cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
English and Literature Journal
ISSN : 23550821     EISSN : 25805215     DOI : -
ELITE: English and Literature Journal (Print ISSN: 2355-0821, Online ISSN: 2580-5215) is a peer-reviewed journal devoted specifically to the studies of English linguistics and literature and other literatures with a special emphasis on local culture, wisdom, philosophy and identity. Published twice a year in June and December, the first edition of ELITE was published in 2013. The journal contents are managed by the English and Literature Department, Faculty of Adab and Humanities, Alauddin State Islamic University of Makassar, Indonesia. The primary objective of the journal is to provide a productive forum for lecturers, researchers, authors, graduate students, and practitioners to present results of their recent studies in the areas of English linguistics and literature and other literary traditions. The journal is also intended to help disseminate recent developments in theories, concepts, and ideas in the areas concerned to the academic community of language and literature studies in Indonesia in particular and worldwide in general.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 6, No 1 (2019)" : 7 Documents clear
ENGLISH PRONUNCIATION BASED ON THE PHONETIC TRANSCRIPTION APPLICATION (STUDY OF TOPHONETICS.APP) Yusuf, Faidah
Elite English and Literature Journal Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is about English pronunciation based on the phonetics transcription Application (Study of tophonetics app). The aim of the article is focused to know English pronunciation based on the phonetics transcription by using tophonetics Application. The researcher used a descriptive qualitative method. The samples of this research are ten students, to look for the phonetics transcription by using tophonetics tools and to read the text of phonetics transcription. The writer used the interview as an instrument on this research was to collect the data. The result of this research that the pronunciation of phonetics transcription in English used tophonetics.app the students could be doing easy and understanding to use the app and could improve pronouncing the words better.Keywords: transcription, tophonetics, pronunciation, application, understanding ABSTRAK Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pelafalan bahasa Inggris berdasarkan transkripsi fonetik dengan menggunakan Aplikasi tophonetics. Peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sampel penelitian ini adalah sepuluh siswa, untuk mencari transkripsi fonetik dengan menggunakan alat tophonetics dan membaca teks transkripsi fonetik. Penulis menggunakan wawancara sebagai instrumen dalam penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data. Temuan dari penelitian ini adalah para mahasiswa mencari transkripsi fonetik dengan menggunakan aplikasi tophonetics ini. Hasil penelitian ini bahwa pelafalan transkripsi fonetik dalam bahasa Inggris menggunakan tophonetics. App, para mahasiswa yang membuatnya lebih mudah daripada membuka kamus, mereka dapat melakukan dengan mudah dan memahami untuk menggunakan aplikasi dan dapat meningkatkan pengucapan kata-kata yang lebih baik. Kata kunci: transkripsi, tophonetics, pengucapan, aplikasi, pemahaman             
A MULTIMODAL DISCOURSE OF PROMOTIONAL VIDEO WONDERFUL INDONESIA Ansori, Muhammad; Taopan, Lita Liviani
Elite English and Literature Journal Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed at exploring the ideational and representational meaning of a promotional video Wonderful Indonesia. By applying the Systemic Functional Linguistics and Visual Grammar framework, this study views how the verbal and visual modes construe the meaning in the video. It is concluded that verbal mode contributes to build ideational meaning that intended to promote tourism as well as to persuade the tourists to visit Indonesia. Besides, the visual modes successfully depict both conceptual and narrative representation that are the hospitality of local people, the diversity of culture, the beauty of nature, and the modernity of Indonesia. At the end of the discussion, this study shows how to implement the dynamic modes in the context of English language teaching that will be beneficial for teaching ESP and vocational school. Keywords: Multimodal discourse analysis, ideational meaning, representational meaning, promotional videoABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna ideasional dan representasional dari video promosi Wonderful Indonesia. Dengan menerapkan Linguistik Fungsional Sistem dan bingkai Tata Bahasa Visual, penelitian ini melihat bagaimana mode verbal dan visual menafsirkan makna dalam video. Dapat disimpulkan bahwa mode verbal berkontribusi untuk membangun makna ideasional yang dimaksudkan untuk mempromosikan pariwisata serta membujuk para wisatawan untuk mengunjungi Indonesia. Selain itu, mode visual berhasil menggambarkan representasi konseptual dan naratif yang ramah masyarakat setempat, keanekaragaman budaya, keindahan alam, dan modernitas Indonesia. Pada akhir diskusi, penelitian ini menunjukkan bagaimana menerapkan mode dinamis dalam konteks pengajaran bahasa Inggris yang akan bermanfaat untuk pengajaran ESP dan sekolah kejuruan. Kata kunci: Analisis wacana multimodal, makna ideasional, makna representasional, video promosi 
THE MEANING OF PERFORMATIVE VERBS IN ENGLISH MOVIES Amalia, Rosaria Mita
Elite English and Literature Journal Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 The utterance that contains performative verb explicitly has subject pronominal I, present simple tense, and direct object. The meaning of performative verb contains declarative, representative/assertive, expressive, directive, and commisive meaning.The method used in this research is a descriptive method. According to Djajasudarma (1993 : 8), a descriptive method aims to make descriptions; make pictures, paint  a systematic, factual and accurate picture of the information or data, properties, and phenomena under study. The steps of this research were: (1) literature review, (2) the collection of data, (3) data analysis, and (4) conclusions.The data was taken from conversation on ‘Gladiator’ and ‘A Few Good Man’ Movies. The results show that the performative verbs in the movies are ‘warn’, ‘assume’, ‘admit’ which are categorized into representative/assertive meaning, ‘promise’, ‘bet’, ‘reject’, ‘swear’ whose meanings are commisive,’order’, ‘ask’, ‘advise’, ‘beg’, ‘command’ which have directive meaning, ‘judge’, ‘announce’, ‘declare’ which have declarative meaning, and ‘apologize’, ‘thank’, ‘honor’, ‘salute’ which have expressive meaning. All performative verbs mentioned are found in explicit and implicit performative speech. Keywords: Performative verb, assertive, directive, declarative, commisive, and expressive meaning ABSTRAK Ucapan yang mengandung verba performatif secara eksplisit memiliki ciri; subjek pronominal I,  dalam bentuk present simple tense, dan direct object. Arti verba performatif mengandung makna deklaratif, representatif / asertif, ekspresif, direktif, dan komisif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Djajasudarma (1993: 8), metode deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi; membuat gambar, melukiskan gambaran sistematis dari informasi atau data, sifat, dan fenomena yang diteliti Langkah-langkah penelitian ini adalah: (1) tinjauan literatur, (2) pengumpulan data, (3) analisis data, dan (4) kesimpulan. Data diambil dari percakapan para tokoh dalam film 'Gladiator' dan 'A Few Good Men'. Konversasi yang terjadi dalam film merupakan refleksi terhadap konversasi yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari. Data yang berhasil dihimpun dari kedua film di atas sangatlah cukup dan valid sebagai represntasi penggunaan verba performatif dalam kehidupan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa verba performatif yang ditemukan dalam film-film tersebut adalah warn’, ‘assume’, ‘admit’ yang dikategorikan menjadi makna asertif, ‘promise’, ‘bet’, ‘reject’, ‘swear’ termasuk dalam makna komisif. Selanjutnya adalah verba ’order’, ‘ask’, ‘advise’, ‘beg’, ‘command’ yang termasuk ke dalam kategori direktif. Lalu untuk kategori makna deklaratif ditemukan dalam verba seperti ‘judge’, ‘announce’, ‘declare’, dan verba ‘apologize’, ‘thank’, ‘honor’, ‘salute’ yang memiliki makna ekspresif.Semua verba performatif yang disebutkan ditemukan dalam tindak tutur performatif eksplisit dan implisit. Kata kunci: verba performatif, makna asertif, direktif, deklaratif, komisi, dan ekspresif 
YORUBA CULTURE INFLUENCE INTO CONTEMPORARY STAGE THROUGH WOLE SOYINKA’S THE SWAMP DWELLERS Baihaqi, Muhammad; Yakob, Muhammad
Elite English and Literature Journal Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims to observe the full development of literature on the African continent through special attention to a world-leading literary scholar from Africa, Wole Soyinka with his masterpiece drama the Swanp Dwellers. This paper also explore the history of the greatness of Wole Soyinka who continually nurtured Yoruba cultural traditions through her works. More interestingly, the description of Yoruba culture is not only seen in his works, but also has colored the life of the author himself. Although his mind and personality were influenced by the outside world when he continued his studies in the United Kingdom, his love and love for local cultural traditions, especially Yoruba culture, remained something to be prioritized. The method used is descriptive qualitative by using content analysis approach . The result of the research shown that the Yoruba culture with contemporary stage reflected into swamp dweller drama and had been influenced others cultural  over the whole of Africa till now.Keywords: Yoruba, Wole Soyinka, Swamp Dwellers Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk mengamati secara utuh perkembangan  sastra di benua Afrika melalui perhatian khusus kepada seorang sarjana sastra terkemuka dunia yang berasal dari Afrika  yaitu Wole Soyinka dengan drama terkenalnya the Swamp Dwellers.  Tulisan ini juga akan menelusuri sejarah kehebatan Wole Soyinka yang secara terus menerus menyuburkan tradisi budaya Yoruba melalui karya-karyanya. Lebih menarik lagi penjabaran budaya Yoruba tidak hanya terlihat pada karya-karyanya, namun juga telah mewarnai kehidupan pengarang itu sendiri . Walaupun pikiran dan pribadinya telah dipengaruhi oleh dunia luar sewaktu beliau melanjutkan studinya di United Kingdom, namun cinta dan rasa kasihnya kepada tradisi budaya setempat terutama budaya Yoruba tetap menjadi sesuatu yang harus diutamakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif melalui pendekatan content analisis. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa budaya Yoruba dengan latar kontemporer tergambarkan melalui drama swamp dweller yang ditulis oleh Wole Soyinka dan juga telah mempengaruhi budaya lainnya di afrika hingga saat ini.. Kata kunci: Yoruba , Wole Soyinka, Swamp Dweller
PARTICULARIZATION IN INSIDIOUS 4: THE LAST KEY MOVIE (INDONESIAN SUBTITLE) Istiqomah, Lilik; Nurwidayati, Nurwidayati; Atiqotul, Atatin
Elite English and Literature Journal Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research attempts to find out the translation technique used in Indonesian subtitle, especially for the particularization of “Insidious 4: The Last Key”. This study used descriptive qualitative approach with document analysis since the data consists largely of words. The data source of this study is “Insidious 4: The Last Key” movie. The data are the subtitle of “Insidious 4: The Last Key” movie containing compound- complex sentences taken from www.subscene.com. The finding revealed that they are 53 utterences translated using particularization technique which are divided into 3, they are : (1) Particularization in Word; (2) Particularization in Phrase; and (3) Particularization in Sentence. Particularization in Phrase is divided into 4, that are: (1) Noun Phrase; (2) Verbial Phrase; (3) Prepositional Phrase; and (4) Adverbial Phrase. Keywords: Translation technique, Particularization, SubtitleABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik penerjemahan yang digunakan dalam subtitle film berbahasa Indonesia, terutama untuk partikularisasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis dokumen karena data sebagian besar terdiri dari kata-kata. Data adalah subtitle dari film Insidious 4: The Last Key yang berisi kalimat majemuk yang diambil dari www.subscene.com. Temuan ini mengungkapkan bahwa ada 53 ucapan yang diterjemahkan menggunakan teknik partikularisasi yang dibagi menjadi 3, yaitu: (1) Partikulatisasi dalam kata; (2) Partikulasi dalam Frasa; dan (3) Partikulasi dalam Kalimat. Partikulasi dalam Frasa dibagi menjadi 4, yaitu: (1) Frasa Kata benda; (2) Frasa Verbial; (3) Frasa Preposisi; dan (4) Frasa Adverbia.Kata kunci: Teknik penerjemahan, Partikularisasi, Subtitle
POWER AND IMPOLITENESS IN THE DEVIL WEARS PRADA MOVIE Ratri, Ayu; Ardi, Priyatno
Elite English and Literature Journal Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research examines the types of impoliteness strategies and the purposes of the exercise of power through impolite language in the movie The Devil Wears Prada. This study focuses on two characters, namely Miranda and Emily, who have power relationship in their workplace. The researchers employed qualitative content analysis method. The findings suggest that Miranda used all types of impoliteness strategies. Meanwhile, Emily only used bald on record impoliteness, positive impoliteness, negative impoliteness, and sarcasm or mock politeness. The purposes of Miranda’s exercise of power were to appear as superior, get authority over actions, dominate in a conversation, and to reactivate the power. At the same time, the purposes of Emily’s exercise of power were to appear as superior, to get authority over actions, to emphasize the power hierarchy, and to reactivate the power.Keywords: impoliteness strategies, power, The Devil Wears Prada movieABSTRAKPenelitian ini membahas jenis strategi ketidaksantunan dan tujuan penggunaan kekuasaan melalui bahasa yang tidak santun dalam film The Devil Wears Prada. Fokus penelitian ini pada dua karakter, yaitu Miranda dan Emily, yang memiliki hubungan kekuasaan di tempat kerja mereka. Analisis konten digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Miranda menggunakan semua jenis strategi ketidaksantunan. Sementara itu, Emily hanya menggunakan ketidaksantunan secara langsung (bald on record impoliteness), ketidaksantunan positif (positive impoliteness), ketidaksantunan negatif (negative impoliteness), dan sarkasme atau kesantunan semu (sarcasm or mock politeness). Tujuan Miranda menggunakan kekuasaanya adalah untuk tampil superior, mendapatkan otoritas atas tindakan, mendominasi percakapan, dan untuk mengaktifkan kembali kekuaasaan. Tujuan Emily menggunakan kekuasaannya adalah untuk tampil superior, untuk mendapatkan otoritas atas tindakan, untuk menekankan hierarki kekuasaan, dan untuk mengaktifkan kembali kekuasaan.Kata Kunci: strategi ketidaksantunan, kekuasaan, film The Devil Wears Prada 
A COMPARATIVE STUDY: FITZGERALD’S THE GREAT GATSBY AND WINTER DREAMS THROUGH MARXIST LITERARY CRITICISM Kobis, Dewi Christa
Elite English and Literature Journal Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study discusses about both Fitzgerald’s works entitled The Great Gatsby as a novel (1926) and Winter Dreams (1922) as a short story. These works talk about a man who is originally from low social status but try to pursue his dream to be rich in purpose to get the women that he loves. The purposes of this study are to know the reason of why Gatsby and Dexter eager to be rich and being successful financially, and whether their reasons to be rich relate to economic power and class struggle in the context of Marxist criticism that had been proposed by Karl Marx or not. This also aims to know whether or not American society at that time gave contributions regarding Gatsby’s and Dexter’s action in pursuing their dreams for being rich as what had been depicted by Fitzgerald. This study is a descriptive qualitative study and uses library research and document study. At the end, this study found that both of The Great Gatsby and Winter Dreams that Fitzgerald wrote had the same theme regarding the social status and economic power. Although these two literary works had a difference where Gatsby believed that he would be able to get Daisy when he became rich and Dexter knew that he might not be able to be with Judy because of his low social status, but after all, these works of Fitzgerald both carried a lot of social status and economic power issues which had been highly talked in 1920s.Keywords: The Great Gatsby, Winter Dream, Marxism, American Dream. ABSTRAK Penelitian ini membahas dua karya sastra karya Fitzgerald yang berjudul The Great Gatsby yang merupakan sebuah novel (1926) dan Winter Dreams (1922) yang merupakan cerita pendek. Kedua karya ini menceritakan tentang seorang pria yang sebelumnya berasal dari kalangan kelas ekonomi rendah tapi mencoba untuk menggapai mimpinya untuk menjadi kaya dengan tujuan untuk mendapatkan wanita yang dicintainya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan mengapa Gatsby dan Dexter ingin sekali untuk menjadi kaya dan mapan secara ekonomi, dan apakah alasan mereka untuk menjadi kaya berhubungan dengan kekuasaan ekonomi dan perjuangan kasta dalam konteks kritik Marxist dari Karl Marx atau tidak. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah masyarakat Amerika pada periode tersebut memberikan konstribusi terhadap perlakuan dari Gatsby dan Dexter dalam menggapai mimpi mereka untuk menjadi kaya seperti apa yang digambarkan oleh Fitzgerald. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dan menggunakan penelitian pustaka dan analisis dokumen. Akhirnya, penelitian ini mendapati bahwa The Great Gatsby dan Winter Dreams yang ditulis oleh Fitzgerald mempunyai tema yang sama terkait status sosial dan kuasa ekonomi. Dua karya ini punya sebuah perbedaan dimana Gatsby percaya bahwa dia akan mendapatkan Daisy jika dia menjadi kaya dan Dexter mengethaui bahwa dia tidak akan pernah mampu untuk bersama Judy dikarenakan status sosialnya. Secara spesifik, kedua karya dari Fitzgerald ini sama-sama membawa banyak permasalahan dan isu sosial terkait pengaruh kuasa ekonomi yang banyak diperbincangkan pada tahun 1920an. Kata Kunci: The Great Gatsby, Winter Dream, Marxism, Impian masyarakat Amerika

Page 1 of 1 | Total Record : 7