cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 16, No 3 (2010)
10
Articles
Pengaruh Kekohesifan, Gaya Kepemimpinan dan Budaya Kerja Terhadap Efektivitas Organisasi

Kustoro, Bambang Dwidjo ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 3 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.651 KB)

Abstract

The research was conducted at educational tools companies to obtain with the effect of cohesiveness, leadership style and organizational culture on organizational effectiveness, by using a survey method with path analysis applied in testing hypothesis. The amount of 417 companies selected by simple random sampling with 120 samples and each sample was represented by its director or owner to fill the data. The research reveals that: 1) there is a direct positive effect of cohesiveness on organizational culture; 2) there is a direct positive effect of cohesiveness on organizational effectivenes; 3) there is a direct positive effect of leadership style on organizational culture; 4) there is a positive direct effect of leadership style on organizational effectivenes; and 5) there is a direct positive effect of organizational culture on organizational effectivenes. Due to this findings it could be drawn that 6) there is a indirect positive effect of cohesiveness on organizational effectivenes through organizational culture; and 7) there is an indirect positive effect of ledership style on organizational effectivenes through organizational culture.The result explain that the cohesiveness, leadership style, organizational culture are the variances of organizational effectivenes. Therefore, it implies that the organizational effectivenes can be improved by developing the cohesiveness, leadership style organizational culture. ABSTRAKObyek penelitian adalah untuk meneliti pengaruh kekohesifan, gaya kepemimpinan, budaya kerja, daya saing terhadap efektivitas organisasi. Penelitian dilaksanakan pada perusahaan pengadaan alat-alat teknik pendidikan dengan mempergunakan metoda Path Analysis untuk membuktikan hipotese. Dilakukan pada 417 perusahaan yang diwakili oleh 120 sampel dan setiap sampel diwakili oleh direktur yang ditunjuk oleh perusahaan atau oleh pemilik perusahaan dalam menjawab instrumen penelitian berupa questioinaires. Penelitian membuktikan; terdapat pengaruh positif langsung kekohesifan terhadap budaya kerja, terdapat pengaruh langsung positif kekohesifan terhadap efektivitas organisasi, terdapat pengaruh positif langsung gaya kepemimpinan terhadap budaya kerja, terdapat pengaruh positif langsung gaya kepemimpinan terhadap efektivitas organisasi, terdapat pengaruh positif langsung budaya kerja terhadap efektivitas organisasi, terdapat pengaruh positif tidak langsung kekohesifan terhdap efektivitas organisasi melalui budaya kerja, terdapat pengaruh positif tidak langsung gaya kepeminpinan terhadap efektivitas organisasi. melalui budaya kerja. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kekohesifan,gaya kepemimpinan dan budaya kerja adalah varian dari efektivitas organisasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa efektivitas organisasi dapat ditingkatkan dengan mengembangkan kekohesifan, gaya kepemimpinan dan budaya kerja.

Daya Dukung Dunia Industri Terhadap Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) (Studi kasus terhadap pelaksanaan Prakerin siswa SMKN 27 Jakarta)

--, Soeprijanto ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 3 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.442 KB)

Abstract

The purpose of this research is to find supporting capacity of the industry to the field work ofSMK Negeri 27 Jakarta students and also to provide a clear picture of how SMK Negeri 27 Jakarta hasperformed the apprentice program. This research was conducted at SMK 27 Jakarta Industrial partnersData collecting was conducted in July-November 2007 from 20 industrial partners who were randomlyselected. Executives of these industrial partners were interviewed and the result indicated that: (1)Majority of industrial partners executives were in favor of the apprentice program (2) Their supportmaterialized in: making apprentice program a permanent one in their company, conducting apprenticeprogram in 5 batches each year to accommodate more students, actively inform schools of such apprenticeopportunities (3) apprentice programs in those industrial partners have been performing well as indicatedby: student placement by their expertise, supervisory and guidance from assigned officer where theapprentice took place, allowing school to monitor the implementation of industrial apprenticeship andallowing apprentice students to work by themselves, evaluation and certificates issued by company atthe end of apprenticeship. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar daya dukung dunia industriterhadap prakerin siswa SMK Negeri 27 Jakarta dan sekaligus untuk memberikan gambaran yang jelasmengenai pelaksanaan prakerin yang dilakukan oleh SMKNegeri 27 Jakarta. Penelitian ini dilaksanakandi Industri mitra SMKN 27 Jakarta. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli – November 2007.Penelitian menggunakan metode survei, dengan populasi semua perusahaan yang telah menjalin kerjasama dengan SMKN 27 Jakarta. Jumlah Sampel penelitian 20 perusahaan mitra SMK 27 Jakarta.Pengambilan sampel dilakukan secara acak. Instrumen penelitian berbentuk kuisioner yang diisi melaluiwawancara langsung pada industri sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Sebagian besarpimpinan industri mitra SMK 27 menyatakan sangat mendukung program praktik kerja industri diPerusahaan yang di pimpin; 2) Bentuk-bentuk dukungan yang diberikan Industri untuk siswa Prakerinmeliputi: manjadikan Prakerin sebagai program tetap perusahaan, menerima siswa Prakerin lebih dari5x (lima kali) dalam setahun, Industri mitra berinisiatif memberikan informasi kesempatan Prakerinkepada sekolah; dan 3) Pelaksanaan Prakerin di Industri mitra SMK 27 Jakarta telah terlaksana denganbaik hal ini ditunjukan dengan adanya: penempatan siswa sesuai dengan bidang keahliannya, adanyabimbingan dari pihak Industri, Pemberian kesempatan kepada Sekolah untuk memonitor pelaksanaanpraktik industri, Pemberian kesempatan kepada siswa untuk kerja sendiri, dan pihak Industri melakukanevaluasi, serta memberi sertifikat.

Kritik Sosial Terhadap Praktik Pendidikan Dalam Film “Laskar Pelangi”

Martono, Nanang ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 3 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.411 KB)

Abstract

This article is an analysis of the criticisms of the practice of education in Indonesia. This criticism is based on the storyline presented in the “Laskar Pelangi” (LP) movie. This article aims to analyze the essence of the LP movie seen through the sociologycal perspective. The essence of the film is more focused on social criticism conveyed through this film. Theoretically, education has two conflicting functions. According to the functional perspective, the positive function of education are transmit values across generations. Instead, the conflict perspective to explain that education actually leads to social inequality. More symbolic interactionism perspective see how the actors involved in the education process related to each other. Some of the criticism is delivered in between the formal education process that leaves the essence of education itself, the exclusivity of school functions, the formalization of education, inequality of access to education for lower-class society that cause social inequality, educational autonomy have not fully autonomous and the dichotomy of your favorite school and favorite. These conditions that characterize the dynamics of ational education so far has led to social inequality. ABSTRAKArtikel ini merupakan analisis mengenai kritik terhadap praktik pendidikan di Indonesia. Kritik ini lebih didasarkan pada alur cerita yang disampaikan dalam film “Laskar Pelangi” (LP). Artikel ini bertujuan untuk menganalisis esensi film LP yang dilihat melalui kaca mata sosiologi. Esensi film lebih difokuskan pada kritik sosial yang disampaikan melalui film ini. Secara teoritis, pendidikan memiliki dua fungsi yang saling bertentangan. Menurut perspektif fungsional, pendidikan berfungsi positif untuk mentransmisikan nilai-nilai antargenerasi. Sebaliknya, perspektif konflik menjelaskan bahwa pendidikan justru menyebabkan terjadinya ketimpangan sosial. Perspektif interaksionisme simbolik lebih melihat pada bagaimana aktor-aktor yang terlibat dalam proses pendidikan saling berhubungan. Beberapa kritik yang disampaikan di antaranya adalah mengenai proses pendidikan formal yang meninggalkan hakikat pendidikan itu sendiri, eksklusifitas fungsi sekolah, formalisasi pendidikan, ketidakmerataan akses pendidikan bagi masyarakat kelas bawah yang menyebabkan ketidaksetaraan sosial, otonomi pendidikan yang sepenuhnya belum otonom serta dikotomi sekolah favorit dan tidak favorit. Kondisi-kondisi inilah yang mewarnai dinamika pendidikan nasional sampai saat ini yang telah menyebabkan terjadinya ketidaksetaraan sosial. 

Pendidikan Karakter Sebagai Upaya Menciptakan Akhlak Mulia

Raharjo, Sabar Budi ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 3 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (472.548 KB)

Abstract

Education is basically an effort to improve human resource capacity in order to become a man with characters and live independently. Based on this, the main problem in this study is whether moral education can realize the noble morality? From the formulation of the problem, the purpose of this study is to determine how education can affect noble morality. Building the national character through education is absolutely necessary, even can not be postponed. Character education can be effective and successful if performed integrally starting from the home environment, schools and communities. Characters that should be instilled to students include: love of God and the universe and its contents, responsibility, discipline and self-reliant, honest, respectful and well mannered, affectionate, caring, and cooperation, confidence, creative, hard work and do not give up easily, fair and has a character of a leader, nice and humble, and tolerance, love peace and unity. While the noble morality is the overall human habit comes from within encouraged by conscious desire and reflected by good deeds. Thus, if the noble characters embedded in the learners themselves, noble character will automatically be reflected in the behavior of students in their daily life. ABSTRAK Pendidikan pada dasarnya adalah upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia supaya dapat menjadi manusia yang memiliki karakter dan dapat hidup mandiri. Berdasarkan hal tersebut, yang menjadi permasalahan dalam kajian ini adalah apakah pendidikan karakter dapat mewujudkan akhlak mulia? Dari rumusan masalah tersebut, tujuan kajian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pendidikan karakter dapat mempengaruhi akhlak mulia. Membangun karakter dan watak bangsa melalui pendidikan mutlak diperlukan, bahkan tidak bisa ditunda. Pendidikan karakter dapat berjalan efektif dan berhasil apabila dilakukan secara integral dimulai dari lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karakter yang harus ditanamkan kepada peserta didik di antaranya adalah; cinta kepada Allah dan alam semesta beserta isinya, tanggungjawab, disiplin dan mandiri, jujur, hormat dan santun, kasih sayang, peduli, dan kerja sama, percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah, keadilan dan kepemimpinan, baik dan rendah hati, dan toleransi, cinta damai dan persatuan. Sedangkan akhlak mulia adalah keseluruhan kebiasaan manusia yang berasal dalam diri yang di dorong keinginan secara sadar dan dicerminkan dalam perbuatan yang baik. Dengan demikian apabila karakter-karakter yang luhur tertanam dalam diri peserta didik maka akhlak mulia secara otomatis akan tercermin dalam perilaku peserta didik dalam kehidupan keseharian.

Penelitian dan Pengabdian Masyarakat pada Perguruan Tinggi

Noor, Idris HM ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 3 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.199 KB)

Abstract

The objectives of the research is to know the implementation of policy and implementation of the research program and the public service at Higher Education (HE). The research method is the mixed of quantitative and qualitative methods with a descriptive analysis. Sample of the research is 160 repondents taken purposively of head and members of the research and public service institutions at public and private of HE. The research was conducted for 7 months from April to October 2008 at six provinces: West Nusa Tenggara province, Bali province, Special Yogyakarta province, West Java province, West Sumatera province, and South Sumatera province. Tools and the techniques of data collecting are using documentation study, questionnaires, inteview, and focus group discussion. Primary data is the information from the resource persons from HE while the secondary data is taken from the documents about the rules as well as the laws and the related research done by other people. The findings of the research are: 1) the policy of research program and the public service at HE is based on the general policy of the HE Directorate, Ministry of National Education; 2) the implementation of policy in improving quality of HE still has constraints such as the institutions of research and public service are still separate, the socialization of programs of public service is still low, and most lecturers at HE are stil lack of having research methodolgy; 3) the research findings of both public and private HE can be implemented to develop and improve science. However, there has a few of the research findings that can be used for improving teaching and learning materials for higher education, very few of national as well international publications, and very few of having patent rights; and 4) the activities in public service are not based on the findings of the research yet. ABSTRAKTujuan penelitian adalah untuk mengetahui implementasi kebijakan dan pelaksanaan program penelitian dan pengabdian masyarakat pada perguruan tinggi (PT). Metode penelitian adalah metode campuran kuantitatif dan kualitatif dengan teknik analisis deskriptif. Sampel penelitian berjumlah 160 responden yang diambil secara purposive yaitu ketua/anggota lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat di perguruan tinggi Negeri (PTN) dan perguruan tinggi Swasta (PTS). Penelitian dilaksanakan selama 7 bulan mulai bulan April sampai bulan Oktober 2008 di 6 provinsi yaitu provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), provinsi Bali, provinsi Daerah Khusus Yogyakarta (DIY), provinsi Jawa Barat, provinsi Sumatera Barat, dan provinsi Sumatera Utara. Alat dan teknik pengumpulan data adalah pedoman studi dokumentasi, kuesioner, wawancara, dan focus group discussion (FGD). Data primer adalah nara sumber di PT, sedangkan data sekunder adalah dokumen mengenai peraturan perundang-undangan dan penelitian penelitian terkait sebelumnya. Hasil penelitian adalah: 1) kebijakan program penelitian dan pengabdian masyarakat di PT berdasarkan kebijakan umum Direktorat Pendidikan Tinggi, Depdiknas; 2) implementasi kebijakan dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi masih ada kendala antara lain lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat masih terpisah, sosialisasi P2M masih kurang, dan kemampuan metodologi penelitian dosen masih rendah; 3) hasil-hasil penelitian yang dilaksanakan oleh PTN/PTS dapat dimanfaatkan untuk pengembangan dan peningkatan ilmu pengetahuan. Namun masih sedikit yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan jumlah materi ajar, publikasi nasional/internasional, dan perolehan hak paten; dan 4) kegiatan pengabdian masyarakat belum berdasarkan hasil penelitian.

Kajian Kebutuhan Peningkatan Kompetensi Mengajar Guru

--, Mahdiansyah ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 3 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.524 KB)

Abstract

This study aims to identify the objective read of the school needs objectively which can be taken into account in determining policy intervention through educational planning. The specific aims of the study are to obtain information on: a) teacher characteristics perceived as determinants of teacher quality b) teacher quality which focuses on their competence in teaching and learning process and need assessment of teacher training. Findings of the study show that there are many teachers whose educational backgrounds did not match with the subject they teach (mismatch). This is especially true in the case of private junior and senior secondary school teachers. There was a concern on the mastery of primary school teachers in the subjects they teach. At the junior and senior secondary levels most of the teachers had the mastery in most parts of the subjects they teach. Attempts to improve teacher professionalism were conducted through training. However, more than two fifth of teachers did not participate in any training. Training on how to develop curriculum and tests were needed by most of Islamic primary, junior secondary and senior secondary teachers who had non-teaching qualification background. ABSTRAKTujuan studi ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi obyektif kebutuhan sekolah, yang dapat dijadikan dasar dalam menentukan intervensi kebijakan melalui perencanaan program pendidikan. Secara khusus studi ini dimaksudkan untuk mengetahui: (a) karakteristik guru yang dipandang sebagai determinan kualitas guru, dan (b) kualitas guru yang difokuskan pada kompetensi guru dalam proses belajar mengajar dan identifikasi kebutuhan pelatihannya. Hasil studi menunjukkan bahwa latar belakang guru banyak yang tidak sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan (mismatch), terutama guru SMP/MTs dan SMA/SMK/MA yang berasal dari sekolah swasta. Penguasaan guru SD/MI terhadap materi pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya masih memprihatinkan. Namun, guru SMP/MTs dan SMA/SMK/MA sudah menguasai sebagian besar materi mata pelajaran. Upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru dilakukan melalui kegiatan pelatihan, meskipun lebih dari dua perlima guru tidak pernah mengikuti penataran/pelatihan. Pelatihan tentang pengembagan kurikulum dan penyusunan tes dibutuhkan hampir oleh semua guru, terutama guru MI, MTs dan MA serta guru yang berlatar belakang pendidikan nonkeguruan.

Kegiatan Sains dalam Kurikulum TK untuk Mengembangkan Kreativitas Anak Didik

--, Sumiyati ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 3 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.216 KB)

Abstract

The purposes of this research are: 1) to get the picture of student’s creativity in science activity by implementing contextual approach to kindergartens’ students; 2) to get the picture of student’s creativity in science activity by implementing conventional approach to kindergartens’ students; 3) to know the different of kindergarten’s student’s creativity between the students taught by implementing contextual approach and the other ones taught by implementing conventional approach in science activity. Data are analyzed with the descriptive and inferential statistics; The result of this research shows that 1) In the science activity, the creativity of kindergartens’ students; taught by implementing contextual approach having a higher average point to the ones taught by implementing the conventional approach; 2) In contextual approach teaching, thenumber of students having higher point than the average point are higher to the ones having lower point than the average point. The same result is obtained in conventional approach teaching as well; 3) The number of students having higher point than the average point in contextual approach teaching are higher to the ones in conventional approach teaching; ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui gambaran tentang kreativitas anak didik dalam kegiatan sains dengan pendekatan Kontekstual pada TK; 2) mengetahui gambaran tentang kreativitas anak didik dalam kegiatan sains dengan pendekatan konvensional yang diterapkan guru pada TK; 3) mengetahui perbedaan antara kreativitas anak didik yang diajar menggunakan pendekatan kontekstual dengan kreativitas anak didik yang diajar menggunakan pendekatan konvensional pada kegiatan sains di TK. Data dianalisis dengan analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial; Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Kreativitas anak didik TK; dalam kegiatan sains yang diajar dengan pendekatan kontekstual mempunyai skor rata-rata lebih tinggi dari pada yang diajar dengan pendekatan konvensional; 2) Dari hasil penelitian dengan pendekatan kontekstual diketahui anak didik yang mempunyai skor di atas skor rata-rata lebih banyak dari pada yang memiliki skor dibawah skor rata–rata, dan hasil penelitian dengan pendekatan konvensional diketahui anak didik yang mempunyai skor diatas skor rata-rata juga lebih banyak dari pada anak didik yang memiliki skor di bawah skor rata-rata; 3) Anak didik yang memperoleh skor di atas rata-rata pada pendekatan kontekstual lebih banyak dibanding anak didik yang memperoleh skor di atas rata-rata pada pendekatan konvensional.

Portofolio demi Sertifikasi Guru, Harapan atau Impian

M.Ed, Subijanto ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 3 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.623 KB)

Abstract

A professional teacher is a yearned-for personnel in terms of creating qualified human resource for the Indonesian development. The government accomplished he yearning by the program of teacher certification that is aimed at specifying teacher appropriateness to become a teaching agent, increasing the quality of education success and teachers status, promote teachers professionalism and prosperity. In order to get a certificate the teacher has to possess academic qualification at least of bachelor or fourth diploma degree and has competency to realize the national education goal. In order to get the certificate the teacher has to pass the certification test as shown by various documents in the set of portfolio. Many people are skeptical towards the certification accomplishment because of the practices of corruption activities for the purpose of obtaining a piece of magical certificate that should be used to get the increase of teacher quality and income. This article is to spotlight numerous difficulties and barriers faced by the teachers in fulfilling the demands of portfolio so that the teacher certificate could become an aspiration that would be accomplished or on the contrary it would be nothing other than a dream because of the impossibility to fulfill the certification demands. ABSTRAKGuru profesional menjadi dambaan bangsa karena akan menjadi pencipta sumber daya manusia berkualitas demi tersedianya tenaga pembangun berkualitas bagi bangsa Indonesia. Pemerintah mewujudkan dambaan itu melalui program sertifikasi guru yang bertujuan untuk menentukan kelayakan guru sebagai agen pembelajaran, meningkatkan mutu hasil pendidikan dan martabat guru, serta meningkatkan profesionalitas guru dan kesejahteraannya. Untuk mendapatkan sertifikasi itu guru harus memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana atau diploma empat dan kompetensi mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Demi mendapatkan sertifikasi itu guru harus lulus dalam uji sertifikasi yang dibuktikan dengan berbagai dokumen dalam berkas portofolio. Banyak pihak bersikap skeptis terhadap pelaksanaan sertifikasi karena kuatir terjadinya praktik-praktik KKN demi selembar sertifikat sakti menuju peningkatan kualitas dan pendapatan guru. Tulisan ini menyorotkan berbagai kesulitan dan kendala yang dihadapi guru dalam memenuhi tuntutan portofolio sehingga sertifikasi guru dapat menjadi suatu harapan yang bakal terpenuhi atau sebaliknya merupakan impian semata karena kemustahilan memenuhi tuntutan sertifikasi. 

Penilaian Mata Pelajaran Bahasa Inggris

Panjaitan, Mutiara O ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 3 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.327 KB)

Abstract

The learning process of English subject is designed in line with the way English is used in society in everyday life. Teaching learning activity and assessment are integrated process. It means that assessment executed while learning activity is going on. Based on the investigation on school curriculum it is that learning activity and assessment were designed as separate components and in formal way. The task of assessment does not depict the real word. Besides, teachers’ ability in designing assessment is various that will influence quality of output. Based on this situation it is needed to develop a model of assessment on English subject that could be used as a reference for teacher and stakeholders when developing school curriculum. Language is a tool for communication orally and written. Communication competence or discourse competence is a competence to communicate orally and written as well in certain communication event. Communicative competence needs a set of competencies i.e. actional competence, linguistic competence, discourse competence, sociocultural competence, and strategic competence. These competencies could not be separated and support each other which are realized through four language skills, i.e. listening, speaking, reading, and writing.Teachers are encourage to teach language using the four language skills in an integrated manner. ABSTRAK Proses pembelajaran bahasa Inggris dikemas untuk mengembangkan kemampuan peserta didik menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan pembelajaran dan penilaian merupakan proses terpadu, artinya penilaian dilakukan ketika kegiatan pembelajaran berlangsung. Berdasarkan kajian pada dokumen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), bahwa pada umumnya kegiatan penilaian mata pelajaran Bahasa Inggris dirancang sebagai komponen lepas dari kegiatan pembelajaran dan terkesan formal. Di samping itu, kemampuan guru merancang tugas-tugas penilaian juga beragam yang berdampak pada kualitas hasil belajar peserta didik. Memperhatikan kondisi ini, dipandang perlu untuk mengembangkan model penilaian mata pelajaran Bahasa Inggris yang dapat dijadikan acuan bagi guru untuk mengembangkan kurikulum sekolah. Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi secara lisan dan tulis. Kompetensi berkomunikasi merupakan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tertulis dalam berkomunikasi. Untuk dapat berkomunikasi diperlukan seperangkat kompetensi lainnya: tindak bahasa, kebahasaan, pembentuk wacana, sosio kultural, dan strategi. Kompetensi-kompetensi tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan saling mendukung yang diwujudkan dalam keterampilan berbahasa, yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis

Pengembangan Kurikulum Sekolah Bertaraf Internasional

Widyastono, Herry ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 3 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.575 KB)

Abstract

Since the government of Indonesia has launched the Decree of Republic Indonesia Number 20 year 2003 regarding The National Education System and The Government Regulation year 2005 in relation to National Education Standard, the government was implemented the school’s piloting on international standard. However, in its’ curriculum development was not expected with the intended regulation. The expectation of the school curriculum is supposed to be the curriculum used by the country under the OECD (Organization for Economic Co-operation and Development). The intended curriculum in this matter particularly is the curriculum used by the educational concern which is reference to the Graduate Competence Standard (SKL) and the Content Standard (SI) that all enrich to with reference to the OECD member country or the curriculum used by developed countries. To enrich the curriculum can be done by two ways. First is adaptation. It means to adapt certain part of the National Education Standard with reference to the OECD member countries. Second is adoption. It means to add some certain parts of curriculum of the OECD member countries or others which is not included in the national content standard. Therefore, the graduates have qualification from both the national education system as well as from the OECD member countries. ABSTRAKSejak berlakunya UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, Pemerintah telah menyelenggarakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). Namun, dalam pengembangan kurikulumnya belum seperti yang diharapkan. Kurikulum yang digunakan seharusnya kurikulum yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan mengacu pada Standar Kompetensi Lulusa (SKL) dan Standar Isi (SI) yang “diperkaya” dengan mangacu pada kurikulum salah satu negara anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu di bidang pendidikan. “Diperkaya” dapat dilaksanakan melalui dua cara: 1) Adaptasi, yaitu penyesuaian unsur unsur tertentu yangsudah ada dalam SI/SKL dengan mengacu pada kurikulum salah satu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya, dan 2) Adopsi, yaitu penambahan unsur-unsur tertentu yang belum ada dalam SI/SKL dengan mengacu pada kurikulum salah satu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya. Dengan demikian, lulusannya dapat memiliki sertifikat (ijazah) dari Indonesia dan dari alah satu negara anggota OECD dan/atau negara maju lainnya.