cover
Filter by Year
e-CliniC
ISSN : -     EISSN : -
Terbit tiga kali setahun pada bulan Maret, Juli, November. Tulisan yang dimuat berupa hasil penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles
704
Articles
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Keterlambatan Kedatangan Pasien Stroke di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado

Barahama, Derrel V., Tangkudung, Gilbert, Kembuan, Mieke A. H. N.

e-CliniC Vol 7, No 1 (2019): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Stroke is a global health problem. Ensuring the arrival of patients to the hospital to get medical treatment in a timely manner is vital in a stroke event. The late arrival of stroke patients at the hospital is the main reason for delayed medical treatment. Age, gender, education level, site of residence, distance of residence, and ambulance usage are some of the factors associated with the late arrival of stroke patients to the hospital. This study was aimed to determine the relationship between age, gender, educational status, distance of residence, residence site, as well as ambulance usage and the late arrival of stroke patients at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was an analytical retrospective study using patients’ medical record data. Samples were obtained by using purposive sampling technique with a minimum number of 226 samples. Data were analyzed by using the chi-square test which showed that of the 231 samples the P values were, as follows: age (P=0.711), gender (P=0.879), education level (P=0.010), residence site (P=0.303), distance of residence (P=0.458), and ambulance usage (P=0.469). Conclusion: There was a significant association between education level and the late arrival of stroke patients at Prof. R. D. Kandou Hospital Manado.Keywords: stroke, late arrivalAbstrak: Stroke merupakan masalah kesehatan global. Memastikan kedatangan pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis secara tepat waktu merupakan hal yang vital pada suatu kejadian stroke. Keterlambatan kedatangan pada pasien stroke sebelum tiba di rumah sakit merupakan alasan utama terjadinya keterlambatan penanganan medis pada kasus stroke. Usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jarak tempat tinggal, letak tempat tinggal dan pengguanaan ambulans merupakan beberapa faktor yang berhubungan dengan keterlambatan kedatangan pasien stroke ke rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, letak tempat tinggal, jarak tempat tinggal dan penggunaan ambulans dengan keterlambatan kedatangan pasien stroke di RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif menggunakan data rekam medik pasien. Metode pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah minimal 226 sampel yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil uji chi-square dari 231 sampel mendapatkan nilai P sebagai berikut: usia (P=0,711), jenis kelamin (P=0,879), tingkat pendidikan (P=0,010), letak tempat tinggal (P=0,303), jarak tempat tinggal (P=0,458) dan penggunaan ambulans (P=0,469). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dengan keterlambatan kedatangan pasien stroke di RSUP Prof. R. D. Kandou ManadoKata kunci: stroke, keterlambatan kedatangan

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Anemia pada Anak yang di Rawat Inap di RSUD Manembo-Nembo Kota Bitung

Umboh, Fabiola V., Gunawan, Stefanus, Runtunuwu, Ari

e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Anemia is one of the most common clinical problems in the medical world, either in adults or children. The impact of anemia on children can lead to physical growth disorders, low resistance to disease, less intelligence level, and less learning and sport achievement. This study was to obtain the factors related to the incidence of anemia in children at RSUD Manembo-nembo Bitung. This was an analytical descriptive study using a cross sectional design. Data were obtained from patients’ medical records and questionnaires. Samples were 46 children, 28 were less than 5 years old. The results showed that there was a correlation between parent education level (P=0.033) as well as socioeconomic status of the family (P<0.001) to the occurrence of anemia, however, there was no correlation between nutritional status with the incidence of anemia (P=0,244). Conclusion: The most influential factor to the incidence of anemia in children was the social economic status of the family.Keywords: anemia, children, socioeconomic statusAbstrak: Anemia merupakan salah satu masalah klinis yang sering ditemukan di dunia kedokteran baik pada orang dewasa maupun anak. Dampak anemia bagi anak dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang fisik, rendahnya daya tahan terhadap penyakit, tingkat kecerdasan yang kurang dari seharusnya, serta prestasi belajar dan prestasi olahraga yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada anak-anak yang dirawat di RSUD Manembo-nembo Kota Bitung. Jenis penelitian ini ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Penelitian ini menggunakan data rekam medik pasien dan hasil kuesioner. Sampel penelitian berjumlah 46 anak. Sebagian besar sampel berusia <5 tahun dengan jumlah 28 anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara tingkat pendidikan orang tua (P=0,033) dan status sosial ekonomi keluarga (P<0,001) dengan kejadian anemia, sedangkan status gizi pada anak tidak berhubungan dengan kejadian anemia (P=0,244). Simpulan: Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian anemia pada anak yang dirawat di RSUD Manembo-nembo ialah status sosial ekonomi keluarga.Kata kunci: anemia, anak, status sosial ekonomi

Hubungan antara Waktu Tindakan Intubasi dengan Outcome Pasien Stroke di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado: Kajian terhadap Glasgow Coma Scale, Ventilator Associated Pneumonia, Length of Stay, dan Angka Kematian

Poluan, Timothy M., Lalenoh, Diana C. H., Kambey, Barry I.

e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Stroke patients with decreased consciousness, airway disorders, hypoxia, apnea or therapeutic initiation of hyperventilation must be intubated. The delay in intubation time in stroke patients with a deteriorating general condition is very dangerous because it is related to higher mortality within the first 24 to 48 hours and will affect the length of stay (LOS). One of the indications for intubation in stroke patients is the decrease in consciousness, namely the Glasgow Coma Scale (GCS) score <9. Albeit, intubation and mechanical ventilation can cause a person 6 to 21 times more likely to develop pneumonia, commonly referred to as ventilator associated pneumonia (VAP). This study was conducted at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado and was aimed to obtain the correlation between time of intubation and stroke patient’s outcome based on GCS, VAP, LOS, and mortality. The results showed that there was no relationship between time of intubation <48 hours or ≥48 hours after stroke and improvement of GCS (0%); between time of intubation <48 hours or ≥48 hours after stroke and the occurence of VAP (P=0.698); and between time of intubation <48 hours or ≥48 hours after stroke and LOS (r=0.265; P=0.054); as well as between time of intubation <48 hours or ≥48 hours after stroke and mortality in the first two days after intubation (P=0.313).Keywords: stroke, time of intubation, outcome. Abstrak: Pasien stroke dengan penurunan kesadaran, gangguan jalan napas, hipoksia, apnea atau inisiasi terapetik hiperventilasi harus diintubasi. Penundaan waktu tindakan intubasi pada pasien stroke dengan keadaan umum yang memburuk sangat berisiko karena berkaitan dengan mortalitas dalam waktu 24-48 jam pertama dan akan memengaruhi length of stay (LOS). Indikasi dilakukannya intubasi terhadap pasien stroke salah satunya ialah penurunan kesadaran yang dinilai dengan skor Glasgow Coma Scale (GCS) <9. Intubasi dan ventilasi mekanik dapat menyebabkan seseorang 6 sampai 21 kali lipat cenderung terkena pneumonia (ventilator associated pneumonia/VAP). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hubungan antara waktu tindakan intubasi dengan outcome pasien stroke di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado dengan menggunakan kajian terhadap GCS, VAP, LOS, dan angka kematian. Hasil penelitian memperlihatkan tidak terdapat hubungan antara waktu tindakan intubasi <48 jam atau ≥48 jam setelah serangan stroke dengan perbaikan GCS (0%); dengan kejadian VAP (P=0,698); dengan LOS (r=0,265; P=0,054); dan dengan angka kematian pada 2 hari pertama setelah diintubasi (P=0,313).Kata kunci: stroke, waktu tindakan intubasi, outcome

Kesehatan Hidung pada Lansia di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Senja Cerah Manado

Rompis, Nadya N., Pelealu, Olivia C. P., Palandeng, Ora I.

e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: In general, the importance of sense of smell gets little regards from people. This eventually leads to disorders and injuries which impair or terminate the physiological functions and capabilities of the nasal organs. Some of the commonly observed disorders are allergic rhinitis, nasal polyps, sinusitis, and epistaxis. One of the groups that requires health services the most is the senior citizens. This study was aimed to obtain an overview of nasal health among the elderly at Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Senja Cerah Manado. This was an observational descriptive study with a cross-sectional design. The results showed that there were 31 elderly people as subjects; 3% had masses in the left and right nasal cavities and 3% had narrowing of left nasal cavity. Concha examination revealed that 3% of elderly had hyperemia and edema. Mucous examination showed that 3% of elderly had hyperemia. Secrete examination found 3% of elderly had mucoid secretion. Moreover, septal deviation was found in 6% of elderly and post-nasal drip was found in 3% of elderly. Conclusion: Most elderly at Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Senja Cerah Manado had good nasal health.Keywords: nasal health, nasal examination Abstrak: Peran indra penghiduan kurang mendapat perhatian khusus dari masyarakat hingga pada akhirnya timbulnya gangguan atau cidera yang dapat menghilangkan kemampuan dan fungsi fisiologis dari organ hidung. Beberapa kelainan pada hidung yang sering ditemukan antara lain rinitis alergi, polip hidung, sinusitis, dan epistaksis. Salah satu kelompok masyarakat yang paling membutuhkan pelayanan kesehatan ialah penduduk lanjut usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan hidung pada lansia di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Senja Cerah Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan 31 subyek lanjut usia. Hasil pemeriksaan menunjukkan dari 31 subyek tersebut, terdapat massa di kavum nasi kanan dan kiri sebesar 3%, kavum nasi kiri sempit sebesar 3%. Hasil pemeriksaan konka, ditemukan edema dan hiperemis sebesar 3%. Pemeriksaan mukosa ditemukan keadaan hiperemis sebesar 3%. Hasil pemeriksaan sekret, ditemukan sekret mukoid sebesar 3%. Pemeriksaan septum ditemukan deviasi sebesar 6%. Post nasal drip ditemukan sebesar 3%. Simpulan: Sebagian besar lansia di Balai Pelayanan Sosial Lanjut Usia Terlantar Senja Cerah Manado menunjukkan kesehatan hidung yang terbilang baik.Kata kunci: kesehatan hidung, pemeriksaan fisik hidung

Profil Trauma Tembus pada Mata di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Periode Januari 2016 – Juli 2018

Pantow, Immanuel H., Sumual, Vera, Manoppo, Rillya D. P.

e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Although eye trauma cases are oftenly found, they are actually preventable. The incidence of open eye trauma is around 3.6-3.8 in 100,000 people worldwide. This study was aimed to obtain the profile of penetrating trauma in the eye at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado. This was a retrospective analytical study using medical record data of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital from January 2016 to July 2018. The results showed 124 patients with penetrating trauma in the eye. Penetrating trauma cases in the eyes were significantly higher in males compared to females which were found in 105 patients (87.67%). Based on age, most patients were in the early adult age category (26-35 years) as many as 28 patients (22.58%). Based on work, the most common patients were farmers as many as 25 patients (20.16%), followed by laborers as many as 18 patients (14.51%). Conclusion: Most cases of penetrating trauma in the eyes were males, aged 26-35 years, and worked as farmers.Keywords: incidence, penetrating eye trauma Abstrak: Trauma pada mata sering terjadi dan sebenarnya merupakan penyebab gangguan penglihatan yang dapat dicegah. Insidensi trauma mata terbuka sekitar 3.6-3.8 per 100.000 populasi di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran kejadian trauma tembus pada mata di RSUP Prof.DR.R.D Kandou Manado. Jenis penelitian ialah analitik retrospektif dengan menggunakan data di Bagian Rekam Medik RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2016-Juli 2018. Hasil penelitian mendapatkan jumlah pasien trauma tembus pada mata sebanyak 124 orang. Kasus trauma tembus pada mata lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan yaitu 105 pasien (87,67%). Berdasarkan usia, trauma tembus pada mata terbanyak pada kategori dewasa awal (26-35 tahun) sebanyak 28 pasien (22,58%). Berdasarkan pekerjaan, trauma tembus pada mata terbanyak didapatkan pada petani sebanyak 25 pasien (20,16%) diikuti buruh sebanyak 18 pasien (14.51%). Simpulan: Trauma tembus pada mata terbanyak pada laki-laki, usia 26-35 tahun, didominasi pekerjaan sebagai petani.Kata kunci: angka kejadian, trauma tembus pada mata

Profil Gambaran Endoskopi di Pusat Endoskopi KSM Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Periode Januari 2016 – Desember 2017

Dewantara, Fadil, Waleleng, Bradley J., Umboh, Octavianus

e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Gastrointestinal endoscopy in the upper gastrointestinal tract is performed to obtain the condition of gastrointestinal mucosa. This study was aimed to obtain the profile of UGIB among endoscopy patients at the Gastrointestinal Endoscopy Center of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from January 2016 to December 2017. This was a descriptive retrospective study using medical records of patients who were registered at the Gastro-intestinal Endoscopy Center from January 2016 to December 2017. The result shows that from 420 cases, there were 7 diagnoses after endoscopy, as follows: esophagitis, gastritis, erosive gastritis, gastric ulcer, gastric polyp, duodenitis, and hiatal hernia. The most common diagnosis of UGIB was gastritis in 155 cases (37%), esophagitis in 124 cases (30%), duodenitis in 40 cases (10%), gastric polyp in 36 cases (9%), hiatal hernia in 22 cases (5%), erosive gastritis in 21 cases (4%), gastric ulcer in 17 cases (4%), and the other diagnoses (varices esophagus, esophagus ulcer, duodenum ulcer, achalasia) in 5 cases (1%). UGIB occured more common in males with 227 cases (54%) compared to female with 193 cases (46%). The most frequent age group was 56-65 years old with 86 cases, and the most rare case was >75 years old. Conclusion: Upper gastrointestinal bleeding occured more common among males, aged 56-65 years. Gastritis was the most common diagnosis in endoscopy.Keywords: endoscopy, upper gastrointestinal bleeding Abstrak: Pemeriksaan endoskopi pada saluran cerna bagian atas berfungsi untuk mengeva-luasi keadaan mukosa saluran cerna atas dan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil gambaran endoskopi di Pusat Endoskopi KSM Ilmu Penyakit Dalam RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Januari 2016 – Desember 2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retroskpektif menggunakan data rekam medik pasien perdarahan SCBA yang melakukan pemeriksaan endoskopi periode Januari 2016 – Desember 2017. Hasil penelitian mendapatkan dari 420 kasus, ditemukan 7 diagnosis setelah tindakan endoskopi (EGD), yaitu esofagitis, gastritis, gastritis erosiva, gastric ulcer, polip gaster, duodenitis dan hernia hiatus. Diagnosis perdarahan SCBA terbanyak ialah gastritis 155 kasus (37%), esofagitis yaitu 124 kasus (30%), duodenitis 40 kasus (10%), polip gaster 36 kasus (9%), hiatus hernia 22 kasus (5%), gastritis erosiva 21 kasus (4%), gastric ulcer 17 kasus (4%), dan kasus dengan dignosis lainnya (varices esophagus, esophagus ulcer, duodenum ulcer, achalasia) sebanyak 5 kasus (1%). Perdarahan SCBA banyak terjadi pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki berjumlah 227 pasien (54%) dibandingkan dengan pasien perempuan berjumlah 193 pasien (46%). Berdasarkan usia, terbanyak pada kelompok usia 56-65 tahun sebanyak 139 kasus dan terendah pada kelompok usia >75 tahun. Simpulan: Perdarahan SCBA lebih sering terjadi pada laki-laki, kelompok usia 56-65 tahun, dengan gastritis sebagai diagnosis terbanyak pada pasien perdarahan SCBA yang melakukan pemeriksaan endoskopi.Kata kunci: endoskopi (EGD), perdarahan SCBA

Perbandingan Kadar Hemoglobin Pengguna Rokok Elektrik dan Rokok Konvensional pada Pria Dewasa di Manado

Waleleng, Mark M., Rotty, Linda W.A., Polii, Efata

e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Smoking has become a daily habit in Indonesia. Manado has a percentage of smokers as many as 23.6%. Many efforts have been done to find alternative tobacco cigarette. Electric cigarette is one of the new models to replace tobacco cigarette. This study was aimed to determine the ratio of hemoglobin levels in adult male electric cigarette users in Manado. This was an observational analytical study using a cross sectional design. Samples were obtained by using decisive sampling technique. There were 20 electric cigarette users and 20 conventional cigarette users in this study. The results showed that the mean hemoglobin level of conventional cigarette users was higher (17.080 g / dl) than of electric cigarette users (14.335 g/dl). The bivariate analysis using the T test (α=0.05) of the comparison of hemoglobin levels in electric cigarette users and conventional cigarette users resulted in a P value of 0.000. Conclusion: There was a significant comparison of hemoglobin levels in users of electric cigarettes and of conventional cigarettes among adult males in Manado.Keywords: electric cigarettes, conventional cigarettes, hemoglobin Abstrak: Merokok sudah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi masyarakat Indonesia. Kota Manado memiliki persentase perokok sebanyak 23,6%. Banyak upaya yang telah dilakukan untuk mencari alternatif rokok tembakau. Rokok jenis elektrik merupakan salah satu fenomena baru yang diupayakan untuk mengganti rokok tembakau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar hemoglobin pada pengguna rokok elektrik pria dewasa di kota Manado. Jernis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Teknik pengambilan sampel menggunakan decisive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 20 orang pengguna rokok elektrik dan 20 orang pengguna rokok konvensional. Hasil penelitian menunjukkan perbandingan kadar hemoglobin pada pengguna rokok elektrik dan rokok konvensional dimana rerata kadar hemoglobin pengguna rokok konvensional lebih tinggi (17,080 g/dl) dibandingkan pada pengguna rokok elektrik (14,335 g/dl). Hasil uji analisis bivariat menggunakan uji T terhadap perbandingan kadar hemoglobin pengguna rokok elektrik dan rokok konvensional pada pria dewasa dengan derajat kepercayaan α=0,05 mendapatkan P=0,000. Simpulan: Terdapat perbandingan bermakna dari kadar hemoglobin pengguna rokok elektrik dan rokok konvensional pada pria dewasa di Manado.Kata kunci: rokok elektrik, rokok konvensional, hemoglobin

Gambaran Pengetahuan Masyarakat yang Bekerja sebagai Nelayan tentang Pterigium di Desa Kapitu Kabupaten Minahasa Selatan

Somba, Sary M., Saerang, Josefien S. M., Tongku, Yamin

e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Pterygium is a wing-shaped tissue growth containing blood vessels and tissues originated from conjunctiva that can spread to the cornea. Pterygium can cause astig-matism and other disorders such as chronic irritation, recurrent inflammation, double vision, impaired eye movement, and even blindness if it spreads the the central part of cornea. This study was aimed to obtain the knowledge about pterygium among fishermen in Kapitu village South Minahasa. This was a descriptive study. Respondents in this study were 50 fishermen; all were males. The results showed that 75.4% of the respondents had good knowledge about pterygium. Conclusion: Most fishermen in Kapitu village South Minahasa had good knowledge about pterygium.Keywords: knowledge about pterygium, fishermen Abstrak: Pterigium merupakan pertumbuhan jaringan berbentuk sayap yang mengandung pembuluh darah dan jaringan yang berasal dari konjungtiva dan dapat menyebar ke kornea. Pterigium dapat menyebabkan terjadinya astigmatisme serta menimbulkan gangguan lain seperti iritasi kronik, inflamasi rekuren, penglihatan ganda, serta gangguan pergerakan bola mata bahkan kebutaan bila telah mencapai bagian sentral kornea. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pengetahuan masyarakat yang bekerja sebagai nelayan tentang pterigium di Desa Kapitu, Kabupaten Minahasa Selatan. Jenis penelitian ialah deskriptif. Responden penelitian ialah masyarakat yang bekerja sebagai nelayan sebanyak 50 orang laki-laki. Hasil penelitian mendapatkan bahwa 75,4% responden memiliki pengetahuan baik mengenai pterigium. Simpulan: Sebagian besar masyarakat yang bekerja sebagai nelayan di Desa Kapitu Kabupaten Minahasa Selatan memiliki pengetahuan baik tentang pterigium.Kata kunci: pengetahuan mengenai pterigium, masyarakat nelayan

Gambaran Penyakit Jantung Bawaan di Neonatal Intensive Care Unit RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Periode 2013 - 2017

Manopo, Berry R., Kaunang, Erling D., Umboh, Adrian

e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Congenital heart disease (CHD) is a structural heart defect that results from abnormal embryological heart development, or persistence of some parts of the fetal circulation at birth. Congenital heart disease is divided into two categories, namely non-cyanotic congenital heart disease and cyanotic congenital heart disease. Congenital heart disease is caused by interactions between predisposing exogenous factors and endogenous factors. This study was aimed to obtain the profile of CHD in the Neonatal Intensive Care Unit (NICU) of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado in the period 2013 - 2017. This was a retrospective descriptive study using medical record data of patients suffering from CHD in NICU from 2013 to 2017. The results showed that there were 27 patients suffering from CHD consisting of 24 non-cyanotic CHD patients (88.89%) and 3 cyanotic CHD patients (11.11%), and the highest incidence was Atrial Septal Defect (ASD) as many as 17 babies (62.96%). Congenital heart disease was more common in males as many as 18 babies (66.67%). In this study, the clinical symptoms oftenly found was shortness of breath (48.15%) and the most common diagnosis was pneumonia (48.15%). Conclusion: The most common CHD was non-cyanotic CHD. The most commonly found defect was ASD. Clinical symptoms that often arised was shortness of breath, pneumonia was the most common comorbid diagnosis, and the dominant gender of CHD was male.Keywords: non-cyanotic CHD, cyanotic CHD, atrial septal defect Abstrak: Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan defek jantung struktural yang terjadi akibat perkembangan jantung embriologis yang abnormal, atau persistensi dari beberapa bagian dari sirkulasi fetus saat lahir. Penyakit ini dibagi menjadi dua kategori yaitu penyakit jantung bawaan non sianosis dan yang sianosis. Penyakit jantung bawaan disebabkan oleh interaksi antara predisposisi faktor eksogen dan faktor endogen. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran penyakit jantung bawaan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 2013-2017. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik pasien yang menyandang penyakit jantung bawaan di NICU periode 2013-2017. Hasil penelitian mendapatkan dari 27 pasien dengan PJB, ditemukan PJB non sianotik berjumlah 24 bayi (88,89%) dan PJB sianotik berjumlah 3 bayi (11,11%) dengan angka kejadian terbanyak pada atrial septal defek (ASD) berjumlah 17 bayi (62,96%). Penyakit jantung bawaan paling banyak terjadi pada bayi yang berjenis kelamin laki-laki yaitu berjumlah 18 bayi (66,67%). Gejala klinis yang sering muncul ialah sesak napas (48,15%) dan diagnosis penyerta terbanyak yaitu pnemonia (48,15%). Simpulan: Penyakit jantung bawaan non sianosis merupakan diagnosis terbanyak, jenis ASD, dengan gejala klinis yang sering muncul yaitu sesak napas. Pneumonia merupakan diagnosis penyerta terbanyak. PJB tersering pada jenis kelamin laki-laki.Kata kunci: PJB sianotik, PJB, non sianotik, atrial septal defek

Hubungan Lingkar Pinggang dengan Tekanan Darah pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi

Talumepa, Angelica, Wantania, Frans E.N., Parnigotan, Bisuk

e-CliniC Vol 6, No 2 (2018): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Central obesity is one of the multifactorial diseases which occurs due to accumulation of excessive fat in the intraabdominal adipose tissue contributed toward the main causes of mortality and morbidity, including heart attack, stroke and hypertension. Hypertension is the independent risk factor of cardiovascular diseases meanwhile the independent risk factor of hypertension is obesity. This study was aimed to determine the correlation between waist circumference and blood pressure among students of Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University Manado. This was an observational analytical study with a cross-sectional design. Data of physical examination were waist circumference and blood pressure. There were 70 subjects in this study. The results of the Pearson correlation and simple linier regression test showed a significant correlation of waist circumference and systolic blood pressure (P=0.000) as well as waist circumference and diastolic blood pressure (P=0.000). Furthermore, the study obtained that waist circumference affected systolic blood pressure by 29.70% and diastolic blood pressure by 18.50%. Conclusion: There was a significant correlation between waist circumference and blood pressure among students of Faculty of Medicine, Sam Ratulangi University Manado.Keywords: waist circumference, systolic blood pressure, diastolic blood pressure. Abstrak: Obesitas sentral merupakan suatu penyakit multifaktor yang terjadi akibat akumulasi lemak yang berlebihan di jaringan adiposa intra-abdomen. Akumulasi lemak tersebut berkontribusi terhadap penyebab utama kematian dan kecacatan, termasuk serangan jantung, stroke dan tekanan darah tinggi. Hipertensi merupakan faktor risiko independen terhadap penyakit kardiovaskular, dan salah satu faktor risiko independen hipertensi ialah obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ukuran lingkar pinggang dengan tekanan darah pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ialah analitik obeservasional dengan desain potong lintang. Data diperoleh melalui pemeriksaan fisik yaitu pengukuran lingkar pinggang dan tekanan darah. Penelitian ini menggunakan uji korelatif Pearson serta analisis regresi linier sederhana. Hasil penelitian mendapatkan subyek berjumlah 70 orang mahasiswa. Uji korelatif Pearson menunjukkan adanya hubungan bermakna, baik antara lingkar pinggang dengan tekanan darah sistolik (P=0,000) maupun antara lingkar pinggang dengan tekanan darah diastolik (P=0,000). Pengaruh lingkar pinggang terhadap tekanan darah sistolik sebesar 29,70% dan terhadap tekanan darah diastolik sebesar 18,50%. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara lingkar pinggang dengan tekanan darah pada mahasiswa Fakultas kedokteran Universitas Sam Ratulangi.Kata kunci: lingkar pinggang, tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik