cover
Contact Name
Christy Vidiyanti
Contact Email
christy.vidiyanti@mercubuana.ac.id
Phone
+628567535557
Journal Mail Official
arsitektur@mercubuana.ac.id
Editorial Address
Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana Jl. Raya Meruya Selatan, Kembangan, Jakarta 11650
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan
ISSN : 20888201     EISSN : 25982982     DOI : https://dx.doi.org/10.22441/vitruvian
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles 82 Documents
VERTICAL GREENERY PADA SARANA DAN PRASARANA TRANSPORTASI PUBLIK UNTUK MENDUKUNG KOTA HIJAU Nurhasanah, Fitria; Utami, Indah Ulfia; Syahadat, Ray March
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perencanaan kota yang terjadi selama ini biasanya hanya terfokus pada struktur perkerasaan. Akibatnya beberapa permasalahan timbul seperti meningkatnya suhu perkotaan, penurunan kualitas udara bersih, penurunan kualitas visual, hilangnya sense of landscape, dan terganggunya ekosistem di perkotaan. Selanjutnya, bertambahnya jumlah penduduk dan berkurangnya area ruang terbuka hijau (RTH) membuat kita harus memikirkan alternatif untuk meningkatkan kualitas hidup di perkotaan. Sistem vertical greenery menjadi salah satu solusi yang sering digunakan pada bangunan. Artikel ini mencoba memberikan sebuah solusi untuk memanfaatkan konsep vertical greenery bukan hanya untuk bangunan, tetapi pada sarana dan prasarana transportasi umum yang banyak tersebar di perkotaan. Diharapkan dengan mengoneksikan potensi kuantitas sarana dan prasarana transportasi publik, tanaman dengan kemampuan mereduksi polutan, serta teknologi vertical greenery, dapat membantu mengurangi permasalahan akan kurangnya RTH perkotaan yang secara tidak langsung memiliki dampak pada kualitas hidup di perkotaan. Studi dilakukan di Jakarta dan Singapura pada bulan November-Desember 2016. Hasil yang diperoleh terdapat 14 kriteria tanaman dan 34 spesies tanaman yang dapat digunakan untuk vertical greenery pada sarana dan prasarana transportasi publik di perkotaan.Kata Kunci : ekosistem perkotaan; lanskap; kriteria; kualitas visual; kualitas hidup perkotaan; sense of landscape; ruang terbuka hijau; RTH; suhu perkotaan; udara bersih
HUBUNGAN KAMPUS D1 UNIVERSITAS MERCUBUANA DENGAN KEBERAGAMAN ACTIVITY SUPPORT DI SEKITARNYA (LOKASI ACTIVITY SUPPORT : RUAS JALAN GANCENG) Putra, Gentina Pratama; Jamila, Rona Fika
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan kampus D1 Universitas Mercubuana terletak di jalan raya Kranggan yang sedang berkembang permukimannya. Dan pada kenyataannya activity support terus berkembang di sekitar kampus ini. Apakah pertumbuhan activity support ada karena keberadaan kampus ataukah karena perumahan-perumahan baru di sekitarnya? Ini merupakan permasalahan yang diangkat pada penelitian ini. Metode yang digunakan untuk mengupasnya adalah kualitatif deskriptif. Dan hasil survey yang didapat ternyata memang menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen yang dituju oleh activity support- activity support ini adalah para mahasiswa kampus D1 Universitas Mercubuana. Penelitian ini mengambil responden yang berada di jalan Ganceng yang terletak di samping kampus, dan disarankan bagi peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa yang mengambil responden dari lokasi lain.Kata Kunci : Kampus, Activity Support, Jalan Ganceng
STRUKTUR RUMAH TINGGAL MASYARAKAT JULAH: WUJUD PEWARISAN TRADISI ARSITEKTUR BERKELANJUTAN DI BALI UTARA Nurjani, Ni Putu Suda
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKIsu lingkungan telah menjadi isu populer dan aktual dalam satu dekade terakhir ini. Hal itu melahirkan berbagai upaya untuk menghasilkan solusi yang tepat bagi permasalahan lingkungan. Berdasarkan kondisi tersebut, salah satu konsep pemecahan masalah yang saat ini banyak dibicarakan adalah arsitektur berkelanjutan (sustainable architecture). Namun demikian, sustainable architecture bukan sekedar menyangkut persoalan teknologi-material, tapi juga menyangkut sikap budaya dan pendidikan. Pada masyarakat tradisional misalnya, sustainability terjadi bukan hanya dengan perwujudan fisik, namun lebih pada adanya kepercayaan atas nilai-nilai yang mendasarinya, yaitu penghargaan dan pemahaman untuk menjaga keselarasan alam. Seperti yang terjadi pada masyarakat Desa Julah. Julah merupakan salah satu desa Bali Aga (Bali asli) yang sampai saat ini sangat taat terhadap adat dan tradisi. Berdasarkan hasil observasi penulis di Desa Julah, tidak ditemukan perubahan yang besar terutama dalam hal pembentukan struktur spasial ruang rumah tinggal masyarakatnya. Walaupun sudah banyak masyarakat Julah yang mapan dari segi ekonomi, akan tetapi mereka tetap taat terhadap adat dan tradisi. Kelestarian lingkungan adalah hal utama yang menjadi pertimbangan dalam setiap permasalahan yang terjadi di Desa Julah. Penelitian ini mengkaji dua hal mendasar yang membentuk karakter keruangan rumah tinggal masyarakat Julah. Pertama, mendeskripsikan bagaimana pola perilaku budaya masyarakat Julah dalam berinteraksi dengan lingkungan alam dan lingkungan binaan (arsitektur) secara selaras dan berkelanjutan. Kedua, mengkaji bagaimana pola perilaku itu dipelihara dan diwariskan melalui proses pembelajaran kepada generasi berikutnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, yang tidak hanya berfokus pada proses (perilaku) tetapi juga pada bentuk fisik rumah tinggal sebagai produk budaya arsitektur.Kata Kunci : Arsitektur berkelanjutan, rumah tinggal, tradisiABSTRACTEnvironmental issues have become a popular and actual issues in the past decade. It spawned numerous attempts to produce appropriate solutions for environmental problems. Under these conditions, one of the problem-solving that is currently widely discussed in architecture is sustainable development. However, sustainable architecture is not simply linked to a problem-material technology, but also about cultural attitudes and education. In traditional societies, for example, sustainability occurs not only with the physical embodiment, but rather on their confidence in the underlying values, namely respect and understanding to maintain the harmony of nature. As happened in the village community Julah. Julah is a Bali Aga village (original Balinese), which until now was very obedient to the customs and traditions. Based on observations in this village, there are no major changes, especially in terms of the formation of the spatial structure of residential space community. Although, many people in Julah village established in terms of the economy, but they remain obedient to custom and tradition. Environmental sustainability is the main thing to be considered in any problems that occurred in the Julah village. This study examines the two fundamental things that characterize spatial of Julah residential community. First, describe how the patterns of cultural behavior in society Julah interact with the natural environment and the built environment (architecture) in a harmonious and sustainable. Second, examine how patterns of behavior that are maintained and passed through a learning process to the next generation. The method used in this study is a qualitative research method, which not only focuses on the process (behavior) but also on the physical form of the residence as a cultural product architecture.Keyword: sustainable architecture, house, tradition
KAJIAN RETROFIT BANGUNAN SEBAGAI UPAYA MEREDUKSI KONSUMSI ENERGI OPERASIONAL Studi Kasus : Campus Centre (CC) Barat ITB Vidiyanti, Christy
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTProduction of electric energy in Indonesia is largely still using fossil fuels which are non-renewable energy. Thus increasing energy consumption will also contribute to impact on the depletion of fossil energy reserves. The building sector as one of the users of energy consumption, also participated responsible for operational energy consumption. Architects as one who coined an important role in determining the energy consumption in a building, this is because the design of the building will also influence energy consumption of that building. The operational energy consumption in buildings is the use of air conditioning and artificial lighting. It certainly can be avoided by making energy conservation by utilizing as much as possible the use of natural energy for room temperature and natural lighting.The ratio of openings (window to wall ratio (WWR)) also affect the energy use intensity (EUI) in the building. In the case study of West Campus Centre ITB building, it can be seen that the facade that has WWR value close to 100% even though it can reduce energy consumption of artificial lighting, but can increase energy consumption for air conditioning. The effort required to retrofit to reduce both the energy consumption. Retrofitting efforts can be done through the addition of shading on the building, the reduction of WWR value, or replace glazing material with low U-Value glazing.Keyword: energy use intensity (EUI), retrofit, energy reduction, energy conservationABSTRAKProduksi energi listrik di Indonesia sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil yang merupakan energi tak terbarukan. Sehingga meningkatnya konsumsi energi akan turut pula berdampak pada menipisnya cadangan energi fosil. Sektor bangunan sebagai salah satu pemakai konsumsi energi, turut pula bertanggung jawab terhadap pemakaian energi operasionalnya. Arsitek sebagai salah satu yang memiiki peran penting dalam menentukan pemakaian energi pada suatu bangunan, hal ini dikarenakan desain suatu bangunan akan turut mempengaruhi konsumsi energinya. Konsumsi energi operasional terbesar di bangunan yaitu pada penggunaan penghawaan buatan dan pencahayaan buatan. Hal ini tentu dapat dihindari dengan melakukan konservasi energi melalui memanfaatkan semaksimal mungkin penggunaan energi alam untuk penghawaan dan pencahayaan alami.Rasio bukaan cahaya (window to wall ratio(WWR)) turut berpengaruh terhadap intensitas penggunaan energi (EUI) di bangunan. Pada studi kasus bangunan Campus Centre Barat ITB, dapat diketahui bahwa fasade yang memiliki nilai WWR mendekati 100% meskipun dapat mengurangi konsumsi energi pencahayaan buatan, namun dapat meningkatkan konsumsi energi untuk penghawaan buatan. Untuk itu diperlukan upaya retrofit untuk mereduksi kedua konsumsi energi tersebut. Upaya retrofit dapat dilakukan melalui penambahan shading pada bangunan, pengurangan nilai rasio bukaan, atau mengganti material kaca dengan yang memiliki nilai U Value rendah.Kata Kunci : intensitas penggunaan energi (EUI), retrofit, reduksi energi, konservasi energi
PENCAHAYAAN ALAMI PADA RUANG BACA PERPUSTAKAAN UMUM KOTA SURABAYA Mumpuni, Primastiti Wening; Widayat, Rahmanu; Aryani, Silfia Mona
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengevaluasi kondisi pencahayaan alami di Perpustakaan Umum Kota Surabaya, (2) mengidentifikasi karakter elemen pembentuk ruang dan pengisi ruang baca terkait pencahayaan alami. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan membaca literatur yang berkaitan dengan pancahayaan alami, observasi lapangan, melakukan pengukuran dengan alat Luxmeter, simulasi menggunakan Sketchup, dan wawancara dengan pengunjung. Data menunjukkan bahwa intensitas cahaya alami di ruang baca Perpustakaan Umum Kota Surabaya tidak sesuai dengan standar yang dianjurkan untuk ruang baca. Hal ini bisa disebabkan oleh luas bukaan yang kurang dari standar. Kondisi ini diperburuk dengan penataan furniture dan tambahan bangunan yang memblokade bukaan dan membuat cahaya alami tidak dapat masuk ke dalam ruang baca secara optimal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah cahaya alami di ruang baca perpustakaan umum Kota Surabaya tidak memenuhi standar yang dianjurkan. Kondisi tersebut dapat dibenahi dengan menambah bukaan dengan ukuran yang tepat dan penataan furniture yang tidak memblokade pencahayaan.Kata Kunci : green design,intensitas cahaya, luxmeter, metode kuantitatif
PENGARUH BENTUK ATAP TERHADAP KARAKTERISTIK THERMAL PADA RUMAH TINGGAL TIGA LANTAI Kholiq, Afrizal; Hidayat, Muhammad Syarif
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKBeberapa faktor yang menjadi penentu tingkat kenyamanan dalam ruang pada desain rumah tinggal adalah desain envelope (selubung bangunan), karena mempengaruhi beban panas yang diterima mencapai 80%. Atap menjadi elemen pertama yang melindungi rumah tinggal dari berbagai cuaca dan menerima energi panas langsung dari matahari. Oleh karena itu, pengaruh bentuk atap terhadap kenyamanan dalam ruang menjadi hal yang menarik untuk diteliti, untuk mengetahui seberapa besar pengaruhnya terhadap suhu udara ruang didalamnya.Objek penelitian adalah ruang yang berada dalam satu bangunan rumah tinggal yang menggunakan dua jenis atap, yaitu atap miring dan atap datar yang berada di kawasan Ancol, Jakarta. Penelitian difokuskan pada dua ruang yang berada langsung dibawah penutup atap. Penelitian hanya fokus pada faktor-faktor kenyamanan termal, seperti suhu udara, kelembaban udara relatif, aliran udara, dan suhu permukaan, serta suhu udara rongga atap. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan pengamatan langsung, pengukuran lapangan dengan rekayasa, dan mengumpulkan teori dan standar kenyamanan termal yang berkaitan dengan variable penelitian setelah itu akan diolah dengan tabulasi dan grafik, dan dianalisa untuk mendapatkan kesimpulan.Hasil penelitiannya adalah suhu permukaan atap, suhu udara rongga atap dan suhu udara dalam ruang pada ruang yang menggunakan atap datar lebih tinggi dibandingkan dengan ruang yang beratap miring.Kata Kunci : atap, rumah tinggal, kenyamanan termalABSTRACTSome of the factors that determines the level of comfort in the room on residential design is the design envelope (building envelope), because it affects the heat load received 80%. Roof becomes the first element that protects homes from various weather and receives heat energy directly from the sun. Therefore, the influence of the shape of the roof of comfort in the room becomes interesting to study, to know how big influence on the air temperature inside the room. The object of research are spaces that are in a residential building that uses two types of roofs, the sloping roof and flat roof located in Ancol, Jakarta. The study focused on two spaces located directly under the roof covering. The study only focused on thermal comfort factors, such as air temperature, relative humidity, air flow, and the surface temperature and air temperature roof cavity. The goal is to determine and compare the thermal conditions of each of the space. Research using quantitative methods by direct observation, field measurements engineering, and collecting theories and standards relating to thermal comfort research variable after it is treated with tabulations and charts, and analyzed to obtain conclusions. Results of the study was the roof surface temperature, air temperature and air temperature roof cavity in space on the space using flat roof is higher than the slant-roofed space.Keywords : roof, houses, thermal comfort
KENYAMANAN TERMAL PADA RUANG TERBUKA HIJAU DI JAKARTA PUSAT Hidayat, Muhammad Syarif
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenyamanan termal dalam Ruang Terbuka Hijau kota memiliki peran yang penting. Keadaan termal berkaitan dengan kenyamanan dan kesehatan para pengguna RTH. Penelian ini bertujuan untuk menggali pendapat para pengguna mengenai keadaan termal RTH tersebut. Penelitian dilakukan dengan cara pengukuran keadaan termal RTH serta penyebaran kuisioner bagi para pengguna RTH. Lokasi survey untuk penelitian ini adalah Taman Menteng dan Taman Suropati di Jakarta Pusat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Taman Menteng pada pagi hari dengan suhu udara 28-29 C dirasakan netral oleh para responden. Sedangkan Taman Suropati dengan suhu 28-29 C netral tapi tidak menonjol. Sebaliknya pada waktu sore dengan suhu 31 C di Taman Menteng dirasakan agak dingin oleh responden, sedangkan Taman Suropati dirasakan netral. Fenomena ini terkait dengan lingkungan kedua RTH yang agak berbeda. Taman Menteng dibatasi jalan yang ramai dan Taman Kodok. Sedangkan Taman Suropati seluruhnya dikelilingi oleh jalan yang ramai lalu lintasnya. Selain itu, Taman Menteng memiliki pelataran keras yang cukup luas, sedangkan Taman Suropati memiliki pepohonan yang cukup rindang.Kata Kunci : kenyamanan termal, ruang terbuka hijau, keadaan termal
OPTIMALISASI PEMANFAATAN GREYWATER PADA BANGUNAN RUMAH SUSUN SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN SUSTAINABLE ARCHITECTURE Studi Kasus: Rumah Susun Juminahan di Yogyakarta Handoko, Jarwa Prasetya S
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSuplai air bersih bagi kota besar di Indonesia merupakan isu yang mengemuka seiring dengan perkembangan kota yang semakin pesat. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi permasalahan pemenuhan kebutuhan air bersih penduduk perkotaan di Indonesia. Konsep sustainable arsitektur dalam desain bangunan dengan upaya pengolahan air limbah untuk reuse dan recycle sesuai dengan kebutuhan penghuni bangunan dapat sebagai salah satu upaya yang dapat diterapkan dalam mengatasi permasalahan ini.Yogyakarta merupakan salah satu kota besar di Indonesia dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi. Hal ini membawa konsekuensi bertambahnya kebutuhan permukiman bagi masyarakatnya. Upaya pemenuhan kebutuhan permukiman penduduk perkotaan dilaksanakan oleh pemerintah Yogyakarta. Rumah susun merupakan salah satu bentuk permukiman penduduk perkotaan yang saat ini sedang dikembangkan oleh pemerintah.Pembangunan fasilitas baik itu permukiman maupun fungsi lain khususnya bangunan dengan kapasitas penghuni yang besar adalah ketersediaan air bersih bagi penghuninya. Sehingga bangunan yang berpotensi membutuhkan air bersih dalam jumlah besar harus mempertimbangkan aspek pemakaian air untuk ikut memberikan solusi permasalahan krisis air perkotaan. Konsep pemanfaatan grey water merupakan salah satu konsep yang ditujukan sebagai upaya pemanfaatan air limbah bangunan untuk memenuhi kebutuhan air pada bangunan. Konsep ini memberikan alternatif sumber air bersih untuk kegiatan tertentu pada bangunan.Oleh karena itu perlu dilakukan suatu kajian yang mengevaluasi tingkat efektifitas pemanfaatan grey water pada bangunan rumah susun terhadap pengurangan kebutuhan air bersih bangunan rumah susun serta kebutuhan kegiatan apa saja yang dapat memanfaatkan grey water pada bangunan rumah susun.Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan grey water pada bangunan rumah susun dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk kegiatan tertentu. Sehingga hal ini dapat mengurangi kebutuhan air bersih yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup penghuninya. Hal ini akan mewujudkan upaya pemanfaatan limbah bangunan. Sehingga pemanfaatan grey water pada rumah susun dapat menjadi salah satu upaya mewujudkan sustainable architecture. Rekomendasi dari kajian ini adalah bahwa perancangan bangunan rumah susun sebaiknya dapat menerapkan konsep pemanfaatan grey water pada rancangan rumah susun. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan sebagian aktivitas pada bangunan rumah susun sebagai upaya mewujudkan sustainable architecture.Kata Kunci : Greywater, Water Conservation, Rumah Susun, Sustainable Architecture?ABSTRACTClean water supply for major cities in Indonesia is an issue that is raised in line with the increasingly rapid development of the city. Various attempts were made by the government in overcoming the problems fulfilling water needs of urban population in Indonesia. The concept of sustainable architecture in the design of buildings with waste water treatment efforts to reuse and recycle in accordance with the needs of the building occupants can be as one of the efforts that can be applied to solve this problem.Yogyakarta is one of Indonesia's major cities with a high population growth. This leads to increased demand for housing for the people. Addressing the needs of urban settlements implemented by the government of Yogyakarta. Flats is one form of urban settlements that are currently being developed by the government.Construction of the facility either settlements or other functions, especially buildings with large occupant capacity is the availability of clean water for the residents. So the building could potentially require large quantities of clean water should consider the use of water to help provide solutions to problems of urban water crisis. The concept of the use of gray water is one concept that is intended as an effort to utilize the building waste water to meet the water needs of the building. This concept provides an alternative source of clean water for certain activities in the building.Therefore, it is necessary to have a study that evaluates the effectiveness of the use of gray water on building flats on reducing water needs of building flats and what activities need to utilize gray water in flat buildings.From this study it can be concluded that the use of gray water in flat buildings can be utilized to fullfil water needs for certain activities. So that it can reduce the need for clean water needed to fullfil the needs of its inhabitants. This effort at building waste utilization. So that the utilization of gray water on the flats can be one of the efforts to achieve sustainable architecture. Recommendations from this study is that the design of the flat building should be able to apply the concept of utilization of gray water. This is to fullfil the needs of some activities at the flat building as efforts to achieve sustainable architecture.Keywords : Greywater, Water Conservation, Flat, Sustainable Architecture
KAJIAN ALTERNATIF DETAIL SAMBUNGAN UNTUK MAINAN KAYU Muladi, Edy
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan orang tua akan mainan yang bermanfaat untuk melatih daya pikir dan motorik anak, membuka peluang terciptanya mainan kayu edukatif. Ragam mainan kayu ditawarkan dengan berbagai variasi teknik sambung. Penelitian ini mengkaji berbagai variasi sambungan kayu yang ditemukan dalam teknik sambung furniture dan mungkin dapat diaplikasikan pada media yang lebih kecil seperti mainan kayu. Metode penelitian yang digunakan yaitu dengan melakukan pengamatan dan observasi pada media kayu. Setelah itu dilakukan analisis dan membuat kesimpulan mengenai ragam variasi teknik sambung pada furniture secara konvensional tradisional. Dengan demikian akan diperoleh hasil dari penelitian berupa temuan teknik sambung furniture yang dapat didaptasi untuk sambungan mainan kayu.Kata Kunci : Mainan kayu; Sambungan Kayu; Teknik Sambung Furniture.
KOEKSISTENSI KONSEP MAKNA SIMBOLIK RUMAH KAUM KAOMU (MALIGE) DENGAN KANTOR DISPENDA KOTA BAUBAU Umar, Muhammad Zakaria; Arsyad, Muhammad
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan, dan Lingkungan Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenyataan diberbagai kota besar di dunia memang menunjukkan gejala kian lunturnya jatidiri akibat bermunculannya karya-karya arsitektur moderen. Penelitian ini bertujuan mengkaji dan mengidentifikasi koeksistensi rumah kaum Kaomu (Malige) dengan Kantor Dispenda. Penelitian ini dilaksanakan di Kota Baubau Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan kausal komparatif terhadap rumah kaum Kaomu dengan kantor Dispenda. Penelitian ini disimpulkan bahwa koeksistensi konsep makna simbolik antara rumah kaum Kaomu (Malige) dengan kantor Dispenda ada dan sudah dimodifikasi.Kata Kunci : Jatidiri; koeksistensi; makna simbolik; rumah kaum Kaomu (Malige); kantor Dispenda