cover
Filter by Year
Gema Teologika
Jurnal GEMA TEOLOGIKA diterbitkan oleh Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana secara berkala (Bulan April dan Oktober). Tujuan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan karya-karya ilmiah di bidang disiplin ilmu teologi, terutama teologi kontekstual dan filsafat keilahian dalam konteks Indonesia dan dimaksudkan untuk merujuk pada upaya merefleksikan berbagai konteks kehidupan sosio-kultural-religius secara teologis dan logis. Jurnal GEMA TEOLOGIKA adalah lanjutan dari Majalah GEMA Duta Wacana (mulai 1975) yang berganti nama sejak 2006 menjadi Jurnal GEMA TEOLOGI sampai dengan 2015.
Articles
29
Articles
Holy Grandeur Enough for All

Hutagalung, Novriana Gloria

Gema Teologika Vol 2, No 2 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.98 KB)

Abstract

AbstractNatural degradation is not merely a competition between ecology and economy. The destruction of nature is closely related to religiosity and human relationships to fellow human beings, the environment, and God. Ecotheology becomes a self-criticism of the classical doctrines of Christianity, which are considered to exalt humankind as the “crown of creation” and marginalize non-human creatures as commodities of economic value for human interests. Ecotheology seems to have talked too often about damaged nature, or even extinct plants or animals, and forgetting the other side of the bountiful biodiversities, which is the holy beauty of nature. Ecotheology needs to ponder that God, the Holy Grandeur, who manifests the cosmic wisdom in the beauty of all creation, is enough for all. AbstrakDegradasi alam bukan semata-mata persaingan antara ekologi dan ekonomi. Kerusakan alam sangat terkait dengan religiositas dan relasi manusia terhadap sesama manusia, lingkungan sekitar, dan Allah. Ekoteologi menjadi sebuah otokritik atas doktrin-doktrin klasik Kristen yang dianggap telah meninggikan manusia sebagai ciptaan termulia dan meminggirkan ciptaan non-manusia sebagai komoditas bernilai ekonomis bagi kepentingan manusia. Ekoteologi tampaknya terlalu sering berbicara mewakili alam yang rusak, tumbuhan, dan hewan-hewan yang telah punah atau bahkan rusak, dan melupakan sisi lain dari keanekaragaman alam semesta, yakni keindah-kudusan alam itu sendiri. Ekoteologi perlu merenungkan bahwa Allah, Sang Semarak Kudus, yang memanifestasikan hikmat-kosmis dalam keindah-kudusan seluruh ciptaan, cukup untuk segala ciptaan dalam kelimpahruahan.

Identitas-Identitas Teologis Kristen Protestan Indosesia Pasca Orde Baru: Sebuah Pemetaan

Mojau, Julianus

Gema Teologika Vol 2, No 2 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (780.918 KB)

Abstract

AbstractProtestant Christianity in Indonesia cannot be inconsistant with the general principle of Protestantism worldwide: sola scriptura. That is why biblical identity is one of the identity markers of Protestant Christians in Indonesia. Also, it is impossible to understand the identity of Protestant Christianity in Indonesia, apart from christology as a marker of the identity in appreciating the second general principle of Protestantism: sola gratia. The unity of God as the trinity has also become another marker of identity. In the past these three identity markers are often seen as distinctive identities to “deny” theological and soteriological truth claims of local religions and Islam. But the fi ndings of this article show that the development of Protestant Christian theology in Indonesia after the New Order is more open to and dialogical with the theological and soteriological beliefs of local and Islamic religions. Although it must be admitted that in terms of trinitarian identity it still takes time to enter the dialogue with those religious traditions. AbstrakKekristenan Protestan (di) Indonesia tidak mungkin dapat dilepaskan dari prinsip umum Protestantisme sedunia: sola scriptura. Itulah sebabnya identitas alkitabiah merupakan salah satu penanda identitas kalangan Kristen Protestan (di) Indonesia. Selain itu, kita tidak mungkin memahami identitas Kristen Protestan (di) Indonesia, tanpa memerhatikan secara sungguh-sungguh identitas kristologis sebagai penanda identitas kalangan Kristen Protestan (di) Indonesia dalam menghayati prinsip umum Protestantisme kedua, yaitu: sola gratia. Di samping itu ajaran tentang keesaan Allah yang bersifat trinitaris telah juga menjadi salah satu penanda identitas Kristen Protestan (di) Indonesia. Di masa lampau ketiga penanda identitas ini sering kali dipandang sebagai identitas pembeda untuk “menyangkal” kebenaran-kebenaran teologis dan soteriologis pada agama-agama lokal dan Islam. Tetapi, hasil penelitian penulis memperlihatkan bahwa perkembangan pemikiran teologis Kristen Protestan (di) Indonesia pasca Orde Baru semakin terbuka terhadap dan dialogis dengan keyakinan-keyakinan teologis dan soteriologis agama-agama lokal dan Islam. Sekalipun harus diakui bahwa dalam hal identitas trinitaris masih membutuhkan waktu untuk memasuki dialog dengan keyakinan teologis agama-agama lokal dan Islam.

Resensi: Paideia—Filsafat Pendidikan-Politik Platon

Kristianto, Paulus Eko

Gema Teologika Vol 2, No 2 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.965 KB)

Abstract

Calvin dan Spiritualitas Kerahiman

Pattipeilohy, Stella Yessy Exlentya

Gema Teologika Vol 2, No 2 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.955 KB)

Abstract

AbstractThe keyword commonly used in mysticism and spirituality is “experience”. The instilling of God’s mercy, in fact, is a spiritual experience accosted by God’s love. Such experience is shared in a transformative praxis. The mercy of God is a faith experience that could be made a meeting point in fostering a love-based religious life. In the Protestant tradition, we can fi nd a foothold for the development of spiritual theology on John Calvin’s work, i.e. the so-called merciful spirituality. Today’s experience of God’s mercy is infl uenced by the contextual concern abaout the image of the Homeless Jesus. The refugees not only “challenge” Christian communities to recognise the Christ within the needy strangers, butalso welcome them in love and peace despite religious faith differences. AbstrakKata kunci yang umum digunakan dalam dunia mistik atau spiritualitas adalah “pengalaman” (experience). Penghayatan akan kerahiman Allah sesungguhnya adalah pengalaman spiritual disapa oleh cinta kasih Allah. Pengalaman ini berlanjut dalam tindakan mencinta dan dibagikan bagi sesama dalam praksis transformatif. Allah yang merahimi menjadi pengalaman iman yang dapat dijadikan titik temu dalam mengembangkan hidup beragama yang dasarnya adalah cinta kasih. Di dalam tradisi Protestan dapat ditemukan pijakan mengembangkan teologi spiritualitas Protestan, yaitu pada spiritualitas John Calvin yang disebut spiritualitas kerahiman. Pengalaman akan kerahiman Allah di masa kini ditantang oleh keprihatinan kontekstual dalam gambaran Homeless Jesus. Pengungsi tidak hanya “menantang” umat Kristiani untuk mengenali Kristus dalam diri orang asing dan membutuhkan, tetapi juga menyambutnya dalam kasih dan damai sekalipun mereka berbeda agama atau keyakinan.

Teologi Proses Mengenai Allah dan Problem Kejahatan: Suatu Tinjauan atas Kasus Al-Nakba

Soesilo, Anodya Ariawan

Gema Teologika Vol 2, No 2 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.408 KB)

Abstract

AbstractThis article presents process theology which is seen as an alternative modus offered by particular group of Christianity in dealing with radical evil. Process theology is a philosophical theology. It passes through the principles of concrescence and prehension offering the idea to identify that God’s works are more likely imanent persuasion, namely, the action of love and suavity. Concrescence is acknowledgement that the actual entities not denying if its existence was formed by past objective data (experience), but deliberately work onto prehension that grasp goodness for transforming and rehabilitating the sensitivity of human history. This article will expose the space for acting faith in the mode of human responsibility, keeping an open dialogue as well restraining the false arogancy of identity fanatism of quasi-religious, persisting, and defending humanity. Such concept is based on the hope of the God who is perceptive and saving as a contribution to solve the problem of the complexity of Al-Nakba. In the mechanism of thinking process, the shadow of the failure does not disappear so that humans are asked to be seriously responsible for this. The idea of process has described God as the God who involves in relationships with humans, refuting the monarch description of the God who demands and punishes. God in theology process is a figure who does not exercise power excessively. The God who guides, accompanies, and participates patiently in the world’s events still appreciates the independency of humans. That does not mean a justifi cation of irresponsible freedom. The true freedom is aligned with the God’s design, namely, the righteousness, sublimity, and kindness. AbstrakArtikel ini menghadirkan pemikiran teologi proses, yang dilihat, sebagai modus alternatif kekristenan tertentu dalam menghadapi bengal kejahatan radikal. Teologi proses adalah teologi filosofis. Teologi proses melalui prinsip konseptual konkresi, prehensi, menawarkan gagasan untuk mengenali bahwa karya Tuhan lebih mengarah kepada himbauan imanensi, yaitu tindakan cinta dan rahmat kelembutan. Konkresi sebagai pengakuan adalah bahwa entitas aktual tidak memungkiri dirinya turut dibentuk olehdata objektif (pengalaman) masa silam, namun mengusahakan kepada prehensi yakni kesengajaan untuk mencengkeram kebaikan, demi perubahan dan perbaikan sejarah manusia yang sensitif. Hasil penelusuran artikel ini mengintrodusir ketersembunyian Allah akan mengekspos ruang bagi iman yang bertindak dalam tanggung jawab manusia.  Untuk terus melakukan dialog terbuka, yang mengempangkan kemangkakan semu fanatisme identitas dari kuasi religius, seraya gigih mempertahankan martabat manusia. Mendasarkan harapan kepada Allah yang tanggap dan menyelamatkan sebagai kontribusi memulihkan problem Al-Nakba yang muskil. Dalam pemikiran proses, bayang-bayang kegagalan tidak sirna, sehingga menuntut tanggung jawab serius manusia. Terobosan gagasan proses menggambarkan Allah sebagai pribadi yang melibati relasi dengan manusia daripada menyodorkan gambaran Tuhan monarkis yang banyak menuntut dan menghakimi. Gambaran Allah dalam pemikiran teologi proses adalah Pribadi yang dapat menahan diri dari penggunaan kekuasaan eksesif. Allah yang dengan sabar membimbing, menyertai, berpartisipasi dalam menjejaki perisiwa dunia, dan masih menghargai kemandirian individu, kendati bukan kebebasan mana suka, melainkan yang selaras dengan kehendak Allah yang luhur, yakni mengejar visi kebenaran, keindahan,dan kebaikan.

Menafsir Metafora Dalam Kitab Hosea: Historis Kritis, Feminis, dan Ideologis

Setio, Robert

Gema Teologika Vol 2, No 2 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.351 KB)

Abstract

AbstractThe book of Hosea is one among a few books in the First Testament that gives rise to the diversity of interpretations. The text contains some language problems which prevent clear meaning. Its use of pornographic imagery as metaphor for the wrong doers has also provoked disagreements among the interpreters. Scholars throughout the ages have tried to look for the best way to receive the disturbing metaphor. By relating the Book with some historical circumstances, the metaphor is understood as representation of an historical reality, namely, the unfi t leadership of the Israelite and Judahite communities. According to this interpretation, the use of sexual imagery should not bother the readers as it merely serves to convey the harsh criticism towards the community leaders who brought the society into chaos. However, feminist interpreters do not agree with such kind of interpretation. In their view, unravelling the ideology that allows such the use of metaphor that denigrate woman is the main task of interpretation. Their criticism has opened our eyes of how ideology plays siginificant roles in the production of the Book. The story of Hosea and Gomer should not be taken for granted as it results from a certain way of thinking. The view of the writer of the Book, for the feminitsts, is strongly misogynistic that it deserves severe criticism. While criticizing the gender imbalance view of the Book, the feminists seem to forget the main purpose of the metaphor. This writing wants to show that the metaphor is actually intended to alarm the worst socio-political situation. The blame of the socio-political turbulences is put on the shoulder of those whose view differs from that of the writer’s. While blaming the opponents, the Book urges the acceptance of a dreamed society of the ideal. AbstrakKitab Hosea adalah salah satu dari kitab-kitab dalam Perjanjian Pertama yang menimbulkan kepelbagaian dalam penafsiran. Teks Hosea mengandung permasalahan bahasa yang mencegah kejelasan makna. Pemakaian gambaran pornografi sebagai metafora bagi mereka yang bersalah juga telah menimbulkan perbedaan pendapat di antara para penafsir. Para ahli dari berbagai zaman telah berusaha mengatasi persoalan-persoalan tersebut. Dengan menghubungkan teks dengan situasi-situasi sejarah, metafora dalam Kitab Hosea dijelaskan sebagai gambaran akan suatu realita sejarah, yaitu para pemimpin Israel dan Yehuda, yang dianggap tidak becus. Menurut model penafsiran yang seperti ini, pemakaian gambarangambaran seksual tidak harus mengganggu pembaca karena hal tersebut hanya digunakan sebagai sebuah kritik yang keras terhadap para pemimpin yang dianggap telah menyebabkan kekacauan dalam masyarakat. Tetapi, para penafsir feminis tidak setuju dengan argumentasi tersebut. Bagi mereka, tugas utama penafsiran adalah menguak ideologi yang membuatpemakaian metafora yang merendahkan perempuan itu dianggap sebagai hal biasa saja. Kritik para feminis tersebut membuka mata kita tentang bagaimana ideologi sangat berperan dalam pembuatan Kitab Hosea. Kisah Hosea dan Gomer tidak dapat dianggap sebagai hal yang biasa. Pandangan yang ada dalam Kitab Hosea memperlihatkan sikap misoginis yang perlu dikritik. Tetapi, pada saat melontarkan kritik terhadap pandangan yang tidak seimbang secara gender dari Kitab Hosea, para penafsir feminis justru melupakan tujuan utama dari metafora yang digunakan oleh kitab itu. Tulisan ini hendak memperlihatkan bahwa metafora tersebut bertujuan memperlihatkan sebuah keadaan sosial-politik yang kacau. Kekacauan ini kemudian diletakkan penyebabnya di atas pundak orang-orang yang berseberangan pandangan dengan penulis Kitab Hosea. Sembari melontarkan kesalahan pada para lawan, Kitab Hosea juga mendesakkan sebuah model masyarakat impian yang ideal.

Sejarah Gereja Belanda Austin Friars di City of London: Refleksi Sejarah Gerakan Reformasi—Harapan dan Tantangan

Napel, Henk ten

Gema Teologika Vol 2, No 1 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.331 KB)

Abstract

AbstractIn the centre of the City of London one can find the Dutch Church Austin Friars. Thanks to the Charter granted in 1550 by King Edward VI, the Dutch refugees were allowed to start their services in the church of the old monastery of the Augustine Friars. What makes the history of the Dutch Church in London so special is the fact that the church can lay claim to being the oldest institutionalised Dutch protestant church in the world. As such it was a source of inspiration for the protestant church in the Netherlands in its formative years during the sixteenth century. Despite its long history, the Dutch Church is still alive and well today. This article will look at the origin of this church and the challenges it faced and the developments it experienced during the 466 years of its existence. AbstrakDi pusat distrik keuangan di London (City of London) terdapat sebuah gereja dengan nama Gereja Belanda Austin Friars. Berkat surat keputusan yang dikeluarkan Raja Edward VI pada tahun 1550, pengungsi-pengungsi Belanda diberi hak untuk mengadakan kebaktian bersama di dalam gereja biara frater-frater Agustin. Sejarah Gereja Belanda di London menarik sekali, karena gereja ini dapat dikatakan adalah gereja kelembagaan yang bersifat protestan dan berbahasa Belanda yang pertama di dunia. Dalam situasi ini gereja ini menjadi sumber ilham buat Gereja Protestan di Nederland yang sedang berkembang pada abad ke-16. Walaupun sudah berumur lanjut, namun Gereja Belanda masih tetap hidup dan sehat sampai hari ini. Artikel ini dimaksudkan untuk melihat sejarah gereja tersebut sejak permulaannya serta tantangan dan perkembangan yang dialami dalam sejarahnya selama 466 tahun lebih.

FRONT-MATTER

Listijabudi, Daniel Kurniawan

Gema Teologika Vol 2, No 1 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (885.839 KB)

Abstract

Ketika Aku dan Kamu Menjadi Kita: Dialog Misi Penginjilan Kristen dengan Dakwah Islam Menggunakan Pendekatan Teologi Interkultural dalam Konteks Indonesia

Siahaan, Daniel Syafaat

Gema Teologika Vol 2, No 1 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.53 KB)

Abstract

AbstractEvangelism and da’wah are two obligations or responsibilities of people, Christians and muslims. I wonder how long these two religions involved in a “cold war” or even a real war, because of arrogant fundamentalist notion. Arrogant because with full consciousness has monopolized the truth, and act like they own the only true God. God has been reduced to their own and considers others deify the wrong god. As a result, the shape of evangelism is not far from the impression of christianization, and the form of da’wah not far from the impression of islamization. Whereas, we fi nd the plural phenomenon in Indonesia. In fact, with the philosophy of Bhinneka Tunggal Ika, Indonesian society should be able to appreciate and preserve otherness in harmony better. But reality says different. Christianization and islamization, plural occurs. Intention to write this article, arose from this concern. How evangelism and da’wah should be done in the context of the plurality of Indonesia, so in the end, You and I become Us. AbstrakMisi penginjilan dan dakwah merupakan dua kewajiban atau tanggung jawab umat Kristendan Islam. Entah telah berapa lama dua agama ini terlibat “perang dingin” atau malah perang nyata, dikarenakan pemahaman fundamentalis yang arogan. Arogan karena dengan kesadaran penuh telah memonopoli kebenaran dan bertindak seolah Tuhan yang benar hanyalah miliknya. Tuhan telah direduksi menjadi miliknya sendiri dan menganggap orang lain telah mempertuhankan tuhan yang salah. Alhasil, bentuk misi penginjilan tak jauh dari kesan kristenisasi, dan bentuk dakwah tak jauh dari kesan islamisasi. Fenomena demikian jamak kita temukan di Indonesia. Padahal, dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika, harusnya masyarakat Indonesia lebih mampu menghargai keberbedaan dan melestarikannya dalam harmoni. Tetapi, sering kenyataan berkata lain, kristenisasi dan islamisasi, jamak terjadi. Dalam keprihatinan demikianlah lahir niatan untuk menulis artikel ini. Bagaimana misi penginjilan dan dakwah harusnya dilakukan dalam konteks plural Indonesia, sehingga pada akhirnya, aku dan kamu bisa menjadi kita. 

Metode Kuantitatif dalam Teologi Praktis

Hadiwitanto, Handi

Gema Teologika Vol 2, No 1 (2017): Gema Teologika
Publisher : Faculty of Theology Duta Wacana Christian University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.962 KB)

Abstract

AbstractOne of modern practical theology’s task is what so-called descriptive-empirical task. In this sense practical theology does require an empirical approach for her reflection. Therefore practical theologians should have sufficient skills in using methods of field research. Traditionally qualitative methods have been known more among theologians. And in the same time some people suspect that quantitative methods are not suitable and cannot explain any theological problems. Some others concern and think that quantitative methods only work deductively and it is against the tradition of theology from below which normally works inductively. This essay would like to show how quantitative methods can work within theological fi eld and give theologians an alternative approach when they want to empirically understand particular religious community. Obviously we realise that social sciences such as sociology and social psychology have developed quantitative methods in their researches for long time. In the spirit of interdisciplinary approach we owe them some explanations in running particular quantitative analyses. AbstrakSatu tugas dari teologi praktis modern saat ini adalah deskriptif-empiris di mana teologi harus memahami situasi lapangan secara empiris. Terkait dengan hal ini teologi praktis memerlukan pendekatan empiris sebelum melakukan refleksi teologisnya. Dan dengan demikian maka seorang teolog praktis harus memiliki keterampilan yang memadai dalam menggunakan metode-metode penelitian lapangan. Secara tradisional metode kualitatif sudah dikenal dengan lebih baik di antara para teolog. Dan pada saat yang bersamaan beberapa orang curiga bahwa metode kuantitatif tidak cocok dan tidak dapat menjelaskan permasalahan-permasalahan teologis. Beberapa orang lain berpikir bahwa metode kuantitatif bekerja secara deduktif dan hal tersebut melawan tradisi teologi dari bawah yang semestinya bersifat induktif. Tulisan ini hendak memperlihatkan secara kritis bagaimana metode kuantitatif juga dapat bekerja dalam teologi dan memberikan alternatif pada para teolog ketika mereka hendak memahami suatu komunitas religius secara empiris. Tentu kita menyadari bahwa ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi dan psikologi sosial telah lama mengembangkan metode kuantitatif ini dalam penelitian-penelitian yang mereka lakukan. Dalam semangat pendekatan interdisipliner kita berhutang pada mereka tentang bagaimana analisis-analisis kuantitatif dijalankan.