cover
Filter by Year
Vitruvian
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles
57
Articles
IDENTIFIKASI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT BAJO DALAM MEMBUAT ATAP DAUN NIPAH (nypa fructicans)

Umar, Muhammad zakaria, Suhartiwi, Irma Amryana, Fitrah, Ali, Zamiul, Zamiul

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Konsep rancang bangun yang bernuansa lokal tidak lagi tertumpu pada kearifan lokal, karena tren bagi perancang lokal agar terlihat moderen diambil dengan cara meniru konsep asing. Salah satu kearifan lokal yang dimanfaatkan sumber daya hayatinya dan masih digunakan oleh masyarakat pesisir adalah material atap daun nipah. Material atap daun nipah digunakan juga oleh masyarakat Kampung Bajo, Kelurahan Petoaha, Kecamatan Abeli, Kota Kendari. Budaya menjahit atap daun nipah telah dilakukan dengan metode turun-temurun. Pohon nipah-pohon nipah di daerah tersebut telah mengalami kepunahan karena reklamasi pantai. Sehingga, daun nipah diambil dari kampung lain yang masih melimpah. Material atap daun nipah masih dibuat dengan metode tradisional seperti bahan-bahan, alat-alat kerja, dan tahap pembuatannya. Penelitian ini ditujukan untuk mengidentifikasi dan mengkaji kearifan lokal masyarakat Kampung Bajo dalam membuat atap daun nipah. Dalam penelitian ini digunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan dengan cara observasi dan diskusi mendalam. Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis deskriptif naratif. Penelitian ini disimpulkan bahwa atap daun nipah mengandung kearifan lokal, sebagai berikut: Alat-alat kerja yang digunakan sederhana seperti parang, gergaji, dan pisau; Bahan-bahan yang digunakan menciptakan kelestarian lingkungan seperti daun nipah dan kayu bambu, dan; Tahap-tahap material atap daun nipah dibuat bersifat tradisional seperti tahap daun nipah direndam air laut, tahap daun nipah dijahit, dan tahap daun nipah dikeringkan.Kata kunci: Material atap daun nipah

EKSPLORASI ARSITEKTUR EKOLOGIS DI DESA WISATA KAMPUNG BUDAYA SINDANG BARANG

Ayudya, Rr. Diana, Permana, Saeful Mahfud, Nugraha, Trisna Putra

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKPengembangan kawasan yang berpotensi menjadi Desa Wisata telah menjadi Rencana Strategis Nasional (Renstranas) pemerintah di bawah Kementerian Pariwisata Republik Indonesia sebagai perwujudan salah satu amanat Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Banyak daerah di Jawa Barat yang memiliki potensi wisata sebagai daya tarik bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, salah satunya adalah potensi pengembangan sebagai Desa Wisata. Salah satu kawasan wisata di Jawa Barat ini yang sudah dikembangkan sebagai desa wisata adalah Kampung Budaya Sindang Barang, yang terletak di Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.Perencanaan dan perancangan kawasan desa wisata Kampung Sindang Barang sebagai wisata alam dan budaya unggulan di Jawa Barat ini diharapkan dapat menambah kunjungan wisatawan ke Propinsi Jawa Barat umumnya dan Kabupaten Bogor pada khususnya. Namun, pendekatan arsitektur ekologis pada perencanaan dan perancangannya adalah salah satu hal terpenting yang juga harus dilakukan untuk memastikan dilakukan penataan yang baik dan memperhatikan potensi-potensi yang ada  di sekitar kawasan tersebut agar dapat dikembangkan secara lebih optimal dengan tetap melakukan perencanaan pembangunan berkonsep eco-culture. Pendekatan arsitektur ekologis merupakan salah satu upaya dalam perencanaan dan perancangan kawasan desa wisata yang berkelanjutan, baik dari sisi alam, budaya maupun masyarakatnya.Perencanaan dan perancangan yang dilakukan di Desa Wisata Kampung Budaya Sindang Barang menggunakan pendekatan metodologi problem solving berdasarkan aspek ekologi kawasan, aspek sosial ekonomi, dan aspek sosial kultural. Konsep eco-culture dikembangkan menjadi konsep dasar pendekatan perancangan Kawasan Desa Wisata Kampung Sindang Barang dengan harapan mampu menarik kunjungan wisatawan dengan memuat prinsip wisata yang dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat melalui pendekatan perencanaan pembangunan yang berkelanjutan. Kata Kunci :   Arsitektur Ekologis, Arsitektur Berkelanjutan, Pembangunan Berkelanjutan, Ekowisata, Desa Wisata  ABSTRACTBuild Environment that potentially developed as Tourism Village had become National Strategic Plan of the government under The Republic Indonesia Ministry of Tourism as one of the mandate manifestation of The President of Republic Indonesia Regulation No. 2 Year 2015 about The Development Plan of National Medium-term 2015-2019. Many areas at West java had many tourism potentials as tourist attractions either for domestic or international tourists, includes potential development as tourism village. Kampung Budaya Sindang Barang at Desa Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor was one of the areas at West Java that had been developed as a tourism village.The planning and design of Kampung Sindang Barang tourism village as prime nature and culture tourism at West Java was hoped to increase tourism visit to West Java Province in general and Bogor Regencyin particular. However, ecological architecture approach on planning and design is one of the most important thing that have to be done to make sure on designing a good planning regarding the area potentials to be optimally developed by consistently planning the development in eco-culture concept.Ecological architecture approach is one of the efforts on the planning and design of sustainable tourism village area, either by nature, culture, or society sides.The planning and design at Kampung Budaya Sindang Barang tourism village applies problem solving methodology approach based on areal aspects of ecological, social economy, and socio cultural. Eco-culture concept was developed as basic concept of planning and design approach of Kampung Wisata Sindang Barang tourism area with expectation to reach tourism visit by accommodating tourism principles that can affect local society economical development by approaching sustainable development planning. Keyword: Eco-Architecture, Sustainable Architecture, Sustainable Development planning, Ecotourism, Tourism Village

ANALISIS AKSESIBILITAS DESAIN BANGUNAN PADA GEDUNG MUSEUM KERIS SURAKARTA

Nur Aini, Zamzammiyah, Himawanto, Dwi Aries

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Accessibility of museum building is needed for people with disabilities. The purpose of this study is to determine whether there are obstacles and solutions of accessibility problems experienced by people with disabilities in accessing the museum building. Data collection techniques in this study using observation. Data were analyzed using qualitative descriptive analysis technique. The research was conducted at Museum Keris Surakarta. The results show that there are still obstacles related to accessibility problems experienced by disabled people in accessing the museum. So it is necessary to improve the service so that this accessibility problem get the right solution.Keywords: Accessibility, Disabled People, Museum Building

EVALUASI DESAIN RUANG PUBLIK RAMAH ANAK DI RPTRA AKASIA

Jamila, Rona Fika

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKBelakangan ini di kota Jakarta sedang digalakkan RPTRA (Ruang Publik Terbuka Ramah Anak) yang sesuai namanya, diklaim sebagai ruang publik yang ramah anak. Namun pada kenyataannya tidak semua RPTRA ramah anak. Hal ini membuat peneliti ingin mencaritahu apakah benar yang ada sudah benar-benar layak anak?. Dan studi kasus yang diangkat adalah RPTRA Akasia yang berada di daerah Tebet. RPTRA ini didirikan oleh Tanoto Foundation dan merupakan salah satu RPTRA yang dikelola dengan baik, dan cukup lengkap fasilitasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode penelitian kuantitatif, dan metode pengumpulan datanya menggunakan observasi dan kuosioner. Kriteria yang digunakan untuk mengukur kelayak-anakan RPTRA adalah kriteria pengendalian perancangan taman bermain anak-anak ini terdiri dari 6 kriteria yaitu : Keselamatan, Kesehatan, Kenyamanan, Kemudahan, Keamanan, Keindahan. Dan berdasarkan kriteria tersebut RPTRA Akasia yang didirikan oleh lembaga CSR Tanoto Foundation adalah layak anak baik menurut observasi maupun persepsi orang tua anak. Kata kunci : RPTRA, Taman layak anak

AKSESBILITAS BAGI DIFABEL PADA BANGUNAN MASJID

Afudaniati, Awik Retyaka, Himawanto, Dwi Aries

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Klaten is one of the cities that echo the city of inclusion. The city is still in the process of development in equipping accessible facilities and infrastructure for people with disabilities. Facilities in public buildings for disabled people have been built, although still not perfect. At the Al Aqsa Grand Mosque building Klaten facility has implemented building accessibility for the disabled. Therefore, to know the extent of the accessibility level of buildings for people with disabilities according to the standard needs of accessibility. For that researchers do location observation using measuring instruments, and cameras and conducted unstructured interviews on the board of the mosque. From this study that there is accessibility facility in Al Aqsa mosque building not yet accessible enough to be accessed by persons with disabilities because accessibility facility in Al Aqsa Grand Mosque building has not fulfill the proper design principles and Permen PU 30 / PRT / M / 2006.Keywords: accessibility, disabled, mosque

EVALUASI STANDAR KOMPETENSI ARSITEK MENGGUNAKAN ANALISA RISIKO BERBASIS PMBOK (STUDI KASUS PT. ENV)

Hutama, Lutfi

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKPerkembangan konstruksi gedung di dunia semakin kompleks, berteknologi tinggi, serta memiliki tingkat risiko yang tinggi. Namun perkembangan di dunia konstruksi tidak diimbangi dengan peningkatan Kompetensi Arsitek sehingga berdampak pada keterlambatan kinerja proyek. Dalam Standar Kompetensi di Indonesia yang dimiliki oleh IAI dan LPJK, belum mempertimbangkan faktor resiko pada setiap elemen kompetensinya. Untuk itu diperlukan suatu evaluasi terhadap standar Kompetensi Arsitek di Indonesia studi kasus di PT ENV sehingga dapat meningkatkan kinerja proyek. Dalam penelitian ini bertujuan untuk dapat mempertajam evaluasi faktor resiko penyebab dan resiko dampak  yang terdapat pada tugas dan tanggung jawab Ahli konsultan Arsitektur menggunakan analisa resiko berbasis PMBOK (Project Management Body of Knowledge). Hasil yang didapat berupa tindakan preventif dan korektif yang tepat dalam menangani risiko yang terjadi sehingga meningkatkan Kompetensi Arsitek di Indonesia.Kata Kunci :   Kompetensi Arsitek, Analisa Risiko, PMBOK ABSTRACTThe development of buildings in the world increasingly complex, high-tech, and has a high level of risk. However, developments in the world of construction are not matched by an increase in the Competence of Architects, which has an impact on project performance delays. In Competency Standards in Indonesia owned by IAI and LPJK, it has not considered risk factors for each element of its competence. Therefore, an evaluation of Architects Competence standard in Indonesia case study in PT ENV is required to improve project performance. In this study aims to be able to sharpen the evaluation of risk factors for the causes and impact risks contained in the tasks and responsibilities Expert Architecture consultants use risk analysis based on PMBOK (Project Management Body of Knowledge). The results obtained in the form of preventive and corrective actions are appropriate in dealing with risks that occur so as to increase the Competence of Architects in Indonesia.Keyword: Architect Competency, Risk Analysis, PMBOK

POTENSI PELIMPAHAN SISA KOEFISIEN LANTAI BANGUNAN UNTUK PENGEMBANGAN BARU DI KAWASAN TAMAN MINI INDONESIA INDAH

Bachtiar, Firmansyah

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKTaman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan salah satu destinasi wisata utama di DKI Jakarta yang sudah berdiri sejak tahun 1975. Hingga saat ini, pengembangan TMII baru mencakup 38% (150 ha) dari total 394 Ha lahan yang dikuasai oleh Yayasan Harapan Kita (YHK) sebagai pendiri TMII. Peningkatan jumlah wisatawan menyebabkan kawasan TMII saat ini semakin padat dan berbagai pembangunan  fasilitas baru yang ada cenderung dipaksakan keberadaannya. Kebutuhan pengembangan di lahan milik YHK dibatasi oleh arahan RDTR yang membatasi pengembangan KDB rendah, dimana nilai KLB rata-rata Kawasan TMII berada di 0,83. Keberadaan TMII di lokasi yang strategis membuat nilai KLB tidak proporsional jika diseragamkan di seluruh zona kawasan. Tedapat lahan yang perlu ditahan pengembangannya karena merupakan kawasan yang perlu dilestarikan, dan ada yang perlu ditingkatkan intensitasnya karena potensi pengembangannya sebagai kawasan komersial penunjang wisata. Sisa nilai KLB dari area yang ditahan pengembangannya  berpotensi untuk dilimpahkan ke kawasan lain untuk kebutuhan pengembangan yang tetap terintegrasi dengan TMII. Kajian ini dilakukan untuk melihat potensi pelimpahan sisa KLB tersebut dengan mempertimbangkan potensi dan batasan yang ada serta kesesuaiannya menurut rencana tata ruang.Kata Kunci :   TMII, rekreasi, intensitas bangunan, pelimpahan KLB  ABSTRACTTaman Mini Indonesia Indah (TMII) is being recognized as one of the popular tourism destination in DKI Jakarta since 1975. Recently, the development of TMII covers only 38% of the entire land that being owned by the founders of TMII, Harapan Kita Foundation (YHK). The increasing amount of visitors contributes to the crowdedness and the unplanned development of the facilities. The possibility of  TMII expansion is restricted by the zoning regulation that only allowed the development of low Building Coverage Ratio, where the average Floor Area Ratio (FAR) is around 0,83. TMII is located in a strategic location, thus it will be not proportional if all of the zones being set to have similar FAR. There are development area which need to be hold because of its preservation needs, and there are other area that need to be effectivey developed because of its potential as supporting commercial facility. The rest of the allowed floor area from preserved zone, could be transferred to another area for the development of new recreational and supporting facility which is integrated to the current TMII. This research aims to overview the potential of FAR distribution from the preserved zone to the development zone, considering the potential and restriction of the surrounding neighbourhood and the related zoning regulation as well.Keyword: TMII, recreational, building intensity, FAR transfer

KETERKAITAN PEDAGANG KAKI LIMA TERHADAP KUALITAS DAN CITRA RUANG PUBLIK DI KORIDOR KARTINI SEMARANG PADA MASA PRA-PEMBONGKARAN (Studi Kasus : Penggal Jl.DR.Cipto – Jl.Barito)

Wijayaningsih, Retno

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAK Dominasi kegiatan perdagangan kaki lima koridor jalan Kartini telah mempengaruhi perubahan kualitas serta citra ruang kota pada koridor jalan Kartini, namun sejauh manakah keterkaitan antara pedagang kaki lima tersebut terhadap kualitas dan citra ruang publik kawasan? Diperlukan Pendekatan  fenomenologi digunakan untuk mengetahui norma-norma, kondisi fisik dan non fisik kawasan, serta regulasi pemerintah. Studi menggunakan literatur dan peraturan/ pengalaman terkait dengan kegiatan kaki lima untuk merumuskan aspek yang dipertimbangkan dan komponen ruang yang perlu diatur secara normatif. Pengamatan dilapangan berguna untuk mengetahui karakteristik pedagang kaki lima dalam keterkaitannya dengan kualitas dan citra ruang tersebut. Pada dasarnya, penentuan metode penelitian ditentukan berdasarkan fakta dan fenomena yang terjadi dilapangan dan berlangsung secara terus menerus diperoleh gambaran dari perilaku dan aktifitas pengguna ruang terbuka kota pada koridor kawasan kartini. Meskipun proporsi pendapat keempat responden - pedagang kaki lima, pelanggan pedagang kaki lima, pemilik kegiatan sekitar, dan pengguna jalan lainnya - tidak selalu sama, mereka sepakat bahwa pedagang kaki lima yang ada di koridor Jalan Kartini telah menyebabkan beberapa persoalan, contohnya yaitu aksesibilitas, eksternalitas sampah, dan keharmonisan ruang. Hasil rumusan ini kemudian digunakan sebagai kerangka untuk menganalisis hal-hal apa saja menyangkut keterkaitan yang terjadi serta dampaknya pada ruang publik di koridor jalan Kartini.                                       Kata kunci : kualitas dan citra ruang publik, pedagang kaki lima, koridor ABSTRACT The dominance activities of street vending on Kartini’s corridor has influence alteration of public space image and quality, but how far relevancy between street vending to public space image and quality of the area?It is needed fenomenology approach to find out a normative, condition of physical and non-physic areas, also government regulation. Study use literatur and regulation deal with street vending activity to build issue of concerns as well as scope of issue in normatic sense. Supply approach prepared by field observation to recognize existing condition of studied location including street vending physical characteristic in relevancy with public space image and quality. Basically, determination of research method is determined pursuant fact and phenomenon that happened continually on the field so it is obtained an illustration from behavior and activity of public space user in corridor of Kartini areas/. Although the proportion is in variance, street vendors, consumers, the surrounding formal activity owners and others who use Kartini corridor deal that street vending settled on these corridors has induced problems. For example, the problems are about space for good circulation and visual access, garbage management, and an harmonious sense. Then, these are used as a frame to identify community preferences to control vending activity, especially the activity established in their local area. Key words: public space image and quality, corridor, street vending.

POLA PEMANFAATAN RUANG TERBUKA PADA PEMUKIMAN KAMPUNG KOTA

Darmawan, Soni, Utami, Tin Budi

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKKawasan Permukiman Kayu Besar adalah permukiman perkampungan yang terletak di Kota Jakarta yang dikelilingi oleh kawasan Perkantoran Pantai Indah Kapuk. Dalam perkembangannya, kawasan permukiman tumbuh semakin padat, sehingga ruang terbuka semakin sempit. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan-permasalah yang berkaitan dengan pola pemanfaatan ruang terbuka dan faktor-faktor pembentuk ruang terbuka di pemukiman kampung kota. Keterbatasan ruang terbuka menjadi permasalahan dalam spasial kota dan interaksi sosial masyarakat. Metode penelitian ini menggunakan teori Behavioral Mapping, pengumpulan data-data dari penelitian ini dilakukan dengan cara survei lokasi, wawancara, dan mendokumentasikan kegiatan masyarakat kampung tersebut untuk kemudian dianalisis dengan metoda deskriptif kualitatif. Setelah dilakukan analisis dari data-data lokasi dan dikaitkan dengan teori-teori terkait, maka didapatkan kesimpulan umum bahwa pada kampung kota terjadi hubungan masyarakat yang masih memiliki sifat kekerabatan yang erat dan saling mempengaruhi satu sama lain baik dalam hubungan antar individu, antar kelompok maupun atar individu dan kelompok, pada ruang umum yang pada dasarnya merupakan suatu wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari masyarakatnya. Secara khusus disimpulkan bahwa keterbatasan lahan yang ada tidak dijadikan masalah yang dapat menghambat warga pemukiman Kayu Besar untuk berinteraksi sosial. Kegiatan berkumpul tetap dapat dilakukan baik pada halaman rumah, koridor jalan, dan warung. Kebutuhan ruang yang cukup luas sehingga masyarakat memanfaatkan kali untuk membangun ruang komunal. Meskipun ruang berkumpul tersebut tidak responsive, tetapi dapat memenuhi aktifitas masyarakat sehingga menimbulkan kesan democratic, comfort, dan meaningful.Kata Kunci : Kampung Kota, Behavioral Mapping, Teritoritas, Ruang Publik, Kayu Besar ABSTRAKThe Area of Large Timber Habitation is a settlement located in Jakarta surrounded by the area of Indah Kapuk Beach Offices. In its development, residential areas grow increangly crowded, so that the open space is getting narrower. The objectives of this research are indentifying problems of utilization system of open space and factors forming open space in urban and rural settlements. The limitation of open space being a problem in the spatial city and social interaction of society. The reasearch method is by using Behavioral Mapping theory, datas collection of this research are obtained by survey in to location, interview, and documented that village society to analyzed by using qualitative descriptive method. After analyzed from location datas and associated with related theories, therefore, generally it can be concluded that in urban village occured society relationships that still had a close kinship and affected each other both in relationships between individuals, groups, athough individuals and groups, in a common space which was basically a container that can be accomodated certain activities from those societies. Specifically, it can be concluded that the limitation of existing land was not a problem that can be inhibited citizen of Large Timber habitation for social interacted. Gathering activities can still be done both on house yard, road corridor and stall. The necessity space was wide enough until society utilized river to build the communal space. Whereas, the gathering space was not responsive, but can be fulfilled activities of society until created democratic impression, comfort, and meaningful. Keyword: Urban Village, Behavioral Mapping, Teritoritas, Public Space,Kayu Besar

STUDI KETERKAITAN ANTARA KARAKTER LOKASI DENGAN TIPOLOGI HUNIAN SEWA (KASUS : KAMPUNG KARET BELAKANG,KARET KUNINGAN)

Christantia, Nadia Resita

Vitruvian Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKPerkampungan Karet Kuningan mengalami tekanan akibat pertumbuhan kawasan komersial. Perkembangan pusat bisnis di Kawasan Segitiga Emas, memunculkan tendensi fenomena permintaan akan tenaga kerja dan fungsi pendukung dari pusat bisnis. Memicu kampung karet kuningan untuk terus beradaptasi akan setiap perubahan dan pembangunan yang terjadi. Adaptasi yang kian terjadi menjadi fenomena baru dalam kampung dimana pertumbuhan fungsi menjadi daerah komoditas yang sangat padat.Perkampungan Karet Kuningan beradaptasi menjadi hunian sewa yang  dilakukan oleh masyarakat penghuni kampung Karet yang merupakan pengembang berskala kecil, yang kemudian menjadi pengaruh untuk terus melakukan pengembangan tanpa adanya tuntutan hukum pemerintah dan tidak terencana. Perkembangan yang tidak terencana oleh pengembang berskala kecil ini menyerupai yang disebut oleh ULI dengan small scale developer builders. Hampir keseluruhan kampung Karet ini beralih fungsi menjadi hunian sewa dengan pola pengembangan serta pertumbuhan yang relative tidak terencana/inkremntal. Namun produk hunian sewa yang dihasilkan menggambarkan terdapat keteraturan bila dilihat dari segi intensitas pengembangannya serta terlihat adanya keterkaitan dengan lokasi dimana hunian tersebut berada. Melihat pesatnya perkembangan area komersil pada tahun-tahun mendatang, serta rencana tata kota Jakarta oleh pemerintah, menimbulkan kemungkinan akan keberadaan Kampung Karet Kuningan selanjutnya.  Kata Kunci :     kampung, transformasi, hunian sewa, inkremental, tipologi  ABSTRACTPerkampungan Karet Kuningan have pressure because the growth of commercial area. The growth of central business area in Segitiga Emas, raises of the tendency about employment and supporting function business center. Trigger their rubber kuningan to continue to adapt will any change and construction of a happened. Transformation continuing happens to be new phenomenon of the village where growth function areas very dense commodities. Perkampungan Karet Kuningan transform into rental housing conducted by the community of Kampung Karet Kuningan itself. Who later became influence to keep developing without any lawsuits the government and not planned. The development not planned by the developer small-scale it resembles so called by ULI with small scale developer builders. Almost of kampung Karet Kuningan transform into rental housing develop with no pattern and relative not planned. But the product of rental housing describe there are regularity form intensity and there are related to location where the housing are located.  The rapid development commercial area in the coming years, and spatial planning Jakarta by the government, probable cause in the existence of karet kuningan next. Keyword: kampung, transformation, rental housing, incremental, tipology