MEDIA MATRASAIN
ISSN : -     EISSN : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 8, No 1 (2011)" : 11 Documents clear
ARSITEKTUR TANPA TEKUKAN (UNFOLDING ARCHITECTURE)

Sinuraya, Elda Siska ( Prodi S1 Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Rogi, Octavianus Hendrik Alexander ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.154 KB)

Abstract

AbstrakPada tahun 1988, Gilles Deleuze seorang filsuf Prancis, mengeluarkan sebuah karya yang pada awal perkembangannya kurang popular di dunia arsitrektur, yaitu konsep The Fold atau dikenal dengan Deleuzian. Dalam bukunya, The Fold: Leibniz and the Baroque (Le Pli: Leibniz et le Baroque), Deleuze menggambarkan fold dan unfold sebagai sebuah ‘object-even.’ Ia berpendapat dalam studinya bahwa objek tidak hanya dapat dijelaskan dengan bentuk, tetapi dapat dikaitkan dengan waktu. Konsep Deleuzian yang pada saat itu mengalami kegagalan dalam menarik minat publik, diangkat kembali oleh Peter Eisenman ke dalam dunia arsitektural dengan pendekatan yang berbeda dalam versinya sendiri pada tahun 1991. Dalam perkembangannya proses desain Eisenman dalam fold dan unfold lebih mengarah ke digitalisasi. Pasca Eisenman mengkaji konsep Deluzian, semakin banyak arsitek yang mencoba untuk mengkaji konsepDeluzian dalam suatu strategi perancangan arsitektural.Kata kunci : Object-even, fold dan unfold, digitalisasi.

PENILAIAN TERHADAP ARSITEKTUR

Siregar, Frits O. P. ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.989 KB)

Abstract

AbstrakPerbedaan penafsiran tentang arsitektur bukanlah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan, dipertentangkan dan diperdebatkan dalam mencari yang benar dan yang salah. Permasalahan ini dibahas dengan maksud untuk mengkaji nilai-nilai keindahan yang dipancarkan lewat karya-karya arsitektur dari masing-masing tafsiran tersebut.Penilaian terhadap arsitektur pada dasarnya berhubungan dengan estetika visual. Sejak zaman dahulu banyak filosof yang memikirkan tentang hakekat estetika / keindahan. Keindahan adalah unsur emosional, sesuatu perasaan terpesona yang menyenangkan pada diri kita, merupakan kesadaran yang bersifat apresiatif, suatu sensasi yang membangkitkan kekaguman dan penghargaan.Tepat atau tidak suatu suatu penilaian terhadap arsitektur harus menggunakan kaca mata yang tepat untuk dapat mendudukan karya tersebut dalam bingkai penilaian yang sesuai.Pendekatan dalam perencanaan merupakan suatu kekuatan yang mempengaruhi hasil rancangan berupa karya arsitektur. Ada dua kekuatan dalam pendekatan perencanaan yaitu, “kekuatan fisik” dan “kekuatan sosial budaya”, dimana kekuatan fisik adalah milik tingkatan fungsi dan teknik, sedangkan kekuatan sosial budaya adalah milik dari tingkatan bentuk. Sehingga dengan kekuatan-kekuatan yang berpengaruh terhadap rancangan inilah dapat dilihat pusatperhatian dalam proses perancangan.Preseden dalam arsitektur adalah salah satu metode penilaian terhadap arsitektur yang secara mendalam meliputi tiga aspek, yaitu aspek konseptual, aspek programatik dan aspek formal.Kata kunci: arsitektur, estetika, penilaian, preseden

KAJIAN TATA RUANG WILAYAH PESISIR KOTA MANADO MENGHADAPI DAMPAK PEMANASAN GLOBAL

Poli, Hanny ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado ) , Tinangon, Alvin Jantje ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.559 KB)

Abstract

AbstrakPenataan ruang kawasan pesisir pantai perlu mendapat perhatian mengingat akan keberlanjutan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat. Kegiatan kawasan pesisir yang tidak terkendali adalah sebagai salah satu unsur penyebab terjadinya pemanasan global, yang berdampak pada peningkatan suhu udara maupun perairan didalam kota dan sekitarnya. Visi Kota Manado sebagai Kota Ekowisata maka perlu diperhatikan dalam pembangunannya yang cukup pesat dan perlu dikendalikan untuk mencapai keseimbangan lingkungan. Ruang kawasan pesisir perlu ditata agar dapat dipelihara sehingga memberikan dukungan yang nyaman terhadap manusia serta mahluk hidup lainnya dalam melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya secara optimal. Ratifikasi Protocal Kyoto oleh beberapa negara adalah juga sebagai upaya untuk mengurangi sebab-sebab pemanasan global dengan mereduksi pelepasan gas-gas rumah kaca. UU no 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. UU no. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengatur besarnya prosentasi Ruang Terbuka Hijau pada kawasan urban/pesisir, dan PP no. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional sebagai kepedulian pemerintah terhadap pentingnya penataan ruang kawasan pesisir. Penelitian ini akan difokuskan pada areal kawasan pesisir pantai kota Manado. Metode yang akan dipakai sistim Mapping, drawing (Lubis, 2002), Observasi Lapangan (direct).Kata Kunci : Tata ruang, pesisir, urban heat island

GAMBAR SKETSA PERCEPAT KERJA MENGGAMBAR ARSITEKTUR DENGAN MENGGUNAKAN PROGRAM ADOBE PHOTOSHOP

Rengkung, Joseph ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (915.1 KB)

Abstract

AbstrakSaat ini berbagai program grafis arsitektur ditawarkan dalam mengerjakan gambar perencanaan arsitektur seperti halnya program Autocad, Adobe Photoshop CS dan beberapa program lainnya, dimana semua program dimaksud merupakan alat (tool) yang dapat digunakan untuk membantu mengerjakan grafis arsitektur. Program program tersebut telah banyak digunakan oleh mahasiswa arsitektur maupun praktisi arsitek dalam melaksanakan pekerjaan perencanaan arsitektur. bagi mahasiswa yang ada difakultas Teknik jurusan Arsitektur Universitas Sam Ratulangi Manado pengenalan akan program tersebut telah tersosialisasi dengan baik, sehingga banyak mahasiswa telah menggunakan program dimaksud dalam menyelesaikan tugas tugas perkuliahan mereka. Bahkan untuk saat ini mahasiswa dalam menyelesaikan tugas Akhir tidak lagi mengerjakan secara manual dengan menggunakan alat mistar gambar, semua telah menggunakan komputer dengan program grafis arsitektur. Observasi dari hasil kerja mahasiswa dalam mengerjakan tugas tugas kuliah memperlihatkan bahwa mereka tidak menggunakan satu program saja, melainkan beberapa program grafis, seperti halnya gambar tampak atau perspektif dihasilkan dengan program Autocad selanjutnya direndring dengan program Photoshop. Keterangan yang diperoleh dari mereka hal ini dilakukan untuk mempercepat penyelesaian gambar. argumentasi tersebut dapat dimengerti karena bila gambar tampak direndring dengan menggunakan program Autocad maka waktu penyelesaian cukup lama jika dibandingkan dengan program Photoshop, hal ini disebabkan regulasi yang ada dalam program Autocad adalah skala normatif yang harus dipatuhi, sedangkan pada program Photoshop lebih pada skala proporsi.Fenomena tersebut menunjukan bahwa tidak tertutup kemungkinan kita dapat memadukan metode lain dengan program grafis yang ada untuk mempercepat gambar arsitektur. Salah satu metode yang dapat mempercepat pengelesaian gambar arsitektur adalah menggambar tangan bebas (sketsa) dan dipadukan atau diselesaikan dengan program Photoshop, hal tersebut sangat memungkinkan dilaksanakan karena program Photoshop tidak terikat dengan suatu modul skala tertentu lebih pada penggunaan skala proporsi. Metode ini merupakan inovasi yang dikembangkan dari empiris penulis dengan pemanfaatan program Photoshop serta berbagai literatur terkait yang dijadikan sebagi kajian pustaka. Diharapkan dengan inovasi ini dapat berguna, bermanfaat dan membantu mahasiswa maupun praktisi arsitek dalam menyelesaikan gambar arsitektur secara lebih cepat dan optimal dalam presentasi yang estetis.Kata Kunci : gambar sketsa , program photoshop

ARSITEKTUR BIOKLIMATIK

Tumimomor, Inggrid A.G. ( Prodi S1 Arsitektur Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Poli, Hanny ( Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2969.606 KB)

Abstract

AbstrakTema bioklimatik merupakan salah satu langkah menuju ke arah yang lebih baik dan sehat, dengan menerapkan perancangan yang baik yang memiliki Keindahan/Estetika (venustas), Kekuatan (Firmitas), dan Kegunaan / Fungsi (Utilitas). Perkembangan Arsitektur Bioklimatik berawal dari tahun 1990-an. Arsitektur bioklimatik merupakan arsitektur modern yang di pengaruhi oleh iklim. Arsitektur Bioklimatik merupakan pencerminan kembali arsitektur Frank Lloyd Wright yang terkenal dengan Arsitektur yang berhubungan dengan alam dan lingkungan dengan prinsip utamanya bahwa seni membangun tidak hanya efisiensinya saja yang di pentingkan tapi juga ketenangan, keselarasan, kebijaksanaan dan kekuatan bangunan sesuai dengan bangunannya. Dalam merancang sebuah desain bangunan juga harus memikirkan penerapan desain bangunan yang beradaptasi dengan lingkungan atau iklim setempat. Penghematan energi dengan melihat kondisi yang ada di sekitar maupun berdampak baik pada kesehatan. Dengan strategi perancangan tertentu, bangunan dapat memodifikasi iklim luar yang tidak nyaman menjadi iklim ruang yang nyaman tanpa banyak menkonsumsi energi. Kebutuhan energi perkapita dan nasional dapat di tekan jika secara nasional bangunan di rancang dengan konsep hemat energi. Selain itu yang dapat kita temui pada bangunan bioklimatik yaitu mempunyai ventilasi alami agar udara yang dihasilkan alami, Tumbuhan dan lanskap membuat bangunan lebih sejuk serta memberikan efek dingin pada bangunan dan membantu proses penyerapan O2, dan pelepasan CO2, demikian juga dengan adanya Solar window atau solar collector heat di tempatkan didepan fisik gedung untuk menyerap panas matahari. Maka muncullah desain yang benar2 menerapkan desain hemat energi. Tulisan ini merupakan perancangan yang tidak menyebabkan meningkatnya konsumsi energi dan kerusakan lingkungan, berupa polusi udara, polusi suara, melainkan menciptakan rancangan arsitektur yang ramah lingkungan serta arsitektur yang alami.Kata kunci: Bioklimatik, Ramah Lingkungan, Desain Arsitekur Alami

ADAPTASI SENI FAUVISME PADA PERANCANGAN ARSITEKTUR

Lubis, Dian Arista ( Prodi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Tinangon, Alvin Jantje ( Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1290.23 KB)

Abstract

AbstrakKarya tulis ini meneliusuri tentang konsep-konsep dasar aliran seni lukis fauvisme, dan kemudian di adaptasikan kedalam lingkup wilayah arsitektur. fauvisme merupakan suatu aliran seni yang inovatif, dan menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, terutama dalam hal penggunaan warna. Warna-warna yang di gunakan terkesan ‘liar’ atau tidak sesuai dengan kaidah-kaidah lukis sebelumnya. Dimana dalam aliran seni terdahulu, selalu memprioritaskan kemiripan situasi baik warna ataupun objektifitas pemandangan yang di tangkap oleh indera pelihat.Konsep-konsep dasar yang kemudian menjadi karteristik dari fauvisme itu sendiri, di adaptasikan kedalam lingkup arsitektur, yang pada dasarnya sudah berdiri di atas pondasi seni. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya stagnasi dari seorang arsitek, yang sering terlihat pada hasil-hasil perancangan belakangan ini, yaitu desain yang monotone dan berulang.Dalam implementasi seni fauvisme ke dalam perancangan arsitektur, digunakan strategi transformasi, dimana ‘bahasa seni’ di adaptasikan kedalam ‘bahasa arsitektur’ dan kemudian diolah dalam tinjauan perancangan arsitektur, yang dapat melahirkan konsep-konsep perancangan arsitektur.Kata kunci : Fauvisme, Adaptasi, Perancangan

LANDASAN PEMAHAMAN ”GREEN ARCHITECTURE” UNTUK PENDIDIKAN ARSITEKTUR

Poedjowibowo, Djajeng ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Tondobala, Linda ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.11 KB)

Abstract

AbstrakPada dasarnya, perkuliahan Arsitektur Lingkungan mensinergikan materi sub arsitektur dan lintas disiplin untuk mendukung tercapainya rancangan yang optimal dan bernuansa berkelanjutan dengan meminimalisir : pencemaran, perusakan, dan pemborosan sumberdaya.Selama ini kurikulum pendidikan arsitektur masih menempatkan konteks perkuliahan arsitektur lingkungan dalam porsi yang tidak signifikan dalam sudut pandang jumlah SKS maupun isi materi. Sementara itu, dalam kondisi sekarang (dan masa depan) kebutuhan akan pemahaman arsitektur ramah lingkungan, sudah semakin kompleks dan membutuhkan perhatian yang sangat memadai, khususnya pada calon arsitek. Berbagai permasalahan lingkungan hidup dunia seperti “global warming”, urban heat island, air bersih, persampahan, maupun pencemaran domestik lainnya, membutuhkan pemecahan dengan peran penting para arsitek.Tulisan ini memaparkan usulan komposisi mata kuliah terkait arsitektur lingkungan terhadap mata kuliah lainnya. Komposisi tersebut dihasilkan melalui kajian dengan dua pendekatan. Pendekatan pertama berupa uji struktur kurikulum pada kasus di Jurusan Arsitektur, Universitas Sam Ratulangi. Pendekatan kedua melalui penyebaran kuesioner yang dievaluasi secara statistik. Kuesioner ditujukan kepada mahasiswa, user, profesional arsitek yang berdomisili di Sulawesi Utara.Ternyata dalam hasil uji kuesioner menunjukkan bahwa sebagian besar user, mahasiswa maupun para praktisi belum memahami dengan baik mengenai arsitektur hijau yang sebenarnya akan menjadi tuntutan arsitektur masa depan.Kata kunci : silabus, kompetensi, arsitektur hijau

ARSITEKTUR BERWAWASAN PERILAKU (BEHAVIORISME)

Tandali, Anthonius N. ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Egam, Pingkan Peggy ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1710.716 KB)

Abstract

AbstrakArsitektur merupakan disiplin yang sintetis dan senantiasa mencakup tiga hal dalam setiap rancangannya (teknologi, fungsi dan estetika). Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan yang makin kompleks maka perilaku manusia ( human behaviour ) semakin diperhitungkan dalam proses perancangan yang sering disebut sebagai pengkajian lingkungan perilaku dalam arsitektur.Di dalam merancang suatu bangunan, seorang arsitek tentunya tidak mendasar pada imajinasinya sendiri. Hasil kreasi seorang arsitek membentuk suatu kesatuan yang harmonis dalam berbagai dimensi, terutama dimensi kenyamanan dan keamanan. Ketika merancang, seorang arsitek diandaikan membuat asumsi – asumsi tentang kebutuhan manusia, memperkirakan bagaimana manusia berperilaku, bergerak dalam lingkungannya, lalu memutuskan bagaimana bangunan tersebut dapat menjadi lingkungan yang sehat bagi manusia pemakainya.Berdasarkan hal itulah dapat disimpulkan bahwa antara arsitektur dan perilaku terdapat hubungan yang erat, hal ini dapat dilihat dari aspek – aspek pembentuk perilaku manusia akibat lingkungan atau bentuk arsitektur dan sebaliknya. Dengan kata lain perilaku manusia dapat diarahkan kearah yang lebih baik bila nilai – nilai positif dari lingkungan atau bentuk arsitektur dapat membentuk kepribadian serta perilaku yang memiliki nilai positif. Hal ini juga tidak lepas dari hasil kreasi seorang arsitek membentuk suatu kesatuan yang harmonis dalam berbagai dimensi, terutama dimensi kenyamanan dan keamanan. Dengan kata lain, ketika merancang, seorang arsitek diandaikan membuat asumsi – asumsi tentang kebutuhan manusia, memperkirakan bagaimana manusia berperilaku, bergerak dalam lingkungannya, lalu memutuskan bagaimana bangunan tersebut dapat menjadi lingkungan yang sehat bagi manusia pemakainyaKata kunci : Lingkungan, behaviour, arsitektur

REAKTUALISASI RAGAM ART DECO DALAM ARSITEKTUR KONTEMPORER

Gunawan, D. Enjelina K. ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Prijadi, Rachmat ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1753.228 KB)

Abstract

AbstrakArsitektur adalah bagian dari kebudayaan manusia,berkaitan dengan berbagai segi kehidupan antara lain : seni,teknik,ruang/tata ruang, geografis,sejarah. Oleh karna itu beberapa batasan dan pengertian tentang arsitektur,tergantung dari segi mana memandangnya. Dari segi seni, arsitektur adalah seni bangunan termaksud didalamnya bentuk dan ragam hias. Perkembangan arsitektur dunia sejalan dengan perkembangan budaya berbagai bangsa semakin kompleks, rumit dan cepat karna adanya percampuran, saling pengaruh dan perubahanperubahan. Oleh karna itu semakin sulit menentukan batasan social-budaya. Dalam hal ini arsitektur art deco menjadi batasan secara filosofis,sejarah, dan asalnya. Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa arsitektur berkembang dari masa kemasa dalam kurun waktu sejak manusia pertama hingga sekarang,diseluruh muka bumi luas tak terbatas. Pada kehidupan saat ini yang bersifat lebih modern dan teknologi,dunia arsitektur pun melahirkan bentuk desain yang semakin modern yang dikenal dengan sebutan arsitektur kontemporer. Arsitektur kontemporer menonjolkan bentuk unik, diluar kebiasaan, atraktif, dan sangat komplek. Sehingga dalam penulisan ini diberi batasan bagaimana mereaktualisasikan ragam art deco dalam arsitektur modern.Kata kunci : art deco, reaktualisasi, modern

ARSITEKTUR MODERN RETRO

Kuta, Mirza A. P. ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Rengkung, Michael Moldy ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 1 (2011)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1688.103 KB)

Abstract

AbstrakBagi sebagian orang, masa lalu menarik perhatian untuk dikenang dan ditampilkan kembali. Fenomena mengulang trend yang lalu atau disebut dengan Retro menjadi bagian aplikasi dari desain rancangan pada masa kini.Dalam hal ini Retro yang merupakan produk masa lalu diasimilasikan dengan kebaruan yang merupakan produk kontemporer, tidak hanya mengusung semangat eklektik, revival, historisisme, rekonstruksi, dan duplikasi namun juga retro merupakan sinergi unik untuk menarik perhatian.Tulisan ini menyoroti tentang retro atau pengulangan yang dihadirkan kembali dalam era modern ini, yang beragam defenisinya baik sebagai bagian dari masa lalu maupun sebagai gejolak kreatif di era pasca modernisme. Modern Retro dapat didefenisikan menjadi beragam makna, member defenisi baru, menunjukkan nilai baru dengan meperbaiki yang lama, memulihkan dari konsep semula.Kata Kunci: Retro, Modern, Post-Modernisme

Page 1 of 2 | Total Record : 11