cover
Filter by Year
MUDRA
Mudra: The Cultural and Arts Journal is dedicated to the best representation of Indonesian culture and arts from various perspectives. As the link of exchange knowledge and experience, Mudra provides oppurtunities to world scholar and the recearchers communities, who are focused in culture and arts studies as well as the practices of arts
Articles
106
Articles
Pemuliaan Tanaman Padi melalui Pertunjukan Wayang Kulit dalam Upacara Bersih Desa di Geneng, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah

Sutiyono, Sutiyono, Rumiwiharsih, ., Suharjana, Bambang

Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pemuliaan tanaman padi melalui pertunjukan wayang kulit lakon Dewi Sri dalam upacara Bersih Desa. Pendekatan penelitian yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di Geneng, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah dari bulan Mei   hingga September  2017. Sebagai subjek penelitian adalah masyarakat petani Desa Geneng,  sesepuh Desa Geneng, dalang wayang kulit, pengrawit, jurukunci makam, penjual makanan, dan peziarah. Cara pengumpulan data ditempuh  dengan: observasi, dokumentasi, studi pustaka, dan wawancara. Data penelitian dianalisis dengan tahapan: koleksi data, reduksi data, pemeriksaan data, dan penarikan kesimpulan. Untuk mengetahui keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa: (1) Tata cara pemuliaan tanaman padi adalah dengan mengadakan upacara Bersih Desa meliputi pembersihan manusia dan lingkungan secara  fisik dan batin di Desa geneng yang disertai doa berssama,  (2) Tata cara pemuliaan tanaman padi adalah dengan mempresentasiknan Lakon Dewi Sri dalam pertunjukan wayang kulit, yang mengisahkan bahwa kehidupan manusia sangat tergantung pada kehidupan Dewi Sri yang memberi kesejahteraan umat manusia.This study aims to describe the form of rice plant breeding through shadow puppet  performing art  in Bersih Desa ritual. The research approach used is qualitative approach. The research was conducted in Geneng, Trucuk, Klaten, Central Java from May to September 2017. As the research subjects were farmers of Geneng Village, Geneng village elders, puppeteer puppeteers, pengrawit, jurukunci graves, food vendors, and pilgrims. Data collection is done by: observation, documentation, literature study, and interview. Research data is analyzed by stages: data collection, data reduction, data examination, and conclusion. To know the validity of data is done with triangulation. The expected result of this research is the form of rice plant breeding through wayang kulit kulit play Dewi Sri in Clean Village ceremony is a cultural activity consisting of: (1) Procedure of rice plant breeding is to conduct a physical and mental cleansing ceremony in Geneng Village accompanied by a prayer together, (2) The procedure of rice plant breeding is by presenting Dewi Sri in the wayang kulit show, which tells us that human life is very dependent on the life of Dewi Sri giving the welfare of mankind.

Implementasi Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Menggambar Realis pada Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Ponorogo

Regina, Belinda Dewi

Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Ponorogo merupakan salah satu sekolah di Ponorogo yang mana mengajarkan gambar realis dalam mata pelajaran Seni Budaya. Berdasarkan wawancara dengan guru dan beberapa siswa bahwa prestasi belajar menggambar realis cenderung lebih rendah dibandingkan materi pelajaran Seni Budaya yang lain seperti menggambar kartun. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku anak yang selalu membuat kesal para guru saat pembelajaran berlangsung. Sebagian besar siswa tidak tertarik terhadap pembelajaran ini disebabkan rasa jenuh dan kurangnya kemampuan mereka dalam menggambar. Melihat fenomena seperti yang dipaparkan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian “Implementasi Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Menggambar Realis pada Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 1  Ponorogo”. Tujuan penelitian ini (1) Mendiskripsikan proses Implementasi Metode Eksperimen untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Menggambar Realis pada Siswa SMPN 1Ponorogo. (2) Mendiskripsikan seberapa besar perbedaan penggunaan metode Eksperimen dengan metode pembelajaran sebelumnya untuk meningkatkan prestasi belajar menggambar realis pada siswa SMPN 1 Ponorogo. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara, angket dan studi dokumentasi. Dengan jumlah siswa kelas VIII B 25 siswa yang terdiri dari 17 putri dan 8 putra, metode eksperimen menggunakan siklus I dan siklus II, didapatkan nilai rata-rata siklus I : 81,8, dan siklus II : 85,6. Dengan menggunakan metode eksperimen membuktikan adanya peningkatan nilai sebanyak 3,8. Dalam hal ini peneliti menemukan bahwa dengan menggunakan metode eksperimen untuk pembelajaran menggambar realis dapat meningkatkan prestasi belajar dibandingkan metode yang digunakan sebelumnya yaitu metode diskusi.State Junior High School 1 Ponorogo is one of the schools in Ponorogo that teaches realist images in Arts and Culture subjects. Based on interviews with teachers and some students that learning achievement of realist drawing tends to be lower than other subjects of Arts and Culture such as drawing cartoons. This is indicated by the behavior of children who always upset the teachers while learning takes place. Most students are not interested in this learning due to their saturation and lack of ability in drawing. Seeing the phenomenon as described above, researchers are interested to conduct research "Implementation of Experimental Methods to Increase Achievement of Realist Drawing Learning at Junior High School Students 1 Ponorogo". The purpose of this research (1) to describe the process of Implementation of Experimental Method to Increase Achievement of Realistic Drawing Learning on Junior High School Students 1 Ponorogo. (2) to describe how much difference of experiment method use with previous learning method to improve learning achievement of realist drawing on students of SMPN 1 Ponorogo. This research is a Classroom Action Research with qualitative descriptive approach. Data collection techniques are conducted through observation, interviews, questionnaires and documentation studies. With the number of students of class VIII B 25 students consisting of 17 daughters and 8 sons, the experimental method using cycle I and cycle II, obtained the average value of cycle I : 81.8, and cycle II : 85.6. Using the experimental method proves an increase in value of 3.8. In this case the researchers found that by using the experimental method for realist drawing learning can improve learning achievement than the method used previously is the method of free copyrights.

Davedan Show Di Amphi Theatre Nusa Dua Bali

Ruastiti, Ni Made, Parmi, Ni Wayan, Suryani, Ni Nyoman Manik, Sudiana, I Nyoman

Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Artikel ini disusun dari hasil penelitian yang bertujuan untuk dapat memahami pertunjukan Davedan Show di Amphi Theatre Nusa Dua Bali. Penelitian ini dilakukan karena adanya ketimpangan antara asumsi dan kenyataan di lapangan. Pada umumnya wisatawan yang datang ke Bali hanya senang dan antusias menonton seni pertunjukan pariwisata berbasis seni budaya lokal saja. Tetapi kenyataan ini berbeda. Walaupun Davedan Show tidak dibangun dari seni budaya lokal saja, tetapi kenyataannya wisatawan sangat senang menonton pertunjukan tersebut. Pertanyaannya: bagaimanakah bentuk pertunjukan Davedan Show tersebut?; mengapa wisatawan senang menonton pertunjukan itu?; apa implikasinya bagi pelaku, masyarakat, dan industri pariwisata di Nusa Dua, Bali?. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, khususnya implementatif partisipatoris yang mengutamakan kerjasama antara periset dengan para informan terkait. Sumber data penelitian ini adalah pertunjukan Davedan itu sendiri, pihak manajemen, para penari, penonton, hasil-hasil penelitian yang telah ada sebelumnya. Seluruh data yang telah dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, FGD, dan studi kepustakaan itu dianalisis secara kritis dengan menggunakan teori estetika postmodern, teori praktik, dan teori relasi kuasa pengetahuan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Davedan Show disajikan dalam bentuk oratorium. Hal itu dapat dilihat dari cara penyajian, koreografi, dan iringan pertunjukannya. Davedan Show yang menampilkan tema Treasure of The Archipelago, membuka gerbang petualangan baru itu diiringi musik rekaman etnik Nusantara secara medley, berkelanjutan dengan struktur pertunjukan: seni budaya Bali, Sumatra, Sunda, Solo, Kalimantan, dan seni budaya Papua; (2) Davedan Show banyak diminati wisatawan manca negara karena penciptaan pertunjukan itu dilatari oleh ideologi pasar, ideologi estetika, dan ideologi budaya Nusantara; (3) Hingga kini Davedan Show berkembang secara berkelanjutan di Nusa Dua Bali karena berimplikasi positif pada ekonomi para pihak terkait, pengayaan bagi seni pertunjukan daerah setempat, dan identitas bagi kawasan wisata Nusa Dua, Bali.This article was compiled from the research results that aimed to understand the Davedan Show at Amphi Theater Nusa Dua, Bali. This research was conducted due to the imbalance between the assumption and the reality in real life. Generally, tourists visiting Bali are more excited and enthusiastic to watch the tourism performing arts that are based on local traditional art and culture. However, the reality is different. The questions are: how is the form of the Davedan show?; why do the tourists enjoy watching the show ?; what are the implications for the performer, the society, and the tourism industry in Nusa Dua, Bali?. This research applied qualitative research methods, especially the participative implementation that prioritized cooperation between the researchers and the related informants. The data sources of the research were the Davedan show, management, dancers, audiences, and similar research results produced by previous researchers. All data that had been collected by observation, interview, FGD, and literature study were then analyzed with aesthetic postmodern theory, theory of practice, and theory of power relationship. The results showed that: (1) Davedan Show was presented with the concept of a new presentation in the tourism performing arts in Bali. It could be seen from the material, the form, the way of presentation, and the management of the show. Davedan Show, presenting the theme of Treasure of the Archipelago and opening the new adventure gate, was accompanied by ethnic music recordings of the archipelago in a medley then continued with the performance structures of: Balinese, Sumatran, Sundanese, Solo, Borneo and Papuan art and culture; (2) Davedan Show attracted many foreign tourists because the show was based on the existence of market, aesthetic, and cultural ideologies of the archipelago; (3) Currently, Davedan Show has developed in Nusa Dua, Bali sustainably because of its positive implications to the economics aspect of the stakeholders, the enrichment of Balinese performing arts, and the identity of Nusa Dua tourism area of Bali.

Inovasi Aplikasi Media Pembelajaran Tari Bali Berbasis Android

Widiastuti, Ni Made Dian

Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tari Bali sebagai seni yang cukup populer di masyarakat dengan jumlah peminat untuk mempelajarinya terus bertambah. Bertambahnya peminat tidak diimbangi dengan jumlah media yang ada untuk membantu proses pembelajarannya, mengingat bahwa belajar tari Bali tidak mudah dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda pada setiap tariannya dan waktu yang diperlukan tidak sedikit. Bagi masyarakat modern yang dinamis tidak semua orang memiliki waktu khusus untuk belajar tari di sanggar, sehingga diperlukan teknologi atau media pembelajaran yang praktis sebagai alternatif dalam belajar tari Bali. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) spesifikasi produk aplikasi media pembelajaran tari Bali berbasis android, (2) proses pengembangan media pembelajaran tari Bali berbasis android dengan mengambil materi tari Cendrawasih. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) dengan model pengembangan yang digunakan sebagai acuan yaitu model Four-D oleh Thiagarajan (1974). Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam proses penelitian ini adalah dengan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) produk yang dikembangkan berupa aplikasi pembelajaran tari Cendrawasih yang disajikan kedalam smartphone berbasis android dengan sajian materi secara bertahap mulai dari deskripsi, ragam gerak tari, hingga kuis (2) proses pengembangannya yang telah dilakukan saat ini menggunakan tahapan define, design, develop. Kegiatan define dengan menentukan masalah yang terjadi, design merancang materi ataupun tampilan media, dan develop adalah mewujudkan hasil rancangan kedalam bentuk nyata.Balinese Dance is popular art in the community with the number of enthusiasts to learn it continues to grow. Increased interest is not matched by the amount of media available to aid the learning process, considering that learning Balinese dance is not easy with different difficulty levels in each dance and the time required is not small. For the dynamic modern society not everyone has a special time to learn dance in the studio, so it takes technology or practical learning media as an alternative in learning Balinese dance. This study aims to describe (1) the specification of application of Balinese dance-based dance learning media, (2) the process of developing Balinese dance based learning media by taking Cendrawasih dance material. This research uses research and development method or Research and Development (R & D) with the development model used as a reference that is Four-D model by Thiagarajan (1974). Data collection techniques used in this research process is by observation and interview. The result of research shows that (1) the product developed in the form of Cendrawasih dance learning application which is presented into android based smartphone with gradual material presentation starting from description, dance variety, to quiz (2) development process which has been done now using define stage, design, develop. Activities define by determining the problem that occurs, design material or media display, and develop is to realize the results of the design into the real form.

Onomatopoea sebagai Pembuka Signifikasi Teks dalam Komik Tintin Petualangan Tintin Penerbangan 714 ke Sidney versi Terjemahan Bahasa Indonesia

Ardianto, Deny Tri, Susanto, Dwi, Mataram, Sayid

Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Komik Tintin memperlihatkan onomatopoea yang dimanfaatkan untuk memperjelas makna. Onomatopoea memberikan “celah” sebagai pembuka makna teks dengan melihat gagasan yang lain dalam teks. Pembacaan yang dilakukan atas onomatopoea adalah pembacaan dekonstruksi. Masalah utama dari hal itu adalah apakah makna dalam teks dengan mendasarkan pada bagian terpinggir dari teks seperti onomatopoea. Objek material dari tulisan ini komik terjemahan dari Tintin edisi Petualangan Tintin Penerbangan 714 ke Sidney. Objek formalnya adalah makna dari teks Tintin. Data yang digunakan adalah onomatopoea dalam teks, gagasan yang muncul dari teks, isi cerita dan lain-lain. Teknik interpretasi data dilakukan dengan mendasarkan pada prosedur pembacaan dekonstruksi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa onomatopoea menjadi pembuka makna teks melalui serangkaian oposisi seperti onomatopoea versus narasi teks, onomatopoea versus visual, dan narasi teks versus visual. Onomatopoea mengikat sekuen sebelum dan sesudahnya dan meluruhkan narasi teks serta visual yang “tidak penting” disekitar onomatopoea. Gagasan interteks yang muncul adalah melanjutkan proyek rasionalisme, bias kolonial dan keunggulan ras, serta meluruhnya gagasaan tersebut melalui kritik atas materialisme. Hal itu ditunjukkan melalui teks-teks petualangan, konflik ideologis, hingga hero yang super seperti pada era Romantisme Eropa.Tintin comic utilizes onomatopoeia to clarify meaning. Onomatopoeia gives a "window" as an opening to the meaning intended in the text by relating to other context in it. Onomatopoeia reading is a deconstructive reading. The main problem of this type of reading is whether the meaning in the text is based on the marginalized part of the text such as onomatopoeia. The material object of this paper is a comic translation of Tintins Adventure entitled Tintin Flight 417 to Sidney. The formal object of this paper is the meaning of the text in the comic. The data of this research are onomatopoeia in the text, ideas that arise from the text, and the content of the story. Data interpretation technique was conducted according to deconstruction reading procedure. The results show that onomatopoeia clarify the meaning of the text through a series of oppositions such as onomatopoeia versus text narrative, onomatopoeia versus visual, and text narrative versus visual. Onomatopoeia binds the previous and following sequences and sheds the "unecessary" visuals and narrative texts around it. The intertextual ideas that arise are issues related to rationalism, colonial bias and racial superiority, and the dissolve of those ideas due to criticisms of materialism. These are shown through the texts of adventure, ideological conflict, and super hero characteristics like commonly presented in the era of European Romance.

Rekontekstualisasi Estetika Hindu ‘Rasa’ Dalam Desain Arsitektural

Noorwatha, I Kadek Dwi

Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas proses rekontekstualisasi estetika Hindu ‘rasa’ dalam desain arsitektural kekinian. Metodenya adalah kajian perpustakaan (library research) dengan pendekatan hermeneutik dalam menginterpretasikan objek penelitian berupa teks estetika Hindu, maupun komparasinya dengan keilmuan desain arsitektural. Literatur utamanya mengacu ke Kitab Natyashastra oleh Bharata Muni dan proses rekonstekstualisasinya menggunakan analogi dramaturgikal (Attoe, 1979) dan manifestasi ‘rasa’ ke seni visual dan arsitektur (Shetty dan Bhoosan, 2017) dan (Verma dan Gupta, 2015). Hasil penelitian menunjukkan bahwa estetika Hindu khususnya teori ‘rasa’ relevan dikembangkan ke dalam keilmuan desain arsitektural kekinian. Relevansi tersebut bukan semata kesesuaian istilah semata, namun juga kesesuaian dengan materi pokok kelimuan desain arsitektural seperti bentuk, penciptaan spasial, konteks arsitektural sebagai tuntutan desain arsitektural kekinian.This paper aims to discuss the process of recontextualization of Hindu aesthetics taste in contemporary architectural design. The method is library research with hermeneutic approach on interpreting the Hinduism aesthetics text, as well as comparation with the science of architectural design. Its main literature refers to the Book of Natyashastra by Bharata Muni and its recontextualization process using dramaturgical analogies (Attoe, 1979) and  the manifestations of the ‘rasa’ to the visual and architectural arts (Shetty and Bhoosan, 2017) and (Verma and Gupta, 2015). The results show that rasa theory of Hindu aesthetics is relevant to developed into the contemporary architectural design. Relevance is not merely the conformity of the term alone, but also in conformity with the subject matter of architectural design such as science, form, spatial creation, architectural contexts as the present architectural design demands.

Karya Cipta Pertunjukan Wayang Perjuangan Sebagai Penguatan Pendidikan Bela Negara

Sunardi, ., Kuwato, ., Sudarsono, .

Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tulisan ini mengungkap tentang pertunjukan wayang perjuangan sebagai penguatan pendidikan bela negara bagi masyarakat Indonesia. Dua persoalan penting yang dibahas yakni: (1) bentuk karya cipta pertunjukan wayang perjuangan; dan (2) fungsi pertunjukan wayang perjuangan bagi masyarakat Indonesia. Bentuk karya cipta pertunjukan wayang perjuangan dikaji dengan konsep estetika wayang, adapun fungsi pertunjukan dikupas dengan teori fungsi kesenian. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa karya cipta pertunjukan wayang perjuangan dibangun berdasarkan beberapa unsur, di antaranya seniman, garap lakon wayang, dan boneka wayang. Pada sisi lain, pertunjukan wayang perjuangan memiliki fungsi sebagai penguatan pendidikan bela negara bagi masyarakat Indonesia.This paper reveals the wayang perjuangan performances as the strengthening of state defense education for the people of Indonesia. Two important issues are discussed, namely: (1) the form of wayang perjuangan performance; and (2) the function of wayang perjuangan for the Indonesian people. The form of wayang perjuangan studied with the aesthetic concept of wayang, while the performance function is analyzed with the theory of art function. The results of the discussion show that the works of wayang perjuangan are built based on several elements, among them artists, working on wayang plays, and puppets. On the other hand, the wayang perjuangan performance has a function as the strengthening of state defense education for the people of Indonesia. 

Nilai-nilai Filosofis Didaktis, Humanistis, dan Spiritual dalam Kesenian Tradisional Macapat Masyarakat Bali

Suarta, I Made

Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami nilai-nilai filosofis didaktis, humanistis, dan spritual yang terkandung di dalam kesenian tradisional macapat pada masyarakat Bali. Telaah kesenian tradisional macapat dapat dikatakan sebagai aktivitas kebudayaan yang mempunyai fokus penting untuk mengetahui identitas masyarakat, partisipasi, serta eksistensi suatu peradaban masyarakat. Pada dasarnya, tembang macapat tidak berbicara dengan dirinya sendiri dan menyuarakan dirinya sendiri. Ia berhadapan dan menyuarakan kompleksitas kehidupan kultural masyarakat Bali. Oleh karena itu, macapat mengandung nilai-nilai filosofis (didaktis, humanistis, dan spiritual) di dalamnya, sehingga menjadikannya sebagai wacana sosial dan terlibat secara tidak langsung dalam dinamika interaksi sosio-kultural pada masyarakat Bali. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif yang beranjak dari pendekatan fungsional terhadap seni bersastra tradisional Bali. Sumber data dalam penelitian diklasifikasikan menjadi dua, yaitu sumber data primer (sumber data yang berasal langsung dari subjek) dan skunder (sumber data berasal dari buku/ teks/ kitab/ literature). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan studi kepustakaan. Langkah analisis data ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode ini dilakukan dengan menggunakan beberapa langkah operasional, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Ketiga tahapan tersebut saling berinteraksi dan memiliki koneksi, berawal dari pengumpulan data dan berakhir pada penarikan simpulan. Nilai didaktis yang terdapat di dalam tembang macapat mengajarakan manusia tentang pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk menjadi manusia yang bermoral dan beretika. Ajaran humanis dalam tembang macapat memberikan pedoman dan petunjuk kepada manusia bahwa menjalani kehidupan di dunia harus selalu mematuhi norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat. Gotong royong, persaudaraan, persahabatan, dan kerukunan adalah nilai-nilai humanisme yang terdapat dalam tembang macapat. Nilai-nilai spiritual yang terdapat dalam tembang macapat adalah mengajarkan manusia untuk selalu melaksanakan ajaran agama untuk mendapatkan keseimbangan sekala dan niskala.This study aims to understand the didactic, humanistic, and spiritual philosophical values embodied in the traditional art of macapat in Balinese society. The study of traditional arts macapat can be regarded as a cultural activity that has an important focus to know the identity of society, participation, and the existence of a civilization society. Basically, tembang macapat not speak to himself and voice himself. He confronts and voices the complexity of Balinese cultural life. Therefore, macapat contains philosophical (didactic, humanistic, and spiritual) values in it, thus making it a social discourse and indirectly involved in the dynamics of socio-cultural interaction in Balinese society. This research uses descriptive qualitative research design that moved from the functional approach to traditional Balinese literature. Sources of data in the study are classified into two, namely primary data sources (source data derived directly from subject) and secondary (source data comes from books / text / books / literature). Data collection methods used are observation and literature study. Step analysis of this data is done by using descriptive qualitative method. This method is done by using some operational steps, namely data reduction, data presentation, and conclusion drawing. These three stages interact and have a connection, starting from data collection and ending in drawing conclusions. The didactic value contained in the tembang macapat teaches people the importance of education and science to become moral and ethical human beings. Humanist teachings in tembang macapat provide guidance and guidance to humans that live life in the world must always adhere to the norms prevailing in society. Gotong royong, brotherhood, friendship, and harmony are the values of humanism contained in tembang macapat. Spiritual values contained in the tembang macapat is to teach people to always implement the teachings of religion to get the balance sekala and niskala.

Wayfinding Sign pada Ruang Pameran Tetap di Museum Nasional Indonesia – Jakarta

Kusuma, Heru Budi

Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Wayfinding atau orientasi topografi, merupakan kemampuan menentukan lokasi, menemukan tempat dalam fasilitas gedung. Sebagai media penunjuk arah, Wayfinding Sign yang diterapkan pada ruang pameran tetap belum memenuhi kebutuhan yang dapat memberikan informasi yang cukup, mengenai arah mana yang harus dituju untuk mencapai area tertentu, warna-warna yang tercantum dalam panel informasi pun tidak memberikan arti tertentu. Permasalahan pada Wayfinding Sign pada ruang pameran tetap yang dianalisis meliputi: Ukuran; dimensi tanda yang proporsional terhadap luas area dimana tanda tersebut berada,sehingga memungkinkan tanda tersebut dapat mudah terlihat. Warna; berkaitan dengan warna pada tanda telah sesuai peruntukannya dan memperhatikan warna disekitar tanda berada. Kontras; berkaitan dengan estetika tanda yang dominan terhadap kondisi disekitar tanda sehingga tanda tampak eksistensinya. Intensitas; berkaitan terhadap sesuatu yang dapat memberikan stimulus sehingga menarik perhatian terhadap tanda. Posisi ; berkaitan dengan perletakan tanda yang memperhatikan jangkauan penglihatan pengunjung yang mengarah ketempat tanda tersebut berada. Untuk memfokuskan penelitian dan menemukan hubungan antara satu data dengan data yang lain, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data hasil observasi, pengukuran, deskripsi, dan analisis data dengan teknik Triangulasi Data diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Directional Sign; menggunakan tanda ‘warna’ yang tidak ada hubungannya dengan lokasi lantai ruang pameran dan nuansa warna ruangan yang ditunjukan, dan terdapat sign yang menginformasikan arah yang tidak tepat. Informational Sign; tanda yang memberikan informasi tentang materi koleksi yang didisplay dalam ruang pameran tetap, sudah sesuai dan efektif. Identificational Sign; perletakannya yang tidak tepat sehingga menggangu kenyamanan pengunjung dalam membaca informasinya dan membuat posisi membaca yang tidak sehat dan aman.Wayfinding or topographic orientation, is the ability to determine the location, find a place in a building facility. As a signpost, Wayfinding Sign that is applied to the exhibition space still does not meet the needs that can provide enough information, on which direction should be addressed to reach a certain area, the colors contained in the information panel did not give a certain meaning. Problems with Wayfinding Sign on fixed exhibition space analyzed include: Size; dimensional marks proportional to the area in which they are located, allowing them to be easily visible. Color; related to the color on the mark has been appropriate designation and pay attention to the color around the mark resides. Contrast; related to the aesthetics of the dominant sign to the condition around the sign so that the sign appears its existence. Intensity; relates to something that can provide a stimulus that draws attention to the mark. Position; relating to the marking placement that takes into account the visibility of the visitor leading to where the mark is located. To focus the research and find the relationship between one data with other data, then this research using qualitative research method. Data result of observation, measurement, description, and data analysis with Data Triangulation technique obtained conclusion as follows: Directional Sign; using a color sign that has nothing to do with the floor location of the exhibit hall and the color tone of the room shown, and there is a sign that informs the improper direction. Informational Sign; a sign that provides information about the collection material displayed in a fixed exhibit space, is appropriate and effective. Identificational Sign; inappropriate placement so as to interfere with the comfort of visitors in reading the information and create an unhealthy and safe reading position.

Celeng Ngelumbar Metafor Penambangan Eksploitatif Pasir

Setem, I Wayan, Sukerta, Pande Made, Kusomo, Sardono W, Marianto, Dwi M

Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Aktivitas penambangan eksploitatif pasir di Kecamatan Selat telah memicu peningkatan pertumbuhan sektor ekonomi, namun masyarakat tampaknya tidak pernah sadar dengan dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Fenomena penambangan eksploitatif pasir tersebut menjadi thema dan subject matter kekaryaan. Dari pengamatan mendalam pengkarya mendapat pemahaman dan insight yang menjadi pemicu proses kreatif. Problimatikanya dinyatakan ke dalam bentuk bahasa rupa menggunakan metode penyangatan/hiperbola. Untuk mewujudkan kekaryaan mengunakan metode pendekatan dan langkah-langkah kreatif melalui tahapan terstruktur, spontan dan intuitif. Metode ini telah menghasilkan elaborasi yang unik dari semua komponen imajirial sehingga melahirkan gagasan dan metafor yang kreatif. Karya-karya dibuat atau digagas di studio dan pindahkan ke, atau dirangkai di sekitar wilayah areal penambangan. Hubungan antara lokasi presentasi dan masyarakat mampu menjadi sebuah kekuatan tersendiri karena sesuai dengan konteks persoalan. Target kekaryaan tidak hanya sebagai ekspresi individual yang terbatas pada persoalan estetika namun menjadi cara atau alat untuk menyebrangkan (mengkampanyekan) isu lingkungan. Penciptaan seni adalah sebagai modus yang mampu untuk menginspirasi masyarakat agar tergugah secara kolektif maupun individual untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian eco-system.The exploitative sand mining in Selat District contributed to the economic growth; however, the local people were never aware that it had caused the environment to be degraded. The phenomenon of the exploitative sand mining is used as the theme and subject matter of an art creation. From what was observed by the artist, an insight into something contributed to a creative process. The problem was reflected in the form of language using the method of hyperbole. The art creation was created using the structured, spontaneous and intuitive creative steps and method which led to a unique elaboration of all the imaginary components and a creative metaphor and concept. The creation was designed in a studio before it was moved to or arranged around the mining area. The relation between the location of presentation and people could become a specific strength as it was in accordance with the context of the subject matter. The target of the art work did not only constitute an individual expression which was limited to the matter of common aesthetics but it was also used as the way of and the tool for transmitting (campaigning) an environmental issue. The art creation could be used to inspire people, as individuals and groups, to participate in the attempt made to preserve the eco-system