cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 16, No 4 (2010)
10
Articles
Perspektif Multidimensional Pendidikan Pembangunan Berkelanjutan: Pemikiran Awal Konsep dan Penerapan

Agung, Iskandar ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 4 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1019.619 KB)

Abstract

Development is a term expressed by all parties to promote the effort to create changes in the public toward a better life. Implementation of the Development is often performed multidimensionally in which most of the aspects in life (such as economy, social, education, politic, health, etc) are covered therein. Even though all of the Developments are aimed to improve, advance and achieve the welfare of the target society but in reality it is often found that a success in a Development is not followed by proper care and maintenance, worst of all, it is even threatened or vandalized by some of the irresponsible and reckless members of the society. In addition, it must be admitted that not all Developments can give positive impact to the society, some of which even create negative impacts against their life. On the basis of the premises mentioned above, it is necessary to introduce the concept of Sustainable Development so as to make sure that the Development will be properly cared-for, maintained, and even continued to the next level for the sake of the present and the future generations. One of the potential elements which can be used for implanting the values and objectives of the Development into the heart and mind of the society is Education, which is known as Education Sustainable Development. However, there has been no clear conception yet about the Education Sustainable Development which can be used as the guidelines and references at operational level by relevant parties. Therefore, this writing is intended to offer a concept of Education Sustainable Development, and the method for promoting the values and objectives of the Development through Education, especially are integrated into the intra and extracurricular activities. ABSTRAKPembangunan merupakan istilah yang dikemukakan oleh berbagai pihak sebagai upaya mencapai perubahan masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik. Pembangunan kerapkali dilaksanakan secara multidimensional, dalam arti meliputi berbagai dimensi kehidupan (ekonomi, sosial, pendidikan, politik, kesehatan, dan sebagainya), meski keseluruhan bermuara pada upaya menuju perbaikkan, kemajuan dan kesejahteraan hidup masyarakat penerimanya. Namun tidak jarang fenomena di sekitar memperlihatkan, keberhasilan suatu pembangunan kurang dapat dipertahankan, terancam kesinambungannya, dan bahkan dirusak oleh sebagian anggota masyarakat penerimanya. Di samping itu, pembangunan yag dilaksanakan pun tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga negatif dalam kehidupan masyarakat. Atas dasar itu diperkenalkan konsepsi pembangunan berkelanjutan (sustainable development) dengan tujuan agar pembangunan dapat dijaga, dipelihara, dan bahkan dikembangkan keberlanjutannya untuk kepentingan generasi masa kini maupun akan datang. Salah satu unsur potensial untuk menanamkan nilai dan tujuan pembangunan itu adalah melalui bidang pendidikan, yang dikenal dengan sebutan pendidikan pembangunan berkelanjutan (education sustainable development). Belum terdapat kejelasan konsepsional mengenai istilah pendidikan pembangunan berkelanjutan tersebut yang dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan operasionalisasinya oleh berbagai pihak di lapangan. Atas dasar itu tulisan ini bermaksud mengemukakan suatu pemikiran mengenai pengertian pembangunan berkelanjutan serta cara untuk menyebarluaskan nilai dan tujuan yang terkandung dalam dimensi pembangunan melalui jalur pendidikan, terutama mengintegrasikannya ke dalam kegiatan intra dan ekstrakurikuler.

Otoritas Guru Dalam Konteks Pendidikan Kritis di SMA Negeri Kota Padang

Moeis, Isnarmi ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud ) , Rafni, Al ( Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang ) , Indrawadi, Junaidi ( Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 4 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.637 KB)

Abstract

The aim of this research is to describe the phenomenon of learning interaction in terms of critical education in the State Senior High School in Padang. The subjects of this research are the teachers of Civics Education and Sociology. The research was held at six schools: SMAN 1 and SMAN 2 Padang represents the best school; SMAN 3 and SMAN 5 represents the good school, and SMAN 7 and SMAN 12 represents the ordinary school. These 6 school selected one PKn teacher from each school among the aspect observed in this research is the pattern of interaction between teachers and students in learning process at the classroom. To analyze this interaction was approached by Critical Discourse Analysis of Fairlclough, especially dealing with Interactional Control Feature. The theoretical framework was based on theory of teachers’ authority by John Wilson. The result of this study shows that interaction between teachers and students is dominated by teachers. This authority tend to direct students on achieving the target of learning by mastering the material which proved by success on passing the test (mid of last term semester). In short, teachers have not applied their authorities yet on empowering students as the subjects of learning. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menggambarkan fenomena interaksi belajar mengajar di sekola dengan sudut tinjauan pendidikan kritis. Subjek penelitian adalah guru-guru SMAN di Kota Padang yang terdiri dari guru PKN dan Sosiologi. Untuk setting penelitian dipilih 6 SMAN yaitu SMAN 1 dan SMAN 2 Padang mewakili sekolah unggul, SMAN 3 dan SMAN 5 mewakili sekolah pra unggul, dan SMAN 7 dengan SMAN 12 mewakili sekolah kategori biasa. Dari enam sekolah tersebut dipilih masing-masing 1 guru PKn dan 1 guru Sosiologi. Aspek yang diamati dalam penelitian ini adalah pola interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Untuk menganalisis interaksi tersebut digunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis dari Fairclough, khususnya mengenai kontrol Interaksi (Interactional Control Feature). Kerangka teori yang digunakan adalah teori otoritas dari John Wilson yang menyoroti penggunaan otoritas guru dalam kelas. Dari hasil pengamatan ini ditemukan bahwa interaksi guru siswa yang ada saat ini masih banyak didominasi oleh guru. Penggunaan otoritas guru masih terfokus pada pencapaian target berupa penguasaan materi seperti yang telah direncanakan, dan pada akhirnya dibuktikan melalui keberhasilan dalam menjawab soal tes (tengah semester atau akhir semester). Disimpulkan bahwa guru belum menggunakan otoritas yang diarahkan kepada pendidikan atau pemberdayaan siswa sebagai subjek belajar.

Bahasa dan Integrasi Bangsa Dalam Kajian Antropologi- Fungsional

Brata, Nugroho Trisnu ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 4 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.093 KB)

Abstract

The writing attempts to analyze the functions or roles of language during the integration process of Indonesia. It raises a question on how the process of Indonesian language is modified and adopted into a language of unity functioning as the glue that holds the ethnic diversity. The article aims at discovering the process of modification and adoption of Indonesian language into the language of unity which is adaptable to the era changes. Theoretical background employed in the analysis is Functional-Anthropology Theory developed by two British anthropologists, Bronislaw Malinowski and Radcliffe Brown. The results conclude that Indonesian language possess special characteristics which are different from other languages because it has its roots in local ethnics. If Indonesian language is permanently to be  language of unity, it is necessary to conduct socialization and inheritance. The socialization of Standard Indonesian language is massively and continuously conducted by TVRI or private television stations using standard language in their programs. The function of Indonesian language as the language of unity for Indonesian people has created language phenomenon and political phenomenon, side by side, in this case language politics. As a suggestion, continuous socialization and inheritance is necessary to be conducted due to the potency of Standard Indonesian language as one element in preserving the integration of Indonesia. ABSTRAK Tulisan ini berusaha mengkaji fungsi atau peran bahasa dalam proses integrasi Bangsa Indonesia. Tulisan ini mengangkat permasalahan, yaitu bagaimana proses Bahasa Indonesia dimodifikasi dan diadopsi menjadi bahasa persatuan yang berfungsi sebagai perekat keberagaman etnik? Tujuan penulisan artikel ini adalah berusaha menjawab permasalahan bagaimana proses Bahasa Indonesia dimodifikasi dan diadopsi menjadi bahasa persatuan sehingga bisa beradaptasi dengan perubahan jaman. Landasan teori yang digunakan dalam melakukan analisis di sini adalah teori antropologi-fungsional yang dikembangkan oleh dua antropolog Inggris yaitu Bronislaw Malinowski dan Radcliffe Brown. Hasi bahasan menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia memiliki karakter khusus yang berbeda dengan bahasabahasa bangsa lain karena Bahasa Indonesia berakar dari tradisi etnik lokal. Apabila Bahasa Indonesia tetap diperlukan sebagai bahasa yang bisa menjaga integrasi negara Indonesia maka harus ada sosialisasi dan pewarisan. Sosialisasi Bahasa Indonesia baku secara massal dan berkesinambungan misalnya dilakukan oleh TVRI atau TV-TV swasta yang menggunakan bahasa baku dalam siarannya. Bahasa Indonesia yang difungsikan sebagai bahasa persatuan bagi masyarakat Indonesia telah menciptakan fenomena bahasa berdampingan dengan fenomena politik, dalam hal ini adalah politik-kebahasaan. Sebagai saran, bahwa Bahasa Indonesia baku bisa menjadi salah satu unsur dalam menjaga integrasi Bangsa Indonesia, maka harus dilakukan sosialisasi dan pewarisan yang tiada henti.

Analisa Kausal Prestasi Kerja Instruktur Penerbang Beserta Kualitas Pengukuran Indikator-Indikatornya di Sekolah Penerbang TNI-AU Adisutjipto Yogyakarta

Said, Mudjiono ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 4 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1944.561 KB)

Abstract

The objective of the study is to analyze causal of Pilot Instructor’s work achievement including the quality of the measurement of their indicators, such as indicator of commitment, cognitive ability in management, pilot’s perception toward higher rank leadership, and Pilot Instructor’s work achievement.The study was conducted at the Air Force Flying School Yogyakarta, sample was taken by using simple random sampling technique. The research concludes that any reducing quality of errorvariance cause to increase the value of the loading factor and the validity of the loading factor becomes a higher level quality. Moreover there are structural equations among pilot’s perception toward higher rank leadership with commitment, cognitive ability in management, and Pilot Instructor’s work achievement with pilot’s perception toward higher rank leadership, commitment, and cognitive ability in management. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa kausal prestasi kerja Instruktur Penerbang beserta kualitas pengukuran indikator-indikatornya, seperti indikator komitmen, kemampuan kognitif manajemen, persepsi kepemimpinan atasan, dan prestasi kerja Instruktur Penerbang itu sendiri. Penelitian dilaksanakan di Sekolah Penerbang TNI-AU Yogyakarta, dengan mengambil sampel yang terjangkau sebanyak 60 orang Instruktur Penerbang dengan teknik simple random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antar indikator yang terjadi setiap kekeliruan ukur yang semakin kecil, akan berdampak pada muatan faktor (loading factor) menjadi lebih besar. Artinya bahwa validitas dari kualitas muatan besaran faktor akan menjadi lebih tinggi. Lebih lanjut, dapat diterangkan pada kesetaraan struktural variabel yang diteliti, bahwa prestasi kerja didukung oleh komitmen, kemampuan kognitif manajemen dan kepemimpinan. Sedangkan untuk kepemimpinan sendiri mendapat dukungan dari komitmen dan kemampuan kognitif manajemen.

Intelegensi: Konsep dan Pengukurannya

M.Ed, Purwanto ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 4 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.109 KB)

Abstract

Intelligence is a common and potential capability. Theorist have not agreed in its concept yet. Their definitions are not identical. They also do not agree with factors which contribute to intelligence. They try to correlate intelligence with talent, creativity and achievement. Their theories contain different elements. Some theorist are Lewis Terman, Charles Spearman, Sternberg, Louis Thurstone, James P Guilford and Howard Gardner. Intelligence is measured by a test and scaled in IQ. IQ score is interpreted by comparing one’s IQ with his peer or norm group. ABSTRAKIntelegensi merupakan kemampuan yang bersifat umum dan potensial. Para ahli tidak mencapai kesepakatan dalam banyak hal mengenai intelegensi. Definisi-definisi yang dikemukakan menunjukkan batasan yang tidak serupa. Mereka juga tidak sepaham dalam melihat apakah intelegensi merupakan heriditas atau modifikasi. Beberapa mencoba menghubungkan intelegensi dengan bakat, kreativitas, dan prestasi. Para ahli juga berbeda dalam melihat komponen-komponen yang terdapat dalam intelegensi. Hal itu tampak dalam teori-teori yang mereka ajukan. Beberapa ahli yang mengajukan teorinya mengenai intelegensi, di antaranya adalah Terman, Spearman, Sternberg, Thurstone, Guilford, dan Gardner. Intelegensi diukur menggunakan tes intelegensi dan diskala menggunakan ukuran yang dikenal dengan IQ. Skor IQ diinterpretasikan dengan membandingkan IQ seseorang dengan kelompok sebaya atau kelompok norma.

Pengembangan Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD): Peran Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Dalam Pos PAUD

Tedjawati, J.M ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 4 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.699 KB)

Abstract

The purpose of this research is to find informataion and data about: 1) Post implementation of the Post Early Childhood Education (Pos PAUD) in the community environment that includes characteristics of students, teachers, and administrators, the process of activities, evaluation and coaching; 2) PKK role in post implementation of the Post ECE; and 3) Obstacles and problems faced in the implementation of ECE services and attempt what can be done to overcome them. The methodology used is qualitative research, with the scope of this research is the implementation of ECE programs and the role of PKK Limapuluh Koto district, Gorontalo district, and Gowa district. The result showed that: 1) Post implementation of the region have implemented ECE integrated with IHC (Posyandu) and BKB activities; 2) the PKK has been carrying out its duties in cooperation with IHC (Posyandu)/ PHC (Puskesmas) and BKB, according to the ECE directorate hopes to help early childhood development, and 3) Obstacles found from the implementation of ECE, among others: (a) Lack of cadres and low educational cadres held; (b) Lack of mastery of the science education of the cadres held; (c) Lack of funds for the purchase of APE; (d) Limitations of space for games; and (e) Evaluation in ECE (PAUD) Programs. To minimalis of the obstaclce has been done by: 1) moving class; 2) using symple educational facilities with reuseable material; and 3) giving opportunity to the ECE cader to continue studying or following ECE training programe. ABSTRAKTujuan penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data dan informasi tentang: 1) penyelenggaraan Pos PAUD di lingkungan masyarakat; 2) peran PKK dalam penyelenggaraan Pos PAUD; dan 3) hambatan dan upaya yang dilakukan. Metodologi yang digunakan adalah penelitian kualitataif, dengan lingkup penelitian pelaksanaan program Pos PAUD dan peran PKK di Kabupaten Limapuluh Koto, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Gowa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pelaksanaan Pos PAUD di tiga kabupaten sudah diselenggarakan berintegrasi dengan kegiatan Posyandu dan BKB; 2) PKK telah bekerjasama dengan Posyandu/Puskesmas dan BKB sesuai dengan harapan Direktorat PAUD dalam menumbuh kembangkan anak usia dini; dan 3) Hambatan yang ditemukan antara lain masih terbatasnya: (a) tenaga kader dan masih rendahnya pendidikan kader, (b) penguasaan ilmu pendidikan para kader, (c) dana untuk pembelian alat permainan (PAUD), (c) ruang untuk bermain, dan (d) evaluasi program PAUD. Upaya yang dilakukan antara lain dengan cara: 1) menggunakan tempat kegiatan secara bergiliran; 2) menggunakan alat bantu mengajar dengan bahan sederhana; dan 3) memberikan kesempatan pada kader PAUD untuk mengikuti pelatihan PAUD.

Model Persamaan Struktural Kualitas dan Biaya Jasa Terhadap Kepuasan dan Loyalitas Mahasiswa

Ihsan, Hisyam ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 4 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.226 KB)

Abstract

The objective of the study accordingly is to develop and verify the relationships model among various factors related to students’ satisfaction and loyalty and their status as effective participating partners of their educational institutions (Partnert-Participant), as well as the impact of these students’ attitudes and perceptions on the outcomes level of undergraduate program in a higher education. The relationship between the perceived quality of educational service as well as the price and the students’ satisfaction and loyalty are empiricall tested using Structural Equation Modeling (SEM). The result of the study supports the proposed applicative model which describes the attitudes and perception of the students both as consumers and as co-producer of the educational services in relation to their satisfaction and loyalty. The model concludes that the more positive the attitudes and the perceptions of the students to the educational process, the more satisfied and loyal the students will be, the better performance of higher education as the outcome in a long time perspective. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memverifikasi model hubungan antara berbagai faktor yang terkait dengan kepuasan dan loyalitas mahasiswa, termasuk kedudukannya sebagai mitra partisipan efektif dari pendidikannya sendiri, sekaligus melihat dampak sikap dan persepsinya pada tataran hasil (outcome) dalam institusi pendidikan tinggi. Hubungan kualitas jasa pendidikan dan biaya jasa yang dialami dengan kepuasan dan loyalitas mahasiswa diuji secara empirik dengan menggunakan Model Persamaan Struktural (Structural Equation Modeling atau SEM). Hasil penelitian memberikan dukungan terhadap usulan model aplikatif yang menggambarkan sikap dan perilaku mahasiswa baik sebagai konsumen maupun mitra-partisipan terhadap layanan jasa pendidikan tinggi dalam memprediksi kepuasan dan loyalitas mahasiswa. Melalui model tersebut dapat disimpulkan bahwa makin berkualitas layanan jasa yang diberikan kepada mahasiswa menurut persepsi dan keterlibatannya akan semakin puas dan loyal mahasiswa tersebut dalam penyelenggaraan pendidikan; atau ekuivalen bahwa makin positif sikap dan perilaku mahasiswa terhadap penyelenggaraan pendidikan, akan semakin puas dan loyal mahasiswa tersebut, dan tentu saja berakibat akan semakin baik kinerja pendidikan tinggi ke depan dalam perspektif jangka panjang.

Pemeliharaan SDM Terhadap Kepuasan Kerja dan Komitmen Guru Sekolah Dasar

Dahlan, Dadang ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 4 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.262 KB)

Abstract

This study is aimed at: 1) describing the discrepancy between teacher‘s expectation and perception toward human resources development/maintenance; 2) explaining the influence of the discrepancy between teacher‘s expectation and perception toward human resources development/maintenance for elementary teacher‘s job satisfaction and commitment; 3) explaining the influence of job satisfaction to teacher‘s commitment. The population of the study is state elementary school in Bandung regency. The technique sample is multi stage random sampling whose minimum size is 322 teachers. The method used is explanatory survey. The data is collected by using questionnaire while the data analysis technique is confirmatory factor and path analysis supported by LISREL program. The result of this study shows that: 1) the level of the teacher‘s job satisfaction is directly influenced by the magnitude of teacher‘s expectation-perception discrepancy toward human resources development/maintenance, so that the lower discrepancy level is, the higher job satisfaction level; 2) the discrepancy between teacher‘s expectation and perception toward human resources development/maintenance indirectly influences teacher commitment as well so that the lower discrepancy is, the higher teacher commitment on work is; 3) the job satisfaction influences teacher commitment directly and each factor of teacher commitment indirectly. ABSTRAKTujuan penelitian ini ialah untuk: 1 )mendeskripsikan diskrepansi harapan-persepsi guru SD terhadap pengembangan/pemeliharaan SDM; 2) menjelaskan pengaruh diskrepansi harapan-persepsi pengembangan/pemeliharaan SDM terhadap kepuasan kerja dan komitmen guru SD; 3) menjelaskan pengaruh kepuasan kerja terhadap komitmen guru SD. Populasi penelitian ini adalah gur SD Negeri di Kabupaten Bandung. Penarikan sampel dilakukan dengan teknik “multi stage random sampling“, dengan ukuran sampel minimum sebanyak 322 orang guru. Metode penelitian yang digunakan adalah survei eksplanatori. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner, sedangkan teknik analisis data yang digunakan ialah analisis faktor konfirmatori dan analisis jalur dengan bantuan program LISREL. Hasil penelitian menunjukkan: 1) tinggi rendahnya kepuasan kerja guru SD secara langsung dipengaruhi besar kecilnya diskrepansi harapan-persepsi pengembangan/pemeliharaan SDM, sehingga semakin kecil tingkat diskrepansinya, semakin tinggi tingkat kepuasan kerja; 2) diskrepansi harapan-persepsi pengembangan/pemeliharaan SDM berpengaruh secara tidak langsung terhadap komitmen guru, sehingga semakin kecil tingkat diskrepansinya, semakin tinggi keterikatan guru terhadap pekerjaan dan organisasi sekolah tempatnya bekerja; dan 3) kepuasan kerja berpengaruh secara langsung terhadap komitmen guru, serta berpengaruh secara tidak langsung terhadap setiap faktor komitmen guru.

Pendayagunaan Program Kesetaraan, Pendidikan Nonformal: Kasus Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2008/2009

Hermawan, Ida Kintamani Dewi ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 4 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.301 KB)

Abstract

The aim of utilization of equality program, non-formal education in West Sulawesi Province is to understand the existing condition of equality program in West Sulawesi Province that is measured using equity and access to education and quality indicators. The analysis using ideal standard shows that equity program in West Sulawesi Province is still not yet equity with the value of 36.78%, not yet qualify with the value of 54,79% so that the succesfulness of equity program is still low with the value of 45,74%. When comparing to national standard, equity is 89.74%, quality is 85.98%, and succesful of equity program is 87,46%. So, it is summarized that if equality program in West Sulawesi is compared to ideal standard, it is far away achieve due to less than 50% but if is used to national standard, it is good enough because it is only 13.54% to completeness. With this condition, it is suggested that government give a priority to build equality program in West Sulawesi both in equity and quality so that it can support basic and secondary program. ABSTRAKTujuan pendayagunaan program kesetaraan, pendidikan nonformal di Provinsi Sulawesi Barat adalah untuk memahami keadaan program kesetaraan di provinsi tersebut yang diukur dengan indikator pemerataan dan mutu pendidikan. Hasil analisis menunjukkan bahwa sesuai dengan standar ideal program kesetaraan di Provinsi Sulawesi Barat dikatakan masih belum merata karena mencapai 36,78%, belum bermutu dengan nilai capaian sebesar 54,70%, dan keberhasilan program kesetaraan masih rendah dengan nilai capaian sebesar 45,74%. Bila digunakan standar nasional maka kondisi cukup baik. Pemerataan pencapaiannya sebesar 89,74%, mutu sebesar 85,98%, dan keberhasilan program kesetaraan telah mencapai 87,46%. Disimpulkan bahwa berdasarkan program Kesetaraan di Provinsi Sulawesi Barat diarahkan ke standar ideal maka masih jauh dari harapan karena pencapaiannya kurang dari 50%. Namun, bila berdasarkan standar nasional sudah cukup baik karena hanya perlu 13,54% untuk menuntaskan. Disarankan agar pemerintah provinsi yang dalam hal ini adalah Dinas Pendidikan melakukan prioritas dalam pembangunan program kesetaraan di Provinsi Sulawesi Barat, yaitu baik pemerataan maupun mutu pendidikan program kesetaraan harus dibenahi sehingga mendukung program pendidikan dasar dan menengah.

Analisis Hubungan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut Terhadap Status Kesehatan Gigi dan Mulut Siswa SD dan SMP di Medan

Pintauli, Sondang ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 4 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.039 KB)

Abstract

The purpose of this study was to analyze the relationship between oral health status (caries and periodontal status, oral hygiene) and oral health behavior of sixth grade primary and third grade of junior high school students in Medan. 393 children (197 primary school students and 196 junior high school students) were selected at cluster stratification. Dental caries and periodontal status of students was evaluated using the World Health Organization (WHO) diagnostic criteria. The oral hygiene of each child was assessed using the scoring of Simplified Oral Hygiene Index (OHI-S) from Greene and Vermillion. Interviews were conducted using a questionnaire to determine the oral health behavior of the children. The results showed that: 1) the caries prevalence of primary school children 92,39% with mean DMFT 3,42±2,36, and found higher in junior high school students 93,37% with mean DMFT 3,79±2,69. Junior high school students have >3 health sextants according to WHO. Almost all of students in both groups (50.8 and 52.6%) in moderate category; 2) 61.4% of the primary school students with good oral health habits while in junior high school students only 30.1%; 3) no statistically differences between oral health behavior and periodontal status (p>0.05), it was found significant differences between oral health behavior and caries experience and also oral hygiene (p<0.05). ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut terhadap status kesehatan gigi dan mulut siswa kelas VI SD dan III SMP di Kota Medan. Total sampel 393 orang yang diambil secara stratifikasi-klaster 2 tingkat, di mana siswa SD 197 orang dan SMP 196 orang. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara dan observasi, serta uji statistik menggunakan one-way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) prevalensi karies siswa SD 92,39% dengan DMFT 3,42±2,36 dan meningkat pada siswa SMP menjadi 93,37% dengan DMFT 3,79±2,69. Siswa SMP mempunyai >3 sekstan sehat sesuai dengan target pencapaian gigi sehat WHO. Skor OHIS sebagian besar siswa SD dan SMP (50,8 dan 52,6%) pada kategori sedang; 2) 61,4% siswa SD mempunyai perilaku pemeliharaan kesehatan gigi yang baik, sedangkan pada siswa SMP hanya 30,1%; 3) terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dengan skor pengalaman karies (DMFT) dan skor kebersihan mulut (OHIS) (p<0,05), sebaliknya tidak dijumpai hubungan yang signifikan antara perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dengan status periodontal (p>0,05).