cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Arjuna Subject : -
Articles 719 Documents
Petunjuk Penulis Penulis, Petunjuk
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.315 KB)

Abstract

Petunjuk bagi (Calon) Penulis Menurut tata cara Vancouver modifikasi Curtin University, 2009 Jurnal e-CliniC  
Daftar Penyunting Penyunting, Daftar
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.02 KB)

Abstract

Ketua Penyunting Sunny Wangko   Wakil Ketua Penyunting Sonny J. R. Kalangi   Penyunting Pelaksana Erwin Kristanto John J. Soucy Henoch Awaloei  Pengeset Gunawan Pratama  Pelaksana Tata Usaha Donny  Kaligis Joko Aryono
PROFIL URETRITIS GONOKOKUS DAN NON-GONOKOKUS PADA PRIA DI RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE 2009 – 2011 Silalahi, Yan David Parulian; Suling, Pieter L.; Kapantow, Marlyn G.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.156 KB)

Abstract

Abstract: Urethritis, an inflammation of the urethra, is divided into gonococcal urethritis and non-gonococcal urethritis. It is a venereal disease transmitted through sexual contact resulting in a complaint of pain sensation during urination. This was a descriptive retrospective study. Data were obtained from the registration of sexually transmitted infections from the Department of Dermatology and Venereal Diseases Prof Dr. R.D. Kandou Hospital Manado. The results showed that from 2009 until 2011 there were 82 male patients with urethritis; 56 patients (68.5%) with gonococcal urethritis and 26 patients (31.5%) with non-gonococcal urethritis. The highest number of patients (51 patients, 62%) were at the ages of 25-44 years. The most frequent patient jobs were civil employes (38 patients, 46.4%), followed by students (10 patients, 12%), and jobless (8 patients, 10%). The most common sexual partners were female prostitutes (38 patients, 46.3%). The most frequent complaint of gonococcal and non-gonococcal urethritis patients was pain sensation during urination (35 patients, 42.7%). Conclusion: In this study, most male patients with gonococcal and non-gonococcal urethritis were at the ages of 25-44 years, worked as civil employees, and had sexual intercourse with female prostitutes. The most common complaint among them was pain sensation during urination Keywords­:­­­ urethritis, gonococcal, non-gonococcal, males Abstrak : Uretritis adalah peradangan pada uretra dan terbagi menjadi uretritis gonokokus dan non gonokokus. Penyakit ini tergolong pada infeksi menular seksual (IMS) dengan penularan melalui hubungan seksual dan keluhan berupa nyeri saat berkemih. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif; data diambil dari buku register infeksi menular seksual Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSU Prof Dr. R.D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan dari 82 kasus laki-laki dengan uretritis gonokokus (UG) non gonokokus (UNG) tahun 2009-2011 terdapat 56 pasien (68,5%) dengan UG dan 26 pasien (31,5%) dengan UNG. Usia 25-44 tahun merupakan kelompok usia terbanyak yaitu 51 pasien (62%). Jenis pekerjaan yang tersering untuk pasien UG dan UNG ialah pegawai sebanyak 38 orang (46,4%). Pasangan seksual pasien uretritis gonokokus dan non gonokokus yang tersering ditemukan ialah wanita pekerja seksual (WPS) sebanyak 38 orang (46,3%). Keluhan tersering pada pasien uretritis gonokokus dan non gonokokus ialah nyeri saat berkemih sebanyak 35 orang (42,7%). Simpulan: Dalam penelitian ini, pasien laki-laki dengan uretritis gonokokus dan non gonokokus tersering pada kelompok usia 25-44 tahun, jenis pekerjaan pegawai, dan pasangan seksual terbanyak wanita pekerja seksual. Keluhan yang tersering dikemukakan ialah nyeri saat berkemih. Kata kunci: uretritis, gonokokus, non-gonokokus, laki-laki
HUBUNGAN ANTARA PENYAKIT ARTERI PERIFER DENGAN FAKTOR RISIKO KARDIOVASKULAR PADA PASIEN DM TIPE 2 Simatupang, Maria; Pandelaki, Karel; Panda, Agens L.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.531 KB)

Abstract

Abtract: Peripheral arterial disease (PAD) is one of the complications that occurs in patients with type 2 diabetes mellitus due to the process of atherosclerosis. Age, hypertension, obesity, LDL cholesterol, and smoking are the cardiovascular risk factors that can be found in diabetes patients. Ankle brachial index (ABI) is a simple way to confirm the diagnosis of PAD. This study used a cross sectional design. The subjects numbered 100 patients with type 2 diabetes mellitus who were examined in the Metabolic Endocrine Clinic of Prof. Dr. R.D Kandou Hospital. Data of variables were based on the patients’ medical records, interviews about smoking, and blood pressures measured on ​​legs and arms in a supine position. A Chi-square test showed that there was a correlation between blood pressure and ABI values ​​(P = 0.049). Moreover, there was no correlation between risk factors of age (P = 0.144), obesity (P = 0.488), LDL cholesterol (P = 0.197), and smoking (P = 0.512) with ABI values. Multivariate analysis showed that there was a significant correlation between blood pressures and ABI values ​​(P = 0.037). Conclusion: From all the examined cardiovascular risks, the most correlated with the incidence of PAD in patients with type 2 diabetes mellitus was blood pressure. Keywords: cardiovascular risk factors, PAD, type 2 diabetes mellitus Abstrak: Penyakit Arteri Perifer (PAP) merupakan salah satu komplikasi yang terjadi pada pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) akibat proses aterosklerosis. Usia, hipertensi, obesitas, kadar kolesterol LDL dan merokok merupakan faktor risiko kardiovaskular yang dapat ditemukan pada pasien diabetes. Ankle Brachial Index (ABI) merupakan cara sederhana untuk mendiagnosis PAP. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 100 pasien DMT2 yang melakukan pemeriksaan di Poliklinik Endokrin Metabolik RSUP Prof.Dr.R.D. Kandou Manado. Pengukuran variabel berdasarkan pada catatan rekam medik pasien, anamnesis riwayat merokok, dan pengukuran nilai tekanan darah kaki maupun tangan dalam posisi berbaring. Uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara tekanan darah dan nilai ABI (P = 0,049), sedangkan faktor risiko usia (P = 0,144), obesitas (P = 0,488), kolesterol LDL (P = 0,197) dan riwayat merokok (P = 0,512) tidak didapati adanya hubungan. Analisis multivariat, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat bermakna antara tekanan darah dengan nilai ABI (P = 0,037). Simpulan: Dari semua faktor risiko kardiovaskular yang di teliti, tekanan darah yang paling berhubungan dengan kejadian PAP pada pasien DMT2. Kata kunci: DMT2, faktor risiko kardiovaskular, PAP
GAMBARAN PENOLAKAN MASYARAKAT TERHADAP PUNGSI LUMBAL DI BAGIAN NEUROLOGI BLU RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Pasomba, Selvyani; Khosama, Herlyani; Sampoerno, Junita M.P.
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.6 KB)

Abstract

Abstract: The examination of cerebrospinal fluid obtained by a lumbar puncture is important in the diagnosis of CNS infection. There have been no reports of refusals of lumbar punctures in Manado. This study is a descriptive preliminary using interviews and questionnaires. The subjects were all patients or families of patients in the inpatient unit at the Department of Neurology BLU. Prof. Dr. R. D. Kandou Manado in November 2012. The results showed that of the total number of 60 respondents, 27 (45%) under advice, agreed to undergo lumbar punctures; 30 (50%) refused, and 3 (5%) were not able to decide and thus abstained. While 93.3% of respondents knew the definition and indications of lumbar puncture, 86.7% refused eventhough they knew that the lumbar puncture procedure was important in the management of the disease; 86.7% assumed that the lumbar puncture was a dangerous procedure; 80% felt unsure enough to refuse; and 86.7% were afraid to have the lumbar puncture procedure done. All respondents knew that lumbar puncture had complications. Conclusion: nearly all respondents who refused knew that the lumbar puncture procedure is important in the management of the disease, yet they assumed the lumbar puncture was dangerous, uncomfortable, and felt fearful. Keywords: lumbar puncture, neurology, refusal description, society. Abstrak: Pemeriksaan cairan serebrospinal yang diperoleh melalui tindakan pungsi lumbal penting untuk mendiagnosis infeksi susunan saraf pusat. Meskipun demikian, sering terjadi penolakan terhadap pemeriksaan ini. Sampai saat ini belum ada laporan tentang gambaran penolakan pungsi lumbal di Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan wawancara menggunakan kuesioner. Subjek penelitian ialah semua pasien atau keluarga pasien di ruang rawat inap Bagian Neurologi BLU RSUP. Prof. Dr. R.D. Kandou Manado bulan November 2012. Hasil penelitian memperlihatkan jumlah responden sebanyak 60 orang, 27 (45%) setuju jika seandainya disarankan untuk menjalani pungsi lumbal, 30 (50%) menolak, dan tiga (5%) tidak dapat memutuskan setuju atau menolak (abstain). Sebanyak 93,3% responden mengetahui definisi dan indikasi pungsi lumbal, 86,7% responden yang menolak menganggap pungsi lumbal penting dalam penatalaksanaan penyakit, 86,7% menganggap pungsi lumbal merupakan tindakan yang berbahaya, 80% responden merasa tidak nyaman, dan 86,7% takut terhadap pungsi lumbal. Simpulan: hampir seluruh responden yang menolak mengetahui bahwa tindakan pungsi lumbal penting dalam penatalaksanaan penyakit, dan menganggap pungsi lumbal sebagai tindakan berbahaya, tidak nyaman dan merasa takut pada tindakan ini. Kata kunci: pungsi lumbal, neurologi, gambaran penolakan, masyarakat.
POLA KUMAN DAN UJI KEPEKAANNYA TERHADAP ANTIBIOTIKA PADA PENDERITA OTITIS EKSTERNA DI POLIKLINIK THT-KL BLU RSU PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO Suwu, Pingkan; Kountul, Constantyn; Waworuntu, Olivia
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.641 KB)

Abstract

Abstract: Otitis externa is an outer ear canal infection divided into acute and chronic forms based on the course of illness. In a study at Polyclinic ENT-TOS at Prof. dr. R. D. Kandou General Hospital Manado in 2011 it was found that from 5297 there were 440 (8.33%) cases of otitis externa. This study aimed to determine the pattern of bacteria and antibiotic sensitivity in patients with otitis externa in the Polyclinic ENT-TOS, Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital Manado during the period December 2012 - January 2013. This study was a descriptive prospective through a sampling technique of patients. Of the 20 samples tested, 18 (90%) showed the growth of bacteria, and two samples (10%) had no growth of bacteria. There were seven types of bacteria found consisting of  two samples (10%) of Branhamella catarrhalis, four samples (20%) of Staphylococcus epidermidis, two samples (10%) of Staphylococcus aureus, two samples (10%) of Acinetobacter anitratus, two samples (10%) of Enterobacter aerogenes, four samples (20%) of Alcaligenes faecalis, two samples (10%) of Proteus mirabilis, and two samples (10%) of no bacterial growth. The highest sensitivity antibiotic was levofloxacin in 14 samples (77.78%), while the highest resistant to antibiotics was ever getting clindamycin in 16 samples (88.89%). Conclusion: nearly all of the samples obtained from otitis externa patients in Polyclinic ENT-TOS, Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital Manado during the period December 2012 - January 2013 showed bacterial growth. Levofloxacin was the highest sensitive antibiotic while clindamycin and erythromycin were the highest resistant antibiotic among otitis externa patients in ENT-TOS Clinic of Prof. Dr. R.D. Kandou Hospital, Manado Keywords: otitis externa, pattern of bacteria, sensitivity test.     Abstrak: Otitis eksterna adalah infeksi liang telinga luar yang menurut perjalanan penyakit terbagi atas bentuk akut dan kronis. Pada penelitian di Poliklinik THT-KL RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado pada tahun 2011 diperoleh dari 5.297 pengunjung terdapat 440 (8,33%) kasus otitis eksterna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kuman dan uji kepekaannya terhadap antibiotika pada penderita otitis eksterna di Poliklinik THT-KL BLU RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Desember 2012 - Januari 2013. Penelitian ini bersifat prospektif deskriptif dan sampel diambil dari pasien Poliklinik THT-KL. Dari 20 sampel yang diuji, didapatkan 18 sampel (90%) menunjukkan pertumbuhan bakteri dan dua sampel (10%) tidak memperlihatkan pertumbuhan bakteri. Bakteri yang ditemukan tujuh jenis, terdiri dari Branhamella catarrhalis dua sampel (10%), Staphylococcus epidermidis empat sampel (20%), Staphylococcus aureus dua sampel (10%), Acinetobacter anitratus dua sampel (10%), Enterobacter aerogenes dua sampel (10%), Alcaligenes faecalis empat sampel (20%), Proteus mirabilis dua sampel (10%), dan tidak ada pertumbuhan bakteri sebanyak dua sampel (10%). Simpulan: hampir semua sampel yang diperoleh dari pasien otitis eksterna di Poliklinik THT-KL RSU Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode Desember 2012 - Januari 2013 memperlihatkan pertumbuhan bakteri. Antibiotika yang kepekaannya paling tinggi ialah levofloxacin, sedangkan antibiotika yang resistensinya paling tinggi ialah clindamycin an erythromycin. Kata kunci: otitis eksterna, pola kuman, uji kepekaan.
HUBUNGAN USIA REPRODUKSI DENGAN KEJADIAN MIOMA UTERI DI RSUP. PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Pratiwi, Lilis; Suparman, Eddy; Wagey, Freddy
e-CliniC Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.933 KB)

Abstract

Abstract: Age is the most significant risk factor for the development of myoma uteri. The issue of myoma uteri in womens reproductive health continues to increase. The high incidence of myoma uteri between the ages of 35-50 years shows an association of myoma uteri with estrogen. This study aimed to determine the relationship between the incidence of myoma uteri during this stage in the RSUP Prof. Dr. R.D. Manado Kandou from March until October 2012. This study was a retrospective observational descriptive analytic cross-sectional approach. This was carried out by using the Chi Square. A 95% confidence level (α ≤ 0.05) and P ≤ 0.05 showed there was a relationship between the independent variables and dependent variables. Based on 353 cases of all diseases in the Obstetrics-Gynecology section between the ages of 18-49 years, those who suffered from myoma uteri were 108 cases. Those aged between 34-49 years (101 cases, 93.5%), suffered most from of myoma uteri while those aged between 18-33 were only 7 cases (6.5%). The Pearson Chi-Square test value was 43.394 and obtained P = 0.000. These results indicated there was a very significant correlation between the incidence of reproductive ages with myoma uteri (P = 0.000; α = 0.01). Conclusion: the high incidences of myoma uteri during reproductive ages showed no association with estrogen myoma uteri. Keywords: reproductive age, myoma uteri. Abstrak: Usia merupakan faktor risiko yang paling bermakna untuk perkembangan mioma uteri. Salah satu masalah kesehatan reproduksi wanita ialah mioma uteri dengan insidensi yang terus meningkat. Tingginya kejadian mioma uteri antara usia 35-50 tahun menunjukkan adanya hubungan mioma uteri dengan estrogen pada usia reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia reproduksi dengan kejadian mioma uteri di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Maret sampai dengan Oktober 2012. Penelitian ini bersifat observasi analitik deskriptif retrospektif dengan cross sectional design. Uji statistik menggunakan Chi square test. Dengan tingkat kepercayaan 95% (α ≤ 0,05), jika P ≤ 0,05 maka terdapat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Dari 353 kasus untuk semua penyakit ginekologi di Bagian Obstetri-Ginekologi yang berusia antara18-49 tahun, terdapat 108 kasus dengan mioma uteri. Usia 34-49 tahun merupakan kasus terbanyak dengan mioma uteri yaitu 101 kasus (93,5%); dan yang berusia 18-33 tahun terdapat tujuh kasus (6,5%). Uji Pearson Chi-Square memperlihatkan nilai 43,394 dengan P = 0,000. Hasil ini menunjukkan terdapat hubungan yang sangat bermakna antara usia reproduksi dengan kejadian mioma uteri (P = 0,000; α = 0,01). Simpulan: Dari hasil penelitian di Bagian Obstetri-Ginekologi RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado periode 1 Maret - 31 Oktober 2012 diperoleh bahwa kasus ginekologi terbanyak pada pasien berusia 18-49 tahun ialah mioma uteri, dengan usia tersering 34-49 tahun. Kata kunci: usia reproduksi, mioma uteri.
HUBUNGAN JENIS PERSALINAN DENGAN KEJADIANASFIKSIA NEONATORUM DI RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO Zainuddin, Zulkarnain
e-CliniC Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.985 KB)

Abstract

Neonatal Asphyxia is a condition of newborns who fail to breathe spontaneously and regularly soon after birth.Asphyxiais one ofthe causes ofmortalityandmorbidityof newborns. In Prof Dr. Dr. R. D Kandou Manado neonatal asphyxia was ranked 7 out of 10 perinatology disease by 2011 as many as 50 cases. There are several factors that trigger the occurrence of asphyxia eclampsia, fetal distress, abruptio placenta, placenta previa, and the state of maternal and others fetal distress. This study is a retrospective analytical taken in the form of medical records of the period July 2010 - July 2012. The total sampel of 100 samples were divided into 50 infants asphyxia and 50 infants of non asphyxia. The data were processed using SPSS version 16. Statistical tests were conducted to prove the hypothesis with chi square test. The results showed a significant relationship between type of delivery and neonatal asphyxia (P = 000), where the Caesarean section delivery with the largest percentage of asphyxia in infants that is 31 infants (62%). Highly significant correlation between the type of childbirth with the incidence of asphyxia. Caesarean section with the largest percentage due mostly done when the mother and fetus during an emergency such as fetal distress, eclampsia, preeclampsia, fetal abnormalities layout, narrow pelvis, oligohydramnios, premature rupture of membranes, and prolonged labor.Keywords: Asphyxia neonatorum, type of childbirthAbstrakAsfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Asfiksia merupakan salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas bayi baru lahir. Di RSUP Prof. Dr. R.D Kandou Manado asfiksia neonatorum menduduki peringkat 7 dari 10 penyakit perinatologi pada tahun 2011 sebanyak 50 kasus. Ada beberapa faktor pencetus terjadinya asfiksia yaitu eklampsia, gawat janin, solusio plasenta, plasenta previa, dan keadaan gawat ibu dan janin lainnya. Penelitian ini bersifat analitik retrospektif yang diambil dalam bentuk rekam medis periode juli 2010 – juli 2012. Besar sampel sebanyak 100 sampel yang terbagi atas 50 bayi asfiksia dan 50 bayi non asfiksia.Data diolah menggunakan SPSS versi 16.Uji statistik dilakukan untuk membuktikan hipotesis dengan uji chi square.Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara jenis persalinan dan asfiksia neonatorum (P=000), dimana persalinan seksio sesarea dengan presentase terbesar pada bayi asfiksia yakni 31 bayi (62%). Adanya hubungan yang sangat bermakna antara jenis persalinan dengan kejadian asfiksia.Seksio sesarea dengan presentase terbesar dikarenakan kebanyakan dilakukan apabila ibu maupun janin dalam keadaan darurat misalnya gawat janin, eklamsia, preeklamsia, kelainan letak janin, panggul sempit, oligohidramnion, ketuban pecah dini, dan partus lama.Kata Kunci: Asfiksia neonatorum, jenis persalinan.
HUBUNGAN OBESITAS DENGAN PENINGKATAN KADAR ALBUMINURIN PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT PROGRAM STUDI KEDOKTERAN UMUM Adam, Rizky Natanael
e-CliniC Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.633 KB)

Abstract

Obesitas merupakan penyakit karena asupan dan pengeluaran energi tidak seimbang yang menyebabkan jaringan lemak berlebihan, yang mengakibatkan keluarnya protein terutama albumin lewat urine terjadi karena adanya gangguan pada sistem filter di ginjal tepatnya di glomerulus yang mengakibatkan banyak protein yang keluar atau „bocor‟ yang disebut Mikroalbuminurin, Mikroalbuminuria merupakan salah satu penanda keterlibatan ginjal sebagai organ target pada penderita obesitas yang dinilai melalui pemeriksaan Rasio Albumin Kreatinin Urin (RAKU). Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui hubungan Obesitas dengan peningkatan kadar Albuminurin pada mahasiswa Fakultas Kedokteran UNSRAT program studi Kedokteran Umum.Metode: Metode Penelitian ini bersifat opservasional dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian ini adalah 30 orang dengan membandingkan 15 orang obesitas dan 15 orang non-obesitas pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNSRAT program studi Kedokteran Umum yang berlangsung pada bulan November – Desember 2012.Hasil: Pada pemeriksaan RAKU didapati 4 sampel atau 13,33% sampel pada obesitas yang kadar albuminurin ialah mikroalbumin, dan juga pada tekanan darah sistolik dan diastolik terdapat perbedaan antara kelompok obesitas dan non-obesitas dimana di kelompok obesitas lebih tinggi rata-ratanya , penelitian ini menggunakan uji spearman dimana nilai RAKU p= 0,001 dan juga ditemukan pada sistolik p=0,05 dan diastolik p=0,032 hasil ini menunjukannya ada hubungan obesitas dengan peningkatan kadar albuminurin pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNSRAT program studi Kedokteran Umum.Kesimpulan: Di temukan hubungan obesitas dengan peningkatan albuminurin pada pemeriksaan Rasio Albumin Kreatinin Urin.Kata Kunci : Obesitas, Lingkar Pinggang, Rasio Albumin Kreatinin Urin (RAKU)AbstractObesity is a disease that attributed by consume and dispensing energi that not balance and cause more fat tissue, and also cause protein dispensing especially albumine through urine. It is happen because there is disruption infiltration system in kidney especially in glomerulus and it is make more protein dispensing or “leak” and namely as microalbuminurine. Microalbuminurine is the one sign of kidney involvement as target organ to obesity pasient who assessed by Urine creatinine albumine ratio essay. The objective of this research is to investigate the associate of obesity with albuminurine concentrate increasing to students in general medicine program study, faculty of medicine, University of Sam ratulangi.Methode: Methode of this research is observational typical with cross-sectional approach. The sample of this research is 30 students including 15 students with obesity and 15 students with non-obesity. This research conducted during november – december 2012Results: On Urine creatinine albumine ratio essay found 4 samples or 13,33 % toward obesity with albuminurine concentration is microalbumine. There was different toward sistolic and diastolik blood pressure that high in obesity group observed. This research used Spearmen tested with value of Urine creatinine albumine ratio p= 0,001 and to sistolic p=0,05 and also diastolic p=0,032. This findings show an association between obesity and albuminurine concentration increased.Conclusion: This research found an association between obesity with the increasing of albuminurine concentration on Urine creatinine albumine ratio essay.Key words: Obesity, waist bend, Urine creatinine albumine ratio.
GAMBARAN FOTO TORAKS PADA PENDERITA DEWASA DENGAN DIAGNOSIS KLINIS DIABETES MELITUS YANG DISERTAI TUBERKULOSIS PARU DI BAGIAN/SMF RADIOLOGI FK UNSRAT BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 1 JANUARI 2011 – 31 DESEMBER 2011 Ismail, Muhammad Rizal
e-CliniC Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : e-CliniC

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.665 KB)

Abstract

Diabetes is a major threat to human health in the 21st century. WHO to estimate that in 2025, number of people with diabetes over of 20 years will develop to 300 million people. Diabetes mellitus is also a disease that can lead to many complications one of them pulmonary tuberculosis, this complication be enforced with radiodiagnostic like thorax photo. The purpose of this study is to know about description of thorax photo in adult patients with a clinical diagnosis of diabetes mellitus with pulmonary tuberculosis in Department/SMF Radiology Faculty of Medicine UNSRAT BLU RSUP Prof. dr. R. D. Kandou Manado period on 1st January 2011 – 31st December 2011. The study design was a retrospective descriptive study. The data are from request form sheet and radiographic response in the Department of Radiology and processed in descriptive. Results of this study indicate the number of patients with radiologic diagnosis of diabetes mellitus who accompanied pulmonary tuberculosis as many as 90 patients. Most cases are in the age of 56 - 65 years (41.11%) with the man that is equal to 53.33%. With the results of thorax photo in infiltrate view the highest 30.00%. The conclusion is description of thorax photo in adult patients with a clinical diagnosis of diabetes mellitus with pulmonary tuberculosis were fewer compared to those without pulmonary tuberculosis with the highest infiltrates view. Keywords: Diabetes mellitus, thorax photo, pulmonary tuberculosisAbstrakDiabetes adalah salah satu ancaman utama bagi kesehatan umat manusia pada abad ke-21. WHO membuat perkiraan bahwa pada tahun 2025 jumlah pengidap diabetes di atas umur 20 tahun akan membengkak menjadi 300 juta orang. Diabetes melitus juga merupakan suatu penyakit yang bisa menimbulkan banyak komplikasi salah satunya tuberkulosis paru, komplikasi ini diketahui dengan menggunakan radiodiagnostik seperti foto toraks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang gambaran foto toraks pada penderita dewasa dengan diagnosis klinis diabetes melitus yang disertai tuberkulosis paru di Bagian/SMF Radiologi FK UNSRAT BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode 1 januari 2011 – 31 desember 2011. Desain penelitian ini adalah penelitian retrospektif yang bersifat deskriptif. Data berupa lembaran permintaan dan jawaban foto toraks di Bagian Radiologi dan diolah dalam bentuk deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah penderita dengan diagnosis radiologis diabetes melitus yang disertai tuberkulosis paru sebanyak 90 penderita. Kebanyakan kasus adalah pada umur 56 – 65 tahun (41,11%) dengan laki-laki yaitu sebesar 53,33%. Dengan hasil gambaran foto toraks terbanyak pada gambaran Infiltrat yaitu 30,00%. Kesimpulannya ialah dari hasil gambaran foto toraks pada penderita dewasa dengan diagnosis klinis diabetes melitus yang disertai tuberkulosis paru ternyata lebih sedikit dibandingkan dengan yang tanpa tuberkulosis paru dengan gambaran terbanyak yaitu infiltrat.Kata Kunci: Diabetes melitus, foto toraks, tuberkulosis paru

Page 1 of 72 | Total Record : 719