cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SABUA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
SABUA adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Perencanaan Wilayah & Kota, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi. Jurnal Sabua adalah jurnal tentang lingkungan binaan dan arsitektur merupakan media informasi, komunikasi, dan pertukaran informasi mengenai berbagai peneitian dalam bidang perencanaan wilayah dan kota serta bidang arsitektur. Artikel dapat berupa hasil penelitian, konsep perencanaan dan perancangan, kajian dan analisis kritis yang dapat ditulis dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Jurnal ini diterbitkan setiap empat bulanan
Arjuna Subject : -
Articles 75 Documents
PARTISIPASI MASYARAKAT MELALUI PENATAAN PERMUKIMAN NELAYAN DALAM MENINGKATKAN PROPERTI KOMUNITAS Sela, Rieneke
SABUA Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Permukiman nelayan merupakan kawasan permukiman yang memiliki potensi sebagai tempat penangkapan, pembudidaya dan pengolahan ikan yang cenderung mengalami banyak permasalahan pada lingkungan bermukimnya. Demikian halnya dengan permukiman nelayan yang berada di sepanjang pesisir bagian utara kota Manado, permasalahan yang dijumpai adalah kekumuhan, ketidakamanan tambatan perahu serta dampak pembangunan jalan Boulevard tahap II menyebabkan kecenderungan hilangnya komunitas nelayan pada sepanjang pesisir pantai. Disisi lain, kondisi nelayan pinggir Sungai Bailang semakin hari semakin berkurang karena fasilitas nelayan yang tidak representatif. Bitung Karang Ria dan Tumumpa sehingga perlu dilakukan penataan permukiman nelayan pinggir Sungai Bailang. Penataan kawasan permukiman nelayan pinggir Sungai Bailang atas dasar partisipasi masyarakat yang mampu berkontribusi dan memanfaatkan peluang. Metodologi yang akan dipakai sebagai perangkat untuk mengarahkan proses perencanaan penataaan lingkungan permukiman nelayan ini, yaitu: penyiapan lokasi dan penyiapan masyarakat dengan tahapan identifikasi dan review lokasi serta tahap analisis melalui metoda SWOT yang akan diperoleh potensi dan permasalahan untuk menunjukkan peluang pengembangan serta tahap penyepakatan program dan penyusunan rencana. Pengembangan properti komunitas dengan kerangka Tridaya akan menghasilkan rencana pola perletakan perumahan, rencana pergerakan, rencana fasilitas umum kenelayanan, rencana fasilitas komersial serta rencana infrastruktur sebagai upaya menciptakan kawasan permukiman yang berkelanjutan.
PENGELOLAAN PENCEMARAN UDARA AKIBAT TRANSPORTASI DI KAWASAN PERUMAHAN DI PINGGIRAN METROPOLITAN Panjaitan, dkk, Timbul
SABUA Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pembangunan perumahan di perkotaan metropolitan berkembang sangat pesat terutama di daerah pinggiran metropolitan. Pembangunan ini menyebabkan pertumbuhan kebutuhan transportasi yang cukup tinggi karena para penghuni perumahan di pinggiran kota tersebut masih membutuhkan perjalanan ke pusat kota untuk bekerja, belajar dan aktivitas-aktivitas lainnya, yang apabila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan permasalahan dikemudian hari. Penelitian ini mencoba untuk membuat model pengelolaan pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh transportasi dari kawasan perumahan di pinggiran kota metropolitan khususnya di kota metropolitan Bandung yaitu pada  kawasan perumahan Setiabudi Regensi, Perumahan Graha Puspa dan Perumahan Trinity,  dengan berpegang pada prinsip pengelolaan transportasi berkelanjutan yang salah satu unsurnya yaitu untuk  mengurangi kemungkinan timbulnya pencemaran udara dan kebisingan yang diakibatkan oleh transportasi di kawasan tersebut pada masa mendatang. Dari data pertumbuhan volume lalu lintas dan tingkat kualitas udara ambien di lokasi studi, diperoleh fraksi masing-masing pencemar udara dan fraksi kebisingan yang ditimbulkan oleh transportasi di kawasan perumahan/permukiman tersebut. Berdasarkan data pertumbuhan volume lalu lintas tersebut dapat dibuat model pertumbuhan volume lalu lintas dan pertambahan tingkat pencemarannya. Peneliti mengambil data primer berupa bangkitan dan tarikan lalu lintas yang ada pada saat penelitian berlangsung, kemudian dilengkapi dengan data sekunder dari penelitian sebelumnya yang telah dibuat struktur model pengelolaan transportasinya. Dari struktur model yang dibangun dapat dilihat perilaku model yaitu perilaku pencemaran udara yang akan ditimbulkan pada masa yang akan datang (sampai dengan tahun 2040). Perilaku model ini dapat dipakai sebagai dasar pembuatan kebijakan transportasi yaitu dengan mengekang tingkat  pertumbuhan volume lalu lintas sehingga sampai dengan tahun 2040 indeks pencemaran udara masih pada tingkat yang aman.
EVALUASI PENGGUNAAN TANAMAN LANSEKAP DI TAMAN KESATUAN BANGSA (TKB) PUSAT KOTA MANADO Nayoan, Jemmy
SABUA Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Taman sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kenyamanan dan keindahan lingkungan. Fungsi taman adalah sebagai estetika, sarana untuk kesehatan, olahraga, interaksi sosial, maupun sebagai sarana pendidikan dan penelitian.  Keindahan taman ditangkap oleh mata dan dirasakan oleh hati. Tujuan penelitian ini adalah melakukan evaluasi terhadap penggunaan tanaman  pada Taman Kesatuan Bangsa (TKB) yang dapat  meminimalkan efek panas dan membentuk keseimbangan lingkungan yang sejuk, nyaman, asri dan tertata. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan analisis deskriptif. Penggunaan elemen lunak tanaman yang dominan dalam disain Taman Kesatuan Bangsa dapat meminimalkan efek panas, karena tajuk pohon akan menahan radiasi sinar matahari yang diteruskan ke bagian bawah tanaman. Proses transpirasi dan oksigen yang dihasilkan oleh tanaman akan merubah iklim mikro sekitar menjadi lebih sejuk dan nyaman
IDENTIFIKASI KEMACETAN LALU LINTAS DI KAWASAN PAAL 2 DAN PUSAT KOTA MANADO Malik, Andy
SABUA Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Pada kisaran tahun 1980-1990-an jalur lalu lintas di kota Manado tertata baik dan teratur sehingga menciptakan kestabilan kota. Seiring dengan munculnya pusat perdagangan baru dan bertambahnya jumlah kendaraan bermotor termasuk kendaraan angkutan umum, serta perawatan infrastruktur jalan yang kurang baik mengakibatkan munculnya dampak negatif dari perkembangan kota berupa kemacetan serta meningkatnya polusi udara di pusat kota Manado. Permasalahan kemacetan merupakan pekerjaan rumah yang sangat sulit dituntaskan baik oleh masyarakat maupun pemerintah setempat. Beberapa penyebab kemacetan antara lain parkir yang tidak sesuai aturan, pelanggaran lalu-lintas, hingga bertambahnya jumlah kendaraan kota (angkutan umum maupun angkutan pribadi). Dalam penulisan ini akan mencari jalan keluar dan solusi yang perlu ditempuh untuk mengatasi permasahan kemacetan yang terjadi di pusat kota Manado sehingga nantinya kemacetan dapat diminimalisir. Dengan demikian pemandangan dan situasi kota dapat terasa lebih baik dan nyaman bagi masyarakat kota Manado.
PEMAHAMAN TENTANG KAWASAN RAWAN BENCANA DAN TINJAUAN TERHADAP KEBIJAKAN DAN PERATURAN TERKAIT Tondobala, Linda
SABUA Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Seperti telah diketahui bersama bahwaberbagai daerah di Sulawesi merupakan wilayahyang sangat rentan terhadap aspek kebencanaan,dikarenakan kondisi geografis dan geologiwilayah. Pulau Sulawesi memiliki topografiyang sangat bervariasi dan cenderung curam.Wilayah Sulawesi dikepung oleh lempengEurasia dan lempeng Indo-Australia. Sewaktuwaktulempeng ini akan bergeser patahmenimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jikaterjadi tumbukan antar lempeng tektonik dapatmenghasilkan tsunami. Catatan dari DirektoratVulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi(DVMBG) Departemen Energi dan SumberDaya Mineral menunjukan bahwa ada 28wilayah di Indonesia yang dinyatakan rawangempa dan tsunami. Di antaranya Sulut, Sultengdan Sulsel.
PEMBONGKARAN KOMPLEKS PERSEKOLAHAN “DON BOSCO” MANADO Karongkong, Hanny
SABUA Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Apresiasi masyarakat Kota Manado terhadap nilai bangunan Cagar Budayabelum dibina, sehingga tidak heran bangunan tua sebagai tolok ukur sejarah, bagiandari masa lalu, saksi sejarah, yang konon pernah ditempati/difungsikan oleh parakolonialis kemudian berubah menjadi milik Pemerintah Daerah. Pembuktiannyahampir tidak ada, karena begitu sedikitnya bangunan peninggalan sejarah yang tersisa,tidak terdata, bahkan tidak dipedulikan. Tulisan ini diangkat dengan mengfokuskanperhatian pada bangunan kompleks persekolahan Don Bosco Manado sebagai salahsatu obyek Cagar Budaya yang seharusnya dipertahankan, tetapi terlanjur telahdibongkar. Akibatnya identitas, citra dan kenangan sejarah di tempat tersebut dengansendirinya ikut hilang. Tinjauannya lebih kepada pengungkapan sejarah munculnyapemikiran perlindungan terhadap benda/bangunan bersejarah, kajian teori, kajianaturan secara nasional, untuk dijadikan pembanding dalam melakukan pembangunankota Manado yang lebih baik.
PENDUDUK, PERUMAHAN PEMUKIMAN PERKOTAAN DAN PENDEKATAN KEBIJAKAN Makarauw, Vicky
SABUA Vol 3, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Indikator kependudukan dan keseimbangan penduduk mestinya harus dilihatdari interelasi penduduk dengan berbagai fenomena pembangunan yang sangat luas.Indikator keseimbangan tersebut harus bisa dijadikan petunjuk dan bahan untukmenempatkan sumberdaya manusia yang sangat besar tersebut sebagai sasaranpembangunan dan sekaligus sebagai pelaku pembangunan. Masalah klasik kotaberkembang, meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan tanah bertambah, baik untukpemukiman maupun kegiatan perkotaan lainnya. Tanah sebagai sumberdaya alambersifat terbatas, kebutuhan manusia terus meningkat, ketersediaan tanah menjadilangka dan menjadi komoditas ekonomi mahal. Kemitraan dalam pembangunanperumahan dan permukiman mestinya dilaksanakan. Disamping pentingnya produkkebijakan tata ruang dalam upaya penataan dan pengaturan fenomena tingkatpertumbuhan penduduk dan permintaan perumahan dan permukiman. Kebijakan tataruang layaknya mendasari pada pertimbangan kondisi fisik lingkungan dan sosialekonomi baik pada saat ini dan kecenderungan perkembangan ke depan.
ANALISIS KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR JALAN SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN AKSESIBILITAS MASYARAKAT PERKOTAAN LOKASI: KECAMATAN WENANG, MANADO Malik, Andy
SABUA Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Wenang tercatat memiliki jumlah penduduk sekitar 35.758 jiwa.Kecamatan ini terdapat banyak kegiatan perdagangan baik barang maupun jasa. Hal inidikarenakan sebagian besar penduduk bekerja di bidang perdagangan dan jasa dan daerahini bisa dibilang daerah yang tidak mempunyai lahan hijau karena banyak terdapatbangunan-bangunan. Dilihat pada peta kondisi eksisting yang ada, kecamatan inimempunyai tingkat kepadatan yang sangat padat baik permukimannya, fasilitasperdagangan, sehingga rentan dengan kemacetan. Di bagian-bagian tertentu dari kecamatanWenang seperti di jalan Sarapung, sering terjadi kemacetan seiring diberlakukannya sistemone-way traffic. Dan saat ini ada beberapa titik di jalan yang merupakan daerah kemacetansalah satunya di daerah Zero Point dan di depan pusat-pusat perdagangan.Yang menjadi salah satu penyebab utamanya adalah keadaan dan kondisi jalan yang kurangbaik. Kondisi jalan yang buruk seperti berlubang, tidak rata akan membuat ketidakyamananpara pengguna jalan. Selain itu kondisi dari Trotoar di Kecamatan Wenang belummemenuhi standar yang berlaku. Pemilihan material yang tidak sesuai, pembuatan trotoartidak yang tidak mengikuti peraturan dan standar yang ada mengakibatkan tujuan danfungsi dari trotoar tidak terwujud.Dengan demikian dapat dilihat bahwa sarana kota berupa jalan, sangat perlu diperhatikandan perlu adanya perhatian untuk membuatnya lebih baik lagi, agar menghindari hal-halmerugikan terjadi di dalam suatu Wilayah atau Kota dalam hal ini Kecamatan Wenangsehingga bisa menjadi kecamatan yang bisa diandalkan untuk menunjang berkembangnyaKota Manado ke depan.
ARSITEKTUR VERNAKULAR: PATUTKAH DIDEFINISIKAN ? Rogi, Octavianus H.A.
SABUA Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1521.034 KB)

Abstract

Vernacular Architecture, today, is a very common term. In its daily usage, it issometimes pararelled with the term "anonymous architecture" or "architecture withoutarchitect". From other standpoint it is also referred to be the product of or belonged to the lowclass of the society, in opposite to the high style architecture that belongs to the high classsociety. Are those the true meaning of vernacular? This paper tries to deal with this question. Bytaking the footprints of Amos Rapoport, this paper tries to rearticulate his thought about thissubject. It can be seen that concerning the meaning of vernacular architecture, it is better for onejust to describe it rather than to define the subject tightly as an ideal type that is contrast withother defined types. In doimg so, Rapoport proposed the term "polythetic definition” thatdescribes a list of criteria that must be met by a certain built environment, so that it is deservedto be called vernacular. Since design (incl. Architecture) can be viewed as a process or aproduct, then the criteria formulated in that polythetic definition must deal with that two contexts.Unfortunately, Rapoport himself did not describe his polythetic definition about vernaculararchitecture precisely. It seems that he wanted us to describe that "definition" personally, basedon our perspective about this topic. Instead of focusing on the problem of defining or describingthe meaning of the term "vernacular design (architecture), he proposed the "learning from thevernacular" as a better and urgent issue.
KOMPARTEMEN AKUSTIK RUANG Makainas, dkk, Indradjaja
SABUA Vol 3, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang kompartemen atau yang biasa juga disebut sebagai ruang bersebelahan(adjacent), tidak lepas dari masalah noise karena bunyi yang berasal dari salah satu ruangdapat menembus ke ruang yang lain sebagai ruang penerima melalui dinding sekat(pembatas) dengan mengalami proses transmisi.Noise adalah bunyi yang tidak dikehendaki oleh pendengar sebagai penerima danumumnya berasal dari luar ruangan. Kesadaran masyarakat terhadap noise masih kurangseperti itu yang ditimbulkan oleh sumber bunyi dari ruang yang bersebelahan bahkanmelalui bukaan-bukaan seperti ventilasi, jendela, celah pintu. Walaupun pelan, hal inidapat mengganggu kenyamanan dan menimbulkan masalah sosial di lingkungan sepertidi pemukiman, sekolah juga perkantoran. Memainkan alat elektronik seperti musik danlain-lain, berbicara keras tanpa mengetahui dampaknya terhadap lingkungan sekitarnyaharus dihindari karena nyaman bagi kita (sumber) belum tentu diterima oleh orang lainyang mendengar di ruangan kompartemen disebelahnya (pendengar) apalagi bagi merekayang sedang melaksanakan kegiatan dan memerlukan konsentrasi serta ketenangan.Penelitian kompartemen Akustik Ruang disusun berdasarkan pengaruh transmisi bunyiterhadap bahan dinding, insulansi bahan terhadap bunyi dari seluruh bahan dindingpembatas. Selain faktor yang ada di dalam ruangan, bukaan dinding seperti jendela, pintuserta celah yang ada adalah pemicu datangnya bunyi dari luar (noise) yang belum tentudiinginkan penghuninya yang dalam hal ini adalah sebagai penerima.Pembuktian penelitian di atas dilakukan dengan metode exercice. Kekuatantingkat tekan bunyi (SPL) akan diukur pada ruang sumber dan pada waktu yang samapengukuran dilakukan pada ruangan penerima disebelahnya dengan menggunaqkan duabuah alat Sound Level Meter (SLM). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikankontribusi pada pengembangan desain Arsitektur khususnya bidang Arsitektural Akustik