Articles
45
Articles
​
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN PENEMUAN TERBIMBING DENGAN ALAT PERAGA KABARU PADA MATERI LUAS PERMUKAAN PRISMA DAN LIMAS

Alfiyatin, Yuliana

AL - IBRAH Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Proses pembelajaran yang berlangsung selama ini cenderung berpusat pada guru, siswa tidak diberi kesempatan untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri, serta jarangnya penggunaan alat peraga sehingga siswa merasa kesulitan untuk memahami suatu konsep atau materi, akibatnya siswa menjadi pasif dan pembelajaran menjadi membosankan. Salah satu altertatif model pembelajaran yang dapat digunakan guru untuk mengaktifkan siswa sehingga siswa bereksperimen secara langsung menggunakan alat peraga dalam mencari dan menemukan konsep/prinsip matematika adalah penemuan terbimbing dengan alat peraga KaBaRu pada materi luas permukaan prisma dan limas. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan tujuan: (1) mendeskripsikan proses dan hasil pengembangan perangkat pembelajaran penemuan penemuan terbimbing dengan alat peraga KaBaRu pada materi luas permukaan prisma dan limas; dan (2) mendeskripsikan keefektifan pembelajaran penemuan terbimbing dengan alat peraga KaBaRu dalam mengajarkan materi luas permukaan prisma dan limas. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Al-Falah Dakiring-Socah Bangkalan yang terdiri dari 2 kelas parallel. Dipilih kelas VIII-A untuk kelas ujicoba, dan kelas VIII-B untuk kelas eksperimen. Pengembangan perangkat dilakukan menggunakan model 4-D Thiagarajan yang telah dimodifikasi. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan berupa: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), dan Tes Hasil Belajar (THB). Hasil analisis data menunjukkan: (1) perangkat pembelajaran penemuan terbimbing dengan alat peraga KaBaRu pada materi luas permukaan prisma dan limas yang dihasilkan baik, ini terlihat dari kemampuan guru mengelola pembelajaran baik, aktivitas siswa dalam pembelajaran efektif, respon siswa positif, tes hasil belajar memenuhi kriteria valid, reliabel, dan sensitif, serta ketuntasan hasil belajar secara klasikal terpenuhi; dan (2)pembelajaran penemuan terbimbing dengan alat peraga KaBaRu efektif dalam mengajarkan materi luas permukaan prisma dan limas, ini terlihat dari kemampuan guru mengelola pembelajaran baik, aktivitas siswa dalam pembelajaran efektif, respon siswa positif, serta ketuntasan hasil belajar secara klasikal terpenuhi.

PERUBAHAN DAN PENGEMABANGAN BUDAYA ORGANISASI DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN

Halil, Hermanto

AL - IBRAH Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Budaya organisasi merupakan sala satu faktor yang sangat penting dalam menentukan berhasil atau tidaknya suatu organisasi.Untuk itu, peran pemimpin dalam upaya membentuk dan membangun budaya organisasi yang kondusif bagi pencapaian tujuan organisasi sangatlah menentukan. Peran leader tersebut menjadi penting dalam proses pemberdayaan (empowerment) karyawan. Disinilah diperlukan kesiapan dan kerelaan seorang pemimpin untuk memberikan dan mengalihkan sebagian kekuasaan, kekuatan atau kemampuan kepada karyawan agar mereka menjadi lebih berdaya.Keaadaan tersebut sangat ditentukan oelh budaya organisasi yang ada dalam organisasi tersebut

KHULAFAUR RASYIDIN DAN ANATOMI-DIALEKTIK PENDIDIKAN POLITIK PENGUASA

yusuf, afandi

AL - IBRAH Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendidikan pada masa Khalifah Abu Bakar tidak jauh berbeda dengan Pendidika pada masa Rasulullah. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab Pendidikan sudah lebih meningkat di mana pada masa Umar guru-guru sudah diangkat dan digaji untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukkan. Pada masa Khalifah Ustman bin Affan, Pendidikan diserahkan kepada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah saja, tetapi sudah dibolehkan ke daerah-daerah untuk mengajar. Pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib, Pendidikan kurang mendapat perhatian, ini disebabkan pemerintahan Ali selalu dilanda konflik yang berujung kepada kekacauan

IJTIHAD DAN MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH

rohmaturrosyidah, siti

AL - IBRAH Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Muhammad Abduh adalah salah satu tokoh pembaru (mujaddid) dunia Islam pada abad modern, tepatnya di sekitar abad ke-19. Kegelisahan yang dirasakan oleh Muhammad Abduh tentang kemunduran umat Islam saat itu menjadikannya tergerak dan bersemangat untuk melakukan gebrakan dan agenda besar dalam membangkitkan kembali semangat dan kejayaan umat Islam. Salah satu yang dilakukan oleh Muhammad Abduh adalah melalui modernisasi atau pembaruan sistem pendidikan Islam yang dipandang sebagai langkah dan upaya paling efektif dalam melakukan perubahan terhadap kondisi umat Islam pada masa itu. Artikel ini berusaha mengurai beberapa usaha dan ijtihad Muhammad Abduh dalam upaya modernisasi dan pembaruan sistem pendidikan Islam. Dengan menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research), pembahasan dalam artikel ini difokuskan untuk menjawab tiga hal, yaitu: faktor-faktor yang melatarbelakangi pemikiran dan ijtihad Muhammad Abduh; 2) ijtihad dan modernisasi yang dilakukan Muhammad Abduh dalam Pendidikan Islam; dan 3) rekonstruksi ijtihad dan modernisasi pendidikan Islam Muhammad Abduh bagi pendidikan Islam di Indonesia.

ISLAM DAN PENDIDIKAN PERDAMAIAN

Nurcholish, Ahmad

AL - IBRAH Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Peace education (pendidikan perdamaian) masih menjadi kebutuhan vital bagi umat manusia dan bangsa-bangsa di seluruh dunia. Hal ini dikarenakan dunia belum sepenuhnya menikmati rasa aman, hidup damai nirkekerasan.Konflik dan kekerasan, bahkan perang masih mewarnai berbagai belahan dunia.Oleh karena itu dunia merasa perlu untuk menghelat peringatan khusus demi terciptanya perdamaian.Itulah sebabnya, atas kesepakatan bersama Negara-negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setiap 21 September diperingati sebagai Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace/IDP).Pada tahun 1981, Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi No 36/37 tentang Hari Perdamaian Internasional.Tahun 2002, Majelis Umum PBB secara resmi mendeklarasikan tanggal 21 September sebagai IDP.Setiap tahun dunia memperingati IDP dengan tema berbeda-beda.Peace Education (Pendidikan Perdamaian) inilah yang menjadi tema IDP pada tahun 2013 lalu.[1] Peace Education (PE) sendiri telah menjadi gerakan global. Pada tahun 1999, ribuan orang yang mewakili ratusan organisasi hadir dalam acara International Peace Conference di The Hague, Belanda.Dalam acara tersebut dicetuskan The Hague Appeal for Peace, yang menyerukan penghentian segala peperangan dan penyebarluasan budaya perdamaian.Salah satu hasil The Hague Appeal, pembentukan Global Peace Education Network guna mendukung aplikasi PE seluruh dunia. Lantas bagaimana PE ini diimplementasikan di dunia Islam?Dalam ajaran Islam, PE atau Pendidikan Perdamaian sejatinya bukan hal baru.Islam sendiri dari sisi kebahasaan memiliki makna damai.Oleh sebab itu tidaki berlebihan jika Islam merupakan agama perdamaian.Setidaknya ada tiga alasan, yakni: pertama, Islam itu sendiri berarti kepatuhan diri (submission) kepada Tuhan dan perdamaian (peace). Kedua, salah satu dari nama Tuhan dalam al-asma` al-husna adalah Yang Mahadamai (al-salam). Ketiga, perdamaian dan kasih-sayang merupakan keteladanan yang dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW.Lebih lanjut, Zuhairi Misrawi menambahkan bahwa perdamaian merupakan jantung dan denyut nadi dari agama.Menolak perdamaian merupakan sikap yang bisa dikategorikan sebagai menolak esensi agama dan kemanusiaan.[2] Itulah misi dan tujuan diturunkannya Islam kepada manusia.Karena itu, Islam diturunkan tidak untuk memelihara permusuhan atau kekerasan di antara umat manusia.Konsepsi dan fakta-fakta sejarah Islam menunjukkan bahwa Islam mendahulukan sikap kasih sayang, keharmonisan dan dan kedamaian. Di antara bukti konkrit dari perhatian Islam terhadap perdamaian adalah dengan dirumuskannya Piagam Madinah (al-sahifah al-madinah), perjanjian Hudaibiyah, dan pakta perjanjian yang lain.  

NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM ISLAM NUSANTARA

Hariyani, Yunita

AL - IBRAH Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bertujuan untuk menembus  dan menghancurkan fanatisme sektarianisme sebagai makhluk yang meninggalkan masa keemasan dan kejayaan Islam nusantara. Metode yang digunakan library research (riset kepustakaan). Pengumpulan data menggunakan dokumentasi dan analisa data dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak bertentangan satu dengan yang lainnya dan tidak menjadi sumber perpecahan dalam masyarakat. Sehingga Pendidikan Islam Multikultural akan sangat urgen untuk menghadirkan fleksibelitas dan keterbukaan antar ummat beragamaa dalam keberamagaman nusantara.

PENDIDIKAN MORAL SEBAGAI INTERAKSI SOSIAL

Muawaroh, Mundiroh Lailatul

AL - IBRAH Vol 3 No 2 (2018)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tulisan ini bermaksud untuk membahas mengenai salah satu ajaran agama yaitu pendidikan moralitas sebagai interaksi sosial untuk menciptakan perdamaian. Melihat seringnya terjadi konflik dan sentimen antar kelompok, sesama manusia dan lain sebagainya, oleh karena itu perlu kiranya untuk melihat kembali ajaran agama yang diturunkan sebagai pedoman hidup manusia. Namun penelitian ini dilakukan dengan library reseach. Metode penelitian pustaka digunakan karena ingin mengulas kembali ajaran agama (moral) dari beberapa pustaka yang ada termasuk dari kitab suci Buddha dan Islam. Untuk itu penelitian kali ini tidak hanya membahas apa itu moral, namun lebih melihat kembali relevansi ajaran agama yang digunakan sebagai interaksi sosial. Penelitian ini dapat membantu menganalisis dan menyumbang dalam ranah keilmuan mengenai fenomena kekerasan yanga ada. artinya, ajaran agama tidak hanya sebatas dipahami secara sempit, namun secara luas termasuk dalam kehidupan sosial.

PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA (KAJIAN RILIGIO-HISTORIS)

tang, muhammad

AL - IBRAH Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The purpose of this study is to study and describe Islamic Education in Indonesia by looking at the basic concept and history of the development of Islamic Education in Indonesia. These developments will be seen from before the colonial era until the reform era, with a riligio-historical approach. The results of this study show that to develop Islamic Education should be built on the foundation, namely; theological-philosophical, psychological, scientific (scientific and technological), socio-cultural, the concept of fitrah, the meaning and purpose of Islamic education. Then viewed from the historical point of view, the entry of Islam in Indonesia since the seventh century and the period of its development XII century AD Since the entry of Islam in the archipelago, theoretically since that is also the birth and development of Islamic Education. The development of Islamic Education in this paper is described in three phases, namely; fasse before colonization, the colonial era (the Dutch colonial era and the Japanese colonial period) and the post-independence phase (old orede, new order and orede reform).

KAJIAN TAFSIR AL-QURâ??AN SURAH AL-AHZAB AYAT 59

Toyyib, Moh

AL - IBRAH Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Jurnal ini secara umum bertujuan untuk mengetahui penjelasan apa yang terkandungdalam surat al-Ahzab ayat 59. Secara lebih rinci tulisan ini menjelaskan pertama, mengetahui penjelasan surat al-Ahzab ayat 59dalam tafsir Al Misbah . Kedua, mengetahui penjelasan surat al-Ahzab ayat 59dalam tafsir-tafsir terdahulu yang sudah di jadikan rujukan oleh mufassirin setelahnya seperti tafsir Ath-Thobari, Ibnu Katsir dan Al-Qurtubi. Ketiga, menjelaskan penyebab perbedaan penafsiran surat al-Ahzab ayat 59  antara M. Quraish Shihab (pengarang tafsir Al Misbah) dan pengarang-pengarang tafsir terdahulu. Jurnal ini merupakan hasilkajian library research yang dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan penafsiran surat al-Ahzab ayat 59menurut M. Quraish Shihabdan pengarang-pengarang tafsir terdahuludengan metode penafsiran muqarrin atau metode komparatif. IbnuKatsir, Ath-Thobari dan Al-Qurtubi cenderung mengatakan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya serta yang boleh di tampakkan hanya satu pandangannya saja.Sementara, M. Quraish Shihab tidak cenderung mendukung pendapatyang mewajibkan wanita menutup seluruh badannya atas dasar bahwaseluruh tubuh wanita adalah aurat dan beliau cenderung mengatakan wanita yang penting memakai pakaian yang bisa dikatakan terhormat dalam adat istiadat di tempatnya. Ini bukan saja karena lemahnyaalasan-alasan yang mereka kemukakan, tetapi juga dengan tampilseperti yang mereka wajibkan berarti gugurlah fungsi hiasan atau keindahan dalam berpakaian, padahal al-Quran sendiri menyebutkanbahwa salah satu fungsi pakaian adalah hiasan. Adapun penyebabperbedaan para ulama dalam surat al-Ahzab ayat 59 adalah penafsiranmereka terhadap kata jalabibihinna dalam surat al-Ahzab ayat 59 dan dari penjelasan surat al-Nur ayat 31 yang mempunyai pembahasan senada dengansurat al-Ahzab ayat 59 yakni tentang kewajiban muslimah untuk berjilbab untuk menutup auratnya.

HUBUNGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN AKHLAK SISWA

Rosif, Rosif

AL - IBRAH Vol 3 No 1 (2018)
Publisher : STIT Al-Ibrohimy Bangkalan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Dalam tulisan ini penulis meneliti tentang keberagaman di Indonesia, perilaku toleransi yang diajarkan dalam Islam, factor-faktor yang mempengaruhinya dan bagaimana usaha sekolah dalam menginternalisasi akhlak dalam Pendidikan Agama Islam.Pelaksanaan pengajaran pendidikan agama Islam di SMK PGRI Pandaan ternyata sangat sederhana yakni menggunakan metode-metode yang lazim digunakan pada materi pelajaran pendidikan lainnya, seperti ceramah, demonstrasi, diskusi, tanya jawab dan drill.Sementara waktu yang  dialokasikan  pada  materi  pendidikan  agama  Islam  sebanyak 2 jam pelajaran (2 x 35 menit) setiap minggunya. Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis yang dilakukan, maka diperoleh kesimpulan bahwa "tidak ada hubungan positif atau signifikan antara pendidikan agama Islam dengan akhlak siswa di SMK PGRI Pandaan".