cover
Filter by Year
Articles
129
Articles
Aplikasi Asap Cair Batang Tembakau (Nicotiana Tabacum L.) untuk Memperpanjang Umur Simpan Daging Ikan Gurami Segar

Mutamar, Mohammad Fuad Fauzul, Cahyani, Indah Gita, Fakhry, Muhammad

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakAsap cair limbah batang tembakau mengandung senyawa keton, asam dan beberapa senyawa aromatik. Gurami (Osphronemus gouramy) merupakan jenis ikan air tawar bernilai ekonomi tinggi dan digemari masyarakat sebagai ikan konsumsi. Daging gurami sebagaimana daging pada umumnya, mudah mengalami proses pembusukan, sehingga perlu dilakukan upaya dalam mempertahankan kesegaran daging ikan, salah satunya dengan menggunakan asap cair sebagai pengawet. Adapun faktor yang memengaruhi efektivitas pengawetan menggunakan asap cair adalah konsentrasi dan lama perendaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh konsentrasi asap cair batang tembakau dan lama perendaman terhadap karakteristik daging ikan gurami serta umur simpan daging ikan gurami di suhu ruang. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor yaitu konsentrasi asap cair; 2%, 4%, dan 6% serta lama perendaman; 10 menit, 20 menit, dan 30 menit. Parameter penelitian meliputi uji kekerasan (hardness), uji kenampakan warna dan aroma, uji total bakteri, serta penentuan umur simpan daging ikan gurami. Hasil penelitian menunjukkan lama perendaman dan konsentrasi asap cair batang tembakau berpengaruh signifikan terhadap aroma dan total bakteri daging ikan gurami selama penyimpanan 14 jam. Umur simpan tertinggi daging ikan gurami segar berdasarkan parameter mikrobiologis bakteri adalah perlakuan lama perendaman 30 menit dengan konsentrasi asap cair batang tembakau sebanyak 6% yaitu selama 7 jam 45 menit.Kata kunci: asap cair, batang tembakau, ikan gurami, umur simpanAbstract Liquid smoke tobacco stems contain ketones, acids, and some aromatic compounds. Gourami (Osphronemus gouramy) is a freshwater fish that is popular and easily undergoes decay, so efforts need to be made to maintain the freshness of fish meat. The purpose of this study was to determine the effect of the concentration of tobacco smoke liquid stems and soaking time on the characteristics of gourami meat and the shelf life of gourami meat stored at room temperature. The study design used factorial completely randomized design (RALF) with two factors: liquid smoke concentration 2%, 4%, and 6% and soaking time 10 minutes, 20 minutes, and 30 minutes. Research parameters include hardness test, color and aroma appearance test, total bacterial test, and determination of the shelf life of gourami meat. The results showed that the concentration of liquid smoke from tobacco stems and soaking time significantly affected the aroma and total bacteria of gourami meat for 14 hours of storage. The longest shelf life of fresh gourami meat based on microbiological parameters is treatment with the addition of 6% of liquid smoke from tobacco stems and 30 minutes of soaking time (k3p3) which is 7 hours 45 minutes compared to other treatments.Keywords: gourami, liquid smoke, shelf life, tobacco stems

Karakteristik Tepung Pisang dari Bahan Baku Pisang Lokal Bengkulu

Rosalina, Yessy, Susanti, Laili, Silsia, Devi, Setiawan, Rudi

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

 AbstrakTanaman pisang jantan (Musa paradisiaca var paradisiaca), pisang merah (Acuminata Red Dacca) dan pisang raja nangka (Musa sp.) merupakan jenis pisang yang banyak tumbuh di Provinsi Bengkulu. Salah satu alternatif pengolahan buah pisang adalah tepung pisang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan karakteristik tepung pisang yang dihasilkan dari tiga jenis pisang lokal Bengkulu, yaitu pisang jantan, pisang merah dan pisang raja nangka. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap non faktorial, dengan faktor perlakuan adalah jenis pisang. Masing-masing perlakuan dilakukan lima kali ulangan. Variabel pengamatan pada penelitian ini adalah rendemen, sifat fisik (kadar air dan densitas kamba), ukuran granula, dan sifat kimia (karbohidrat, protein, lemak, kadar abu, serat kasar dan vitamin C). Hasil penelitian menunjukan bahwa masing-masing jenis pisang menghasilkan karakteristik yang berbeda-beda. Rendemen tepung pisang tertinggi diperoleh dari bahan baku pisang jantan (20,42%) dan pisang raja nangka (20,01%). Kadar air tertinggi adalah tepung pisang raja nangka (10,04%). Sifat kimia dari ketiga jenis pisang memberikan hasil yang tidak berbeda nyata pada semua variabel yang diamati, kecuali pada variabel pengamatan vitamin C. Hasil pengukuran vitamin C diketahui bahwa  kandungan vitamin C tertinggi diperoleh pada tepung pisang dengan bahan baku pisang merah (24,64 mg/100 g sampel).Kata kunci: karakteristik, pisang jantan, pisang merah, pisang raja nangka, tepung pisang AbstractThe variety of banana plant which is found in Bengkulu Province is “pisang jantan’ (Musa paradisiaca var paradisiaca), “pisang merah/pisang udang” (Acuminata Red Dacca) and “pisang raja nangka” (Musa sp.). Banana flour is one of banana product. The research aims to describe the characteristics of banana flour produced from a local Bengkulu banana (pisang jantan, pisang merah/pisang udang, pisang raja nangka) as the raw material. The research design was used as a non-factorial completely randomized design, with the treatment factor being the type of banana. Each treatment was carried out five times. Observation variables in this study were yield, physical properties (water content and kamba density), granule size, and chemical properties (carbohydrate, protein, fat, ash content, crude fiber, and vitamin C). The result showed that each banana flour has different characteristics. The highest banana flour yield was made from pisang jantan (20.42%) and pisang raja nangka (20.01%). The highest water content banana flour was made from pisang raja nangka (10.04%). While for the chemical properties of the three types of bananas, the results were not significantly different for all variables observed, except for the observation variable vitamin C. The result of vitamin C measurements revealed that the highest vitamin C content was obtained banana flour was made from pisang merah (24.64 mg / 100 g sample).Keywords: banana flour, characteristic, pisang jantan, pisang merah, pisang raja nangka 

Antosianin Ekstrak Ubi Jalar Ungu Kering untuk Donor Elektron Sel Surya Pewarna Tersensitisasi (SSPT)

Sukardi, Sukardi, Kiswaya, Syafiq Maulidinda, Pranowo, Dodyk

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakUbi jalar ungu (Ipomoea batatas L., Poir) memiliki kandungan antosianin tinggi, bersifat alami sehingga menjadikan antosianin aman digunakan dan dapat diperbarui. Antosianin dapat digunakan sebagai dye dalam rangkaian sel surya pewarna tersensitisasi (SSPT). Antosianin diperoleh dari sel tanaman dengan maserasi dan pelarut etanol yang diasamkan dengan asam asetat. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat keasaman pelarut dalam menghasilkan antosianin tertinggi, panjang gelombang serapan dan kemampuan dye sebagai donor elektron pada SSPT. Penelitian rancangan acak lengkap satu faktor dengan empat level keasaman (pH 4,00; 4,25; 4,50 dan 4,75), diulang 2 kali digunakan dalam penelitian ini. Pembuatan SSPT dengan cara perakitan elektroda kerja, elektroda lawan, elektrolit, dan dye antosianin. SSPT diuji di bawah sinar matahari selama 60 menit setiap hari untuk mengetahui kemampuan dalam menghasilkan tegangan dan arus listrik.  Nilai absorbansi tertinggi sebesar 0,0485±0,20 dan kandungan antosianin terbaik sebesar 224,97±0,02 mg/100 g diperoleh pada perlakuan pH 4,00 dan panjang gelombang antosianin 520-700 nm. Dye antosianin sebagai donor elektron SSPT mampu menghasilkan tegangan listrik selama 15 hari dan arus listrik selama 10 hari. Tegangan listrik dan arus listrik tertinggi sebesar 0,25 volt dan 0,12 ampere.Kata kunci: antosianin, maserasi, sel surya pewarna tersensitisasi (SSPT), ubi jalar ungu  AbstractPurple sweet potato (Ipomoea batatas L. Poir) is a variety which has high anthocyanin. One of the benefits of anthocyanin extract obtained will be made as an electron donor dye in a series of dye-sensitized solar cells (DSSC). Anthocyanins can be extracted by a maceration method which utilizes acidified solvent of ethanol using acetic acid. The purpose of this research is to find out the acidity of the solvent extraction the highest anthocyanin, the wavelength of anthocyanin uptake and the ability of an anthocyanin dye as an electron donor. The research was designed by a completely randomized design one factor with four levels namely acidity (pH 4.00; 4.25; 4.50 and 4.75) and twice repeated. Then it is made to make DSSC by assembling working electrodes, opposing electrodes, electrolytes, and anthocyanin dye. DSSC is tested under sunlight for 60 minutes per days to determine the ability to produce voltage and electric current. The best anthocyanin content was obtained at 224.97±0.02 mg /100 g and absorbancy value 0.0485±0.20 in solvents with a pH of 4.00. The wavelength of anthocyanins ranged from 520-700 nm. Dye anthocyanin as an electron donor in DSSC can produce electricity for 15 days and electric current for ten days, the highest electricity voltage and electric current is 0.25 volts and 0.12 amperes respectively.Keywords: anthocyanin, dye-sensitized solar cells, maceration, purple sweet potato 

Kinerja Faktor Produksi Kopi Arabika (Coffea arabica L.) di Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat

Putri, Afrianingsih, Yusmani, Yusmani, Paloma, Cindy, Zakir, Zelfi

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Produk agroindustri komoditi kopi memiliki prospek untuk dikembangkan di pasar domestik dan internasional. Namun, untuk pengembangkan sektor tersebut masih mengalami berbagai masalah mulai dari ketersediaan bahan baku hingga saat produk dipasarkan. Pasokan bahan baku kopi harus didukung oleh produksi kopi. Pemilihan dan kombinasi penggunaan faktor produksi secara optimal dan efisien menentukan jumlah produksi kopi. Namun, saat ini masih ada petani kopi yang belum mengoptimalkan penggunaan faktor produksi. Kabupaten Solok sebagai salah satu daerah penghasil kopi Arabika di Sumatera Barat dan Kecamatan Lembah Gumanti adalah penghasil kopi utama di daerah tersebut. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor yang memengaruhi produksi kopi Arabika dengan metode survei pada 30 petani kopi yang dipilih secara acak sederhana. Variabel yang digunakan dalam penelitian yakni jumlah produksi, produktifitas, penggunaan pupuk urea, modal, pengalaman berusaha tani dan tenaga kerja. Penelitian menggunakan data primer dan sekunder yang kemudian dianalisis secara kuantitatif dengan menggunakan model fungsi Cobb Douglass. Hasil analisis menyatakan variabel produktifitas, modal dan tenaga kerja dengan nilai koefisien masing-masing 0,981; 2,279 dan 3,140 berpengaruh terhadap produksi kopi. Variabel umur tanaman dan penggunaan pupuk urea  dengan koefisien 0,098 dan 0,131 berpengaruh positif sedangkan pengalaman berusaha tani dengan koefisien -0,290 berpengaruh negatif tapi variabel tersebut tidak signifikan.Kata kunci: agroindustri, kopi, faktor produksi Abstract Agroindustry product that has the potential to be developed in the domestic and international market is the coffee commodity. This commodity has various problems such as the availability of raw materials, product marketing, and other issues. The supply of coffee raw materials must be supported by coffee production. With selecting and combining production factors optimally can determine coffee production. However, in reality, coffee farmers still cannot optimize the use of production factors. Lembah Gumanti district at Solok regency is one of the Arabica coffee producers in West Sumatra. This study aims to determine the factors that affect Arabica coffee production. The method used is a survey method with a sample of 30 coffee farmers selected by simple random sampling. Variables used in this study is total production, land area, the use of urea fertilizer, capital, farmer experience, and labor. The data collected are primary and secondary data which then analyzed quantitatively by using Cobb Douglass function model. The analisys showed that productivity, capital and labor variables have a significant effect on coffee production with coefficients of 0.981; 2.279 and 3.140. Plant age variables and the use of urea fertilizer have a positive impact with a coefficient value of 0.098 and 0.131 while the farmer experience variable has a coefficient of -0.290 and not have a significant impact on coffee production.Keywords: agroindustry, coffee, production factor 

Nilai Tambah yang Adil pada Pelaku Rantai Pasok Gambir di Sumatera Barat

Saputra, Hendra, Nazir, Novizar, Yenrina, Rina

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakGambir merupakan komoditas unggulan Sumatera Barat. Di dalam pemasaran produk gambir, terdapat rantai pemasaran yang sangat panjang hingga diterima ditangan konsumen akhir. Distribusi nilai tambah masing-masing pelaku rantai pemasaran tidak mendapatkan porsi yang seimbang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keseimbangan nilai tambah yang diperoleh setiap pelaku rantai pasok menggunakan metode Hayami Termodifikasi untuk menghitung nilai tambah dan analytical network process untuk menganalisis tingkat risiko pada pelaku rantai pasok gambir. Pada skala industri dengan kapasitas pabrik pengolahan 1.250 kg gambir/jam di tingkat eksportir, harga jual gambir masyarakat Rp45.000/kg dan harga gambir katekin (produksi eksportir) Rp189.000/kg diperoleh perbandingan porsi nilai tambah petani (21%): pedagang pengumpul (27%): eksportir lokal (52%), hal ini menunjukan petani medapatkan porsi nilai tambah terendah dibandingkan pedagang pengumpul dan eskportir lokal. Tingkat risiko yang dihadapi petani memperoleh nilai tertinggi (0,477), eksportir lokal (0,281), pedagang pengumpul (0,183) dan konsumen (0,058). Hasil penyeimbangan prosi nilai tambah dan tingkat risiko masing-masing pelaku rantai pasok gambir yaitu petani mengalami peningkatan porsi nilai tambah Rp/kg produk yaitu dari Rp39.242 menjadi Rp88.722, pedagang pengumpul mengalami penurunan yaitu dari Rp49.514 menjadi Rp34.038 selanjutnya ekportir lokal mengalami penurunan dari Rp97.244 menjadi Rp52.266. Keseimbangan nilai tambah ini dapat dijadikan kebijakan untuk menetapkan harga yang stabil untuk komoditas gambir dengan tujuan mempertahankan keberlangsungan bisnis gambir di Sumatera Barat.Kata kunci: gambir, keseimbangan nilai tambah, nilai tambah, rantai pasok, risiko AbstractGambier is a superior commodity in West Sumatra. Marketing process in gambier products have a very long marketing chain until it is accepted by the end consumer. The value-added distribution of each marketing chain does not get a balanced portion. This research was conducted to determine the balance of added value obtained by each supply chain actor using the Modified Hayami method to calculate added value and analytical network process to analyze the level of risk in gambier supply chain actors. On an industrial scale with a processing plant capacity of 1250 kg gambier/hour at the exporter level, the selling price of community gambier is IDR 45,000 / kg and the price of catechin gambier (exporter production) IDR 189,000 / kg is obtained by comparison of the value-added portion of farmers (21%): traders collectors (27%): local exporters (52%), this shows that farmers get the lowest portion of added value compared to local collectors and exporters. The level of risk faced by farmers is the highest (0.477), local exporters (0.281), collector traders (0.183) and consumers (0.058). The proceeds of equal value-added risk and the level of risk of each gambier supply chain actor, namely farmers experience an increase in the value-added portion of IDR/kg of product, from IDR 39,242 to IDR 88,722, collector traders decrease, from IDR 49,514 to IDR 34,038. Local exporters decreased from IDR 97,244 to IDR 52,266. This balance of added value can be used as a policy to set a stable price for gambier commodities with the aim of maintaining the sustainability of gambier business in West Sumatra.Keywords: balance value-added, gambier, risk, supply chain, value-added

Analisis dan Desain Sistem Sertifikasi Padi Digital sebagai Sarana Pemasaran serta Peningkatan Adopsi Benih

Rahardjo, Yogi Purna, Basrum, Basrum, Djatna, Taufik

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakPenggunaan varietas padi unggul adalah inovasi teknologi yang mudah diadopsi untuk peningkatan produktivitas padi. Tanpa program benih bersubsidi, banyak petani tidak menggunakan benih padi berkualitas/bersertifikat karena tidak tersedianya bibit berkualitas ketika dibutuhkan. Keberadaan sistem sertifikasi padi digital diperlukan untuk mendukung sistem benih yang ideal dengan menyediakan informasi tentang ketersediaan benih, permintaan benih, dan fasilitas komunikasi stakeholder perbenihan. Tujuan penelitian untuk menganalisis kebutuhan sistem, mengembangkan sistem sertifikasi digital sebagai sarana perdagangan dan memperoleh faktor kunci dalam proses sertifikasi sehingga pengambilan keputusan lebih cepat. Input data oleh BPSB pada setiap pengajuan sertifikasi, rencana subsidi di input Dinas Pertanian dan ketersediaan benih di gudang diupdate oleh lembaga perbenihan. Sistem ini didasarkan pada bahasa pemodelan terpadu (unified modeling language - UML). Metode RELIEF algorithm dilakukan untuk mendapatkan faktor penting dalam tahap sertifikasi terutama roguing dan uji laboratorium. Hasilnya menunjukkan faktor-faktor penting hingga tahap uji laboratorium adalah persentase serangan penyakit dalam tahap roguing III dan viabilitas benih dalam uji laboratorium.Kata kunci: adopsi, benih, digital, sertifikasi, unified modeling language AbstractThe most easily adopt new technology and increasing productivity is the use of high yielding rice varieties. Without the subsidized seed program, many farmers do not use quality/certified rice seeds due to the unavailability of quality seeds when they needed. The existence of a digital rice certification system is necessary to support an ideal seed system by providing information on the availability of seeds, seed demands, and communication facility of seedling stakeholders. The objective of the study was to identify system requirement, to develop digital certification systems as breeder marketplace and to formulate key factors in the certification process so that the decision-making faster. Data will input by BPSB in a certification application, Quantity of seed subsidized will input by the Agriculture Department, and the availability of seeds in the warehouse is updated by the seeding institution. The method was based on a unified modeling language (UML). RELIEF algorithm method was performed to obtain important factor in the certification stage especially roguing and laboratory test. The result indicated the important factors in the certification process were the percentage of disease attack in roguing III and the viability of the seeds in the lab test.Keywords: adopt, certification, digital, seed, unified modeling language

Identifikasi Proses dan Strategi Bisnis pada Kadatuan Koffie Menggunakan Analisis SWOT

Rahman, Jauhar Fadhlur, Rahmah, Devi Maulida

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakPenelitian ini menyajikan analisis SWOT pada sebuah perusahaan agroindustri kopi yaitu Kadatuan Koffie yang melakukan proses bisnis agroindustri kopi dari hulu hingga hilir, untuk mengidentifikasi proses bisnis dan menentukan strategi perusahan agar dapat bersaing di pasar yang semakin ketat. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan observasi pada proses bisnis Kadatuan Koffie dari hulu hingga hilir dan melakukan wawancara untuk mendapatkan faktor-faktor internal dan eksternal perusahaan. Analisis SWOT kuantitatif dilakukan dengan melakukan pembobotan dan pemeringkatan terhadap faktor-faktor tersebut oleh responden yang berjumlah 6 orang dari internal dan eksternal perusahaan. Hasil penelitian ini menunjukkan Kadatuan Koffie berada di kuadran II pada diagram SWOT dimana perusahaan berada pada kondisi yang didominasi oleh faktor kekuatan (strength) internal dan tantangan (threat) eksternal. Strategi yang sesuai untuk kondisi perusahaan di kuadran II adalah Diversifikasi Strategi dengan dua pilihan strategi yang dapat diambil yaitu alternatif strategi ST yaitu “mengutamakan kualitas produk sebagai daya saing” atau “menjaga stabilitas harga jual produk”.Kata kunci: agroindustri kopi, analisis SWOT, manajemen agroindustri AbstractThis research presents the SWOT analysis on an agro-industry coffee company that is Kadatuan Koffie which are doing the business process of coffee from upstream until downstream level, to identification the business process and determine the strategy of the company to compete in the market that is increasingly tight. This research was conducted by doing an observation on the business process of Kadatuan Koffie from upstream until the downstream and conducting interviews to get internal and external factors of the company. The SWOT analysis is done by performing quantitative weighting and ranking against these factors by six respondents from internal and external of the companies. The results of this research indicate that Kadatuan Koffie is in quadrant II SWOT diagram where the company is in a condition that is dominated by factors of a strength of the internal and threat of the external. Strategies for companies in the quadrant II is Diversification Strategy which the strategies are "give priority to product quality as competitiveness" or "Keep the stability of the selling price of the product" from ST alternative strategy.Keywords: coffee, management agroindustry, SWOT analysis 

Pengaruh Organizational Citizenship Behavior (OCB) terhadap Kepuasan Kerja dan Kinerja Karyawan

Lestari, Endah Rahayu, Ghaby, Nur Kholifatul Fithriyah

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.927 KB)

Abstract

Abstrak Keberhasilan organisasi tergantung pada kinerja karyawan sebagai sumber daya manusia yang merupakan elemen penting dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan sebuah perusahaan. Kinerja karyawan dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain Organizational Citizenship Behavior (OCB) dan kepuasan kerja. OCB merupakan perilaku karyawan di luar tugas yang tercantum pada deskripsi pekerjaannya. Lima dimensi OCB adalah altruism, conscuentiousness, sportmanship, courtessy, dan civic virtue. Kepuasan kerja merupakan keadaan emosi seseorang yang menyenangkan atas hasil pencapaian karya, lingkungan kerja, maupun kehidupan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh OCB dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan. Responden penelitian adalah karyawan PG Krebet Baru Malang. Teknik pengambilan sampel adalah stratified random sampling. Pengembangan model menggunakan pemodelan struktural. Pengolahan data menggunakan Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa OCB berpengaruh positif signifikan baik terhadap kepuasan kerja maupun kinerja karyawan. Makin tinggi kepuasan kerja akan meningkatkan kinerja karyawan. Kepuasan kerja memediasi sebagian (partly mediation) hubungan antara OCB dengan kinerja karyawan.Kata kunci: Kepuasan kerja, kinerja karyawan, organizational citizenship behavior (OCB) Abstract The success of the organization depends on the performance of employees as human resources which is an essential element in realizing the vision, mission, and goals of a company. Employee performance is influenced by many factors, including Organizational Citizenship Behavior (OCB) and job satisfaction. OCB is the behavior of employees outside of the job description. The five dimensions of OCB are altruism, conscientiousness, sportsmanship, courtesy, and civic virtue. Job satisfaction is the emotion of a person who enjoys the results of the work, work environment, and work life. This study aims to determine the effect of OCB on job satisfaction and employee performance. Respondents are employees of PG Krebet Baru Malang. The sampling technique is stratified random sampling. Model development uses structural modeling. Data were analyzed using Partial Least Square (PLS). The results showed that OCB has a significant positive effect both on job satisfaction and employee performance. Higher job satisfaction will improve employee performance. Thus, job satisfaction as partly mediation of the relationship between OCB and employee performance.Keywords: Job satisfaction, performance, organizational citizenship behavior (OCB)  

Pengaruh Lama Waktu Pengadukan dan Konsentrasi NaOH pada Proses Pemurnian Minyak Goreng Superworm (Zophobas morio)

Musyaroh, Musyaroh, Hidayat, Nur

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.333 KB)

Abstract

AbstrakSuperworm (Zophobas morio) memiliki asam lemak dan produktivitas yang tinggi sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan baku minyak goreng. Netralisasi dengan NaOH merupakan solusi untuk meningkatkan kualitas minyak goreng superworm. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penggunaan NaOH dan lama waktu pengadukan pada proses netralisasi untuk meningkatkan kemurnian minyak goreng superworm. Rancangan Acak Lengkap pola Faktorial 2 faktor digunakan dalam penelitian ini. Faktor yang digunakan yaitu konsentrasi NaOH (14°Be, 16°Be dan 18°Be) dan lama waktu pengadukan (10 menit, 15 menit dan 20 menit). Parameter uji pada penelitian ini yaitu jumlah rendemen, kadar air, kadar asam lemak bebas, dan organoleptik (warna, rasa dan aroma). Dari penelitian yang dilakukan, faktor yang tidak berpengaruh secara signifikan yaitu penambahan konsentrasi NaOH dan lama waktu pengadukan terhadap aroma dan rasa. Faktor yang berpengaruh secara signifikan yaitu konsentrasi NaOH terhadap rendemen dan kadar asam lemak bebas, lama waktu pengadukan terhadap kadar asam lemak bebas. Faktor lama pengadukan, faktor penambahan NaOH serta interaksi keduanya juga berpengaruh secara signifikan terhadap kadar air dan warna minyak goreng superworm. Konsentrasi NaOH terbaik adalah 18°Be dengan lama pengadukan 15 menit, kadar asam lemak bebas 0,20 mg KOH/g dan kadar air 0,05% (b/b).Kata kunci: minyak goreng, netralisasi, superworm AbstractSuperworm (Zophobas morio) has fatty acid and high productivity, so it is potential to use it as raw material for cooking oil. Neutralization with NaOH is a solution to improve the quality of the superworm cooking oil. The purpose of this research is to know the effect of NaOH usage and stirring time on neutralization process to increase superworm cooking oil purity. Completely Randomized Design Factorial Factor 2 factors were used in this study. The factors used were NaOH concentration (14° Be, 16° Be and 18° Be) and stirred time (10 minutes, 15 minutes and 20 minutes). The test parameters in this study were the amount of rendement, water content, free fatty acid content, and organoleptic (color, flavor, and aroma). From the research conducted, the factors that did not significantly influence the addition of NaOH concentration and the duration of stirring to the aroma and taste. Factors that significantly influence the concentration of NaOH to the rendement and free fatty acid content, also the stirring period to free fatty acid content. The stirring time factor, the addition of NaOH factor and the interaction of both also significantly influence the water content and the color of the superworm cooking oil. The best NaOH concentration was 18° Be with a stirring time of 15 minutes, the free fatty acid content of 0.20 mg KOH / g and water content of 0.05% (w/w).Keywords: neutralization, cooking oil, superworm 

Analisis Kelayakan Finansial Industri Bio-pellet Kulit Kopi di Kabupaten Jember

Rusdianto, Andrew Setiawan, Septyatha, Firdyan, Choiron, Miftahul

Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agro-industrial Technology, University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.663 KB)

Abstract

AbstrakBio-pellet merupakan bahan bakar padat berbasis biomassa yang terbuat dari biomassa limbah pertanian. Biomassa berpotensi untuk dikembangkan menjadi energi alternatif karena mempunyai sifat dapat diperbaharui. Keunggulan bio-pellet yaitu dapat meningkatkan nilai kalor yang dihasilkan dari proses pembakaran. Salah satu limbah pertanian yang dapat digunakan untuk membuat bio-pellet adalah limbah kulit kopi. Potensi kulit kopi sebagai bahan baku pembuatan bio-pellet di Kabupaten Jember belum diketahui karena merupakan industri baru yang belum banyak dikembangkan di Kabupaten Jember. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan finansial bio-pellet di Kabupaten Jember. Metode penelitian ini menggunakan metode analisis finansial diantaranya BEP, PBP, NPV, IRR, BC ratio dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian analisis finansial menunjukkan BEP produksi 16.045 unit dan BEP penjualan sebesar Rp497.393.063, PBP selama 5 tahun 9 bulan 16 hari, NPV sebesar Rp238.519.901, IRR sebesar 14,1%, dan B/C ratio sebesar 1,032. Berdasarkan hasil tersebut, industri bio-pellet kulit kopi layak dijalankan secara finansial di Kabupaten Jember karena telah memenuhi kriteria kelayakan finansial.Kata kunci: analisis finansial, bio-pellet, industri, kulit kopi AbstractBio-pellets are biomass-based solid fuels made from agricultural waste biomass. Biomass has the potential to be developed into alternative energy because it has renewable properties. The advantages of bio-pellets are to increase the calorific value generated from the combustion process. One of the agricultural wastes that can be used to make bio-pellets is the coffee skin waste. The potential of coffee skin as raw material for bio-pellet making in Jember Regency is not known because it is a new industry that has not been developed in Jember Regency. This study aims to analyze the financial feasibility of bio-pellets in Jember District. This research method uses financial analysis method such as BEP, PBP, NPV, IRR, BC ratio and sensitivity analysis. The results of the financial analysis showed BEP production of 16,045 units and BEP sales of 497,393,063 IDR, PBP for five years nine months 16 days, NPV of 238,519,901 IDR, IRR of 14.1%, and B / C ratio of 1.032. Based on these results, the bio-pellet coffee industry is feasible to run financially in Jember Regency because it meets the criteria of financial feasibility.Keywords: bio-pellet, coffee peel, financial analysis, industry