cover
Filter by Year
Edukasia Islamika
Published by IAIN Pekalongan
edukasiaislamika adalah jurnal berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pekalongan.
Articles
32
Articles

Wekke, Ismail Suardi

Edukasia Islamika Vol 3 No 1: June 2018
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.218 KB)

Abstract

Not only does pesantren (a term used to refer to an Islamic boarding school) instill a religious spirit, but it also interprets Indonesia based on the spirit of nationalism. Therefore, it is not surprising if later pesantren is presented in an attempt to dedicate itself to the nation and the state of Indonesia besides in the interests of Islam definitely. In addition to education, educational institutions such as pesantren also have socio-cultural functions and duties. Thus, a significant spiritual movement needs to be created in order to strengthen empowerment intended to provide education holistically. Among the tool to facilitate instructional processes is the mastery of Arabic. This paper describes the practices of teaching and learning Arabic among Muslim minorities using the approach of the principles of modernity. This research was conducted in West Papua, which covered five regencies and one city. Findings of the research suggest that instruction in a number of pesantren in Mayamuk, Aimas, Waisai, Teminabuan, Kaimana, Waigom, and Misol, was carried out in a structured manner. In those seven locations, Islamic education which adopted a language skill-based instructional framework was carried out by employing a communicative approach among santri (i.e. a term used to refer to students who go to pesantren). The skill developed among santri was language expression without any special emphasis on the mastery of grammar. The environment of pesantren equipped with a boarding school for santri as a place to stay facilitated interactions among santri to practice their language skills. Their language skills were adjusted to the learning context and the accompanying environment. The existing social aspects were then used to facilitate the learning process. Finally, this research draws conclusions that differences in learning objectives which determine the aspects of the approach and methodology affect Arabic instruction.

karyanto, umum budi

Edukasia Islamika Vol 2 No 2: Desember 2017
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.674 KB)

Abstract

Islam sebagai agama yang sempurna dan universal yang berlaku sepanjang waktu, kapan pun dan di mana pun memiliki visi mengantarkan manusia menuju kehidupan yang lebih baik. Islam juga merupakan agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hal ini sesuai dengan misi ajaran Islam, yakni membebaskan manusia dari berbagai bentuk anarki dan ketidakadilan. Pada tataran nilai, Islam sejak awal mengajarkan kebaikan dan moralitas luhur, dan pada saat yang sama melarang segala perilaku jahat. Cita-cita moral ideal Islam adalah membangun dunia, di mana orang Islam maupun non-Islam hidup bersama menikmati keadilan,kedamaian, kasih sayang, dan keharmonisan. Cita-cita moral merupakan tugas semua elemen masyarakat, terutama para pemimpin agama dan para intelektual untuk menangkap pesan-pesan moral agama yang dapat membawa kepada kehidupan yang harmonis di tengah pluralitas. Pada tataran ini pula, pendidikan karakter memiliki peran strategis dalam menggapai cita-cita Islam agar para penganutnya memiliki mindset yang pluralistik, tidak sektarian apalagi mendiskreditkan golongan lain. Dengan demikian, umat Islam mengerti akan pengertian, karakteristik, dan misi Islam itu sendiri sehingga orang tidak lagi mengatasnamkan Islam untuk kepentingan pribadi, kelompok, dan partai. Bahkan, tidak ada lagi paham ekstrem yang mengatasnamakan Islam sebagai kedok dengan tujuan untukmelakukan aksi terorisme sehingga Islam dianggap sebagai agama teroris.

Shidiq, Rohani

Edukasia Islamika Vol 2 No 2: Desember 2017
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.397 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas tentang paradigma pemikiran KH. MA Sahal Mahfudh, konsep fiqh sosial dan transformasi pendidikan pesantren. Penelitian ini menggunakan pendekan kualitatif dengan jenis kepustakaan (library research). Dalam pandangan beliau, pendidikan pesantren bukan semata-mata berorientasi keagamaan (tafaqquh fial-din), namun juga sebagai pusat belajar hidup dan transformasi menuju tatanan masyarakat yang shalih dan akram, sebagaimana misi kekhalifahan manusia. Pesantren diyakini sebagai model pendidikan yang menjanjikan bagi perwujudan tradisi agung (great tradition) masyarakat yang berkarakter (akhlaq al-karimah) dan berkeadaban (civilization society). Terkait fiqh sosial, bagi Kiai Sahal fiqh bukanlah konsep dogmatis-normatif, tapi aktifprogresif. Sehingga fiqh senantiasa berkembang dari waktu ke waktu seiring perkembangan masa. Fiqh tidak kaku dan stagnan. Karenanya fiqh sosial tidak hanya mencakup persoalan amaliyah ibadah mahdlah an sich, akan tetapi juga mencakup berbagai persoalan dan problematika kehidupan, termasuk diskursus dan problematika pendidikan Islam, terlebih dunia pesantren. Sedangkan transformasi pendidikan pesantren, dimaknai bahwa pesantren tetap berfungsi sebagai lembaga tafaqquh fi al-din, namun juga diberi muatan tambahan, yakni mengupayakan adanya sebuah sistem pendidikan yang juga memiliki keterampilan hidup (life skill) sebagai jawaban atas arus modernisasi. Menurut Kiai Sahal, transformasi pendidikan pesantren dapat diidentifikasi secara detail melalui transformasi pada komponen komponen pendidikannya yang meliputi tujuan, kelembagaan, keorganisasian, kurikulum, metodologi, dan tenaga pengajar.

Mucahromah, Miftah

Edukasia Islamika Vol 2 No 2: Desember 2017
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.939 KB)

Abstract

Guru merupakan profesi yang mulia, karena pendidikan adalah salah satu tema sentral dalam Islam. Guru bukan hanya sekedar tenaga pengajar, tetapi sekaligus pendidik. Seorang guru bukan hanya memiliki kualifikasi keilmuan dan akademis saja, tetapi yang lebih penting harus terpuji akhlaknya. Dengan demikian, seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu pengetahuan saja tetapi yang lebih penting membentuk watak dan pribadi peserta didik dengan akhlak dan ajaran Islam. Era milenia adalah era digital dan on line. Pada era ini, peserta didik sangat tergantung dengan media sosial. Mereka dihadapkan dengan derasnya informasi dari berbagai hal, sementara secara kepribadian mereka belum memiliki filter untuk memilah dan memilih informasi. Oleh karena itu mereka sangat membutuhkan bimbingan dari seorang guru. Kondisi peserta didik yang demikian, tentunya diperlukan guru yang benarbenar mampu untuk membimbing dan mengarahkan agar mereka mampu memfilter hal-hal yang kurang sesuai. Dengan demikian tanggung jawab guru pada era milenia semakin kompleks,sehingga menuntut guru tidak hanya kemampuan profesional tetapi juga harus memiliki nilai-nilai yang mampu membentuk watak dan pribadi peserta didiknya dalam menghadapi dunianya. Diantara nilai yang perlu dimiliki oleh guru diantaranya adalah nilai-nilai rahmatan lil alamin, yang meliputi humanis, kerjasama, sosial -profetik, toleransi dan pluralisme, keseimbangan, keteladanan, dialogis serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Tabi’in, A.

Edukasia Islamika Vol 2 No 1: Juni 2017
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (204.886 KB)

Abstract

Pendidikan bagi anak usia dini memang pendidikan yang paling dasar bagi anak. Pada tahap ini orang tua harus benar-benar memperhatikan pendidikan bagi anaknya. Baik dalam memilih lembaga pendidikan bagi sang anak atau pun memilih untuk mendidik sendiri sang anak dirumah. Dalam pendidikan anak usia dini hendaknya memperhatikan kecerdasan yang dimiliki oleh anak. Karena kecerdasan antara anak satu dengan anak yang lain berbeda. Orang tua maupun pendidik anak usia dini harus mengenali kecerdasan yang dimiliki anak agar dapat mengarahkan dan mengembangkan kecerdasan yang dimiliki anak secara maksimal. Dasawarsa ini, seorang anak dikatakan cerdas jika mampu menguasai bidang  matematika atau sains, dan pada kenyataanya banyak anak yang tidak menguasai dua bidang ini matematik dan sains  menjadi frustrasi untuk mengejar prestasi. Padahal telah muncul banyak  perkembangan terbaru mengenai kecerdasan seseorang dan telah terjadi banyak  fakta bahwa banyak orang yang sukses tidak selalu sebanding dengan kemampuan matematika dan sainsnya. Kecerdasan kini tidak hanya dipandang dari dua aspek kemampuan tersebut di atas saja, namun dapat di kategorikan macam-macam kecerdasan  seperti yang diungkapkan  oleh Howard Gardner.

Indrawati, Triana

Edukasia Islamika Vol 2 No 1: Juni 2017
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.992 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesejahteraan psikologis siswa SMP Terbuka yang diprediksi oleh kecerdasan emosi dan dukungan sosial. Asumsi awal yang diajukan adalah kecerdasan emosi dan dukungan sosial dapat memprediksi kesejahteraan psikologis pada siswa SMP Terbuka. Sampel dalam penelitian ini adalah 100 siswa SMP Terbuka di Cirebon yang diambil dengan teknik cluster random sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian terdiri dari 3 skala. Pertama, skala kesejahteraan psikologis yang disusun berdasarkan aspek-aspek dari Ryff (1989) berjumlah 30 item dengan koefisien korelasi  0,312-0,590 dan koefisien alpha sebesar 0,887. Kedua, skala kecerdasan emosi berdasarkan aspek-aspek dari Goleman (2002) yang terdiri dari 29 item dengan koefisien korelasi  0,331-0,631 dan koefisien alpha sebesar 0,897. Ketiga, skala dukungan sosial yang disusun berdasarkan aspek-aspek dari Cohen dan Syme (1985) yang terdiri dari 28 item koefisien korelasi  0,350-0,624 dan koefisien alpha sebesar 0,895. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi ganda. Hasil analisis regresi menunjukan F= 63,883, p=0,001 (p<0,05) dan R2=0,568 yang artinya kecerdasan emosi dan dukungan sosial dapat memprediksi kesejahteraan psikologis pada siswa SMP Terbuka. Kecerdasan emosi dan dukungan sosial memberi kontribusi sebesar 56,8% terhadap kesejahteraan psikologis.

Wahyudi, Muchamad Agus Slamet

Edukasia Islamika Vol 2 No 1: Juni 2017
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.925 KB)

Abstract

artikel ini memaparkan konsep pendekatan behavior dalam menangani perilaku insdisipliner pada siswa korban perceraian. Behavior sendiri merupakan salah satu pendekatan dalam bimbingan dan konseling untuk mengatasi perilaku maladaptive menuju ke adaptif. Pendekatan behavior merupakan pendekatan yang tepat guna menangani siswa yang tidak disiplin di sekolah. Agar siswa mampu menjalankan tugasnya dengan baik di sekolah, tanpa mengalami hambatan. Perilaku tidak disiplin ini dipengaruhi salah satu faktor yaitu masalah-masalah dari internal siswa, yang cenderung dari latar belakang siswa akibat perceraian. Metode penelitian dengan menggunakan endekatan deskriptif kualitatif dengan menekankan pada terjun langsung kelapangan. Selanjutnya apabila assessment sudah dilakukan, maka perencanaan dapat dilaksanakan ke proses konseling. Dimulai kontrak konseling, rileksasi, modeling, reward dan punisment sampai tahap follow up.

Ulya, Inayatul

Edukasia Islamika Vol 2 No 1: Juni 2017
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.32 KB)

Abstract

Kurikulum memiliki peran yang sangat penting dalam proses pendidikan karena kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum mencerminkan ke arah mana hasil pendidikan diorientasikan. Sehingga, sebagai alat untuk mencapai tujuan, kurikulum hendaknya adaptif terhadap perubahan zaman. Selain itu, kurikulum juga harus bisa memberikan arahan dan patokan kompetensi kepada peserta didik setelah menyelesaikan suatu program pendidikan, sehingga kurikulum tersebut dapat mendeskripsikan tujuan-tujuan tertentu yang berkenaan dengan penguasaan pengetahuan dan pengembangan pribadi. Pada sisi lain, Indonesia termasuk negara yang mempunyai komitmen untuk ikut memperjuangkan tercapainya KKG (Keadilan dan Kesetaraan Gender). Inpres (Instruksi Presiden) No. 9 Tahun 2000 tentang  PUG (Pengarusutamaan Gender) dalam pembangunan nasional, telah menginstruksikan  kepada seluruh kementerian/lembaga serta pemerintah provinsi dan kabupaten untuk melaksanakan PUG dalam setiap perencanaan, pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program yang berperspektif gender dalam  segenap aspek pembangunan, termasuk dalam bidang pendidikan. Untuk menentukan arah pendidikan, dibutuhkan desain kurikulum yang berperspektif gender. Sehingga dapat dijadikan acuan penyusunan strategis dalam pengintegrasian gender dalam kurikulum pendidikan. Strategi pengintegrasian gender dalam kurikulum pendidikan juga harus didukung oleh suksesnya pelaksanaan pendidikan karakter pada setiap lembaga pendidikan. Sehingga dalam merumuskan kurikulum pendidikan hendaknya diorientasikan bagi pembentukan karakter perserta didik, karena kurikulum dapat menjadi media yang strategis untuk menanamkan nilai-nilai karakter peserta didik.

Istiyani, Dwi

Edukasia Islamika Vol 2 No 1: Juni 2017
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (154.642 KB)

Abstract

Madrasah diniyah (MADIN) merupakan bagian dari lembaga pendidikan keagamaan Islam yang banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Eksistensi MADIN sebagai entitas kelembagaan pendidikan keagamaan Islam di Indonesia mengalami tantangan dari masa ke masa. MADIN saat ini ada dua kategori, yaitu madrasah diniyah takmiliyah (MDT/Non Formal) dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Madrasah diniyah dari masa ke masa mengalami tantangan baik itu secara eksternal maupun internal. Saat ini, tantangan yangs edang dihadapi oleh madrasah diniyah justru secara internal (pemerintah/kemendikbud), yaitu munculnya kebijakan full day school (FDS), yang dianggap akan mendegradasi eksistensi madrasah diniyah sebagai entitas kelembagaan pendidikan keagamaan Islam di Indonesia. Tantangan yang dihadapi MADIN justru menjadi imun sebagai lembaga yang lebih mengedepankan fungsi sosialnya pada masyarakat, terutama masyarakat pedesaan.

Shidiq, Rohani

Edukasia Islamika Vol 2 No 1: Juni 2017
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.314 KB)

Abstract

Radikalisme perilaku keagamaan merupakan permasalahan yang harus segera dicarikan jalan keluarnya. Problematika ini jika dibiarkan lambat laun akan menjadi fenomena gunung es yang sewaktu-waktu dapat meledak secara masif dan membahayakan keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kerukunan hidup umat beragama. Fenomena ini bukan sesuatu yang dapat dianggap remeh, mengingat kaum radikal sudah merambah ke dunia pendidikan, sejak usia Sekolah Menengah dan Perguruan Tinggi. Maraknya aksi kekerasan atas nama agama akhir-akhir ini diakui atau tidak merupakan suatu “keberhasilan” kaderisasi yang dilakukan oleh kalangan Islam radikal. Oleh karenanya, upaya melakukan deradikalisasi pendidikan agama (Islam) merupakan suatu keniscayaan, agar bibit-bibit kelompok radikal tidak tumbuh berkembang di tengah-tengah kebhinekaan agama, ras, suku, bangsa dan bahasa.