cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
,
INDONESIA
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI)
ISSN : 24422606     EISSN : 2548611X     DOI : -
JBBI, Indonesian Journal of Biotechnology & Bioscience, is published twice annually and provide scientific publication medium for researchers, engineers, practitioners, academicians, and observers in the field related to biotechnology and bioscience. This journal accepts original papers, review articles, case studies, and short communications. The articles published are peer-reviewed by no less than two referees and cover various biotechnology subjects related to the field of agriculture, industry, health, environment, as well as life sciences in general. Initiated at the then Biotech Centre, the journal is published by the Laboratory for Biotechnology, the Agency for the Assessment and Application of Technology, BPPT.
Arjuna Subject : -
Articles 120 Documents
ISOLASI DAN ANALISIS GENISTEIN DARI TEMPE BUSUK MENGGUNAKAN METODE KROMATOGRAFI KOLOM Soetjipto, Hartati; Martono, Yohanes; Yuniarti, Zulfa
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 5, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8416.45 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v5i1.2860

Abstract

Isolation and Analysis of Genistein of Overripe Tempe using Column Chromatography MethodABSTRACTGenistein is one of the aglycone isoflavone compounds in tempe that has various biochemical activities, including anticancer, antitumor, and antioxidants. Commonly used isoflavone extraction methods resulted in isoflavone crude extract. The aim of this study was to isolate the genistein of overripe tempe through determining the appropriate combination of mobile phases in genistein isolation and the determination of genistein content in both crude extract and isolate. The overripe tempe was first extracted, then genistein was isolated from the crude extract using column chromatography method. The determination of mobile phase combination was done by Thin Layer Chromatography while the genistein content was quantitatively determined by using High Performance Liquid Chromatography. The results showed that the appropriate combination of mobile phase for genistein isolation was chloroform : methanol (15 : 1, v/v). Genistein content in the crude extract and isolates were 4737.50 and 31.36 μg/g extract, respectively. The genistein purity in the isolates was 63.80%, while the purity in the isoflavone extract was 31.98%.Keywords: genistein, HPLC, isoflavone, overripe tempe, TLC ABSTRAKGenistein merupakan salah satu senyawa isoflavon aglikon dalam tempe yang memiliki bermacam-macam aktivitas biokimia, diantaranya antikanker, antitumor, dan antioksidan. Metode ekstraksi isoflavon yang umum diterapkan, menghasilkan ekstrak kasar isoflavon yang masih berupa campuran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengisolasi genistein dari tempe busuk melalui tahap penentuan kombinasi fase gerak yang tepat dalam isolasi genistein serta penentuan kandungan genistein baik dalam ekstrak kasar maupun isolat. Tempe busuk mula-mula diekstrak, selanjutnya genistein diisolasi dari ekstrak kasar menggunakan metode kromatografi kolom. Penentuan kombinasi fase gerak dilakukan secara Kromatografi Lapis Tipis, sedangkan kandungan genistein secara kuantitatif ditentukan dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi fase gerak yang tepat untuk isolasi genistein adalah kloroform : metanol (15 : 1, v/v). Kandungan genistein dalam ekstrak kasar dan isolat genistein berturut-turut sebesar 4737,50 dan 31,36 μg/g ekstrak. Kemurnian genistein dalam isolat adalah sebesar 63,80%, sedangkan kemurniannya dalam ekstrak isoflavon adalah sebesar 31,98%. Kata Kunci: genistein, HPLC, isoflavon, tempe busuk, KLT
PERBANYAKAN IN VITRO PISANG KEPOK var. UNTI SAYANG TAHAN PENYAKIT DARAH MELALUI PROLIFERASI TUNAS Imelda, Maria; Wulansari, Aida; Sari, Laela
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 5, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.111 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v5i1.2626

Abstract

In Vitro Propagation of Kepok Banana var. Unti Sayang Resistant to Blood Disease through Shoot ProliferationABSTRACTKepok is a popular banana variety but sensitive to blood disease caused by Ralstonia solanacearum (Smith). The discovery of a natural mutant of Kepok banana var. Unti Sayang from Sulawesi which male bud falls naturally, is a shortcut to bypass the chains of the spread of blood disease, since the disease is transmitted by insects through the wounds of the male buds. The superior mutant needs to be mass propagated and disseminated to endemic areas to inhibit the spread of blood disease. To achieve that goal, an efficient and effective techniques of in vitro shoot proliferation needs to be developed. Shoot proliferation was performed by addition of BAP, thidiazuron and adenine sulphate. The results showed that the best medium for shoot multiplication was B2T5A (MS+2 mg/L BAP+0,5 mg/L TDZ+20 mg/L adenine sulphate), and for shoot growth was B4A (MS+4 mg/L BAP+20 mg/L adenine sulphate). Rooting was induced on MS medium without hormones. Acclimatization of plantlets on mixed soil, compost and husks with a ratio of 1:1:1 resulted in 92,35% survival rate.Keywords: blood disease, in vitro shoot,  male budless, natural mutant, var. Unti Sayang  ABSTRAKPisang kepok merupakan varietas yang digemari tetapi sangat peka terhadap penyakit darah yang ditimbulkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum (Smith). Ditemukannya mutan alami pisang kepok yang jantungnya gugur secara alami yaitu varietas Unti Sayang dari Sulawesi, merupakan jalan pintas untuk memotong rantai penyebaran penyakit darah, mengingat penyakit ini ditularkan oleh serangga melalui luka bekas bunga jantan pada jantung. Mutan unggul tersebut perlu diperbanyak secara massal dan disebarluaskan ke daerah endemik untuk menghambat penyebaran penyakit darah. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu dikembangkan teknik perbanyakan in vitro pisang kepok Unti Sayang yang efektif dan efisien melalui proliferasi tunas. Proliferasi tunas dilakukan dengan penambahan BAP, thidiazuron dan adenin sulfat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media terbaik untuk multiplikasi tunas adalah B2T5A (MS+2 mg/L BAP+0,5 mg/L TDZ+20 mg/L adenin sulfat), media terbaik untuk pertumbuhan tunas adalah B4A (MS+4 mg/L BAP+20 mg/L adenin sulfat). Akar dapat diinduksi pada media MS tanpa hormon. Aklimatisasi planlet pada media campuran tanah, kompos dan sekam dengan perbandingan 1:1:1 menghasilkan 92,35% planlet hidup.Kata Kunci: penyakit darah, tunas in vitro, tanpa jantung, mutan alami, var. Unti Sayang 
GROWTH OF CARP (Cyprinus carpio L.) FED WITH RICE BRAN-COCONUT BAGASSE MIXED SUBSTRATE FERMENTED USING Rhizopus oryzae Dzul Umam, Robby; Sriherwanto, Catur; Yunita, Etyn; Suja’i, Imam
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 2, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (934.308 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i2.513

Abstract

Dedak padi dan ampas kelapa dicampur dengan perbandingan tertentu dan kemudian difermentasi menggunakan Rhizopus oryzae untuk pakan ikan. Uji pemberian pakan lalu dilakukan untuk mengetahui pengaruh pakan terhadap pertumbuhan ikan mas (Cyprinus carpio L.). Dalam penelitian ini digunakan 5 perlakuan: satu perlakuan pakan tanpa fermentasi (pakan komersial 100%), dan empat perlakuan pakan fermentasi substrat campuran bekatul dan ampas kelapa dengan empat perbandingan yang berbeda, yakni 75%:25%, 50%:50%, 25%:75%, dan 0%:100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan komersial 100% (protein sejati 15,25% dan serat kasar 6,27%) memperlihatkan hasil terbaik terhadap pertumbuhan ikan mas dengan pertambahan bobot badan 2,56 g dan rasio konversi pakan 1,95. Sementara itu pemberian pakan fermentasi (protein sejati berkisar 4,89-9,97% dan serat kasar 22,87-25,70%) hanya menghasilkan pertambahan bobot badan ikan pada kisaran 0,47-0,64 g dengan rasio konversi pakan 2,50-2,64. Dengan demikian pakan fermentasi tersebut mampu mendorong pertumbuhan ikan mas meskipun masih kurang optimal dibandingkan dengan pakan komersial.Kata Kunci: Rhizopus oryzae, Cyprinus carpio, rice bran, coconut bagasse, fermentation  ABSTRACTRice bran and coconut bagasse were mixed and then fermented using Rhizopus oryzae for preparing aquafeed. Subsequent feeding test was carried out to determine the effect on the growth of carps (Cyprinus carpio L). Five feeding treatments were employed, one unfermented feed (commercial feed 100%), and the other four feeds produced by fermentation using substrate mixture of rice bran and coconut pulp in four different ratios, namely 75%:25%, 50%:50%, 25%:75%, and 0%:100%. The results showed that feeding 100% commercial feed (true protein 15.25% and crude fibre 6.27%) showed the best results on the fish growth with body weight gain of 2.56 g and feed conversion ratio of 1.95. Meanwhile, feeding fermented feeds (true protein 4.89-9.97% and crude fiber 22.87-25.70%) only resulted in body weight gain in the range of 0.47 to 0.64 g with feed conversion ratio of 2.50 to 2.64. Thus, the fermented feeds promoted growth in tested carps albeit less optimally than commercial feed.Keywords: Rhizopus oryzae, Cyprinus carpio, dedak, ampas kelapa, fermentasi
STUDI POTENSI LIPASE Alcaligenes faecalis UNTUK APLIKASI BIODETERJEN Layly, Ika Rahmatul; Wiguna, Nita Oktavia
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 3, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.601 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i2.40

Abstract

In detergent industry, enzymes are used enormously in terms of quantity and economic value. Lipase catalyzes the hydrolysis of triglycerides into diglycerides and monoglycerides by releasing fatty acids. Lipase is produced by bacteria, fungi, and yeasts. This study aims to determine the potential of Alcaligenes faecalis lipase  for its application  as biodetergen, through stability testing of its lipase activity against detergent components by exposing the enzyme to the commercial detergents, as well as performance testing through washing. Alcaligenes faecalis lipase was produced using Luria Bertani (LB) culture medium supplemented with 1% olive oil inducer. Production is carried out for 24 hours, and the enzyme was harvested at the 18th hour. The harvested enzyme was tested for their stability after being exposed to commercial detergents at a concentration of 1-5%. Results showed that the exposure to the detergents decreased the enzyme activity to 22, 38, 48, 68 and 90%. Performance test showed that the olive oil impurity removal from the fabric was 29%.Keywords: Alcaligenes faecalis Lipase, biodetergent, lipase activities, washing test AbstrakPada industri detergen penggunaan enzim sangatlah besar baik secara jumlah maupun nilai ekonomi. Lipase mengkatalis hidrolisis trigliserida menjadi digliserida dan monogliserida dengan membebaskan asam lemak. Lipase dihasilkan oleh bakteri, jamur, dan yeast. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi lipase Alcaligenes faecalis untuk aplikasi biodeterjen, melalui uji stabilitas aktivitas lipase terhadap komponen deterjen dengan memaparkan terhadap deterjen komersial serta uji kinerja melalui washing test. Lipase Alcaligenes faecalis diproduksi menggunakan media Luria Bertani (LB) dengan penambahan induser minyak zaitun 1%. Produksi dilakukan selama 24 jam dengan waktu pemanenan enzim pada jam ke-18. Enzim yang sudah dipanen diuji stabilitasnya setelah dipapar dengan deterjen komersial pada konsentrasi 1-5%. Berdasarkan hasil pengujian aktivitas setelah dipapar terlihat penurunan aktivitas berturut-turut sebesar 22, 38, 48, 68 dan 90%. Hasil uji kinerja menunjukkan bahwa noda minyak zaitun yang hilang dari kain sebesar 29%.Kata kunci: Lipase Alcaligenes faecalis, biodeterjen, aktivitas lipase, washing test
REVIEW: POTENSI MIKOREMEDIASI LOGAM BERAT Kurniawan, Andri; Ekowati, Nuraeni
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 3, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.458 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i1.21

Abstract

Heavy metals contamination is a main issue which has negative impacts to environment and organisms. Various methods have been developed to reduce such pollutants, including utilization of organisms’ capability in order to minimize the contamination. Mycoremediation is one of remediation process in contaminated environment using fungi and its reduction mechanisms, involving intracellular, as well as extracellular system. There are some species of fungi that are frequently used as remediator agents, for example Aspergillus sp., Fusarium sp., Penicillium sp., Phanerochaete sp., Trichoderma sp. There are some methods that have been used for heavy metal reduction mechanisms such as biosorption, bioaccumulation, bioprecipitation, bioreduction, and bioleaching.Keywords: Mycoremediation, fungi, heavy metal, biosorption, bioaccumulation ABSTRAK Kontaminasi logam berat adalah suatu permasalahan utama yang berdampak negatif bagi lingkungan dan juga makhluk hidup. Berbagai metode telah dikembangkan untuk mereduksi cemaran, termasuk memanfaatkan kemampuan organisme untuk meminimalkan kontaminan tersebut. Mikoredemiasi adalah salah satu proses remediasi cemaran di lingkungan dengan melibatkan fungi beserta mekanisme reduksinya, baik secara intraselular maupun ekstraselular. Beberapa jenis fungi yang sering dijadikan agen remediator antara lain Aspergillus sp., Fusarium sp., Penicillium sp., Phanerochaete sp., Trichoderma sp. Beberapa prinsip yang digunakan untuk menghilangkan logam berat antara lain biosorpsi, bioakumulasi, biopresipitasi, bioreduksi, dan bioleaching. Kata kunci: Mikoremediasi, fungi, logam berat, biosorpsi, bioakumulasi
Preface JBBI Vol 2, No 1, June 2015: Foreword and Acknowledgement Tajuddin, Teuku
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 2, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.227 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i1.1058

Abstract

PENGARUH AUKSIN DAN SITOKININ TERHADAP PERBANYAKAN MIKRO TANAMAN BINAHONG (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) Suparjo, .; Royani, Juwartina Ida; Rosmalawati, Syofi; Tajuddin, Teuku; Riyadi, Ahmad
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 3, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.973 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i2.72

Abstract

EFFECT OF AUXIN AND CYTOKININ ON MICROPROPAGATION OF BINAHONG (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis)Binahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) is known as miraculous medicinal plant for its potential to cure for various kinds of diseases such as diabetes, stabilizing blood pressure and circulation, accelerating wound healing, and preventing stroke. In order to provide high quality seedlings of this medicinal plant continuously in large amount, the study on binahong micropropagation was performed. Plant growth regulators of auxins and cytokinins were applied in single or in combination so as to observe their effect on the growth of binahong explants. The results showed that 2,4-D induced callus formation in large diameter on all treatments. Nevertheless, this plant growth regulator had a negative effect on growth and development of shoot and leaves. In the combination treatments between IAA and BAP, it revealed that the higher the concentration of BAP in the media, the lower the number of leaves initiated on shoot explants. Increasing the concentration of IAA upto 1.5 ppm influenced the increasing of shoot tallness and the number of internodes. Our results can be useful for improving the binahong shoot propagation efficiency, as well as callus culture studies.Keywords: Auxin, cytokinin, callus, micropropagation, medicinal plantABSTRAKBinahong (Anredera cordifolia (Tenore) Steenis) dikenal sebagai tanaman obat ajaib karena dapat digunakan untuk pengobatan berbagai macam penyakit seperti diabetes, melancarkan peredaran dan tekanan darah, mempercepat penyembuhan luka, mencegah stroke. Dalam mendukung ketersediaan bibit tanaman obat herbal yang berkualitas secara berkelanjutan maka dilakukan kajian tentang perbanyakan bibit tanaman binahong. Zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin dalam bentuk tunggal maupun kombinasi diaplikasikan pada penelitian ini untuk melihat pengaruhnya terhadap berbagai eksplan binahong. Hasilnya menunjukkan bahwa 2,4-D merangsang pembentukan kalus dengan ukuran yang besar pada semua perlakuan. Namun demikian zat pengatur tumbuh ini memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan tunas dan daun. Dari perlakuan kombinasi zat pengatur tumbuh IAA dan BAP, pertambahan konsentrasi BAP di dalam media menurunkan jumlah daun yang terbentuk pada eksplan pucuk binahong. Demikian pula dengan pertambahan konsentrasi IAA hingga 1,5 ppm sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan meninggi tunas dan pertambahan jumlah ruas. Hasil dari studi ini dapat dimanfaatkan untuk studi lanjutan dalam meningkatkan efisiensi perbanyakan tunas serta kultur kalus binahong.Kata kunci: Auksin, sitokinin, kalus, perbanyakan mikro, tanaman obat herbal
Front Cover JBBI Vol 4, No 1, June 2017 Sriherwanto, Catur
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 4, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.809 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v4i1.2251

Abstract

PENENTUAN KOMBINASI MEDIUM TERBAIK GALAKTOSA DAN SUMBER NITROGEN PADA PROSES PRODUKSI ETANOL Sunaryanto, Rofiq; Handayani, Berti Hariasih
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 2, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.98 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v2i1.531

Abstract

Ethanol is an important product for biotechnology-based industries. Ethanol can be produced from various raw materials and some types of microbes. Determination of the best combination of galactose with nitrogen sources on ethanol production using Saccharomyces cerevisiae has been done. Combination of galactose at the concentration of 3 g/L and 20 g/L with nitrogen sources (casein, peptone, and urea, each at the concentration of 10g/L) was used to obtain the best composition of fermentation medium. Fermentation was carried out for 60 hours at 30°C, 250 rpm, and working volume of 50 mL in a 250 mL erlenmeyer. The results showed that the galactose concentration of 20 g/L was able to improve the productivity of ethanol and the growth of S. cerevisiae cells. The combination of 20g/L galactose and 10 g/L casein produced the highest ethanol concentration (6% v/v), whereas 20 g/L galactose-10 g/L peptone and 20 g/L galactose-10 g/L urea combinations produced 2.5% and 0.58% (v/v) ethanol, respectively. The use of 3 g/L galactose mixed with several nitrogen sources produced ethanol below 0.7% (v/v). Keywords: Ethanol, galactose, peptone, casein, Saccharomyces cerevisiaeABSTRAKEtanol merupakan salah satu produk penting bagi industri yang berbasis bioteknologi. Etanol dapat dihasilkan dari berbagai macam bahan baku dan beberapa jenis mikroba. Penentuan kombinasi terbaik antara galaktosa dengan sumber nitrogen pada produksi etanol menggunakan Saccharomyces cerevisiae telah dilakukan. Konsentrasi galaktosa 3 g/L dan galaktosa 20 g/L yang dikombinasikan dengan sumber nitrogen dengan konsentrasi 10 g/L dalam hal ini kasein, pepton, dan urea digunakan sebagai perlakuan untuk mendapatkan kombinasi medium sumber karbon dan sumber nitrogen terbaik. Fermentasi untuk menghasilkan etanol dilakukan selama 60 jam pada suhu 30°C, agitasi 250 rpm dengan volume kerja 50 mL dalam erlenmeyer 250 mL. Hasil penelitian menunjukkan penambahan galaktosa dengan konsentrasi sampai dengan 20 g/L mampu memperbaiki produktivitas etanol dan pertumbuhan sel S. cerevisiae. Konsentrasi 20 g/L galaktosa dengan 10 g/L kasein menghasilkan produktivitas etanol paling tinggi yaitu 6%(v/v), konsentrasi galaktosa 20 g/L dengan 10 g/L pepton menghasilkan 2,5% (v/v) etanol dan konsentrasi galaktosa 20 g/L dengan 10 g/L urea menghasilkan 0,58%(v/v) etanol. Penggunaan konsentrasi galaktosa 3 g/L yang dikombinasikan dengan beberapa jenis sumber nitrogen menghasilkan etanol dibawah 0,7% (v/v).Kata kunci: Etanol, galaktosa, pepton, kasein, Saccharomyces cerevisiae
MULTIPLIKASI TUNAS DAN INDUKSI UMBI MIKRO SATOIMO (Colocasia esculenta (L.) Schott) PADA BEBERAPA KONSENTRASI SUKROSA DAN BENZILAMINOPURIN Maretta, Delvi; Handayani, Dwi Pangesti; Rosdayanti, Henti; Tanjung, Armelia
Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia (JBBI) Vol 3, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.75 KB) | DOI: 10.29122/jbbi.v3i2.150

Abstract

Taro or Satoimo (Colocasia esculenta (L) Schott var antiquorum) is an alternative of non-rice food. To support saitomo mass cultivation in several regions in Indonesia, shoot multiplication and induction of satoimo microtuber through in vitro technique is amongst the stage to be undertaken. The aims of this study were to determine the effect of BAP (benzylaminopurine) and sucrose for shoot multiplication and microtuber induction of in vitro culture of satoimo. The experiment was arranged in two factors: BAP (0, 1, 2 and 3 mg/L) and sucrose (30, 60, 90 and 120 g/L). The result showed that the single effect of BAP or sucrose and interaction of both significantly increased the number of shoots. The effect of 2 mg/L BAP was more homogeneous than that of 1 and 3 mg/L BAP. Sucrose with the concentration of 30 g/L was the best concentration for shoot multiplication. The highest number of microtuber was achieved with 2 mg/L BAP + 30 g/L sucrose treatments, but tended to decrease due to increasing sucrose concentration. In 2 and 3 mg/L BAP treatments, the number of microtuber increased along with the increasing sucrose concentration.Keywords: satoimo, in vitro shoot, microtuber, benzylaminopurine, sucrose ABSTRAKSatoimo (Colocasia esculenta (L) Schott var antiquorum) merupakan bahan pangan alternatif non-beras. Untuk mendukung produksi massal satoimo di beberapa wilayah di Indonesia, multiplikasi tunas dan induksi umbi mikro secara in vitro merupakan tahapan yang harus dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh BAP dan sukrosa terhadap multiplikasi tunas dan induksi umbi mikro satoimo dalam kultur in vitro. Perlakuan terdiri dari 4 taraf konsentrasi BAP (0, 1, 2 dan 3 mg/L) dan 4 taraf konsentrasi sukrosa (30, 60, 90 dan 120 g/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa BAP dan sukrosa secara tunggal serta interaksinya berpengaruh nyata terhadap multiplikasi tunas in vitro. Pengaruh konsentrasi BAP 2 mg/L lebih homogen dibandingkan perlakuan BAP 1 dan 3 mg/L. Sukrosa 30 g/L merupakan konsentrasi terbaik untuk multiplikasi tunas. Umbi mikro terbanyak terdapat pada perlakuan BAP 1 mg/L + sukrosa 30 g/L tetapi cenderung mengalami penurunan jika konsentrasi sukrosa dinaikkan pada konsentrasi BAP tetap. Pada perlakuan BAP 2 dan 3 mg/L jumlah umbi mikro yang terbentuk cenderung meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi sukrosa.Kata kunci: satoimo, tunas in vitro, umbi mikro, benzilaminopurin, sukrosa

Page 1 of 12 | Total Record : 120