cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
MEDIA MATRASAIN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue " Vol 14, No 2 (2017)" : 5 Documents clear
PENATAAN PKL INFORMAL UNTUK MEWUJUDKAN FUNGSI RUANG PUBLIK DI KAWASAN PERDAGANGAN PADA RUAS JALAN CIRCUNVALAÇAÔ ACADIRU HUN DILI Chang, Ludovino; Bawole, Paulus
MEDIA MATRASAIN Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (886.839 KB)

Abstract

Pedagang  kaki lima (PKL) di Timor-Leste (TL) merupakan masalah yang belum diselesaikan. Keberadaan PKL seperti: Jalan Elem Loi, Audian, Caicoli, Hali Laran, Aimutin, Kampung Alor dan Acadiru Hun. Mereka berjalan dengan mendorong gerobak dan pikul untuk berjualan di tempat-tempat publik. Ruang-ruang publik seperti pinggir-pinggir jalan, trotoar, emperan toko, taman kota dan kawasan perdagangan Acadiru Hun. Pemerintah melarang PKL untuk berjualan di ruang-ruang publik, tetapi pemerintah belum menyediakan suatu tempat yang layak bagi PKl di Timor-Leste. Pemerintah belum mempunyai peraturan untuk Penataan PKL, dengan demikian mereka dapat menggunakan ruang publik untuk menawarkan dagangannya. Karena tidak ada peraturan dan pembinaan cara memanfaatkan ruang yang tidak merusak lingkungan, maka PKL mengembangkan lokasi perdagangan sesuka hati sehingga merusak kualitas lingkungan. Mereka mempunyai jam-jam operasi yang tidak menggangu aktivitas perkantoran, yaitu jam 17.00 sampai 22.00 waktu TL.Menurut Hakim (1987), public space merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktivitas masyarakatnya, baik secara individu maupun secara kelompok, dimana bentuk ruang publik ini sangat tergantung pada pola dan susunan massa bangunan. Bila dilihat pola ruang publik yang terjadi di lokasi penelitian bahwa pola ruang publik sudah tidak ada dan pola ruang perdagangan yang tidak tersusun dengan baik. Kualitatif merupakan suatu cara untuk memahami proses penelitian dan berdasarkan pada sistem penyelidikan fenomena sosial dan masalah manusia. Pedagang kaki lima (PKL) di Timor-Leste (TL) merupakan masalah yang belum diselesaikan. Keadaan ini dapat terlihat pada keberadaan PKL yang ada di Jalan Elem Loi, Audian, Caicoli, Hali Laran, Aimutin, Kampung Alor dan Acadiru Hun. Mereka mendorong gerobak dan memikul dagangan untuk berjualan di tempat-tempat publik. Ruang-ruang publik yang dimanfaatkan untuk berjualan seperti pada pinggir-pinggir jalan, trotoar, emperan toko, taman kota dan kawasan perdagangan Acadiru Hun. Pemerintah melarang PKL untuk berjualan di ruang-ruang publik, tetapi pemerintah belum menyediakan suatu tempat yang layak bagi PKl di Timor-Leste.Kata kunci: Penataan, PKL, Informal, Ruang Publik, Metode Kualitatif
ATENUASI BISING LINGKUNGAN DAN BUKAAN PADA RUANG KELAS SEKOLAH DASAR BERVENTILASI ALAMI DI TEPI JALAN RAYA Subagio, Irma
MEDIA MATRASAIN Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.664 KB)

Abstract

Pada daerah urban, gangguan bising sering terjadi pada bangunan-bangunan di tepi jalan raya yang mewadahi kegiatan manusia. Gangguan bising terjadi terutama pada kegiatan manusia yang melibatkan aktivitas komunikasi seperti kegiatan belajar mengajar pada sekolah dasar. Lingkungan dan bukaan pada bangunan berperan untuk membantu mereduksi bising sehingga penetrasi bising dari luar, terutama jalan raya, tidak menimbulkan gangguan pada ruang kelas. Namun demikian, mereduksi bising dengan elemen yang ada pada lingkungan dan bukaan akan sulit dilakukan apabila ruang kelas masih menggunakan ventilasi alami. Lubang udara ventilasi alami akan mempropagasikan bising masuk ke dalam  ruang. Oleh karena itu, kemampuan dari kondisi lingkungan sekolah dan bukaan pada ruang kelas untuk mereduksi bising harus menjadi pertimbangan dalam desain bukaan ventilasi alami untuk menjamin kegiatan belajar mengajar anak sekolah dasar yang kondusif dan memadai.Penelitian ini dilakukan untuk mencari performa insulasi bising yang ditimbulkan dari adanya atenuasi bising lingkungan dan nilai reduksi bising yang terjadi pada bukaan ventilasi alami sebuah ruang kelas. Objek studi penelitian ini adalah SDK 6 BPK Penabur, sebuah sekolah dasar yang berada pada tepi jalan besar di kota Bandung (Jalan Jendral Sudirman). Metode riset mencakup pengukuran lapangan untuk melihat nilai atenuasi bising yang terjadi pada lingkungan (area sekitar bangunan sekolah) dan reduksi bising pada bukaan ruang kelas. Data dikumpulkan pada waktu operasional sekolah untuk setiap lantai bangunan (4 lantai) sehingga dapat diketahui kondisi gangguan bising pada ruang kelas di setiap lantai bangunan sekolah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa atenuasi bising terbesar terjadi pada lantai satu dimana elemen-elemen tapak (seperti pohon, pagar, dll) mereduksi bising lebih banyak dibandingkan pada lantai lainnya. Bukaan ventilasi alami pada lantai 1 dengan sistem jendela swing mereduksi bising lebih banyak dibandingkan tipe jendela pada lantai lainnya yang menggabungkan jendela swing dengan jendela nako. Atenuasi yang terjadi pada lingkungan dan reduksi bising dari bukaan ternyata belum dapat menciptakan kondisi ruang dalam kelas yang sesuai untuk standar kegiatan belajar mengajar.Kata Kunci: Pengendalian bising, atenuasi bising lingkungan, reduksi bising, ventilasi alami, sekolah dasar 
SUSTAINABLE URBAN WATERFRONT REDEVELOPMENT : CHALLENGE AND KEY ISSUES Pramesti, Rochana Esti
MEDIA MATRASAIN Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.503 KB)

Abstract

Urban waterfronts as complex bioregions by nature and also socio-economical hubs by their history provide a real challenge for planning institutions in capturing and responding to the trends and dynamic of the development. In the perspective of being competitive, cities are exercising urban practises to attract investment and resources by rediscovering urban tradition and culture fundamental to build attractive urban identity. Tertiary industry including urban tourism is being developed in attractive and strategic places by revitalizing the city centre and the waterfronts.Understanding the challenge and key issues of urban waterfront redevelopment is crucial in the planning for sustainable future for the waterfront. This article descripts the challenge and issues found in the urban waterfront redevelopment; the problems that are integrally linked with the history of planning of the surrounding urban region, and the opportunity abound to be addressed as integral character of the city’s future growth. The approach to sustainable urban waterfront redevelopment differs from locale to locale, but the study cases show some challenge and key issues in the urban waterfront redevelopment are quite similar.Four cases of urban waterfront redevelopment plan located in Toronto Central Waterfront, Dalian Waterfront, Zanzibar’s Stone Town and Jakarta’s Waterfront are compared to understand the scope of the planning sector, the challenge characteristic to urban waterfront redevelopment, and the approach used in planning toward sustainable waterfront design. The objective of the case review is to find good examples of theory implementation : what are the destination of the future waterfronts, the planning approach and institutional and sectoral cooperations. The reason for choosing the cases is based on the difference of geographical location and culture, the difference approach and the possible difference of waterfront characteristic.  Zanzibar and Jakarta are located in developing countries and the two cases present a characteristic challenge; tackling urban problems including urban poverty as one of the main goals. Toronto and Dalian’s location in more developed world (Canada and China), provided some insight of difference and similarities with those in developing countries.The result shows that urban waterfront is indeed challenging environment where urban planning is constantly challenged by three pillar sectors; the economy, social and ecology. The evidence from case studies shows that major challenge found in the urban waterfront redevelopment should be addressed sustainably, requiring multi-sectoral and multi-scale institutional approach. Key issues and challenge in addressing urban waterfronts redevelopment include economic diversity, social identity, shifting land use made possible by urban policy, reconciling conflict of interests, local institutional capacity and the planning system and delivery mechanism implemented.Keywords : urban waterfront, sustainability, urban redevelopment, sustainable spatial planning
DARI PUISI MENUJU RUANG DAN BENTUK : THE RITES OF THE BALI AGA (Metafora Konsep Desain Arsitektur melalui Telaah Strukturalisme-Semiologis Karya Sastra) Sihotang, Jonathan Hans Yoas
MEDIA MATRASAIN Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.13 KB)

Abstract

Arsitektur dan sastra memiliki kesetaraan sebagai sebuah produk budaya, yang karenanya, dapat saling memberikan inspirasi dalam proses kreasi meski berbeda wujud. Kesetaraan ini yang memungkinkan kita menggali ide ruang melalui karya lain, dalam hal ini karya sastra puisi sebagai pemampatan ide dalam bentuk karya tulisan. Melalui kanal metafora, sebuah karya sastra dapat ‘dibedah’ strukturnya untuk memberikan pengertian yang lebih dalam terhadap sebuah tulisan dan ide yang disampaikan, untuk kemudian sari dan strukturnya dijadikan sebagai inspirasi bagi karya lain tanpa perlu terjebak dalam kenaifan.Melalui sebuah studi kualitatif untuk melihat makna dan struktur penyampaian sebuah karya, maka perpaduan pendekatan strukturalis – semiologis dipakai sebagai alat analisa. Pendekatan strukturalis dipakai untuk melihat sesuatu sebagai sebuah struktur yang otonom, dan pendekatan semiologis dipakai untuk melihat tanda dan makna yang terkonvensi; sehingga  pembacaan sebuah karya, sebelum dipakai sebagai bahan metafora bagi karya lain, akan lengkap.The Rites of the Bali Aga, sebuah puisi karya sastrawan angkatan 60 Indonesia: Sitor Situmorang dipilih untuk dijadikan bahan kaji, setahun setelah kepergiannya. Karya ini erat dengan romantisme ‘place’ dan budaya lokal Bali meski disampaikan dengan bahasa Inggris, serta sarat dengan permainan kata yang kompleks namun tersaji dalam kesederhanaan struktur penyampaian, khas Sitor. Olahan struktur pikir dan makna ini diterjamahkan ke dalam konsep fungsi-bentuk, peruntukan bangunan, urutan ruang, irama, suasana, serta konsep artikulasi bentuk, sesuai analisa pembacaan puisi yang didapat.Dengan prinsip ‘memandang sesuatu sebagai sesuatu yang lain, dapat membuka kesempatan untuk memperkaya desain arsitektur tanpa harus terbelenggu fungsi semata serta tetap mengakar pada esensi. Pendekatan ini memanfaatkan kesetaraan produk budaya sebagai alat menggali ide dan menyampaikan makna.Kata Kunci: metodologi desain, metafora, strukturalisme, semiologi, sastra, konsep.
SEMIOTIK GEREJA GMIM JEMAAT PNIEL BAHU MANADO Mandey, Johansen Cruyff
MEDIA MATRASAIN Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.955 KB)

Abstract

Gereja merupakan bangunan tempat ibadah bagi orang yang beragama kristen. Secara umum bentuk-bentuk arsitektur geraja yang ada banyak kemiripan, baik secara bentuk tampak fasade, ruang serta simbol-simbol yang digunakan pada bangunan arsitektur gereja. Gereja GMIM “Pniel” yang berarti wajah Allah merupakan hasil pemekaran jemaat gereja GMIM Imanuel Bahu.Seiring dengan perkembangan waktu sehingga menjadikan bangunan gereja mengalami perubahan secara arsitektural. Salah satu perubahan yang terjadi yaitu perubahan Semiotik. Perlambangan, tanda atau biasa disebut dengan semiotik merupakan suatu penerapan pada arsitektur, dimana ada anggapan arsitektur merupakan suatu bahasa yang memiliki tanda.Kata kunci: gereja, arsitektur, semiotik

Page 1 of 1 | Total Record : 5