cover
Filter by Year
Articles
170
Articles
Pengaruh Organizational Citizenship Behavior (OCB) terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Karyawan

Lestari, Endah Rahayu, Ghaby, Nur Kholifatul Fithriyah

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Keberhasilan organisasi tergantung pada kinerja karyawan sebagai sumber daya manusia yang merupakan elemen penting dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan sebuah perusahaan. Kinerja karyawan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain Organizational Citizenship Behavior (OCB) dan kepuasan kerja. OCB merupakan perilaku karyawan di luar tugas yang tercantum pada deskripsi pekerjaannya. Lima dimensi OCB adalah altruism, conscuentiousness, sportmanship, courtessy, dan civic virtue. Kepuasan kerja merupakan keadaan emosi seseorang yang menyenangkan atas hasil pencapaian karya, lingkungan kerja, maupun kehidupan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh OCB dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan. Responden penelitian adalah karyawan PG Krebet Baru Malang. Teknik pengambilan sampel adalah stratified random sampling. Pengembangan model menggunakan pemodelan struktural. Pengolahan data menggunakan Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa OCB berpengaruh positif signifikan baik terhadap kepuasan kerja maupun kinerja karyawan. Makin tinggi kepuasan kerja akan meningkatkan kinerja karyawan. Kepuasan kerja memediasi sebagian (partly mediation) hubungan antara OCB dengan kinerja karyawan.Kata kunci: Kepuasan kerja, kinerja karyawan, organizational citizenship behavior (OCB) Abstract The success of the organization depends on the performance of employees as human resources which is an essential element in realizing the vision, mission, and goals of a company. Employee performance is influenced by many factors, including Organizational Citizenship Behavior (OCB) and job satisfaction. OCB is the behavior of employees outside of the job description. The five dimensions of OCB are altruism, conscientiousness, sportsmanship, courtesy, and civic virtue. Job satisfaction is the emotion of a person who enjoys the results of the work, work environment, and work life. This study aims to determine the effect of OCB on job satisfaction and employee performance. Respondents are employees of PG Krebet Baru Malang. The sampling technique is stratified random sampling. Model development uses structural modeling. Data were analyzed using Partial Least Square (PLS). The results showed that OCB has a significant positive effect both on job satisfaction and employee performance. Higher job satisfaction will improve employee performance. Thus, job satisfaction as partly mediation of the relationship between OCB and employee performance.Keywords: Job satisfaction, performance, organizational citizenship behavior (OCB)  

Pengaruh Lama Waktu Pengadukan dan Konsentrasi NaOH pada Proses Pemurnian Minyak Goreng Superworm (Zophobas morio)

Musyaroh, Musyaroh, Hidayat, Nur

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakSuperworm (Zophobas morio) memiliki asam lemak dan produktivitas yang tinggi sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan baku minyak goreng. Netralisasi dengan NaOH merupakan solusi untuk meningkatkan kualitas minyak goreng superworm. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan NaOH dan lama waktu pengadukan pada proses netralisasi untuk meningkatkan kemurnian minyak goreng superworm. Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial 2 faktor digunakan dalam penelitian ini. Faktor yang digunakan yaitu konsentrasi NaOH (14°Be, 16°Be dan 18°Be) dan lama waktu pengadukan (10 menit, 15 menit dan 20 menit). Parameter uji pada penelitian ini yaitu jumlah rendemen, kadar air, kadar asam lemak bebas, dan organoleptik (warna, rasa dan aroma). Dari penelitian yang dilakukan, faktor yang tidak berpengaruh secara signifikan yaitu penambahan konsentrasi NaOH dan lama waktu pengadukan terhadap aroma dan rasa. Faktor yang berpengaruh secara signifikan yaitu konsentrasi NaOH terhadap rendemen dan kadar asam lemak bebas, lama waktu pengadukan terhadap kadar asam lemak bebas. Faktor lama pengadukan, faktor penambahan NaOH serta interaksi keduanya juga berpengaruh secara signifikan terhadap kadar air dan warna minyak goreng superworm. Konsentrasi NaOH terbaik adalah 18°Be dengan lama pengadukan 15 menit, kadar asam lemak bebas 0,20 mg KOH/g dan kadar air 0,05% (b/b).Kata kunci: minyak goreng, netralisasi, superworm AbstractSuperworm (Zophobas morio) has fatty acid and high productivity, so it is potential to use it as raw material for cooking oil. Neutralization with NaOH is a solution to improve the quality of the superworm cooking oil. The purpose of this research is to know the effect of NaOH usage and stirring time on neutralization process to increase superworm cooking oil purity. Completely Randomized Design Factorial Factor 2 factors were used in this study. The factors used were NaOH concentration (14° Be, 16° Be and 18° Be) and stirred time (10 minutes, 15 minutes and 20 minutes). The test parameters in this study were the amount of rendement, water content, free fatty acid content, and organoleptic (color, flavor, and aroma). From the research conducted, the factors that did not significantly influence the addition of NaOH concentration and the duration of stirring to the aroma and taste. Factors that significantly influence the concentration of NaOH to the rendement and free fatty acid content, also the stirring period to free fatty acid content. The stirring time factor, the addition of NaOH factor and the interaction of both also significantly influence the water content and the color of the superworm cooking oil. The best NaOH concentration was 18° Be with a stirring time of 15 minutes, the free fatty acid content of 0.20 mg KOH / g and water content of 0.05% (w/w).Keywords: neutralization, cooking oil, superworm 

Analisis Kelayakan Finansial Industri Bio-pellet Kulit Kopi di Kabupaten Jember

Rusdianto, Andrew Setiawan, Septyatha, Firdyan, Choiron, Miftahul

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakBio-pellet merupakan bahan bakar padat berbasis biomassa yang terbuat dari biomassa limbah pertanian. Biomassa berpotensi untuk dikembangkan menjadi energi alternatif karena mempunyai sifat dapat diperbaharui. Keunggulan bio-pellet yaitu dapat meningkatkan nilai kalor yang dihasilkan dari proses pembakaran. Salah satu limbah pertanian yang dapat digunakan untuk membuat bio-pellet adalah limbah kulit kopi. Potensi kulit kopi sebagai bahan baku pembuatan bio-pellet di Kabupaten Jember belum diketahui karena merupakan industri baru yang belum banyak dikembangkan di Kabupaten Jember. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial bio-pellet di Kabupaten Jember. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis finansial diantaranya BEP, PBP, NPV, IRR, BC ratio dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian analisis finansial menunjukkan BEP produksi 16.045 unit dan BEP penjualan sebesar Rp497.393.063, PBP selama 5 tahun 9 bulan 16 hari, NPV sebesar Rp238.519.901, IRR sebesar 14,1%, dan B/C ratio sebesar 1,032. Berdasarkan hasil tersebut, industri bio-pellet kulit kopi layak dijalankan secara finansial di Kabupaten Jember karena telah memenuhi kriteria kelayakan finansial.Kata kunci: analisis finansial, bio-pellet, industri, kulit kopi AbstractBio-pellets are biomass-based solid fuels made from agricultural waste biomass. Biomass has the potential to be developed into alternative energy because it has renewable properties. The advantages of bio-pellets are to increase the calorific value generated from the combustion process. One of the agricultural wastes that can be used to make bio-pellets is the coffee skin waste. The potential of coffee skin as raw material for bio-pellet making in Jember Regency is not known because it is a new industry that has not been developed in Jember Regency. This study aims to analyze the financial feasibility of bio-pellets in Jember District. This research method uses financial analysis method such as BEP, PBP, NPV, IRR, BC ratio and sensitivity analysis. The results of the financial analysis showed BEP production of 16,045 units and BEP sales of 497,393,063 IDR, PBP for five years nine months 16 days, NPV of 238,519,901 IDR, IRR of 14.1%, and B / C ratio of 1.032. Based on these results, the bio-pellet coffee industry is feasible to run financially in Jember Regency because it meets the criteria of financial feasibility.Keywords: bio-pellet, coffee peel, financial analysis, industry 

Perencanaan Strategi Pemasaran Keripik Kentang dengan Metode ANP dan TOPSIS di Agronas Gizi Food, Kota Batu

Effendi, Usman, Wardahniati, Asti, Deoranto, Panji

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakAgronas Gizi Food merupakan industri keripik kentang yang memasarkan produknya di Kota Batu, Malang, Bandung, Magelang, Surabaya dan Sidoarjo serta membuka gerai di dekat tempat produksi. Agronas Gizi Food belum menetapkan strategi pemasaran untuk mengembangkan usahanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sub kriteria yang menjadi prioritas untuk digunakan sebagai acuan merumuskan alternatif strategi pemasaran serta untuk menentukan prioritas strategi pemasaran di Agronas Gizi Food. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah ANP dan TOPSIS. ANP digunakan untuk mengidentifikasi prioritas sub kriteria. TOPSIS digunakan untuk menentukan prioritas strategi pemasaran. Variabel yang digunakan pada penelitian ini yaitu 5 kriteria dan 15 sub kriteria sumber daya pemasaran. Hasil penelitian menunjukkan sub kriteria yang memiliki bobot tertinggi untuk merumuskan alternatif strategi pemasaran di Agronas Gizi Food adalah membangun hubungan dengan konsumen dengan bobot kepentingan 0,296. Prioritas strategi pemasaran di Agronas Gizi Food adalah meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan dengan skor sebesar 0,97.Kata kunci: ANP, keripik kentang, strategi pemasaran, TOPSIS AbstractAgronas Gizi Food is the potato chips industry, It markets the products in Batu, Malang, Bandung, Magelang, Surabaya and Sidoarjo and its store is near the production place. Agronas Gizi Food has not set the marketing strategy to develop their business. The objective of this research is to identify priorities of the sub-criteria to be used as a reference to formulate the alternative marketing strategies as well as to determine the priority of marketing strategy in Agronas Gizi Food. The method used in this research is ANP and TOPSIS. ANP is used to identify the priority of sub-criteria. TOPSIS is used to determine the priority of the marketing strategy. The variables in this research are five criteria and 15 sub-criteria of marketing resources. The result shows that the sub-criteria that has the highest weight to formulate the alternative of marketing strategies in AgronasGizi Food is building the relationship with consumers, the importance weight is 0.296. The priority of marketing strategy in AgronasGizi Food is improving the quality service to the customers with scores is 0.97.Keywords: ANP, marketing strategy, potato chips, TOPSIS 

Analisis Penilaian Konsumen terhadap Kinerja Kantin Perguruan Tinggi

Sucipto, Sucipto, Rahman, Frida Shofia, Mustaniroh, Siti Asmaul

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakPengukuran kinerja kantin perguruan tinggi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis. Di Universitas Brawijaya (UB), konsumen kantin meliputi mahasiswa, karyawan, dan dosen dengan jumlah mencapai 63.580 jiwa. Berdasarkan tingkat penerapan manajemen, operasional, kelengkapan sarana dan prasarana, serta pelayanan, kantin UB dikelompokkan menjadi kantin A, B+, dan B. Penilaian konsumen penting untuk mendukung keberlangsungan bisnis kantin UB. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan dan pengaruh penilaian konsumen terhadap kinerja kantin UB. Penilaian konsumen dilakukan dengan metode Partial Least Square (PLS) terkait aspek keamanan pangan, kehalalan pangan, kenyamanan lokasi, dan harga melibatkan 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan variabel paling dominan yang memengaruhi kinerja kantin A dan B adalah kehalalan pangan. Pengelola kantin A dan kantin B dapat membuat alternatif standar produksi menu halal dan harga seragam agar menciptakan persaingan bisnis yang sehat. Variabel paling dominan terhadap kinerja kantin B+ adalah keamanan pangan. Semua stan di kantin B+ diharapkan memiliki area penjualan khusus untuk meminimalisir cemaran biologi atau fisik. Pengelola kantin UB diharapkan lebih memperhatikan kondisi kantin untuk menciptakan suasana lebih nyaman sebagai tempat makan dan berdiskusi, sebagai penciri kantin perguruan tinggi. Sertifikasi halal diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan konsumen. Kata kunci: kinerja kantin, perguruan tinggi, halal, konsumen AbstractUniversity canteen performance measurement is essential to maintain business sustainability. In Universitas Brawijaya (UB), canteen consumers include students, employees, and lecturers with a total of 63,580 people. UB canteen grouped into canteen A, B+, and B level based on the management, operational, completeness of facilities and infrastructure, and service implementation. Consumer valuation is vital to support UBs canteen business sustainability. This study aims to determine the relationship and influence of consumer valuation on the performance of UB canteen. Partial Least Square (PLS) method used for consumer assessment related to food safety, halal food, location convenience, and price involving 100 respondents. The result showed that the most dominant variable affecting the performance of canteen A and B is halal food. Canteen A and canteen B manager can make alternative production standardized on the halal menu and uniform prices to create healthy business competition. Food safety is the most dominant variable on the canteen B+ performance. All stands in canteen B+ are expected to have a particular sales area to minimize biological or physical contamination. More awareness is needed to create a more comfortable canteen atmosphere as a place to eat and discuss. Halal certification is expected to increase consumer trust.Keywords: university canteen, performance, halal, consumer 

Analisis Kerusakan Mekanis dan Umur Simpan pada Rantai Pasok Buah Naga di Kabupaten Tanah Laut

Amalia, Raden Rizki, Hairiyah, Nina, Nuryati, Nuryati

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Sebagai salah satu komoditas hortikultura, buah naga memiliki tingkat kerusakan yang cukup tinggi dalam proses distribusinya hingga ke konsumen. Entitas yang terlibat dalam rantai pasok buah naga adalah petani, pedagang pengumpul kecil, pedagang pengumpul besar, pedagang pengecer, dan konsumen. Dilihat dari banyakya entitas pada rantai pasok buah naga, maka diperlukan kajian mengenai jenis dan persentasi tingkat kerusakan mekanis dengan tujuan mempertahankan kualitas buah naga sampai ke konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi jenis kerusakan, analisis penyebab kerusakan mekanis pada setiap tahapan handling, memberikan solusi langkah perbaikan yang bisa dilakukan, serta menganalisis umur simpan buah naga yang masih layak untuk di jual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kerusakan mekanis yang terjadi pada saat pengamatan buah naga dapat diklasifikasikan menjadi abrasion, bruising, shatter cracking, cutting, puncture dan splitting. Berdasarkan hasil identifikasi didapatkan bahwa rata-rata presentasi kerusakan pada tahap pemanenan sebesar 46%, transportasi 35%, penyusunan display di toko 15% dan pada saat proses pembelian di pedagang pengecer sebesar 4%. Pada hari ke-sembilan, buah yang busuk/tidak dapat terjual mencapai 51,07% dari total buah yang mengalami kerusakan mekanis pada hari pertama, sementara buah naga lainnya mengalami penurunan mutu diikuti dengan penurunan harga jual sampai dengan 100% setelah hari ke tiga belas.Kata kunci: buah naga, kerusakan mekanis, umur simpan AbstractAs one of the horticulture commodities, dragon fruit has a high level of damage in the distribution process. Entities involved in the dragon fruit supply chain are farmers, small collectors, large collectors, retailers, and consumers. A lot of supply chain entities makes it necessary to study the type and percentage of mechanical damage degree to maintain the dragon fruit quality. This study aims to identify the types of mechanical damage, mechanical damage causes analysis on each stage handling, providing possible solutions improvement steps, and analyzing the shelf life of worth selling dragon fruit. The results showed mechanical damage type that occurred during the dragon fruit observation classified into abrasion, bruising, shatter cracking, cutting, puncture and splitting. Based on the results of the identification, the average percentage of damage at the harvesting stage is 46%, transportation 35%, the arrangement in 15% display and at the buying process at retailer 4%. On a ninth day, rotten/unsold fruit reaches 51.07% of the total dragon fruits that go through mechanical damage on the first day while the other dragon fruit has a decreased quality followed by a drop in the selling price up to 100% after the thirteenth day.Keywords: dragon fruit, mechanical damage, shelf life 

FRONT MATTER

Astuti, Retno

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Prospek Produksi Bioetanol dari Limbah Pertanian dan Sampah Organik

Susmiati, Yuana

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Bioetanol merupakan salah satu bioenergi yang digunakan sebagai substitusi bensin dan bersifat ramah lingkungan. Bahan baku bioetanol yang bersumber dari tanaman budidaya membutuhkan biaya tinggi dan bersaing dengan penyediaan pangan. Limbah pertanian dan sampah organik mempunyai kandungan kimia yang potensial digunakan sebagai bahan baku alternatif pembuatan bioetanol. Tujuan dari kajian ini adalah menentukan potensi limbah pertanian dan sampah organik sebagai bahan baku bioetanol di Indonesia, mengidentifikasi jenis teknologi proses produksi bioetanol yang dapat dikembangkan, serta menentukan dampak pengembangan produksi bioetanol tersebut terhadap lingkungan, sosial ekonomi dan keberlanjutannya. Metode penelitian yang dilakukan meliputi pengumpulan data jumlah limbah pertanian dan sampah organik, penghitungan potensi bietanol yang dapat diproduksi dan analisis sesuai hasil kajian pustaka. Potensi limbah pertanian dan sampah organik di Indonesia pada tahun 2015 cukup tinggi yaitu 156.892.752,7 ton dan 1.035.889,2 ton serta dapat dikonversi menjadi bioetanol sebanyak 11.880.641,29 kiloliter dan 72.511,2 kiloliter. Teknologi proses pengolahan limbah pertanian dan sampah organik menjadi bioetanol dapat dilakukan secara Separate Hydrolysis and Fermentation (SHF), Simultaneous Saccharification Fermentation (SSF) dan Consolidated BioProcessing (CBP). Konsep keberlanjutan pengem-bangan bioetanol dari limbah pertanian dan sampah organik dituangkan dalam causal loop diagram dan memberikan dampak positif terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi.Kata kunci: bioetanol, limbah pertanian, sampah organik Abstract Bioethanol is environmentally friendly bioenergy used as a gasoline substitute. Bioethanol raw materials sourced from cultivated plants require high cost and compete with the provision of food. Agricultural waste and organic waste have potential chemical content used as alternative feedstock for bioethanol production. The objective of this study is to determine the potential of agricultural and organic waste as a raw material for bioethanol in Indonesia, to identify the types of bioethanol production process technologies that can be developed, and to determine the impact of bioethanol production development on the environment, socio-economic and sustainability. The research methods include collecting data on the amount of agricultural and organic waste, calculating bioethanol producing potential and analysis according to the results of a literature review. The potential of agricultural waste and organic waste in Indonesia in 2015 is quite high at 156,892,752,7 tons and 1,035,889.2 tons and can be converted into bioethanol as much as 11,880,641.29 kiloliters and 72,511.2 kiloliters. Separate Hydrolysis and Fermentation (SHF), Simultaneous Saccharification Fermentation (SSF) and Consolidated BioProcessing (CBP) are some of the technology that turns waste and organic waste into bioethanol. The concept of sustainable development of bio-ethanol from agricultural waste and organic waste is poured into causal loop diagrams and has a positive impact on the environment, social and economic.Keywords: agricultural waste, bioethanol, organic waste 

BACK MATTER

Astuti, Retno

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Analisis Usaha Budidaya Maggot sebagai Alternatif Pakan Lele

Fauzi, Rizal Ula Ananta, Sari, Eka Resty Novieta

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakMeningkatnya kebutuhan protein hewani menyebabkan permintaan komoditi ikan meningkat. Sumber protein hewani yang banyak beredar di pasaran adalah lele (Clariasbatrachus). Pellet sebagai sumber utama pakan memiliki harga yang mahal sehingga perlu alternatif lain untuk mengurangi biaya penyediaan pakan. Maggot (Hermetiaillucens Linnaeus) merupakan larva lalat black soldier yang memiliki tekstur kenyal, berprotein tinggi serta memiliki kemampuan untuk mengeluarkan enzim alami yang membantu meningkatkan sistem pencernaan ikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi analisis usaha budidaya maggot serta penghematan yang dapat dilakukan jika maggot diberikan sebagai alternatif kombinasi pellet untuk pakan lele. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa diperlukan waktu hingga 2 minggu untuk menghasilkan maggot yang siap digunakan untuk pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa maggot sangat berpotensi sebagai untuk dibudidayakan sebagai alternatif pakan ikan lele. Penggunaan 50% pellet dan 50% maggot dapat menghemat biaya pengadaan pakan sebesar 22,74%.Kata kunci: maggot, budidaya, penghematan biaya pakan AbstractThe increasing need for animal protein increases the demand for fish commodities. The source of animal protein that is widely circulating in the market is catfish (Clariasbatrachus). Pellet as the primary source of feed has a high price so need another alternative to reduce the cost of providing feed. Maggot (Hermetiaillucens Linnaeus) is a black soldier fly larva that has a chewy texture, high protein and has the ability producing natural enzymes that help improve the digestive system of fish This study aims to determine the potential analysis of maggot cultivation and savings that can be done if maggot is given as an alternative combination of pellets for catfish feed. From the results of the study found that it can take up to 2 weeks to produce a maggot that is ready for use for feed. The results showed that maggot is potential to be cultivated as an alternative to feeding catfish. The use of 50% pellets and 50% maggot can save the cost of feed procurement by 22.74%.Keywords: maggot, cultivation, feed cost saving