MEDIA MATRASAIN
ISSN : -     EISSN : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 8, No 3 (2011)" : 12 Documents clear
SEKAPUR SIRIH

Poedjowibowo, Djajeng ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.275 KB)

Abstract

EKSPRESI BUDAYA PADA FACADE BANGUNAN TINGGI Study Kasus: Menara Da Vinci

Siregar, Frits O. P. ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.674 KB)

Abstract

AbstrakPencerminan ekspresi dimulai melalui kebudayaan. Rancangan bangunan primitip menampilkan bentuk-bentuk dan pola-pola berdasarkan pengertian mistik dan religius. Selanjutnya penerapan sisi religius pada perancangan bangunan mengalami perkembangan dan memberi pengaruh kepada kebudayaan lain. Arsitektur Yunani menyebarkan pengaruh kepada arsitektur Roma dan kemudian terhadap Renaisance dan seterusnya.Dalam cara-cara seperti inilah gaya kearsitekturan terbentuk.Gaya (style) dapat diartikan sebagai suatu kumpulan karakteristik bangunan dimana struktur, kesatuan dan ekspresi digabungkan di dalam suatu bentuk-bentuk yang dapat mengingatkan kepada suatu periode ataupun wilayah tertentu. Di Indonesia kelatahan ini telah terjadi dimana cukup banyak bangunan (terutama perumahan) yang mengikuti gaya klasik yang berasal dari Eropa yang sebenarnya tidak cocok untuk kondisi iklim di Indonesia yang tropis lembab.Sistem ekpresif dalam arsitektur merupakan salah satu metode yang digunakan para kritikus dalam membuat kritik interpretif pada suatu karya arsitektur.Salah satu sumber esensial kebudayaan barat adalah kebudayaan Yunani klasik dan untuk memahami manusia Barat beserta arsitekturnya adalah harus memahami tentang buah-buah pikir maupun seni Yunani klasiknya yang dimana salah satu bentuk ekspresinya adalah neoklasik.Fasade bangunan Menara Da Vinci mengekspresikan nuansa neo klasik terbagi dalam tiga bagian utama. Pertama base dari lantai 1 hingga 13, lalu body dari lantai 14 sampai 29 dan roof, yaitu kombinansi grand penthouse, royal penthouse dengan tiga kubah perunggu berwarna turquoise yang terinspirasi dari kubah Basilika St. Peter.Kata kunci; ekspresi, budaya, kebudayaan, neoklasik

ARSITEKTUR VERNAKULAR RUMAH TINGGAL MASYARAKAT ETNIK MINAHASA

Rengkung, Joseph ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.561 KB)

Abstract

ABSTRAKArsitektur sebagai hasil karya manusia merupakan wujud kebudayaan fisik yang tidak terlepas dari perubahan akibat perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Karya arsitektur rumah tinggal masyarakat etnik Minahasa yang dapat dikategorikan sebagai arsitektur vernakular, dibangun oleh masyarakat setempat dan memiliki prinsip atau pola yang secara tradisional telah diserahterimakan dari generasi ke generasi, merupakan arsitektur yang lahir dari komunitas tertentu dibuat oleh dan untuk suatu masyarakat dan atau kebudayaan tertentu pula, sebagai ungkapan budaya dan jalan hidupnya. Dalam perkembangan fisik rumah tersebut terjadi perubahan baik secara bentuk maupun dalam pemakaian material atau perubahan terjadi secara kuantitas dan kualitas. Walaupun demikian karakteristik bentuk rumah etnik Minahasa masih terlihat jelas dalam keberadaanya, hal ini dikarenakan sifatnya yang tradisional dan selalu dijadikan sebagai suatu aturan, syarat dan pedoman yang diteruskan secara turun temurun. Arsitektur vernakular yang diartikan sebagai arsitektur asli, dibangun oleh masyarakat setempat memiliki karakteristik bentuk (Denah,Tampak dan Ornament bangunan) serta metode yang tidak tertulis dan harus dipatuhi oleh pemilik rumah dalam proses membangun. Fenomena tersebut merupakan hal yang menarik untuk diungkapkan dalam penulisan ini, sehingga keberadaan arsitektur vernakular rumah tinggal masyarakat etnik Minahasa sebagai suatu kearifan lokal dalam bidang Arsitektur dapat diketahui secara jelas dan perlu dilestarikan keberadaanya.Kata kunci : Arsitektur Vernakular Rumah Tinggal Etnik Minahasa

IMPLEMENTASI KONSEP ‘AMBIGUITAS’, ‘BOTH-AND’ DAN ‘DIFFERANCE’ DALAM RANCANGAN BANGUNAN MASJID DI INDONESIA

Erdiono, Deddy ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.996 KB)

Abstract

ABSTRAK“Dan carilah uapa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuatlah baik (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang berbuat kerusakan.”( Surat Al-Qashash ayat 77 )Secara eksplisit Surat Al-Qashash ayat 77 tersebut di atas merupakan wanti-wanti Allah kepada kita (manusia) sebagai umat-Nya, agar dapat memelihara dan menjaga kehidupan akhirat dan duniawi sebaik mungkin (Hablum minallah, hablum minannas). Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang paling mulia. Manusia adalah makhluk Allah yang tidak diciptakan di muka bumi ini kecuali untuk menyembah kepada-Nya (Q. Adz-Dzaariyaat : 56). Kemudian kepada manusia juga dimintakan untuk menciptakan keselarasan hubungan antar sesama, hidup berdampingan penuh kasih sayang. Dengan demikian, hubungan antara manusia dengan Tuhannya tidak harus mengenyampingkan hubungan manusia terhadap sesama, atau sebaliknya. Secara implisit, nampaknya hal tersebut di atas seperti sesuatu yang bersifat ‘binari oposisi’, yakni dua hal yang saling berlawanan satu sama lain secara hirarkis seperti pemahaman surat tersebut di atas antara ke-Tuhan-an atau kemanusiaan, kesucian atau ketidak sucian (najis), akhirat atau dunia, surga atau neraka, sakral atau profan, vertikal atau horisontal….. dan seterusnya. Namun setelah dipahami dengan seksama dan mendalam, ternyata maknanya adalah sesuatu yang bersifat ‘both-and’, seperti masalah ke-Tuhan-an dan kemanusiaan, kesucian dan ketidak sucian, akhirat dan dunia, surga dan neraka, sakral dan profan, vertikal dan horisontal. Both-and juga dapat diartikan tentang keselarasan, keserasian dan keseimbangan, bahkan dalam konteks tertentu bermakna kesetaraan (kedua-duanya, either…….or, neither……..nor / Ventury,1966). Both-and tidak akan menjadi sesuatu yang ‘ambigu’, karena sesuatu yang bersifat ambigu itu artinya adalah mendua,meleburnya dua hal menjadi satu, memunculkan genre baru dengan sifat keduaan.Kata kunci : binari oposisi; ambigu; keduaan

FUNGSI-FUNGSI RUANG PADA BANGUNAN SASADU - BALAI MUSYAWARAH JAILOLO - SAHU

Poedjowibowo, Djajeng ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Harisun, Endah ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Khairun ) , Paputungan, Suharto ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Khairun )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2160.066 KB)

Abstract

ABSTRAKSasadu merupakan bangunan tradisional yang berfungsi untuk pertemuan bagi masyarakat desa di wilayah Jailolo-Sahu, Kabupaten Halmahera Barat – Provinsi Maluku Utara.Sasadu memiliki denah segi delapan memanjang sehingga menyerupai bentuk perahu tetapi tidak berdinding. Terlihat pembagian rung yang tegas : sebelah kiri merupakan daerah wanita, sedangkan sebelah kanan merupakan daerah laki-laki. Tiap-tiap bagian tersebut dibagi lagi menjadi tiga bagian , tua-tua adat, kepala-kepala keluarga dan tamu.Bangunan ini memiliki delapan tiang utama, dua belas tiang pinggir dan dua belas tiang diantara tiang utama dengan tiang pinggir. Empat tiang utama (di daerah laki-laki maupun wanita) membentuk bidang bujur sangkar.Ruang utama yang berada diantara delapan tiang utama dan dibawah atap utama berbentuk pelana merupakan ruang yang diperuntukkan menempatkan peralatan upacara. Bagian buritan dan haluan diperuntukkan para tamu, daerah ini berada dibawah atap tambahan. Tempat tua-tua adat dan kepala-kepala keluarga berada tepat disamping ruang utama, berada dibawah terusan atap utama.PengaruH kehidupan bahari terlihat pada bentukan ragawi, denah, serta bentuk hiasan di kedua atap akan menyerupai haluan dan buritan perahu.Kata kunci : Balai adat, orientasi, zoning, kehidupan bahari.

KAJAN DINAMIKA TATA GUNA LAHAN PADA KAWASAN SEKITAR PUSAT PELAYANAN KOTA MANADO

Rogi, Octavianus H. A. ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado ) , Tilaar, Sonny ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado ) , Makarau, Vicky H. ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado ) , Malik, Andi A. M. ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado ) , Moniaga, Ingerid ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.351 KB)

Abstract

ABSTRACTThis study aims to determine the dynamics change of the land use pattern in the region around the service center of Manado city. Moreover, this study also aims to determine what factors are influencing changes in land use of the area.Theoretical studies indicate that the land use of a city can be present in a concentric pattern (single center), sectoral or multiple centered. Changes in land use patterns in urban areas occurs dynamically and is influenced by human factors, physical factors and the factor of urban landscapes. Changes in the structure of land use include the changes of development, location and the behavior setting.The major service center area of Manado is the old downtown area and the reclamation area along the Piere Tendean street. To that end, research locations specified in the administrative area of South Wenang and South Titiwungen flanked by Piere Tendean street (Boulevard) and Sam Ratulangi street.The study was conducted for 6 (six) months. The data used in this study includes primary and secondary data. Primary data include (a) the information from questionnaires distributed to 100 respondents who represent the element of local area residents informing about the aspects of their perceptional view of the economic value of land and land use patterns in which they live, and (b) information of land characteristics, including the physical condition of landscapes, availability of infrastructure, and so on, which obtained through field observations. Secondary data include the results of the institutional surveys through sources relevant to the topic under study. Respondents were taken with a purposive sampling method by an amount proportional to the number based on the sub-region. The analytical technique in this research is Descriptive Analysis, which analyzes the state of the object directly to the study through the description, understanding, or better explanations to the measurable variables or unmeasureable ones.In conclusion, the results of the study were (1) land use changes in the study area occurred in three periods, namely before the reclamation, after the reclamation and present days; ((2) changes that occur mainly is the transition of the settlements area into trading and services area gradually, following the path of primary and secondary roads, and (3) land use changes in the area of research primarily influenced by the strategic location of the sites, which is near the service center of the city, with high economic value of land.Key words: land use, service center area, descriptive analysis

ADAPTASI SUREALISME DALAM RANCANGAN ARSITEKTUR

Tiwow, Anita ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Siswanto, Wahyudi ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1932.508 KB)

Abstract

ABSTRAKSurealisme merupakan gerakan budaya yang pertama berkembang di daerah Eropa tepatnya di Prancis. Surealisme beradaptasi dari dadaisme yang merupakan suatu gerakan revolusioner. Dalam hal ini surealisme mengangkat hal-hal yang tidak rasional ke dalam dunia nyata. Psikoanalisis dari Sigmund Freud menjadi pemikiran dasar para surealis. Dimana perilaku manusia dikendalikan oleh alam bawah sadarnya. Paham surealis mengangkat mimpi, mitos, dan metamorfosis serta halusinasi dan fantasi manusia. Keadaan yang seperti ini membuat suatu pengaplikasian yang secara otomatis membentuk suatu karya. Optimisme dan otomatisme merupakan dua hal yang penting dalam mengangkat dan menerapkan alam bawah sadar. Berbagai teknik pun dilakukan untuk menerapkan surealisme. Teknik-teknik itupun dibagi menjadi dua prinsip, yakni incongruous combination dan metamorfosis.Kata kunci : otomatisme, optimisme, metamorfosis

TRANSPARANSI DALAM ARSITEKTUR

Polla, Febriani ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Paath, Patrice V. ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1975.9 KB)

Abstract

ABSTRAKTransparansi dalam Arsitektur merupakan dematerialisasi dari selubung bangunan, penggunaan bahan terbuka dan tembus cahaya. Transparansi dalam arsitektur digunakan untuk menggambarkan kondisi-kondisi material yang tembus cahaya. Transparansi adalah suatu yang mudah terdeteksi sebagaimana kondisi material tembus oleh cahaya dan udara atau dalam pengertian yang lebih intelektual sebagai bukti jelas nyata dan tidak terpendam. Untuk membedakan transparansi maka transparansi dibedakan menjadi Transparansi Literal dan transparansi Fenomenal.Transparansi Literal adalah merupakan sarana yang dapat tembus cahaya, dan menggambarkan suatu kondisi yang memungkinkan seseorang untuk melihat ke dalam.Transparansi literal memberikan sambungan visual antara ruang interior maupun eksterior yang bisa dilihat secara kasat mata ( literal ).Transparansi fenomenal tak ada hubungannya dengan kondisi-kondisi material yang tembus cahay.Transparansi fenomenal memberikan ruang yang dibuat benar-benar transparan tanpa benar-benar tertembus pandangan yang tidak bisa dilihat secara kasat mata namun hanya bisa dirasakan ( fenomenal ).Kata Kunci ; Transparansi, Literal, Fenomenal

ARSITEKTUR TRANSISI ABAD-19 SAMPAI AWAL ABAD KE-20

Prasuthio, Kristian ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Sondakh, Julianus A. R. ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1658.755 KB)

Abstract

ABSTRAKArsitektur transisi biasanya berlangsung sangat singkat, sehingga sering terlupakan dalam catatan sejarah (arsitektur). Meskipun demikian bentuk arsitektur transisi yang berlangsung cukup singkat tersebut sangat menarik untuk dipelajari, karena arsitektur transisi pada hakekatnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah perkembangan arsitektur secara keseluruhan. Bentuk arsitektur transisi yang dibahas kali ini adalah bentuk arsitektur di Hindia Belanda dari akhir abad 19 sampai awal abad ke 20.Bentuk arsitektur ini sering lepas dari perhatian kita. Hal ini disebabkan karena dua hal. Yang pertama adalah minimnya dokumentasi waktu itu. Yang kedua dikarenakan waktunya sangat singkat sekali (antara 20 sampai 30 th). Tulisan ini akan membahas bentuk arsitektur peralihan tersebut,yang pada saat transisi itu indonesia telah memasuki jaman modern.Berbicara tentang arsitektur modern dapat didefinisikan sebagai totalitas daya, upaya dan karya dalam bidang arsitektur yg dihasilkan dari alam pemikiran modern yang dicirikan dengan sikap mental yang selalu menyisipkan hal-hal baru, progresif, dan kontemporer sebagai pengganti dari tradisi dan segala bentuk pranatanya. Pemikiran modern tersebut kemudian didukung oleh adanya perubahan yang selaras dalam perkembangan teknologi, politik, sosial, ekonomi yang pesat.Perubahan yang selaras dalam perkembangan kehidupan pada awal abad 19 (Jaman modernisasi) ini ditandai dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi, industrialisasi, urbanisasi dan juga meningkatnya komplektisitas sistem sosial ekonomi.Keywords: Transition, Architecture

KONSERVASI ENERGI DALAM ARSITEKTUR

Losung, Riedel ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Makainas, Indradjaja ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.944 KB)

Abstract

ABSTRAKMengacu pada isu Penipisan Sumber Daya Energi Bumi yang tidak dapat terbarukan (Sumber Energi Fosil) salah satunya adalah Penggunaan Minyak sebagai pembangkit Listrik (Dengan tidak tersedianya BBM yang cukup maka akan mempengaruhi kemampuan penyediaan energi listrik) yang secara tidak langsung berdampak menyulitkan bagi seluruh aspek di seluruh dunia.Selain memaparkan isu dan data-data dari lembaga dunia mengenai Krisis Energi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, yang menjadi inti dalam karya tulis ini yaitu pembahasan tentang penerapan atau aplikasinya ke suatu karya Arsitektural melalui beberapa pendekatan di bidang Sains dan Teknologi yang bertujuan untuk menekan konsumsi listriknya secara berlebihan.Pertama dengan lebih memanfaatkan penghawaan dan pencahayaan secara alami dengan cara lebih memperhatikan orientasi matahari serta bukaan pada bagian-bagian yang di anggap memiliki potensi untuk masuknya cahaya matahari dan angin ke dalam ruangan yang dinilai lebih membutuhkanya.Sedangkan yang kedua dengan lebih menitik beratkan pemakaian dan cara penerapan teknologi ke dalam suatu karya Arsitektural berupa Panel Surya dan Kincir angin sebagai alat untuk memanfaatkan kelebihan iklim berupa sumber energi yang dapat di daur ulang (Cahaya Matahari dan Angin). Hal ini di lakukan bertujuan untuk meminimalisir pemakaian energi yang tidak dapat di daur ulang khususnya sumber energi fosil (Minyak Bumi) yang smakin menipis. Kata Kunci : Energi Tak Terbarukan, Karya Arsitektural, Sains dan Teknologi.

Page 1 of 2 | Total Record : 12