cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 20, No 4 (2014)
10
Articles
Pengaruh Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Versus Ekspositori dan Gaya Kognitif terhadap Hasil Belajar Konsep Fisika Siswa Kelas X SMA

--, Prayekti ( Universitas Terbuka )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 4 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.094 KB)

Abstract

This research aims to examining: 1) The learning outcomes differences on theunderstanding and application of physics concept between groups of students who learned through STAD cooperative learning and expository learning; 2) The learning outcome differences on physics concept understanding and application among students with different cognitive styles; 3) The learning outcome influences of physics comprehension; 4) The interaction effect between learning and cognitive style on learning outcomes of physics. This research used a quasiexperimental research with factorial of non-equivalent control group design, which is implemented in four classes, determined by lottery, such as XMIA A class, XMIA B class, XMIA C class, XMIA D class at SMAN 58 Jakarta Timur with 144 students altogether. Two classes were as the experimental classes and two other class were as the control classes. Learning outcomes data were collected through pretes and pos tes and analyzed by using statistical MANCOVA test helped by SPSS 15. The result showed that: 1) STAD learning strategy demonstrate learning outcomes of comprehension and application of physics concept is better than expository learning strategies; 2) students who have field independent cognitive styles demonstrate learning outcomes of comprehension physics concepts is better than students who have a field dependent cognitive style; 3) there is an interaction between learning strategies and cognitive style on learning outcomes of comprehension physics concepts; and 4) there is no interaction between learning strategies and cognitive style on learning outcomes of physics concepts application. STAD learning strategy demonstrate learning outcomes of comprehension and application of physics concept is better than expository learning strategies.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji: 1) perbedaan hasil belajar pemahaman dan aplikasi konsep fisika antara kelompok siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD dan pembelajaran ekspositori; 2) perbedaan hasil belajar pemahaman dan aplikasi konsep fisika antara siswa yang memiliki gaya kognitif berbeda;3) pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran tipe STAD versus ekspositori dan gaya kognitif terhadap hasil belajar pemahaman fisika;dan 4) pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap hasil belajarfisika.Metode yang digunakan quasi eksperimen dengan rancangan faktorial nonequivalent control group design, yang dilaksanakan pada empat kelas, ditentukan melalui undian yaitu kelas A dan B sebagai kelas control sedangkan kelas C dan D sebagai kelas eksperimen di SMA Negeri 58 Jakarta Timur berjumlah 144 orang. Data hasil belajar dikumpulkan dengan pretes dan postes, dianalisis dengan menggunakan uji statistik MANCOVA berbantuan program SPSS 15. Hasil penelitian: 1) strategi pembelajaran tipe STAD menunjukkan hasil belajar pemahaman dan aplikasi konsep fisika yang lebih baik daripada strategi pembelajaran ekspositori; 2) siswa yang memilikigaya kognitif field independent menunjukkan hasil belajar pemahaman dan aplikasi konsep fisika yang lebih baik daripada siswa yang memiliki gaya kognitif field dependent; 3) terdapat interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap hasil belajar pemahaman konsep fisika; dan 4) tidak ada interaksi antara strategi pembelajaran dan gaya kognitif terhadap hasil belajar aplikasi konsep fisika. Strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD menunjukkan hasil belajar pemahaman konsep fisika yang lebih baik daripada strategi pembelajaran ekspositori, dan Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar pemahaman konsep fisika pada kedua kelompok gaya kognitif.

Kontribusi Delapan Standar Nasional Pendidikan terhadap Pencapaian Prestasi Belajar

Raharjo, Sabar Budi ( Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 4 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.045 KB)

Abstract

National education standards is a means to ensure the quality of educational services. School administrators must fulfill minimum standards in helping students to achieve learning target. The purpose of this study was to determine the achievement of national education standards and the extent to which they contribute to eight national education standards towards the learning achievemen of high school students. The research method is a survey. The results showed that first, among the achievement of eight national education standards, educational facilities and infrastructures standards, process standards competency standards and education professional standards were considered low. Second, the eight national education standards contribute less significant to student national examination score. This means that successful learning achievement is determined by other factors, both internal and external, such as motivation, interest, parental background, school environment. From the eight standards, teacher and education personnel standard give significant influence to national students exam results. The first conclusions is that, four standards with below average accreditation credits are educational facilities and infrastructures standards, process standards, competency standards, and education professional standards. Secondly, the contribution of eight national standards of education is still relatively less and other factors are needed in order to improve the students’ learning achievement.ABSTRAK Standar nasional pendidikan merupakan sarana untuk menjamin mutu layananpendidikan. Dalam memberikan layanan pendidikan pengelola sekolah berusaha memberikan standar minimal kepada peserta didik dalam mencapai prestasi belajar. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui ketercapaian standar nasional pendidikan dan sebesarapa besar kontribusi delapan standar nasional pendidikan terhadap pencapaian prestasi belajar siswa SMA. Metode penelitian adalah survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) dari delapan standar yang ada, standar yang masih rendah adalah standar sarana-prasarana, standar proses, standar kompetensi, dan standar tenaga pendidik dan kependidikan; 2) Delapan standar nasional pendidikan terhadap prestasi belajar (UN) tidak terlalu signifikan. Hal ini berarti bahwa keberhasilan prestasi belajar ditentukan oleh faktor lain baik internal maupun eksternal seperti motivasi, minat, latar belakang orang tua, dan lingkungan sekolah. Dari 8 standar tersebut, standar yang memiliki pengaruh signifikan terhadap UN adalah standar pendidik dan tenaga kependidikan (PTK). Simpulan dari penelitian ini: 1) empat standar yang masih rendah perolehan angka akreditasi yaitu standar sarana-prasarana, standar proses, standar kompetensi dan, standar tenaga pendidik dan kependidikan masih rendah; 2) kontribusi delapan standar masih relatif kecil dan perlu memperhatikan faktor lain di luar standar dalam perbaikan mutu prestasi belajar.

Mengkaji Revolusi Mental dalam Konteks Pendidikan

Indriyanto, Bambang ( Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 4 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.668 KB)

Abstract

The objective of this article is to assess the meaning of mental revolution within educational context from two perspectives namely citizenship education and the national education system. In this article, the proposition purposed is that the citizenship education as a part of the national education system. In order to materialize the efficacy of citizenship, education roles of teachers are enhanced by including transferring, transforming, and transcending roles. With these three roles, education outcomes will lead to the establishment of Indonesian to become productive and democratic, as well as are able to preserve social harmonies. To achieve both the objectives of education system as well as citizenship education, curriculum serves as reference and direction for teachers in the articulation of concepts of subject matters. ABSTRAK Tujuan tulisan ini adalah untuk mengkaji makna revolusi mental dalam konteks pendidikan dari dua sudut pandang, yaitu pendidikan kewarganegaraan dan sistem pendidikan nasional. Pada tulisan ini proposisi yang diajukan adalah bahwa pendidikan kewarganegaraan merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional. Untuk mewujudkan kemanjuran pendidikan kewarganegaraan peran guru diperluas dengan mencakup peran transferring, transforming, dan transcending. Dengan ketiga peran ini, hasil pendidikan dalam arti outcome dapat mendorong pembentukan manusia Indonesia yang produktif dan bersikap demokratis serta mampu memelihara harmonisasi kehidupan sosial. Untuk mencapai tujuan sistem pendidikan pada umumnya dan pendidikan kewarganegaraan pada khususnya, kurikulum berperan sebagai rujukan dan arah bagi guru dalam mengartikulasikan konsep-konsep yang terkandung dalam mata pelajaran.

Pendidikan Budi Pekerti pada Kurikulum Sekolah Dasar

--, Sutjipto ( Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 4 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.864 KB)

Abstract

This article analysed the position of character education within primary school curriculum in Indonesia based on philosophical critical review. The analysis wa carried out using the method of documentation. The results showed that since the post-independence moral education has been strategically placed on the curriculum in Indonesia in three ways, namely stand alone as a subject, combined with relevant subjects, and integrated into other subjects. The domain of character education to fulfill the learners with moral life and character in order to behave well, is considered important to be applied into the primary school curriculum. It is important that implementation efforts to explore habituation, practice, and exemplary environmental conditioning.ABSTRAK Artikel ini mengkaji posisi pendidikan budi pekerti pada kurikulum sekolah dasar di Indonesia didasarkan tinjauan kritis filosofis. Kajian yang dilakukan menggunakan metode studi dokumentasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa sejak masa pasca kemerdekaan, pendidikan budi pekerti ditempatkan secara strategis pada kurikulum pendidikan di Indonesia dalam tiga hal, yakni berdiri sendiri sebagai mata pelajaran, digabung dengan mata pelajaran yang relevan, dan terintegrasi ke dalam mata pelajaran lain. Domain pendidikan budi pekerti yang mengisi jiwa peserta didik dengan moral dan akhlak agar bertingkah laku yang baik, penting untuk diwujudkan ke dalam kurikulum sekolah dasar. Yang perlu diperhatikan dalam implementasinya adalah upaya pembiasaan, pengamalan, pengkondisian lingkungan, dan keteladanan.

Perahu dalam Pamali Orang Bajo: Tinjauan Semiotika Sosial Halliday

--, Uniawati ( Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 4 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.74 KB)

Abstract

This research describes the meaning of taboos (pamali) related to boats which answer their main problem in order to understand the cultural values of the Bajo and use them for the young generation. In understanding the condition of the sea in order to safely sail the ocean and be superior. Qualitative method and Halliday theory about social semiotics were applied. Data to analyse were verbal taboos related to boats and were obtained from tier interviews with public figures including informal leaders as informants . The analysis showed that taboos of the Bajo were signs of meaningful symbols. It is the concluded that the meaning of these taboos were based on a semiotic viewpoint which describe the fishing tradition and socio-cultural conditions of the Bajo as sailors who dominate the sea. The desire to maintain the sense of superiority over the sea encouraged these people to preserve Bajo taboos in the hope of their next generation will follow the footsteps of the predecessor.ABSTRAK Tulisan ini mengkaji makna yang terkandung dalam pamali orang Bajo yang berhubungan dengan perahu untuk memahami nilai-nilai budaya orang Bajo dan mendayagunakannya untuk generasi muda dalam memahami kondisi laut sehingga dapat mengarungi lautan dengan selamat dan unggul. Untuk mengkaji digunakan metode kualitatif dengan memanfaatkan teori semiotika sosial Halliday. Data yang dianalisis adalah data lisan berupa pamali yang berhubungan dengan perahu yang diperoleh melalui wawancara secara berjenjang terhadap tokoh-tokoh informal yang berstatus sebagai informan, termasuk tokoh masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa pamali orang Bajo merupakan suatu tanda simbol yang bermakna. Disimpulkan bahwa makna pamali tersebut berdasarkan sudut pandang semiotik menggambarkan tradisi melaut dan kondisi sosial-budaya orang Bajo sebagai pelaut yang merajai lautan. Keinginan untuk mempertahankan rasa superioritas terhadap laut mendorong orang Bajo untuk tetap melestarikan pamali dengan harapan generasi mereka dapat mengikuti jejak pendahulunya.

Analisis Kelayakan dan Kesesuaian antara Latar Belakang Pendidikan Guru Sekolah Dasar dengan Mata Pelajaran yang Diampu

Jakaria, Yaya ( Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang, Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 4 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1005.213 KB)

Abstract

This study aimed at formulating alternative policies concerning quality of education focusing on suitable condition of primary school teachers to enhance the quality of education, and appropriateness of primary school teachers’ educational background towards their taught subject-matter. The study used a descriptive method to analyze data of each individual primary school teachers based on qualifications and seeking the order of academic inappropriateness of its subjects by making the specific criteria. The study showed that big number of primary school teachers have not met the minimal qualification as stipulated by the Act number 14 year 2005 in the amount of 67% of teachers both from public and private primary schools in Indonesia out of 1.501.236 teachers. 32.8% have met academic qualifications. Unsuitable subject-matter taught and educational background of primary school teachers reached 29.3% and the highest found for religion teachers at 54%.ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk merumuskan kebijakan alternatif yang terkait dengan mutu pendidikan difokuskan pada kondisi guru sekolah dasar (SD) yang layak terhadap peningkatan mutu pendidikan, dan kondisi guru SD antara mata pelajaran yang diampu dengan latar belakang pendidikannya dalam periode tahun 2010-2013.Studi ini menggunakan metode statistika deskriptif untuk menganalisis data tiap individu guru SD berdasarkan kualifikasi akademik dan mencari urutan mata pelajaran berdasarkan ketidaksesuaiannya dengan membuat kriteria khusus ketidaksesuaian mengajar. Hasil studi menunjukkan bahwa masih banyak guru SD yang belum berkualifikasi akademik sarjana sesuai dengan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 yang mencapai 67% dari seluruh guru SD negeri dan swasta di Indonesia yang total berjumlah 1.501.236 guru. Sisanya sebesar 32,8% sudah memenuhi kualifikasi akademik sarjana.Tingkat Ketidaksesuaian Guru SD mencapai angka 29.3%. dengan tingkat ketidaksesuaian paling tinggi terjadi pada Guru Agama yang mencapai 54%.

Isu Pendidikan dalam Kampanye Politik

Wisudawati, Diyan Nur Rakhmah ( Sekretariat Balitbang, Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 4 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.369 KB)

Abstract

The aim of this paper was to identify educational issues commonly used by political parties or candidates for district head/head of state to gain community support the campaign as education can serve as a medium of attraction in determining the direction of support and affiliation to political parties/candidates of particular district head/state head. Data and information were collected by literature study and analyzed using descriptive qualitative approach. It is concluded that political parties have tendency to raise simillar educational issues such as implementing free education, improving quality of teachers and educators, and increasing fascilities and educational budget. In some cases these issues are proven to be very effective in maximizing community support  egarding the process of determining the local leaders through the electoral process. What makes it so attractive in the political process is because education is considered as one of the essential parts of human basic needs which is a part of welfare enhancement process.ABSTRAK Tulisan ini untuk mengkaji isu pendidikan yang lazim digunakan partai politik atau calon Kepala Daerah/Kepala Negara untuk menjaring dukungan masyarakat dalam kampanye. Isu-isu pendidikan dapat menjadi daya tarik masyarakat dalam menentukan dukungan dan arah afiliasi terhadap partai politik/calon Kepala Daerah/Kepala Negara tertentu. Data dan informasi diperoleh melalui studi literatur yang dianalisis secara kualitatif deskriptif. Kesimpulannya adalah bahwa isu pendidikan yang ditawarkan partai politik dalam kampanye memiliki kecenderungan yang sama antar partai politik/antar peserta kampanye, di antaranya terkait dengan penyelenggaraan pendidikan gratis, peningkatan mutu guru dan tenaga pendidik, pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan serta peningkatan anggaran bidang pendidikan. Pada beberapa kasus terbukti bahwa isu tersebut berhasil memaksimalkan dukungan masyarakat dalam proses penentuan pemimpin daerah melalui proses pemilihan umum. Daya tarik isu pendidikan dalam proses politik disebabkan karena pendidikan dinilai sebagai salah satu bagian penting dari kebutuhan dasar manusia yang merupakan bagian dari proses menuju peningkatan kesejahteraan hidup.

Pengaruh Interaksi Sosial Keluarga, Motivasi Belajar, dan Kemandirian Belajar terhadap Prestasi Belajar

Mulyaningsih, Indrati Endang ( FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 4 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.61 KB)

Abstract

The purpose of this study was to determine empirically the influence of social interaction of family, achievement motivation and independent learning on students’ achievement at SMK Negeri 5 Surakarta. This study used quantitative approach and descriptive correlational method. The population in this study were students of SMK Negeri 5 Surakarta. Multiple regression analysis was used to analyze the hypothesis of major and minor. It can be concluded that:1) There is a significant family social interaction, achievement motivation, and independence of learning together with student achievement; 2) There is a significant association of social interaction families with student achievement; 3) There is a significant relationship with achievement motivation, student achievement, and 4) There is a significant relationship with the independent study student achievement. ABSTRAK Tujuan penelitian adalah untuk menentukan pengaruh interaksi sosial keluarga, motivasi belajar, dan kemandirian belajar terhadap prestasi belajar siswa SMK Negeri 5 Surakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional. Populasi penelitian ini adalah siswa-siswa SMK Negeri 5 Surakarta. Untuk menganalisis hipotesis utama dan tambahan menggunakan analisis regresi ganda. Kesimpulan yaitu: 1) ada pengaruh yang signifikan antara interaksi sosial dalam keluarga, motivasi belajar, dan kemandirian belajar secara bersama-sama terhadap prestasi belajar siswa; 2) ada pengaruh yang signifikan interaksi sosial dalam keluarga terhadap prestasi belajar siswa; 3) ada pengaruh yang signifikan motivasi belajar terhadap prestasi belajar siswa, dan 4) ada pengaruh yang signifikan kemandirian belajar terhadap prestasi belajar siswa.

Validitas Prediktif Bakat Skolastik dan Prestasi Belajar sebagai Kriteria Seleksi Masuk Perguruan Tinggi

--, Asrijanty ( Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 4 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.458 KB)

Abstract

The purpose of this study was to examine the predictive validity of scholastic aptitude and academic achievement in predicting higher education academic performance. The subject of this study was 157 undergraduate students in a university consisting of 104 Economics students and 53 Engineering students. The independent variables (predictors) are the scores in three subtests of Indonesian Scholastic Aptitude Test (TBS), namely verbal, quantitative, and Reasoning which represent scholastic aptitude; and three grades of National Exam (UN) in 2005, namely Indonesian, and English, Economics for science science students; Indonesian, English, and Math for science students. The dependent variable (criterion) was the cumulative grade point average in the first four semesters, called IPK. Data were analysed using correlational and regression analyses. The result shows differential predictive validity of scholastic aptitude test scores and UN grades in Economics and Engineering. In Economics, the three TBS subtests scores were significant predictors, while the three UN grades were not significant predictors. In Engineering, scores in two TBS subtests, namely Verbal and Quantitative, and two UN grades, namely English and Math, were significant predictors. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji validitas prediktif bakat skolastik (potensi akademik) dan prestasi belajar dalam memprediksi keberhasilan akademik di perguruan tinggi. Subjek penelitian adalah 157 mahasiswa tingkat sarjana jurusan Teknik (104 orang) dan jurusan Ekonomi (53 orang) suatu perguruan tinggi. Variabel independen (prediktor) adalah nilai tiga subtes Tes Bakat Skolastik (TBS): verbal, kuantitatif, dan penalaran, yang merepresentasikan bakat skolastik; dan tiga nilai Ujian Nasional (UN) tahun 2005, yang merepresentasikan prestasi belajar, meliputi nilai Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Ekonomi untuk jurusan IPS; dan nilai Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika untuk jurusan IPA. Variabel dependen (kriteria) adalah indeks prestasi kumulatif pada empat semester pertama (IPK). Data dianalisism dengan menggunakan analisis korelasional dan regresi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan validitas prediktif nilai subtes TBS dan nilai UN antara jurusan Ekonomi dan Teknik. Pada jurusan Ekonomi, ketiga nilai subtes TBS merupakan prediktor yang signifikan, sementara ketiga nilai UN secara statistik bukan merupakan prediktor yang signifikan. Pada jurusan Teknik, nilai pada dua subtes TBS, yaitu Verbal dan Kuantitatif dan dua nilai UN, yaitu Bahasa Inggris dan Matematika merupakan prediktor yang signifikan.

Literasi Matematika Siswa Pendidikan Menengah: Analisis Menggunakan Desain Tes Internasional dengan Konteks Indonesia

--, Mahdiansyah ( Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemdikbud ) , --, Rahmawati ( Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 4 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.3 KB)

Abstract

The purpose of the study was to measure students’ mathematical literacy achievement at secondary education level on the international test design adjusted to the context of Indonesia, and to analyze factors affecting the achievement. In addition, to conducting test, the survey was also administered to obtain data on the test participant students, maths teachers, and their educational background. Sampling was done by using a multi-stage stratified random sampling. This research revealed that the literacy achievement of students was still low, but the disparity of literacy achievement among cities was varied. Student literacy achievement in Yogyakarta was relatively evenly compared to other cities. Uncertainty and data is the most easily content compared to other mathematical contents. Examined from the aspect of context, scientific is the lowest achieved by students.The test items that measure higher order thinking skills (HOTS) had not been well mastered by students. There are number of determinants of mathematics literacy achievement, namely personal factor, instructional factor, and environmental factor. The conclusion of the study is students’ mathematical literacy at secondary educationlevel was still low, although the design of international test used had been adjusted by the Indonesian context.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengukur capaian literasi matematika siswa jenjang pendidikan menengah dengan menggunakan desain tes internasional yang disesuaikan dengan konteks Indonesia, serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi capaian literasi tersebut. Di samping melakukan tes kepada siswa SMA/MA, survei juga dilakukan untuk memperoleh data siswa peserta tes, guru matematika, dan latar belakang pendidikan. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik multi-stage stratified random sampling. Hasil penelitian mengungkapka capaian literasi siswa masih rendah, namun disparitas capaian literasi antarkota cukup bervariasi. Capaian literasi siswa Yogyakarta relatif merata dibandingkan dengan kotakota lainnya. Uncertainty and data merupakan konten yang paling mudah dibandingkan dengan konten matematika lainnya. Dikaji dari aspek konteks, scientific merupakan konteks yang paling rendah dicapai siswa. Adapun soal-soal tes yang mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills-HOTS) belum mampu dikuasai siswa dengan baik. Terdapat sejumlah faktor determinan dari capaian literasi matematika tersebut, yaitu faktor personal, faktor instruksional, dan faktor lingkungan. Kesimpulan studi adalah literasi matematika siswa jenjang pendidikan menengah masih rendah, meskipun desain tes internasional yang digunakan telah disesuaikan dengan konteks Indonesia.