Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
ISSN : 14116618     EISSN : -
Jurnal Arsitektur KOMPOSISI adalah wadah menghimpun dan mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian dan konsep-konsep ilmiah serta pengetahuan dalam bidang arsitektur dan lingkungan buatan berwujud artikel yang ditulis berdasarkan penelitian: artikel hasil penelitian, artikel tentang ide-ide (gagasan konseptual), tinjauan tentang proses penelitian, tinjauan buku-buku baru, paparan tokoh arsitek dan pemikirannya, serta karya ilmiah lain yang berhubungan dengan fenomena arsitektur.
Articles 81 Documents
PENGARUH PERUBAHAN FUNGSI LINGKUNGAN BINAAN TERHADAP CITRA KAWASAN WISATA TEKSTIL CIGONDEWAH KOTA BANDUNG

Wijaya, Karto, Setioko, Bambang, Murtini, Titin Woro

Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 11, No 2 (2015): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.867 KB) | DOI: 10.24002/jars.v11i2.1107

Abstract

Abstract: The Cigondewah is a region that become the tourist area of cloth shopping, majority of the Cigondewah region user are salesman and businessman that mostly are the main economic agents. The marketing activity that growth and develop can affect the building in corridor around the market. The presence of the textile industry region in those area gives its own color to the changes in the built environment functuin in the road corriodor of Cigondewah. This study aims to determine the effect of the changes in the built environment function against the image of the textile tourism region in Cigondewah in Bandung. The quantitative rationalistic are used with gathering data through literature study, questionaires, and fi eld observation. The statistic data analyzing with regression test use SPSS 19.0 software for Windows. The result of this study show that there are signifi cant changes of built environment function against the image of textile tourism region in Cigondewah in Bandung at 41,0%, while the rest at 59.0% that form the region image, are affected by other model outside this study.Keywords: The changes of Built Environment Function, Region image, Textile tourismAbstrak: Kawasan Cigondewah merupakan kawasan yang menjadi area wisata belanja kain, mayoritas pengguna kawasan Cigondewah ini di antaranya pedagang dan pengusaha yang sebagian besar merupakan penghuni sebagai pelaku ekonomi utama. Kegiatan aktivitas perdagangan yang tumbuh dan berkembang dapat mempengaruhi bangunan pada koridor di sekitar perdagangan tersebut. Adanya kawasan industri tekstil di kawasan tersebut memberikan warna tersendiri terhadap perubahan fungsi lingkungan pada koridor jalan Cigondewah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan fungsi lingkungan binaan terhadap citra kawasan wisata tekstil di Cigondewah Kota Bandung. Metode kuantitatif rasionalistik digunakan dengan pengumpulan data melalui studi literatur, kuesioner dan observasi lapangan. Analisis data Statistik dengan uji regresi menggunakan software SPSS 19.0 for Windows. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh perubahan fungsi lingkungan binaan terhadap citra kawasan wisata tekstil di Cigondewah Kota Bandung sebesar 41,0 %, sedangkan sisanya sebesar 59.0 % yang membentuk citra kawasan dipengaruhi oleh model yang lain di luar dari penelitian ini.Kata kunci: Perubahan Fungsi Lingkungan Binaan, Citra kawasan, Wisata Textile

POLA AKTIVITAS RUANG TERBUKA PUBLIK PADA KAWASAN TAMAN FATAHILLAH JAKARTA

Hantono, Dedi

Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 11, No 6 (2017): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (854.617 KB) | DOI: 10.24002/jars.v11i6.1360

Abstract

Abstract: Fatahillah Park in front of Fatahillah Museum is part of Jakarta Kota area (called Kota Tua, Old Town) which is a conservation area. Fatahillah Park currently serves as a public open space surrounded by historic buildings on four sides. As a public open space, Taman Fatahillah is visited by people from various regions in Indonesia and foreign tourists, so there are various activities in it. This paper describes the results of research on the pattern of human activity (visitors) in Taman Fatahillah. The research used qualitative approach and descriptive analysis method. As a result, as a public open space, Taman Fatahillah is accessed by anyone and within the timeframe from morning to evening. Activities that take place in Taman Fatahillah are dominated by secondary actors (visitors) while the primary actors (traders) are limited by a certain place and time. The activity on the path space forms a linear pattern and on an open field forming a random pattern.Keywords: public open space, activities, area, conservation, urban designAbstrak: Taman Fatahillah di depan Museum Fatahillah adalah bagian dari kawasan Jakarta Kota (disebut Kota Tua) yang merupakan kawasan konservasi. Taman Fatahillah saat ini berfungsi sebagai ruang terbuka publik yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah pada empat sisi. Sebagai ruang terbuka publik, Taman Fatahillah didatangi orang-orang dari berbagai daerah di Indonesia dan wisatawan manca negara, sehingga muncul beragam aktifitas di dalamnya. Tulisan ini memaparkan hasil penelitian tentang pola aktivitas manusia (pengunjung) di Taman Fatahillah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis deskriptif. Hasilnya, sebagai ruang terbuka publik, Taman Fatahillah diakses oleh siapa saja dan dalam rentang waktu dari pagi hari hingga malam hari. Aktivitas yang berlangsung di Taman Fatahillah didominasi oleh pelaku sekunder (pengunjung) sedangkan pelaku primer (pedagang) dibatasi oleh tempat dan waktu tertentu. Aktivitas pada ruang jalan membentuk pola linier dan pada lapangan terbuka membentuk pola acak.Kata Kunci: ruang terbuka publik, aktivitas, kawasan, konservasi, rancang kota

EVALUASI PENATAAN PERABOTAN SECARA ERGONOMI BERDASARKAN POLA AKTIVITAS PENGGUNA RUANG, Studi Kasus: Ruang Baca Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah

Ricardo, David

Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 11, No 3 (2016): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1433.552 KB) | DOI: 10.24002/jars.v11i3.1187

Abstract

Abstract: Library is the place and the source of knowledge. To facilitate employees as well as visitors, a comfortable space is an important criteria to be fulfilled in designing library building. In regional library of Central Borneo, reading rooms were most frequently used. According to library concept, the level of comfort depended on some important factors, especially interior design. The arrangement of the furniture is the focus of this study related do the comfortable criteria to be analyzed in library design. The techniques in this study were observation, interviews, and literature study. The data were analyzed then compared to the standards of furniture arrangement based on ergonomics and anthropometry approach. This study found that the library level of comfort was still below the standards. The suggestions were: (1) rearrange the furniture in the reading room to meet the standard; (2) rearrange a clear division of the reading zones, and put the proper distance among bookshelf; and (3) change the circulation paths into one-way paths.Keywords: library reading rooms, ergonomics, visitor activities, furnitureAbstrak: Perpustakaan adalah tempat dan sumber pengetahuan. Kenyamanan ruang merupakan salah satu syarat penting yang harus dipenuhi dalam perancangan bangunan perpustakaan agar dapat memfasilitasi pegawai maupun pengunjung perpustakaan. Ruang baca merupakan ruangan yang paling banyak digunakan pada Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah. Menurut konsep perpustakaan, tingkat kenyamanan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain perancangan interior. Fokus penelitian ini pada penataan perabot guna memenuhi kriteria kenyamanan sebuah perpustakaan yang dikaji dengan menggunakan pendekatan ergonomis. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara serta studi literatur. Data kemudian dianalisa dan dibandingkan dengan standar penataan perabot berdasarkan pendekatan ergonomis dan antropometris. Penelitian menghasilkan kesimpulan bahwa kenyamanan ergonomis dan antropometris pada ruang baca Perpustakaan Daerah Kalimantan Tengah belum sesuai standar. Rekomendasi untuk penataan perabotan ruang baca perpustakaan yaitu: penataan dan ketegasan zona baca dan pendukungnya, penataan jarak antar rak buku, dan perubahan jalur sirkulasi menjadi searah.Kata kunci: ruang baca perpustakaan, ergonomi, aktivitas pengguna, perabotan

ANALISIS PENGARUH PEMBANGUNAN JALAN LAYANG JANTI TERHADAP PERKEMBANGAN TATA RUANG KAWASAN JANTI STUDI KASUS : KAWASAN JANTI, DESA CATURTUNGGAL, KABUPATEN SLEMAN, D. I. YOGYAKARTA

El Boru, Jeky

Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 10, No 4 (2013): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1036.513 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i4.1089

Abstract

Abstract: This research aims to analyze the impact of Janti Flyover Construction toward the growth of layout at Janti Urban Area, including structured space, open space, and linkage. Method used for data collecting are observation, air photograph monitoring, and interview, whereas the analysis method is qualitative description, which is the superimposed method of two layers, that are the layout condition before and after flyover construction. The result shows that the impact of Janti Flyover construction can be seen on building mass (solid), the increasing number of open spaces, including the road network, parking place, and park, whereas the relation between spaces, visually and structurally, can be seen on the growth of buildings which have new shapes and styles, therefore the performance of the overall building does not have a proportional shape. Considering Janti Street at the collective relation, its role is getting stronger as the main frame road network.Keywords: Flyover construction, layout changing, Janti AreaAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pembangunan Jalan Layang Janti terhadap perkembangan tata ruang Kawasan Janti, meliputi ruang terbangun, ruang terbuka, serta hubungan antar ruang (“linkage”). Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, pengamatan foto udara, dan wawancara; sedangkan metode analisis melalui deskripsi secara kualitatif yang berupa “superimposed method” dari dua lapisan kondisi lahan, yakni kondisi tata ruang sebelum dan sesudah pembangunan jalan layang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pembangunan Jalan Layang Janti terdapat pada massa bangunan (“solid”), pertambahan ruang terbuka yang berupa jaringan jalan, parkir, dan taman; sedangkan pada hubungan antar ruang ̶ secara visual dan struktural ̶ yakni tumbuhnya bangunan dengan bentuk dan gaya baru, sehingga bentuk tampilan bangunan secara keseluruhan tidak proporsional. Pada hubungan kolektif, Jalan Janti semakin kuat perannya sebagai kerangka utama jaringan jalan.Kata kunci : Pembangunan jalan layang, tata ruang, Kawasan Janti

SIMULASI PENCAHAYAAN ALAMI DAN BUATAN DENGAN ECOTECT RADIANCE PADA STUDIO GAMBAR; KASUS STUDI: STUDIO GAMBAR SEKOLAH TINGGI TEKNIK MUSI PALEMBANG

Chandra, Tiffany, Amin, Abd. Rachmad Zahrial

Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.786 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i3.1112

Abstract

Abstract: Natural lighting comes from the sun, while the artificial lighting comes from artificial light (lamp). Lighting is needed to do the activities in a room, whether it is natural or artificial lighting. The amount of natural lighting depends on the location and the dimension of windows as well as the direction of the trajectory of the sun. Window, which has a larger opening, will allow much sun light. Artificial lighting depends on the types of lamp and the power of light transmission (watts). If the power of light transmission is greater, the light will be brighter. Certain activities will need different illumination level. The standard of illumination level for the studio of drawing is 750 lux because the activities require high precision. In the initial study to determine whether the lighting conditions in the studio has already met the requirement of illumination level, luxmeter is used to measure the illumination level for three days. The result of the measurement indicates that the natural lighting, which is available today, has not reached 750 lux. This study uses Ecotect Radiance Simulation Program to improve natural and artificial lighting in the studio of drawing. To achieve the actual results of the simulation of artificial lighting, the simulation uses Erco lights series LED White 72689.000 Opton which is placed 2.5 meters from the floor. The simulation shows that the average value of random samples is 1749, 7 lux. Simulation of the natural lighting uses the climate of Palembang city. Therefore, it is advisable to replace the existing artificial lighting with the lights.Keywords: natural lighting, artificial lighting, architectural drawing studioAbstrak: Pencahayaan alami adalah pencahayaan yang bersumber dari sinar matahari, sedangkan sumber pencahayaan buatan berasal dari sinar buatan (lampu). Sebuah ruang dengan segala aktivitas didalamnya membutuhkan pencahayaan, baik itu alami maupun buatan. Pencahayaan alami yang masuk ke dalam ruangan dipengaruhi oleh letak dan ukuran jendela, serta arah lintasan matahari. Semakin besar bukaan pada jendela, maka cahaya yang masuk akan semakin besar pula. Pencahayaan buatan yang maksimal dipengaruhi oleh jenis lampu dan kekuatan daya pancar (watt). Semakin besar daya yang digunakan, maka lampu tersebut akan semakin terang. Fungsi ruang yang berbeda akan membutuhkan tingkat iluminasi yang berbeda. Tingkat iluminasi standar untuk ruang studio gambar adalah 750 lux karena termasuk aktivitas yang membutuhkan ketelitian tinggi. Pada penelitian awal, yang dilakukan untuk mengetahui apakah kondisi pencahayaan pada ruang studio gambar telah memenuhi standar, dilakukan pengukuran dengan menggunakan luxmeter selama tiga hari. Hasil dari pengukuran tersebut menunjukkan bahwa pencahayaan alami yang ada saat ini belum mencapai 750 lux. Pada penelitian ini dilakukan simulasi dengan program Ecotect Radiance untuk memperbaiki pencahayaan alami dan buatan pada ruang studio gambar. Untuk mendekati hasil sebenarnya dalam simulasi pencahayaan buatan, digunakan lampu Erco seri Opton LED White 72689.000 yang diletakkan setinggi 2,5 meter dari lantai. Dari simulasi ini, diperoleh nilai rata-rata dari sampel acak sebesar 1749,7 lux. Simulasi pencahayaan alami menggunakan iklim kota Palembang. Oleh karena itu, disarankan untuk mengganti pencahayaan buatan yang ada saat ini dengan lampu tersebut.Kata kunci: pencahayaan alami, pencahayaan buatan, studio gambar

‘DISPLACEMENT’, KRITERIA DEKONSTRUKSI PETER EISENMAN

Mubarrok, Noor Zakiy

Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 11, No 3 (2016): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2143.756 KB) | DOI: 10.24002/jars.v11i3.1238

Abstract

Abstract: The implementation of deconstruction in architecture presents an extraordinary building, that no rarely lob the name of the designer, no exception for an American architect and theorists, Peter Eisenman. ‘Displacement’ is the notion of Peter Eisenman contains some criteria to implement deconstruction in architecture. The purpose of this research is to explore the thoughts and views of Peter Eisenman about deconstruction in architecture, especially about the notion of ‘displacement’, and its application in the design.Keywords: architecture deconstruction, displacement, peter eisenman Abstrak: Penerapan dekonstruksi dalam arsitektur, menghasilkan karya arsitektur yang luar biasa, yang tak jarang melambungkan nama perancangnya, tak terkecuali Peter Eisenman, seorang arsitek dan teoritikus kebangsaan Amerika. Displacement, merupakan ide yang dicetuskan Peter Eisenman berisi kriteria-kriteria yang harus dipenuhi sebagai upaya menerapkan dekonstruksi dalam arsitektur. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pemikiran serta pandangan Peter Eisenman tentang dekonstruksi dalam arsitektur terutama tentang ide Displacement, serta aplikasinya pada rancangan.Kata kunci: dekonstruksi dalam arsitektur, displacement, peter eisenman

BENTUK DAN MAKNA ATAP KELENTENG SAM POO KONG SEMARANG

Marcella, Benedicta Sophie

Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 10, No 5 (2014): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.638 KB) | DOI: 10.24002/jars.v10i5.1094

Abstract

Abstract: Roof might signifiy the lid of upper house or building; objects which are used as a lid of the upper house. The roof of houses or buildings is one of the essential elements or components that make up the traditional architecture. Since ancient times until now, the shape of the roof is a prominent and essential part, showing the different periods. Chinese building roof is the part which has distinctive features. Indonesia also has a plenty of Chinese architectural styles, one of them is Sam Poo Kong Temple in Semarang. This temple was built in 1724 by the Chinese community in Semarang, as a kind of homage to Admiral Zheng He, widely known as Admiral Cheng Ho. In the area of Sam Poo Kong temple, there are several buildings, including the main building (main temple), Goa Pem ujaan, Goa Pemujaan, kelenteng Kyai Juru Mudi, Dewa Bumi, Kyai Nyai Tumpeng dan Kyai Tjundrik Bumi, dan Kyai Jangkar. Roof in Sam Poo Kong Chinese architecture shows the influence of feng shui. The purpose of this study is to find the shapes and the meanings of the roof of the building Sam Poo Kong as well as the influence of the concept of building in China. The method used in this study is qualitative rationalistic. The data was gained from surveys and literature studies. Some related theories are also significantly used to discuss and review the object roof at Sam Poo Kong. The analysis was conducted by comparing the object with the theory. The result of this research is to find the shapes and the meanings of the roof of the building Sam Poo Kong as well as the influence of the concept of Chineses building.Keywords: shapes, meanings,  roof of Sam Poo Kong temple , feng shui, chinese architectureAbstrak: Atap memiliki pengertian sebagai penutup rumah atau bangunan sebelah atas; benda yang dipakai untuk penutup rumah sebelah atas. Atap rumah atau bangunan merupakan salah satu unsur atau komponen penting yang membentuk arsitektur tradisional. Sejak jaman dahulu hingga sekarang, bentuk atap adalah bagian yang menonjol ataupun mencolok, menunjukkan periode yang berbeda-beda. Atap bangunan Tiongkok merupakan bagian yang memiliki ciri khas. Indonesia juga memiliki kekayaan langgam arsitektur Tionghoa, salah satunya ada Kelenteng Sam Poo Kong di Semarang. Kelenteng ini dibangun pertama kali pada tahun 1724 oleh masyarakat Tionghoa di Semarang, sebagai bentuk penghormatan kepada Laksamana Zheng He, lebih dikenal dengan nama Laksamana Cheng Ho. Dalam kawasan Kelenteng Sam Poo Kong terdapat beberapa bangunan kelenteng, diantaranya adalah bangunan utama (kelenteng utama), Goa Pemujaan, kelenteng Kyai Juru Mudi, Dewa Bumi, Kyai Nyai Tumpeng dan Kyai Tjundrik Bumi, dan Kyai Jangkar. Atap yang terdapat di Kelenteng Sam Poo Kong menunjukkan arsitektur Tionghoa yang masih mempergunakan kaidah feng shui serta memiliki bentuk dan makna tertentu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan bentuk dan makna atap bangunan Kelenteng Sam Poo Kong serta pengaruh konsep bangunan di Tiongkok terhadapnya. Metode yang digunakan adalah rasionalistik kualitatif. Data diperoleh dengan survei lapangan dan studi literatur.  Teori terkait digunakan untuk membahas dan mengulas obyek atap pada Kelenteng Sam Poo Kong. Analisis dilakukan dengan membandingkan obyek dengan teori. Hasil dari penelitian ini adalah menemukan bentuk dan makna atap bangunan Kelenteng Sam Poo Kong serta pengaruh konsep bangunan di Tiongkok terhadapnyaKata Kunci: bentuk, makna, atap Kelenteng Sam Poo Kong, feng shui, arsitektur Tiongkok

AKULTURASI BUDAYA PADA RUMAH PANGGUNG CINA DI 10 ULU PALEMBANG, Studi Kasus: Rumah Bapak Effendy

Mustika, Suzzana Winda Artha

Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 11, No 1 (2015): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.871 KB) | DOI: 10.24002/jars.v11i1.1084

Abstract

Abstract: Palembang as one of the old town in the archipelago has a wide range ofcultural and historical value. One of the cultural heritage belonging to the field ofarchitecture that is Palembang traditional house. The development of this traditionalhouse is made up of migrants that differ from one village to another village so as toform an acculturation, especially on the level house of China in 10 Ulu Palembang. Thepurpose of this research is to determine the values contained in the historical levelhouses of China and the mixing of cultures found in level houses of China in 10 Uluaffecting the building and to produce a unique form of architecture through thehistorical review of Palembang. The method used in this research is descriptive andhistorical method that is looking for a wide variety of evidence about the activitiescarried out by people who live past the level of China's house. From the analysis foundthat acculturation on the level house of China’s at 10 Ulu is a cultural mix of Chinatraditional architecture and Palembang architecture.Keyword: history, acculturation, level house of ChinaAbstrak: Palembang sebagai salah satu kota tua di nusantara memiliki berbagai macamnilai budaya dan sejarah. Salah satu peninggalan budaya tersebut tergolong dalambidang arsitektur yaitu rumah tradisional Palembang. Perkembangan rumah tradisionalini terbentuk dari penduduk pendatang yang berbeda antara satu kampung dengankampung yang lain sehingga membentuk suatu akulturasi budaya khususnya padarumah panggung Cina di 10 Ulu Palembang. Tujuan penelitian ini yaitu untukmengetahui nilai-nilai kesejarahan yang terdapat pada rumah panggung Cina danpercampuran budaya yang terdapat pada rumah panggung Cina di 10 Ulu yangmempengaruhi bangunan serta menghasilkan bentuk arsitektur yang unik melaluitinjauan kesejarahan Kota Palembang. Metode yang digunakan pada penelitian iniadalah metode deskriptif dan metode sejarah yaitu mencari berbagai variasi bukti-buktitentang kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup dimasa lampaupada rumah panggung Cina ini. Dari hasil analisis didapat bahwa akulturasi budayapada rumah panggung Cina di 10 ulu merupakan percampuran budaya dari arsitekturtradisional Cina dan arsitektur Palembang.Kata kunci: sejarah, akulturasi,rumah panggung Cina 

PENCITRAAN ARSITEKTUR RUMAH TRADISIONAL PADA RUMAH SUSUN DI KEDIRI

Paryoko, Vijar Galax Putra Jagat

Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 11, No 5 (2017): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1622.736 KB) | DOI: 10.24002/jars.v11i5.1292

Abstract

Abstract: Apartment development as a place to stay led to repetitive architecture, however on various region. It can change the mindset and pattern of life of local society because each region’s house basically has particularity which was a result of long time creativity and has meaning behind it. Therefore, a qualitative research is conducted to find the image and meaning behind the appearance of traditional house at Kediri, so the image that attached to traditional house can be transformed into contemporary apartment. It is founded that appearance of each component of traditional house has meaning and reason why it produced as it, including building form as general or spesific on certain part such as: roof, building opnening, ornament, color, and yard. The image of each part can reproduced on apartment without having left behind by development of architecture nowadays by using contemporary technology and building form arrangement.Keywords: apartment, traditional architecture, building imageAbstrak: Pengembangan rumah susun sebagai tempat tinggal seringkali membuahkan arsitektur yang repetitif di berbagai daerah, padahal hal ini dapat mengubah pola hidup dan pola pikir masyarakat setempat karena pada dasarnya rumah tinggal setiap daerah memiliki kekhasan yang merupakan hasil kreatifitas sejak lama dan memiliki makna di baliknya. Oleh karena itu, dilakukan penelitian kualitatif untuk menemukan citra dan makna di balik tampilan bangunan rumah tradisional di Kediri sehingga dapat dilakukan transformasi citra yang menempel pada rumah tradisional ke rumah susun masa kini. Ditemukan bahwa tampilan setiap komponen rumah tradisional memiliki arti dan alasan mengapa menghasilkan tampilan demikian, termasuk bentuk bangunan secara umum maupun khusus pada bagian tertentu, seperti: atap, bukaan, ornamen, warna, halaman rumah, dan sebagainya. Citra setiap komponen tersebut dapat ditampilkan kembali pada rumah susun tanpa harus tertinggal oleh perkembangan arsitektur masa kini.Kata kunci: rumah susun, arsitektur tradisional, citra bangunan

TEMPLATE ARTIKEL ILMIAH

Purbadi, Djarot

Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Vol 11, No 2 (2015): Jurnal Arsitektur KOMPOSISI
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.24002/jars.v11i2.1158

Abstract