhol-endhol untuk mewujudkan tari bedhaya yang mbocahi. Wujud tari Bedhaya Endhol-endhol hasil rekonstruksi menunjukkan bahwa dengan otoritasnya Gusti Kanjeng Ratu Wandansari telah mengembalikan tari yang sempat hilang.Kata kunci: Tari Bedhaya Endhol-endhol, rekonstruksi, otoritas, Gusti Kanjeng Ratu Wandansari

Karakteristik Gaya Tari Minangkabau Tari Mulo Pado dan Tari Benten

Wahyuni, Wahida, Yusfil, Yusfil Yusfil, Suharti, Suharti Suharti

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract Minangkabau traditional dances have similarities in movement characters based on pencak silat as an identity attached to the Minangkabau dance. On the other hand, Minangkabau dance has different styles of embodiment between darek and pasisia. This paper builds upon an assumption that the Minangkabau dance style has special differences between darek and pasisia that is mostly influenced by their natural and cultural characteristics. By using the perspective of dance style and ethnography method, this paper aims to explain the  characteristic style of Minangkabau dance by taking the examples of mulo pado dance from nagari Padang Magek (darek) and benten dance from nagari Laban Pesisir Selatan (pasisia). The results show that there is a tendency of dance embodiment between the two dances which show the differences of Minangkabau dance styles in darek and pasisia.  Keywords: dances style, body, darek, pasisia, Minangkabau Abstrak Tari tradisional Minangkabau memiliki kesamaan karakter gerak yang berbasis pencak silat sebagai identitas yang melekat pada tari-tari Minangkabau. Namun, di sisi lain tari Minangkabau memiliki perbedaan gaya pembawaan antara darek dan pasisia. Tulisan ini dibangun berdasarkan asumsi bahwa gaya tari Minangkabau berbeda antara darek dan pasisia yang dipengaruhi oleh alam dan corak budaya yang berbeda. Dengan menggunakan pendekatan perspektif gaya tari dan metode etnografi, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan gaya tari tradisional Minangkabau dengan mengambil contoh kasus tari mulo pado dari nagari Padang Magek (darek) dan tari benten dari nagari Laban Pesisir Selatan (pasisia). Hasil penelitian mengungkap kecenderungan pembawaan tari yang berbeda antara kedua tari yang menunjukkan adanya perbedaan gaya tari Minangkabau di darek dan pasisia. Kata kunci: gaya tari, tubuh, darek, pasisia, Minangkabau,  

Simbol Diskursif dan Presentasional dalam Iklan “Indonesia Milik Siapa ?”

Yuliansyah, Hendy

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTDifferent perspectives can be used to criticize an art as object into a focus of discussion. When combining art objects used in the advertisement, there is a dualism in values and paradigms, where visualization of an ads show the authenticity of the form and its influence on advertising messages. Advertising as a media for communication is already known to the public, and it can be addressed through another viewpoint. The commercial or community services as well as an advertising management facilitate the public receipts of advertising messages into a specific discussion about the ads. In this research, an advertisement of “Indonesia Milik Siapa?” uses discursive and representational symbols. By paying attention to the influence of advertising in the message as well as its visualization, the study of differences between discursive and presentational symbols enriches the art communication existing in this ad. By using a descriptive qualitative research method, and analyzing its advertising messages, the ads designed by Dompet Dhuafa uses presentational symbols with a particular visual and communicative messages.Keywords: design, discursive, advertisements, presentational, symbol  ABSTRAK         Berbagai sudut pandang dapat digunakan untuk mengkritisi suatu objek seni ke dalam satu fokus bahasan. Ketika pembauran objek seni digunakan dalam format iklan, maka terjadi dualisme nilai dan dua paradigma, ketika visualisasi iklan menunjukkan keotentikan bentuk dan pengaruhnya terhadap pesan iklan. Iklan sebagai media komunikasi yang sudah dikenal masyarakat, dapat dibahas melalui sudut pandang yang berbeda. Bidang komersial atau layanan masyarakat serta manajemen periklanan dapat mempermudah masyarakat dalam menerima pesan iklan menjadi bahasan khusus tentang iklan. Pada penelitian ini, iklan “Indonesia Milik Siapa?” menegaskan penggunaan simbol diskursif dan presentasional. Dengan tidak mengesampingkan pengaruh iklan dalam pesan serta visualisasinya, terdapat perbedaan antara simbol diskursif dan presentasional, sebagai kajian untuk memperkaya khasanah komunikasi seni yang terjalin dalam format iklan ini. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, serta analisis pesan iklannya, dapat dijelaskan bahwa iklan yang dirancang oleh tim desain Dompet Dhuafa ini menggunakan simbol presentasional sebagai objek seni dengan visual khususnya dan pesan yang komunikatif.Kata kunci: desain, diskursif, iklan, presentasional, simbol

Penanaman Nilai-Nilai Kasundaan Berbasis Pembelajaran Tari Pakujajar di SMP Negeri 5 Sukabumi

Wahyudi, Ayu Vinlandari, Narawati, Tati, Nugraheni, Trianti

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kasundaan yaitucageur, bageur, bener, pinter,  singer yang telah luput dari kehidupan para siswa. Terkikisnya nilai-nilai budaya lokal menimbulkan permasalahan, yaitu degradasi karakter yang dipengaruhi oleh lemahnya etika dan estetika. Penelitian ini terdiri atas dua tahapan, yaitu mengkaji tari dengan menggunakan teori etnokoreologi yang dibantu dengan pendekatan etnopedagogik dan folklor, serta implementasi pembelajaran dengan menggunakan teori Lickona dan Gardner. Hasil kajian diperoleh bahwa nilai-nilai yang berkenaan dengan nilai cageur, bageur, bener, pinter, tur singer yang kemudian diimplementasikan melalui sebuah pembelajaran tari etnis, yaitu tari pakujajardengan menggunakan model pembelajaran sinektik.Penelitian ini menggunakan metode penelitian action research dengan pendekatan kualitatif. Berdasarkan proses yang telah dilakukan, terjadi peningkatan yang signifikan yang dibuktikan dengan meningkatnya daya imajinasi serta pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan sikap siswa yang peduli serta saling menghormati baik pada guru maupun antarsesama. Dengan demikian, penelitian ini menghasilkan model pembelajaran tari etnis. Kata Kunci: Nilai-nilai kasundaan, tari pakujajar, implementasi pembelajaran tari  ABSTRACTThis research aims to inculcate kasundaan values that is cageur, bageur, bener, pinter,singer that have been disappeared from students life. The decline of local cultural values creates problems, as well as moral degradation following the decrease of ethics and aesthetics values. This research consist of two steps include an analysis to the dance by using etnochoreology, etnopedagogy  and folklore. Meanwhile, the implementation of dance learning uses a Lickona and Gardner theory. The results of studies show that the values contained in the dance pertains to cageur, bageur, bener, pinter, tur singer and these values are implemented through an ethnic dance learning that is Pakujajar Dance by using a sinectic learning model. This research employ an action research method with a qualitative approach. Based on the processes that have been done, there is a significant increase shown by improvement in imagination  and understanding of the students to the subject materials,as well as student’s attitudes of caring and mutual respects both to their teachers and their peers. This research produces the ethnic dance learning model. Keyword : kasundaan values, Pakujajar dance, implementation of dance learning   

Toponimi Nama Tempat Berbahasa Sunda di Kabupaten Banyumas

Sobarna, Cece -, Gunardi, Gugun, Wahya, Wahya

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT The continuous changes of society have brought some impacts to the name of a place. Even though it is only a name, it actually deals with the cultural perspective of the surrounding communities. Currently, toponym becomes important for society as a part of identity formation processes including for the Sundanese. Beside spoken in West Java and Banten, Sundanese language is also spoken by Central Java communities who live in western areas such as Cilacap, Brebes, and Banyumas regencies. In Cilacap and Brebes regencies, Sundanese language is still an effective language for daily communication. However, in Banyumas regency, this language undergo changes. In fact, the Sundanese language in Banyumas is a quite unique since the archaic words such as pineuh  (sleeping) and teoh (below) are still found. This area still keeps its oral tradition such as the story about the history of the place names. The study of the place name is an effort to strengthen an identity as the place name can be understood as a symbol rooted on the history of the place in its local culture. This tradition contributes toward a sustainability of the place name along with their cultural values.Key words: place names, local wisdom, identity   ABSTRAK       Perubahan masyarakat yang terus-menerus berpengaruh pada perubahan penamaaan tempat di suatu daerah.Tidak hanya sekadar nama, dalam penamaan sebuah tempat terkandung pandangan  masyarakat pemiliknya. Saat ini, toponimi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia sebagai bagian dari proses pembentukan identitas. Selain di wilayah Jawa Barat dan Banten, bahasa Sunda digunakan pula oleh sebagian masyarakat Jawa Tengah yang berada di bagian barat, seperti Kabupaten Cilacap, Brebes, dan Banyumas. Di wilayah Kabupaten Cilacap dan Brebes bahasa Sunda sampai sekarang masih digunakan. Namun, di wilayah Kabupaten Banyumas, bahasa Sunda mengalami penyusutan. Padahal, bahasa Sunda di wilayah tersebut cukup menarik, yakni masih ditemukan kata-kata arkais, seperti pineuh ‘tidur’ dan teoh ‘bawah’. Wilayah ini juga masih menyimpan banyak tradisi lisan, di antaranya adalah ihwal cerita terjadinya nama tempat.  Pengkajian nama tempat merupakan sebuah upaya yang strategis dalam rangka penguatan jati diri bangsa karena nama tempat dapat dipahami sebagai tanda yang mengacu pada cerita dan sejarah yang berakar pada budaya lokal. Tradisi ini berkontribusi terhadap kelanggengan nama berikut nilai-nilai budaya di dalamnya.Kata kunci: nama tempat, kearifan lokal, jati diri

Pengembangan Tekstil Berbasis Motif dan Nilai Filosofis Ornamen Tradisional Sumatra Utara

Saragi, Daulat

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

 ABSTRACTEthnicity and cultural diversity of North Sumatra is the pride of the communities who contribute to the wealth of cultural heritage. Nowadays, a textile development has been successfully explored with a variety of ornaments and its philosophical values, and it has been brought into fashion trends. The North Sumatra ornamental motifs contribute to the world of fashion today. Fashion designers pay big attentions to the advance of the complexity of ethnic motifs in the development of the textile world. The study was conducted by the method of documentation, observation, and interpretation of meaning of the motifs. Verstehen method (understanding) is used to interpret the symbols of ornamental motifs containing the ideas of community. The result is an alternative of textile motif development of  North Sumatra-based on local patterns. With the richness of textile patterns raised from local ethnic of North Sumatra, make the fashion increasingly popular and in demand, and ultimately contributes to the development of the textile and fashion industry.Keywords : ornamental motifs, philosophical values, textile industry ABSTRAKKeanekaragaman suku dan  budaya Sumatra Utara merupakan kebanggaan masyarakatnya yang berkontribusi kepada kekayaan budaya Nusantara. Perkembangan tekstil dewasa ini berhasil mengeksplorasi aneka motif dan nilai filosofis ornamen tradisi dan mengangkatnya menjadi tren mode. Motif ornamen Sumatra Utara telah berkontribusi pada dunia mode saat ini. Perancang busana  melirik adanya suatu kekuatan corak etnis yang diangkat menjadi corak secara masif dalam perkembangan dunia tekstil. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode dokumentasi dan observasi, interpretasi atau pemaknaan, sekaligus melakukan penafsiran  terhadap data yang terkumpul. Metode verstehen (pemaaman) dilakukan terhadap motif-motif ornamen sebagai simbol yang mengandung ide-ide masyarakatnya. Hasil penelitian menjadi alternatif pengembangan motif tekstil Sumatra Utara yang berbasis corak lokal. Dengan semakin kayanya corak tekstil yang diangkat dari etnis lokal Sumatra Utara akan menjadikan dunia fesyen semakin digemari dan diminati, dan akhirnya berkontribusi terhadap perkembangan industri tekstil dan fashion.Kata kunci  :  Motif ornamen, nilai Filosofis, industri tekstil

Tubuh Tari Indonesia Sasikirana Dance Camp 2015-2016

supriyanto, eko

PANGGUNG Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTSardono W. Kusumo, an Indonesian dance master and choreographer once stated that the way to understand dance should start with the study of embodiment before moving to the study of dance in its performative art form. A dancer should be able to process his/her dance by recognizing the complexity of the body and the nerves system and muscles through a creative process, resulting a confident work of performing arts. Through a historical perspective and based on the theory of embodiment, this article tries to convince that dance needs to stand as a repository of cultural memories and therefore is able to represent the habitus of Indonesian dancers. A comprehensive evaluation of the development of Indonesian Dance Festival (IDF) and Sasikirana Dance Camp (SDC) is used as real evidences of how this form of the arts must put forward physical approaches first before creating a reasonable discourse to the acts. Keywords: Dance Camp, choreographylab, embodiment  ABSTRAK          Sardono W. Kusumo, maestro dan penata tari Indonesia mengungkapkan bahwa untuk memahami tari harus dimulai dengan mempelajari ketubuhannya sebelum bergerak pada studi tentang tari dalam aspek performatif pertunjukannya. Seorang penari harus mampu memahami dan mendalami kompleksitas tubuh bersamaan dengan system syaraf dan otot tubuhnya sebagai proses kreatif untuk kepercayaan tubuhnya dalam pertunjukan. Melalui perspektif sejarah dan bersumber pada teori ketubuhan, tulisan ini bertujuan menyakinkan para penari, bahwa tubuh tidak hanya sebagai tempat agensi kultur masa lalu, sehingga lebih meyakinkan bahwa tubuh tari Indonesia berakar dari habitatnya. Evaluasi komprehensif atas kegiatan Indonesian Dance Festival (IDF) berserta Sasi Kirana Dance Camp (SDC),dijadikan sebagai pembuktian tentang pentingnya pendekatan fisikal untuk ketubuhan penari sebelum merujuk pada pendekatan bidang seni lainnya. Kata kunci: Dance Camp, lab koreografi, tubuh tari 

Perkembangan Wayang Alternatif di Bawah Hegemoni Wayang Kulit Purwa

Riyanto, Bedjo, Mataram, Sayid

PANGGUNG Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACTPuppet as a creative product is often interpreted narrowly only in the art of wayang purwa performances which in the evolutionary span of many centuries most show its adaptive ability. Hegemony of puppet art as one of Javaneses most valuable cultural creativity products, on the other hand, has a negative impact on the evolution of Javanese culture itself. The process of wayang refinement, as a classical art of excellence in the exclusive cultural pockets of the palace, at the same time gained the challenge from the outside which made the puppet art a popular cultural product of kitch that was considered merely an insignificant entertainment. The emergence of contemporary puppet works from Indonesian artists signifies the development of movement in the effort to interpret, explore, and develop traditional puppet art entering the wider arts field so that puppet art does not become a frozen art.Keywords: alternative puppet, hegemony, shadow puppet PurwaABSTRAKWayang sebagai suatu produk kreatif sering ditafsirkan secara sempit hanya pada seni pertunjukan wayang Purwa yang dalam rentang evolusi berabad-abad paling menunjukkan kemampuan adaptifnya. Hegemoni seni pewayangan, sebagai salah satu produk kreativitas budaya Jawa paling adiluhung, pada sisi lainnya berdampak negatif pada evolusi kebudayaan Jawa itu sendiri. Proses refinement wayang, sebagai seni adiluhung klasik dalam kantung-kantung budaya ekslusif kraton dalam saat yang sama mendapat, tantangan dari luar yang membuat seni pewayangan menjadi produk budaya populer yang bersifat kitch yang dianggap hanya sekadar hiburan yang tidak bernilai. Kemunculan karya wayang kontemporer dari para seniman Indonesia menandakan adanya gerak perkembangan di dalam usaha menafsirkan, mengeksplorasi, dan mengembangkan seni pewayangan tradisional memasuki medan kesenian yang lebih luas sehingga seni pewayangan tidak menjadi seni yang beku.Kata kunci: wayang alternatif, hegemoni, wayang kulit Purwa  

Issues
All Issue Vol 28, No 2 (2018): Dinamika Keilmuan Seni Budaya dalam Inovasi Bentuk dan Fungsi Vol 28, No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C Vol 27, No 3 (2017): Education, Creation, and Cultural Expression in Art Vol 27, No 2 (2017): The Revitalization of Tradition, Ritual and Tourism Arts Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi Vol 26, No 4 (2016): Orientalisme & Oksidentalisme Sebagai Relasi, Dominasi, dan Batasan dalam Este Vol 26, No 3 (2016): Visualisasi Nilai, Konsep, Narasi, Reputasi Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Vol 26, No 2 (2016): Semiotika, Estetika, dan Kreativitas Visual Budaya Vol 26, No 1 (2016): Nilai dan Identitas Seni Tradisi dalam Penguatan Budaya Bangsa Vol 25, No 4 (2015): Representasi, Transformasi, Identitas dan Tanda Dalam Karya Seni Vol 25, No 3 (2015): Ekspresi, Makna dan Fungsi Seni Vol 25, No 2 (2015): Pendidikan, Metode, dan Aplikasi Seni Vol 25, No 1 (2015): Kontribusi Seni Bagi Masyarakat Vol 24, No 4 (2014): Dinamika Seni Tari, Rupa dan Desain Vol 24, No 3 (2014): Identitas dalam Bingkai Seni Vol 24, No 2 (2014): Modifikasi, Rekonstruksi, Revitalisasi, dan Visualisasi Seni Vol 24, No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni Vol 23, No 4 (2013): Membaca Tradisi Kreatif, Menelisik Ruang Transendental Vol 23, No 3 (2013): Sejarah, Konseptualisasi, dan Praksis Tradisi Kreatif Seni Vol 23, No 2 (2013): Eksplorasi Gagasan, Identitas, dam Keberdayaan Seni Vol 23, No 1 (2013): Strategi dan Transformasi Tradisi Kreatif: Pembacaan, Pemaknaan, dan Pembelaja Vol 22, No 4 (2012): Dimensi Sejarah, Transformasi, dan Diseminasi Seni Vol 22, No 3 (2012): Manifestasi Konsep, Estetika, dan Makna Seni dalam Keberbagaian Ekspresi Vol 22, No 2 (2012): Signifikasi Makna Seni Dalam Berbagai Dimensi Vol 22, No 1 (2012): Menggali KEkayaan Bentuk dan Makna Seni Vol 21, No 3 (2011): Narasi Metaforik. Strategi, dan Elanvital Vol 21, No 2 (2011): Simbol, Dokumentasi, dan Pengaruh Eksternal Seni Vol 18, No 1 (2008): Komunikasi, Makna Tekstual dan Kontekstual dalam Seni Pertunjukan Vol 1, No 31 (2004): Aksi Parsons Dalam Bajidor: Sistem Mata Pencaharian Komunitas Seni Tradision