Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
ISSN : -     EISSN : -
Kuriositas journal specializing in the study of Islamic Studies, and intended to communicate about original research and current issues on the subject. Kuriositas journal is open to contributions of experts from related disciplines.
Articles 121 Documents
نظرية المعرفة؛

Ridwan Thahir, Andi Muhammad, Haq, Islamul

Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 2 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1048.087 KB)

Abstract

يهدف هذا البحث إلى كشف عن نظرية المعرفة من حيث مكانتها وأهميتها في الفكر الفلسفي والصوفي، احتلت نظرية المعرفة مكانة لها أهميتها في الفكر الإنساني فلا تخلو أي مدرسة فكرية سواء كانت فلسفية أم دينية إلا وتكلمت عنها. ففي مجال الفلسفة تعتبر نظرية المعرفة من أهم النظريات وأبرز المباحث الفلسفية أما عند الصوفيين فقد كانت نظرية المعرفة عندهم أيضاً تحتل مكانة ذات أهمية بالغة، إذ أنها تكشف حقيقة السبل التي يسلكها المتصوفة لمعرفة الله، ومعرفة الله عند هؤلاء هي مقياس نباهة الإنسان وسر تفوقه على سائر المخلوقات الأخرى، فكانت درجة المعرفة التي بلغها أي واحد المقياس من الذي ينبأ عن مرتبته في الحياه.

HERMENEUTIKA AL-QUR’AN

M. Ilham, M. Ilham

Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 2 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.685 KB)

Abstract

Secara normatif, al-Qur’an sebagai kitab suci Islam diyakini memiliki kebenaran mutlak, namun pembacaan al-Qur’an sebagai proses penafsiran mengandung kebenaran relatif dan tentatif. Proses penafsiran merupakan respon penafsir ketika memahami sebuah teks, situasi, dan problem sosial yang dihadapi. Karena itu, terdapat jarak antara al-Qur’an dan penafsir. Bagaimana jarak tersebut dapat didekatkan? Artikel ini mencoba untuk menguraikan dengan metode analisis hermeneutik yang dikembangkan oleh Muhammad Shahrour. Berdasarkan analisis tersebut ditemukan bahwa dialektika antara wahyu (teks al-Qur’an), interpreter, dan realitas konteks harus senantiasa difungsikan secara berimbang, mengingat al-Qur’an bukanlah teks “mati”. Kesadaran akan kenyataan bahwa problem manusia terus berkembang dan konteks senantiasa berubah, semantara ayat-ayat al-Qur’an bersifat statis dan jumlahnya pun  terbatas, mestinya mampu menggerakkan manusia untuk senantiasa menjadikan al-Qur’an sebagai mitra dialog dalam memnjawab problem sosial keagamaan yang muncul dewasa ini.

AKULTURASI ISLAM DALAM BUDAYA LOKAL

Al-Amri, Limyah

Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 2 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.328 KB)

Abstract

Pokok permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah bagaimana akulturasi Islam dan budaya lokal di Indonesia. Dengan menggunakan studi teks sejarah. Dalam tulisan ini mengemukakan keberhasilan Islam yang datang dari Arab berhasil berdialog dan diterima dalam lanskap budaya lokal yang telah lama mengakar di Nusantara. Hasil temuannya adalah Islam berhasil memahami setting budaya lokal yang ada dan melakukan internalisasi dalam setting budaya tersebut sehingga eksistensinya dapat diterima oleh masyarakat. Keberhasilan ini tidak terlepas dari pendekatan budaya yang dilakukan oleh pendakwah Islam abad XIII yang melakukan akulturasi budaya Islam dan lokal sehingga menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

ESKATOLOGI DALAM PANDANGAN IBN RUSYD

Muslihin, Muslihin

Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 2 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1145.354 KB)

Abstract

Satu hal yang pasti didunia ini adalah pertanggungjawaban. Kehidupan akhirat adalah kelanjutan dari berakhirnya kehidupan di dunia. Dalam kehidupan akhirat ini, manusia akan mempertanggungjawabkan atas perbuatannya ketika hidup di dunia. Artikel ini bertujuan untuk memaparkan konstruksi eskatologi Ibn Rusyd. Ibn Rusyd adalah tokoh filsuf Muslim yang mencoba untuk membuktikan bahwa antara hikmah (filsafat) dan syariah itu tidak bertentangan menarik untuk dikaji secara lebih mendalam. Dengan kata lain, dialah filsuf yang secara intens mencoba melakukan integrasi ini, yaitu integrasi antara akal dan wahyu. Ibn Rusyd menyelesaikan permasalahan eskatologinya dengan cara kombinasi antara pemikiran filsafat dan wahyu.

SISTEM POLITIK TRADISIONAL, SEJARAH INSTITUSI DAN LEMBAGA POLITIK KABUPATEN BARRU

Zaenong, Andi M. Anwar

Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 2 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (989.236 KB)

Abstract

Politik Tradisional di Kabupaten Barru merupakan satu kesatuan yang ditata dengan sistem konfe-derasi/Passiajingeng bahasa Bugis, semua secara terpadu disebutkan ; Datu ri Tanete, Petta ri Berru sibawa Mallusetasi, Arung ri Soppeng Riaja. Oleh sebab itu, di persimpangan 4 Kota Barru terdapat sebuah tugu dengan di atasnya dipajang 4 pucuk payung kerajaan secara tertutup, sehingga bagi pemerintah tidak disangsikan kepeduliannya tentang sejarah yang melatarbelakangi tegaknya keanekaragaman lembaga politik tradisional di Kabupaten Barru. Itulah berdasarkan institusinya yang berbudaya sebagai sistem lembaga adat berpotensi diberi fasilitas berdiri berdasarkan keputusan raja-raja se Indonesia tgl 29-30 Mei 2007 di Makassar yang menyarankan adanya sistem politik budaya di setiap daerah dan provinsi.

EKSISTENSI DAKWAH AJARAN TAREKAT KHALWATIYAH SAMMAN DI KABUPATEN WAJO

Nurhikmah, Nurhikmah

Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 2 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.061 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih dekat tentang Khalwatiyah sebagaimana digambarkan dalam permasalahan utama penelitian, yaitu adanya daya tarik Khalwatiah di Kabupaten Wajo. Konsep dakwah dan bentuk praktik ajaran Khalwatiyah SAMMAN di Kabupaten Wajo terbentuk dari strategi dakwah, kharisma seorang Khalifah (mursyid) dalam ajaran Khalwatiyah, konsekuensi janji setia (baiat), zikir dilakukan secara konsisten dengan menjadikan khalifah sebagai figur. Faktor pendukung keberhasilan Khalwatiyah menunjukkan eksistensinya di kota Sengkang karena figur Puang Lompo yang merupakan orang tua dari khalifah tertinggi Khalwatiyah di Kabupaten Maros (Patte’ne) yang keberadaannya didukung oleh pemerintah dan semua turunan Khalifah dan pengikutnya. Adapun faktor penghambat eksistensinya dikarenakan penyebaran ajarannya di kabupaten Wajo tidak semassif di tempat lain sehingga berimbas pada minimnya upaya penetrasi yang dilakukan oleh tarekat ini di Kabupten Wajo.

IMPLEMENTASI NILAI-NILAI AJARAN TAU LOTANG TERHADAP MASYARAKAT LOKAL WATTANG BACUKIKI KOTA PAREPARE

Azis, Aminah, Jufri, Muhammad

Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 2 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2041.21 KB)

Abstract

Aspek penting yang dikaji dari penelitian ini adalah pada tataran implementasi nilai- nilai ajaran Tau Lotang dalam masyarakat lokal Wattang Bacukiki Kota Parepare, yang memiliki implikasi penafsiran keagamaan bersifat multikultural yang berperspektif Islam. Penelitian ini tergolong file research dengan jenis penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan menekankan pada tinjauan studi kasus (case studies) melalui model deskriptif kualitatif-holistik, dengan memfokuskan pada pendekatan pendidikan teologis yang berorientasi pada ajaran keagamaan multikultural yang menekankan tinjauan teologis fenomenologis dalam kerangka normatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa bentuk ajaran budaya lokal Tau Lotang dalam masyarakat muslim Wattang Bacukiki Kota Parepare yang telah mentradisi sejak masa lampau dan terwariskan hingga sekarang.

RELASI AGAMA DAN NEGARA

Gunawan, Edi

Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 2 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1703.412 KB)

Abstract

Tulisan ini mengkaji tentang relasi agama dan negara perspektif pemikiran Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana relasi antara agama dan negara dalam pandangan Islam. Metode yang digunakan dalam mendapatkan data adalah metode deskriptif melalui studi kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa diantara tokoh atau pemikir muslim seperti Nurcholish Madjid dan Abdur Rahman Wahid bersepakat bahwa terdapat relasi yang konstruktif antara dua hal yaitu negara dan agama yang oleh kalangan revivalis memisahkannya. Beberapa indikatornya adalah: (1) Islam memberi prinsip-prinsip terbentuknya suatu negara dengan adanya konsep khalīfah, dawlah, atau hukūmah, (2) Islam menekankan pada nilai-nilai demokrasi yakni kebenaran dan keadilan, dan (3) Islam menjunjung tinggi Hak Azasi Manusia (HAM) dengan menetapkan bahwa hak dasar yang dibawa manusia sejak lahir adalah hak kemerdekaan beragama. Karena itu, Islam secara esensial menekankan pentingnya hak asasi manusia untuk ditegakkan dalam sebuah negara, karena hak asasi manusia itu adalah hak yang tidak boleh diganggu dan dirampas dari orang yang memiliki hak tersebut.

HASAN AL-BANNA AL-IKHWAN AL-MUSLIMUN

Musyarif, Musyarif

Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 1 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tulisan ini mengkaji pemikiran Hasan Al Banna yang merupakan pendiri gerakan Ikhwan al Muslimun. Metode yang digunakan dalam mengkaji hasil pemikiranAl Banna adalah kajian literatur (kajian pustaka) melalui buku-buku atau literatur terkait dengan obyek yang diteliti atau dokumen pendukung seperti jurnal dan artikel terkait. Tulisan ini menggunakan studi teks dengan menggunakan paradigma hermeneutika untuk menafsirkan corak pemikirannya. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Ikhwan al-Muslimin dibentuk sebagai wadah perjuangan Hasan al-Banna bersama sahabat-sahabatnya dalam melancarkan risalah dakwah. Konsep dan gerakan Hasan al-Banna adalah semangat jihad yang ditamankan kepada semua aspek kehidupan atas dasar iman

TASAWUF SEBAGAI ETIKA PEMBEBASAN; MEMOSISIKAN ISLAM SEBAGAI AGAMA MORALITAS

Saprin, Saprin

Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan Vol 10 No 1 (2017): Kuriositas: Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Publisher : P3M STAIN Parepare

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memahami hakikat tasawuf sebagai etika pembebasan dan bagaimana memosisikan Islam sebagai ajaran moralitas. Latar belakang penelitian ini adalah adanya ketimpangan akibat kemiskinan spiritual yang telah merasuk ke dalam berbagai aspek kehidupan manusia sebagaimana terlihat secara jelas pada kemerosotan bahkan kebangkrutan moral yang berimplikasi pada krisis yang berakibat pada rapuhnya sendi-sendi kehidupan manusia Metodologi yang digunakan dalam penilitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui studi literature dan pustaka terkait konsep tasawuf dalam Islam dalam hubungannya dengan pembentukan moralitas manusia. Hasil dari penilitian ini menunjukkan bahwa Tasawuf adalah usaha seseorang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin. Awal mula timbulnya ajaran tasawuf bersamaan dengan agama Islam itu sendiri yaitu semenjak peristiwa kerasulan Nabi Muhammad SAW. Sebelum Muhammad diangkat menjadi rasul telah berulang kali melakukan Tahannuts dan khalwat di Gua Hira. Ketika menawarkan tasawuf dalam kehidupan modern bukan sebuah tawaran untuk meninggalkan kehidupan dunia yang praktis, melainkan bagaimana kehidupan dunia yang fana’ dan praktis itu ditujukan sebagai sarana untuk mencapai ridha dan pengabdian pada Ilahi sehingga yang fana’ itu memiliki nilai keabadian, yang keduniawiaan itu memilih dimensi keakhiratan. Dari hasil penelitian penulis menyimpulkan dua hal. Pertama, tasawuf bukanlah sesuatu bentuk eskapisme atau melarikan diri dari kehidupan dunia, melainkan sebuah kezuhudan (asketisme) melepaskan diri dari belenggu duniawi. Kedua, ajaran Islam yang merupakan agama moralitas berfungsi sebagai pelindung yang memberikan keteduhan dan kesejukan serta memiliki ketentraman hidup.

Page 1 of 13 | Total Record : 121