cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 19, No 4 (2013)
10
Articles
Desain Model Pengembangan Diklat Gizi yang Efektif untuk Masyarakat Marginal

Zahrulianingdyah, Atiek ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 4 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.064 KB)

Abstract

The purposes of this research is to describe and set-up the development model for organizing education and training of nutrition, assesst the effectiveness of teaching learning on the model for organizing education and training of nutrition. This research involved sample of 60 mothers from 286 mothers by using technique of purposive cluster random sampling. While data analyse used percentage description and the effectiveness of teaching learning model for education and training of nutrition by research design of “One-Group Pre Test – Posttest Design”, which used Paire t test. The research result shown that the factual model was very rarely implemented, since it was delivered incidentally by the women group of Family Welfare Education at the Level of Village as the Instruction of subdistrict level. The development model found 4 (four) steps of conceptual models, are: 1) planning; 2) organising; 3) acting/implementing, and 4) evaluating. Teaching learning shown implementing high effectiveness, as evidenced by the significant difference of result between before and after training, which Tscore is 13,246 while Table is 2,861 (Tscore> ttable). There is a decrease in iron anemia rates between before (40%) and after training in nutrition (20%), and sifnificant difference on tscore>ttable. Researchers suggested that need a post – training assisstances in nutrition and empowerment from the leaders community and team driving the PKK to carry out a balanced diet in everyday family meals.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membangun model pengembangan pengorganisasian pendidikan dan pelatihan gizi, menguji keefektifan pembelajaran pada model pengorganisasian pendidikan dan pelatihan gizi. Sampel berjumlah 60 ibu dari 286 ibu dengan teknik purposive cluster andom sampling. Analisis data menggunakan deskripsi persentase dan keefektifan model pembelajaran pendidikan dan pelatihan gizi dengan desain penelitian “One-Group Pretest-Posttest Design”, menggunakan uji beda (paired t test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model faktual amat jarang dilakukan   dan bersifat insidentil karena diberikan oleh kader PKK atas instruksi dari tingkat Kecamatan. Model pengembangan yang ditemukan adalah model konseptual 4 (empat) langkah, yaitu: 1) perencanaan; 2) pengorganisasian; 3) penggerakan; dan 4) evaluasi. Pembelajaran memiliki efektivitas yang tinggi. Terbukti adanya perbedaan hasil sebelum dan sesudah diklat secara signifikan, dimana terhitung sebesar 13,246 sedangkan t tabel 2,861 (t hitung > t tabel). Ada penurunan angka anemia gizi besi antara sebelum (40%) dan sesudah pelatihan gizi (20%) p< 0,05, diukur selang enam bulan dari pelaksanaan pendidikan dan pelatihan gizi, dan terbukti ada perbedaan secara signifikan. Disarankan agar dilakukan pendampingan pasca pendidikan dan pelatihan gizi dan diperlukan penguatan dari tokoh masyarakat serta perangkat desa.

Peran Pemerintah Daerah, LPMP dan P4TK Dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru

Winingsih, Lucia H. ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 4 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.233 KB)

Abstract

The purposes of the research are to identify: 1) the role of the Local Government, the LPMP, and the P4TK in the developing of the teacher profesionalism; 2) to understand the forms and mechanism coordination among those institutions in the improvement of the teacher professionalism; and 3) to understand whether those institutions have synergic cooperation in relation to improvement of teacher profesionalism. The research method used in this research is qualitative, therefore the focus group discussion is heavyly used in the data collection. The data analysis is descriptive base on the variables of improvement of academic background of teachers, of the effort in fulfilling the hours number of teaching, and of the professionalism development of teachers. The result of the study show that these stakeholders work less simultanly in the improvement of the educational qualification of teachers; in supporting teachers to fulfil 24 hours teaching per week; and in continuing professional development of the  teachers. However, the problems in coordination and other shortage, like finance, have still existed.ABSTRAK Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengidentifikasi: 1) peran Pemda, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dalam pengembangan profesionalisme guru; 2) bentuk dan mekanisme koordinasi yang dilakukan ke tiga institusi tersebut dalam pengembangan profesionalisme guru; dan 3) sinergis peran yang dilakukan ke tiga institusi tersebut dalam pengembangan profesionalisme guru. Metode penelitian dalam kajian ini menggunakan metode kualitatif, dengan menggunakan focus group discussion (FGD) dalam pengumpulan data, dan data dianalisis secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa ke tiga institusi, yaitu Pemda, P4TK, dan LPMP mempunyai peran yang berbeda namun secara simultan melakukan upayaupaya untuk meningkatkan profesionalisme guru yang menjadi persyaratan yaitu peningkatan kualifikasi pendidikan guru ke jenjang S1; pengelolaan dan pembimbingan pembelajaran untuk guru, seperti upaya pemenuhan jam mengajar 24 jam/minggu; dan pengembangan profesi untuk peningkatan profesionalisme dan karir guru. Namun, masalah koordinasi antar ke tiga lembaga dan keterbatasan dana dalam memenuhi tuntutan peningkatan profesionalisme guru tersebut belum dilakukan secara simultan, sehingga sinergis antar mereka belum secara sistematis dilakukan bersama.

Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba di Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan

Rasul, Djuharis ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 4 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.781 KB)

Abstract

This study was conducted in 2001, which aims to obtain the data relating to the level of the principal concerns of the drug abuse prevention materials in vocational high school curriculum and its implementation both in document form curriculum and teaching and learning activities in the classroom. School selection conducted by a two-stage stratified random sampling, by seting up 14 provinces, which each province was selected one district/city. Selection of provincial and district/city was done randomly. From each district/city was selected 5 schools by criteria of good, moderate, and less. The results showed that 81.54% of vocational high school principals have been concerned on drug abuse prevention programs included in the school program planning, despite the implementation level is not too high. This is such an evident from a source of ideas for planning school programs and integration of drug abuse prevention programs in the school curriculum that is still not big enough. Evaluation that is done by principals to teachers, showed that the assessment for drug abuse prevention materials were arely done. On the other hand, revealed that drug abuse prevention programs have a positive impact. Therefore, the program should keep continuing.ABSTRAK Penelitian ini dilakukan tahun 2001, yang bertujuan untuk memperoleh data berkaitan dengan tingkat kepedulian kepala sekolah terhadap materi pencegahan penyalahgunaan narkoba di kurikulum sekolah menengah kejuruan dan bentuk pelaksanaannya, baik dalam dokumen kurikulum maupun kegiatan belajar-mengajar di depan kelas. Pemilihan sekolah dilakukan secara two-stage stratified random sampling dimulai dari menetapkan 14 provinsi, dimana setiap provinsi dipilih 1 kabupaten/kota. Pemilihan provinsi dan kabupaten/kota dilakukan secara random. Dari setiap kabupaten/kota dipilih 5 sekolah dengan kriteria baik, sedang, dan kurang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 81,54% kepala sekolah menengah kejuruan telah perduli dengan mencantumkan program pencegahan penyalahgunaan narkoba di perencanaan program sekolah, meskipun tingkat pelaksanaannya tidak terlalu tinggi. Hal ini tampak dari sumber ide untuk merencanakan program sekolah dan pengintegrasian program pencegahan penyalahgunaan narkoba dalam kurikulum sekolah masih kurang besar. Evaluasi yang dilakukan kepala sekolah terhadap guru, menunjukkan bahwa kegiatan penilaian untuk materi pencegahan penyalahgunaan narkoba juga jarang dilakukan. Di sisi lain, terungkap bahwa program pencegahan penyalahgunaan narkoba memiliki dampak positif. Oleh karena itu, program tersebut harus tetap dilanjutkan.

Alternatif Program Pendidikan bagi Peserta Didik SMA yang Memiliki Kecerdasan Istimewa

Widyastono, Herry ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 4 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.094 KB)

Abstract

In general, the implementation of education in Indonesia during the last few years has been conducted classically, by giving the same treatment to the learners though they have different talent, interest, and ability. This condition results in misfortune for those who have special talent,  interest and ability, and this would eventually affect their respective achievement, underachievement. Actually the implementation of education for those who have talent, interest, and ability  in senior high school could be any program, such as acceleration and credit semester programs, as well as the enrichment programme, for example by providing comprehensive activity involving themselves at any study program in any faculty of a university adjacent to them. In the university they are requested to take subject matter which is interesting to them. Some programs for the students concerned could be conducted both in inclusive and exlusive classes, and a particular school.ABSTRAK Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia selama ini pada umumnya bersifat klasikalmassal, yaitu memberikan perlakuan yang sama terhadap semua peserta didik yang memiliki perbedaan bakat, minat, kemampuan, dan kecepatan belajar. Peserta didik yang memiliki kecerdasan istimewa bila tidak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya dapat mengakibatkan prestasinya di bawah potensinya. Penyelenggaraan pendidikan bagi peserta didik SMA yang memiliki kecerdasan istimewa dapat berupa: program percepatan yang dapat dilakukan dengan penyelenggaraan sistem akselerasi dan sistem kredit semester; dan program pengayaan, yang dapat dilakukan dengan pendalaman minat, yaitu mengikuti kuliah pada program studi dan fakultas tertentu di perguruan tinggi setempat, dengan mengambil mata kuliah sesuai mata pelajaran kelompok peminatan yang dipilihnya. Penyelenggaraan berbagai program pendidikan bagi peserta didik SMA yang memiliki kecerdasan istimewa dapat dilakukan dengan program khusus di kelas biasa (kelas inklusif), kelas khusus, dan satuan pendidikan khusus.

Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Stad Versus Ekspositori terhadap Hasil Belajar Pemahaman dan Aplikasi Konsep IPA Siswa Kelas IV Sekolah Dasar

--, Prayekti ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud ) , --, Rasyimah ( Universitas Terbuka )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 4 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.188 KB)

Abstract

This research aims to examine: 1) differences in the average scores of learning outcomes of comprehension the concept between group of students who study with STAD cooperative teaching learning and expository teaching learning in Science, 2) difference in the average scores of learning outcomes of Science concept application between group of students who learning with STAD cooperative learning strategy and students who learning with expository in Science, 3) interaction influence between learning application that used STAD cooperative learning strategy vs expository learning, on grade IV Elementary School students learning outcomes of Science concept. This is a quasi-experimental research using a noequivalent controlgroup design factorial, conducted on two parallel classes of grade IV at Elementary School East Jakarta, with total number of students 80 students and as the research subject is 76 students. Two classes were drawed as experiment class and three classes as control class. Learning outcomes data collected by pre-test and post-test in research classes to verify the differences of learning outcomes. For data analysis was using MANCOVA with SPSS 15 program.The result showed that: 1) by using STAD learning strategy showed learning outcomes of comprehension and Science concept application is better than expository learning strategy; 2) STAD learning strategy showed learning outcomes of Science concept application is better than expository learning strategy; 3) Univariately, the interaction between learning strategy didn‘t give any significant influences on learning outcomes of Science concept application. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji: 1) perbedaan rerata skor hasil belajar pemahaman konsep antara kelompok siswa yang belajar dengan pembelajaran kooperatif Student Team Achievement Division (STAD) dan pembelajaran ekspositori pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam; 2) perbedaan rerata skor hasil belajar aplikasi konsep IPA antara kelompok siswa yang diberi perlakuan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif STAD dengan siswa yang diberikan perlakuan pembelajaran ekspositori dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam; 3) pengaruh interaksi antara penerapan pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran kooperatif STAD vs pembelajaran ekspositori, terhadap hasil belajar aplikasi konsep IPA siswa kelas IV SD. Penelitian quasi eksperimen ini menggunakan rancangan faktorial nonequivalent control group design, yang dilaksanakan pada dua kelas paralel di kelas SD Negeri di Jakarta Timur, dengan jumlah siswa 80 orang dan yang diambil sebagai subjek penelitian 76 orang. Kelas IVa sebagai kelas eksperimen, dan kelas IVb sebagai kelas kontrol. Data hasil belajar dikumpulkan melalui kegiatan pretes dan postes pada kelas yang diteliti. Data pretes diambil sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan, untuk menguji perbedaan hasil belajar. Analisis data menggunakan uji statistic Multivariate Analysis of Covariance dengan program SPSS 15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) dengan menggunakan strategi pembelajaran STAD ternyata hasil belajar pemahaman dan aplikasi konsep IPA lebih baik daripada strategi pembelajaran ekspositori, 2) strategi pembelajaran STAD menunjukkan hasil belajar aplikasi konsep IPA yang lebih baik daripada strategi pembelajaran ekspositori, dan 3) secara univariat, interaksi antara strategi pembelajaran tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar aplikasi konsep IPA.

Pemanfaatan Hasil Akreditasi dan Kredibilitas Asesor Sekolah/Madrasah

--, Hendarman ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 4 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.686 KB)

Abstract

This study concerned on the effectiveness of accreditation process with two objectives, namely (1) how accreditation results are utilized by the local government at provincial/district/city levels in determining policies and programs, and (2) how credibility of assesors could assure accountability and accuracy of accreditation results. The method used was meta-analysis using both primary and secondary data. The primary data was obtained through the interviews to Heads of School/Madrasah Accreditation Board at Provincial level (BAP-S/M). Whereas, the sources of secondary data were from School/Madrasah National Accreditation Board (BAN-S/M), Centre for Educational Data and Statistics (PDSP) the Ministry of Education and Culture, BAP-S/M websites, media and official regulations, as well as related studies. The study results showed that local government at provincial/district/city levels tend to not follow-up the accreditation results, and credibility of assesors is not being evaluated in such an accurate and accountable manner as the instrument used was not relevant. ABSTRAK Penelitian ini untuk mengkaji efektivitas penyelenggaraan akreditasi pada sekolah/madrasah dengan dua tujuan, yaitu (1) bagaimana hasil akreditasi dimanfaatkan oleh pemerintah daerah pada tingkat provinsi/ kabupaten/ kota dalam penentuan kebijakan dan program, dan (2) bagaimana kredibilitas asesor dapat menjamin hasil akreditasi yang akurat dan akuntabel. Metode yang digunakan adalah meta-analysis dengan menggunakan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dengan ketua Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAP-S/M). Data sekunder bersumber dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BANS/M), Pusat Data Statistik Pendidikan (PDSP) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, website BAP-S/M, media serta dokumen resmi peraturan perundang-undangan, dan hasil-hasil studi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil akreditasi belum sepenuhnya ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah di tingkat provinsi/kabupaten/kota, dan kredibilitas asesor sekolah/madrasah belum dinilai secara akurat dan akuntabel karena menggunakan instrumen yang kurang relevan.

Kurikulum Pendidikan Budaya pada Satuan Pendidikan Rintisan

--, Sutjipto ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 4 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.783 KB)

Abstract

This study aims to obtain a picture related to the implementation of the cultural curriculum development efforts 300 units on preschool education, primary education, secondary education, exceptional education, and educational equality that has been developed as a pilot model in 2012. The technique used in this study include descriptive study. A descriptive study with critical discourse analysis, in the sense of collecting facts and study the situation, outlook, and ongoing process. The main information collected through secondary data such as documentation reports, the results of focus group discussions, and participant observation. Data processed by the implementation of activities, and the results of the model unit activity throughout the pilot study culture curriculum implementation. Data analysis techniques used description, and interpretation. Results showed that: 1) the growth of a culture growing in a positive direction; 2) norms and values are implemented affects not only the daily activities, but also to motivate and encourage; 3) norms and values not only serves as a means of interadhesive one another, but also beneficial for the improvement of social skills; 4) norms and values as the foundation footing to build a more advanced civilization and humane for the future seemed to be entrenched; and 5) the willingness of stakeholders spool still be a problem in the implementation. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran terkait dengan upaya pengembangan implementasi kurikulum pendidikan budaya pada 300 satuan pendidikan pada jenjang prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan luar biasa, dan pendidikan kesetaraan yang telah dikembangkan sebagai model rintisan tahun 2012. Penelitian berbentuk deskriptif dengan analisis wacana kritis, dalam arti menghimpun fakta dan mempelajari situasi, pandangan, dan proses yang sedang berlangsung. Informasi utama dikumpulkan melalui data sekunder seperti dokumentasi laporan, hasil fokus grup diskusi, dan pengamatan terlibat. Teknik analisis data yang digunakan deskripsi, dan interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) makin berkembang tumbuhnya budaya ke arah yang positi; 2) norma dan nilai-nilai yang diimplementasikan berpengaruh tidak hanya pada kegiatan setiap hari, tetapi juga memotivasi dan menyemangati; 3) norma dan nilai-nilai tidak saja berfungsi sebagai sarana perekat satu sama lain antarkomunitas, tetapi juga bermanfaat untuk peningkatan keterampilan sosial; 4) norma dan nilai-nilai sebagai pijakan fondasi untuk membangun peradaban yang lebih maju dan humanis bagi masa depan tampak mulai membudaya; dan 5) kemauan pemangku kepentingan yang masih menjadi kelindan masalah dalam pengimplementasian.

Kinerja Pendidikan Berdasarkan Indeks Pengembangan Pendidikan untuk Semua dan Tujuan Pembangunan Milenium Tahun 2011/2012

Kintamani, Ida ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 4 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.79 KB)

Abstract

The purpose of this study is to provide an overview of educational attainment performance evaluation using two instruments, namely EDI and the MDGs as well as the similarities and differences in the achievement of performance using these instruments. The method used is a documentary study using descriptive analysis techniques. The population in this study is all province using 2011/2012 data. The study result were that by using the EDI isntrument, Indonesia reached 0.955 while using the MDGs instrument reached 0.944. There are similarities that Indonesia is ranked on 21st using both instruments. As well as the lowest province also occurs in Papua and West Papua provinces. However, differences between provinces in the EDI of 0.195 greater than the MDGs by 0.080. In addition, the achievement of the best when using EDI province is reached the Province of North Sulawesi, but when using the MDGs is the Province of West Nusa Tenggara. Thus, it can be said that these instruments can be used to assess the performance of education.ABSTRAK Tujuan penulisan ini adalah untuk memberikan gambaran tentang capaian kinerja pendidikan dengan menggunakan dua instrumen evaluasi, yaitu EDI dan MDGs serta persamaan dan perbedaan pencapaian kinerja menggunakan kedua instrumen tersebut. Metode yang digunakan adalah studi dokumentasi dengan menggunakan teknik analisis secara deskriptif. Populasi studi ini adalah data semua provinsi pada tahun 2011/2012. Hasil studi ini menunjukkan bahwa penggunaan instrumen EDI, capaian pendidikan di Indonesia mencapai 0,955, sedangkan penggunaan instrumen MDGs mencapai 0,944. Ada persamaan bahwa Indonesia termasuk peringkat ke-21 menggunakan instrumen keduanya. Provinsi terendah juga terjadi pada provinsi Papua dan Papua Barat. Namun, perbedaan antarprovinsi pada EDI sebesar 0,195 lebih besar jika dibandingkan dengan MDGs sebesar 0,080. Selain itu, pencapaian provinsi terbaik bila menggunakan EDI adalah Provinsi Sulawesi Utara, namun ketika menggunakan MDGs adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kedua instrumen tersebut dapat digunakan untuk menilai kinerja pendidikan.

Dampak Sertifikasi Guru terhadap Peningkatan Kualitas Pembelajaran Peserta Didik

--, Siswandari ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud ) , --, Susilaningsih ( Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami No.36A Surakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 4 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.586 KB)

Abstract

The purpose of this study is to examine the impact of teacher certification to improve the quality of teaching-learning process. In detail the objectives are described as follows: 1) assess the condition of teachers’ academic who have been certified, especially in the implementation of their pedagogical and professional competencies in the learning process, 2) attempts of teachers to maintain their certification in improve pedagogical and professional competencies, and 3) the impact of teacher certification to improving the quality of learning process in the classroom. The study that took place in Surakarta using mixed method approachby developing result of qualitative research to design the quantitative approach. Simple random sampling was used for quantitative approach while Criterion-based selection was used to draw sample for qualitative approach. Informants and samples involved in this study were 96 certified teachers, 74 teachers who have not been certified and 17 principals, and 424 students. Data collection method used in this study was in-depth interview, observation, documentation and questionnaires. Both interactive method and descriptive statistic were applied to analyze the data. The results of study show: 1) only 37% of certified teachers who deliver material clearly, the ability to use learning media and technology, the ability to follow the development of science and technology and learning innovation, also ability to do continuous professional development, need to be improved; 2) to maintain their professionalism, discussions between peer who teach same subjects is the most desirable method applied; 3) certified teachers have not shown an increase in the quality of teaching- learning process in the classroom significantly. This is partly indicated by the teacher ability to explain the material is still low, there is still a lack of ability to apply learning technologies (about 25% stated less to enough) and 20% of teachers indicated less attention to their student individually. The results of this study are expected to contribute to local governments in developing sustainable professionalism (continuing professional development) for teachers of post certification and to the central government in developing policies related to the welfare of teachers in Indonesia. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dampak sertifikasi guru terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Secara lebih rinci tujuan tersebut diuraikan sebagai berikut : 1) mengkaji kondisi akademik guru yang telah mendapatkan sertifikat pendidik, khususnya implementasi kompetensi pedagogik dan profesi mereka dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, 2) upaya guru untuk mempertahankan sertifikat pendidik yang telah dimiliki, khususnya dalam meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional, dan 3) dampak sertifikasi guru terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di kelas. Penelitian yang mengambil lokasi di eks Karesidenan Surakarta ini menggunakan pendekatan mixed method dengan memanfaatkan hasil penelitian kualitatif untuk mendisain pendekatan kuantitatifnya. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling untuk pendekatan kuantitatif, sedangkan criterion-based selection digunakan pada saat melakukan penelitian kualitatif. Informan dan sampel yang terlibat dalam penelitian ini adalah 96 orang guru bersertifikasi, 74 guru yang belum bersertifikasi dan 17 kepala sekolah serta 424 siswa. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in-depth interview), observasi, dokumentasi dan kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif dan statistik deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan: 1) hanya 37% dari guru bersertifikasi yang dapat menyampaikan materi dengan jelas, kemampuan pemanfaatan media dan teknologi pembelajaran, kemampuan mengikuti perkembangan iptek dan inovasi pembelajaran serta pengembangan keprofesian berkelanjutan masih perlu ditingkatkan; 2) diskusi antar sejawat yang mengampu mata pelajaran sama merupakan upaya yang paling diminati untuk mempertahankan profesionalitasnya; 3) guru bersertifikasi belum menunjukkan peningkatan kualitas pembelajaran di kelas secara signifikan. Hal ini antara lain diindikasikan oleh kemampuan menjelaskan materi yang masih kurang, masih kurangnya kemampuan memanfaatkan teknologi pembelajaran (sekitar 25% dinyatakan kurang sampai cukup) dan 20% guru berindikasi kurang memperhatikan keadaan siswa secara individual. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah dalam mengembangkan keprofesian berkelanjutan (continuing professional development), bagi para guru pasca sertifikasi dan bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat dalam mengembangkan kebijakan yang terkait dengan kesejahteraan guru Indonesia.

Pembiayaan Pendidikan: Suatu Kajian Teoritis

W. P, Ferdi ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 4 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.097 KB)

Abstract

The purpose of this analysis are to: 1) determine the factors that influence the cost of education, 2) identify the types of costs of education, and 3) recommend education funding model which is more effective and efficient. The study was conducted with a descriptive analysis of the documents relating to the cost of education. The results of this analysis are: 1) The factors that influence the cost of education, among others: a) rising prices, b) changes in teacher’s sallaries; c) changes in population and increase in the percentage of children in public schools; d) increasing educational standards; e) the increasing age of children who leave school; f) the increasing demand for higher education; g) the existence of openness, participation, accountability in education from the planning, implementation and monitoring, and h) no financing models that can be used as a reference in the operationalization of the cost of education; 2) Identified the types of educational expenses include: a) direct costs; b) indirect cost; c) private cost; d) social cost; e) monetary cost; and  f) non monetary cost; 3) The education funding model which has more effective and efficient is human capital model/approach where aspects of financing can affect the productivity level which then affects the level of income of a person or group may ultimately contribute to the pace of economic growth and development.ABSTRAK Tujuan kajian ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi:1) faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pendidikan; 2) jenis biaya pendidikan; dan 3) model pembiayaan pendidikan yang efektif dan efisien. Kajian ini dilakukan dengan melakukan analisis deskriptif terhadap dokumen-dokumen yang berhubungan dengan biaya pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa: 1) faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pendidikan, antara lain: a) kenaikan harga; b) perubahan gaji guru; c) perubahan populasi dan kenaikan prosentasi anak di sekolah negeri; d) meningkatnya standar pendidikan; e) meningkatnya usia anak yang meninggalkan sekolah; f) meningkatnya tuntutan terhadap pendidikan lebih tinggi; g) adanya keterbukaan, partisipasi, akuntabilitas dalam penyelenggaraan pendidikan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan; dan h) belum ada model pembiayaan yang dapat dipergunakan sebagai acuan dalam operasionalisasi biaya pendidikan; 2) jenis-jenis biaya pendidikan meliputi: a) biaya langsung; b) biaya tidak langsung); c) biaya pribadi; d) biaya masyarakat; e) monetary cost; dan f) non monetery cost; dan 3) model pembiayaan pendidikan yang efektif dan efisien yaitu model human capital di mana aspek pembiayaan dapat mempengaruhi taraf produktivitas yang dapat mempengaruhi taraf pendapatan seseorang atau kelompok sehingga pada akhirnya dapat berkontribusi terhadap kecepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.