cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 16, No 7 (2010)
10
Articles
Studi Efektivitas Program Akselerasi di SMU Surakarta

Yusuf, Munawir ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 7 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.922 KB)

Abstract

This research is conducted with the purposes of 1) to get a thorough description of accelerated program in SMAN Surakarta, 2) To know the effectiveness of recruitment of prospective students in accelerated program in SMA Surakarta, 3) To know the degree of achievement motivation of accelerated students, 4) to know the positive and negative impacts on students’ personality, 5) To get the gap between the attitudes of teachers who teach at accelerated program with that of teachers who don’t. This research combines the qualitative and quantitative description. The subject is two classes of accelerated program ; whereas one class of regular program is taken as a comparison 1) Generally, the management of accelerated program in SMAN X Surakarta is considered good, 2) In terms of recruitment process, a few students in the first batch do not meet the ideal standard, e.g. the IQ, CQ and TC score test do net meet the required minimum standard. On the other hand, the score of NEM, Report and acdemic test is quite satisfactory to meet the entrance qualification, 3) In terms of achievement motivation aspect, class A has relatively higher motivation than class B; 72% compared to 68%, however the joint score of those who have high motivation and moderate motivation shows balance proportion, i.e. 50%, 4) The effectiveness of accelerated program measured from the impact towards personal aspects (self-confidence and selfconcept) shows that in class A more than 60% shows positive impact and 32% shows negative impact, and 8% remains the same. In class B, 80% shows positive impact, 12 % shows negative impact and 8% remains the same, 5) In terms of teachers, those who teach in accelerated program show more positive attitude toward the accelerated program, compared to those who don’t. ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: 1) Untuk mengetahui gambaran secara utuh penyelenggaraan program akselerasi di SMA, 2) Untuk mengetahui efektivitas rekrutmen calon peserta program akselerasi, 3) Untuk mengetahui tingkat motivasi berprestasi siswa akselerasi, 4) Untuk mengetahui dampak positif dan negatif terhadap kepribadian siswa, 5) perbedaan sikap guru terhadap penyelenggaraan program akselerasi antara guru yang mengajar di kelas akselerasi dengan yang tidak mengajar di kelas akselerasi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Dua kelas peserta program akselerasi sejumlah 59 siswa semuanya dijadikan subyek penelitian, sementara untuk perbandingan diambil satu kelas program reguler. Hasil menunjukkan bahwa: 1) Secara umum manajemen penyelenggaraan program akselerasi di SMAN Surakarta, termasuk kategori baik; 2) Proses rekruitmen angkatan pertama masih belum memenuhi standar ideal berdasarkan kriteria IQ, CQ, dan TC yang dipersyaratkan. Sedangkan dukungan data akademik lain seperti NEM, Raport, dan skor tes akademik, relatif sudah cukup baik; 3) Motivasi berprestasi siswa akseleran kelas A lebih tinggi dari kelas B dengan perbandingan 72% dibanding 68%, namun skor gabungan seluruh peserta (59 siswa) menunjukkan bahwa antara yang memiliki motivasi berprestasi tinggi dengan yang sedang proporsinya seimbang yaitu masing-masing 50%; 4) Efektivitas program akselerasi dilihat dari aspek dampak terhadap berapa aspek kepribadian (kepercayaan dan konsep diri siswa), ditemukan bahwa lebih dari 60% siswa akselerasi kelas A berdampak positif, 32% negatif (menurun), dan 8% tetap. Sementara untuk kelas B lebih dari 80% positif, 12% negatif (menurun) dan 8% tetap; 5) Efektivitas program akselerasi dilihat dari aspek guru, dapat disimpulkan bahwa guru-guru yang mengajar di kelas akselerasi memiliki sikap yang lebih positif terhadap program akselerasi dibandingkan dengan guru guru yang mengajar di kelas regular.

Program Layanan Bimbingan Konsep Diri (Self Concept) Pada Siswa Tunalaras

Hanif, Achmad Sofyan ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud ) , --, Sujarwanto ( UNESA )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 7 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.5 KB)

Abstract

The purpose of this research is to find the guiding self-concept service program for unsociable children in SLB/E Surabaya. The result shows that: 1) was not still optimal yet to get guiding self-concept for developing aware of the importance the self in positioned self; 2) the issue of overcoming self concept through guiding was large enough especially to the education system in special school which did not view yet the need of counseling function; 3) the need of guiding application which multi technique in every overcoming problem that happens among the student including self concept issue of unsociable students. The technique applied in SLB/E Surabaya was systematic desensitization, to eliminate the student’s behavior which lead to boring action, Rational Emotive Therapy to prevent the student’s belief about self concept which was inappropriate to their need and skill, and information service through role play activity, experiment to gather and discussion. For the four subjects which included in limited trial showed that there was change self concept to the more positive such as; social behavior deviation frequency decreased more like saying politely, neat clothing, etc.,the students did not do the habit anymore to wait the teacher or instructor when performing the school task, based on the parent report, the students did not do the habit anymore that was not to pay attention the job, but started to be summarized or organized as the beginning position, the students started to be able to understand the they were a part of the school or family environment. ABSTRAKPenelitian ini betujuan untuk menemukan program layanan bimbingan konsep diri pada anak tunalaras di SLB/E Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) masih belum optimal mendapat bimbingan konsep diri guna menumbuhkan kesadaran pentingnya diri dalam menempatkan diri; 2) kendala penanganan konsep diri melalui bimbingan masih cukup banyak terutama pada sistem pendidikan di SLB yang belum memandang perlu adanya fungsi Bimbingan Konseling; 3) Perlunya penerapan bimbingan yang multiteknik dalam setiap penanganan kasus yang terjadi pada siswa termasuk persoalan konsep diri siswa tunalaras. Teknik-teknik yang diterapkan di SLB/E Surabaya adalah desensitisasi sistematik, untuk mengeliminasi perilaku-perilaku siswa yang mengarah pada tindakan kebosanan, rational emotif terapy (RET) untuk menanggulangi keyakinan-keyakinan siswa tentang konsep diri yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya, serta layanan informasi melalui kegiatan bermain peran, eksperimen bersama dan diskusi. Pada 4 (empat) subjek yang dikenakan dalam uji coba terbatas menunjukkan adanya perubahan konsep diri ke arah yang lebih positif seperti: frekuensi penyimpangan perilaku sosial semakin berkurang seperti berkata sopan, pakaian mulai rapi dsb, siswa tidak lagi melakukan kebiasaan menunggu bimbingan guru kelasnya atau instrukturnya apabila mengerjakan tugas sekolah, berdasarkan laporan dari orangtua siswa tidak lagi melakukan kebiasaan membiarkan pekerjaan yang ia kerjakan sendiri, tetapi mulai diringkas sendiri atau ditata seperti semula, siswa mulai dapat memahami bahwa dirinya itu bagian dari lingkungan sekolah atau lingkungan keluarga.

Pendidikan Keterampilan Kerja Bagi Warga Berkebutuhan Khusus Melalui Pelayanan Keliling di Pedesaan

--, Haryanto ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 7 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.701 KB)

Abstract

This study aimed to investigate the intensity and effectiveness, the relationship between th intensity of a model service and skills, the effectiveness of the model service, and the effect of the model on people with special needs in terms of the work accuracy level with accurate products, work time accuracy, and work perfection with good results. This study was a research and development study. The research subjects were people with special needs in the productive age who have not held permanent jobs. The study was conducted in the area of Gunungkidul in the period of 2008-2009. The data were collected through observations, interviews, demonstrations, and tests. The data were analyzed by means of the mixed methods involving the quantitative and qualitative approaches. The quantitative data were analyzed by LISREL and the qualitative data by the interactive model. The result showed that the subject’s skill may changed tin a positive direction in accordance with intensity, the attitude change among people with special needs occur throgh optimal work, beside building intensity also need to remain the work accuracy and the time puretually, the impact of the model result for the people with special needs not only about having the work skill but phsycologically they felt noted, respected, and it raises their life spirit, to work and live independently. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui intensitas, efektivitas, hubungan antar intensitas pelayanan model dengan keterampilan, dan dampak model bagi warga berkebutuhan khusus. Subjek penelitian warga berkebutuhan khusus usia produktif. Lokasi penelitian di wilayah Gunungkidul, jenis penelitian Research and Development, dilaksanakan tahun 2008-2009. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, intervu, demonstrasi, dan tes. Analisis data menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diolah dengan program LISREL, data kualitatif dianalisis melalui model interaktif. Hasi penelitian menunjukkan bahwa keterampilan subjek dapat berubah dengan arah positif sesuai dengan berubahnya intensitas, terdapat perubahan perilaku warga berkebutuhan khusus melalui partisipasi masyarakat, didukung sarana dan prasarana yang memadai, untuk menjaga keterampilan kerja yang optimal, selain membangun intensitas juga perlu dijaga keakuratan kerja dan ketepatan waktu, dampak hasil model bagi warga berkebutuhan khusus tidak sekedar memiliki keterampilan kerja tetapi secara psikologis mereka merasa diperhatikan, dihargai, hal ini menumbuhkan semangat hidup berkarya, dan hidup mandiri.

Penyesuaian Sosial Siswa Akselerasi Ditinjau Dari Konsep Diri dan Membuka Diri

Andayani, Tri Rejeki ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 7 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.906 KB)

Abstract

The aims of this research is to find out relationship between self-concept and self-disclosure with the social adjustment of them. This study population were 89 students of Class X and XI in the High School (SMAN 3 Surakarta). Collecting data use three scales: 1) Self-concept Scale, the validity of items ranged between 0,259-0,658, the reliability is 0.848; 2) Self-disclosure Scale, the validity of items ranged between 0,280-0,694, reliability is 0.872; and 3) Social Adjustment Scale, the validity of the items between 0,284-0,646, the reliability is 0.821. Analysis data in this study is using multiple regression analysis technique. The results of multiple regression analysis revealed a significant relationship between selfconcept and self-disclosure with social adjustment of students with acceleration. Student who have a positive self-concept and accept themselves more positively will be open in accepting criticism and inprove ourselves, so that tends to adapt better. Positive self-concept of accelleration means that students have a positive outlook on his ability and circumstances, giving rise to the confidence to bring him to the wider social environtment. However, the student who have negative self-concept will be developed feelings of inadequacy, low self-esteem and tend to carry themselves in difficult social adjustment. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan membuka diri dengan penyesuaian sosial siswa akselerasi. Populasi penelitian sebanyak 89 siswa, terdiri atas siswa Akselerasi Kelas X dan XI SMAN 3 Surakarta. Pengumpulan data mengunakan tiga buah skala, yakni : 1) Skala Konsep Diri, validitas item berkisar antara 0,259-0,658, reliabilitas alat ukur 0,848; 2) Skala Membuka Diri, validitas item 0,280-0,694, reliabilitas alat ukur 0,872; dan 3) Skala Penyesuaian Sosial, validitas item 0,284-0,646, reliabilitas alat ukur 0,821. Analisis data menggunakan Teknik Analisis Regresi Ganda. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada hubungan antara konsep diri dan membuka diri dengan penyesuaian sosial siswa akselerasi. Siswa yang memiliki pandangan positif dan menerima diri secara positif akan lebih bersikap terbuka dalam menerima kritik dan memperbaiki diri. Konsep diri yang positif berarti siswa akselerasi memiliki pandangan positif terhadap kemampuan dan keadaan dirinya, sehingga menimbulkan rasa percaya diri untuk membawa dirinya pada lingkungan pergaulan yang lebih luas. Sebaliknya, siswa yang memiliki konsep diri negatif akan mengembangkan perasaan tidak mampu, rendah diri dan cenderung sulit membawa diri pada lingkungan pergaulan yang lebih luas.

Pembentukan Peta Kognitif Tunagrahita Ringan Dalam Penguasaan Konsep Pengukuran Di Bidang Berhitung dan Ilmu Pengetahuan Alam

--, Mumpuniarti ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 7 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1279.713 KB)

Abstract

This research was conducted in the learning for mild mentally retarded with the integration between field arithmetic and science through game play scales using balance scales. Learning in a way that aims to develop of mild mentally retarded cognitive map in mastering the concept of content size and weight; approach to research using classroom action research, research subjects 5 of mild mentally retarded students grade 1 SMP at SLB Negeri 2 Yogyakarta, monitoring actions with a structured observatio guide or unstructured observation, analysis qualitative data with a description of the information by selecting, simplifying, classifying, focused, and organized. The results showed that the mastery of the concept maps for weight and content measurement in mild mentally retarded through a gradual process and the grouping when playing scales. The process began measuring the body weight difference significant size difference was gradually reduced until the body weight difference was not significant; vice versa measuring the weight of the contents of the volume difference is different but the same type of object to the same volume but a different kind. ABSTRAK Penelitian ini dilakukan pada pembelajaran bagi tunagrahita ringan dengan integrasi antara bidang berhitung dan ilmu pengetahuan alam melalui bermain timbangan memakai permainan timbangan neraca. Pembelajaran dengan cara tersebut bertujuan mengembangkan peta kognitif tunagrahita ringan dalam penguasaan konsep ukuran berat dan isi. Pendekatan penelitian menggunakan penelitian tindakan kelas, subjek penelitian 5 siswa tunagrahita ringan kelas 1 SMP Negeri 2 Yogyakarta, monitoring tindakan dengan pedoman observasi terstruktur maupun observasi tidak terstruktur, analisis data dengan kualitatif dari keterangan berupa deskripsi melalui menyeleksi, menyederhanakan, mengklasifikasikan, menfokuskan, dan mengorganisasikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguasaan peta konsep pengukuran berat dan isi pada tunagrahita ringan melalui proses bertahap dan secara grouping ketika bermain timbangan. Proses itu mulai mengukur dari benda yang perbedaan ukuran beratnya signifikan secara bertahap perbedaan itu diperkecil sampai ke benda yang perbedaan beratnya tidak signifikan; demikian juga sebaliknya mengukur berat dari isi yang perbedaan volumenya berbeda tetapi jenis bendanya sama sampai volumenya sama tetapi jenisnya berbeda.

Pengembangan Model Modifikasi Kurikulum Sekolah Inklusif Berbasis Kebutuhan Individu Peserta Didik

Salim, Abdul ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 7 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.636 KB)

Abstract

The aims of this research are to develop the model of modified curriculum for inclusive schools based on the individual needs and to know the empirical validity of the curriculum modified. The data is collected through interview, observation and documentation. The data is analysed by using descriptive technique. The result of this research show that: 1) The understanding of teachers and Headmaster Prinsipal in inclusive schools about the content of curriculum modified guidance book, such as: (a) 46% well understanding, (b) 32,65% good understanding, (c) 16,32% bad understanding (d) 4% worst understanding. 2).The empiric validities of guidance books of curriculum modification shows: (a) 88.2% teachers and head master have agreed the content of guidance books’ substance the meaning/the substance of guidance books, only 11.8% who are disagree. (b) The readability of guidance books: 88.2% guidance books have used proper language in its writing and only 11.8% which haven’t used proper language yet. (c) 88.2% guidance books have used good and proper style of writing while out of 11,8% haven’t answered the question. And (d) the appearance of guidance books: 64.7% respondents states that guidance books have had good appearance, 29.2% consider that the appearance hasn’t been good enough yet and the rest, 11.8% do not answer the question. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model modifikasi kurikulum anak berkebutuhan khusus dan mengetahui validitas empiris modifikasi kurikulum. Pengumpulan data dilakukan melalui interview, observasi dan dokumentasi. Tehnik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Pemahaman guru dan kepala sekolah terhadap panduan modifikasi kurikulum menunjukkan :(a) sangat baik 46,93%, (b) baik 32,65%, (c) kurang baik 16,32%, dan 4% tidak baik. 2) Validitas empiris buku panduan menunjukkan bahwa: a). 88,2% guru dan kepala sekolah menyetujui kebermaknaan/Substansi buku panduan dan 11% kurang menyetujui. b). 88,2% menyatakan buku panduan telah menggunakan bahasa yang baik dan sisanya 11,8% menyatakan belum. c) 88,2% menyatakan buku panduan telah menggunakan gaya penulisan yang singkat, padat dan baik, sedangkan sisanya 11,8% tidak menjawab pertanyaan. c). 64,7% menyatakan penampilan buku panduan telah memiliki penampilan yang baik, 29,4% belum baik dan 11,8% tidak menjawab pertanyaan.

Pengaruh Kesadaran Linguistik dan Kesadaran Persepsi Visual Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Anak Tunagrahita

Rochyadi, Endang ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 7 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1598.838 KB)

Abstract

this study was conducted to find the essential factors of linguistic awareness and visual perception influencing the beginning reading skill of mentally retarded children. The factors studied include linguistic awareness (morphemes, semantics and syntax) and visual perception awareness (visual discrimination, visual spatial, visual figure-ground, and visual memory) which are assumed to be the prerequisites of learning early reading. The subjects of this research were 32 students from 5 special school in Bandung. The results show that both of the factors have strong influence towards mentally retarded children early reading skill. However, the Beta Coefficient it was is found that linguistic awareness has stronger relationship compared to the visual perception aspect. The value of the coefficient path in the linguistic awareness is 0.72, while the coefficient path value for linguistic awareness is 0.25. This means that linguistic awareness is influencing position as the prerequisite of early reading skill compared to the visual perception aspect. However, if studied further, it is found that not all variables related to either linguistic awareness aspect or visual perception have the same meaningful relationship with children reading skills. The most essential factor of reading prerequisite related to the linguistic awareness is related to the phoneme and syntax awareness, while the essential factor in visual perception is related to the visual discrimination and visual memory. ABSTRAKKajian ini untuk melihat faktor-faktor esensial dari kesadaran linguistik dan kesadaran persepsi visual yang mempengaruhi kemampuan membaca permulaan pada anak tunagrahita. Faktor-kator yang dikaji meliputi kesadaran linguistik (fonem, morfem, semantik dan sintaksis) dan kesadaran persepsi visual (visual discrimination, visual spacial, visual figure and ground, visual memory) yang diduga menjadi prasyarat dalam belajar membaca permulaan. Subjek penelitian berjumlah 32 siswa dari lima SLB di Bandung. Hasil kajian ini menunjukkan, bahwa kedua faktor tersebut memiliki hubungan kuat terhadap kemampuan membaca permulaan anak tunagrahita. Berdasarkan Koefisien Beta secara parsial kesadaran linguistik memiliki hubungan jauh lebih kuat dibandingkan kesadaran persepsi visual. Nilai koefisien path kesadaran linguistik (0.72) sementara pada kesadaran persepsi visual nilai koefisien pathnya (0.25). Akan tetapi ada faktor esensial sebagai prasyarat membaca yang berkaiatan dengan aspek kesadaran linguistik yaitu kesadaran fonem dan sintaksis, sementara faktor esensial pada aspek kesadaran persepsi visual lebih berhubungan dengan discrimination dan visual memory. 

Penggunaan Model Pembelajaran Eklektik dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia dengan Kovarian Kognisi di Sekolah Inklusif

--, Gunarhadi ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 7 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.862 KB)

Abstract

This research aims to know the impact of eclectic teaching model, measure the extent of eclectic teaching model on the learning achievement, and measure the role of cognition in facilitating the learning achievement of Bahasa Indonesia. This research was conducted to a group of students in 75 inclusive elementary schools in Boyolali assigned in cluster random sampling. Quasi experiment was applied for 68 sixth graders representing both experiment and control groups. The data was analyzed by means of ANCOVA as to compare the learning achievement before and after treatment, between both experiment and control groups as controlled by cognition. The research come to conclusion that: eclectic teaching model gave significant impact of the student learning achievement, eclecti teaching model was more effective than conventional teaching method, the cognition turned to take role to the improvement of the student learning achievement. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya dampak model pembelajaran Eklektik terhadap prestasi belajar, mengetahui seberapa besar dampak model pembelajaran Eklektik terhadap prestasi belajar, dan mengetahui peran kognisi dalam mempengaruhi perubahan hasil belajar siswa. Penelitian dilaksanakan terhadap sampel yang diambil secara acak melalui cluster random sampling dari sejumlah 75 Sekolah Dasar penyelenggara pendidikan inklusi di Kabupaten Boyolali. Metode penelitian ini adalah experimen tidak penuh (quasi experiment) dengan menggunakan 68 siswa kelas VI SD yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data peneltian dianalisis melalui ANAKOVA dengan cara membandingkan hasil belajar sebelum dan setelah perlakuan dan membandingkan hasil belajar kelompok eksperimen dan kelompok ontrol dengan mempertimbangkan pengaruh kognisi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: model pembelajaran eklektik memberikan pengaruh signifikan pada prestasi belajar siswa, model pembelajaran eklektik lebih effektif dibanding dengan metode tradisional, peningkatan hasil belajar siswa juga dipengaruhi oleh kemampuan kognisi siswa.

Membuka Peluang Berwirausaha Untuk Pemberdayaan Anak Berkebutuhan Khusus

Syamsi, Ibnu ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 7 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.04 KB)

Abstract

The purpose of study is to make a device of the development of entrepreneurship training, the develop a model of the entrepreneurship training, and to creat the material of entrepreneurship training for the special need child in community. The study employs research and development as the method and uses qualitative and quantitative as the approaches. After a series of trial is conducted, the real field operational test is performed by using pre-test and post-test design. The data is collected through interviews, participative observations, intensive discussion, documentation study, and questioners. Further, it is analyzed using descriptive analysis and inferential statistics using mark-test. The result of this study embrace the development of proper design of entrepreneurship training device for the children with special need, the development of the model of entrepreneurship training for the special need child, and the development of effective entrepreneurship training material for the applicant of the fresh entrepreneur in the special need child, that can increase one’s skill in running a business. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan unutuk mengembangkan pelatihan kewirausahaan dan materi kewirausahaan dalam rangka pemberdayaan anak berkebutuhan khusus di masyarakat. Metode yang digunakan research and development atau penelitian dan pengembangan, dengan cara pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Setelah melakukan serangkain uji coba, kemudian dilakukan uji operasional lapangan yang sebenarnya dengan model pretest and post design. Pengumpulan data menggunaka cara wawancara, observasi partisipatif, diskusi intensif, studi dokumentasi dan angket. Analisis data yang digunakan dengan deskriptif dan uji statistik inferensial dalam hal ini menggunakan uji–tanda. Hasil penelitian yang diperoleh rancangbangun peluang berwirausaha dan bentuk pelatihan yang tepat diterapkan untuk pemberdayaan anak berkebutuhan khusus, materi kerwirausahaan yang cocok diterapkan untuk anak berkebutuhan khusus, efektivitas bentuk pelatihan dan materi kerwirausahaan untuk anak berkebutuhan khusus untuk meningkatkan kemampuannya dalam berwirausaha.

Model Pembelajaran Berbasis Komik Untuk Mencapai Ranah Afektif Pada Pendidikan Kewarganegaraan Bagi Anak Berkesulitan Belajar

Wahyudi, Ari ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 7 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.231 KB)

Abstract

The research target was to create a learning innovation through comic package in the form of civilization education which was packed by simply story and interesting picture from the daily life of children. By using developing research and collecting data technique such as observation, interview, and test it was resulted as the following: a) the first year resulted prototype learning base-comic to civilization education, and b) the second year resulted effectiveness test of attaining affective domain in learning civilization education by applying learning model base-comic for difficulty learning children who was very significant in Sidoarjo District, Mojokerto District and Surabaya city. The end of this result is comic book for third, the fourth, and fifth classes which had got ISBN. ABSTRAKTarget peneliti ini adalah menciptakan terobosan belajar melalui paket komik berupa materi Pendidikan Kewarganegaraan yang dikemas dengan cerita sederhana dan gambar yang menarik dari kondisi kehidupan nyata sehari-hari anak. Dengan desain penelitian pengembangan dan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan tes dihasilkan penelitian sebagai berikut: a) tahun pertama menghasilkan prototipe pembelajaran berbasis komik pada pendidikan kewarganegaraan, dan b) tahun kedua menghasilkan uji efektivitas pencapaian ranah afektif dalam pembelajaran pendidikan kewarganegaraan dengan penerapan model pembelajaran berbasis komik pada anak berkesulitan belajar yang sangat signifikan di kabupaten Sidoarjo, kabupaten Mojokerto dan kota Surabaya. Hasil akhir penelitian ini adalah buku komik belajar untuk kelas 3, kelas 4 dan kelas 5 yang telah mendapatkan pengesahan berupa ISBN.