cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Gema Teologika
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Jurnal GEMA TEOLOGIKA diterbitkan oleh Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana secara berkala (Bulan April dan Oktober). Tujuan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan karya-karya ilmiah di bidang disiplin ilmu teologi, terutama teologi kontekstual dan filsafat keilahian dalam konteks Indonesia dan dimaksudkan untuk merujuk pada upaya merefleksikan berbagai konteks kehidupan sosio-kultural-religius secara teologis dan logis. Jurnal GEMA TEOLOGIKA adalah lanjutan dari Majalah GEMA Duta Wacana (mulai 1975) yang berganti nama sejak 2006 menjadi Jurnal GEMA TEOLOGI sampai dengan 2015.
Articles 23 Documents
Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut: Kajian Teologi Ekofeminisme Pinem, Tanda
Gema Teologika Vol 1, No 2 (2016): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.551 KB) | DOI: 10.21460/gema.2016.12.219

Abstract

AbstractSmog disaster in Sumatera and Kalimantan Island that came from forest and land burnings showed many interconnected factors. Governmental ideologies factor in development era (e.g. modernization, industrialization, and capitalization in order to increase economics development), lands problems as an impact of development ideologies, corruption, and prestige culture in society (e.g. consumerism, wealthy, succedness, and honor greediness) had participation in this disaster. From the perspective of ecofeminism, this ecological crisis came from an ideology named anthroposentrism, which also an androsentrism. Human interests that became priority in industrial society, especially men who held economics and politics power, was the cause of these ecological damages. The nature of patriarchal system is domination and exploitation who derived from hierarchal dualistic ideology become sources of ecological damage. In this context, economic development factor and life progress became main concern. Finally nature being grinded and became tools to achieve human interests (anthroposentrism). However, in this context women felt chaos very deeply. Women worked to produce family needs with nature. The damage of nature made women work harder. By seeing these conditions, we were invited by ecofeminism to do radical awareness transformation. This transformation was based on the understanding of our local wisdom. AbstrakBencana kabut asap yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan sebagai akibat kebakaran hutan dan lahan, khususnya hutan dan lahan gambut memperlihatkan kesalingterkaitan berbagai faktor. Faktor ideologi pemerintah dalam menjalankan pembangunan (modernisasi, industrialisasi, dan kapitalisasi demi mengejar pertumbuhan ekonomi), persoalan pertanahan sebagai dampak ideologi pembangunan, korupsi, dan budaya prestise masyarakat (konsumerisme, kekayaan, keberhasilan, dan kehormatan) turut berperan dalam bencana kabut asap ini. Kaum ekofeminisme mengasalkan krisis ekologi ini pada suatu antroposentrisme, yang adalah juga androsentrisme. Prioritas kepentingan manusia dalam masyarakat industri, khususnya kaum laki-laki yang memegang kekuasan ekonomi dan politik menjadi sebab kerusakan ekologis ini. Sifat dan sistem patriarkat, yaitu dominasi dan eksploitasi yang bersumber pada pemahaman dualistik hierarkis merupakan sumber-sumber kerusakan ekologis. Faktor pertumbuhan ekonomi dan kemajuan hidup dijadikan capaian utama. Akhirnya alam ditindas dan dijadikan alat untuk mencapai kepentingan manusia (antroposentrisme). Namun demikian, perempuanlah yang mengalami keterserabutan lebih mendalam. Perempuan bekerja sama dengan alam untuk memproduksi kebutuhan keluarganya. Dengan rusaknya alam membuat perempuan semakin sulit bekerja sama dengan alam. Dengan melihat keadaan ini, kita hendaknya ikut dalam undangan ekofeminisme untuk melakukan transformasi kesadaran radikal. Transformasi ini dilakukan berdasarkanpemahaman kearifan lokal kita.
Sejarah Gereja Belanda Austin Friars di City of London: Refleksi Sejarah Gerakan Reformasi—Harapan dan Tantangan Napel, Henk ten
Gema Teologika Vol 2, No 1 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.551 KB) | DOI: 10.21460/gema.2017.21.284

Abstract

AbstractIn the centre of the City of London one can find the Dutch Church Austin Friars. Thanks to the Charter granted in 1550 by King Edward VI, the Dutch refugees were allowed to start their services in the church of the old monastery of the Augustine Friars. What makes the history of the Dutch Church in London so special is the fact that the church can lay claim to being the oldest institutionalised Dutch protestant church in the world. As such it was a source of inspiration for the protestant church in the Netherlands in its formative years during the sixteenth century. Despite its long history, the Dutch Church is still alive and well today. This article will look at the origin of this church and the challenges it faced and the developments it experienced during the 466 years of its existence. AbstrakDi pusat distrik keuangan di London (City of London) terdapat sebuah gereja dengan nama Gereja Belanda Austin Friars. Berkat surat keputusan yang dikeluarkan Raja Edward VI pada tahun 1550, pengungsi-pengungsi Belanda diberi hak untuk mengadakan kebaktian bersama di dalam gereja biara frater-frater Agustin. Sejarah Gereja Belanda di London menarik sekali, karena gereja ini dapat dikatakan adalah gereja kelembagaan yang bersifat protestan dan berbahasa Belanda yang pertama di dunia. Dalam situasi ini gereja ini menjadi sumber ilham buat Gereja Protestan di Nederland yang sedang berkembang pada abad ke-16. Walaupun sudah berumur lanjut, namun Gereja Belanda masih tetap hidup dan sehat sampai hari ini. Artikel ini dimaksudkan untuk melihat sejarah gereja tersebut sejak permulaannya serta tantangan dan perkembangan yang dialami dalam sejarahnya selama 466 tahun lebih.
Holy Grandeur Enough for All Hutagalung, Novriana Gloria
Gema Teologika Vol 2, No 2 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.551 KB) | DOI: 10.21460/gema.2017.22.317

Abstract

AbstractNatural degradation is not merely a competition between ecology and economy. The destruction of nature is closely related to religiosity and human relationships to fellow human beings, the environment, and God. Ecotheology becomes a self-criticism of the classical doctrines of Christianity, which are considered to exalt humankind as the “crown of creation” and marginalize non-human creatures as commodities of economic value for human interests. Ecotheology seems to have talked too often about damaged nature, or even extinct plants or animals, and forgetting the other side of the bountiful biodiversities, which is the holy beauty of nature. Ecotheology needs to ponder that God, the Holy Grandeur, who manifests the cosmic wisdom in the beauty of all creation, is enough for all. AbstrakDegradasi alam bukan semata-mata persaingan antara ekologi dan ekonomi. Kerusakan alam sangat terkait dengan religiositas dan relasi manusia terhadap sesama manusia, lingkungan sekitar, dan Allah. Ekoteologi menjadi sebuah otokritik atas doktrin-doktrin klasik Kristen yang dianggap telah meninggikan manusia sebagai ciptaan termulia dan meminggirkan ciptaan non-manusia sebagai komoditas bernilai ekonomis bagi kepentingan manusia. Ekoteologi tampaknya terlalu sering berbicara mewakili alam yang rusak, tumbuhan, dan hewan-hewan yang telah punah atau bahkan rusak, dan melupakan sisi lain dari keanekaragaman alam semesta, yakni keindah-kudusan alam itu sendiri. Ekoteologi perlu merenungkan bahwa Allah, Sang Semarak Kudus, yang memanifestasikan hikmat-kosmis dalam keindah-kudusan seluruh ciptaan, cukup untuk segala ciptaan dalam kelimpahruahan.
Globalisasi dan Keberagamaan di Asia: Pemikiran Kwok Pui-LanTeologi Poskolonial Feminis Asia Gultom, Odniel Hakim
Gema Teologika Vol 1, No 1 (2016): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.551 KB) | DOI: 10.21460/gema.2016.11.212

Abstract

The main thesis of this article is to present the phenomenon of globalization about cultural change (and economic) that gives effect to the "religion" and religious practice. Secularization as part of globalization and modernization, affecting cultural relations and "religion" in the region. Forms of religious practices which was appointed as the impact of globalization is privatization, fundamentalisasi, and the commodification of religion. Kwok Pui-Lan as an Asian postcolonial feminist theologians criticize globalization as a form of colonization with a new face that oppresses women and children. In the context of Asia with a diversity of religious and extreme poverty, how theology can provide a role in public life. Religion can not be separated from other social relations (especially cultural) as stated classic secularization theory. Thus the award to religious pluralism and inter-faith spirituality to be very important to build religiosity that appreciate coexsistence.AbstrakTesis utama dari artikel ini adalah globalisasi yang menghadirkan fenomena perubahan kultural (dan ekonomi) yang memberi dampak bagi agama dan keberagamaan. Sekularisasi sebagai bagian dari globalisasi dan modernisasi, memengaruhi hubungan budaya danagama di wilayah Asia. Bentuk keberagamaan yang diangkat sebagai dampak globalisasi adalah privatisasi, fundamentalisasi, dan komodifikasi agama. Kwok Pui-Lan sebagai seorang teolog feminis poskolonial Asia mengkritik globalisasi sebagai bentuk kolonialisasi dengan wajah baru yang menindas perempuan dan anak-anak. Dalam konteks Asia dengan kepelbagaian agama dan kemiskinan yang parah, bagaimana teologi bisa memberikan peran dalam kehidupan publik. Agama tidak bisa dipisahkan dari relasi sosial lainnya (khususnya budaya) seperti yang dinyatakan teori sekularisasi klasik. Dengan demikian penghargaan kepada pluralisme agama-agama dan spiritualitas antar iman menjadi sangat penting untuk membangun religiositas yang menghargai kehidupan bersama.
Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita: Dialog Misi Penginjilan Kristen dengan Dakwah Islam Menggunakan Pendekatan Teologi Interkultural dalam Konteks Indonesia Siahaan, Daniel Syafaat
Gema Teologika Vol 2, No 1 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.551 KB) | DOI: 10.21460/gema.2017.21.280

Abstract

AbstractEvangelism and da’wah are two obligations or responsibilities of people, Christians and muslims. I wonder how long these two religions involved in a “cold war” or even a real war, because of arrogant fundamentalist notion. Arrogant because with full consciousness has monopolized the truth, and act like they own the only true God. God has been reduced to their own and considers others deify the wrong god. As a result, the shape of evangelism is not far from the impression of christianization, and the form of da’wah not far from the impression of islamization. Whereas, we fi nd the plural phenomenon in Indonesia. In fact, with the philosophy of Bhinneka Tunggal Ika, Indonesian society should be able to appreciate and preserve otherness in harmony better. But reality says different. Christianization and islamization, plural occurs. Intention to write this article, arose from this concern. How evangelism and da’wah should be done in the context of the plurality of Indonesia, so in the end, You and I become Us. AbstrakMisi penginjilan dan dakwah merupakan dua kewajiban atau tanggung jawab umat Kristendan Islam. Entah telah berapa lama dua agama ini terlibat “perang dingin” atau malah perang nyata, dikarenakan pemahaman fundamentalis yang arogan. Arogan karena dengan kesadaran penuh telah memonopoli kebenaran dan bertindak seolah Tuhan yang benar hanyalah miliknya. Tuhan telah direduksi menjadi miliknya sendiri dan menganggap orang lain telah mempertuhankan tuhan yang salah. Alhasil, bentuk misi penginjilan tak jauh dari kesan kristenisasi, dan bentuk dakwah tak jauh dari kesan islamisasi. Fenomena demikian jamak kita temukan di Indonesia. Padahal, dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika, harusnya masyarakat Indonesia lebih mampu menghargai keberbedaan dan melestarikannya dalam harmoni. Tetapi, sering kenyataan berkata lain, kristenisasi dan islamisasi, jamak terjadi. Dalam keprihatinan demikianlah lahir niatan untuk menulis artikel ini. Bagaimana misi penginjilan dan dakwah harusnya dilakukan dalam konteks plural Indonesia, sehingga pada akhirnya, aku dan kamu bisa menjadi kita. 
Identitas-Identitas Teologis Kristen Protestan Indosesia Pasca Orde Baru: Sebuah Pemetaan Mojau, Julianus
Gema Teologika Vol 2, No 2 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.551 KB) | DOI: 10.21460/gema.2017.22.290

Abstract

AbstractProtestant Christianity in Indonesia cannot be inconsistant with the general principle of Protestantism worldwide: sola scriptura. That is why biblical identity is one of the identity markers of Protestant Christians in Indonesia. Also, it is impossible to understand the identity of Protestant Christianity in Indonesia, apart from christology as a marker of the identity in appreciating the second general principle of Protestantism: sola gratia. The unity of God as the trinity has also become another marker of identity. In the past these three identity markers are often seen as distinctive identities to “deny” theological and soteriological truth claims of local religions and Islam. But the fi ndings of this article show that the development of Protestant Christian theology in Indonesia after the New Order is more open to and dialogical with the theological and soteriological beliefs of local and Islamic religions. Although it must be admitted that in terms of trinitarian identity it still takes time to enter the dialogue with those religious traditions. AbstrakKekristenan Protestan (di) Indonesia tidak mungkin dapat dilepaskan dari prinsip umum Protestantisme sedunia: sola scriptura. Itulah sebabnya identitas alkitabiah merupakan salah satu penanda identitas kalangan Kristen Protestan (di) Indonesia. Selain itu, kita tidak mungkin memahami identitas Kristen Protestan (di) Indonesia, tanpa memerhatikan secara sungguh-sungguh identitas kristologis sebagai penanda identitas kalangan Kristen Protestan (di) Indonesia dalam menghayati prinsip umum Protestantisme kedua, yaitu: sola gratia. Di samping itu ajaran tentang keesaan Allah yang bersifat trinitaris telah juga menjadi salah satu penanda identitas Kristen Protestan (di) Indonesia. Di masa lampau ketiga penanda identitas ini sering kali dipandang sebagai identitas pembeda untuk “menyangkal” kebenaran-kebenaran teologis dan soteriologis pada agama-agama lokal dan Islam. Tetapi, hasil penelitian penulis memperlihatkan bahwa perkembangan pemikiran teologis Kristen Protestan (di) Indonesia pasca Orde Baru semakin terbuka terhadap dan dialogis dengan keyakinan-keyakinan teologis dan soteriologis agama-agama lokal dan Islam. Sekalipun harus diakui bahwa dalam hal identitas trinitaris masih membutuhkan waktu untuk memasuki dialog dengan keyakinan teologis agama-agama lokal dan Islam.
Resensi: Paideia—Filsafat Pendidikan-Politik Platon Kristianto, Paulus Eko
Gema Teologika Vol 2, No 2 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.551 KB) | DOI: 10.21460/gema.2017.22.355

Abstract

Kajian Atas Gereja Pentakosta-Kharismatik di Jawa, Indonesia: Sebuah Tantangan Rodemeier, Susanne
Gema Teologika Vol 1, No 1 (2016): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.551 KB) | DOI: 10.21460/gema.2016.11.210

Abstract

Using a recent case study, I am going to show which realities might demand adjusting research methods during every step of ethnographic field research. I am going to show that one can not be equipped with all research methods in advance. I will demonstrate via the progression of my own research why it is necessary to continuously adjust research methods to the broader situation even if it might be quite difficult. The case I present is taken from my most recent research amongst members in charismatic Pentecostal churches on Java, Indonesia. The relationship between my informants and me is evaluated. In my case study, it was necessary to recognize the importance of the cultural peculiarities of the Javanese language, in spite of the fact that Indonesian was spoken. Also the urban research field demanded special methodology. And last, but not least, the pressure informants put on the researcher by treating her as a possible proselyte demanded an unexpected sensitive approach. AbstrakMelalui studi kasus baru-baru ini, saya akan menunjukkan realitas yang mungkin memerlukan penyesuaian langkah demi langkah dari metode penelitian etnografi di lapangan. Seseorang tidak dapat menggunakan seluruh metode penelitian yang ada. Saya akan menunjukkan melalui penelitian yang saya lakukan mengapa perlu untuk terus menyesuaikan metode penelitian dalam situasi yang lebih luas bahkan jika itu mungkin cukup sulit. Kasus ini saya sajikan dari penelitian terbaru saya terhadap anggota di gereja-gereja Pantekosta Karismatik di Jawa, Indonesia. Hubungan antara narasumber saya dan saya dievaluasi. Dalam studi kasus saya, perlu untuk mengetahui pentingnya kekhasan budaya dari bahasa Jawa, terlepas dari kenyataan bahwa hal ini telah dibicarakan di Indonesia. Juga bidang penelitian perkotaan menuntut metodologi khusus. Dan terakhir, namun tidak sedikit, tekanan informan terhadap peneliti dengan memperlakukan saya sebagai seseorang yang tidak beragama menuntut dari saya pendekatan yang sensitif sekali.
Bukan Jalan Buntu, Melainkan Setapak Terjal: Sebuah Apresiasi Kritis terhadap Sumbangsih Teori Kultural-Linguistik Lindbeck bagi Penumbuhkembangan Dialog Antaragama yang Autentik Elliarso, Risang Anggoro
Gema Teologika Vol 1, No 1 (2016): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.551 KB) | DOI: 10.21460/gema.2016.11.213

Abstract

Advancing from his criticism against two principal theological theories of religion, namely (1) cognitive-propositional theory and (2) experiential-expressive theory, George A. Lindbeck proposes his cultural-linguistic theory as an alternative theory which is deemed more adequate in comprehending plurality of religions. Regrettably, for some, Lindbecks theory is considered rather as a closure to any interreligious dialogue, as a consequence of its superfluous emphasis on the incommensurability and untranslability amongst different religions. Therefore, within this modest article, taking into account several insights from postcolonial studies, I try to venture a critical appreciation on how Lindbecks cultural-linguistic theory might contribute to the endeavour of fostering constructive, authentic, and profound interreligious dialogue. I attempt to argue that Lindbecks cultural-linguistic theory, instead of imparting a cul-de-sac to any interreligious dialogue, actually lay bare a path for the dialogue. A path which is, whilst hard and steep, viable.AbstrakBertolak dari kritiknya terhadap dua tipe utama teori teologis mengenai agama, yakni:(1) teori kognitif-proposisional dan (2) teori eksperiensial-ekspresif, George A. Lindbeck mengajukan teori kultural-linguistik sebagai sebuah teori alternatif yang lebih memadai dalam rangka mempermaknai pluralitas agama. Sayangnya, bagi sebagian pihak, teori yang diajukan Lindbeck tersebut dipandang justru menutup pintu bagi dialog antaragama,karena terlalu menekankan ketaksepadanan dan ketakterjemahkanan di antara agama yang satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, dalam artikel sederhana ini, dengan mempertimbangkan beberapa tilikan dari kajian poskolonial, saya berupaya untuk mengapresiasi secara kritis sumbangsih teori kultural-linguistik Lindbeck bagi upaya menumbuhkembangkan dialog antaragama yang konstruktif, autentik, serta mendalam.Saya berupaya untuk menunjukkan bahwa teori kultural-linguistik Lindbeck, alih-alih menghadirkan jalan buntu bagi dialog antaragama, sejatinya justru membuka sebuah setapak yang, meski terjal, bukannya tidak mungkin ditempuh.
Mempertahankan Sorga di Delang: Dilema Sawit dan Hutan Simon, John Christianto
Gema Teologika Vol 1, No 2 (2016): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.551 KB) | DOI: 10.21460/gema.2016.12.229

Abstract

AbstractThe ecological issue has become crucial and urgent problem to be responded the logically and practically. This very issue is inseparable from a challenge in the form of catastrophic convergence: poverty, injustice, and violence. Analysis on the ecological problem brought us to trace back the problem of thought contributed by certain philosophical and thelogical thought. It has given birth to an absolute anthropocentrism which has been consolidated by certain theology and in turn gave birth to an expansive notion by way of the mastery over nature, even over other human fellow. The absolutisation of ratio brought about the birth of capitalism (globalized imperialism), which in turn created man as homo oeconomicus in which its keyword is injustice. In the middle of the impoverishing massive ecological damage, there is a different story that showed a local community’s ability in defendingthe environmental conservation. A small village, Kudangan, in Delang Subdistrict are in agreement “Defending Delang’s Forest against Palm Oil Plantation Expansion”. Theologically, the Delang’s local community see nature (forest) not only as something with economical value, but as a “home” for the Divine. The Divine abide in hills with its leafy trees in Delang’s area. Here, a contextual theology taking into account the local religiosity instilment to help us rediscovering our contextual mission, that which taking into account the primal worldview (read: cosmic religion), whose principal value is be friendly toward nature. AbstrakIsu ekologis kini menjadi isu krusial yang perlu disikapi secara teologis dan praktis. Isu ini sendiri tidak terpisah dari tantangan berupa “kesatuan bahaya besar” (catastrophic convergence): kemiskinan, ketidakadilan, dan kekerasan yang merajalela. Persoalan ekologis tidak terpisah dari paradigma fi losofi s dan teologis tertentu berupa antroposentrisme absolut dan melahirkan gagasan ekspansif melalui penguasaan atas alam bahkan atas manusia lain. Lahir pula “globalisasi imperialisme” (globalized imperialism) dan “manusia ekonomi” (homo oeconomicus) yang yang dapat menciptakan ketidakadilan. Di tengah masifnya kerusakan ekologi yang memiskinkan itu terdapat cerita yang berbeda tentang kemampuan masyarakat lokal mempertahankan kelestarian alam. Masyarakat Desa Delang bersehati “Mempertahankan Hutan Delang dari Ekspansi Sawit”. Dari kacamata teologis, masyarakat Delang memahami bahwa alam (hutan) bukan sekadar benda yang bernilai ekonomis, melainkan “rumah” bagi Yang Ilahi. Yang Ilahi ber-surga di bukit-bukit yang rimbun dengan pepohonan di wilayah Delang. Di sinilah teologi kontekstual mempertimbangkan penghayatan religiositas lokal untuk membantu kita menemukan kembali misi yang kontekstual, yaitu misi yang mempertimbangkan pandangan dunia primal (baca: agama kosmik), yang nilai utamanya bersahabat dengan alam. 

Page 1 of 3 | Total Record : 23