MEDIA MATRASAIN
ISSN : -     EISSN : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 10, No 2 (2013)" : 7 Documents clear
TINJAUAN “ANALYTICAL SCALE OF PARTICIPATION” TERHADAP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM KEBIJAKAN PENATAAN RUANG DI INDONESIA

Lahunduitang, Johanes D., Warouw, Fela

MEDIA MATRASAIN Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.859 KB)

Abstract

Peran Masyarakat dalam penataan ruang sangatlah vital. Keikutsertaan masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam penataan ruang secara langsung dapat menyukseskan pelaksanaan program. Levels of participation arnstein dapat mengukur kadar partisipasi masyarakat dengan melihat tingkat partisipasi yang disesuaikan dengan jenis penataan ruang yang diselenggarakan. Kajiananalytical scale of participation dan level of satisfaction dapat menjadi salah satu solusi untuk menetapkan tingkat partisipasi masyarakat karena diisamping dapat memberikan gambaran peran masyarakat juga dapat menjadi pertimbangan bagi masyarakat untuk turut serta dalam kegiatan penataan ruang.Keywords : arnstein, doxiadis, komunitas, partisipasi, tata ruang

KARAKTERISTIK ARSITEKTUR MENARA MASJID SEBAGAI SIMBOL ISLAM DARI MASA KE MASA

Sutrisno, Anjar F., Prijadi, Rachmat ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (527.305 KB)

Abstract

Menara Masjid merupakan bangunan yang tinggi menjulang keatas yang merupakan simbol dari peradaban Islam yakni sebagai penanda kehadiran dan keberadaan Islam di suatu tempat. Sebagai bagian dari simbol peradaban, menara dibangun oleh umat Islam karena memiliki fungsi yang amat penting, yakni sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan. Secara umum terdapat lima bentuk dan gaya menara masjid yaitu menara klasik, menara variasi, menara segi empat, menara spiral, dan menara silinder. Sedangkan tipe ciri – ciri menara yang ada di Indonesia antara lain, Menara dengan gaya menarakulkul Bali, Menara yang mendapat pengaruh Portugis, Menara yang mendapat pengaruh Belanda dengan bentuk seperti mercusuar, Menara yang mendapat pengaruh gaya Hadramaut (Arab), dan Menara yang mendapat pengaruh India.Kata Kunci : Menara, Masjid, bentuk.

KEBUTUHAN PENGETAHUAN DAN PEMAHAMAN ARSITEK DARI SUDUT LEGAL FORMAL

Poedjowibowo, Djajeng ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendidikan tinggi Arsitektur diharapkan melahirkan arsitek yang dapat berkarya ditengah masyarakat sesuai dengan kaidah ilmu yang dimiliki dan norma peraturan yang berlaku, khususnya di Indonesia. Pengetahuan akan peraturan yang berlaku merupakan hal yang penting karena hasil karya arsitektur akan berkaitan dengan ijin dan persetujuan dari instansi terkait yang tentu saja acuannya adalah peraturan perundang-undangan yang berlaku.Tulisan ini diambil dari peraturan perundang-undangan yang memuat pengaturan tentang bangunan dan lingkungannya dan menguraikan persyaratan yang harus dipenuhi dari suatu bangunan dan lingkungannya. Persyaratan dan pengetahuan ini diperlukan oleh para arsitek dalam merancang suatu bangunan dan lingkungannya. Pada dasarnya materi yang dipersyaratkan tersebut secara umum sudah pernah didapatkan dibangku kuliah, tetapi bila tidak mengetahui apa yang wajib dibuat/disajikan dan merupakan persyaratan tidak mustahil akan terbuka peluang menghasilkan rancangan yang kurang optimal.Kebutuhan pengetahuan dan pemahaman yang diperlukan untuk suatu perancangan, yaitu:1. Pengetahuan Tentang Tata Bangunan,2. Pemahaman Arsitektur Bangunan Gedung,3. Pengendalian Dampak Lingkungan, dan4. Keandalan Bangunan Gedung.Kata Kunci: peraturan, arsitek, praktek perancangan.

PENDEKATAN KENYAMANAN THERMAL PADA ARSITEKTUR TRADISIONAL

Masarrang, Fennyrian, Rengkung, Joseph ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.282 KB)

Abstract

Artikel ini membahas tentang kenyamanan thermal pada arsitektur tradisional yang merupakan suatu kondisi thermal yang dirasakan oleh manusia tetapi dikondisikan oleh lingkungan dan benda-benda di sekitar arsitekturnya. Pembahaan di mulai dengan melihat standar internasional mengenai kenyamanan thermal yaitu : sensasi thermal yang di alami manusia merupakan fungsi dari 4 faktor iklim yaitu: suhu udara, radiasi, kelembaban udara, kecepatan angin, serta faktor-faktor individu yang berkaitan dengan laju metabolisme tubuh, serta pakaian yang di gunakan.Adapun prinsip dari pada kenyamanan thermal sendiri adalah, teciptanya keseimbangan antara suhu tubuh manusia dengan suhu tubuh sekitarnya. Karena jika suhu tubuh manusia dengan lingkungannya memiliki perbedaan suhu yang signifikan maka akan terjadi ketidaknyamanan yang di wujudkan melalui kepanasan atau kedinginan yang di alami oleh tubuh.Namun dalam perkembangan dan penerapan pada bangunan tradisional, aspek kenyamanan termal dan kekokohan konstruksi tidak dipertimbangkan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk memahami konsep dasar pembentukan arsitektur tradisional ini dalam aspek kenyamanan thermal. Karya tulis ini dibuat yang bertujuan untuk memberikan gambaran bagi masyarakat luas, mahasiswa dan arsitek, agar dapat memahami arti penting kenyamanan termal yang dapat diupayakan melalui arsitektur tradisional.Kata kunci : kenyamanan thermal dan arsitektur tradisional.

IMPLEMENTASI ARSITEKTUR GOTHIK PADA BANGUNAN DI DAERAH TROPIS LEMBAB

Lumunon, Austensean S., Betteng, Luther

MEDIA MATRASAIN Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.424 KB)

Abstract

Tropikalitas dapat dipahami sebagai suatu resultan dari respon-respon manusia untuk hidup beradaptasi dengan iklim tropis. Respon-respon ini sangat evolutif dan kaya akan kemungkinan-kemungkinan sehingga tropikalitas menjadi begitu kompleks dan menarik sebagai suatu titik temu antara tantangan alam dengan tuntutan kualitas hidup manusia. Bruno Stagno dalam artikelnya yang berjudul “Tropicality” mengungkapkan bahwa masyarakat tropis cenderung responsif dan tidak antisipatif terhadap tantangan alam. Mereka cenderung menunggu dan berusaha bertahan dengan beradaptasi dan menjadi kultur yang khas. Isu Tropikalitas juga telah dipahami sebagai suatu konstrain yang tak terhindarkan dalam desain Arsitektur Gothik di daerah Tropis.Langgam Arsitektur di Eropa seperti Arsitektur Gothik tidak bisa begitu saja diterapkan di Indonesia tanpa memperhatikan aspek tropikalitas. Sejalan dengan kultur masyarakat tropis yang adaptatif, maka arsitektur Gothik pun harus dapat beradaptasi sebagai respon terhadap isu tropikalitas. Arsitektur sebagai produk budaya tidak terlepas dari aspek estetika. Demikian juga dengan arsitektur Gothik yang telah sekian lama membentuk wajah kota di beberapa daerah di Indonesia sebagai elemen estetis yang signifikan. Adaptasi langgam Arsitektur Gothik dari Eropa terhadap isu Tropikalitas di Indonesia tentunya menghasilkan bentuk gubahan yang khas dan menjadi elemen yang menarik dalam tinjauan estetika. Salah satu contoh bangunan Arsitektur Gothik era peninggalan jaman kolonial yang signifikan keberadaannya di daerah tropis adalah Gereja Katedral St. Perawan Maria Diangkat Ke Surga, Jakarta karya Pater Antonius Dijkmans di lanjutkan MJ Hulswit dan St. Petrus, Bandung karya W.C.P. Schoemaker. Kedua Bangunan ini telah beradaptasi dengan masalah tropikalitas lewat pemilihan material, kemiringan atap yang tinggi dan bukaan-bukaan berupa jendela dan ventilasi yang menghiasi elemen pelingkup ruang pada bangunan ini.Penelitian ini dengan pembahasan dan studi kasus lapangan ini mau menunjukkan bahwa adaptasi terhadap iklim tropis menghasilkan elemen-elemen desain yang sangat kaya dan berpotensi untuk menjadi elemen unsur – unsur Arsitektur Gothik yang berestetika tinggi, yang terintegras dengan mengimplementasi atau menerapkan pada daerah Tropis.Kata kunci : Implementasi, Arsitektur Gothik, Arsitektur Tropis, Tropis Lembab.

TIPOLOGI FASAD BANGUNAN MASJID DI INDONESIA

Humariah, Siti, Mastutie, Faizah

MEDIA MATRASAIN Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.802 KB)

Abstract

Masjid merupakan bangunan yang penting bagi umat islam karena disanalah tempat segala kegiatan keislaman berlangsung, Masjid adalah tempat bersujudnya makhluk kepada Allah SWT pencipta alam semesta. Penampilan dan isi masjid mencerminkan derajat hubungan manusia dengan Allah SWT, dan antara manusia dengan manusia. Pada umumnya wajah masjid akan bergantung kepada taraf iman manusia, makin tinggi iman maka makin makmurlah masjid itu ataupun sebaliknya.Pengaruh kebudayaan Islam di Indonesia yang begitu beragam telah menghasilkan tipologi fasad bangunan masjid yang berbeda dari berbagai wilayah, dengan mendefinisikan atau mengklasifikasikan objek arsitektural khususnya fasad bangunan masjid, kajian tipologi juga dapat mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi pada suatu objek. Analisa perubahan tersebut menyangkut bentuk dasar objek atau elemen dasar, sifat dasar, fungsi objek serta proses transformasi bentuknya.Kata kunci: Tipologi, Fasad, Masjid.

Sekapur Sirih

Poedjowibowo, Djajeng ( Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT )

MEDIA MATRASAIN Vol 10, No 2 (2013)
Publisher : Program Studi S1 Arsitektur, Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7.721 KB)

Abstract

Page 1 of 1 | Total Record : 7