MEDIA MATRASAIN
ISSN : -     EISSN : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 11, No 3 (2014)" : 7 Documents clear
TINJAUAN OTORITAS ARSITEK DALAM TEORI PROSES DESAIN (Bagian Kedua dari Essay : Arsitektur Futurovernakularis – Suatu Konsekuensi Probabilistik Degradasi Otoritas Arsitek)

Rogi, Octavianus Hendrik Alexander ( Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado )

MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 3 (2014)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1564.014 KB)

Abstract

Otoritas, bagi kalangan arsitek adalah suatu prakondisi yang mendasari eksistensi profesionalnya. Pemahaman yang jernih tentang situasi otoritatif profesi arsitek akan memampukan kita untuk mengantisipasi probabilitas memudarnya otoritas arsitek di masa depan yang titik nadirnya adalah situasi profesi tanpa peran yang sama-sama tidak kita inginkan.Tulisan ini merupakan bagian yang kedua dari essay penulis yang berjudul “Arsitektur Futurovernakularis – Sebuah Konsekuensi Probabilistik Degradasi Otoritas Arsitek”. Pemikiran utama dalam essay ini adalah tentang probabilitas tergerusnya otoritas profesional arsitek seiring waktu yang ditandai dengan kehadiran karya arsitektur yang dilabel penulis dengan istilah futurovernakularis. Sebutan ini berasosiasi dengan karya arsitektural masa nanti (futuro) yang tercirikan sebagai karya yang hadir tanpa campur tangan arsitek profesional (vernakularis), sebagaimana salah satu premis dasar definisi politetis arsitektur vernakular. Dalam essay yang lengkap, argumentasi hipotesis di atas dielaborasi melalui sejumlah pendekatan. Dalam tulisan ini secara khusus, akan dipaparkan argumentasi yang dielaborasi berdasarkan pemahaman terhadap kondisi otoritas arsitek berdasarkan teori proses desain. Secara garis besar akan dikemukakan pemahaman umum tentang teori proses desain dari masa ke masa yang berasosiasi dengan perubahan karakteristik otoritas arsitek yang terefleksi lewat perbedaan peran sang arsitek dalam berbagai model proses desain secara teoritis.Melalui pemaparan dalam tulisan ini dapat disimpulkan bahwa tendensi degradasi otoritas arsitek dalam aktivitas rancang bangun juga terkonfirmasi melalui perubahan peran seorang arsitek dalam pelaksanaan suatu proses perancangan yang terindikasikan dalam teori model proses desain. Dalam model proses desain yang terkini, yang dilabel dengan istilah model proses desain yang argumentatif, peran arsitek, khususnya terkait dengan otoritas pengambilan keputusan, cenderung melemah jika dibandingkan dengan perannya pada model-model proses desain terdahulu yang berciri intuitif dan rasionalistik. Dalam model argumentatif, seorang arsitek tidak lagi berposisi sebagai pengambil keputusan, tapi lebih berperan sebagai penyedia informasi. Bersama-sama dengan kesimpulan pada tulisan bagian pertama, kesimpulan dalam tulisan ini makin mendukung hipotesis tentang probabilitas degradasi otoritas arsitek di masa yang akan datang. Pada tulisan berikut akan dielaborasi juga tentang dampak aplikasi teknologi komputer dalam kegiatan rancang bangun yang berpotensi “menggantikan” posisi arsitek dalam simbiosis klasik arsitek-klien, yang dapat dilihat sebagai premis pendukung yang lain dari hipotesis di atas.Kata kunci : otoritas arsitek, arsitektur futurovernakularis, teori model proses desain

PERENCANAAN KOTA: KEBERLANJUTAN ETHNIC COMMUNITY BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT LOKAL

Egam, Pingkan Peggy ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Rengkung, Michael Moldy ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 3 (2014)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1783.923 KB)

Abstract

Perencanaan kota senantiasa melibatkan berbagai elemen termasuk masyarakat lokal. Dalam kaitan dengan hal tersebut partisipasi masyarakat merupakan isu penting.Paper ini bertujuan untuk membahas peran masyarakat lokal dalam proses perencanaan kota. Paper ini bertujuan menganalisis karakteristik partisipasi masyarakat melalui aktivitas masyarakat untuk mempertahankan eksistensi masyarakat lokal.Aktivitas diidentifikasi dalam 2 kelompok yaitu aktivitas berbasis budaya yang dimplementasikan dalam aktivitas sehari-hari dalam lingkungan tetangga dan aktivitas berbasis budaya dalam sakal kelompok masyarakat lokal.Selanjutnya dianalisis melalui 3 aspek yaitu jenis aktivitas, peran dan implementasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktifitas budaya merupakan aktivitas potensial yang dapat dikembangkan dengan organisasi internal sebagai penggerak dasar. Cenderung rendahnya tingkat kesadaran masyarakat berdampak pada implementasi community participatory dalam permukiman. Dibutuhkan peningkatan hubungan masyarakat untuk penguatan internal, serta penguatan sosial-kultural untuk promosi external.Keywords: Partisipasi masyarakat, aktivitas budaya, kesadaran masyarakat, kelompok masyarakat lokal

TINJAUAN PEMECAHAN MASALAH DALAM PROSES PERANCANGAN

Franklin, Papia J.C. ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 3 (2014)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3581.181 KB)

Abstract

Tulisan ini, sesuai dengan judulnya mencoba untuk mengungkap prinsip-prinsip pemecahan masalah sebagai pendekatan dalam suatu pelaksanaan proses perancangan arsitektural. Sebagai pendukung pemahaman tulisan ini mencoba mendeskripsikan kembali beberapa model proses perancangan yang menerapkan prinsip-prinsip pemecahan masalah dengan mekanisme dasar “input-proses-output”.Dari pendalaman terhadap model-model tersebut dapat disimpulkan bahwa pandangan seorang perancang mengenai perannya dalam menyelesaikan masalah-masalah perancangan serta fungsi dan motivasi untuk pekerjaanya sangat menentukan pengertiannya mengenai proses yang dipergunakannya. Cara pertukaran informasi selama berlangsungnya sebuah proyek perancangan, sebagian besar tergantung dari pandangan pemberi tugas dan terutama dari si perancang.Pada prinsipnya mustahil ada suatu metode perancangan yang dapat diterapkan secara universal bahkan sebaliknya akan terbuka peluang terciptanya metode perancangan yang beragam dalam menyelesaikan dalam suatu proses perancangan, mulai dari perancangan arsitektur bangunan sederhana hingga bangunan kompleks sekalipun.Kata Kunci : pemecahan masalah, proses perancangan, arsitektur

KENYAMANAN TERMAL PADA RUMAH TEPI SUNGAI “Studi Kasus Rumah Tepi Sungai Kahayan Di Kota Palangka Raya”

Kindangen, Jefrey I. ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Sangkertadi, . ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 3 (2014)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5964.708 KB)

Abstract

Budaya bermukim di Palangka Raya awal mulanya, berawal dari pemukiman tradisional dayak dimana komplek pemukiman masyarakat tradisional ini berada di tepi sungai. Pada umumnya rumah di tepian sungai ini mempunyai 2 jenis rumah, yaitu rumah terapung / lanting dan rumah panggung. Di mana Kalimantan Tengah sendiri memiliki tinggkat kelembaban yang tinggi, (T>28°C, RH>80%). Maka diperlukan sebuah penelitian untuk mencari pengkondisiaan termal pada rumah ditepian sungai,untuk mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kenyamanan termal pada rumah tepian sungai ini. Data-data pengukuran yang diperlukan untuk mengetahui pengkondisian termal adalah 2 variabel personal dan 4 variabel iklim berdasarkan teori PMV dari Fanger. Maka analisis yang digunakan menggunakan indeks PMV dan PPD. Dimana untuk mengetahui persepsi termal dan memprediksi berapa banyak orang merasa tidak nyaman terhadap lingkungannya, pada rumah tepi sungai di kota Palangka Raya.Kata Kunci : Kondisi Termal, Indeks PMV dan PPD, Rumah Tepi Sungai, Kota Palangka Raya

POLA DISTRIBUSI BUNYI DAN TOLERANSI KEBISINGAN PADA PERUMAHAN DI KAWASAN BANDARA

Wulur, Yogini Adriana ( Arsitektur Pascasarjana UNSRAT ) , Sangkertadi, , ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Kindangen, Jefrey I. ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT ) , Warouw, Fela ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 3 (2014)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.548 KB)

Abstract

Pertumbuhan pembangunan perumahan bergerak seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Karena kebutuhan akan perumahan adalah suatu kebutuhan pokok bagi umat manusia sehingga bertambahnya jumlah penduduk berdampak pada peningkatan kebutuhan akan perumahan. Akibatnya perkembangan perumahan meluas sampai pada kawasan yang sebenarnya tidak cocok untuk perumahan seperti kawasan sekitar bandar udara.Pembangunan perumahan pada kawasan sekitar bandar udara dapat menyebabkan penghuninya terpapar kebisingan yang berasal dari bunyi pesawat terbang yang terbang atau pun mendarat di bandar udara tersebut. Kawasan di sekitar bandar udara Sam Ratulangi Manado juga telah banyak dibangun kompleks – kompleks perumahan dan hal ini dapat menimbulkan masalah gangguan kebisingan bunyi pesawat terbang bagi penghuninya. Bahkan sudah ada kompleks perumahan yang dibangun pada kawasan kebisingan tingkat 2 sesuai Kepmen Perhubungan no. KM 91 tahun 1999 tentang pembagian kawasan kebisingan di sekitar Bandar Udara Sam Ratulangi ManadoOleh sebab itu diperlukan suatu kajian atau penelitian untuk mengetahui secara pasti nilai tingkat kebisingan atau noise rating pada kompleks perumahan di sekitar bandar udara Sam Ratulangi. Sehingga dapat diperoleh suatu gambaran atau peta tingkat kebisingan berdasarkan noise rating tersebut. Demikian juga untuk bangunan rumah di kawasan tersebut diyakini mendapatkan paparan kebisingan yang dapat menimbulkan persepsi negatif dari para penghuninya maka, melalui kuisioner dapat diperoleh tanggapan persepsi dan batasan toleransi para penghuni perumahan terhadap bunyi bising dari pesawat terbang yang dirasakan setiap hari.Tingkat kebisingan yang tinggi dapat mengganggu efisiensi dan produktivitas kerja karena dapat mempengaruhi konsentrasi pikiran, mengganggu waktu istirahat dan waktu tidur. Bahkan efek yang paling dirasakan jika terpapar bising dalam jangka waktu yang lama adalah kehilangan pendengaran atau menjadi tuli. Jika dikaitkan dengan dampak sosial, kawasan perumahan yang terletak pada daerah yang berdekatan dengan sumber kebisingan yang tinggi seperti di kawasan sekitar bandar udara, nilai tanahnya dapat turun bahkan harga jual bangunan rumah pun dapat menjadi sangat rendah.Kata Kunci : Perumahan, Kebisingan, Pesawat Terbang

DIALEKTIKA TEORI RUANG BASUDARA DENGAN LOGIKA RUANG SOSIAL

Waani, Judy O. ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT, Manado )

MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 3 (2014)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.465 KB)

Abstract

Teori ruang basudara adalah teori yang dibangun dari unit informasi, tema-tema dan konsepkonsep. Teori substansi ini, dibangun dari pandangan paradigma dan metode penelitian fenomenologi. Secara ontologi mengacu pada realitas ganda, secara epistemologi mengacu pada subjek objek bersatu dan secara aksiologi menganut keterikatan nilai dan konteks. Berbeda dengan Logika Ruang Sosial yang mengacu pada paradigma rasionalistik yang mengakui realitaskritis, subjek dan objek terpisah serta bebas nilai. Perbedaan ini patut dicermati dengan melakukan dialog teoritik. Secara keilmuan kedua teori ini berada pada rumpun sosial tapi lebih tempat untuk teori ruang Basudara berada pada teori dalam arsitektur dari rumpun sociobehavior spatial.Kata Kunci : Ruang Basudara, Fenomenologi, Socio-behavior Spatial

Sekapur Sirih

Rogi, Octavianus Hendrik Alexander ( Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado )

MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 3 (2014)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.546 KB)

Abstract

-

Page 1 of 1 | Total Record : 7