cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
BIOSLOGOS
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Bioslogos merupakan media komunikasi ilmiah untuk hasil-hasil penelitian dan kajian ilmiah lainnya yang berkaitan dengan zoologi, botani, ekologi, mikrobiologi dan genetika dan biologi molekuler
Arjuna Subject : -
Articles 91 Documents
Karakteristik Isolat Jamur Sclerotium rolfsii dari Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogaea Linn.) Magenda, Seny
JURNAL BIOS LOGOS Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.1.1.2011.369

Abstract

ABSTRAKSclerotium rolfsii merupakan salah satu jamur patogen yang menyebabkan beberapa penyakit pada tanaman, seperti busuk batang, layu serta rebah kecambah. Jamur Sclerotium rolfsii menyerang tanaman kacang tanah serta tanaman lain seperti kentang, tomat, kedelai, kubis-kubisan, bawang, seledri, jagung, selada, kapas, tembakau dan tanaman dari famili Cucurbitaceae. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan didapatkan ukuran diameter sklerotia 0,05-2 mm dan bentuk perkecambahan sklerotia dispersif seperti kapas berwarna putih. Ukuran terkecil dari diameter koloni Sclerotium adalah 0,61 cm dan ukuran terbesarnya 1,71 cm sedangkan untuk pengukuran kecepatan pertumbuhan miselium yang terlambat adalah 3,1 mm/hari dan yang tercepat adalah 8,54 mm/hari yang dapat dilihat pada hari kedua dan hari ketujuh penelitian. ABSTRACTSclerotium rolfsii is one of the crop pathogenic mushroom that caused some disease such as stem decay, wilt and sprout collapse. S. rolfsii infects ground peanut plant other crops such as potato, tomato, soy, cabbage, onion, celery, maize, cress, cotton, tobacco and the relatives of Cucurbitaceae. The measurement showed that the diameter of sclerotia was 0.05-2 mm which formed dispersive germination and appeared as white chromatic cotton-like shape. The smallest diameter of sclerotium colony was 0.61 cm and the largest was 1.71 cm while the slowest and the fastest growing speed of mycelium was 3.1 mm/day and 8.54 mm/day, respectively, which observed at the second and the seventh days.
Uji Toksisitas Ekstrak Batang Pinang Yaki (Areca vestiaria) pada Artemia salina Leach. Tampungan, Windy Astuti
JURNAL BIOS LOGOS Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.1.1.2011.370

Abstract

AbstrakEfek toksisitas pinang yaki (Areca vestaria) sebagai tumbuhan obat potensial perlu diuji untuk mengetahui ambang batas penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji tingkat toksisitas ekstrak batang pinang yaki terhadap larva Artemia salina Leach. dengan metode Brine Shrimp Lethality Test. Ekstrak diencerkan dengan konsentrasi 200, 400, 600 dan 800 ppm masing-masing untuk supernatan rendaman pertama (larutan A),supernatan rendaman ke dua (larutan B) dan supernatan rendaman ke tiga (larutan C) . Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak batang pinang yaki mempunyai efek toksisitas dengan nilai LC50 sebesar 398,28 ppm untuk larutan A, 390,84 ppm untuk larutan B dan 438,53 ppm untuk larutan C.Kata kunci: batang Areca vestaria,LC50, uji toksisitasAbstractToxicity effect of pinang yaki (Areca vestiaria) as potential medicinal plant should be evaluated to know its application threshold. This research aimed to evaluate the toxicity level of pinang yaki trunk extract on larve of Artemia salina Leach. using the method of Brine Shrimp Lethality Test. Extract was diluted to concentration of 200, 400, 600 and 800 ppm each for solution A (first soaking supernatant), solution B (second soaking supernatant)and solution C (third soaking supernatant). The result of this research showed that extract of pinang yaki trunk had a toxic characteristic, with LC50 value was 398,28, 390,84, and 438,53 ppm respectively for solution A, B and C.Keywords: LC50 , toxicity test, trunk of Areca vestaria
Struktur Sel Epidermis dan Stomata Daun Beberapa Tumbuhan Suku Orchidaceae Rompas, Yulanda
JURNAL BIOS LOGOS Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.1.1.2011.371

Abstract

AbstrakTelah dilakukan penelitian untuk menentukan struktur sel epidermis dan stomata pada beberapa tumbuhan anggota suku Orchidaceae yang merupakan anggota marga Arachnis, Phalaenopsis dan Vanilla. Metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan struktur sel epidermis dan stomata daun anggrek kalajengking, anggrek bulan dan vanili berdasarkan pengamatan irisan memanjang sel-sel epidermis pada permukaan bawah daun dengan mikroskop cahaya. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi struktur sel epidermis dan stomata anomositik seperti pada tumbuhan dikotil.Kata kunci: anggrek bulan, anggrek kalajengking, sel epidermis, stomata, vaniliAbstractA research was conducted to determine the structure of epidermis and stomata cells on several Orchidaceae plants, such as genus Arachnis, Phalaenopsis and Vanilla. The descriptive method was used to describe the structure of epidermis and leaf stomata cells of scorpion orchids, moon orchids and vanilla by observing the epidermis of longitudinal section of lower leaf using light microscope. The research result showed that these plants had various structure of epidermis cells and had anomocytic type of stomata cells that was similar to dicotyledon plants.Keywords: epidermis cell, moon orchids, scorpion orchids, stomata, vanilla
Analisis Kandungan Klorofil Daun Mangga (Mangifera indica L.) pada Tingkat Perkembangan Daun yang Berbeda Sumenda, Lusia
JURNAL BIOS LOGOS Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.1.1.2011.372

Abstract

AbstrakKajian tentang kandungan klorofil pada daun mangga dengan perbedaan warna pada tingkat perkembangan yang berbeda belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kandungan klorofil daun mangga (Mangifera indica L.) pada tingkat perkembangan daun yang berbeda. Setelah daun diekstrak dengan alkohol 95%, kandungan klorofil diukur dengan menggunakan spektrometer tipe Novaspec III pada λ 649 dan 665 nm. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan kandungan klorofil daun pada tingkat perkembangan yang berbeda.Kata kunci: daun mangga, klorofil, perkembanganAbstractThe study on chlorophyll concentration of mango leaf with different colour and different stage of development has not been conducted thoroughly. This study aimed to compare the chlorophyll concentration of mango leaf with different stage of development. After extracting leaf chlorophyll using alcohol 95%, chlorophyll concentration was measured using spectrometer (Novaspec III) on λ 649 and 665 nm. The result showed that the chlorophyll concentration was different among the leaves with different stages of development.Keywords: chlorophyll, development, mango leaf
Konsumsi Mamalia, Burung, dan Reptil Liar Pada Masyarakat Sulawesi Utara dan Aspek Konservasinya Saroyo, Saroyo
JURNAL BIOS LOGOS Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.1.1.2011.373

Abstract

AbstrakSurvei ini dilaksanakan untuk menginventarisasi jenis-jenis mamalia, burung, dan reptil liar yang dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara dalam kaitannya dengan aspek konservasi dan pemanfaatannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dari tahun 2006 sampai 2010 berdasarkan jenis-jenis yang diperdagangkan di pasar-pasar tradisional, kasus perburuan satwa liar, dan jenis-jenis yang disediakan dalam menu masyarakat pada pesta-pesta adat. Dari survei diperoleh hasil terdapat 39 jenis mamalia, burung, dan reptil liar yang dikonsumsi oleh masyarakat Sulawesi Utara. Konsumsi satwa liar telah menjadi kebiasaan bagi bagi masyarakatnya dan merupakan faktor utama penyebab penurunan populasi satwa liar. Banyak jenis satwa yang dikonsumsi, beberapa termasuk dilindungi, masuk daftar terancam IUCN, dan masuk dalam appendix CITES. Oleh sebab itu pemanfaatan beberapa jenis satwa liar harus mengikuti peraturan perlindungan dan upaya penangkaran tikus ekor putih (Paruromys dominator), babi hutan (Sus celebensis), dan rusa (Cervus timorensis) sangat memungkinkan dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.Kata kunci: burung, mamalia, reptil, Sulawesi UtaraAbstractThis survey was conducted to collect information about wild mammals, birds and reptiles consumed by North Sulawesi people regarding with its conservation aspect and utilization. The used method was survey from 2006 to 2010 based on the animal species sold in some traditional markets, hunting cases and serving food in traditional party menu in Bitung City, Tomohon City and North Minahasa District. The result showed that there were 39 consumed species of wild mammals, birds and reptiles. Consumption of wild animal by local people has become a tradition for the community and it mostly resulted in the decline of wild animal population. Some species are included in IUCN Redlist and CITES Appendices. Therefore, all protection laws should be followed in the utilization of those species. In addition, breeding programme of Sulawesi giant rat (Paruromys dominator), Sulawesi Wild Boar (Sus celebensis) and Timor Deer (Cervus timorensis), is very prospective as it has economically value.Keywords: birds, mammals, reptiles, North Sulawesi
Keanekaragaman Makrozoobentos sebagai Indikator Kualitas Air Sungai Cisadane, Jawa Barat – Banten (Macrozoobenthos diversity as indicator of water quality of Cisadane River) Siahaan, Ratna
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.374

Abstract

AbstrakSungai Cisadane memiliki multifungsi untuk kebutuhan pertanian, rumah tangga dan industri. Namun, kegiatan manusia di Daerah Aliran Sungai/DAS Cisadane dan di Sungai Cisadane dapat mengancam fungsi dan nilai ekosistem S.Cisadane. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanakeragaman makrozoobentos sebagai indikator kualitas air S.Cisadane. Penelitian dilakukan di sembilan (9) titik di sepanjang Sungai Cisadane dari hulu hingga hilir. Sampel makrozoobentos dikoleksi dengan jala surber dan Eckman Grabb. Pada musim kemarau, kekayaan taksa makrozoobentos terendah di bagian tengah dan hilir hilir (8 taksa) dan tertinggi di hulu (20 taksa). Kualitas air sungai ditentukan berdasarkan Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H’). Kualitas air S.Cisadane yaitu baik/tercemar sangat ringan di hulu (Stasiun 1), cukup baik/tercemar ringan di hulu - tengah (Stasiun 2-5), sedang/tercemar sedang tengah mendekati hilir (Stasiun 6), dan buruk/tercemar berat di hilir (Stasiun 7-9).Kata kunci: kualitas air, makrozoobentos, Sungai CisadaneAbstractCisadane River has multifunction i.e. agriculture, domestic and industry. All human activities in Cisadane Watershed and in Cisadane River could threat function and value of Cisadane River. The aim of this research was to analysis macrozoobenthos diversity as bioindicator of Cisadane River. Nine (9) stations were designed along Cisadane River from up to downstream. Samples were collected with Surber net and Eckman Grabb. The taxa richness decreased from upstream (20 taxa) to downstream (8 taxa).Based on Shannon-Wiener (H’), the water quality of Cisadane River were classified i.e. good (Station 1), quite good/slightly polluted (Station 2-5), moderate/moderately polluted (Station 6), and not good/ heavily polluted (Station 7-9).Keywords: Cisadane River, water quality, macrozoobenthos
Transformasi dan Ekspresi Transien Gen Pelapor Gusa pada Andrographis paniculata (Burm.F.) Wallich Ex Ness (Transformation and Expression of Reporter Gene Gusa on Andrographis paniculata (Burm.F.) Wallich Ex Ness) Tangapo, Agustina
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.375

Abstract

AbstrakAndrographis paniculata diketahui mengandung senyawa andrografolid, yaitu suatu metabolit sekunder yang memberikan efek farmakologi berupa hepatoprotektif, antiviral dan antikanker. Dalam penelitian ini dilaporkan studi awal prosedur transformasi genetik A. paniculata dengan perantara Agrobacterium tumefaciens. Eksplan daun A. paniculata diinkubasi dengan Ag. tumefaciens strain LBA4404 yang mengandung vektor ganda pCAMBIA1304 dengan gen hpt sebagai gen penanda untuk resistensi higromisin dan gen gusA sebagai gen pelapor. Setelah kokultivasi, eksplan daun dikultur pada medium seleksi yang mengandung higromisin 20 mg L-1 dan sefotaksim 400 mg L-1. Hasil uji histokimia GUS pada potongan daun setelah tiga hari kokultivasi menunjukkan ekspresi transien GUS mencapai 18,83%. Sebanyak 64,44% jaringan A. paniculata yang telah berhasil ditransformasi menunjukkan regenerasi sel dengan menghasilkan kultur kalus transforman pada medium yang mengandung 20 mg/L higromisin.Kata kunci: transformasi genetik, Agrobacterium tumefaciens, Andrographis paniculata, asai GUS.AbstractAndrographis paniculata is known to contain andrographolide, a secondary metabolite which shows pharmacology effects such as hepatoprotective, antiviral and anticancer. We established an Agrobacterium tumefaciens-mediated transformation procedure for A. paniculata. Leaf explants of A. paniculata were incubated with Ag. tumefaciens strain LBA4404 containing a binary vector pCAMBIA1304 with the hpt gene as a selectable marker for hygromycin resistance and an gusA gene as a reporter gene. Following co-cultivation, leaf explants were cultured on selective medium containing 20 mg L-1 hygromycin and 400 mg L-1 cefotaxime. GUS assays showed that only 18.83 % transformation frequency was obtained in leaf disk tissues after 3 days co-cultivation. As much as 64.44 % of the transformed tissue on MS medium containing selection agent 20 mg/L hygromycin showed cell regeneration to produce calluses.Keywords: genetic transformation, Agrobacterium tumefaciens, Andrographis paniculata, GUS assay.
Keanekaragaman Lamun di Pesisir Pantai Molas, Kecamatan Bunaken Kota Manado (Biodiversity of Seagrass on Molas Seashore in Bunaken Subdistrict, Manado) Maabuat, Pience Veralyn
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.376

Abstract

AbstrakEkosistem lamun merupakan salah satu ekosistem bahari yang produktif. Selain sebagai sumber produktifitas primer di perairan, ekosistem lamun juga memiliki arti penting bagi hewan yang hidup di area padang lamun. Penelitian ini dilaksanakan di Pesisir Pantai Molas dengan menggunakan metode garis transek kuadrat, yang dilakukan pada bulan Januari – Juni 2011. Analisis data meliputi perhitungan dengan rumus Krebs dan Fachrul, identifikasi jenis lamun dan penentuan indeks keanekaragaman menggunakan Shannon Wiener. Ada lima jenis lamun yang ditemukan yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata dan Syringodium isoetifolium. Lamun E. acoroides dan S. isoetifolium memiliki penyebaran terluas, karena ditemukan di seluruh transek pada lokasi penelitian. Jenis yang jarang dijumpai adalah H. ovalis. Jumlah individu yang ditemukan adalah 130 individu. Nilai indeks keanekaragaman di pesisir Pantai Molas memperlihatkan di wilayah ini keanekaragaman jenis lamun sedang dibandingkan 13 lokasi lainnya di Indonesia.Kata kunci: biodiversitas, Molas, rumput lautAbstractSeagrass ecosystem is one of the productive marine ecosystems. This ecosystem is a source of primary productivity in waters and it is significant for the animals that live in the seagrass areas. This study was conducted in the Molas coastal using the method of transect line squares, in January-June 2011. The analysis included calculation using the formula of Krebs and Fachrul, identification of seagrass species and determination Shannon Wiener diversity index. Five species of seagrass species were found, i.e. Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata and Syringodium isoetifolium. The total number of individual weres 130. Index value of diversity in the Molas coastal showed that the seagrass diversity in this region were medium compared with 13 other locations in Indonesia.Key Words : biodiversity, Molas, seagrass
Pengaruh Ekstrak Urang Aring (Eclipta alba L. Hask.) terhadap Pertumbuhan Jamur Fusarium oxysporum f. lycopersici (Sacc.) Snyder & Hans (The effect of urang aring extract (Eclipta alba L. Hask.) on the growth of Fusarium oxysporum f. lycopersici (Sacc.) S Siahaan, Parluhutan
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.377

Abstract

AbstrakTelah dilakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak etanol urang aring (Eclipta alba L. Hask.) terhadap daya hambat pertumbuhan jamur Fusarium oxysporum f. lycopersici. Uji hayati dilakukan dengan mengencerkan ekstrak dengan konsentrasi 0,5%,1% , 1,5% , 2% , dan 2,5%(berat/volum). Hasil uji hayati secara in vitro menunjukkan bahwa ekstrak etanol dapat menghambat pertumbuhan jamur. Pada konsentrasi 0,5% jamur memiliki diameter pertumbuhan 4,5 cm dan tidak berbeda nyata dengan kontrol yang berdiameter 4,7 cm, tetapi pada konsentrasi 2,5% diameter koloninya 0,81 cm dan tidak berbeda nyata dengan fungisida benlate 0,03% yang berdiameter 0,75 cm.Kata kunci: urang aring, Eclipta alba L. Hask., Fusarium oxysporum f. lycopersici, daya hambatAbstractA research was conducted to evaluate the effect of ethanol extracts of urang aring (Eclipta alba L. Hask.) on the inhibition capacity of the growth of fungi Fusarium oxysporum f. lycopersici. The bioassay was done by diluting extracts to obtain the concentration of 0,5%,1%, 1,5%, 2%, dan 2,5% (w/v). The results indicated that ethanol extracts inhibited the growth of Fusarium oxysporum f. lycopersici. The 0.5% concentration ethanol extract did not inhibit the growth of fungi (colony diameter was 4.7 cm), however, the 2.5% concentration (colony diameter 0.18 cm) was not significantly different from 0.03% benlate, a synthetical fungicide, whose colony diameter was 0.75 cm.Keywords: urang aring, Eclipta alba L. Hask., Fusarium oxysporum f. lycopersici, inhibiton capacity
Pendugaan Emisi Metana pada Sistem Pengelolaan Tanaman Padi di Kabupaten Minahasa (The Estimation of Methane Emission in The Rice Management System in Minahasa Rregency) Mambu, Susan Marlein
JURNAL BIOS LOGOS Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Bioslogos
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.2.1.2012.378

Abstract

AbstrakPemanasan bumi secara global karena emisi gas rumah kaca ke atmosfir yang disebabkan oleh kegiatan manusia, cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pertanian padi sawah, khususnya sawah teririgasi juga merupakan penyumbang terbesar gas metana ke atmosfer. Oleh karena itu, perlu adanya upaya pengurangan emisi CH4 dari kegiatan budidaya tanaman padi sawah. Penelitian dilakukan untuk mengetahui emisi CH4 dari budidaya padi sawah di kabupaten Minahasa, dengan melakukan estimasi emisi CH4 menggunakan model perhitungan formula untuk estimasi emisi CH4 pada padi sawah. Hasil penelitian ini memberikan informasi keberadaan CH4 dan jumlah produksi emisi CH4 dari lahan padi sawah di Kabupaten Minahasa, yang cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (data tahun 2002 – 2010). Peningkatan emisi CH4 dari lahan padi sawah di Kabupaten Minahasa disebabkan oleh beberapa faktor yaitu luas panen, jenis tanah, jenis varietas, jenis pengairan dan kegiatan budidaya lainnya seperti pemupukan dan pemberian bahan organik (jerami).Kata kunci: emisi metana, padi sawahAbstractGlobal warming from greenhouse gas emissions to the atmosphere that is caused by human activities tends to be increased over time. Fields of wetland rice, particularly irrigated rice, are also the largest contributor to methane gas to the atmosphere. Therefore, CH4 emissions should be reduced from paddy rice cultivation. This research aimed to measure the production of CH4 emission in the wetland rice fields of Minahasa, using a model calculation formula to estimate CH4 emissions in the rice fields. The results informed the existence and the amount of CH4 production resulted from wetland rice fields in Minahasa, which tended to be increased from year to year (data of year 2002 to 2010). The increment of CH4 emission from wetland rice fields in Minahasa was caused by several factors, i.e. the harvested area, soil types, types of variety, types of irrigation and other cultivation activities such as fertilization and providing organic material (straw).Keywords: methane emission, wetland rice

Page 1 of 10 | Total Record : 91