cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 20, No 1 (2014)
11
Articles
Implementasi Pendekatan Belajar Aktif di Sekolah Menengah Atas

Panjaitan, Mutiara O. ( Pusat Kurikulum dan Perbukuan )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this study is to identify the level of implementation of active learning approach in curriculum documents as well as teaching-learning process in senior secondary schools in Indonesia. The study was conducted in 2012 in 99 districs of 33 provinces using multistage sampling. The result showed that almost all the schools (92,8%) already incorporate active learning approach into the curriculum document, ie the syllabus and lesson plan. However, in terms of implementation in teaching-learning process active learning approach has not been much done. It is known from the high levels of use of written test. Almost all (93,8%) teachers often use written tests to assess their students. Factors become obstacles in implementing active learning, such as inadequate availability of facilities, lack of teacher training, lack of learning resources, not enough time allocation, difficult to evaluate learning, inadequate teacher skills, low motivation of teacher, and the number of students is too many. ABSTRAKTujuan penelitian ini, yaitu untuk mengidentifikasi tingkat implementasi pendekatan belajar aktif dalam dokumen kurikulum dan proses belajar mengajar di SMA. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2012 di 99 kabupaten/kota dari 33 provinsi dengan menggunakan multistage sampling. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa hampir semua (92,8%) sekolah telah memuat pendekatan belajar aktif dalam dokumen kurikulum, yakni pada silabus dan RPP. Namun, dalam proses belajar mengajar pendekatan belajar aktif belum banyak dilaksanakan. Hal ini dapat diketahui dari tingginya tingkat penggunaan tes tertulis dalam penilaian. Hampir semua (93,8%) guru sering menggunakan tes tertulis untuk menilai siswa. Faktor-faktor yang menjadi kendala dalam mengimplementasikan belajar aktif, antara lain ketersediaan sarana yang tidak memadai, minimnya pelatihan terhadap guru, ketersediaan sumber belajar yang tidak mencukupi, ketersediaan waktu tidak mencukupi, jumlah siswa terlalu banyak, motivasi guru rendah, sulit melaksanakn evaluasi pembelajaran, dan kemampuan guru kurang memadai.

Peningkatan Kualitas Pendidikan melalui Seleksi dan Pelatihan Pengawas Sekolah (Pengalaman Kabupaten Sikka)

Haris, Ikhfan ( Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper deals with good practice which related to transparent and accountable practices in the implementation of education. Good practice emerged as a response to the need of a recruitment process, which should be based on an objective, transparent, fair and accountable process, where quality of skill should also be taken into consideration in order to recruit the right person who has the best skill in implementing educational supervision activities. The paper aimed to review the implementation of a system innovation of educational supervision in Kabupaten Sikka. This system covers supervisor recruitment process, training, institutional strengthening, and mechanism implementation. A series of good practices have been achieved through this innovation,, e.g. standardisation of the supervision mechanism; an effective working time of supervisors; structured schedule for visiting schools and administration work; as well as a clear division and assignment of volume and type of supervision that will be implemented by supervisors. In addition, the strengthening of gender aspect that encouraging female teachers/principals to join the supervisor selection has become a new trend as well as a form of appreciation. It also provides equal opportunity for male and female teachers/principals to compete fairly in the school supervisor selection. ABSTRAKArtikel ini merupakan good practice yang terkait dengan praktik-praktik transparansi dan akuntabiltas dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan. Gagasan ini muncul sebagai respon terhadap kebutuhan akan proses seleksi/rekruitmen pengawas yang dilandaskan pada prinsip prinsip obyektif, transparan, fair, akuntabel dan berdasarkan pertimbangan kualitas kemampuan, dalam rangka mendapatkan figur yang tepat dalam arti memiliki keahlian terbaik untuk melaksanakan kegiatan kepengawasan pendidikan. Tujuan kajian ini adalah melakukan review terhadap hasil inovasi sistem kepengawasan pendidikan yang dikembangkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sikka. Inovasi ini mencakup kegiatan seleksi/rekruitmen, pelatihan serta penguatan kelembagaan dan mekanisme kepengawasan pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa sejumlah perubahan telah dicapai melalui inovasi ini, antara lain terpenuhinya kebutuhan tenaga pengawas; standarisasi mekanisme pertanggungjawaban kegiatan kepengawasan dan efektifnya penggunaan waktu dan struktur kerja pengawas, kejelasan pembagian dan penentuan volume dan jenis supervisi yang dilaksanakan oleh pengawas. Selain itu, penguataan aspek jender mendorong para guru/kepala sekolah perempuan mengikuti seleksi pengawas menjadi “trend” baru, sebagai bentuk apresiasi pemberian peluang yang sama antara guru/kepala sekolah perempuan dan laki-laki berkompetisi secara sehat dalam seleksi pengawas sekolah.

Model Rasch sebagai Kerangka Acuan Penyusunan Alat Ukur

--, Asrijanty ( Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article is a review of the function of the Rasch model as a frame of reference in constructing instruments in social sciences, particularly for education and psychology. The argument of this article is that efforts to obtain an instrument which provides valid information can be done by utilizing the Rasch model in data analysis. The aims of this article are to examine: 1) the characteristics of the Rasch model as a measurement model; 2)the utilization of the Rasch model in test development. The examination of the Rasch model encompasses its characteristics and its paradigm in comparison with other measurement models, namely twoparameters logistic (2 PL model) model and three parameters logistic models (3 PL model;) and criticism of the Rasch model. The examinaton utilization of the Rasch model in test development includes its implication and application of the Rasch model in test development. This study shows that: 1) the characteristics and the paradigm of the Rasch model differ from the 2 PL model and 3 PL model ; 2)in line with its characteristics and its paradigm, the function of the Rasch model in test development is to guide and to diagnose problems in instrument. ABSTRAKArtikel ini merupakan kajian fungsi model Rasch sebagai kerangka acuan penyusunan alat ukur dalam ilmu sosial, khususnya dalan bidang pendidikan dan psikologi. Kajian ini didasari argumen bahwa usaha untuk memperoleh alat ukur yang memberi informasi yang valid dapat dilakukan dengan memanfaatkan model Rasch dalam analisis data. Tujuan kajian ini dimaksudkan untuk mengkaji: 1) karakteristik model Rasch sebagai model pengukuran; 2) penggunaan model Rasch dalam pengembangan tes. Kajian dilakukan dengan membahas karakteristik dan paradigma model Rasch disertai dengan perbandingan dengan model pengukuran lain, khususnya model logistik dua parameter (2PL) dan model logistik tiga parameter (3 PL), termasuk kritik yang sering diajukan terhadap model Rasch. Kajian penggunaan model Rasch dalam pengembangan tes dilakukan dengan membahas implikasi dan aplikasi model Rasch dalam analisis data untuk pengembangan instrumen. Hasil kajian menunjukkan bahwa: 1) model Rasch mempunyai karakteristik dan paradigma yang berbeda dari model 2 PL dan model 3 PL; 2) sesuai dengan karakteristik dan paradigma model Rasch, fungsi model Rasch dalam analisis data pengembangan instrumen, yaitu untuk memberi arah dan mendeteksi atau mendiagnosa adanya masalah pada instrumen.

Studi Kasus Layanan Pendidikan Nonformal Suku Baduy

Krisna, Fransisca Nur’aini ( Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research tries to identify: 1) the type of education services received by theBaduy people, 2) all stakeholders who participate in providing education for Baduy people, 3) problems encountered by the stakeholders and efforts made to overcome these problems. Data was collected through observation and in-depth interview. This study shows that: 1) education services provided for Baduy people consist of: (a) functional literacy program and (b) Package A program for those who has accomplished functional literacy program; 2) Stakeholders who participate in providing education for Baduy people consist of a group of people from Baduy tribe itself, Dinas Pendidikan Lebak region, PKBM Dian Puspita, and WAMBY; 3) Problems encountered by the stakeholders comprise of (a) limited funding, (b) low attendance rates, (c) rejection by the elders, and (d) learning schedules sometimes clash with traditional activities; and 4) Efforts made to overcome these problems, include (a) cross-subsidy by utilizing facilitiesfrom SDN 2 Ciboleger (Public Elementary School) and SMPN 4 Bojong Menteng (Public Junior Secondary School), (b) set up the learning process become more interesting for Baduy people by including life-skills topics in the learning subject, (c) approached the elders and explained the benefits of education for Baduy people, and (d) adjusted the learning schedule with the traditional activities agenda.ABSTRAKStudi ini bertujuan untuk mengidentifikasi: 1) bentuk layanan pendidikan masyarakat Baduy; 2) pihak yang berpartisipasi dalam pemberian layanan pendidikan bagi masyarakat Baduy; dan 3) permasalahan yang ditemui serta upaya yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan tersebut. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara mendalam. Hasil studi menunjukkan bahwa: 1) pemberian layanan pendidikan masyarakat Baduy meliputi: (a) program keaksaraan fungsional; dan (c) program kesetaraan Paket A bagi masyarakat Baduy yang telah menyelesaikan program keaksaraan fungsional; 2) Pihak yang berkontribusi dalam pelayanan pendidikan, yaitu: (a) sekelompok orang secara personal dari penduduk setempat, (b) dinas pendidikan Kabupaten Lebak; (c) PKBM Dian Puspita dan WAMBY; serta Ditjen PAUDNI; 3) Masalah yang dihadapi, antara lain: (a) keterbatasan dana untuk penyelenggaraan berbagai jenis pendidikan nonformal; (b) tingkat kehadiran warga belajar yang masih rendah; (c) penolakan kehadiran pendidikan nonformal oleh tetua adat; dan (d) pengaturan jadwal belajar sering tidak tepat, karena adanya waktu-waktu adat; 4) Upaya yang dilakukan dalam mengatasi masalah, antara lain: (a) melakukan subsidi silang, yakni dengan memanfaatkan fasilitas pembelajaran yang terdapat di SDN 2 Ciboleger dan SMPN 4 Bojong Menteng untuk kegiatan pembelajaran masyarakat Baduy; (b) mengemas pembelajaran menjadi lebih menarik minat warga belajar dan berorientasi kecakapan hidup; (c) pendekatan kepada tetua adat dengan menjelaskan kebaikan dan manfaat dari pendidikan untuk masyarakat Baduy; dan (d) menyesuaikan jadwal pembelajaran dengan jadwal kegiatan adat.

Kendala-Kendala Pelaksanaan Evaluasi Diri Sekolah (EDS)

--, Hendarman ( Pusat Penelitian Kebijakan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.588 KB)

Abstract

This research concerned the implementation of School Self-Evaluation (SSE) with two objectives, namely: (1) to identify problems encountered during SSE implementation; and (2) to identify alternative solutions to overcome the problems. The method used was metaanalysis using both primary and secondary data. The primary data was obtained through the open-questionnaire given to teachers and principals from Primary Schools/Madrasah Ibtidaiyah, Junior Secondary Schools/Madrasah Tsanawiyah, Senior Secondary Schools/Madrasah Aliyah and Vocational Secondary Schools located in Bogor, Sukabumi, Bekasi, and Depok. The sources of secondary data were the guidelines of SSE implementation from few countries, media, official regulations, as well as related study reports. The study results showed that problems in SSE implementation comprised concepts, instrument, infrastructure, human resources, and administrative. Problems have been resulted from lack of socialization process, lack of school commitment, and lack of collaboration among stakeholders. To overcome those problems is to make special regulation at district/municipality level which could be used as official regulation for the process of planning, budgeting, and supervising. In the future, it is necessary to establish such a mechanism to ensure that SSE is conducted objectively, transparent, and honest, as well as the mechanism of cross-supervision to ensure the results of SSE being neutral and objective. ABSTRAKPenelitian ini terkait dengan pelaksanaan evaluasi diri sekolah (EDS) dengan dua tujuan, yaitu: (1) mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi pada pelaksanaan EDS; dan (2) mengidentifikasi solusi alternatif untuk mengatasi kendala-kendala tersebut. Metode yang digunakan adalah meta-analysis dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari kuesioner terbuka yang diberikan kepada guru dan kepala sekolah pada Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah, Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah, dan Sekolah Menengah Kejuruan yang berasal dari Bogor, Sukabumi, Bekasi dan Depok. Data sekunder bersumber dari panduan pelaksanaan EDS di beberapa negara, media, dokumen resmi peraturan perundang-undangan, dan laporan hasilhasil studi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala-kendala yang dihadapi meliputi aspek konsep, instrumen, infrastruktur, sumber daya manusia, dan administrasi. Kendala kendala tersebut muncul sebagai akibat belum dilakukan sosialisasi secara benar, belum adanya komitmen sekolah, dan belum adanya kerja sama antara berbagai pemangku kepentingan. Alternatif untuk mengatasi kendala kendala tersebut, yaitu dengan membuat kebijakan khusus pada tingkat kabupaten/kota yang dapat digunakan sebagai payung hukum dalam proses perencanaan, penganggaran, dan pengawasan. Di masa mendatang, diperlukan adanya mekanisme yang menjamin pelaksanaan EDS dilakukan secara obyektif, transparan, dan jujur serta mekanisme pengawasan-silang, sehingga menjamin netralitas dan obyektivitas hasil EDS.

Kontribusi Supervisi Kepala Madrasah, Iklim Kerja, dan Pemahaman Kurikulum terhadap Kinerja Guru Madrasah Aliyah

--, Supardi ( Fakultas Tarbiyah dan Keguruan IAIN “SMH” Banten )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.144 KB)

Abstract

The objective of this study is to know the contribution of principal supervision, job climate, and curriculum understanding to teacher performance. The research method is a survey with correlational approach. The research sample is 200 teachers. Sampling technique are with area sampling, proportional sampling, and random sampling. The research instrument was a questionnaire and multiplechoice tests. Data analysis using descriptive statistics and inferential statistics. The study reveals that there are positive and significant correlation between: 1) principal supervision to teacher performance, improvement of principal supervision will be followed by improvement to teacher performance; 2) working climate to teacher performance, improvement of working climate will be followed by improvement to teacher performance; 3) curriculum understanding with teacher performance, improvement of curriculum understanding will be followed by improvement to teacher performance; and 4) principal supervision, working climate, and curriculum understanding to teacher performance, improvement of principal supervision, working climate and curriculum understanding will be followed by improvement to teacher performance. ABSTRAKTujuan dari penelitian ini, yaitu untuk mengetahui kontribusi supervisi kepala madrasah, iklim kerja, dan pemahaman kurikulum terhadap kinerja guru. Metode penelitian menggunakan survei dengan pendekatan korelasional. Sampel penelitian berjumlah 200 orang guru. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan area sampling, proporsional sampling, dan random sampling. Instrumen penelitian menggunakan angket dan tes pilihan ganda. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara: 1) supervisi kepala madrasah terhadap kinerja guru, peningkatan supervisi kepala madrasah akan diikuti dengan peningkatan terhadap kinerja guru; 2) iklim kerja terhadap kinerja guru, peningkatan iklim kerja akan diikuti oleh peningkatan terhadap kinerja guru; 3) pemahaman kurikulum terhadap kinerja guru, peningkatan pemahaman kurikulum akan diikuti dengan peningkatan terhadap kinerja guru; dan 4) supervisi kepala madrasah, iklim kerja, dan pemahaman kurikulum terhadap kinerja guru, peningkatan supervisi kepala madrasah, iklim kerja, dan pemahaman kurikulum akan diikuti dengan peningkatan terhadap kinerja guru.

STUDI JAJAK PENDAPAT KEBIJAKAN PENDIDIKAN MENENGAH UNIVERSAL*)

Subijanto, Subijanto ( Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang Kemdikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aims of polling study for universal secondary education is to gather responsesfrom the society concerning on the implementation of universal secondary education policy by the Ministry of Education and Culture (MoEC). The method used in this study is polling and data collection using questionare. Respondents are chosen by using the purposive sampling technique. The result of the study shows that generally most of the stakeholders fully support the universalsecondary education policy. This policy is viewed to be able: a) to overcome problems of inaccessible education by each secondary school age children due to economic, gheographic, and technology problems; b) to improve the vocational secondary education graduate readiness to work and to improve the national, regional, and local gross participation rate (APK); c) to improve the nation competitiveness, quality, and students capacity; d) to improve the compositionof general secondary school and vocational school in relation with the local needs; e) to increase fully needed financial support from central government, provincial government, and district/municipality government, societies including enterpreneurships and industries; and f) to improve the quality of teachers and administrators, educational facilities which are fully needed. Thus, the teaching model which are relevant to the studen’s needs and match the needs of industriesand enterprices would be met.ABSTRAKStudi jajak pendapat (polling) tentang kebijakan pendidikan menengah universal(PMU) bertujuan untuk memperoleh tanggapan masyarakat terkait dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengimplementasikan program PMU. Studi dilakukan melalui jajak pendapat (polling) dengan membagikan kuesioner kepada responden. Pemilihan responden ditentukan dengan teknik purposive sampling. Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa secara umum sebagian besar masyarakat setuju terhadap kebijakan penyelenggaraan PMU dan bersediamembantu penyelenggaraan sosialisasi kebijakan PMU. Kebijakan ini dinilai dapat: a) menanggulangi kesulitan akses bagi setiap anak usia sekolah menengah karena faktor ekonomi, geografi, dan teknologi; b) meningkatkan kesiapan kerja bagi lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan dapat meningkatkan target angka partisipasi kasar (APK) di tingkat nasional/ provinsi/kabupaten/kota secara bertahap; c) meningkatkan daya saing bangsa, mutu, dan daya tampung peserta didik; d) meningkatkan proporsi jumlah SMA:SMK sesuai potensi dan kebutuhan daerah; e) meningkatkan dukungan anggaran baik Pemerintah Pusat, pemerintah daerah dan masyarakat termasuk DUDI; f) meningkatkan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan serta fasilitas saranaprasarana sangat diperlukan, sehingga dukungan terhadap model pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa dan kebutuhan lapangan kerja dapat terpenuhi.

Dampak Kebijakan Tenaga Kerja terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Era Desentralisasi Fiskal

Subroto, Gatot ( Pusat Penelitian Kebijakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study to examine the relationship between the development of the labor market and economic performance in Indonesia. Using the time series data 1977-2010 compiled from the data available in the Indonesian Human Development Report. Models are arranged in 8 structural equation, further analysis of empirical studies using the software program SAS/ETS version 9.01 with the 2SLS method (two stage least squares) through SIMLIN procedures that provide support that here has a two-way relationship between the development of the labor market and national economic performance. Besides, describing the factors that influence the development of economic growth seen from the labor market and fiscal, as well as analyzing the impact of alternative employment and fiscal policies that affect economic growth. The benefits of this study are expected to constitute a material consideration government decisionmakers and local government as the implementation of regional autonomy within the framework of the national economy and the sector as a balance between regions. As a result, national output average wages, inflation, unemployment and the lag has a positive influence on the level of unemployment, and the unemployment rate, the total government revenue, and the lag of government spending on education and health has a positive influence on the education sector and government spending health. ABSTRAKTujuan studi ini untuk mengkaji hubungan antara pembangunan pasar tenaga kerja dan kinerja ekonomi di Indonesia. Menggunakan data time series tahun 1977-2010 disusun dari data yang tersedia dalam Indonesian Human Development Report. Model disusun dalam 8 persamaan struktural, selanjutnya analisis empiris studi menggunakan program software SAS/ETS versi 9.01 dengan metode 2 SLS (two stage least squares) melalui prosedur SIMLIN yang memberikan dukungan bahwa terdapat hubungan dua arah antara pembangunan pasar tenaga kerja dan kinerja ekonomi nasional. Di samping untuk mendeskripsikan faktor-faktor pembangunan yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dilihat dari pasar tenaga kerja dan fiskal, studi ini juga menganalisis dampak alternatif kebijakan tenaga kerja dan fiskal yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Manfaat studi ini diharapkan merupakan bahan pertimbangan para pengambil keputusan Pemerintah dan pemerintah daerah sebagai pelaksanaan otonomi daerah dalam kerangka perekonomian nasional dan sektoral sebagai keseimbangan antardaerah. Hasilnya, output nasional, upah rata-rata, inflasi, dan lag pengangguran mempunyai pengaruh yang positif terhadap tingkat penggangguran, serta penerimaan pemerintah total, dan lag pengeluaran pemerintah sektor pendidikan dan kesehatan mempunyai pengaruh yang positif terhadap pengeluaran pemerintah sektor pendidikan dan kesehatan.

Upaya Meningkatkan Mutu Belajar Chasis Otomotif Berbasis Multimedia Kelas XI Teknik Kendaraan Ringan (Studi Kasus di SMK Negeri 1 Cikarang Barat)

Sarjana, Sri ( SMK Negeri 1 Cikarang Barat )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted to the quality improvement of automotive chassis lesson by utilizing multimedia in learning in the classroom. This research was conducted at SMK Negeri 1 West Cikarang In Light Vehicle Engineering Program. The method used in this study is classroom action research. The sample was selected 94 students using a random sampling technique. The results of this research shows that: the observation of the 1st cycle can know the total value of 2742 or an average value of 1.9 (scale 4) with a percentage of 48.6%, the 2nd cycle of observation was found that the total value of 3509 or the average value of 2,5 with the percentage of 62.2%, and the 3rd cycle of observation old be determined a total value of 4612 or the average value of 3.3 with the percentage of 82.5% . The conclusions in this study is that the theory of automotive chassis-based multimedia is able to improve the quality of learning. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan mutu belajar siswa dalam pembelajaran chasis otomotif dengan memanfaatkan multimedia dalam pembelajaran di kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Cikarang Barat pada Program Studi Teknik Kendaraan Ringan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Sampel penelitian dipilih 94 siswa menggunakan teknik pengambilan sampel secara acak sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pengamatan siklus ke-1 dapat diketahui nilai total pengamatan sebesar 2742 atau nilai rata-rata 1,9 (skala 4) dengan persentase 48,6% pada pengamatan siklus ke-2 dapat diketahui nilai total pengamatan sebesar 3509 atau rata-rata nilai 2,5 dengan persentase 62,2%, dan pada pengamatan siklus ke-3 dapat diketahui nilai total pengamatan sebesar 4612 atau nilai rata-rata 3,3 dengan persentase 82,5%. Atas dasar hasil tersebut disimpulkan bahwa pembelajaran chasis otomotif yang berbasis multimedia dapat meningkatkan kualitas belajar siswa.

Kearifan Lokal dan Pelestarian Lingkungan (Studi Kasus di Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, dan di Kampung Kuta, Kabupaten Ciamis)

Darusman, Yus ( FKIP Universitas Siliwangi Tasikmalaya )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 20, No 1 (2014)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to find information from the local people about life that is unified with nature, living hormonious with nature, nature management and preservation that take place naturally. It used qualitative method by interviewing participans and snow ball approach. Data was reduced and analyzed from the begining of the study. The attitude of simple traditional society with its local wisdom has proven the existence of a harmonious relation between human importance and nature preservation. It is understandable that behind a simple life pattern possessed by traditional society, there are a lot of significance towards the continuance of human life. Without being aware that the relation between human and natural components (ecosystem) have been embodied. Ecofeminism has been existed in the traditional society, to organize the relation not only between human, but also between human and nature. The attitude of being friendly to environment (ecofeminism) is patterned in the form of suggestion and inhibition when humans are in touch with the nature, such as; someone has to be in a sacred state when enrolling a sacred forest (having ablution), it is not allowed to bring any sharp weapons inside, to pick or cut any kinds of tree, unallowed to hunt animals, etc. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari masyarakat adat tentang kehidupan yang menyatu dengan alam, hidup bersama dengan alam, pengelolaan dan pelestarian alam dapat berlangsung secara tradisional. Penelitian kualitatif dengan menggunakan interviu participant dan pendekatan snow ball, data direduksi dan dianalisis dari awal penelitian. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa masyarakat tradisional yang bercorak sederhana dengan sejumlah kearifan lokal yang dimilikinya telah membuktikan adanya hubungan yang serasi dengan alam. Tanpa disadari oleh masyarakat adat, bahwa jalinan hidup antara manusia dengan alam menyatu dalam bentuk perilaku beretika lingkungan; menghargai dan menyadari akan kesatuan hidup antara komponen yang ada di alam, serta saling ketergantungan hidup, antara komponen di alam (ekosistem). Ekofeminisme ternyata sudah ada pada masyarakat adat, tidak hanya mengatur hubungan antara manusia saja, melainkan juga mengatur hubungan dengan alam sekitar. Perilaku ramah lingkungan terpolakan ke dalam anjuran dan larangan dalam berhubungan dengan alam.