cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
MUDRA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Mudra: The Cultural and Arts Journal is dedicated to the best representation of Indonesian culture and arts from various perspectives. As the link of exchange knowledge and experience, Mudra provides oppurtunities to world scholar and the recearchers communities, who are focused in culture and arts studies as well as the practices of arts
Arjuna Subject : -
Articles 124 Documents
Onomatopoea sebagai Pembuka Signifikasi Teks dalam Komik Tintin Petualangan Tintin Penerbangan 714 ke Sidney versi Terjemahan Bahasa Indonesia Ardianto, Deny Tri; Susanto, Dwi; Mataram, Sayid
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33, No 2 (2018): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1401.717 KB) | DOI: 10.31091/mudra.v33i2.349

Abstract

Komik Tintin memperlihatkan onomatopoea yang dimanfaatkan untuk memperjelas makna. Onomatopoea memberikan “celah” sebagai pembuka makna teks dengan melihat gagasan yang lain dalam teks. Pembacaan yang dilakukan atas onomatopoea adalah pembacaan dekonstruksi. Masalah utama dari hal itu adalah apakah makna dalam teks dengan mendasarkan pada bagian terpinggir dari teks seperti onomatopoea. Objek material dari tulisan ini komik terjemahan dari Tintin edisi Petualangan Tintin Penerbangan 714 ke Sidney. Objek formalnya adalah makna dari teks Tintin. Data yang digunakan adalah onomatopoea dalam teks, gagasan yang muncul dari teks, isi cerita dan lain-lain. Teknik interpretasi data dilakukan dengan mendasarkan pada prosedur pembacaan dekonstruksi. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa onomatopoea menjadi pembuka makna teks melalui serangkaian oposisi seperti onomatopoea versus narasi teks, onomatopoea versus visual, dan narasi teks versus visual. Onomatopoea mengikat sekuen sebelum dan sesudahnya dan meluruhkan narasi teks serta visual yang “tidak penting” disekitar onomatopoea. Gagasan interteks yang muncul adalah melanjutkan proyek rasionalisme, bias kolonial dan keunggulan ras, serta meluruhnya gagasaan tersebut melalui kritik atas materialisme. Hal itu ditunjukkan melalui teks-teks petualangan, konflik ideologis, hingga hero yang super seperti pada era Romantisme Eropa.Tintin comic utilizes onomatopoeia to clarify meaning. Onomatopoeia gives a "window" as an opening to the meaning intended in the text by relating to other context in it. Onomatopoeia reading is a deconstructive reading. The main problem of this type of reading is whether the meaning in the text is based on the marginalized part of the text such as onomatopoeia. The material object of this paper is a comic translation of Tintins Adventure entitled Tintin Flight 417 to Sidney. The formal object of this paper is the meaning of the text in the comic. The data of this research are onomatopoeia in the text, ideas that arise from the text, and the content of the story. Data interpretation technique was conducted according to deconstruction reading procedure. The results show that onomatopoeia clarify the meaning of the text through a series of oppositions such as onomatopoeia versus text narrative, onomatopoeia versus visual, and text narrative versus visual. Onomatopoeia binds the previous and following sequences and sheds the "unecessary" visuals and narrative texts around it. The intertextual ideas that arise are issues related to rationalism, colonial bias and racial superiority, and the dissolve of those ideas due to criticisms of materialism. These are shown through the texts of adventure, ideological conflict, and super hero characteristics like commonly presented in the era of European Romance.
Visualisasi Identitas Islam Dalam Komunitas Virtual Palanta Urang Awak Minangkabau Franzia, Elda; Piliang, Yasraf Amir; Saidi, Acep Iwan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31, No 2 (2016): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i2.26

Abstract

Palanta Urang Awak Minangkabau merupakan salah satu komunitas virtual masyarakat etnis Minangkabau yang terbentuk di jejaring sosial Facebook. Komunitas virtual ini terbentuk sehagai ruang berkumpul dan bercakap di dunia maya, yang diperuntukkan untuk memupuk persaudaraan bagi masyarakat Minangkabau di mana pun berada. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah atau adat yang berlandaskan agama Islam dan Al Qur’an dideklarasikan sebagai identitas etnis masyarakat Minangkabau. Sebagai identitas etnis, nilai-nilai Islami menjadi landasan kehidupan pribadi dan sosial. Penelitian ini clilakukan untuk memahami bentuk-bentuk visualisasi identitas Islam yang terwujud di ruang virtual khususnya dalam komunitas Palanta UrangAwak Minangkabau. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan cultural studies dan metode analisis semiotik. Penggunaan tanda-tanda visual menjadi wujud visualisasi identitas Islam dalam ruang virtual jejaring sosial. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan dokumentasi virtual foto profil anggota komunitas Palanta Urung Awak Minangkabau, untuk mengidentifikasi identitas Islam yang muncul di dalam komunitas virtual tersebut. Hasil penelitian menunjukkan ragam tanda visual yang digunakan untuk membentuk identitas Islam melalui foto profil anggota komunitas virtual Palant Urang Awak Minangkabau di jejaring sosial Facebook.
Komodifikasi Seni Lukis Wayang Kamasan Sebagai Produk Industri Kreatif Penunjang Pariwisata Mudana, I Wayan; Ribek, Pande Ketut
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32, No 1 (2017): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i1.83

Abstract

Komodifikasi merupakan proses yang tidak hanya berhubungan dengan bagaimana produksi menjadi produk massa, tetapi juga berhubungan bagaimana produk tersebut dapat didistribusikan ke pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Seni lukis wayang Kamasan merupakan fenomena komodifikasi dan industri kreatif yang menarik untuk dikaji secara kritis dengan pendekatan culture studies untuk mengetahui keinginan pariwisata. Sebagai alat analisis digunakan teori teori komodifikasi. Metode yang digunakan mengkaji penelitan komodifikasi adalah metode kritis yang bersifat emansipatoris, melibatkan pelukis,dan pelaku bisnis (industri pariwisata). Hasil penelitian ini; (1) produksi seni lukis wayang Kamasan sudah terjadi pengkaburan makna dari makna simbolik menjadi makna ekonomi, keos (brecolage), dan menjadi produksi massa, (2) distribusi seni lukis wayang Kamasan di pasar sangat dinamis, selain untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal tetapi juga pasar global berupa produk kreatif. (3) konsumsi seni lukis wayang Kamasan tidak hanya oleh masyarakat lokal sebagai persembahan, tetapi juga oleh pariwisata sebagai souvenir
Sesolahan Barong Kadengkleng dalam Upacara Ngaben di Desa Pakraman Munggu, Desa Serampingan, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan Sudarma, I Putu
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31, No 1 (2016): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i1.244

Abstract

Umat Hindu di Bali hampir setiap hari melaksanakau  berbagai  yadnya.  Salah satu di antara yadnya yang dilaksanakan terdapat upacara ngaben. Upacara ini diselenggarakan sebagai penghormatan  keluarga kepada mendiang.  Penghormatan  dilakukan  berdasarkan  atas  keyakinan  bahwa orang  yang  meninggal  atmanya tidak pernah mati, akan tetapi tetap hidup di alam yang tidak nyata. Di samping  itu diyakini bahwa jika leluhurnya  dalam  keadaan  babagia,  beliau  juga akan berusaha  membantu  membahagiakan  keturunannya yang masih hidup. Upacara   ngaben terutama di Desa Pakraman Munggu  Tabanan  tidak bisa dipisahkan dengau berbagai perlengkapan saraua upacarauya.  Salah satu di antara saraua yang unik, yaitu pertunjukkau Barong Kadengk/eng. Barong ini selalu dipentaskan di desa pakraman ini ketika dilaksanakan ritual ngaben pada tingkatan madya ke atas. Bentuk seso/ahan Barong Kadengkleng  dalam ritual ngaben disertai dengan daeng dari pihak keluarga mendiaug.  Pertunjukkannya  dilaksanakan  sehari sebelum upacara ngaben dimu­ lai dari depan pintu  masuk rumah mendiang  kemudian  dilanjutkan  ke   perbatasan  jalan  Desa  Pakraman Munggu dan berakhlr di depan bale adat tempat jenazah disemayarnkan. Ditinjau dari fungsinya, sesolahan Barong Kadengkleng memiliki dua fungsi, yaitu fungsi religius dan fungsi pengawal. Dalam fungsi religius, yaitu setiap pertunjukkan  Barong Kadengk/eng  menggunakan  sesajen  dan hanya dipertunjukkan  berkaitan dengan ritual ngaben, sedangkan dalam fungsinya sebagai pengawal, yaitu membantu menangkal dan  mengawal pengembalian  unsur-unsur  pancamahabhuta  dan atma ke asalnya.Hindus in Bali  carry out various yadnya almost every day. One of the yadnya is cremation ceremony. The ceremony was held as a ttibute to the deceased family. The tribute is conducted  based on the belief that the souls of those who have passed away  never die, but are still alive in the other unreal world. In addition, it is believed that if his ancestors are in happiness, they will also try to help and make their offspring who are still alive happy. Cremation ceremony especially  in  Munggu  Pakraman Village Tabanan can not be sepa­ rated from various  equipment of ceremony. One among the unique equipments, namely the performance of Barong Kadengkleng. This Barong is always perfomed in this Pakraman Village when there is a cremation ceremony at intermediate  levels and above. The form of  Barong Kadengk/eng  dance in the cremation ritual is accompanied  by Daeng from the family of the late. The show was held the day before  the cremation ceremony  started from the front entrance of the house of the late and then proceed  to the border road of Munggu Pakraman Village and ended up in front of the bale adat where the body is laid . Judging from its function, the dance of  Barong Kadengkleng  has two functions, namely the religious function and escorting functions.  In a  religious  function,  ie  every  performance   of  Barong  Kadengkleng   uses  offerings   and performed  only with regard to cremation  ritual, while in its escorting  function  namely helping  deter and escort the return of elements of pancamahabhuta  and the soul  to its origin.
Designing The Elderly Janger Dance Model In Tonja Village Denpasar Ruastiti, Ni Made
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31, No 3 (2016): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i3.58

Abstract

The Elderly ./anger Dance (EJD) is a type of performing that particularly designed for elderly people, initially from its choreography, costume and makeup, or even its musical accompaniment. This performing is significantly created as those elderly people are offered a performing art model that is not suitable to their physical condition.Several problems arose during its process of creation, choreography, and the tempo, costume makeup, duration and their condition while performing the dance. It results to their disinterest on art participation. Therefore, this research is aimed at solving the problem on the improper of the art-performing model for those elderly people. This research is conducted in Tonja village, Denpasar by considering the adequateness of number and art potential of this area.The designing ofthis performing model is carried out through applying the participatory-implemented method. It focuses on the cooperation between researchers and the related parties started from socialization-planned model, implementation model until the trial model.Based on the whole stages of designing model on EJD, it is produced outputs as follows: EJD Model, activities report, article, lesson module, and HKI. Through this dance creation, those elderly are passionate again to participate on art. Simultaneously, it will affect their health quality improvement through art activity.Keywords: Performing- model design, Choreography, Outlook/make up and costume, musical accompaniment, Elderly Janger Dance (EJD)
Understanding Visual Novel As Artwork of Visual Communication Design Pratama, Dendi; Gunarti, Winny; Akbar, Taufiq
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32, No 3 (2017): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i3.177

Abstract

Visual Novel is a kind of audiovisual game that offers visual strength through the narrative and visual characters. The developer community of Visual Novel (VN) Project Indonesia indicated a limited local game developer that produces Visual Novel of Indonesia. In addition, Indonesian Visual Novel production was also more influenced by the style of anime or manga from Japan. Actually, Visual Novel is part of the potential of  creative industries products. The study is to formulate the problem, how to understand Visual Novel as artwork of visual communication design, especially among students? This research is a case study conducted on visual communication design student at the University Indraprasta PGRI Jakarta. The results showed low levels of knowledge, understanding, and experience of  the Visual Novel game, which is below 50%. Qualitative and quantitative methods combined with structural semiotic approach is used to describe the elements of the design and the signs structure at the Visual Novel. This research can be a scientific reference for further introduce and encourage an understanding of Visual Novel as artwork of Visual Communication Design. In addition, the results may add to the knowledge of  society, and encourage the development of Visual Novel artwork that  reflect the culture of Indonesia.Visual Novel adalah sejenis permainan audiovisual yang menawarkan kekuatan visual melalui narasi dan karakter visual. Data dari komunitas pengembang Visual Novel (VN) Project Indonesia menunjukkan masih terbatasnya pengembang game lokal yang memproduksi Visual Novel Indonesia. Selain itu, produksi Visual Novel Indonesia juga lebih banyak dipengaruhi oleh gaya anime dan manga dari Jepang. Padahal Visual Novel adalah bagian dari produk industri kreatif yang potensial. Studi ini merumuskan masalah, bagaimana memahami Visual Novel sebagai karya seni desain komunikasi visual, khususnya di kalangan mahasiswa? Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan terhadap mahasiswa desain komunikasi visual di lingkungan Universitas Indraprasta PGRI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan masih rendahnya tingkat pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman terhadap permainan Visual Novel, yaitu di bawah 50%. Metode kombinasi kualitatif dan kuantitatif dengan pendekatan semiotika struktural digunakan untuk menjabarkan elemen desain dan susunan tanda yang terdapat pada Visual Novel. Penelitian ini dapat menjadi referensi ilmiah untuk lebih mengenalkan dan mendorong pemahaman tentang Visual Novel sebagai karya seni Desain Komunikasi Visual. Selain itu, hasil penelitian dapat menambah pengetahuan masyarakat, dan mendorong pengembangan karya seni Visual Novel yang mencerminkan budaya Indonesia.
Preservation and Development Strategies of Gorontalo’s Local Culture through Gorontalo Cultural Digital Repository Application Mulyanto, Arip; Latief, Mukhlisulfatih; Rohandi, Manda; Supriyadi, S
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31, No 3 (2016): September
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i3.43

Abstract

This study aims to implement a strategy of preservation and development of Gorontalo’s local culture through a web based application that can store and display the digitizing results of Gorontalo’s local culture called “Gorontalo cultural digital repository". The Gorontalo cultural digital repository provides information about the cultures in Gorontalo such as the mores, dances, historic sites and Gorontalo’s cultural artifacts in the form of video, images and text. The method used in this research is applied method withresearch procedures by: 1) Exploration, is to identify and analyze the data of local Gorontalo’s culture that covers Gorontalo’s mores, dances historic sites and Gorontalo’s cultural artifacts. 2) The development of Gorontalo cultural digital collection, which digitize the identification and analysis result of Gorontalo’s local culture. 3) Gorontalo Cultural Digital Repository application development. From the result of the research found: 1) Exploration the mores of Gorontalo consist of four important aspects, namely customarywelcoming guests, traditional coronation, marriage customs and funeral customs. There are more or less 20 historic sites located in Gorontalo. There are four dances that are usually performed in the customary celebration in Gorontalo.
Kalosara di Kalangan Masyarakat Tolaki di Sulawesi Tenggara Amiruddin, .; Suardika, I Ketut; Anwar, .
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32, No 2 (2017): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i2.111

Abstract

Pendidikan pada dasarnya berbasis sosial budaya berupa kegiatan pembelajaran yang didasarkan pada unsur-unsur budaya yang ada pada masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan: (1) untuk menganalisis fungsi kalosara dalam masyarakat Tolaki, (2) untuk mendeskripsikan fungsi kalosara sebagai media etnope- dagogik dalam pengembangan karakter bangsa. Metode penelitian digunakan etnografi dengan pendekatan fenomenologis. Data dikumpulkan melalui studi pustaka, pengamatan, dan wawancara. Hasil analisis menunjukkan bahwa kalosara merupakan sumber dari segala adat-istiadat Orang Tolaki. Kalosara sebagai adat pokok dapat digolongkan ke dalam 5 cabang, yaitu: (1) sara wonua, yaitu adat pokok dalam pemerin- tahan; (2) sara mbedulu, yaitu adat pokok dalam hubungan kekeluargaan dan persatuan pada umumnya; (3) sara mbe’ombu, yaitu adat pokok dalam aktivitas agama dan kepercayaan; (4) sara mandarahia, yaitu adat pokok dalam pekerjaan yang berhubungan dengan keahlian dan keterampilan; dan (5) sara monda’u, mom- bopaho, mombakani, melambu, dumahu, meoti-oti, yaitu adat pokok dalam berladang, berkebun, beternak, berburu, dan menangkap ikan. Ada empat fungsi kalosara, yaitu: (1) ide, (2) focus dan pengintegrasian unsur-unsur kebudyaan, (3) pedoman hidup, serta (4) pemersatu. Fungsi kalosara sebagai media etnopeda- gogik merupakan praktek pendidikan berbasis kearifan lokal dalam berbagai ranah seperti pengobatan, seni bela diri, lingkungan hidup, pertanian, ekonomi, pemerintahan, dan sistem penanggalan. Melalui media kalosara, maka pengetahuan, nilai, dan keterampilan berbasis sosial budaya Tolaki dapat tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat sebagai pengembangan karakter bangsa.
Inovasi Bentuk Lukisan Wayang Kamasan Mudana, I Wayan
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 31, No 2 (2016): Mei
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v31i2.31

Abstract

Lukisan wayang Kamasan (LWK) merupakan seni tradisional yang tumbuh dan berkembang di Desa Kamasan, Klungkung, Bali, memiliki identitas sangat khas dan unik. Secara tradisi lukisan wayang Kamasan memiliki identitas yang sangat khas dan unik digunakan sebagai sarana persembahan dalam ritual agama Hindu. Kekhasan LWK terikat oleh pakem, nilai, norma, dan ketentuan yang bersifat mengikat dan baku, Sedangkan keunikannya, masih dikerjakan secara kolektif dan komunal dengan menggunakan bahan dan peralatan yang diambil dari alam serta diolah dengan teknik-teknik tradisional. Secara visual LWK juga memiliki estetika yang sangat artistik, di dalamnya terkandung nilai-nilai filsafat yang bersifat simbolik yang sering digunakan sebagai pencerahan dan bayangan dalam kehidupan manusia di dunia maupun di akhirat. Pada perkembangannya LWK diinovasi menjadi seni kemasan pasar untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Dalam hukum seni pasar, Keith Tester (2003) mengatakan; konsumen dengan kekuatan modal beserta agen-agennya sudah mampu mengatur dan mengendalikan pelukis untuk menciptakan produk-produk baru yang semu. Lebih lanjut, modal dapat digolongkan menjadi, modal kapital, modal simbolik, modal budaya, dan modal sosial.Fenomena lukisan Wayang Kamasan (LWK) sebagai seni kemasan pasar menarik untuk dikaji secara kritis dengan menggunakan pendekatan culture studies terfokus pada tiga masalah. Pertama, mengapakah terjadi inovasi pada lukisan wayang Kamasan? Kedua, bagaimanakah bentuk inovasi lukisan Wayang Kamasan sebagai seni kemasan pasar 7 dan Ketiga, bagaimanakah implikasi inovasi lukisan wayang Kamasan menjadi seni kemasan pasar di Klungkung Bali? Pengkajian terhadap masalah tersebut bersifat ekletik menggunakan teori praktik dengan rumus generatzf (habitus x modal) + ranah = praktik, teori komodifikasi, dan teori estetika postmodern‘ Metode yang digunakan mengkaji penelitan LWK adalah metode kritis yang bersifat emansipatoris dengan data wawancara secara mendalam, observasi, studi kepustakaan, dan dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan sebagai berikut, Pertama, LWK sudah mengalami inovasi menjadi produk-produk baru untuk memenuhi kebutuhan konsumen, Faktor-faktor pendorong terjadinya inovasi, yaitu (1) motivasi ekonomi, (2) identitas diri, (3) kreativitas melukis (4) globalisasi, dan (5) pariwisata. Kedua, bentuk inovasi LWK berupa produk soevenir, yaitu berupa barang dagangan untuk didistribusikan ke pasar. Ketiga, implikasi dari inovasi LWK bersifat positif dan negatif. Sifat positif LWK dapat meningkatkan kesejahteraan, meluasnya distribusi dan konsumsi sosial, munculnya pelukis perempuan, dan berkembangnya industri kreatif. Sifat negatifnya, LWK yang bersifat simbolik diprofanisasi menjadi produk massa sehingga terj adi desakralisasi yang berimplikasi melunturnya nilai-nilai tradisi lokal dan berkembangnya industri kreatif di Klungkung Bali.
Topeng Etnik Nusantara Dalam Perkembanagan Budaya Global Martono, M; Iswahyudi, I; Handoko, Aran
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 32, No 1 (2017): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v32i1.91

Abstract

Tulisan ini dikembangkan dari judul penelitian Pengembangan Modul Topeng Etnik Nusantara Sebagai Suplemen Pembelajaran Seni Budaya dan Prakarya Kurikulum 2013, dengan tujuan untuk mendeskripsikan jenis, nama, dan karakter topeng etnik nusantara. Pendekatan penelitian kualitatif dengan metode wawancara, observasi, dokumentasi dan mendeskripsikan topeng etnik nusantara koleksi museum, koleksi perajin, dan sumber pustaka. Analisis data deskriptif dengan pengumpulan data, penyajian data, reduksi data, dan penarikan kesimpulan. Pengembangan modul menggunakan metode studi pendahuluan, pengembangan, dan pengujian. Hasil penelitian dan pembaasan menunjukan bahwa topeng etnik nusantara dideskripsikan berdasarkan  jenis, nama, karakter topeng, dan asal daerahnya. Fungsi topeng sebagai pemujaan, perlambangan, pelengkap upacara, pelengkap busana tari, souvenir, dan berkembang sebagai elemen dekorasi. Dulu topeng memiliki peran penting dalam kebudayaan masyarakat sebagai benda sakral dan religius. Pada era modernisasi peran topeng bergeser menjadi karya seni profan yang memiliki nilai estetik untuk kebutuhan praktis dan ekonomis. Berbagai jenis topeng etnik nusantara seperti Topeng Plok, Topeng Jawa, Topeng Dayak, Topeng Papua, Topeng Madura, Topeng Cirebon, dan topeng Sumatera mengalamai perkembangan bentuk dan fungsinya.

Page 1 of 13 | Total Record : 124