cover
Filter by Year
Vitruvian
ISSN : -     EISSN : -
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles
63
Articles
AKSESBILITAS BAGI DIFABEL PADA BANGUNAN MASJID

Afudaniati, Awik Retyaka, Himawanto, Dwi Aries

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.066 KB)

Abstract

Klaten is one of the cities that echo the city of inclusion. The city is still in the process of development in equipping accessible facilities and infrastructure for people with disabilities. Facilities in public buildings for disabled people have been built, although still not perfect. At the Al Aqsa Grand Mosque building Klaten facility has implemented building accessibility for the disabled. Therefore, to know the extent of the accessibility level of buildings for people with disabilities according to the standard needs of accessibility. For that researchers do location observation using measuring instruments, and cameras and conducted unstructured interviews on the board of the mosque. From this study that there is accessibility facility in Al Aqsa mosque building not yet accessible enough to be accessed by persons with disabilities because accessibility facility in Al Aqsa Grand Mosque building has not fulfill the proper design principles and Permen PU 30 / PRT / M / 2006.Keywords: accessibility, disabled, mosque

EVALUASI STANDAR KOMPETENSI ARSITEK MENGGUNAKAN ANALISA RISIKO BERBASIS PMBOK (STUDI KASUS PT. ENV)

Hutama, Lutfi

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.924 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkembangan konstruksi gedung di dunia semakin kompleks, berteknologi tinggi, serta memiliki tingkat risiko yang tinggi. Namun perkembangan di dunia konstruksi tidak diimbangi dengan peningkatan Kompetensi Arsitek sehingga berdampak pada keterlambatan kinerja proyek. Dalam Standar Kompetensi di Indonesia yang dimiliki oleh IAI dan LPJK, belum mempertimbangkan faktor resiko pada setiap elemen kompetensinya. Untuk itu diperlukan suatu evaluasi terhadap standar Kompetensi Arsitek di Indonesia studi kasus di PT ENV sehingga dapat meningkatkan kinerja proyek. Dalam penelitian ini bertujuan untuk dapat mempertajam evaluasi faktor resiko penyebab dan resiko dampak  yang terdapat pada tugas dan tanggung jawab Ahli konsultan Arsitektur menggunakan analisa resiko berbasis PMBOK (Project Management Body of Knowledge). Hasil yang didapat berupa tindakan preventif dan korektif yang tepat dalam menangani risiko yang terjadi sehingga meningkatkan Kompetensi Arsitek di Indonesia.Kata Kunci :   Kompetensi Arsitek, Analisa Risiko, PMBOK ABSTRACTThe development of buildings in the world increasingly complex, high-tech, and has a high level of risk. However, developments in the world of construction are not matched by an increase in the Competence of Architects, which has an impact on project performance delays. In Competency Standards in Indonesia owned by IAI and LPJK, it has not considered risk factors for each element of its competence. Therefore, an evaluation of Architects Competence standard in Indonesia case study in PT ENV is required to improve project performance. In this study aims to be able to sharpen the evaluation of risk factors for the causes and impact risks contained in the tasks and responsibilities Expert Architecture consultants use risk analysis based on PMBOK (Project Management Body of Knowledge). The results obtained in the form of preventive and corrective actions are appropriate in dealing with risks that occur so as to increase the Competence of Architects in Indonesia.Keyword: Architect Competency, Risk Analysis, PMBOK

POTENSI PELIMPAHAN SISA KOEFISIEN LANTAI BANGUNAN UNTUK PENGEMBANGAN BARU DI KAWASAN TAMAN MINI INDONESIA INDAH

Bachtiar, Firmansyah

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (526.216 KB)

Abstract

ABSTRAKTaman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan salah satu destinasi wisata utama di DKI Jakarta yang sudah berdiri sejak tahun 1975. Hingga saat ini, pengembangan TMII baru mencakup 38% (150 ha) dari total 394 Ha lahan yang dikuasai oleh Yayasan Harapan Kita (YHK) sebagai pendiri TMII. Peningkatan jumlah wisatawan menyebabkan kawasan TMII saat ini semakin padat dan berbagai pembangunan  fasilitas baru yang ada cenderung dipaksakan keberadaannya. Kebutuhan pengembangan di lahan milik YHK dibatasi oleh arahan RDTR yang membatasi pengembangan KDB rendah, dimana nilai KLB rata-rata Kawasan TMII berada di 0,83. Keberadaan TMII di lokasi yang strategis membuat nilai KLB tidak proporsional jika diseragamkan di seluruh zona kawasan. Tedapat lahan yang perlu ditahan pengembangannya karena merupakan kawasan yang perlu dilestarikan, dan ada yang perlu ditingkatkan intensitasnya karena potensi pengembangannya sebagai kawasan komersial penunjang wisata. Sisa nilai KLB dari area yang ditahan pengembangannya  berpotensi untuk dilimpahkan ke kawasan lain untuk kebutuhan pengembangan yang tetap terintegrasi dengan TMII. Kajian ini dilakukan untuk melihat potensi pelimpahan sisa KLB tersebut dengan mempertimbangkan potensi dan batasan yang ada serta kesesuaiannya menurut rencana tata ruang.Kata Kunci :   TMII, rekreasi, intensitas bangunan, pelimpahan KLB  ABSTRACTTaman Mini Indonesia Indah (TMII) is being recognized as one of the popular tourism destination in DKI Jakarta since 1975. Recently, the development of TMII covers only 38% of the entire land that being owned by the founders of TMII, Harapan Kita Foundation (YHK). The increasing amount of visitors contributes to the crowdedness and the unplanned development of the facilities. The possibility of  TMII expansion is restricted by the zoning regulation that only allowed the development of low Building Coverage Ratio, where the average Floor Area Ratio (FAR) is around 0,83. TMII is located in a strategic location, thus it will be not proportional if all of the zones being set to have similar FAR. There are development area which need to be hold because of its preservation needs, and there are other area that need to be effectivey developed because of its potential as supporting commercial facility. The rest of the allowed floor area from preserved zone, could be transferred to another area for the development of new recreational and supporting facility which is integrated to the current TMII. This research aims to overview the potential of FAR distribution from the preserved zone to the development zone, considering the potential and restriction of the surrounding neighbourhood and the related zoning regulation as well.Keyword: TMII, recreational, building intensity, FAR transfer

KETERKAITAN PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP KUALITAS DAN CITRA RUANG PUBLIK DI KORIDOR KARTINI SEMARANG PADA MASA PRA-PEMBONGKARAN (Studi Kasus : Penggal Jl.DR.Cipto – Jl.Barito)

Wijayaningsih, Retno

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1135.617 KB)

Abstract

ABSTRAK Dominasi kegiatan perdagangan kaki lima koridor jalan Kartini telah mempengaruhi perubahan kualitas serta citra ruang kota pada koridor jalan Kartini, namun sejauh manakah keterkaitan antara pedagang kaki lima tersebut terhadap kualitas dan citra ruang publik kawasan? Diperlukan Pendekatan  fenomenologi digunakan untuk mengetahui norma-norma, kondisi fisik dan non fisik kawasan, serta regulasi pemerintah. Studi menggunakan literatur dan peraturan/ pengalaman terkait dengan kegiatan kaki lima untuk merumuskan aspek yang dipertimbangkan dan komponen ruang yang perlu diatur secara normatif. Pengamatan dilapangan berguna untuk mengetahui karakteristik pedagang kaki lima dalam keterkaitannya dengan kualitas dan citra ruang tersebut. Pada dasarnya, penentuan metode penelitian ditentukan berdasarkan fakta dan fenomena yang terjadi dilapangan dan berlangsung secara terus menerus diperoleh gambaran dari perilaku dan aktifitas pengguna ruang terbuka kota pada koridor kawasan kartini. Meskipun proporsi pendapat keempat responden - pedagang kaki lima, pelanggan pedagang kaki lima, pemilik kegiatan sekitar, dan pengguna jalan lainnya - tidak selalu sama, mereka sepakat bahwa pedagang kaki lima yang ada di koridor Jalan Kartini telah menyebabkan beberapa persoalan, contohnya yaitu aksesibilitas, eksternalitas sampah, dan keharmonisan ruang. Hasil rumusan ini kemudian digunakan sebagai kerangka untuk menganalisis hal-hal apa saja menyangkut keterkaitan yang terjadi serta dampaknya pada ruang publik di koridor jalan Kartini.                                       Kata kunci : kualitas dan citra ruang publik, pedagang kaki lima, koridor ABSTRACT The dominance activities of street vending on Kartini’s corridor has influence alteration of public space image and quality, but how far relevancy between street vending to public space image and quality of the area?It is needed fenomenology approach to find out a normative, condition of physical and non-physic areas, also government regulation. Study use literatur and regulation deal with street vending activity to build issue of concerns as well as scope of issue in normatic sense. Supply approach prepared by field observation to recognize existing condition of studied location including street vending physical characteristic in relevancy with public space image and quality. Basically, determination of research method is determined pursuant fact and phenomenon that happened continually on the field so it is obtained an illustration from behavior and activity of public space user in corridor of Kartini areas/. Although the proportion is in variance, street vendors, consumers, the surrounding formal activity owners and others who use Kartini corridor deal that street vending settled on these corridors has induced problems. For example, the problems are about space for good circulation and visual access, garbage management, and an harmonious sense. Then, these are used as a frame to identify community preferences to control vending activity, especially the activity established in their local area. Key words: public space image and quality, corridor, street vending.

POLA PEMANFAATAN RUANG TERBUKA PADA PEMUKIMAN KAMPUNG KOTA

Darmawan, Soni, Utami, Tin Budi

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.33 KB)

Abstract

ABSTRAKKawasan Permukiman Kayu Besar adalah permukiman perkampungan yang terletak di Kota Jakarta yang dikelilingi oleh kawasan Perkantoran Pantai Indah Kapuk. Dalam perkembangannya, kawasan permukiman tumbuh semakin padat, sehingga ruang terbuka semakin sempit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan-permasalah yang berkaitan dengan pola pemanfaatan ruang terbuka dan faktor-faktor pembentuk ruang terbuka di pemukiman kampung kota. Keterbatasan ruang terbuka menjadi permasalahan dalam spasial kota dan interaksi sosial masyarakat. Metode penelitian ini menggunakan teori Behavioral Mapping, pengumpulan data-data dari penelitian ini dilakukan dengan cara survei lokasi, wawancara, dan mendokumentasikan kegiatan masyarakat kampung tersebut untuk kemudian dianalisis dengan metoda deskriptif kualitatif. Setelah dilakukan analisis dari data-data lokasi dan dikaitkan dengan teori-teori terkait, maka didapatkan kesimpulan umum bahwa pada kampung kota terjadi hubungan masyarakat yang masih memiliki sifat kekerabatan yang erat dan saling mempengaruhi satu sama lain baik dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun atar individu dan kelompok, pada ruang umum yang pada dasarnya merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari masyarakatnya. Secara khusus disimpulkan bahwa keterbatasan lahan yang ada tidak dijadikan masalah yang dapat menghambat warga pemukiman Kayu Besar untuk berinteraksi sosial. Kegiatan berkumpul tetap dapat dilakukan baik pada halaman rumah, koridor jalan, dan warung. Kebutuhan ruang yang cukup luas sehingga masyarakat memanfaatkan kali untuk membangun ruang komunal. Meskipun ruang berkumpul tersebut tidak responsive, tetapi dapat memenuhi aktifitas masyarakat sehingga menimbulkan kesan democratic, comfort, dan meaningful.Kata Kunci : Kampung Kota, Behavioral Mapping, Teritoritas, Ruang Publik, Kayu Besar ABSTRAKThe Area of Large Timber Habitation is a settlement located in Jakarta surrounded by the area of Indah Kapuk Beach Offices. In its development, residential areas grow increangly crowded, so that the open space is getting narrower. The objectives of this research are indentifying problems of utilization system of open space and factors forming open space in urban and rural settlements. The limitation of open space being a problem in the spatial city and social interaction of society. The reasearch method is by using Behavioral Mapping theory, datas collection of this research are obtained by survey in to location, interview, and documented that village society to analyzed by using qualitative descriptive method. After analyzed from location datas and associated with related theories, therefore, generally it can be concluded that in urban village occured society relationships that still had a close kinship and affected each other both in relationships between individuals, groups, athough individuals and groups, in a common space which was basically a container that can be accomodated certain activities from those societies. Specifically, it can be concluded that the limitation of existing land was not a problem that can be inhibited citizen of Large Timber habitation for social interacted. Gathering activities can still be done both on house yard, road corridor and stall. The necessity space was wide enough until society utilized river to build the communal space. Whereas, the gathering space was not responsive, but can be fulfilled activities of society until created democratic impression, comfort, and meaningful. Keyword: Urban Village, Behavioral Mapping, Teritoritas, Public Space,Kayu Besar

STUDI KETERKAITAN ANTARA KARAKTER LOKASI DENGAN TIPOLOGI HUNIAN SEWA (KASUS : KAMPUNG KARET BELAKANG,KARET KUNINGAN)

Christantia, Nadia Resita

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2075.76 KB)

Abstract

ABSTRAKPerkampungan Karet Kuningan mengalami tekanan akibat pertumbuhan kawasan komersial. Perkembangan pusat bisnis di Kawasan Segitiga Emas, memunculkan tendensi fenomena permintaan akan tenaga kerja dan fungsi pendukung dari pusat bisnis. Memicu kampung karet kuningan untuk terus beradaptasi akan setiap perubahan dan pembangunan yang terjadi. Adaptasi yang kian terjadi menjadi fenomena baru dalam kampung dimana pertumbuhan fungsi menjadi daerah komoditas yang sangat padat.Perkampungan Karet Kuningan beradaptasi menjadi hunian sewa yang  dilakukan oleh masyarakat penghuni kampung Karet yang merupakan pengembang berskala kecil, yang kemudian menjadi pengaruh untuk terus melakukan pengembangan tanpa adanya tuntutan hukum pemerintah dan tidak terencana. Perkembangan yang tidak terencana oleh pengembang berskala kecil ini menyerupai yang disebut oleh ULI dengan small scale developer builders. Hampir keseluruhan kampung Karet ini beralih fungsi menjadi hunian sewa dengan pola pengembangan serta pertumbuhan yang relative tidak terencana/inkremntal. Namun produk hunian sewa yang dihasilkan menggambarkan terdapat keteraturan bila dilihat dari segi intensitas pengembangannya serta terlihat adanya keterkaitan dengan lokasi dimana hunian tersebut berada. Melihat pesatnya perkembangan area komersil pada tahun-tahun mendatang, serta rencana tata kota Jakarta oleh pemerintah, menimbulkan kemungkinan akan keberadaan Kampung Karet Kuningan selanjutnya.  Kata Kunci :     kampung, transformasi, hunian sewa, inkremental, tipologi  ABSTRACTPerkampungan Karet Kuningan have pressure because the growth of commercial area. The growth of central business area in Segitiga Emas, raises of the tendency about employment and supporting function business center. Trigger their rubber kuningan to continue to adapt will any change and construction of a happened. Transformation continuing happens to be new phenomenon of the village where growth function areas very dense commodities. Perkampungan Karet Kuningan transform into rental housing conducted by the community of Kampung Karet Kuningan itself. Who later became influence to keep developing without any lawsuits the government and not planned. The development not planned by the developer small-scale it resembles so called by ULI with small scale developer builders. Almost of kampung Karet Kuningan transform into rental housing develop with no pattern and relative not planned. But the product of rental housing describe there are regularity form intensity and there are related to location where the housing are located.  The rapid development commercial area in the coming years, and spatial planning Jakarta by the government, probable cause in the existence of karet kuningan next. Keyword: kampung, transformation, rental housing, incremental, tipology

KUALITAS PENCAHAYAAN ALAMI DAN PENGHAWAAN ALAMI PADA BANGUNAN DENGAN FASADE ROSTER (Studi Kasus: Ruang Sholat Masjid Bani Umar Bintaro)

Vidiyanti, Christy, Tambunan, Siti Farah Diba Boru, Tambunan, Siti Farah Diba Boru, Alfian, Yasin, Alfian, Yasin

Vitruvian Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.123 KB)

Abstract

ABSTRAKPeran bukaan cahaya pada sebuah bangunan turut andil dalam menciptakan kualitas pencahayaan alami yang baik. Perlu direncakan bukaan cahaya yang sesuai dengan lokasi bangunan tersebut. Lubang cahaya yang terlalu besar, dapat mengakibatkan cahaya matahari masuk dalam jumlah besar, yang sekaligus membawa radiasi masuk ke dalam bangunan. Hal ini mengakibatkan adanya dilema bahwa sinar matahari yang masuk kedalam bangunan akan mempengaruhi kondisi termal ruang. Sehingga dibutuhkan adanya kondisi dimana pencahayaan alami dan penghawaan alami pada ruang menjadi seimbang. Masjid Bani Umar ini selubung bangunannya menggunakan roster. Indonesia sebagai sebuah Negara tropis, menyebabkan memiliki musim panas yang panjang. Bangunan dengan selubung menggunakan roster, perlu dilakukan kajian terhadap cahaya matahari yang diterima oleh bangunan tersebut. Disebabkan bahwa roster membatasi cahaya matahari yang masuk ke dalam ruang. Kondisi tersebut perlu pula diuji kondisi termalnya. Penelitian ini memfokuskan pada kajian kualitas pencahayaan alami dan penghawaan alami pada bangunan dengan selubung roster. Metode yang dignakan adalah metode evaluatif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil kondisi penghawaan alami pada Masjid Bani Umar belum dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Kondisi pada Masjid Bani Umar masih lebih tinggi dari standar yang ditetapkan sehingga sensasi termal yang dirasakan oleh pengguna adalah agak hangat dan hangat.Sedangkan kondisi pencahayaan alami pada Masjid Bani Umar juga belum memenuhi standara pencahayaan menurut SNI. Kondisi pencahayaan alami pada Masjid Bani Umar masih lebih rendah dari standar yang ditetapkan. Namun, untuk nilai kualitas pencahayaan alami, kondisi pencahayaan pada Masjid Bani Umar masih memenuhi standar. Hal ini menandakan bahwa pencahayaan alami Masjid Bani Umar belum dapat memenuhi standar namun pencahayaan yang dihasilkan seragam. Kata Kunci :     Pencahayaan alami, penghawaan alami, roster, kualitas termal, kualitas visual, masjid tropis

PERBANDINGAN POLA, FUNGSI, DAN AKSESIBILITAS ALUN-ALUN KABUPATEN KARANGANYAR, KABUPATEN SUKOHARJO, DAN KABUPATEN KLATEN

Pratiwi, Yulia

Vitruvian Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1084.238 KB)

Abstract

ABSTRAKAlun-Alun di Jawa khususnya Jawa Tengah memiliki pola yang unik karena adanya faktor historis. Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten memiliki alun-alun yang tepat berada di pusat kota. Pola alun-alun diketiga kabupaten tersebut dipengaruhi pembangunan pada Masa Prakolonial, Masa Kolonial Belanda, dan Masa Reformasi/ pasca kemerdekaan. Oleh karena itu, tujuan penelitian yang pertama yaitu (1) mengkaji perbandingan pola alun-alun (saat ini) di Karanganyar, Klaten, Sukoharjo secara lebih mendalam. Ketiga alun-alun yang dibangun sejak zaman Kerajaan Mataram tersebut, sekarang mengalami berbagai perkembangan terutama dari semakin beragamnya fungsi alun-alun dan penambahan fasilitas-fasilitas untuk mendukung kenyamanan dan keamanan dalam menggunakan alun-alun. Tujuan penelitian yang kedua yaitu (2) mengkaji perbandingan fungsi Alun-Alun di Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Tujuan penelitian yang terakhir yaitu (3) mengkaji perbandingan aksesibilitas ketiga alun-alun dengan menggunakan standar Peraturan Menteri PU No. 30 Tahun 2006. Metode penelitian yang digunakan adalah  metode pemetaan (mapping) untuk mendapatkan data pola dan fungsi alun-alun dan metode perbandingan dengan standar PU No. 30 Tahun 2006 untuk mendapatkan data aksesibilitas Alun-Alun di Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Setelah data pola, fungsi, dan aksesibilitas di tiga alun-alun selesai dilakukan pembahasan, selanjutnya adalah membandingkan pola, fungsi, dan aksesibilitas di ketiga alun-alun.Hasil yang didapatkan yaitu Alun-Alun Kabupaten Karanganyar memiliki pola Catur Tunggal yang masih bertahan dibandingkan pola alun-alun di Kabupaten Klaten dan Kabupaten Sukoharjo. Persebaran fungsi (ekonomi, sosial, lingkungan dan kesehatan) Alun-Alun baik Alun-Alun Karanganyar, Alun-Alun Sukoharjo, dan Alun-Alun Klaten banyak terjadi di hari minggu terutama pagi hari ketika ada aktivitas car free day. Aksesibilitas di Alun-Alun Klaten lebih inklusif (mudah diakses untuk semua kalangan) dibandingkan Alun-Alun Karanganyar dan Alun-Alun Sukoharjo.Kata Kunci : Pola, Aksesibilitas, Fungsi, Alun-Alun ABSTRACTSquare in Java is called Alun-Alun. Alun-alun especially in Central Java has a unique pattern because of the historical factor. Karanganyar regency, Sukoharjo regency, and Klaten regency have alun-alun in the center of the city. The pattern of the alun-alun in these three regency was influenced by the development of the precolonial period, the Dutch colonial Period, and the post-independence period. Therefore, the first research objective is (1) to examine the comparison of current pattern in Karanganyar, Klaten, Sukoharjo in more depth. The three alun-alun built since the time of the Mataram Kingdom, now experiencing various developments, especially from the increasingly diverse functionality of the alun-alun and the addition of facilities to support the comfort and security in using the square. The second research objective is (2) to examine the comparison of Alun-Alun function in Karanganyar Regency, Sukoharjo Regency, and Klaten Regency. The last research objective is (3) to compare the accessibility of Alun-Alun in Karanganyar, Sukoharjo and Klaten Regency by using Indonesian Ministry of Public Works Regulation (Number: 30/PRT/M/2006). The research method used is the method of mapping to obtain the pattern data and function of the alun-alun and the method of comparison with the standard from Indonesia Ministry of Public Works Regulation to obtain data accessibility Alun-Alun in Karanganyar Regency, Sukoharjo Regency, and Klaten Regency. After the data of pattern, function, and accessibility in the three alun-alun is done the discussion, then compare the pattern, function, and accessibility of three alun-alun. The conclusion obtained that the alun-alun pattern in Karanganyar has a single surviving “Catur Tunggal” pattern compared to the alun-alun pattern in Klaten and Sukoharjo. Distribution of the function (economic, social, environment and health) of the alun-alun both alun-alun of Karanganyar, alun-alun of Sukoharjo, and alun-alun of Klaten mostly occurs on Sunday especially early in the morning when there is activity called as car free day. Accessibility at alun-alun of Klaten is more inclusive (accessible to all) than alun-alun of Karanganyar and alun-alun of Sukoharjo.Keyword: Pattern, Aksesibilities, Function, Alun-Alun

KOMPARASI ERGONOMI RUANG WUDHU MASJID JAMI’ AL-KARIM PESANGGRAHAN DAN MASJID ASH SHAFF EMERALD BINTARO

Kurniawan, Toriq Aziz, Widajanti, Andjar

Vitruvian Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1122.605 KB)

Abstract

ABSTRAKKewajiban utama seorang muslim adalah untuk menjalankan sholat lima waktu dalam sehari. Salah satu syarat sahnya sholat yaitu dengan diwajibkannya untuk mensucikan diri terlebih dahulu dengan cara berwudhu. Berwudhu bisa dilakukan kapanpun, tidak hanya di saat sebelum sholat, namun bisa juga ketika sedang berhadats kecil. Berwudhu dapat dilakukan dengan cara berdiri ataupun duduk. Penelitian dilakukan di Masjid Jami’ Al-Karim Pesanggrahan dan Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro pada ruang wudhu yang memiliki ruang wudhu duduk dan berdiri, dengan tujuan untuk mengkomparasikan kedua ruang wudhu dengan mengukur tingkat ergonomi ruang wudhu dan dengan standar yang ada. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi. Pengolahan data observasi menggunakan matriks observasi, kemudian hasil observasi menggunakan interval main score. Hasil Observasi ruang wudhu Masjid Jami’ Al-Karim Pesanggrahan dan Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro menunjukkan 5 dari 7 faktor ergonomi sudah memenuhi standar dan sisanya belum memenuhi standar. Faktor-faktor dalam ruang wudhu yang belum memenuhi standar adalah penyelesaian interior pada ruang wudhu berdiri dan duduk. Sedangkan sisanya seperti sirkulasi vertikal, material, pencahayaan, penghawaan, dan sirkulasi horizontal sudah memenuhi standar. Kriteria yang belum memenuhi standar pada kedua ruang wudhu pada kedua masjid ini sama-sama 3 kriteria. Namun bedanya pada Masjid Al-Karim pada kriteria tinggi keran (duduk), tinggi keran (berdiri) dan lebar dudukan pada ruang wudhu duduk, sedangkan pada Masjid Ash Shaff belum memenuhi standar pada kriteria jarak antar keran (berdiri), jarak antar keran (duduk) dan jarak antar dudukan.Namun setelah diolah menggunakan metode interval maka Masjid Al-Karim Pesanggrahan memperoleh nilai rata-rata 2.08 (Baik) dan Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro memperoleh nilai rata- rata 2.43 (Sangat Baik).Kata Kunci : masjid, ruang wudhu, ergonomi  ABSTRACTThe main duty of a Muslim is to perform the five daily prayers a day. One of the requirements of the validation of prayer is by obligated to purify themselves first by means of ablution. Ablution can be done anytime, not only at the time before the prayer, but can also when it is small hadats. Ablution can be done by standing or sitting. The study was conducted at Jami Al-Karim Pesanggrahan and Ash Shaff Emerald Bintaro Mosque in ablution room which has wudhu sitting and standing room, in order to compile the two ablution rooms by measuring the level of ergonomics of ablution room and with the existing standard. Data collection is done by observation. Observation data processing using observation matrix, then the result of observation using main score interval. The results of observation of ablution room of Jami Al-Karim Pesanggrahan Mosque and Ash Shaff Emerald Bintaro Mosque shows 5 of 7 ergonomic factors have met the standard and the rest have not met the standard. Factors in the ablution room that have not met the standard is the completion of the interior in the ablution room standing and sitting. While the rest such as vertical circulation, material, lighting, penghawaan, and horizontal circulation already meets the standards. Criteria that do not meet the standards in both ablution room in both mosques are equally 3 criteria. The difference between the faucet (sitting), the tap height (standing) and the width of the seat in the ablution room, while in the Ash Shaff Mosque has not met the standard on the criteria of the distance between the taps (standing) And the distance between the holder. However, after being processed using the interval method, Al-Karim Pesanggrahan Mosque got an average value of 2.08 (Good) and Ash Shaff Emerald Bintaro Mosque got an average value of 2.43 (Very Good).Keyword: mosque, ablotion room, ergonomic

PENGARUH BUKAAN TERHADAP KINERJA TERMAL PADA MASJID JENDRAL SUDIRMAN

Arifin, Ikhwan Nur, Hidayat, Muhammad Syarif

Vitruvian Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.077 KB)

Abstract

ABSTRAKMasjid pada umumnya didesain dengan banyak bukaan ventilasi untuk memasukkan penghawaan alami kedalam bangunan dengan maksud untuk menurunkan suhu didalam.Masjid Jendral Sudirman merupakan masjid dengan bukaan jendela pada tiap sisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa pengaruh dari bukaan terhadap kinerja termal pada runang dalam masjid. Metode yang digunakan adalah deskriptif evaluatif dengan pengdekatan kuantitatif. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur suhu udara, suhu permukaan dan kecepatan angin. Pengukuran dilakukan selama 3 hari dari jam 09.00 sampai dengan 17.00 dengan menggunakan simulasi percobaan pada bukaan. Dari kesimpulan yang didapat bahwa pengaruh bukaan terhadap penurunan suhu udara didalam tidak signifikan. Penurunan suhu tertinggi adalah pada perbandingan percobaan jendela terbuka sebagian dilantai 2 dan 3 yaitu sebesar 1,18 oC.Kata Kunci : Bukaan Ventilasi, Kinerja Termal, Masjid ABSTRACTThe mosque is generally designed with many ventilation openings to incorporate natural penghawaan into the building with the intention to lower the temperature inside. Mosque General Sudirman is a mosque with window openings on each side. This study aims to determine how the influence of openings on thermal performance at runang in the mosque. The method used is descriptive evaluative with quantitative approach. Measurements are made by measuring air temperature, surface temperature and wind speed. Measurements were carried out for 3 days from 09:00 to 17:00 hours by using experimental simulations on openings. From the conclusion obtained that the influence of openings to the decrease in air temperature inside is not significant. The highest temperature drop was in the comparison of experimental open-window experiments on the 2nd and 3rd floors of 1.18 oC.Keyword: Ventilation openings, Thermal Performance, Mosque