cover
Filter by Year
Vitruvian
Jurnal Ilmiah VITRUVIAN adalah jurnal yang mencakup artikel bidang ilmu arsitektur, bangunan, dan lingkungan. Jurnal ilmiah Vitruvian terbit secara berkala yaitu 3 (tiga) kali dalam setahun, yaitu pada bulan Oktober, Februari, dan Juni. Redaksi menerima tulisan ilmiah tentang hasil penelitian yang berkaitan erat dengan bidang arsitektur, bangunan, dan lingkungan.
Articles
47
Articles
KUALITAS PENCAHAYAAN ALAMI DAN PENGHAWAAN ALAMI PADA BANGUNAN DENGAN FASADE ROSTER (Studi Kasus: Ruang Sholat Masjid Bani Umar Bintaro)

Vidiyanti, Christy, Tambunan, Siti Farah Diba Boru, Tambunan, Siti Farah Diba Boru, Alfian, Yasin, Alfian, Yasin

Vitruvian Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKPeran bukaan cahaya pada sebuah bangunan turut andil dalam menciptakan kualitas pencahayaan alami yang baik. Perlu direncakan bukaan cahaya yang sesuai dengan lokasi bangunan tersebut. Lubang cahaya yang terlalu besar, dapat mengakibatkan cahaya matahari masuk dalam jumlah besar, yang sekaligus membawa radiasi masuk ke dalam bangunan. Hal ini mengakibatkan adanya dilema bahwa sinar matahari yang masuk kedalam bangunan akan mempengaruhi kondisi termal ruang. Sehingga dibutuhkan adanya kondisi dimana pencahayaan alami dan penghawaan alami pada ruang menjadi seimbang. Masjid Bani Umar ini selubung bangunannya menggunakan roster. Indonesia sebagai sebuah Negara tropis, menyebabkan memiliki musim panas yang panjang. Bangunan dengan selubung menggunakan roster, perlu dilakukan kajian terhadap cahaya matahari yang diterima oleh bangunan tersebut. Disebabkan bahwa roster membatasi cahaya matahari yang masuk ke dalam ruang. Kondisi tersebut perlu pula diuji kondisi termalnya. Penelitian ini memfokuskan pada kajian kualitas pencahayaan alami dan penghawaan alami pada bangunan dengan selubung roster. Metode yang dignakan adalah metode evaluatif dengan pendekatan kuantitatif. Hasil kondisi penghawaan alami pada Masjid Bani Umar belum dapat memenuhi standar yang ditetapkan. Kondisi pada Masjid Bani Umar masih lebih tinggi dari standar yang ditetapkan sehingga sensasi termal yang dirasakan oleh pengguna adalah agak hangat dan hangat.Sedangkan kondisi pencahayaan alami pada Masjid Bani Umar juga belum memenuhi standara pencahayaan menurut SNI. Kondisi pencahayaan alami pada Masjid Bani Umar masih lebih rendah dari standar yang ditetapkan. Namun, untuk nilai kualitas pencahayaan alami, kondisi pencahayaan pada Masjid Bani Umar masih memenuhi standar. Hal ini menandakan bahwa pencahayaan alami Masjid Bani Umar belum dapat memenuhi standar namun pencahayaan yang dihasilkan seragam. Kata Kunci :     Pencahayaan alami, penghawaan alami, roster, kualitas termal, kualitas visual, masjid tropis

PERBANDINGAN POLA, FUNGSI, DAN AKSESIBILITAS ALUN-ALUN KABUPATEN KARANGANYAR, KABUPATEN SUKOHARJO, DAN KABUPATEN KLATEN

Pratiwi, Yulia

Vitruvian Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKAlun-Alun di Jawa khususnya Jawa Tengah memiliki pola yang unik karena adanya faktor historis. Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten memiliki alun-alun yang tepat berada di pusat kota. Pola alun-alun diketiga kabupaten tersebut dipengaruhi pembangunan pada Masa Prakolonial, Masa Kolonial Belanda, dan Masa Reformasi/ pasca kemerdekaan. Oleh karena itu, tujuan penelitian yang pertama yaitu (1) mengkaji perbandingan pola alun-alun (saat ini) di Karanganyar, Klaten, Sukoharjo secara lebih mendalam. Ketiga alun-alun yang dibangun sejak zaman Kerajaan Mataram tersebut, sekarang mengalami berbagai perkembangan terutama dari semakin beragamnya fungsi alun-alun dan penambahan fasilitas-fasilitas untuk mendukung kenyamanan dan keamanan dalam menggunakan alun-alun. Tujuan penelitian yang kedua yaitu (2) mengkaji perbandingan fungsi Alun-Alun di Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Tujuan penelitian yang terakhir yaitu (3) mengkaji perbandingan aksesibilitas ketiga alun-alun dengan menggunakan standar Peraturan Menteri PU No. 30 Tahun 2006. Metode penelitian yang digunakan adalah  metode pemetaan (mapping) untuk mendapatkan data pola dan fungsi alun-alun dan metode perbandingan dengan standar PU No. 30 Tahun 2006 untuk mendapatkan data aksesibilitas Alun-Alun di Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Klaten. Setelah data pola, fungsi, dan aksesibilitas di tiga alun-alun selesai dilakukan pembahasan, selanjutnya adalah membandingkan pola, fungsi, dan aksesibilitas di ketiga alun-alun.Hasil yang didapatkan yaitu Alun-Alun Kabupaten Karanganyar memiliki pola Catur Tunggal yang masih bertahan dibandingkan pola alun-alun di Kabupaten Klaten dan Kabupaten Sukoharjo. Persebaran fungsi (ekonomi, sosial, lingkungan dan kesehatan) Alun-Alun baik Alun-Alun Karanganyar, Alun-Alun Sukoharjo, dan Alun-Alun Klaten banyak terjadi di hari minggu terutama pagi hari ketika ada aktivitas car free day. Aksesibilitas di Alun-Alun Klaten lebih inklusif (mudah diakses untuk semua kalangan) dibandingkan Alun-Alun Karanganyar dan Alun-Alun Sukoharjo.Kata Kunci : Pola, Aksesibilitas, Fungsi, Alun-Alun ABSTRACTSquare in Java is called Alun-Alun. Alun-alun especially in Central Java has a unique pattern because of the historical factor. Karanganyar regency, Sukoharjo regency, and Klaten regency have alun-alun in the center of the city. The pattern of the alun-alun in these three regency was influenced by the development of the precolonial period, the Dutch colonial Period, and the post-independence period. Therefore, the first research objective is (1) to examine the comparison of current pattern in Karanganyar, Klaten, Sukoharjo in more depth. The three alun-alun built since the time of the Mataram Kingdom, now experiencing various developments, especially from the increasingly diverse functionality of the alun-alun and the addition of facilities to support the comfort and security in using the square. The second research objective is (2) to examine the comparison of Alun-Alun function in Karanganyar Regency, Sukoharjo Regency, and Klaten Regency. The last research objective is (3) to compare the accessibility of Alun-Alun in Karanganyar, Sukoharjo and Klaten Regency by using Indonesian Ministry of Public Works Regulation (Number: 30/PRT/M/2006). The research method used is the method of mapping to obtain the pattern data and function of the alun-alun and the method of comparison with the standard from Indonesia Ministry of Public Works Regulation to obtain data accessibility Alun-Alun in Karanganyar Regency, Sukoharjo Regency, and Klaten Regency. After the data of pattern, function, and accessibility in the three alun-alun is done the discussion, then compare the pattern, function, and accessibility of three alun-alun. The conclusion obtained that the alun-alun pattern in Karanganyar has a single surviving “Catur Tunggal” pattern compared to the alun-alun pattern in Klaten and Sukoharjo. Distribution of the function (economic, social, environment and health) of the alun-alun both alun-alun of Karanganyar, alun-alun of Sukoharjo, and alun-alun of Klaten mostly occurs on Sunday especially early in the morning when there is activity called as car free day. Accessibility at alun-alun of Klaten is more inclusive (accessible to all) than alun-alun of Karanganyar and alun-alun of Sukoharjo.Keyword: Pattern, Aksesibilities, Function, Alun-Alun

KOMPARASI ERGONOMI RUANG WUDHU MASJID JAMI’ AL-KARIM PESANGGRAHAN DAN MASJID ASH SHAFF EMERALD BINTARO

Kurniawan, Toriq Aziz, Widajanti, Andjar

Vitruvian Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKKewajiban utama seorang muslim adalah untuk menjalankan sholat lima waktu dalam sehari. Salah satu syarat sahnya sholat yaitu dengan diwajibkannya untuk mensucikan diri terlebih dahulu dengan cara berwudhu. Berwudhu bisa dilakukan kapanpun, tidak hanya di saat sebelum sholat, namun bisa juga ketika sedang berhadats kecil. Berwudhu dapat dilakukan dengan cara berdiri ataupun duduk. Penelitian dilakukan di Masjid Jami’ Al-Karim Pesanggrahan dan Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro pada ruang wudhu yang memiliki ruang wudhu duduk dan berdiri, dengan tujuan untuk mengkomparasikan kedua ruang wudhu dengan mengukur tingkat ergonomi ruang wudhu dan dengan standar yang ada. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi. Pengolahan data observasi menggunakan matriks observasi, kemudian hasil observasi menggunakan interval main score. Hasil Observasi ruang wudhu Masjid Jami’ Al-Karim Pesanggrahan dan Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro menunjukkan 5 dari 7 faktor ergonomi sudah memenuhi standar dan sisanya belum memenuhi standar. Faktor-faktor dalam ruang wudhu yang belum memenuhi standar adalah penyelesaian interior pada ruang wudhu berdiri dan duduk. Sedangkan sisanya seperti sirkulasi vertikal, material, pencahayaan, penghawaan, dan sirkulasi horizontal sudah memenuhi standar. Kriteria yang belum memenuhi standar pada kedua ruang wudhu pada kedua masjid ini sama-sama 3 kriteria. Namun bedanya pada Masjid Al-Karim pada kriteria tinggi keran (duduk), tinggi keran (berdiri) dan lebar dudukan pada ruang wudhu duduk, sedangkan pada Masjid Ash Shaff belum memenuhi standar pada kriteria jarak antar keran (berdiri), jarak antar keran (duduk) dan jarak antar dudukan.Namun setelah diolah menggunakan metode interval maka Masjid Al-Karim Pesanggrahan memperoleh nilai rata-rata 2.08 (Baik) dan Masjid Ash Shaff Emerald Bintaro memperoleh nilai rata- rata 2.43 (Sangat Baik).Kata Kunci : masjid, ruang wudhu, ergonomi  ABSTRACTThe main duty of a Muslim is to perform the five daily prayers a day. One of the requirements of the validation of prayer is by obligated to purify themselves first by means of ablution. Ablution can be done anytime, not only at the time before the prayer, but can also when it is small hadats. Ablution can be done by standing or sitting. The study was conducted at Jami Al-Karim Pesanggrahan and Ash Shaff Emerald Bintaro Mosque in ablution room which has wudhu sitting and standing room, in order to compile the two ablution rooms by measuring the level of ergonomics of ablution room and with the existing standard. Data collection is done by observation. Observation data processing using observation matrix, then the result of observation using main score interval. The results of observation of ablution room of Jami Al-Karim Pesanggrahan Mosque and Ash Shaff Emerald Bintaro Mosque shows 5 of 7 ergonomic factors have met the standard and the rest have not met the standard. Factors in the ablution room that have not met the standard is the completion of the interior in the ablution room standing and sitting. While the rest such as vertical circulation, material, lighting, penghawaan, and horizontal circulation already meets the standards. Criteria that do not meet the standards in both ablution room in both mosques are equally 3 criteria. The difference between the faucet (sitting), the tap height (standing) and the width of the seat in the ablution room, while in the Ash Shaff Mosque has not met the standard on the criteria of the distance between the taps (standing) And the distance between the holder. However, after being processed using the interval method, Al-Karim Pesanggrahan Mosque got an average value of 2.08 (Good) and Ash Shaff Emerald Bintaro Mosque got an average value of 2.43 (Very Good).Keyword: mosque, ablotion room, ergonomic

PENGARUH BUKAAN TERHADAP KINERJA TERMAL PADA MASJID JENDRAL SUDIRMAN

Arifin, Ikhwan Nur, Hidayat, Muhammad Syarif

Vitruvian Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKMasjid pada umumnya didesain dengan banyak bukaan ventilasi untuk memasukkan penghawaan alami kedalam bangunan dengan maksud untuk menurunkan suhu didalam.Masjid Jendral Sudirman merupakan masjid dengan bukaan jendela pada tiap sisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa pengaruh dari bukaan terhadap kinerja termal pada runang dalam masjid. Metode yang digunakan adalah deskriptif evaluatif dengan pengdekatan kuantitatif. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur suhu udara, suhu permukaan dan kecepatan angin. Pengukuran dilakukan selama 3 hari dari jam 09.00 sampai dengan 17.00 dengan menggunakan simulasi percobaan pada bukaan. Dari kesimpulan yang didapat bahwa pengaruh bukaan terhadap penurunan suhu udara didalam tidak signifikan. Penurunan suhu tertinggi adalah pada perbandingan percobaan jendela terbuka sebagian dilantai 2 dan 3 yaitu sebesar 1,18 oC.Kata Kunci : Bukaan Ventilasi, Kinerja Termal, Masjid ABSTRACTThe mosque is generally designed with many ventilation openings to incorporate natural penghawaan into the building with the intention to lower the temperature inside. Mosque General Sudirman is a mosque with window openings on each side. This study aims to determine how the influence of openings on thermal performance at runang in the mosque. The method used is descriptive evaluative with quantitative approach. Measurements are made by measuring air temperature, surface temperature and wind speed. Measurements were carried out for 3 days from 09:00 to 17:00 hours by using experimental simulations on openings. From the conclusion obtained that the influence of openings to the decrease in air temperature inside is not significant. The highest temperature drop was in the comparison of experimental open-window experiments on the 2nd and 3rd floors of 1.18 oC.Keyword: Ventilation openings, Thermal Performance, Mosque

KONSEP MANDALA PADA RANCANGAN LIMBAH KONTAINER UNTUK HUNIAN SEMENTARA KORBAN BENCANA ALAM DI BALI

Mahira, Eka Diana, Hignasari, Virginayoga

Vitruvian Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKHunian sementara merupakan fasilitas yang penting disediakan pemerintah sebagai salah satu langkah mitigasi bencana, mengingat kondisi Indonesia yang rawan bencana alam. Dalam upaya penyediaan hunian sementara tidaklah sebatas unit hunian yang bisa disediakan dengan cepat, efisien dan efektif saja. Hunian yang disediakan haruslah bisa memberikan kenyamanan dan dapat mengurangi efek psikis masyarakat yang terdampak serta sesuai dengan karakteristik hunian sementara berdasarakan prinsip keberlanjutan. Berkaitan dengan itu, material kontainer dapat menjadi salah satu alternatif untuk unit hunian sementara. Menanggapi hal tersebut khususnya di wilayah Bali, penerapan konsep mandala dalam bangunan kontainer menjadi dasar dalam tata atur ruang mengacu pada rumah-rumah tinggal masyarakat Bali. Kajian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan pendekatan studi literature dengan menggali data dan informasi yang terkait dengan topik kajian. Selanjutnya data-data yang diperoleh disusun dan dianalisis untuk kemudian ditarik kesimpulan. Berdasarkan kajian disebutkan bahwa sangat penting memasukkan konsep mandala sebagai salah satu ulokal genius dalam pengaturan pola ruang unit hunian sementara karena akan berdampak pada tingkat kenyamanan penghuni. Konsep mandala tersebut diaplikasikan dalam pembagian 3 zonasi ruang yaitu utama, madya, nista. Ketiga zonasi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas dan civitas dalam unit hunian. Bagian hulu (utama) merupakan ruang private berfungsi sebagai ruang tidur. Zona madya (tengah) dipergunakan sebagai ruang serbaguna dan menjadi tempat persembahyangan. Dan pada teben (nista) merupakan ruang service yang dipergunakan sebagai dapur dan kamar mandi.Kata Kunci : mandala, rumah kontainer, hunian sementara ABSTRACTShelter is an important facility provided by the government as one of the disaster mitigation measures, considering the condition of Indonesia that is prone to natural disasters. In the provision of temporary shelter is not limited to residential units that can be provided quickly, efficiently and effectively only. Shelter provided should be able to provide comfort and can reduce the psychic effects of affected communities and in accordance with the characteristics of shelter based on the principle of sustainability. In this regard, container material can be an alternative to temporary shelter units. In response to this especially in the area of Bali, the application of the concept of mandala in the container building became the basis in the spatial arrangement refers to the homes of Balinese people. This study was conducted by qualitative method with literature study approach by digging the data and information related to the topic of study. Furthermore, the data obtained are prepared and analyzed for the conclusions then drawn. Based on the study mentioned that it is very important to enter the concept of mandala as one of local genius in setting the pattern of temporary shelter unit space because it will affect the comfort level of the occupants. The concept of mandala is applied in the division of 3 zoning space ie main (utama), middle, nista. The three zones are influenced by activities and civities within the dwelling unit. The upstream (main) is a private space serves as a bedroom. Middle Zone (center) is used as a multipurpose room and a place of worship. And on teben (nista) is a service room that is used as a kitchen and bathroom.Keyword: mandala, container house, temporary shelter

PERUBAHAN FUNGSI RUANG DOMESTIK DI SEKITAR KAMPUS UNPAZ (UNIVERSIDADE DA PAZ), DILI, TIMOR LESTE

Soares, Domingos Santos, Bawole, Paulus, Feriadi, Henry

Vitruvian Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKUniversidade da Paz (UNPAZ) didirikan oleh Fundação Neon Metin (FNM) pada 9 Maret 2004, dan juga merupakan universitas swasta terbesar yang ada di Timor Leste saat ini. UNPAZ sangat berkembang dari segi pengembangan kampus (infrastruktur) maupun meningkatnya jumlah mahasiswa. Perkembangan kampus ini menyebabkan  terjadinya  perubahan fungsi ruang pada Kampus UNPAZ. Selain kampus perubahan fisik dan fungsi ruang domestik terjadi pada kampung sekitarnya, terutama Kampung Osindo I Manleuana. Kampung Osindo I Manleuana secara geografis terletak di Kelurahan Fatuhada, Kecamatan Dom-Aleixo, Kotamadya Dili, Timor Leste. Kampung ini mula-mula penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Letak kampung dekat jalur akses utama menuju Kampus UNPAZ menyebabkan kegiatan ekonomi penduduk menjadi berubah. Perubahan ini menyebabkan terjadinya perubahan fungsi ruang domestik pada rumah tinggal maupun halamannya. Untuk meneliti lebih jauh lagi tentang proses  perubahan fungsi ruang domestik dengan kehadirannya Kampus UNPAZ, digunakan pendekatan penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan pembagian kuesioner  pada masyarakat setempat. Perubahan-perubahan fungsi ruang domestik di atas dianalisis dengan teori-teori yang relevan yaitu perubahan fisik, ruang, bentuk ruang, dan pola organisasi ruang.Kata Kunci : Masyarakat, Kampung, Perubahan, Ruang, dan UNPAZ ABSTRACTUniversidade da Paz (UNPAZ) was founded by the Fundação Neon Metin (FNM) on March 9, 2004, and is also the largest private university that existed in East Timor at this time. UNPAZ is highly developed in terms of the development of the campus (infrastructure) as well as the increasing number of students. Campus development led to a change of function spaces on Campus UNPAZ. In addition to the campus physical changes and function spaces occur in domestic surroundings, especially Kampong Osindo I Manleuana. Kampong Osindo I Manleuana is geographically located in Village Fatuhada, Sub District Dom-Aleixo, a Municipality of Dili, East Timor. This village was initially populated eyed livelihood as a farmer. Kampong near the main access point to campus UNPAZ caused the economic activities of the population be changed. This change led to changes in the functions of domestic space in the House or its grounds. To research further about the process of change of the function of the domestic space with the UNPAZ Campus presence, qualitative research approach is used, with the technique of collecting data through observation, interview, questionnaire and documentation Division  on the local community. Changes the function of the domestic spaces above are analyzed with the relevant theories, namely physical changes, space, space, form and pattern of organization of space.Keyword: community, village, Changes, space, and UNPAZ 

KAJIAN KEARIFAN LOKAL PADA ARSITEKTUR TRADISIONAL RUMOH ACEH

Hasbi, Rahil Muhammad

Vitruvian Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Arsitektur tradisional sebagai sebuah tradisi harus dijaga keberadaannya dengan mengembangkannya. Menjaga  atau meeruskan tradisi dalam arsitektur tradisional tidak berarti dengan mengulang bentuk yang sama, karena didalam arsitektur perkembangan desain dan struktur berlanjut seiiring dengan perkembangan/ perubahan budaya dan teknologi. Hal ini perlu dijaga agar kreativitas tidak mati. Hal ini bisa terwujud dengan meneruskan tradisi kebijakan lokal sebagai konsep dalam membangun.Kebijakan lokal yang diteruskan memberikan banyak memberi mamfaat bagi kehidupan manusia. Karena kebijakan lokal sendiri adalah bagian dari budaya yang dihasilkan dari pengalaman-pengalaman dan tindakan manusia secara trial dan eror demi mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Kebijakan lokal tidak hanya merupakan suatu tradisi yang harus di teruskan tetapi membentuk identitas dak karakter kewilayahan manusia sendiri, terutama didalam budaya dan arsitektur. Kebijakan lokal ini juga menjaga keseimbangan hidup antara manusia dan lingkungannya. Nenek moyang kita belajar dari pengalaman mereka hidup bersama dengan alam dan belajar bagaimana memberi kepada dan menerima dari alam sehingga alam tetap terjaga kelestariannya. Hal-hal ini lah yang dijadikan kebijakan lokal dan tradisi ini perlu diteruskan karena dengan menjaga tradisi ini maka kita akan tetap hidup seimbang bersama lingkungan kita.Kata Kunci :       Kebijakan Lokal, Arsitektur Tradisional, AlamABSTRACT       Tradition in traditional architecture need to be developed and continued. Continuing this tradition is not only by repeating it in the same way as our ancestors so that we lost our creativity, but it can be continued  by  developing it into something new and continuing  the local wisdom as a concept in building . The local wisdom remain continued but the way we built change  in shape as we can use the new methods and material which suitable with our culture and technology.The important of continuing the local wisdom brought many advantages to our lives. It’s not only the matters of continuing the tradition but it also emphasizes our  identity and characters,- especially in culture and architecture,- and to keep balancing the life between human and their environment . Our ancestors had learnt from their experiences  to live  with the nature, they had learnt to take and give  with the nature  so that they did not damaged their environment. This acts called local wisdom and it is need to be continued to keep our environtment save.Keyword : Local wisdom, traditional architecture, Nature

EVALUASI AREA KOMERSIAL LANTAI DASAR PADA RUSUNAWA MARUNDA

Rahmawati, Asthy, Hardi, Joni

Vitruvian Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKPerubahan ini tidak terlepas dari pengaruh – pengaruh faktor – faktor terkait seperti demografi, social – ekonomi, lokasi, fisik bangunan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data/gambaran yang valid tentang aktifitas (penghuni) yang menjadi penyebab dari peralihan fungsi area komersial di rusun. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa penghuni area komersial lantai dasar yang sebagian besar tidak melakukan peralihan fungsi bangunan dari komersial menjadi hunian karena ada beberapa yang merasa lebih nyaman tinggal di lantai atas dan hunian mereka juga tidak terlalu jauh yang berada di lantai lantai 1. namun ada sebagian kecil yang melakukan peralihan fungsi di karena akses yang sulit di lokasi hunian.Kata Kunci : Peralihan Fungsi, Aktifitas, Area Komersial            ABSTRACT       This change is inseparable from the influence of related factors such as demography, socio-economic, location, physical building. The purpose of this study is to obtain valid data / description of the activities (occupants) that the cause of the transition function of commercial areas in building. The results of this study indicate that the inhabitants of the ground floor commercial area that most do not make the transition of building function from commercial to residential because there are some who feel more comfortable living upstairs and their dwellings are also not too far located on the floor 1st floor. There is a small part that performs the switch function in because of the difficult access in the residential location.Keyword : Switching Functions, Activities, Commercial Area

PERKEMBANGAN KOTA LAMA TANGERANG DAN POTENSINYA SEBAGAI DESTINASI WISATA PUSAKA

Prasetyo, Andhi Seto, Fatimah, Titin, Padawangi, Rita

Vitruvian Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKKawasan Kota Lama Tangerang termasuk dalam Kawasan Strategis dari sudut Kepentingan Sosial dan Budaya yaitu kawasan bersejarah seluas kurang lebih 30 (tiga puluh) hektar yang berada di Kelurahan Sukasari dan Kelurahan Sukarasa, Kecamatan Tangerang. Di dalam kawasan Kota Lama Tangerang terdapat kawasan inti yang terdiri dari tiga blok utama yaitu Blok Kota Lama, Blok Masjid Agung-Pendopo dan Blok Stasiun Kereta Api. Blok Kota Lama adalah kawasan dengan fungsi/aktivitas yang lebih di dominasi oleh kawasan heritage dengan bangunan cagar budayanya dan permukiman yang masih mempertahankan karakter jalannya dan beberapa rumah yang masih mempertahankan arsitektur Tiongkok. Di dalam Blok Kota Lama terdapat dua blok perkampungan etnis yaitu Blok Perkampungan Tionghoa (pecinan) dan Blok Perkampungan Muslim. Tradisi dan budaya lokal yang dipengaruhi oleh etnis Tionghoa dan etnis Pribumi masih dilestarikan sampai saat ini. Sehingga Kota Lama Tangerang berpotensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata pusaka. Namun sejalan dengan dinamika Kota Tangerang yang terus berkembang dengan pesat, peninggalan bangunan-bangunan bersejarah telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi, penurunan kualitas lingkungan dan bahkan kehancuran. Selain itu Pemerintah Kota Tangerang belum mempunyai Perda Cagar Budaya. Kondisi tersebut menyebabkan kawasan Kota Lama Tangerang kehilangan nilai-nilai historisnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perkembangan Kota Lama Tangerang dan  potensinya sebagai destinasi wisata pusaka. Pendekatan yang diterapkan dalam penelitian ini berparadigma pada pendekatan induktif dan metodologi penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa Blok Kota Lama memiliki pusaka budaya ragawi, pusaka budaya tak ragawi dan pusaka alam yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata pusaka. Blok Kota Lama memiliki beberapa benda cagar budaya yang ditetapkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang (BP3S) diantaranya yaitu Kelenteng Boen Tek Bio, Rumah Arsitektur Cina (Museum Benteng Heritage), Masjid Jami dan Makam Kalipasir. Perkembangan Blok Perkampungan Pecinan saat ini sangat memprihatinkan. Wajah bangunan khas pecinan sebagian besar sudah berubah menjadi bangunan moderen dan bangunan budidaya walet. Hanya tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas pecinan.Kata Kunci : Kota lama, pusaka, pariwisata kota pusaka             ABSTRACT       Old Town area of Tangerang included in the Strategic Area of Social and Cultural Interests corner is the historical district of approximately 30 (thirty) hectares located in the Sukasari Village and Sukarasa Village, District Tangerang. In the Old Town area of Tangerang are the core area consists of three main blocks, namely Old Town Block, Grand Mosque Block and Train Station Block. Block of the Old Town is the area with activities dominated by heritage with cultural heritage buildings and settlements that still retains the character of the course and some houses still retain Chinese architecture. In the Old Town Block, there are two ethnic settlement blocks namely Chinatown Block and Muslim Village Block. Tradition and local culture influenced by natives and Chinese ethnic still preserved until today. So the old town of Tangerang can be potential to be developed as a heritage tourism destination. The rapid development of Tangerang city causes historic buildings go through changes in form and function, environmental degradation and destruction. Furthermore, Tangerang City Government does not have heritage legislation. This condition causes the old town of Tangerang losing its historical values. The purpose of this study is to identify the development of the Old Town of Tangerang and its potential as a tourist destination heritage. The research was carried out through field survey and in-depth interview as main data collection and literature study as the secondary one. The results showed Block the Old Town has tangible cultural heritage, intangible cultural heritage and natural heritage which is a potential to be developed for heritage tourism attraction. Block of the Old Town has some of the objects of cultural heritage established by Archaeological Heritage Preservation Hall Serang among which the Boen Tek Bio temple, houses the Chinese Architecture (Museum Benteng Heritage), Jami Mosque and Tomb Kalipasir. Block development Village Chinatown today is very worrying. The face of a typical building of Chinatown largely been turned into a modern building and building swiftlet farming. Only a few buildings stayed still distinctively Chinatown.Keyword : Old town, heritage, urban heritage tourism

EVALUASI KUALITAS FISIK DAN NONFISIK PADA RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) (Studi Kasus : Rptra Griya Tipar Cakung Jakarta Timur)

Samsudin, Samsudin, Artiningrum, Primi

Vitruvian Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Vitruvian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRAKRPTRA berdiri sebagai Ruang Publik Terpadu Ramah Anak yang merupakan “Ruang Terbuka Hijau” yang desain dengan konsep ramah anak yang modern dan didukung oleh berbagai fasilitas didalamnya. Banyak RPTRA yang sudah dibangun di Jakarta sejak 1 tahun terakhir yang merupakan salah satu program dari Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Beberapa dari RPTRA dibangun pada tempat yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi dan berada di kawasan-kawasan kumuh. Namun pada saat proses desain dari RPTRA masih kurangnya memperhatikan aspek-aspek penting dalam pembangunannya, karena dapat dilihat dari PERGUB yang mengatur tentang RPTRA hanya berisikan daftar fasilitas saja tanpa adanya ketentuan-ketentuan yang jelas mengenai aspek keselamatan, keamanan, kesehatan, kenayaman, daya tarik dan aksesibilitas dalam membangun sebuah RPTRA. Oleh karena itu, sebagai fasilitas publik baru yang didedikasikan untuk anak-anak yang dapat digunakan sebagai taman bermain maka diperlukan evaluasi mengenai Aspek Keselamatan, Keamanan, Kesehatan, Kenyamanan, Daya Tarik dan Aksesibilitas menggunakan beberapa teori terdahulu dan peraturan-peraturan terkait regulasi pekerjaan umum sebagai standar indikator pengukuran evaluasi. Metode yang digunakan pada pengambilan data adalah pendekatan campuran antara kualitatif dan kuantitatif kemudian dalam mempresentasikan hasil data dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pengamatan langsung dengan menggunakan lembar observasi, kuesioner, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari evaluasi ini didapatkan bahwa terdapat perbedaan antara hasil observasi yang menggunakan standar aspek teknis dengan hasil dari kuesioner mengenai persepsi orang tua terhadap pengunaan RPTRA. Perbedaan tersebut mengidikasi bahwa standar yang digunakan pada poin observasi lebih tinggi dibandingkan persepsi dari orang tua. Penelitian ini mereview desain kontrol sebuah taman bermain dan evaluasi dari sebuah fasilitas publik yang didedikasikan untuk anak-anak di Jakarta Timur, Indonesia.Kata Kunci : ruang publik, ramah anak, taman bermain, evaluasi, keselamatan ABSTRACT       RPTRA stands for Ruang Publik Terpadu Ramah Anak, which means “Green Open Space” design with modern children-friendly concept supported with various facilities. Many RPTRA has been built in Jakarta since the last one year as the main program of the Governor Basuki Tjahaja Purnama. Some of the RPTRA built on the places that used to be slums area. RPTRA managed by the government currently do not have proper design standarts to safety, comfort dan health of users. Those which do not pay attention to salvation, health, safety, comfort, attractiveness dan accessibility in the design is very risky causing accident dan further the main purpose of playing teh game can not be achieved. Therefore, as new public facilities that are dedicated to children to be used as playground. It needs to be evaluated in the Aspect of Salvation, Health, Safety, Comfort, Attractiveness, and Accessibility using Indonesian minister of public works regulation as a standart.The method used in data processing is a quantitative approach while in the presentation of results using descriptive qualitative approach. The research instruments are direct observation with observation sheet, questionnaire, interview, documentation and observation of children activity. The result of the evaluation of RPTRA Tipar Cakung there is a difference between the evaluation results based on observations using standard child friendly park with the results based on the questionnaire through the perception of parents. These differences indicate that the standard used in observation is still higher than the perception of parents. This research reviews the design control of children playground and evaluation of new public space dedicated to children in North Jakarta, Indonesia.Keyword : public space, children-friendly, playground, evaluation, safety