cover
Filter by Year
e-GIGI
JURNAL e-Gigi diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia (Komisariat Manado) bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni, Desember). e-Gigi memuat artikel telaah (review article), hasil penelitian, dan laporan kasus dalam bidang ilmu kedokteran gigi.
Articles
315
Articles
Uji Perbandingan Kekuatan Kompresi Tumpatan Resin Komposit dengan Teknik Incremental Horizontal dan Teknik Bulk

Mundung, Claudya, Wowor, Vonny N. S., Wicaksono, Dinar A.

e-GIGI Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : e-GIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Composite resin is one of the restoration material used in dental practice. Its strength and resistance factors toward usage and stability dimension lead to high compression strength to withstand mastication burden. This capacity has to be considered in choosing the composite resin as restoration material. This study was aimed to compare the compression strength of resin composites formed with horizontal incremental restoration technique and with bulk restoration technique. This was an experimental study conducted at Material Engineering Laboratory of the Faculty of Engineering Sam Ratulangi University Manado. There were six samples divided into 2 groups, each of 3 samples. The results showed that compression strength of resin composite formed with horizontal incremental technique was 199.45 MPa meanwhile of resin composite formed with bulk technique was 191.65 MPa. Conclusion: Compression strength of resin composite formed with horizontal incremental technique was higher than of resin composite formed with bulk technique.Keywords: resin composite, compression strength, incremental technique, bulk technique Abstrak: Resin komposit merupakan salah satu bahan restorasi yang sering digunakan di kedokteran gigi. Faktor kekuatan dan ketahanan terhadap penggunaan dan stabilitas dimensi memungkinkannya memiliki kekuatan kompresi yang besar untuk menahan beban kunyah. Hal ini merupakan salah satu keunggulan yang menjadi dasar pertimbangan saat memilih resin komposit sebagai bahan tumpatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan teknik penumpatan incremental horizontal dan teknik penumpatan bulk untuk kekuatan kompresi resin komposit. Jenis penelitian ialah eksperimental yang dilakukan di Laboratorium Rekayasa Material Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi. Sampel berjumlah 6 buah dibagi menjadi 2 kelompok, masing-masing terdiri dari 3 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan kompresi tumpatan resin komposit dengan teknik incremental horizontal sebesar 199,45 MPa dan tumpatan resin komposit dengan teknik bulk sebesar 191,65 MPa. Simpulan: Kekuatan tekanan kompresi tumpatan resin komposit menggunakan teknik incremental horizontal lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan teknik bulk.Kata kunci: resin komposit, kekuatan kompresi, teknik penumpatan incremental horizontal, teknik penumpatan bulk

Perubahan Warna Resin Komposit pada Perendaman Larutan Cuka (Asam Asetat) dan Jeruk Nipis (Citrus arantifolia)

Makasenda, Evica F.L, Wicaksono, Dinar A., Khoman, Johanna A.

e-GIGI Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : e-GIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: In this globalization era, Indonesian people especially in Sulawesi Utara are aware of oral health. Their awareness is related to oral diseases as well as aesthetics. Good aesthetics can be achieved by using several methods inter alia composite resin restoration. However, this composite resin undergoes discoloration in the mouth. To overcome the discoloration of the composite resin, alternative materials like acetic acid and lime that can remove the colored substances adhered on the composite resin are introduced. This study was aimed to determine the discoloration of composite resin immersed in acetic solution and in fresh lime juice. This was a true experimental study with a pretest and posttest group design. This study was conducted in 5 days. Daily observation at the same time was perormed by using spectrophotometer to all samples. Data were processed with Microsoft excel and presented in tables. The results showed that based on the spectrophotometer measurement, the composite resins’ color immersed in carbonate solution changed (became brighter) after immersion in acetic solution (from 0.72 to 1.52) and in lime juice (from 0.68 to 1.48). Conclusion: The color of discolored composite resins immersed in acetic acid solution and fresh lime juice became brighter.Keywords: composite resin, discoloration, acetic solution, lime. Abstrak: Pada era globalisasi saat ini, masyarakat Indonesia khususnya di Sulawesi Utara mulai sadar akan kesehatan gigi dan mulut. Kesadaran masyarakat tersebut tidak hanya mengenai penyakit gigi dan mulut, melainkan juga masalah estetik gigi. Estetik yang baik dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya tindakan penumpatan dengan menggunakan resin komposit. Resin komposit memiliki kecenderungan berubah warna pada saat digunakan di rongga mulut. Perubahan warna menjadi penyebab diperlukannya penggantian bahan tumpatan (resin komposit). Untuk menghemat biaya terdapat alternatif lain seperti asam cuka (asam asetat) dan jeruk nipis yang dapat mengangkat zat-zat warna yang menempel pada resin komposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan warna resin komposit yang direndam dalam larutan cuka dan perasan jeruk nipis. Jenis penelitian ialah eksperimental semu dengan pretest and posttest group design. Penelitian dilakukan selama 5 hari dan dilakukan pengamatan setiap harinya pada jam yang sama dengan menggunakan alat spektrofotometer untuk sampel larutan cuka dan sampel jeruk nipis. Data hasil penelitian diolah menggunakan program komputer microsoft excel dan disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan warna resin komposit yang direndam dalam larutan karbonasi selanjutnya direndam dalam larutan cuka dari 0,72 menjadi 1,52 dan dalam jeruk nipis dari 0,68 menjadi 1,48. Simpulan: Terdapat perubahan warna lebih cerah pada resin komposit yang direndam pada larutan cuka dan jeruk nipis.Kata kunci: Resin komposit, perubahan warna, larutan cuka, jeruk nipis

66 Perbedaan Pelepasan Ion Nikel (Ni) dan Kromium (Cr) Kawat Ortodonti Stainless Steel pada Perendaman Pasta Gigi Ortodonti dan Non-Ortodonti

Wondal, Loisaviny H. D., Anindita, P. S., Tambunan, Elita

e-GIGI Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : e-GIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Recently, orthodontic toothpaste with colostrum has been introduced which is different from non-orthodontic toothpaste. Albeit, orthodontic and non-orthodontic toothpastes contain citric acid and some kinds of sodium compounds that can initiate corrosion of stainless steel orthodontic archwire indicated by the release of nickel and chromium ions. This study was aimed to determine the difference in nickel and chromium ion releases from the stainless steel orthodontic archwires immersed in artificial saliva plus orthodontic toothpaste or non-orthodontic toothpaste. This was a true experimental study with a post-test only control group design. Samples were stainless steel orthodontic archwires immersed in artificial saliva plus orthodontic toothpaste or non-orthodontic toothpaste. Released nickel and chromium ions were analyzed with atomic absorption spectrometer (AAS). In both treatment groups (orthodontic and non-orthodontic pastes), the independent t-test showed that the P value of released nickel ions was 0.572 and of released chromium ions was 0.059 (P >0.05). Conclusion: There were no significant differences between the release of nickel and chromium ions of stainless steel orthodontic archwires immersed in artificial saliva plus orthodontic toothpaste and in artificial saliva plus non-orthodontic toothpaste.Keywords: stainless steel orthodontic archwire, nickel and chromium ion, orthodontic and non-orthodontic toothpaste. Abstrak: Dewasa ini sudah tersedia pasta gigi ortodonti dengan kandungan colostrum yang membedakannya dengan pasta gigi non-ortodonti. Pasta gigi ortodonti dan non-ortodonti mengandung citric acid dan beberapa jenis senyawa sodium yang dapat memicu terjadinya korosi pada kawat ortodonti stainless steel yang ditandai dengan pelepasan ion nikel dan kromium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan jumlah pelepasan ion nikel dan kromium kawat ortodonti stainless steel yang direndam dalam pasta gigi ortodonti dan non-ortodonti. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan post-test only control group design. Sampel yang digunakan yaitu kawat ortodonti stainless steel yang direndam dalam saliva artifisial ditambahkan pasta gigi ortodonti atau yang non-ortodonti. Pelepasan ion nikel dan kromium dianalisis menggunakan Spektrometri Serapan Atom (SSA). Hasil uji t tidak berpasangan pada kelompok perlakuan baik larutan pasta gigi ortodonti maupun yang non-ortodonti menunjukkan pelepasan ion nikel dengan P=0,572 dan pelepasan ion kromium dengan P=0,059 (P >0,05). Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna pelepasan ion nikel dan kromium pada kawat ortodonti stainless steel yang direndam dalam saliva artifisial ditambahkan pasta gigi ortodonti dibandingkan pasta non ortodonti.Kata kunci: kawat ortodonti stainless steel, nikel, kromium, pasta gigi ortodonti dan non ortodonti

Pengaruh Konsumsi Pir (Pyrus) terhadap Indeks Debris pada Siswa SD Garuda di Kota Manado

Sipayung, Tanindy M., Gunawan, Paulina N., Khoman, Johanna A.

e-GIGI Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : e-GIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Oral hygiene is part of body health that can not be separated one from another. One of the oral diseases that commonly occurs among children is dental caries. The influencing factor that causes caries is debris or food residue around the teeth. Mastication of fibrous food like pear could clean the teeth. Pear fruit is rich of nutritive materials which are able to block the growth of Streptococcus mutans on the formed teeth and to enhance bacterial protein denaturation. This study was aimed to obtain the effect of pear consumption on debris index in children aged 9 years at Garuda elementary school in Manado. This was a quasi-experimental study with a pre and post-test design. Population was all of the students aged 9 years at Garuda elementary school in Manado. There were 48 students as samples obtained by using total sampling method. The results showed that the average difference of debris index value in the experimental group was 1.04 and in the control group was 0.34. The Mann-Whitney test obtained a P value of 0.000 (<0.05) that indicated significant differences between the former and the later debris index in the experimental group and the control group. Conclusion: Pear consumption could influence the debris index in children aged 9 years at Garuda elementary school in Manado.Keywords: pear, debris indexAbstrak: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan sebab kesehatan gigi dan mulut memengaruhi kesehatan tubuh. Salah satu penyakit mulut yang paling sering terjadi pada anak ialah karies gigi. Faktor pendukung penyebab terjadinya karies gigi yaitu debris atau sisa makanan yang terdapat di sekitar gigi. Mengunyah makanan berserat seperti buah pir dapat membantu membersihkan gigi. Buah pir kaya akan zat gizi yang mampu menghambat bakteri Streptococcus mutans pada pembentukan gigi serta mendenaturasi protein sel bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi buah pir (Pyrus) terhadap indeks debris pada anak usia 9 tahun di SD Garuda Manado. Jenis penelitian ialah eksperimental semu dengan pre and post-test design. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa SD Garuda Manado yang berusia 9 tahun. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling yang berjumlah 48 sampel. Hasil penelitian pada kelompok eksperimen mendapatkan nilai selisih rerata indeks debris sebesar 1,04 dan pada kelompok kontrol nilai selisih rerata indeks debris sebesar 0,34. Uji Mann-Whitney mendapatkan nilai P = 0,000 (< 0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara selisih indeks debris awal dan akhir pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol. Simpulan: Terdapat pengaruh konsumsi buah pir (Pyrus) terhadap indeks debris pada anak usia 9 tahun di SD Garuda Manado.Kata kunci: buah pir, indeks debris

Pengaruh Motivasi Ekstrinsik terhadap Tingkat Kepatuhan Pemakai Gigi Tiruan Lepasan di Kelurahan Batu Kota

Iksan, Nurwahid P., Wowor, Vonny N. S., Pangemanan, Damajanty H. C.

e-GIGI Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : e-GIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: The purpose of artificial teeth is to replace the lost teeth and to maintain the function of mastication and speech. Lack of personal mindset to wear denture leads to poor compliance. Motivation can affect personal mindset or attitude. Extrinsic motivation can make the denture wearers become more compliant. This study was aimed to determine the effect of extrinsic motivation on the compliance of removable denture wearers as well as the compliance level of the denture wearers at Batu Kota Manado. This was an analytical descriptive study using a cross sectional design. There were 81 respondents in this study obtained by using purposive sampling method. We used questionnaires which were already tested in terms of validity and reliability. Data were analyzed by using the simple regression test. The results showed that the extrinsic motivation of 60.5% respondents belonged to moderate category, 23.5% to high category, and 16% to low category. Based on the compliance level, 55.6% of respondents were in moderate level, 24.7% in low level, and 19.7% in high level. The simple regression test showed a P value of 0.000 (<0.05). Conclusion: Extrinsic motivation and compliance level of removable denture wearers were generally moderate. Moreover, extrinsic motivation could influence the level of compliance of the removable denture wearers at Batu Kota Manado.Keywords: extrinsic motivation, compliance, removable denture Abstrak: Pemakaian gigi tiruan bertujuan untuk menggantikan gigi yang hilang dan mence-gah terjadinya gangguan fungsi pengunyahan hingga fungsi bicara. Kurangnya pola pikir seseorang terhadap pemakaian gigi tiruan menyebabkan kepatuhan yang rendah. Motivasi dapat memengaruhi pola pikir atau sikap seseorang. Motivasi ekstrinsik dapat menjadikan pengguna gigi tiruan menjadi taat dan patuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi ekstrinsik terhadap tingkat kepatuhan pemakai gigi tiruan di Kelurahan Batu Kota. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian sebanyak 81 responden diperoleh dengan metode purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Analisis hasil penelitian menggunakan uji statistik regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 60,5% masyarakat Kelurahan Batu Kota memiliki motivasi ekstrinsik sedang, 23,5% tinggi, dan sebanyak16% rendah. Sebanyak 55,6% masyarakat memiliki tingkat kepatuhan sedang, 24,7% rendah, dan 19,7% tinggi. Hasil uji regresi sederhana mendapatkan P=0,000 (<0,05). Simpulan: Motivasi ekstrinsik masyarakat pemakai gigi tiruan lepasan dan tigkat kepatuhan umumnya tergolong sedang. Terdapat pengaruh motivasi ekstrinsik terhadap tingkat kepatuhan pemakai gigi tiruan lepasan di Kelurahan Batu Kota Manado.Kata kunci: motivasi ekstrinsik, kepatuhan, gigi tiruan lepasan

Gambaran Karies Gigi pada Penyandang Diabetes Melitus di Rumah Sakit Kalooran Amurang

Ampow, Falen V., Pangemanan, Damajanty H. C., Anindita, Pritartha S.

e-GIGI Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : e-GIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Dental caries is caused by certain bacteria that have acid-forming properties. Due to these bacteria, a low pH in the oral cavity is achieved which may cause slow enamel demineralization and form a ferocious focus. Diabetes mellitus (DM), a metabolic disorder characterized by hyperglycemia, is one of the predisposing factors of dental caries. This study was aimed to obtain the profile of dental caries in people with diabetes mellitus. This was a descriptive study with a cross sectional design. Subjects were diabetic patients at the Internal Medicine Department of Kalooran Hospital Amurang. There were 50 patients in this study obtained by using total sampling technique. Diabetic status was determined by using random blood glucose level (Perkeni 2011) meanwhile caries status was assessed by using DMF-T score. Data were processed by using SPSS and then were presented in tabular form. The results showed that very high caries index was found in 16.0% of subjects with good blood glucose control, 30.0% with moderate blood glucose control, and 36.0% with poor blood glucose control; the total number was 82.0% of subjects. Most subjects had diabetes for 5-10 years (44.0%) with very high caries index (40.0%). Conclusion: Most diabetic patients had very high caries index with the highest percentage in patients with DM for 5-10 years and in patients with poor blood glucose control.Keywords: diabetes mellitus, blood glucose level, dental caries Abstrak: Karies gigi terjadi oleh karena bakteri-bakteri tertentu yang mempunyai sifat membentuk asam sehingga terjadi pH rendah yang dapat menyebabkan pelarutan mineral enamel secara perlahan dan membentuk fokus perlubangan. Diabetes melitus (DM) yang ditandai dengan keadaan hiperglikemia merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karies gigi pada penyandang DM. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ialah penyandang DM di Poliklinik Penyakit Dalam RS Kalooran Amurang yang berjumlah 50 orang, diambil dengan teknik total sampling. Status DM dinilai melalui kadar glukosa darah sewaktu (Perkeni 2011), sedangkan status karies dinilai menggunakan skor DMF-T. Data diolah menggunakan SPSS kemudian disajikan dalam bentuk tabel. Hasil penelitian menda-patkan kategori indeks karies sangat tinggi ditemukan pada 16,0% subyek dengan kontrol gula darah baik, 30,0% dengan kontrol gula darah sedang, dan 36,0% dengan kontrol gula darah buruk; jumlah total 82,0% subyek. Subjek terbanyak ialah penyandang DM 5-10 tahun (44,0%) dengan kategori indeks karies sangat tinggi (40,0%). Simpulan: Sebagian besar penyandang DM memiliki kategori indeks karies sangat tinggi dengan persentase tertinggi pada penyandang DM 5-10 tahun dan penyandang DM dengan kontrol gula darah yang buruk.Kata kunci: diabetes melitus, kadar gula darah, karies gigi

Uji Konsentrasi Hambat Minimum Ekstrak Daun Gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) terhadap Pertumbuhan Streptococcus mutans

Rori, Benedicta N. D., Khoman, Johanna A., Supit, Aurelia S. R.

e-GIGI Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : e-GIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: The main problem in dental health is dental caries that occurs due to the fermentation by Streptococcus mutans bacteria. Gedi leaf (Abelmoschus manihot L. Medical) is one of the common plants in Northern Celebes that contains antimicrobial compounds namely flavonoid, alkaloid, steroid, and saponin; all of them have been proved to inhibit the growth of S. mutans. This study was aimed to determine the minimal inhibitory concentration (MIC) of gedi leaf extract (Abelmoschus manihot L. Medical) to S. mutans growth. This was a true experimental study with a randomized pretest-posttest control group design. The method used in this study was serial dilution method with turbidimetry and spectrophotometry. Samples of gedi leaves were obtained at Paal 2 Manado, and were extracted with maceration method using ethanol 96%. S. mutans bacteria were obtained from the pure bacterial stock at Microbiology Laboratory of Pharmacy Study Program, Faculty of Mathematics and Natural Science University of Sam Ratulangi Manado. The turbidimetry test showed that the tube content became clearer at 25% of extract concentration. Moreover, the UV-Vis spectro-photometer showed a decrease of OD value for the first time at 25% of extract concentration. Conclusion: The minimal inhibitory concentration (MIC) of gedi leaf extract (Abelmoschus manihot L. Medical) to Streptococcus mutans growth was at concentration of 25%.Keywords: gedi leaf (Abelmoschus manihot L. Medical), Streptococcus mutans, MIC, dental caries Abstrak: Masalah utama dalam kesehatan gigi ialah karies gigi yang terbentuk karena proses peragian oleh bakteri Streptococcus mutans. Daun gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) merupakan salah satu tanaman khas daerah Sulawesi Utara yang mengandung senyawa antimikroba berupa flavonoid, alkaloid, steroid, dan saponin yang telah terbukti memiliki efek antibakteri terhadap pertumbuhan S. mutans. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) terhadap pertumbuhan S. mutans. Jenis penelitian ialah eksperimental murni dengan pretest-posttest control group design. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode serial dilusi dengan pengujian turbidimetri dan spektrofotometri. Daun gedi diperoleh dari Kecamatan Paal 2 Manado, dan diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Bakteri S. mutans diambil dari stok bakteri murni Laboratorium Mikrobiologi Program Studi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil pengujian turbidimetri memperlihatkan bahwa larutan dalam tabung terlihat mulai jernih pada konsentrasi ekstrak 25%. Pada pengujian spektrofotometer UV-Vis terlihat penurunan nilai OD pertama kali pada konsentrasi 25%. Simpulan: Konsentrasi hambat minimum ekstrak daun gedi (Abelmoschus manihot L. Medik) terhadap pertumbuhan Streptococcus mutans terdapat pada konsentrasi 25%.Kata kunci: daun gedi (Abelmoschus manihot L. Medik), Streptococcus mutans, KHM, karies

Hubungan Penggunaan Rokok Elektrik dengan Status Kebersihan Gigi dan Mulut pada Komunitas Manado Vapers

Oroh, Junior N.W., Suling, Pieter L., Zuliari, Kustina

e-GIGI Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : e-GIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: E-cigarette or electronic cigarette is one of the methods of nicotine replacement therapy (NRT) designed to replace nicotine intake without tobacco. Initially, it was thought that the e-cigarette was a much safer alternative than the conventional cigarette. In fact, this e-cigarette can still pose dangerous side-effects to the users’ general health, including oral and dental health. This study was aimed to identify the relationship between the frequency of e-cigarette use and dental and oral health status in a community called Manado vapers in Manado. Samples were 32 e-cigarette users obtained by using total sampling of the community that fulfilled the inclusion criteria of this study. This was a descriptive analytical study with a cross-sectional design. Data were obtained by using questionnaire and OHI-S index. The Pearson’s correlation test performed on the relationship between the frequency of e-cigarette and oral health as well as dental health obtained a P value of 0.556. Conclusion: There was no significant relationship between frequency of e-cigarette use and oral and dental health among Manado vapers community in Manado.Keywords: smoking, e-cigarette, oral and dental health status Abstrak: Rokok elektrik merupakan salah satu nicotine replacement therapy (NRT) yang dirancang untuk memberikan asupan nikotin tanpa pembakaran tembakau. Cara ini dikatakan lebih aman daripada rokok konvensional, namun ternyata tetap terdapat dampak bagi kesehatan tubuh, termasuk juga kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan frekuensi penggunaan rokok elektrik dengan status kebersihan gigi dan mulut pada komunitas Manado vapers di kota Manado. Sampel penelitian ini yaitu 32 responden yang merupakan anggota Manado vapers pengguna rokok elektrik diambil menggunakan metode total sampling. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan indeks OHI-S. Hasil uji korelasi Pearson terhadap hubungan antara frekuensi penggunaan rokok elektrik dengan status kebersihan gigi dan mulut mendapatkan nilai P = 0,556. Simpulan: Tidak terdapat hubungan bermakna antara frekuensi penggunaan rokok elektrik dengan status kebersihan gigi dan mulut pada komunitas Manado vapers di kota Manado.Kata kunci: merokok, rokok elektrik, status kesehatan gigi dan mulut

Nilai pH Saliva pada Buruh Perokok di Pelabuhan Bitung

Syukri, Dwi M., Suling, Pieter L., Mintjelungan, Christy N.

e-GIGI Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : e-GIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: Saliva is a complex fluid composed of a mixture of major and minor salivary glands in the oral cavity. The role of saliva is as a protective base between the lining of the oral cavity and toxins. Smoking can affect the physiological function of saliva because smoking destroys molecules in saliva that are useful in protecting the oral cavity, therefore, lack of sensitivity and changes in the sense receptor of taste occur. Saliva acidity setting includes protein, bicarbonate, and phosphate systems. This study was aimed to determine the salivary pH of the habitual smokers among the laborers at Bitung Port. This was an observational descriptive study using a cross sectional design. Respondents were 30 laborers (males and females) who were habitual smokers, aged 18-45 years old obtained by using purposive sampling technique. The results showed that 13 respondents (43.3%) had normal salivary pH (pH 6.4-7) and 17 respondents (56.7%) had basic salivary pH (pH >7). The average pH of all respondents was 7.18. Conclusion: Laborers who were habitual smokers at Bitung port had normal or basic salivary pH.Keywords: salivary pH, laborers, habitual smokers Abstrak: Saliva merupakan cairan mulut yang kompleks terdiri dari campuran sekresi kelenjar saliva mayor dan minor di dalam rongga mulut dan berperan sebagai pelindung basa antara lapisan mulut dan toksin. Saliva memiliki kemampuan dalam pengaturan derajat keasaman yang berperan penting dalam menjaga nilai pH di lingkungan mulut seseorang. Merokok dapat memengaruhi fisiologi saliva karena merokok dapat menghancurkan molekul dalam saliva yang berguna dalam melindungi rongga mulut sehingga akan menyebabkan kurangnya sensitivitas dan perubahan reseptor dari indra perasa. Pengaturan keasaman saliva meliputi sistem protein, bikarbonat, dan fosfat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pH saliva pada buruh perokok di pelabuhan Bitung. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan menggunakan desain potong lintang. Subjek penelitian ini ialah buruh perokok di pelabuhan Bitung dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan berusia 18-45 tahun. Terdapat 30 responden yang diperoleh dengan mengunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian mendapatkan bahwa 13 responden (43,3%) dengan pH saliva normal (pH berkisar 6,4-7), dan 17 responden (56,7%) dengan pH basa (pH >7). Nilai rerata pH responden sebesar 7,18. Simpulan: Buruh perokok di pelabuhan Bitung memiliki pH saliva normal atau basa.Kata kunci: pH saliva, buruh, perokok

Hubungan Kecemasan terhadap Perawatan Gigi dengan Indeks DMF-T pada Anak Usia 10–12 Tahun di SD Negeri 27 Manado

Khasanah, Uswatun, Gunawan, Paulina, Munayang, Herdy

e-GIGI Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : e-GIGI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract: One of the most chronic dental diseases suffered by children is caries. Child anxiety during dental care often becomes a hindrance for dentists in order to give the best or optimum care or treatment. Therefore, it is important for the dentists to have a good relationship with patients, especially children. Childern who have a positive interaction with their dentists could overcome their anxiety, so they will not be afraid to go to the dentist. This study was aimed to analyze the relationship between child anxiety during dental care and DMF-T index among children aged 10–12 years old at SDN 27 Manado (elementary school). Subjects were children aged 10–12 years old who had experienced tooth treatment. This was an analytical descriptive study with a cross-sectional design. Data were obtained by using Dental Anxiety Scale (DAS) questionnaire and DMF-T examination. The data were analyzed with the Pearson simple correlation test. The results showed that of 40 subjects, 7 children (17.5%) were not anxious for dental care, 24 children (60%) were slightly anxious, 7 children (17.5%) were anxious, and 2 children (5.0%) were very anxious. The DMF-T score 3-5 was the most common, each of 6 children (15%), meanwhile the most rare was the DMF-T scores of 10 and 15, each of 1 child (2.5%). The Pearson test of the correlation between anxiety during dental treatment and DMF-T index showed a P of 0.472. Conclusion: There was no significant correlation between child anxiety for dental care and DMF-T index.Keywords: feeling of anxiety, dental care, DMF-T index Abstrak: Salah satu penyakit kronis yang paling sering diderita anak ialah karies. Kecemasan anak saat menjalani perawatan gigi sering menjadi penghalang bagi dokter gigi untuk memberikan perawatan yang optimal. Oleh karena itu, penting bagi dokter gigi menjalin hubungan yang baik dengan pasien khususnya pasien anak. Anak yang memiliki interaksi positif terhadap dokter gigi dapat mengatasi rasa cemasnya, sehingga mereka tidak akan takut ke dokter gigi dan memiliki kesehatan gigi dan mulut yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kecemasan terhadap perawatan gigi dengan indeks DMF-T pada anak usia 10–12 tahun di SDN 27 Manado. Subyek penelitian yaitu anak berusia 10-12 tahun yang sudah pernah menerima perawatan gigi sebelumnya. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Pengumpulan data menggunakan pengisian kuesioner Dental Anxiety Scale (DAS) dan pemeriksaan DMF-T. Analisis data menggunakan uji korelasi sederhana Pearson. Hasil penelitian menunjukkan dari 40 responden, 7 anak (17,5%) tidak cemas terhadap perawatan gigi, 24 anak (60%) cemas ringan terhadap perawatan gigi, 7 anak (17,5%) cemas sedang terhadap perawatan gigi, 2 anak (5,0%) cemas berat terhadap perawatan gigi. Skor DMF-T 3-5 merupakan jumlah terbanyak masing-masing 6 anak (15%), paling sedikit pada skor DMF-T 10 dan 15 masing-masing sebanyak 1 anak (2,5%). Uji Pearson terhadap hubungan antara perasaan cemas anak terhadap perawatan gigi dengan indeks DMF-T mendapatkan nilai P=0,472. Simpulan: Tidak terdapat korelasi antara perasaan cemas anak terhadap perawatan gigi dengan indeks DMF-T.Kata kunci: perasaan cemas, perawatan gigi, indeks DMF-T