cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 19, No 1 (2013)
10
Articles
Konsep dan Aplikasi IPTEK Nuklir di Sekolah Menengah Atas

--, Mariati

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.839 KB)

Abstract

This study aimed to examine the curriculum at the senior secondary school related to nuclear science and technology in content standards, textbooks, teaching methods, and teacher understanding. Locations determined by purposive sampling in six provinces namely Yogyakarta, East Java, West Nusa Tenggara, East Kalimantan, Riau Islands, and South Sulawesi. The respondent are a teachers of Biology, Physics, and Chemistry respectively 18 people in each province. The research method is a survey and focus group discussion. The study shows that nuclear science content standards are adequate, but the application of nuclear science and technology of today need to be added. Textbooks used is more theory and less contextual of life. Nuclear science and technology learning in general lectures, discussions and giving assignments. Teachers’ understanding of the concepts and applications of nuclear science and technology is still low. The study recommends the present applications of nuclear science and technology need to be added to the content standards, schools need to socialize to the understanding of nuclear science and technology is better, should be made in the book supplements or media-based learning model using information and communication technology to support learning of nuclear science and technology for effective, efficient, and fun learning.ABSTRAK Studi ini bertujuan untuk mengkaji kurikulum Sekolah Menengah Atas tentang ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir pada standar isi, buku pelajaran, metode pembelajaran, dan pemahaman guru. Sampling kajian ditentukan secara purposif di enam provinsi, yaitu: Daerah Istimewa Yogyakarta; Jawa Timur; Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Selatan. Responden terdiri atas guru Biologi, Fisika, dan Kimia masing-masing 18 orang setiap  provinsi.  Studi  dilakukan  melalui  survei  dan  focus  group  discussion. Hasil  studi menunjukkan bahwa iptek nuklir pada Standar Isi cukup memadai, namun dalam aplikasi sangat kurang. Ilmu  pengetahuan dan teknologi  nuklir dalam buku  pelajaran lebih banyak  teori dan kurang  kontekstual. Pembelajaran iptek  nuklir  pada  umumnya  dilakukan  dengan  metode ceramah, diskusi, dan penugasan. Pemahaman guru tentang konsep dan aplikasi iptek nuklir masih rendah. Studi merekomendasikan aplikasi iptek nuklir masa kini ditambahkan ke dalam Standar Isi, sekolah perlu melakukan sosialisasi agar pemahaman iptek nuklir lebih baik, begitu juga  perlu menambah  buku suplemen  atau  model pembelajaran  berbasis teknologi  informasi dan komunikasi agar pembelajaran iptek nuklir lebih efektif, efisien, dan menyenangkan.

Analisis Standar Isi Bahasa Inggris SMP dan SMA

Panjaitan, Mutiara O ( Pusat Kurikulum dan Perbukuan Jl. Gunung Sahari Raya No 4A, Jakarta Pusat )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.705 KB)

Abstract

The purpose of this paper is to analyze: 1) The efficiency of formulation of competence standards and basic competence; 2) Readability of competence standards and basic competence; 3) Clarity of Scope of material; 4) The degree of difficulty of competence standards and basic competence, 5) The use of linguistic terms on competence standards and basic competence, and 6) Gradation of each genre. The analysis was done with reference to the theory of language presented in this paper which is also used as the basis for the development of content standards. The results showed that: First, separation of receptive and productive competence caused a lot of repetition in formulating competence standards and basic competence; Second, competence standards and basic competence grouping according to language skills (listening, speaking, reading, writing) tend to be understood by teachers as a separate four language skills; Third, linguistic competence is mentioned with the words “accuracy, acceptance and fluency” without specification that need to be covered so that raises multiple interpretations; Fourth, The difficulty level of competence is above the ability of average junior high school students; Fifth, the formulation of competence standards and basic competence use so many linguistic terms thattend to be theoretical that teachers difficult to interpret it; Sixth, there is no radation of eachgenre. ABSTRAK Tujuan analisis ini yaitu untuk menganalisis: 1) Efisiensi rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar; 2) Keterbacaan standar kompetensi dan kompetensi dasar; 3) Kejelasan ruang lingkup materi; 4) Tingkat kesulitan standar kompetensi dan kompetensi dasar; 5) Penggunaan istilah linguistik pada rumusan kompetensi; dan 6) Gradasi masing-masing genre. Analisis dilakukan dengan mengacu pada teori bahasa yang dipaparkan yang digunakan sebagai landasan pengembangan standar isi tersebut. Hasil analisis sebagai berikut: Pertama, pemisahan tindakan reseptif dan produktif menyebabkan banyak pengulangan dalam merumuskan standar kompetensi dan kompetensi dasar; Kedua, pengelompokan standar kompetensi dan kompetensi dasar menurut keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis) cenderung dipahami guru sebagai empat keterampilan berbahasa yang terpisah; Ketiga, kompetensi linguistik disebutkan dengan kata-kata “keakuratan, keberterimaan, dan kelancaran” tanpa spesifikasi lingkup materi yang perlu dicakup sehingga menimbulkan multitafsir; Keempat, tingkat kesulitan kompetensi di atas kemampuan rata-rata peserta didik Sekolah Menengah Pertama; Kelima, rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar banyak menggunakan istilah linguistik cenderung teoretis sehingga guru sulit menjabarkannya; Keenam, tidak terlihat gradasi kesulitan masing-masing genre. 

Analisis Jalur Brand Image sebagai Anteseden Loyalitas: (Studi pada Program Pascasarjana Universitas Terbuka)

--, Suciati, Hidayah, Nur

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.972 KB)

Abstract

This study was multipurpose. Firstly is to describe students’ perception of learning service quality, university brand image, student satisfaction and loyalty to the institution. Secondly, this study aims to investigate the causal relationship of brand image and loyalty, and the pattern of relationship of service quality, brand image, student satisfaction and student loyalty. A survey was conducted in 2011, involving 108 graduates, who attended two occasions of the graduation day at Universitas Terbuka. The questionnaires were analyzed using descriptive statistics and path analysis to explain the interaction model among the variables. The findings indicated that in general students hold a positive perception regarding the learning service quality at the graduate study at UT, the brand image of the program, and have a high level of satisfaction of the overall learning experience. They also indicate loyalty to the institution; In addition, the findings show that brand image and student satisfaction have a direct impact on loyalty. Eventhough service quality does not directly impact student loyalty, but through brand image and student satisfaction, service quality influences student loyalty. Since institution sustainability to a certain level depends on student loyalty, education institutions will have to develop strategies to strengthen alumni and student’s loyalty.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui persepsi lulusan tentang kualitas layanan pembelajaran,  brand  image  (citra)  penyelenggara layanan,  kepuasan, dan  loyalitas  lulusan; dan  2)  menjelaskan  hubungan  kausalitas  antara kualitas  pelayanan,  brand  image, kepuasan lulusan, dan loyalitas lulusan. Pengumpulan data dilakukan melalui survei kepada alumni Program Pascasarjana Universitas Terbuka tahun 2011, melibatkan 108 lulusan, yang hadir pada upacara wisuda di Jakarta dalam dua kali kesempatan wisuda. Data kuesioner yang telah diisi dianalisis menggunakan  analisis  deskriptif  berupa  persentase,  dan teknik analisis  jalur  (path analysis) untuk melihat pola hubungan kausal (model testing) antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan pembelajaran dinilai sudah baik, brand image universitas dan program meyakinkan  lulusan  dan  dikenal  luas,  serta  alumni  merasa  puas  dengan pengalaman pembelajaran dan memiliki loyalitas (setia) kepada institusi. Di samping itu, secara langsung maupun tidak langsung brand image dan kepuasan, mempengaruhi loyalitas. Kualitas pelayanan secara langsung tidak berpengaruh pada loyalitas, namun melalui brand image dan kepuasan lulusan,  berpengaruh terhadap  loyalitas  lulusan.  Mengingat  bahwa  loyalitas  lulusan  penting bagi keberlangsungan  (sustainability)  program  studi,  maka  institusi  perlu menyusun  strategi mempertahankan dan meningkatkan loyalitas mahasiswa dan lulusan melalui peningkatan kualitas pelayanan dan brand image. 

Pelaksanaan Pendidikan Karakter, Ekonomi Kreatif, dan Kewirausahaan dalam Belajar Aktif di SMK

Rasul, Djuharis ( Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang Kemdikbud Jln. Gunung Sahari Raya No. 4 Jakarta Pusat )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.095 KB)

Abstract

The aim of this study is to identify and implementation of the model policy regarding the head-masters’ understanding of the government’s policy on the implementations of character, creative economic, and enterpreneurship educations as well as active learning at Vocational High Schools. The study was conducted in 20 provinces using multistage sampling. The result of the study shows that the head-masters had already understood the government policy on the implementations of character, creative economic and entrepreneurship education, as well as active learning at Vocational High Schools with a great differences of their understanding by its average is 89,27%. However, in terms of the succes of its implementation, which cover character education, enterpreneurship education and creative economic education, its average is 90,2 ,76%, and 81,7% respectively.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemahaman kepala sekolah terhadap kebijakan pendidikan karakter, kewirausahaan, dan bentuk-bentuk implementasi kebijakannya dalam belajar aktif di sekolah. Penelitian diselenggarakan di 20 provinsi yang ditetapkan secara sampel multistage sampling.  Hasil penelitian menunjukkan  bahwa  kepala sekolah  telah memahami  kebijakan  pemerintah tentang  pelaksanaan pendidikan  karakter, pendidikan kewirausahaan, dan ekonomi kreatif dalam pembelajaran aktif di sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan tingkat pemahaman yang bervariasi, yaitu rata-rata 89,27%. Hal ini didukung oleh keberhasilan dalam implementasnya, yaitu pendidikan karakter rata-rata 90,2%, pendidikan kewirausahaan rata-rata 76%; dan pendidikan ekonomi kreatif rata-rata 81,7%.

Tata Nilai Perdamaian Sufistik Jawa Cerita Pewayangan

--, Khalimi, Khaer, Abu

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.243 KB)

Abstract

The aim of this research is to prove the lack of comprehensive social science paradigm in explaining about peace, which tend to rely on the theory of social facts or psychosocial. The result of this research is to strengthen the research Mohammed Abu-Nimer, Hamengkubuwono X and Abdul Hadi, which states that local knowledge can be used as values in building peace and non-violence in a more comprehensive way. As a paradigm of peace and non-violence, values Javanese-Sufi peace theory summarized in four devotion; body, heart, soul, and sense. A primary source is teaching Serat Wredhatama Mangkunegara IV. The study itself is qualitative, library research with a phenomenological-hermeneutic approach. Body worship and heart is Sufi Javanese peace values are aligned to the stages of Sufism, shariah and tariqah to the natural macrocosm. Peace microcosm of nature embodied soul through worship and adore sense in line with the nature and terms makrifat in achieving the perfect tranquility of life.  ABSTRAK Penelitian  ini  bertujuan  untuk  membuktikan  kekurang-komprehensifan paradigma ilmu  sosial  dalam  menjelaskan  tentang  perdamaian.  Hasil penelitian  ini  dimaksudkan  untuk memperkuat pendapat Mohammed Abu Nimer, Hamengkubuwono X dan Abdul Hadi WM., yang menyatakan bahwa kearifan lokal dapat dijadikan sebagai tata nilai dalam membangun binadamai dan nirkekerasan secara lebih komprehensif. Sebagai suatu paradigma bina damai dan nirkekerasan,  tata  nilai  perdamaian  sufistik  Jawa  terangkum dalam  teori  empat  pengabdian (catur  sembah),  yaitu  raga,  cipta/kalbu, jiwa dan  rasa.  Sumber  utama  yang  dipakai  ajaran Serat  Wredhatama  karya Mangkunegara  IV.  Metode  penelitian  ini  sendiri  bersifat  kualitatif, studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan fenomenologi-hermeneutik. Sembah raga  dan  sembah  cipta  merupakan  tata  nilai  perdamaian  sufistik Jawa  yang  selaras  dengan tahapan tasawuf, syari’at dan tarekat untuk alam makrokosmos. Kedamaian alam mikrokosmos diejawantahkan melalui sembah jiwa dan sembah rasa sejalan dengan tema hakikat dan makrifat dalam menggapai ketentraman hidup secara paripurna.

Kontribusi Kemampuan Guru Melaksanakan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar Persamaan Kuadrat pada Siswa SMA Negeri 1 Pangkal Pinang

Simanjuntak, Haholongan ( Universitas Terbuka, Kompleks Perkantoran dan Pemukiman Terpadu Jln. Pulau Bangka Pangkalpinang 33100 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.376 KB)

Abstract

This research aims are to determine: 1) the contribution of teacher competencies; and 2) trends in students learning outcomes and students perception on learning quadratic equations. The population in this research comprises of all students in class X with a stratified sampling of 61 people taken randomly. The study uses two kinds of instruments, which consist of an instrument to collect data of learning outcomes in quadratic equation (Y) and an instrument to collect data of teacher education competencies (X) that are captured with a Likert scale of 30 questions. The result of the research concludes: 1) teachers education competencies contribute 49% to the quadratic equation learning outcome of students at SMA Negeri 1 Pangkalpinang; 2) students learning outcomes in quadratic equation are classified as adequate and good; 3) students evaluation on teachers ability to carry out the education process is relatively good. The research implicates that it is necessary to have a good coordination between the Education Ministry, LPMP and P4TK to improve mathematic teachers competencies by conducting courses/ seminars/workshops on pedagogical skills, mastery of teaching materials and instructional media, as well as the ability to select and use the right teaching methods. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) kontribusi kemampuan guru, dan 2) kecenderungan hasil belajar siswa SMA Negeri 1 Pangkalpinang. Populasi penelitian meliputi seluruh peserta didik kelas X yang terdiri atas 4 kelas dan diambil secara acak dua kelas sebagai sampel berjumlah 61 siswa. Studi ini menggunakan dua jenis instrumen, yaitu instrumen untuk menjaring data hasil belajar matematika persamaan kuadrat (Y) dan instrumen untuk menjaring data kemampuan guru melaksanakan pembelajaran (X). Data kemampuan guru (X) dijaring dengan skala Likert yang instrumennya disusun sesuai dengan kisi-kisi terdiri atas 30 soal. Data hasil belajar matematika siswa (Y) dijaring dengan tes pilihan ganda. Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat kontribusi sumbangan kemampuan sebesar 49% dalam melaksanakan pembelajaran terhadap hasil belajar persamaan kuadrat pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Pangkalpinang. Hasil uji kecenderungan variabel X dan Y menunjukkan bahwa kemampuan guru melaksanakan pembelajaran ditinjau dari persepsi siswa tergolong cukup baik dan hasil belajar matematika tergolong dalam kategori cukup dan baik. 

Kajian tentang Tingkat Ketidakhadiran Guru Sekolah Dasar dan Dampaknya terhadap Siswa

Suprastowo, Philip

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.321 KB)

Abstract

This study is a research result that aims to find out: 1) the level of absenteeism of elementary school teachers; 2) profile of teacher’s absenteeism level in terms of aspects of education background, employment status, and certificate ownership; 3) causes of absenteeism factor; 4) impact of teacher’s absenteeism on school and student learning performance; and 5) efforts that has been done in minimizing teacher’s absenteeism. The study was conducted through a survey in 20 regencies/cities as samples that determined by cluster random sampling according to region distribution and a consideration on population distribution of number of teachers in that region. There were 168 primary schools involved in this study which determined randomly. Results of this study found that: 1) level of absenteeism in primary school teachers was relatively lower, that was 6.6%; 2) profile of absenteeism teachers were dominant in teachers with high school education, Civil Servants Status, and have certified; 3) the main cause of absenteeism of teachers was due to be assigned by school and other interests, including the needs of teachers with official permission; 4) the impact of teacher absenteeism was disruption on learning process, students deviant behavior, decrease in student achievement and school image; and 5) school has tried to overcome the problems by setting up and assigning substitute teachers/picket teachers/part-time teachers, and education office in regencies/cities preventively overcome the absenteeism of teachers by applying disciplinary rules and sanctions for absenteeism teachers consequently and consistently. ABSTRAK Kajian ini berupa hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui: 1) tingkat ketidakhadiran guru SD; 2) profil tingkat ketidakhadiran guru ditinjau dari aspek latar belakang pendidikan, status kepegawaian, dan kepemilikan sertifikat; 3) faktor penyebab ketidakhadiran guru; 4) dampak ketidakhadiran guru terhadap sekolah dan prestasi belajar siswa; dan 5) upaya yang dilakukan untuk meminimalisir ketidakhadiran guru. Penelitian dilakukan melalui survei yang dilakukan di 20 kabupaten/kota sampel yang ditentukan secara cluster random sampling berdasarkan distribusi wilayah serta pertimbangan sebaran populasi jumlah guru di kabupaten/kota. Jumlah sekolah sebanyak 168 SDN ditentukan secara acak. Hasil kajian menemukan bahwa: 1) tingkat ketidakhadiran guru SD diketahui relatif rendah, yaitu 6,6%; 2) profil guru yang tidak hadir dominan pada guru berpendidikan sekolah menengah, berstatus Pegawai Negeri Sipil dan telah bersertifikat; 3) Penyebab utama ketidakhadiran guru karena ditugaskan untuk dinas dan berbagai kepentingan, serta keperluan guru dengan izin resmi; 4) Dampak ketidakhadiran guru yaitu terganggunya proses pembelajaran, perilaku siswa menyimpang, penurunan prestasi siswa, dan citra sekolah; dan 5) sekolah berupaya mengatasi agar pembelajaran tetap berjalan terutama dengan menyiapkan dan menugaskan guru pengganti/guru piket/guru honorer; serta dinas pendidikan kabupaten/kota secara preventif mengatasi ketidakhadiran guru dengan menerapkan peraturan disiplin dan sanksi terhadap guru secara konsekuen dan konsisten. 

Pengembangan Model Pelatihan Guru Sekolah Menengah Kejuruan Kelompok Seni dan Budaya

Susatya, Edhy ( Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Seni dan Budaya Sleman, Yogyakarta. Alamat: Klidon, Sukoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.515 KB)

Abstract

This research and development aimed to find out an effective training model to be applied in vocational teacher training of Vocational High School of Arts and Culture. The method used in the research was Research and Development (R&D). Its its design used was the postest only with comparison group. The data was analyzed using t-test, statistic analysis, and descriptive analysis. The variable influencing the success of training implementation are the quality of: 1) sources; 2) program; 3) academic facilities; 4) supporting facilities; and 5) services. This research and development results an open design training model. An open design training model emphasizes on increasing creativity, developing expression, sharpening sensitivity, and developing innovation. The final conclusion of the research is that the use of open design training model is proven to increase the quality of competence mastery, the quality of works, and the productivity of the participants. ABSTRAK Tujuan penelitian dan pengembangan ini yaitu untuk menemukan model pelatihan yang efektif dan dapat diterapkan pada pelaksanaan pendidikan dan pelatihan (diklat) guru produktif Sekolah Menengah Kejuruan kelompok Seni dan Budaya. Metode penelitian menggunakan Research and Development (R&D). Desain penelitian menerapkan model “postest only with comparison group design”. Teknik analisis data menggunakan analisis uji beda, analisis statistik dan analisis deskriptif. Aspek-aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pelaksanaan pelatihan, yaitu kualitas: 1) nara sumber; 2) program; 3) fasilitas akademik; 4) fasilitas penunjang; dan 5) pelayanan. Penelitian ini menghasilkan model pelatihan open design. Model pelatihan open design menekankan pada peningkatan kreativitas, menumbuhkan ekspresi, menajamkan sensitivitas, dan mengembangkan inovasi. Simpulan penelitian ini yaitu dengan menggunakan model pelatihan open design terbukti dapat meningkatkan kualitas penguasaan kompetensi, kualitas karya, dan produktivitas peserta diklat. 

Pengaruh Pendidikan Formal, Pelatihan, dan Intensitas Pertemuan terhadap Kompetensi Penyuluh Pertanian

Anwas, Oos M

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (90.845 KB)

Abstract

This research aimed to find out: 1) the level of formal education, training intensity, meeting intensity, and competence of extention education agent; and 2) the influence of the level of formal education, training intensity, meeting intensity, and competence of extention education agent to the enhancement of competence of the extention education agent. The research used survey method applied to public service extention education agents in Karawang District and Garut District, West Java. Descriptive and multiple regression analysis were used to proceed the data. The result of descriptive statistic analysis showed that the level of formal education was low, the intensity of meeting among the extention education agents mostly was high, the intensity of attended training was very low, and the competence of extention education agent was also low. The analysis of multiple regression showed that the intensity of meeting among the extention education agents and the intensity of training influenced significantly toward the competency of extention education agents, while the level of in-service formal education followed by public service extension education agents was not significant enough to influence their competency. For that reason the intensity of meeting and training should be enhanced. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi: 1) tingkat pendidikan formal, intensitas pelatihan, intensitas pertemuan antarpenyuluh, dan kompetensi penyuluh pertanian; dan 2) pengaruh tingkat pendidikan formal, intensitas pelatihan, dan intensitas pertemuan antarpenyuluh terhadap peningkatan kompetensi penyuluh pertanian. Penelitian menggunakan metode survei terhadap penyuluh pertanian Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Pengolahan data menggunakan analisis deskriftip dan regresi berganda. Hasil analisis dekriptif menunjukkan bahwa tingkat pendidikan formal rendah, intensitas pertemuan antarpenyuluh tinggi, intensitas pelatihan masih sangat rendah, dan kompetensi penyuluh pertanian rendah. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa intensitas pertemuan antarpenyuluh dan intensitas pelatihan berpengaruh signifikan terhadap kompetensi penyuluh pertanian, sedangkan tingkat pendidikan formal yang diikuti penyuluh setelah menjadi penyuluh PNS tidak cukup signifikan berpengaruh dalam membentuk kompetensi penyuluh pertanian. Oleh karena itu, intensitas pertemuan antarpenyuluh dan intensitas pelatihan perlu ditingkatkan. 

Ketercapaian Pendidikan Dasar dan Menengah Berdasarkan Misi Pendidikan 5K: Kasus Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tahun 2010/2011

Kintamani DH, Ida

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.055 KB)

Abstract

The purpose of this analysis is to analyse the results of educational indicators and the extent of achievement of primary and secondary education in Nabire District, Papua Province based on education mission “5K”. These are availability; affordability; quality; equivalency; and obtain educational services. The results show that the mission availability is achieved by 90.73 as a main category; mission affordability is achieved by 89.94 as a medium category; mission quality is achieved by 64.95 as a less category; mission equivalency is achieved by 90,51 as a main category; and obtain educational services is achieved by 98,13 as a perfect category. However, when viewed according to the level of education of the primary, junior, and senior secondary schools are achieved of 88.61, 86.28, and 85.25 respectively as medium category. Thus, it can be said Nabire District is achieved on basic and secondary education as a medium categories. However, the necessary improvements are in mission quality in primary, junior and senior secondary school due to only achieved 64.95 as a less category. Primary school needs to be improved in teacher quality, good classrooms, and library, junior secondary school in teacher qualities, graduate rates, libraries, and senior secondary school in graduate rates, good classrooms, computer rooms, and laboratories. ABSTRAK Tujuan analisis ini, yaitu untuk mengkaji hasil indikator pendidikan dan sejauh mana ketercapaian pendidikan dasar dan menengah di Kabupaten Nabire, Papua berdasarkan misi pendidikan, yaitu: ketersediaan: keterjangkauan; kualitas; kesetaraan; dan kepastian memperoleh layanan pendidikan (5K). Hasilnya menunjukkan bahwa misi ketersediaan mencapai sebesar 90,73, termasuk kategori utama; misi keterjangkauan mencapai sebesar 89,94, termasuk kategori madya; misi kualitas mencapai sebesar 64,95 termasuk kategori kurang, misi kesetaraan mencapai sebesar 90,51 termasuk kategori utama; sedangkan misi kepastian memperoleh layanan pendidikan mencapai sebesar 98,13, termasuk kategori paripurna. Namun, bila dilihat menurut satuan pendidikan SD, SMP, dan SM tercapai masing-masing sebesar 88,61,86,28, dan 85,25 termasuk kategori madya. Dapat dikatakan bahwa ketercapaian dikdasmen Kabupaten Nabire mencapai 86,85, termasuk kategori madya. Sekalipun demikian, perlu dilakukan pembenahan pada misi kualitas, karena hasil SD, SMP, dan SM sebesar 64,95 termasuk kurang. Untuk SD, perlu ditingkatkan persentase guru yang layak, ruang kelas baik, dan ketersediaan perpustakaan. Untuk SMP, perlu ditingkatkan persentase guru layak mengajar, angka lulusan, persentase ketersediaan perpustakaan, ruang komputer, dan laboratorium, sedangkan untuk SMA perlu ditingkatkan angka lulusan, persentase ketersediaan ruang kelas baik, ruang komputer, dan laboratorium.