cover
Filter by Year
Majalah Kesehatan FKUB
Published by Universitas Brawijaya
This journal uses Open Journal Systems 2.4.7.1, which is open source journal management and publishing software developed, supported, and freely distributed by the Public Knowledge Project under the GNU General Public License.
Articles
123
Articles
JUMLAH RERATA TROMBOSIT DAN PLATELETCRIT (MPV DAN PCT) SEBAGAI PREDIKTOR SYOK PADA ANAK YANG TERINFEKSI DENGUE DI RS Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Prameswari, Asri, Iskandar, Agustin, Wafi, Muhammad

Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Trombosit memegang peran penting pada patogenesis demam berdarah dengue (DBD), fungsi utama trombosit adalah pembentukan sumbat mekanik selama respons hemostasis normal terhadap cedera vaskuler. Gangguan pada trombosit baik jumlah maupun fungsi dapat mengakibatkan kebocoran darah spontan melalui pembuluh darah kecil. Jumlah rerata trombosit dan platelet crit (MPV dan PCT) diduga dapat dijadikan sebagai prediktor syok pada anak yang terinfeksi dengue. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah jumlah rerata trombosit dan plateletcrit (MPV dan PCT) dapat dijadikan sebagai prediktor syok pada anak yang terinfeksi dengue di RS. Dr. Saiful Anwar Malang. Penelitian ini menggunakan metode kohort retrospektif dengan pengambilan rekam medis subjek anak yang dirawat dari bulan Januari 2016-April 2017 dengan metode consecutive sampling dan memenuhi kriteria untuk didiagnosis sebagai infeksi dengue. Diperoleh 39 data pasien anak yang terinfeksi dengue dengan rincian 21 sampel syok dan 18 sampel non-syok. Dengan analisis kurva ROC diketahui bahwa  anak yang terinfeksi dengue dengan jumlah trombosit <50.000 mempunyai risiko mengalami syok 2,32 kali lebih besar dengan nilai sensitifitas 44,4% dan spesifitas 90,48%. Pada anak yang terinfeksi dengue dengan nilai MPV >9,7 mempunyai risiko mengalami syok 1,5 kali lebih besar dengan nilai sensitifitas 83,33% dan spesifitas 28,57%. Pada anak yang terinfeksi dengue dengan nilai PCT <0,14 mempunyai risiko mengalami syok 9,52 lebih besar dengan nilai sensitifitas 94,44% dan spesifitas 61,9%. Dapat disimpulkan bahwa MPV dan PCT dapat dipakai sebagai indikator prognosis terjadinya dengue shock syndrome. 

HUBUNGAN MEAN ARTERIAL BLOOD PRESSURE DENGAN KELUARAN PASIEN STROKE TROMBOTIK YANG DINILAI DENGAN SKOR NIHSS

Rahayu, Masruroh, Rakhmani, Alidha Nur, Raisa, Neila, Ar Rahmah, Kurnia Auliyana

Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko stroke. Beberapa penelitian menyatakan peningkatan tekanan darah sistol dan diastol pada stroke iskemik menyebabkan keluaran yang buruk pada pasien stroke. Namun berdasarkan penelitian lain, peningkatan tekanan darah sistemik memiliki efek proteksi sehingga menurunkan tingkat keparahan stroke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mean arterial blood pressure (MABP) dengan keluaran pasien stroke trombotik yang diukur dengan skor Delta National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS). Penelitian ini menggunakan subjek pasien stroke yang dirawat di Stroke Unit RS. Dr. Saiful Anwar Malang selama periode April - Juni 2016 dengan jumlah sample 30 pasien. Kriteria inklusi usia pasien >18 tahun, onset stroke <24 jam, dan diagnosis stroke dengan CT scan kepala sebagai gold standard. NIHSS dan tekanan darah diukur 24 jam pertama sejak terdiagnosis stroke dan NIHSS kembali diukur pada hari 14. Delta NIHSS didapatkan dari NIHSS hari ke 14 dikurangi NIHSS masuk. Penelitian ini menggunakan desain peneltian cross sectional. Berdasarkan hasil analisis didapatkan korelasi yang signifikan antara MABP dengan Delta NIHSS (p = 0,025, r = -0,408) dengan arah korelasi negatif. Semakin tinggi nilai MABP maka akan semakin negatif delta NIHSS. Semakin negatif nilai Delta NIHSS menunjukkan semakin baik klinis dari pasien stroke. Kata kunci: delta NIHSS, MABP, sistol, diastol, stroke.

EFEK PAPARAN SUBKRONIK DEBU VULKANIK GUNUNG KELUD TERHADAP KADAR KOLESTEROL TOTAL TIKUS JANTAN MODEL DIABETES MELITUS

Mayangsari, Elly, Santosa, I Putu Adi, Chikita, Gauca Syadzaiffat

Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penduduk disekitar Gunung Kelud yang memiliki riwayat diabetes mellitus berisiko menghirup debu vulkanik yang bisa menyebabkan stres oksidatif melalui terbentuknya radikal bebas. Pada penderita diabetes melitus, keadaan hiperglikemia memicu terbentuknya radikal bebas. radikal bebas yang terbentuk karena kondisi hiperglikemia dan pengaruh paparan debu vulkanik ini menyebabkan kerusakan pada membran sel hepar dan meningkatkan kolesterol total darah. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pemaparan debu vulkanik Gunung Kelud mempengaruhi peningkatan kadar kolesterol total pada tikus Wistar model diabetes melitus. studi eksperimental menggunakan post-test only control group design dilakukan pada 25 ekor tikus Wistar jantan. Sampel dibagi ke dalam 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan 1, kelompok perlakuan 2, dan kelompok perlakuan 3. Variabel yang diukur adalah kadar kolesterol total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan kadar kolesterol total tikus setelah dipapar debu vulkanik berbeda bermakna (p = 0,049; α = 0,05). Terdapat hubungan yang kuat antara dosis paparan debu vulkanik dengan kadar kolesterol total serum tikus jantan Rattus norvegicus galur Wistar model diabetes mellitus (p = 0,016, r = 0,609). Kesimpulan dari penelitian ini adalah paparan debu vulkanik Gunung Kelud dapat meningkatkan kadar kolesterol total tikus putih model diabetes melitus. 

ASUPAN PROTEIN MEMPENGARUHI TERJADINYA FRAILTY SYNDROME BERDASARKAN FRAILTY INDEX PADA USIA LANJUT DI KOTA MALANG

Haryanti, Tita, Sunarti, Sri, Luqyana, Justicia Puspa

Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Aging atau penuaan merupakan sebuah proses yang merubah seorang manusia dewasa menjadi lanjut usia. Kebanyakan manusia dewasa adalah sehat dan dapat beraktivitas tanpa bantuan siapapun. Lalu, saat berusia lanjut akan mengalami penurunan fungsi fisiologis dan menjadi lebih rentan terhadap berbagai macam penyakit. Frailty syndrome sering dikorelasikan dengan munculnya kondisi patologis pada lanjut usia. Pada penelitian sebelumnya disebutkan bahwa malnutrisi dan imobilitas merupakan kunci dari berkembangnya frailty. Penelitian ini ingin membuktikan adanya hubungan antara pola makan yang dilihat dari asupan protein dengan frailty syndrome di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode case control dengan populasi lansia di Kota Malang. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Frailty syndrome diukur menggunakan frailty index yang berisi 40 item. Asupan protein diukur dalam g/hari dan dalam asupan energi. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang signifikan antara jumlah protein dengan frailty syndrome. Namun, tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan energi dengan frailty syndrome. Kesimpulan penelitian ini adalah asupan protein yang tinggi berhubungan dengan semakin kecilnya kejadian frailty syndrome. Namun, asupan energi tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap angka kejadian frailty syndrome. 

UJI SITOTOKSIK KOMBINASI CISPLATIN DENGAN EKSTRAK ETANOL BENALU ALPUKAT (Dendrophthoe pentandra (L) Miq.) PADA SEL HELA

Mutiah, Roihatul, Suryadinata, Arief, Nurani, Prasasti Swara

Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Benalu alpukat (Dendrophthoe pentandra (L) Miq.) secara empiris telah digunakan sebagai obat antikanker oleh masyarakat Indonesia. Pada penelitian sebelumnya dilaporkan bahwa tanaman tersebut mengandung senyawa kuersetin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar kuersetin dalam ekstrak etanol 96% benalu alpukat dengan menggunakan HPLC (high performance liquid chomatography) dan untuk rnengetahui aktivitas sitotoksik kombinasi cisplatin dengan ekstrak etanol 96% benalu alpukat terhadap sel HeLa. Pengukuran kadar kuersetin dengan HPLC menggunakan kolom C-18 dan fase gerak metanol: air (59:41). Metode yang digunakan untuk uji sitotoksik adalah metode MTT assay. Hasil menunjukkan bahwa kadar kuersetin dalam ektsrak etanol 96% benalu alpukat adalah 0,116% b/v atau 0,029 mg/g bahan dengan waktu retensi 6,98 menit. Ekstrak benalu alpukat menunjukkan aktivitas yang lemah terhadap sel HeLa dengan nilai IC50 1.000±124,68 ppm, namun tidak menutup kemungkinan digunakan sebagai agen ko-kemoterapi dengan cisplatin. Hasil dari kombinasi yang menghasilkan efek sinergis dalam menghambat pertumbuhan sel kanker serviks HeLa adalah kombinasi 125 ppm EBA + 2,974 nM Cis, 125 ppm EBA + 5,95 nM Cis, 125 ppm EBA + 8,925 Cis nM, 250 ppm EBA + 2,97 Cis nM, 250 ppm EBA + 5,95 nM Cis, dan 375 ppm EBA + 11,90 Cis nM.  

TERAPI EKSISI PADA NEUROFIBROMA

Yulian, Inneke, Widiatmoko, Arif, Retnani, Diah Prabawati

Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Neurofibroma dapat tampak sebagai nodul soliter atau dapat merupakan bagian dari neurofibromatosis atau penyakit Von Recklinghausen. Neurofibroma sering dikeluhkan karena alasan kosmetik atau adanya rasa nyeri terbakar dan gatal. Seorang laki-laki 56 tahun mengeluh benjolan di dada sebelah kiri sejak 43 tahun yang lalu. Benjolan awalnya muncul seperti jerawat yang bertambah besar secara lambat dan kadang terasa nyeri jika tersenggol baju sejak beberapa bulan terakhir. Riwayat keluarga ibu dan anak pasien terdapat benjolan yang sama. Pasien memiiki riwayat penyakit epilepsi. Pada pemeriksaan dermatologis didapatkan nodul sewarna kulit, bentuk bulat, batas tegas, diameter 3 mm-7,5 mm pada perabaan didapatkan konsistensi kenyal, mudah bergerak dan tidak terfiksasi dengan jaringan dibawahnya. Tidak didapatkan nodul lisch, freckles pada ketiak maupun tanda cafe-au lait. Pada pasien dilakukan tindakan bedah eksisi atas indikasi rasa tidak nyaman pada pasien. Pemeriksaan histopatologi jaringan hasil eksisi dengan pewarnaan HE  dan imunohistokimia S100 menunjukkan gambaran sesuai dengan suatu neurofibroma. Neurofibroma dapat tumbuh secara invasif. Pada lesi yang mengganggu secara kosmetik sering dilakukan terapi pembedahan. Modalitas terapi pembedahan untuk menghilangkan neurofibroma bergantung pada tipe, lokasi, ukuran tumor. Modalitas terapi dapat dipilih  bedah eksisi, bedah listrik maupun reseksi.  Pada kasus ini dipilih modalitas terapi bedah eksisi pada neurofibroma. Hasil terapi  setelah satu bulan menunjukkan hasil yang baik. Tidak tampak adanya gambaran skar hipertrofik 

PENINGKATAN EKSPRESI LAMININ NAMUN TIDAK VE-CADHERIN PADA SAWAR DARAH OTAK SETELAH INFEKSI Mycobacterium tuberculosis INTRAPULMONALIS

Widayati, Aris, Wulandari, Laksmi, Riawan, Wibi

Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 3 (2018): Majalah Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tuberkulosis merupakan  masalah kesehatan utama di dunia. Pada tahun 2016, WHO menemukan angka kejadian TB kurang lebih 10,4 juta, dan untuk Indonesia dilaporkan sebesar 156.723 kasus. Meskipun penyebaran Mycobacterium tuberculosis di susunan saraf pusat tercatat hanya 1%, namun memiliki tingkat kecacatan dan kematian yang tinggi, sehingga menuntut adanya tatalaksana yang efektif untuk mengatasinya. VE-chaderin dan laminin merupakan protein adhesin yang berfungsi mengendalikan permeabilitas pembuluh darah dan mempertahankan integritas blood brain barrier, sehingga kedua protein adhesin tersebut dapat menjadi salah satu target terapi tuberkulosis otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek paparan M. tuberculosis secara inhalasi terhadap ekspresi laminin dan VE-chaderin pada sel endotel blood brain barrier. Penelitian ini menggunakan mencit Balb/c  (Mus musculus) yang diinfeksi oleh M.tuberculosis strain H37Rv secara inhalasi. Jaringan otak diperiksa menggunakan metode imunohistokimia dengan  antibodi mt-38, antibodi VE-chaderin dan laminin. Hasil penelitian menunjukkan adanya invasi M. tuberculosis pada  mikroglia jaringan otak mencit, diiketahui juga adanya peningkatan ekspresi laminin, sedangkan VE-chaderin tidak menunjukkan adanya perubahan. Proses masuknya M. tuberculosis ke otak diduga terjadi melalui proses diapedesis atau melalui peningkatan ekspresi laminin tanpa perubahan pada VE-chaderin dan reseptor laminin diduga sebagai tempat berikatan yang memungkinkan bakteri tersebut masuk ke jaringan otak. 

KORELASI KLINIS PASIEN TENDINITIS KALSIFIK BAHU DENGAN HASIL X-RAY DAN ULTRASONOGRAFI DI RSUD Dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Nasir Aslam, Achmad Bayhaqi, PW, Yuyun Yueniwati

Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas penggunaan modalitas ultrasonografi dan X-ray dalam mengevaluasi ukuran dan fase kalsium pada tendinitis kalsifik bahu dan mengkorelasikan dengan hasil pemeriksaan klinis berupa skor Constant dan Visual Analog Scale (VAS). Sebanyak 14 pasien (usia 58,6±9,74 tahun, 73% perempuan) mengalami kalsifikasi tendon bahu. Tingkat nyeri pasien diklasifikasikan sebagai tidak nyeri (0), ringan (1-3), sedang (4-7), dan berat (8-10). Kemampuan aktivitas sehari-hari  diklasifikasikan bertingkat sebagai buruk (< 60), adekuat (61-70), memuaskan (71-80), baik (81-90), dan sangat baik (91-100). X-ray bahu AP eksorotasi dan endorotasi dilakukan pada bahu yang simptomatis. Ultrasonografi bahu difokuskan pada rotator cuff. Kalsifikasi yang ditemukan diklasifikasikan menjadi fase formatif dan resorptif, ukurannya dibagi menjadi kecil, sedang, dan besar. Fase dan ukuran kalsium dikorelasikan dengan VAS dan skor Constant. semua kalsium tampak pada ultrasonografi, 3 (19,7%) diantaranya tidak tampak pada X-Ray. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rerata yang bermakna secara statistik antara ukuran, fase kalsium pada ultrasonografi dan X-ray dengan skor Constant (p > 0,231). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara temuan radiologis dengan derajat penurunan kemampuan aktivitas sehari-hari. 

DIOCTAHEDRAL SMECTITE MEMPERPENDEK DURASI DIARE KRONIK PADA ANAK

Wibowo, Satrio, Primawardani, Putri

Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak  Diare kronik merupakan salah satu masalah saluran cerna tersering pada anak yang dialami oleh sekitar 3–20 % anak dari seluruh episode diare pada balita adalah diare khronis. Diare kronik ditandai dengan diare yang berlangsung lebih dari 2 minggu. Dioctahedral smectite merupakan adsorben yang dipakai luas dalam pengobatan diare pada anak. Ia mampu mengabsorbsi toksin, bakteri dan rotavirus, serta mencegah perlekatannya pada membran usus. Dioctahedral smectite juga bermanfaat memperkuat barrier mukosa usus dan ketika tidak ada mukus mencegah kerusakan mukosa usus. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti manfaat dioctahedral smectite dalam memperpendek masa diare pada anak dengan diare khronis. Seratus empat puluh lima dari anak dengan diare kronis yang dirawat di RS Dr. Saiful Anwar Malang pada bulan Januari 2012 – Desember 2016 dievaluasi dalam penelitian ini. Pasien dengan darah dan parasit pada hasil  feses lengkap dikeluarkan dari penelitian. Terdapat 45 pasien yang memenuhi kriteria inklusi.  Pasien dibedakan menjadi 2 kelompok, yang mendapatkan dioctahedral smectite (14 pasien) dan yang tidak (31 pasien), kemudian dilakukan perbandingan lama diare antara dua kelompok. Rata-rata lama diare pada pasien yang mendapatkan dioctahedral smectite lebih pendek daripada yang tidak, dan lama diare ini berbeda secara bermakna (p < 0,05). Dioctahedral smectite dapat menurunkan durasi diare pada anak dengan diare kronik.  

PENGARUH KARAKTERISTIK LESI TERHADAP ADEKUASI AMBILAN SAMPEL SITOLOGI PADA TINDAKAN BIOPSI JARUM HALUS TRANSTORAKAL-TUNTUNAN USG

Erawati, Dini Rachma

Majalah Kesehatan FKUB Vol 5, No 2 (2018): Majalah Kesehatan Fakultas Kedokteran
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Biopsi transtorakal untuk lesi perifer memerlukan tuntunan modalitas radiologi dalam pengambilan sampel sitologi.  Ultrasonografi (USG) menjadi modalitas pilihan dalam menuntun prosedur biopsi tersebut. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh karakteristik lesi terhadap adekuasi ambilan sampel sitologi pada tindakan biopsi jarum halus transtorakal dengan tuntunan ultrasonografi. Sebanyak26 pasien dengan lesi paru perifer ditentukan karakteristik lesi berdasarkan posisi, ukuran lesi yang menempel dinding dada, bentuk, ekhogenitas, komponen dominan  dan vaskularisasi lesi, lalu dilakukan biopsi jarum halus transtorakal dengan tuntunan USG. Ambilan sampel sitologi yang adekuat ditentukan dengan laporan analisis sitopatologi oleh ahli patologi. Uji bivariat dilakukan antara karakteristik lesi dengan adekuasi ambilan sampel sitologi yang dituntun USG. Didapatkan 12 (46%) pasien posisinya di anterior, 13 (50%) pasien memiliki ukuran 2 - 5 cm, 22 (84,6%) pasien memiliki bentuk tepi membulat reguler, 20 (76,9%) pasien memiliki ekhogenitas hipoekhoik tanpa bintik hiperekhoik dan 20 (76,9%) pasien terdeteksi adanya vaskularisasi intralesi dengan £ 2 pembuluh darah. Sampel sitologi yang adekuat didapatkan pada 22 (84,6%) dari 26 pasien, termasuk satu pasien dengan lesi berukuran kecil (< 2 cm). Tidak ada komplikasi pasca prosedur pada seluruh pasien. Dapat disimpulkan bahwa karakteristik lesi dengan adekuasi ambilan sampel sitologi dengan tuntunan USG tidak memiliki hubungan yang signifikan. Namun, USG tetap merupakan modalitas radiologi pilihan sebagai penuntun tindakan biopsi transtorakal untuk lesi perifer dengan keberhasilan yang cukup baik, bahkan untuk lesi berukuran kecil (< 2 cm).