cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 17, No 3 (2011)
10
Articles
Model Pembelajaran Teknik Lompat Jangkit Dengan Metode Bermain di Sekolah Dasar

Sudarwo, R ( Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka ) , Yohanes, Yohanes ( Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.055 KB)

Abstract

This study aims to describe how far the application of learning models jump technique transmissible by playing methods to improve student achievement in elementary school. Results showed that students more actively involved in learning, they do jump transmissible enthusiastic while playing, so it can be concluded students feel happy to do the jump transmissible by playing methods, as well as students make the mistake of awareness and responsibility of learners doing push ups with pleasure as punishment without being asked by the teacher. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran sejauhmana penerapan model pembelajaran teknik melompat jangkit dengan metode bermain dapat meningkatkan prestasi peserta didik di sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik lebih aktif terlibat dalam pembelajaran, mereka antusias melakukan lompat jangkit sambil bermain, sehingga dapat disimpulkan peserta didik merasa senang melakukan lompat jangkit dengan metode bermain, begitupun ketika peserta didik melakukan kesalahan dengan kesadaran dan tanggung jawab peserta didik melakukan push updengan senang sebagai hukuman tanpa diminta oleh guru.

Penggunaan Laptop dalam Perkuliahan di Kelas Manfaat atau Mudharatkah?

Suciati, Suciati ( Pascasarjana Universitas Terbuka ) , Hidayah, Nur

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.513 KB)

Abstract

This study aims to assess the benefits and harms of laptops use by graduate students in the classroom learning, and to identify strategies for effective use of laptops in class. The study is exploratory, using 26 point questionnaire to collect data from 68 respondents. Results showed 73.5 percents use laptops in the classroom, the majority of users (63%) find it useful for browsing for relevant articles and making class notes. Many use laptops for activities unrelated to learning, such as browsing news, communicate through emails (16-22 percent) and chatting. Thirty percent of users reported to give only 25 to 50% of attention to the ongoing class activities. Users and non users had different views about laptops use in the classroom; some students perceive laptops use in class interfere with concentration, and can be an indication of ‘disrespect’ to the lecturers or other students. Lecturers should design the integration of laptop use within classroom learning activities to enrich the learning material, to make the classroom learning process become more interesting and effective. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengkaji manfaat dan mudharat penggunaan laptop oleh mahasiswa di dalam perkuliahan serta mengidentifikasi strategi penggunaan laptop yang efektif di dalam kelas. Penelitian ini merupakan studi eksploratori, menggunakan instrumen yang berisi 26 pertanyaan untuk mengumpulkan data dari 68 responden. Hasil penelitian menunjukkan 73,5 persen pengguna laptop di dalam kelas, mayoritas (63%) merasakan manfaatnya untuk mencari artikel yang relevan dan membuat catatan kuliah. Banyak aktivitas penggunaan laptop yang tidak relevan dengan pembelajaran seperti browsingberita, chatting dan mengirim atau menjawab email (16 – 22 persen). Sebanyak tiga puluh persen pengguna hanya memberikan porsi perhatian antara 25 sampai 50 persen pada perkuliahan yang sedang berlangsung. Pengguna dan bukan pengguna laptop di kelas mempunyai perbedaan pandangan tentang manfaat atau mudharat penggunaan laptop di kelas. Beberapa mahasiswa mempersepsikan bahwa penggunaan laptop di kelas mengganggu konsentrasi, indikasi ‘rasa tidak hormat’ terhadap dosen atau teman lainnya. Dosen perlu merancang penggunaan laptop dalam aktivitas pembelajaran di kelas yang terintegrasi untuk memperkaya materi pembelajaran dan membuat proses pembelajaran menarik dan efektif.

Bantuan Teknis Profesional Pengembangan Kurikulum Kepada Tim Pengembang Kurikulum Daerah Sebagai Wahana Pemberdayaan Staf Pusat Kurikulum

Sutjipto, Sutjipto

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.861 KB)

Abstract

This study set out to get a view of empowerment Curriculum Center staff through a strategy of professional technical assistance activities in the area of curriculum development. Methods This study is descriptive, where the main data is processed based on program activities, implementation activities, and report the results of activities Curriculum Center between 2006 through 2010 related to the professional technical assistance to the TPK provincial curriculum development in 33 provinces, and TPK district in 120 districts/cities. Information was collected using documentary techniques, focus group discussions, and involved role in the activities. The data analysis technique used, namely description, and interpretation. The study shows that the increase in professional skills (professional development) staff in curriculum development is really a conscious and sustained effort from the leadership of Curriculum Centre. The importance of the creation of a cultural institution with the atmosphere or climate that allows staff to develop, a sound management in strengthening the potential or staff resources and the protection jaminnan staff so that potential can be constructed in a positive and conducive environment which in turn can memandirikan staff in making the work is also a prominent finding in this study. Furthermore, this study also shows that the strategy of empowering the staff at the Curriculum Center is very influential on the successful achievements of technical assistance activities of professional development curriculum to local corruption. ABSTRAKKajian yang dikemukakan ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran tentang pemberdayaan staf Pusat Kurikulum melalui strategi kegiatan bantuan teknis profesional pengembangan kurikulum di daerah. Metode kajian ini yaitu deskriptif, di mana data utama diolah berdasarkan program kegiatan, pelaksanaan kegiatan, dan laporan hasil kegiatan Pusat Kurikulum tahun 2006 s.d. tahun 2010 berkait dengan bantuan teknis profesional pengembangan kurikulum kepada TPK provinsi di 33 provinsi, dan TPK kabupaten/kota di 120 kabupaten/kota. Informasi dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi, diskusi terfokus secara kelompok. Teknik analisis data yang dipergunakan, yaitu deskripsi, dan interpretasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan profesional staf dalam pengembangan kurikulum merupakan usaha sadar dan berkesinambungan dari pimpinan Pusat Kurikulum. Pentingnya penciptaan suatu budaya kelembagaan dengan suasana atau iklim yang memungkinkan staf berkembang secara sehat dalam manajemen yang memperkuat potensi staf dan adanya jaminan perlindungan. Dengan demikian, potensi staf dapat dibangun secara positif dan kondusif yang pada gilirannya bisa memandirikan staf dalam berkarya. Kajian ini menunjukkan juga bahwa strategi pemberdayaan staf di tingkat Pusat Kurikulum sangat berpengaruh terhadap capaian keberhasilan kegiatan bantuan teknis profesional pengembangan kurikulum kepada TPK daerah.

Badan Hukum di Langit Pendidikan (Studi Evaluasi Kebutuhan Satuan Pendidikan)

Fathoni, M. Kholid

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.005 KB)

Abstract

The obligation of legal body upon every educational institution or its founder is still an unfinished law agenda of this country. Act No 20/2003 on National Education stated that the specific law on education legal body must be enacted. The government has released the law No 9/2009 about Legal Body of School and University, but the Council of Constitution has canceled it in 2010. If a new regulation on legal body will be initiated as law, instead of the cancelled one, the Government should be in alert and in full contemplation among critics, last mistakes, and wider community sounds so that can avoid obstacles. This research is important in accordance with Governmental planning when the body of education institution will be constructed as a legal entity. The sounds and documents which are collected from various forums in discussion of the topic will be analyzed as a research conclusion. ABSTRAKKetentuan tentang keharusan penyelenggara dan/atau satuan pendidikan berbentuk badan hukum pendidikan masih merupakan agenda hukum negeri ini. Pasal 53 UU Sisdiknas No.20/2003 mengamanatkan disusunnya suatu undang-undang tentang badan hukum pendidikan. Sebelumnya, UU No 9/2003 Tentang Badan Hukum Pendidikan sudah diterbitkan, namun oleh Mahkamah Konstitusi dinyatakan “tidak mengikat” pada tangal 31 Maret 2010. Apabila “undang-undang baru” akan disusun menggantikan UU No 9, maka diperlukan upaya Pemerintah agar benar-benar memperhatikan poinpoin penting penyebab pembatalan UU No 9 serta suara masyarakat secara lebih luas agar kelak tidak mengalami nasib UU No 9. Dengan cara melakukan analisis terhadap dokumen di berbagai forum pembahasan seputar permasalahan, penelitian ini dimaksudkan memetakan permasalahan badan hukum di bidang pendidikan. Penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk membantu para pengambil kebijakan pendidikan mengetahui kebutuhan nyata para penyelenggara pendidikan di lapangan.

Dinamika Sosial Gerakan Guru di Indonesia Pasca Orde Baru

Hidayat, Rakhmat ( Universitas Negeri Jakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.23 KB)

Abstract

This article aims is to: 1) describes the dynamics of movement of teachers in Indonesia after New Order era. This phase is marked by the emerging various teacher organizations in Indonesia and 2) explain how the contribution of Indonesian teachers movement in the stage of democracy in Indonesia. There are two important conclusions in this paper are 1) Indonesian teacher movement that developed after the New Order era is the manifestation and articulation of a political system that supports the emergence of these movements; 2) the movement of Indonesian teachers become an important social group in the transition to democracy in Indonesia after New Order. The methodology used is the study of literature by examining a variety of related references teachers’ movement in Indonesia. Movement of teachers in Indonesia have to do the strengthening and consolidation of networks both national and international networks. Their movements will be more solid, structured and institutionalized as an important actor in the transition to democracy in Indonesia. ABSTRAKTujuan penulisan artikel ini yaitu: 1) menjelaskan dinamika gerakan guru Indonesia setelah era Orde Baru. Fase ini ditandai dengan bermunculan berbagai organisasi guru di Indonesia dan 2) menjelaskan bagaimana kontribusi gerakan guru Indonesia dalam pentas demokrasi Indonesia. Ada dua kesimpulan penting dalam tulisan ini yaitu: 1) gerakan guru Indonesia yang berkembang setelah era Orde Baru merupakan manifestasi dan artikulasi dari sistem politik yang mendukung munculnya gerakan tersebut; 2) gerakan guru Indonesia menjadi kelompok social penting dalam transisi demokrasi di Indonesia setelah Orde Baru. Metodologi yang digunakan adalah kajian literature dengan mengkaji berbagai referensi terkait gerakan guru di Indonesia. Hal penting yang harus dilakukan oleh gerakan guru di Indonesia adalah melakukan penguatan dan konsolidari jaringan baik jaringan nasional maupun internasional. Dengan cara ini gerakan mereka akan lebih solid, terstruktur dan terlembagakan sebagai actor penting dalam transisi demokrasi di Indonesia.

Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dalam Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Perguruan Tinggi Idris HM Noor

Noor, Idris HM

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.071 KB)

Abstract

The aims of this research are to find data and information about: 1) the policy of Directorate of Higher Education (DHE) and universities related to its function on the public service; and 2) the implementation of research and development based on the study result. The research was conducted from June to December 2009. Research sample is 36 respondents in HE at the provinces of DIY, West Java, West Nusa Tenggara, Bali, East Kalimantan, West Kalimantan, Lampung, West Sumatera, and North Sumatera. Data was collected by using questionnaire, study documentation, and interview. Data was analyzed using quantitative and qualitative analysis. Research findings are: The policy of research and public service done by universities is based on the policy of DHE. DHE still makes very few policies of the research for public service and lack of monitoring and evaluation of the universities’ program. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang: 1) kebijakan program penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh perguruan tinggi (PT); dan 2) pemanfaatan hasil-hasil penelitian dan pengembangan. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juni sampai Desember 2009. Sampel penelitian sebanyak 36 orang dari lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan dosen senior yang diambil secara purposive di PT di provinsi DIY, Jawa Barat, NTB, Bali, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Lampung, Sumatera Barat, dan provinsi Sumatera Utara. Data dikumpulkan dengan kuesioner, pedoman studi dokumentasi, dan pedoman wawancara. Data dianalisis menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menujukkan bahwa: 1) Kebijakan program penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakasanakan oleh PT berdasarkan kebijakan DP2M Dikti; 2) Dikti masih sedikit menetapkan kebijakan penelitian untuk pengabdian kepada masyarakat dan kurang melaksanakan monitoring dan evaluasi program PT.

Keunikan Nama-Nama Geografi Indonesia: Dari Nama Generik ke Spesifik

Ruskhan, Abdul Gaffar ( Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.536 KB)

Abstract

The Indonesian geographical names are various in terms of its origins language. The are many geographical names are derived from the national language (Indonesian) and the local languages. The diversities are the uniqueness that are rich with ethnicity and culture, including languages. The geographical names are consisting of the generic names and specific names. The generic names are the names that applied in general, either associated with the natural appearance, artificial area, or administration area. The generic names are potentially derived both from the national language (Indonesian) and from the local languages. Their use makes them became specific. However, there are many specific names in the form of the generic elements only. Many names that people who have created can not be separated from the history of the names. ABSTRAKNama-nama geografi di Indonesia memiliki bentuk yang bermacam-macam, baik yang berasal dari bahasa Indonesia maupun yang berasal dari bahasa daerah masing-masing. Keberbagaian itu merupakan keunikan nama geografi yang kaya dengan budaya bangsa, termasuk bahasanya. Suatu hal yang tidak dapat dibantah bahwa terdapat pula nama geografi yang berasal dari bahasa asing. Namun, penggunaan bahasa daerah dan bahasa Indonesia sebagai nama geografi merupakan pilihan yang tidak dapat diabaikan. Dalam nama geografi, ada unsur generik dan unsur spesifik yang menjadi hal yang penting. Unsur generik itu merupakan unsur yang mengandung makna umum berupa kenampakan alam, seperti daratan dan perairan, serta. kawasan khusus, buatan, dan administratif. Sementara itu, nama spesifiknya adalah nama yang membatasi unsur generiknya. Unsur spesifik itu muncul dari penamaan masyarakatnya, yang tidak lepas dari nama generiknya. Masing-masing memiliki aspek historisnya.

Standard Setting Ujian Nasional Dengan Menggunakan Metode Angoff danBookmark

Herkusumo, Arniati Prasedyawati ( Pusat Penilaian Pendidikan )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.115 KB)

Abstract

The purpose of this research is to find out the cut score of graduation for the national exam participants, as we know so far the determined passing score through judgement and the policy of the Government without paying attention to the matter of matter that exists on the test devices, and without involving the experts (as curriculum subjects teachers, expert, assessment expert). Determining graduation like this does not meet the criteria as signaled by experts such as educational measurement experts called in Standards for Educational and Psychological Testing : “When cut scores defining pass-fail, the judgmental process should be designed so that judges on bring their knowledge and experience to bear in a reasonable way”. Scientific method that can be used to determine the score a passing grade is the Angoff method and bookmark method. This method can be used to determine the standard graduation test national became more scientific. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui batas skor kelulusan (cut score) yang tepat bagi peserta Ujian Nasional (UN). Seperti kita ketahui bahwa sampai saat ini penentuan kelulusan pada Ujian Nasional  ditentukan  melalui judgement dan  merupakan  kebijakan  yang  dikeluarkan  oleh  Pemerintah tanpa memperhatikan soal-soal yang ada pada paket-paket UN dan tanpa melibatkan tenaga-tenaga ahli (seperti guru bidang studi, ahli kurilukum, dan ahli penilaian).Penentuan kelulusan seperti ini kurang memenuhi kriteria sebagaimana yang diisyaratkan oleh ahli-ahli pengukuran pendidikan, seperti yang disebutkan dalam Standards for Educational and Psychological Testing: “When cut scores defining passfail, the judgmental process should be designed so that judges on bring their knowledge and experience to bear in a reasonable way”Metode ilmiah yang digunakan untuk menentukan standar atau cut score kelulusan pada studi ini adalah dengan menggunakan Metode Angoff dan Bookmark. Metode ini dapat digunakan untuk menentukan standar kelulusan UN menjadi lebih ilmiah. 

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Tutorial Program S1 PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Terbuka

Prayekti, Prayekti ( FKIP Universitas Terbuka ) , Nurdin, Gusti

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.002 KB)

Abstract

This article was written based on the research results on factors influencing the quality of tutorials activities of the S1 PGDS Program implemented by the learning groups in Pangkal Pinang regional office. These factors include: 1) preparation tutorials; 2) implementation of the tutorial; 3) interaction of the tutorial classes. The analysis showed that: preparation of tutors: (a) close proximity to a tutorial site, the average value of readiness tutor 4.65 value of 4.74 and tutor activities; value 4.32 while the value of readiness tutor 4.63; tutor activity value 4.58; value of 4.03 students in tutorials; and activities of the manager with a value of 4.67; (b) medium-range, the value of readiness tutors activity value of 4.48 and 4.42,l value of 4.15 student activity, where as the value of management activities 4.34; (c) distance, the value of the student activities management for 4.56; 2) implementation of tutorials , active student learning during the tutorial with a good category for 87.5 % and 12.5 % fairly category, so the average tutor activity; 3) interaction of the tutorial classes, tutors in the implementation of the tutorial activities attract enough students, tutors while walking around the class asking students difficulty understanding when self-learning modules. In addition, to motivate students to study harder, read and understand the module more. ABSTRAKArtikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas tutorial Program S1 PGSD di UPBJJ-UT Pangkal Pinang. Faktor-faktor tersebut meliputi: 1) persiapan tutorial; 2) pelaksanaan tutorial; dan 3) interaksi kelas tutorial. Hasil analisis menunjukkan bahwa: 1) persiapan tutor: (a) jarak dekat dengan lokasi tutorial, nilai rata-rata kesiapan tutor 4,63; nilai aktivitas tutor 4,58; nilai mahasiswa pada tutorial 4,03, dan aktivitas pengelola dengan nilai 4,67; (b) jarak sedang, nilai kesiapan tutor 4,48 dan nilai aktivitas tutor 4,42; nilai aktivitas mahasiswa 4,15; sedangkan nilai aktivitas pengelola 4,34; (c) jarak jauh, nilai kesiapan tutor 4,65 dan nilai aktivitas tutor 4,74; nilai aktivitas mahasiswa 4,32 sedangkan nilai aktivitas pengelola sebesar 4,56; 2) pelaksanaan tutorial, keaktifan belajar mahasiswa selama mengikuti tutorial dengan kategori baik sebesar 87,5 % dan kategori cukup sebesar 12,5 %, sehingga aktivitas tutor rata-rata baik; 3) interaksi kelas tutorial, aktivitas tutor dalam pelaksanaan tutorial cukup menarik perhatian mahasiswa, tutor berjalan berkeliling kelas sambil menanyakan kesulitan mahasiswa dalam memahami modul saat belajar mandiri. Di samping itu, memotivasi mahasiswa agar lebih giat belajar, membaca dan memahami modul.

Lingkungan sebagai Media Pembelajaran dan Pengaruhnya terhadap Kompetensi Penyuluh Pertanian

Anwas, Oos M ( Pustekkom Kemdiknas )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 3 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.222 KB)

Abstract

This study aimed to analyze the intensity of utilization of the environment as a medium of learning and its influence on the competency of agricultural extension agents. This study uses a survey of PNS, agricultural extension in the districts of Karawang and Garut district of West Java Province. Samples randomly taken as much as 170 people. Results Descriptive analysis is generally known to use the media environment as a medium of learning is low. The low utilization is particularly true in the dimension of the natural environment and observing the intensity of agricultural business environment, while the deepening of independent innovation in the medium category. Regression analysis found that use of the media environment that significantly influence the intensity of the deepening of the competency of agricultural extension agents are independent innovation. Therefore it is necessary to attempt to “Learning with the Environment Movement” through concrete steps in boosting the agricultural extension agents to study the environment at the place of duty. Need to conduct further research on the influence of environmental media utilization of improved competence of other professions such as teacher, lecture, etc. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis intensitas pemanfaatan lingkungan sebagai media pembelajaran dan pengaruhnya terhadap kompetensi penyuluh pertanian. Penelitian menggunakan metode survai terhadap penyuluh pertanian PNS di kabupaten Karawang dan kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat. Sampel diambil secara random sebanyak 170 orang. Hasil analisis deskriptif diketahui secara umum pemanfaatan media lingkungan sebagai media pembelajaran adalah rendah. Rendahnya pemanfaatan ini terutama terjadi dalam dimensi intensitas mengamati lingkungan alam dan lingkungan usaha pertanian, sedangkan pendalaman inovasi mandiri dalam kategori sedang. Hasil analisis regresi diketahui bahwa pemanfaatan media lingkungan yang berpengaruh signifikan terhadap kompetensi penyuluh adalah intensitas pendalaman inovasi mandiri. Oleh karena itu perlu upaya “Gerakan Belajar dengan Lingkungan” melalui langkah-langkah nyata dalam mendorong penyuluh pertanian untuk belajar dengan lingkungan di tempat tugasnya. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pemanfaatan media lingkungan terhadap peningkatan kompetensi pada profesi lain, seperti guru, dosen, dan profesi lainnya.