cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 17, No 4 (2011)
10
Articles
Model Pendidikan Guru Berbasis Ke-Bhinekaan Budaya di Indonesia

Musanna, Al

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.652 KB)

Abstract

Teacher education in Indonesia should give more attention to the revitalization of local cultures as the foundation. It is based on the fact that Indonesia is one of the most pluralistic nations in terms of ethnicity and culture. The praxis of culturally responsive teacher education promise solution to bridge the revitalization of local culture and to improve the relevance of teacher education in Indonesian context. Preparing teacher to be a culturally competent teacher can be solutions to marginalization an alienation of many aspects of local culture in Indonesian educational policy. ABSTRAKPendidikan guru di Indonesia seyogianya memberi perhatian dalam revitalisasi nilai dan budaya lokal sebagai fondasi pengembangannya, hal ini berdasarkan kenyataan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang paling pluralistik ditinjau dari suku bangsa dan budaya. Praksis pendidikan guru tanggap budaya atau culturally responsive pedagogy, memberi harapan sebagai jalan keluar untuk menjembatani revitalisasi budaya lokal dan peningkatan relevansi pendidikan guru di tanah air. Penekanan pada pendidikan guru tanggap budaya didasari kenyataan masih terkesampingkannya budaya lokal atau kearifan lokal dalam kebijakan dan kurikulum pendidikan guru di tanah air.

Bimbingan dan Konseling Sekolah

Kamaluddin, H ( Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.859 KB)

Abstract

The counselor plays an important role in the education system. They are regarded as school psychology. Counseling must possess and target to expand and develop the student’s potentials. They must posses good public relations and alternative solutions to students.The counselor conducts planning, carry out the programme, monitor and evaluate, and take further actions in their counseling activities. The counselor is also responsible to provide career path to the students. To conclude, the counselor act as a problem solver to the students. The Ministry of Education has given full freedom to the counselor to develop the students’ potentials and provide effective guidance and counseling. ABSTRAKPenyuluh memainkan peranan penting dalam sistem pendidikan dan mereka dianggap sebagai psikolog sekolah. Penyuluhan harus mencangkup dan mempunyai sasaran untuk mengembangkan serta memperluas potensi-potensi siswa. Mereka harus memiliki kemampuan hubungan masyarakat hubungan masyarakat yang bagus dan solusi alternative kepada para siswa. Penyuluh melaksanakan perencanaan, menjalankan program, pengawasan dan evaluasi serta melaksanakan tindak lanjut dalam kegiatan penyuluhan. Penyuluhan juga bertanggung jawab dalam menginformasikan jalur-jalur karir kepada para siswa. Penyuluhan bertindak sebagai penyelesaian masalah solver para siswa. Menteri Pendidikan telah memberikan kebebasan penuh kepada penyuluhan untuk mengembangkan potensi siswa dan menyediakan bimbingan serta penyuluhan yang efektif.

Aplikasi Analisis (Path Analysis) Berdasarkan Urutan Penempatan Variabel Dalam Penelitian

--, Sudaryono ( STMIK Raharja Tangerang )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.038 KB)

Abstract

In quantitative research there is a method called path analysis that examines chronological cause and effect among variables. Since cause and effect play an important role guideline in which the analysis is applied, showing the path analysis components with applied corelation analysis among variables based on their chronological effect would give description how important the path analysis is to be acknowledged by reserachers. It’s objective is to examine direct and indirect effect a set of variables, as the cause variables towards other variables as the effect variables. The purpose this article is to enrich research methods that may be used to analysis the relation patern among the variables. Problem formulation of this article focuses on the question is path analysis effective for educational research and can it answer issues in educational research. Literature reviews and researchs using path analysis reveal that it is very effective and needs to be developed in educational research. ABSTRAKDalam suatu penelitian kuantitatif, suatu metode yang mengkaji urutan sebab akibat antara sejumlah variabel dalam suatu model penelitian disebut metode path analysis(analisis jalur). Dikarenakan pemikiran sebab akibat memainkan peranan atau aturan yang sangat penting di mana path analysistersebut diaplikasikan, maka dengan menampilkan unsur-unsur path analysisdengan menerapkan analisis korelasi di antara sesama variabel berdasarkan urutan pengaruhnya, akan memberikan gambaran betapa pentingnya analisis jalur ini untuk diketahui oleh peneliti. Tujuan analisis jalur adalah menerangkan akibat langsung dan tidak langsung seperangkat variabel, sebagai variabel penyebab, terhadap variabel lainnya yang merupakan variabel akibat. Selain itu tujuan penulisan ini adalah untuk menambah khasanah modelmodel penelitian yang dapat digunakan untuk menganalisis pola hubungan antar variabel. Rumusan masalah dalam tulisan memusatkan perhatian apakah analisis jalur sangat efektif digunakan dalam penelitian pendidikan dan menjawab pertanyaan permasalahan penelitian dengan baik. Hasil penelusuran literatur dan contoh-contoh penelitian yang menggunakan analisis jalur menunjukkan bahwa analisis jalur sangat efektif dan perlu dikembangkan dalam penelitian pendidikan.

Penyetaraan (Equating) Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) Dengan Teori Tes Klasik

Herkusumo, Arniati Prasedyawati ( Peneliti pada Pusat Penilaian Pendidikan )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.409 KB)

Abstract

Since the enactment of the National Standard School Final Examination (UASBN) in school year 2007/2008, the province is authorized to construct exam questions based on the same lattice issued BSNP. No tests ever found two packages with different grain problem, although based on the same grid have the same difficulty level. Therefore, the evaluation of the National Exam level using several different test packets and measuring the same thing, need to be equated. The effect of equating scores on the packages used in this UN estimates that the slightest error of measurement can be known, and the scores obtained can be compared so that the test participants are not disadvantaged or advantaged because of getting an easier or more difficult test package accidentally. The purpose of this Research is to 1) determine the conversion of the value of the subjects to be tested nationally among province, among packages at UASBN.; 2) know the actual ability of the participants UASBN based on the conversion of the values that have been synchronised. In this research, the technique used is equipercentile equating with the use of the software Program for Common Item Equating (CIPE) version 2.0 ABSTRAKSejak diberlakukannya Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) pada tahun pelajaran 2007/2008, propinsi diberi kewenangan untuk menyusun soal-soal ujian berdasarkan kisi-kisi yang sama yang dikeluarkan BSNP. Para ahli pengukuran menyatakan bahwa tidak pernah ditemukan dua paket tes dengan butir soal yang berbeda walaupun berdasarkan kisi-kisi yang sama mempunyai tingkat kesukaran yang sama. Oleh karena itu dalam pelaksanaan evaluasi setingkat Ujian Nasional yang menggunakan beberapa paket tes yang berbeda dan mengukur hal yang sama, perlu dilakukan penyetaraan (equating). Dengan dilakukannya penyetaraan/equatingskor atas paket-paket yang digunakan dalam UASBN, maka estimasi kesalahan pengukuran yang sekecil apapun dapat iketahui, dan skor yang diperoleh dapat dibandingkan sehingga peserta tes tidak merasa dirugikan atau diuntungkan karena kebetulan mendapat paket tes yang lebih mudah atau yang lebih sukar. Tujuan Penelitian adalah menentukan konversi nilai mata pelajaran yang diujikan secara nasional antarprovinsi, antarpaket pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar, dan mengetahui kemampuan sebenarnya dari peserta UASBN berdasarkan konversi skor yang telah disetarakan. Pada penelitian ini, teknik equatingyang digunakan adalah equipercentile equating dengan menggunakan software Common Item Program for Equating(CIPE) versi 2.0.

Analisis Sumber Daya Manusia Pendidikan Tinggi

Kintamani DH, Ida

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.088 KB)

Abstract

The purpose of this analysis is to understand the Higher Education (HE) Human Resources profile and quality, and determine the quality of HE by using the 2009/2010 data. The method used in this analysis is the documentation study and the survey. In addition, the use of key performance indicators from Education Strategic Plan 2010-2014 to assess the quality of HE. Results showed that although private institutions have reached 97.24% of HE, it only has 58.39% of the students and 71.83% lecturers. Based on 7 indicators, feasibility of lecturers to teach only 37.65%, full-time professors 67.82%, lecturers professors 3.59%, senior lecturer 19.84%, and most education personnel are high school graduated which is 34.82%. Based on the selected five composite indicators, the quality of PT is only 49.85 means that less than half. By looking at the results, they are advised to conduct further research regarding collection of data about the HE, especially teachers with all the details and whether the composite indicators used are appropriate to measure the quality of HE. ABSTRAKTujuan analisis SDM PT adalah untuk memahami profil SDM PT, mutu SDM PT, dan menentukan mutu PT dengan menggunakan data tahun 2009/2010. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah studi dokumentasi dan survai. Selain itu, digunakan indikator kinerja utama (IKU) dari Rencana Strategi Pendidikan tahun 2010-2014 untuk menilai mutu PT. Hasilnya menunjukkan bahwa walaupun lembaga PT Swasta sebesar 97,24% dari lembaga PT yang ada, namun mahasiswanya hanya sebesar 58,39% dan dosennya sebesar 71,83%. Berdasarkan 7 indikator, kelayakan dosen mengajar hanya 37,65%, dosen tetap sebesar 67,82%, dosen jabatan guru besar sebesar 3,59%, dosen senior sebesar 19,84%, dan tenaga kependidikan kebanyakan lulusan SM sebesar 34,82%. Berdasarkan 5 indikator komposit yang dipilih maka mutu PT hanya sebesar 49,85 berarti kurang dari separuh. Dengan melihat hasil seperti ini maka disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan mengenai pendataan PT khususnya dosen dengan semua rinciannya dan apakah indikator komposit yang digunakan telah sesuai untuk mengukur mutu PT

Bias Gender Dalam Prestasi Akademik Siswa: Studi tentang Perbandingan Prestasi Akademik Siswa Laki-laki dan Perempuan di SMA 12 Bekasi

Hidayat, Rakhmat ( Universitas Negeri Jakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.821 KB)

Abstract

This article has two purposes for writing. Firstly, explain the differences in academic achievement between students of men and women on the subjects of Physics, Sociology and Indonesian? Secondly, to explain the tendency of academic achievement differences between boys and girls on the subjects of Physics, Sociology and Bahasa Indonesian. It can be concluded that the subjects of Physics, women have higher grades than men. On the subject of Sociology and the Indonesian language, there were no significant differences between men and women. The results of this study was influenced by developments or changes in the mindset that embraced the values of society regarding women’s position in society. This study use a quantitative approach with secondary data analysis methods (ADS). Data collection method used is the method of documentation. It should be done early gender socialization to students about gender equality in an effort to minimize the occurrence of gender bias. ABSTRAKArtikel ini memiliki dua tujuan penulisan. Pertama, menjelaskan perbedaan prestasi akademik antara siswa laki-laki dan perempuan pada mata pelajaran Fisika, Sosiologi dan Bahasa Indonesia? Kedua, menjelaskan kecenderungan perbedaan prestasi akademik antara siswa laki-laki dan perempuan pada mata pelajaran Fisika, Sosiologi dan Bahasa Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa pada mata pelajaran Fisika, perempuan mempunyai nilai yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Pada mata pelajaran Sosiologi dan Bahasa Indonesia, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini dipengaruhi oleh perkembangan pola pikir atau perubahan nilai-nilai yang dianut masyarakat berkaitan posisi perempuan dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis data sekunder (ADS). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Perlu dilakukan sosialisasi gender sejak dini kepada pelajar tentang kesetaraan gender dalam upaya meminimalisir terjadinya bias gender.

Kajian Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah Pada Pendidikan Menengah

--, Suwandi ( Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang Kemdiknas Jakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.693 KB)

Abstract

The Objective of this research is to find out: 1) The illustration of school base management implementation on the secondary school; 2) The obstacles in school based management implementation experienced by schools; 3) Suggestion from school in order to implement school based management better. Data was collected from a questionnaire, observation, documentation, interview, and Focus Group Discussions (FGD). From the result, it is concluded that: 1) Generally, school based management implementation in schools has run well; 2)The main issues in school based management implementation are lack of budget, minimum facility, incompetent human resources; and 3) The major suggestion from schools is that the center and local government increase the budget subsidy derives from block grant, deconcentration fund (including BOS/BKM), Ministry of Religious Affair, Provincial and regency budget for the distribution of educational budget to schools with some improvements particulary in the empowerment of provincial and regency educational offices. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) gambaran pelaksanaan manajemen berbasis sekolah (MBS) pada pendidikan menengah; 2) kendala-kendala yang dihadapi pihak sekolah dalam pelaksanaan MBS; dan 3) saran-saran atau masukan pihak sekolah agar pelaksanaan MBS berjalan dengan baik. Penelitian ini menggunakan desain penelitian pengembangan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik kuesioner (angket), observasi, dokumentasi, wawancara dan focus group discussions FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: dapat diambil kesimpulan: 1) pelaksanaan MBS di sekolah menengah secara umum berjalan dengan baik; 2) kendala pelaksanaan MBS yang paling menonjol yaitu terbatasnya anggaran biaya, minimnya fasilitas yang dimiliki sekolah, serta masih rendahnya kualitas SDM; dan 3) Saran yang cukup menonjol dari pihak sekolah adalah agar pemerintah (pusat dan daerah) dapat meningkatkan bantuan/subsidi keuangan berupa dana block grant, dekonsentrasi (termasuk BOS/BKM), dana dari Depag, APBD Provinsi dan APBD Kota/Kabupaten. masih layak diterapkan untuk penyaluran dana pendidikan di sekolah dengan beberapa pembenahan, terutama dalam pemberdayaan Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota.

Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Lesson Study: Kasus Di Kabupaten Bantul

Tedjawati, JM ( Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang Kemdiknas )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.89 KB)

Abstract

The purpose of this writing is find out about the implementation of lesson study program, especially in terms of: 1) The implementation of lesson study program, 2) The role of school principals and heads of education offices in the implementation of lesson study program, and 3) The impact of the implementation of lesson study program. It’s objective is to address the problems being faced today, to what extent the implementation of lesson study can be applied in the classroom and the impact of the lesson study program. Analysis findings show that: 1) Lesson study program can be implemented because of the support of cooperation between teachers, principals, and the role of coordinator in preparing the program. For teachers, the program is very useful in the classroom, while increasing the ability of competence. Teachers are required to be able to do lesson planning, teaching practice, as well as receive input from other teachers or facilitators, or principal, 2) The existence of support from school principals and heads of education offices in lesson study program. The role of principals, among others, support in the implementation, mentoring, and financing activities of lesson study. The role of head of educational office including the provision of training and certification for teachers, approved the use of the funds for lesson study program, and 3) The impact lesson study program for teachers is the increasing ability of teachers. They are more innovative in teaching with variety in the methods and more relevant towards student’s ability. In addition, theachers quality and quantity increase in implementing the Classroom Action Research (PTK). ABSTRAKTujuan penulisan ini dimaksudkan untuk mengetahui pelaksanaan program lesson study, khususnya dalam hal: 1) Pelaksanaan program lesson study; 2) Peran kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan dalam pelaksanaan program lesson study; dan 3) Dampak pelaksanaan program lesson study. Temuan analisis ini menunjukkan bahwa:  1) Program lesson study dapat dilaksanakan karena adanya dukungan kerja sama antar guru, kepala sekolah, dan peran koordinator dalam menyusun program. Bagi guru, program ini sangat bermanfaat dalam pembelajaran di kelas, sekaligus dapat meningkatkan kemampuan kompetensinya. Guru dituntut untuk dapat melakukan perencanaan pembelajaran, mempraktikan pembelajaran tersebut, serta menerima masukan dari guru lain ataupun fasilitator atau kepala sekolahnya; 2) Adanya dukungan dari kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan dalam program lesson study. Peran kepala sekolah antara lain dukungan dalam pelaksanaan, pendampingan, dan pendanaan kegiatan lesson study. Peran kepala dinas antara lain pemberian pelatihan dan sertifikat bagi guru, menyetujui penggunaan dana BOS untuk program lesson study; dan 3) Dampak program lesson studybagi guru adalah meningkatnya kemampuan guru. Mereka lebih inovatif dengan metode pembelajaran lebih bervariasi dan lebih relevan terhadap tingkat kemampuan siswa serta meningkatnya kualitas serta kuantitas guru dalam melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Kajian Terhadap Keberadaan dan Pendanaan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)

Hendarman, Hendarman ( Balitbang Kemdiknas )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.765 KB)

Abstract

The execution of a unit having international standards of education has been commenced since 2006 through the establishment of the so-called “rintisan sekolah bertaraf internasional” (RSBI). Pros and cons were addressed for the implementation of RSBI. The significant one is to terminate this initiative due to the burden funding implications that parents are to take care. This paper analyses the existence of RSBI and funding mechanism which are supposed to be in place from the view of legal aspect. The analysis shows that the appeal to terminate RSBI will not be possible unless there is an amendment to the existing laws and regulations. In terms of budget allocation for RSBI, the analysis shows that misinterpretations towards the regulation bring about the big-fees taken from parents. It is recommended that RSBI is to be continued but with such an evaluation using a number of key-indicators to decide for the promotion and the depromotion of RSBI to be SBI (international standard schools) or back to regular schools; and to set up a transparent and accountable finance system in the school which could indicate in detail the receiving and spending of money received from central office, local authority and society including students’ parents. ABSTRAKPenyelenggaraan satuan pendidikan menuju bertaraf internasional telah dimulai sejak tahun 2006, yaitu melalui pendirian dan penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Berbagai gugatan, pandangan dan kritik yang bersifat pro-kontra dari berbagai lapisan masyarakat terhadap penyelenggaraan RSBI muncul sejalan dengan implementasinya. Hal yang signifikan yaitu usulan untuk memberhentikan penyelenggaraan RSBI dan sistem pendanaan yang memberatkan orang tua peserta didik. Tulisan ini merupakan kajian secara yuridis terhadap keberadaan RSBI serta pendanaan yang seyogianya diberlakukan dalam penyelenggaraannya. Kajian secara yuridis menunjukkan bahwa menghentikan penyelenggaraan RSBI tidak dimungkinkan sepanjang peraturan perundang-undangan yang berlaku belum diubah. Terkait pendanaan terhadap RSBI, memang terjadi perbedaan tafsir dari peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga terjadi pungutan-pungutan yang membebankan orang tua peserta didik. Implikasi dari hal-hal tersebut bahwa keberlanjutan RSBI harus diikuti dengan adanya evaluasi dengan menggunakan indikator-indikator kunci yang dapat memutuskan kemungkinan promosi RSBI menjadi SBI atau penurunan status menjadi sekolah regular; dan penetapan sistem keuangan di tingkat satuan pendidikan RSBI secara transparan dan akuntabel yang dapat menjelaskan berapa yang diterima dan dipergunakan dari Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat termasuk orang tua peserta didik.

Wacana Khotbah Jumat di Surakarta: Suatu Kajian Linguistik Kultural

Saddhono, Kundharu ( Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNS ) , Putu Wijana, I Dewa ( Fakultas Ilmu Budaya, UGM )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.424 KB)

Abstract

Friday sermon is a means of religious endeavor used by Moslems to invite the community to do good things and avoid bad deeds. A person who conveys Friday sermon is called a preacher. A good speaking skill is needed in order to attract sympathy from the congregation or the people who listen to the sermon. The term ‘attract masses through speaking skill’ is called as rhetoric. In Friday sermons there are many aspects of language which are influenced by local cultural elements. Friday sermons as a discourse of course, can be analyzed from micro structural aspects related to grammatical aspect, lexical aspect, cohesion, and coherence. The macro structural aspects related to culture or cultural elements surrounding communities outside of language or linguistic aspects in which the participants related to the context, place and time, the channel used, the code used, the form of a message and its contents, events with nature, and tone of conversation. ABSTRAKKhotbah Jumat merupakan salah satu sarana yang digunakan umat Islam yang bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan mencegah perbuatan buruk (sarana dakwah). Seorang yang menyampaikan dakwah disebut khotib. Agar dapat menarik simpati dari jemaah atau orang yang menyimak khotbah, diperlukan sebuah keterampilan berbicara yang baik. Istilah untuk menarik massa malalui keterampilan berbicara dimaknai sebagai retorika. Di dalam khotbah Jumat banyak terdapat aspek bahasa yang dipengaruhi oleh unsur kebudayaan setempat. Khotbah Jumat sebagai sebuah wacana tentunya dapat dianalisis dari aspek mikrostruktural yang berkaitan dengan aspek gramatikal, aspek leksikal, kohesi, dan koherensi. Adapun dari aspek makrostruktural berkaitan dengan unsur kebudayaan atau kultural masyarakat sekitar di luar aspek kebahasaan atau linguistik yang di dalamnya berkaitan dengan konteks yaitu partisipan, tempat dan waktu, saluran yang digunakan, kode yang digunakan, bentuk pesan beserta isinya, peristiwa dengan sifat, dan nada pembicaraan.