Edukasia Islamika
Published by IAIN Pekalongan
edukasiaislamika adalah jurnal berkala ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Pekalongan.
Articles
10
Articles
Implementasi Prophetic Leadership di MI Nurul Ulum Bantul

Syams, Askina Nurani

Edukasia Islamika Vol 3 No 1: June 2018
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.208 KB)

Abstract

AbstrakProphetic leadership merupakan model kepemimpinan yang berlandaskan pada keteladanan Nabi Muhammad SAW. Prophetic leadership sangat dibutuhkan dalam memimpin madrasah, karena sebagai kepala pada suatu madrasah yang merupakan lembaga pendidikan berbasis keislaman harus memiliki nilai-nilai spiritual yang berlandaskan pada agama. Penerapan konsep prophetic leadership dapat dilakukan dengan meneladani 4 sifat Nabi Muhammad SAW, yaitu sidik, amanah, tablig, dan fatonah. Implementasi dari prophetic leadership menjadikan sumber daya manusia (SDM) yang dipimpin sejalan dengan keinginan seorang pemimpin dalam mencapai suatu tujuan bersama. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model prophetic leadership di MI Nurul Ulum Bantul. Hasil dari penelitian ini adalah penerapan model prophetic leadership di MI Nurul Ulum dilakukan dengan meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad SAW khususnya empat sifat Nabi yang sangat terkenal, yaitu sidik, amanah, tablig, dan fatonah. Penerapan konsep prophetic leadership membuahkan hasil yang positif sehingga para guru yang dipimpin sejalan dengan kebijakan yang dilakukan oleh kepala madrasah di MI Nurul Ulum.Kata Kunci: kepemimpinan, madrasah, prophetic leadershipAbstractProphetic leadership is a leadership model that based on the example of the Prophet Muhammad SAW. Prophetic leadership is needed to lead madrasah, because as a leader of islamic education institutions must have a spiritual values based on religion. Implementation of the concept of prophetic leadership can be done by imitating the four properties of the Prophet Muhammad SAW, those are sidik, amanah, tablig, and fatonah. The Implementation of prophetic leadership makes human resources led in line with the desire of a leader to achieve a common goal. This study aims to describe the implementation of prophetic leadership at MI Nurul Ulum Bantul. The result of this research is the implementation of prophetic leadership in MI Nurul Ulum by imitating the characteristics of Prophet Muhammad SAW especially four very famous Prophets character, those are sidik, amanah, tablig, and fatonah. The implementation of prophetic leadership produce teachers led in accordance with policies by leader madrasah.

Nilai Pendidikan dalam Tradisi Mitoni (Studi Tradisi Perempuan Jawa Santri Mendidik Anak dalam Kandungan di Pati, Jawa Tengah)

Ulya, Inayatul

Edukasia Islamika Vol 3 No 1: June 2018
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Mitoni is a Javanese tradition that performs special rituals. This tradition highlights a philosophical meaning for Javanese women, particularly educational values for a baby in the womb. Concerning its development, these values have shifted from its original meaning promoted by both native Javanese women and Javanese santri (students in Islamic boarding schools) women. This present study aims to explore educational values for the baby during Mitoni. A descriptive study of continuity was employed in this research. The findings reveal three characteristics of Javanese women’s perspectives on this tradition based on their subjects, namely: 1) formalistic-traditionalist Islamic view, 2) semi-formalistic-traditionalist Islamic view, and 3) pure Islamic view. Meanwhile, Mitoni, the Javanese tradition, proposes several educational values for the baby according to the Javanese santri women in Pati, Central Java. First, Mitoni provides the baby with the recognition basis of tauheed (oneness of Allah). Second, it enhances parents or prospective parents’ spirit when they educate the baby during pregnancy. Third, this tradition emerges as their effort to give good nutrition for the baby, especially in the seventh month-period of pregnancy. Lastly, Mitoni also demonstrates meaningful understanding for current young generations to preserve this cultural Javanese tradition so as to exist in the future.

Integrasi Sains dan Agama serta Implikasinya terhadap Pendidikan Islam

Arifudin, Iis

Edukasia Islamika Vol 1 No 1: Desember 2016
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.715 KB)

Abstract

AbstractIntegration of science and religion means combining science and religion.However, it does not completely mix them because they have their own characteristics. The integration of science and religion is a very possible thing in Islamic paradigm because it is based on the concept of tauhid. It is necessary for science and religion to emerge the awareness of holistic and comprehensive concept in education. By integrating science and religion especially in Islamic education system, the students will be motivated to conduct a scientific research by linking it to religion. Moreover, it will also encourage the teachers to be more creative in teaching the students and educate the school participants to respect other religions as well.AbstrakMembicarakan tentang integrasi sains dan agama berarti berupaya untuk memadukan antara sains dan agama, tak harus berarti menyatukan atau bahkan mencampuradukan, karena identitas atau watak dari masing-masing kedua entitas itu tak mesti hilang dan harus tetap dipertahankan. Dalam paradigma Islam, integrasi antara agama dan sains adalah sesuatu yang mungkin adanya, karena didasarkan pada gagasan ke-Esa-an (tauhid). Sudah saatnya, sains dan agama harus menghadirkan kesadaran yang muncul lewat pandangan-pandangan yang lebih harmonis, holistik, dan komprehensif. Pendidikan merupakan salah satu medium terbaik untuk tujuan tersebut. Dengan integrasi sains dan teknologi berimplikasi pada pendidikan Islam antara lain: pertama, berimplikasi dalam hal kurikulum, mengantarkan peserta didik agar memiliki hasrat dan kemampuan untuk melakukan penelitian (riset) pada bidang-bidang sains untuk kemudian menemukan “titik sambungnya” dengan realitas objektif yang terjadi pada wilayah keagamaan. Kedua, implikasi dalam proses belajar mengajar, guru mengembangkan imajinasi kreatif. Dan ketiga implikasi dalam aspek pendidikan sosial keagamaan. Dengan paradigma integratif, menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan sebuah keyakinan dalam beragama.

Pendekatan Sufistik dalam Pendidikan Islam (Telaah Pemikiran Hamka)

Subhi, Muhamad Rifa’i

Edukasia Islamika Vol 1 No 1: Desember 2016
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.013 KB)

Abstract

AbstractThe background of this research is the same objective of Hamka’s concept related to modern tasawuf with the concept of Islamic education which aims to create qualified human being by balancing the physical and spiritual life. This study uses library research method through intellectual biography approach and content analysis in analyzing the data. Research result shows that according to Hamka, there are two main dimensions which appears from human beings; they are dimension of vertical submission to God and dimension ofhorizontal dialectic with the surrounding societies. Therefore, in order to realize the objective of Islamic education, it is necessary to provide Islamic learning material which can develop students’ potential in expressing their competence.AbstrakPenelitian dilatar belakangi oleh adanya persamaan tujuan antara konsep tasawuf modern Hamka dengan konsep pendidikan Islam, yakni terciptanya manusia yang berkualitas dengan adanya keseimbangan antara kehidupan jasmani dan rohani. Permasalahan dibahas menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui pendekatan intellectual biography. Beberapa karya ilmiah Hamka dijadikan sebagai sumber utama pada penelitian ini, dengan didukung karya ilmiah lain yang relevan. Teknik analisis data yang digunakan teknik analisisis dan interpretasi data. Pemikiran Hamka mengenai pendidikan Islam dapat dilihat dari rumusan tujuan pendidikan Islam yang tidak jauh berbeda dengan konsep tasawuf modern Hamka, yaitu terciptanya dua dimensi utama yang muncul dari diri manusia, yaitu dimensi ketundukan vertikal kepada sang Khalik dan dimensi dialektika horizontal terhadap sesama dan lingkungan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan tujuan pendidikan Islam tersebut dibutuhkan muatan materi dan proses pendidikan Islam yang mampumembantu mengembangkan potensi (fitrah) manusia (peserta didik), sehingga ia dapat mengekspresikan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Peran pendidik yang memiliki kepribadian dengan kehidupan kerohanian tinggi diperlukan dalam proses pendidikan Islam, dimulai dari keluarga (in-formal), sekolah (formal), sampai masyarakat (non-formal), sehingga dapat membantu peserta didik dalam mengembangkan potensinya serta memiliki kekuatan cita-cita yang dinamis dan religius dengan diikuti kekuatan iradah yang tinggi.

Pendidikan Kepribadian Anak Menurut Abdullah Nashih Ulwan

Imron, Ali

Edukasia Islamika Vol 1 No 1 (2016): Desember
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.579 KB)

Abstract

AbstractChildren are great imitators who always imitate people around them. As they areprecious gifts from God, it is an obligation to look after and educate them in aproper manner with Islamic values such as giving behavior education to the children. Abdullah Nashih Ulwan said that behavior education is very importantfor children. Educators, including parents and society, are responsible for developing it. The behavior education which should be developed includes three domains; they are physical education, intellectual education, and spiritual education as well.AbstrakAnak merupakan peniru ulung baik melalui penglihatan, pendengaran dan tingkah laku lainnya dari orang-orang di sekitarnya. Untuk itu dibutuhkan Pendidikan kepribadian sebagai proses pembentukan karakter anak karena di dalam pendidikan di beri bimbingan agar seorang anak bisa keluar dari suatu masalah agar anak yang tadinya memiliki kepribadian kurang baik bisa lebih baik karena di proses dan dibimbing dalam dunia pendidikan. Maraknya kejadian dikalangan remaja akibat pergaulan bebas hingga penyalah gunaan obat-obat terlarang membutuhkan perhatian dan peran aktif semua pihak untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa ini. Abdullah Nashih Ulwan telah menjelaskan arti pentingnya pendidikankepribadian anak yang menjadi tanggung jawab bagi para pendidik, termasuk ayahibu (orang tua), dan masyarakat. Tujuan penulis artikel ini adalah untuknmengetahui pendidikan Kepribadian Anak Menurut Abdullah Nashih Ulwan. Metode yang digunakan adalah daftar pustaka. Hasil studi pustaka menyimpulkan bahwa pendidikan kepribadian anak menurut Abdullah Nashih Ulwan tentang pengembangan kepribadian anak merupakan tanggung jawab bersama baik pendidikan fisik atau jasmani, pendidikan intelektual/aqliyah, dan pendidikan rohani/kejiwaan.

Dekadensi Moral di Kalangan Pelajar (Revitalisasi Strategi PAI dalam Menumbuhkan Moralitas Generasi Bangsa)

Iskarim, Mochamad

Edukasia Islamika Vol 1 No 1: Desember 2016
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.349 KB)

Abstract

Abstract:Globalization is shown by the development in science and technology which brings great effects including the positive and negative one. One of the negative effects of globalization is the emergence of consumerism, hedonism, and secularism which causes moral decadence of the nations. The worse condition of this condition can be seen from the bad attitude and behavior of the students. Therefore, Islamic education which has main role in constructing moral of the students should be rearranged to solve this problem. This condition shows the importance of revitalizing the strategy of Islamic education in minimizing moral decadence of the nations.Abstrak:Globalisasi ditunjukkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Perkembangan Iptek memberikan dampak yang sungguh luar biasa. Di samping dampak yang positif, pada kenyataannya perkembangan Iptek menggoreskan banyak persoalan negatif, terutama kemerosotan moralitas generasi bangsa (dekadensi moral). Sebagai bawaan dari perkembangan Iptek, sikap konsumeristis, hedonistis, dan sekuleristis merupakan embrio terjadinya dekadensi moral generasi. Hal ini diperparah lagi ketika dekadensi moral ini sudah menggejala di kalangan pelajar tunas-tunas bangsa. Dengan demikian, pendidikan agama yang merupakan titik strategis dalam pembinaan moral harus berbenah dan mengukur kembali peran sertanya dalam persoalan tersebut. Di sinilah pentingnya revitalisasi strategi pendidikan agama Islam (PAI) dalam rangka meminimalisir dekadensi moral yang semakin hari semakin memprihatinkan.

Peranan Lingkungan terhadap Semangat Belajar dalam Khazanah Kitab Kuning

Barmawi, Muhammad

Edukasia Islamika Vol 1 No 1: Desember 2016
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.961 KB)

Abstract

AbstractBased on scientific treasure, motivation has an important role in encouragingstudents to reach their goals. Because of its importance in education, the writerwants to conduct a research about the concept of motivation in the treasure ofclassic books (kitab kuning) especially in al-Zarnuji’s book entitled Ta’lim alMuta’allim which describes about education in Islamic perspective. The research uses descriptive analysis method which describes and analyzes the content of the book. The analysis result brings to three conclusions. First, motivation is divided into two parts they are intrinsic and extrinsic motivation. Second, environment, especially family environment, has a big role in motivating students to learn. Finally, the theory of motivation mentioned in Ta’lim al-Muta’allim discusses about extrinsic motivation only, while intrinsic motivation is the realization of extrinsic motivation.AbstrakDalam khazanah keilmuan, motivasi ditempatkan pada posisi yang cukup urgen.Sebab ia adalah materi yang mampu mendorong semangat anak didik dalammenggapai cita-cita yang diidam-idamkan. Para pakar pendidikan dalam menjelaskan konsep motivasi menyatakan bahwa, motivasi terklasifikasi menjadi dua bagian ; Pertama, motivasi instrinsik, yakni motivasi yang muncul secara naluri kemanusiaan atas kebutuhan-kebutuhannya. Kedua, motivasi ekstrinsik, yakni motivasi yang muncul dari rangsangan dari luar dirinya.Karena pentingnya konsep motivasi dalam pendidikan, penulis terdorong untukmeneliti kembali motivasi dalam khazanah kitab kuning. Sedangkan objekkajiannya ialah karya al-Zarnuji dengan nama Ta’lim al-Muta’allim, alasannya.Kitab tersebut merupakan kitab yang telah lahir masa silam, namun hingga kinikitab tersebut tetap menjadi kitab yang diidolakan di kalangan pesantren.Sedangkan metode yang digunakan dalam risalah ini ialah metode deskriptifanalisis, yaitu sebuah metode yang berusaha mendeskripsikan karya yang sedang dikaji dan selanjutnya dianalisis. Berdasarkan metode tersebut, penulis berhasil mendapatkan beberapa kesimpulan sebagaimana berikut :Pertama. Secara konseptual motivasi terklasifikasi menjadi dua bagian ; Pertama, motivasi instrinsik (motifasi yang tumbuh dengan sendirinya dalam jiwa seseorang). Kedua, motivasi ekstrinsik (motivasi yang tumbuh sebagai akibat rangsangan dari luar dirinya)Kedua, Lingkungan memiliki peran yang penting dalam menumbuhkan motivasibagi anak didik, sedangkan lingkungan yang paling berperan terhadap pendidikan anak terklasifikasi menjadi tiga ; Pertama, lingkungan keluarga. Kedua, lingkungan masyarakat. Ketiga, lingkungan pendidikan.Ketiga, Teori pendidikan ideal yang terdapat di dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, khususnya tentang motivasi hanyalah berbicara tentang motivasi yang bersifat ekstrinsik, sedangkan motivasi instrinsik merupakan realisasi atas motivasi yang di dapat dari luar dirinya (ekstrinsik).

Rethinking Spirit Pendidikan Islam (Belajar dari Lembaga Pendidikan Sufi; Ribat, Khanqah danZawiyah)

Handriawan, Dony

Edukasia Islamika Vol 1 No 1: Desember 2016
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.628 KB)

Abstract

AbstractSufi educational institutions such as ribat, khanqah and zawiyah are one of a long series of Islamic educational institution development. The emergence of those institutions is less popular than other Islamic educational institutions such as kuttab, masjid khan, madrasah, etc. However, ribat, khanqah, and zawiyah belong to outstanding educational institution at their age, so there are many positive things that can be learned from those institutions. Learning from other educational institutions does not always do the same way they did in the past, because a good educational institution is the one which can response the world challenge at the time being. Therefore, if it is impossible to imitate their educational system, at leastwe can learn and imitate their spirit in developing Islamic educational institutionsAbstrakLembaga pendidikan sufi ribat, khanqah dan zawiyah merupakan salah saturangkaian dari sejarah panjang perkembangan lembaga pendidikan Islam.Kemunculan tiga lembaga pendidikan sufi ini, tampak tidak begitu populerdibandingkan dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya seperti kuttab,masjid khan, madrasahdan lain-laninya. Mengambil hikmah ataupun nilai dari mempelajari dan membahas lembagalembaga pendidikan Islam masa lampau tentu tidak berarti harus mengadopsi secara mentah apa yang telah dilakukan pada masa terdahulu, meskipun sebuah lembaga pendidikan tertentu mencapai kesuksesan sekalipun. Sebab bagaimanapun sebuah institusi pendidikan yang baik, haruslah yang bisa menjawab tantangan dunia pada zaman dimana institusi tersebut lahir. Demikian juga ribat, khanqahdan zawiyahmerupakan lembaga-lembaga pendidikan terbaik pada zaman dan konteksnya. Sehingga, jika tidak meniru sistem pendidikannya maka minimal bisa meniru spirit yang diusung oleh eksistensi lembaga-lembaga pendidikan tersebut.

Madrasah Diniyah di Tengah Kampung PSK

Wibowo, A.M

Edukasia Islamika Vol 1 No 1: Desember 2016
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.898 KB)

Abstract

AbstractRecently, the rate of young marriages in Indonesia is getting higher. It is necessary to have some efforts in restraining it such as delivering an informal education through madrasah diniyah. The aim of this study is to find out the role of Madrasah Diniyah Miftahul Hidayah in restraining the rate of young marriages and prostitution in a village of Bandar district, Batang regency, Central Java. By using case study approach, the research came to three conclusions. First, Madrasah Diniyah Miftahul Hidayah is an informal educational institution which tries to anticipate young marriage and prevent prostitution. Second, one of the efforts done in restraining them is by changing the curriculum, the teachers’ and students’ mindset as well. Finally, the obstructions faced in restraining them is the strong opinion of the society that the more girls get married earlier, more prestigious she is.AbstrakDi Indonesia angka perkawinan usia dini di Indonesia masih tergolong tinggi.Diperlukan usaha-suaha dalam mencegahnya, salah satunya adalah melalui lembaga pendidikan informal seperti madrasah diniyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Madrasah Diniyah Miftahul Hidayah dalam usahanya mencegah dan menekan angka pernikahan usia dini, dan jaringan prostitusi akibat pernikahan usia dini di Desa X, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus penelitian ini berhasil menemukan empat temuan yaitu (1) Madrasah Diniyah Miftahul Hidayah di Desa X, Kecamatan Bandar Kabupaten Batang, merupakan sebuah lembaga pendidikan keagamaan informal yang bertujuan untuk mengatisipasi budaya perkawinan anak usia dini serta mencoba memutuskan jaringan pelacuran sebagai akibat perkawinan usia dini. (2) usaha yang dilakukan Madarash Diniyah Miftahul Hidayah dalam mengantisipasi / mengadvokasi pernikahan usia dini dan prostitusi di Desa X Kecamatan Bandar Kabupaten Batang adalah dengan melakukan perubahan pola pikir para asatidz dan santri serta melakukan perubahan kurikulum pendidikan dan pengajarannya. (3) faktor penghambat atau tantangan yang harus dihadapi oleh madin dalam mengatasi masalah perkawinan dini dan pelacuran adalah sulitnya mengikis budaya masyarakat sekitar tentang semakin cepat anak perempuan menikah maka ia semakin berharga.

Pendidikan Karakter dalam Perspektif Islam

Musrifah, Musrifah

Edukasia Islamika Vol 1 No 1: Desember 2016
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.735 KB)

Abstract

AbstractRecently, successful education is measured from the quantity of the students. It does not focus on the quality of education. There is even an Islamic school whichdoes not apply the Islamic values in its management and curriculum at all. It showsthat there is lack of awareness of the importance of character education. Then, what is the importance of character education? Character education is considered to be the effective way in overcoming teenage mischief and social deviation. If character educations containing Islamic values are included in the teaching and learning process, the students will be the next generation of leaders with strong character.AbstrakIndikator sebuah lembaga pendidikan dikatakan maju tentu tidak hanya melihatpada tinggi rendahnya kuantitas peserta didik, melainkan juga melihat pada kualitas kompetensi yang dimiliki para peserta didik dan lulusannya, tidak hanya dari nilai akademik saja melainkan juga pada prestasi non akademik termasuk sikap dan perilaku peserta didik yang baik dan berkarakter mulia. Terkadang penulis menemukan sekolah berlabel Islam akan tetapi kurang mampu dalam membangun aspek religi para peserta didiknya. Dan jika terjadi penyimpangan norma agama, maka yang disalahkan pertama kali adalah pendidik mata pelajaran agama. Padahal sebenarnya membangun aspek religi dan menguatkan karakter peserta didik adalah tugas bersama sebagai komunitas sekolah. Pendidikan merupakan kunci dalam membentuk karakter anak sejak dini, karena hakikat pendidikan tidak hanya sebatas transfer of knowledge akan tetapi juga transfer of values, semua itu dilakukan untuk membangun karakter anak bangsa berkepribadian mulia serta menanggulangi kenakalan remaja dari berbagai penyimpangan sosial. Jika karakter individu didasari nilai-nilai agama sebagai pondasi/dasar utama maka akan lahir jiwa karakter yang kuat dan menjadi tunas bangsa yang kuat pula. Tujuan utama pendidikan karakter menurut Islam adalah membentuk kepribadian peserta didik sehingga memiliki etika, dan rasa berbudaya yang baik serta mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.