cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 16, No 2 (2010)
10
Articles
Upaya Peningkatan Mutu Sekolah melalui Satuan Otonomi Pendidikan

Cahyana, Ade ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.847 KB)

Abstract

The diversity of school environtment conditions and student needs in learning process alongside with the complexity in Indonesia geographical condition quite often can not be easily concluded completely in one piece by the central bureaucracy in a comprehensive way. It stimulates the deliverance of school based quality management improvement. This type of alternative management empowers independency to school to initiate its self-governing capacity to manage its own activities in the framework of eduactional quality improvement, while consistently aligned to national policies. Some of the strategies applied at schools comprise self-evaluation to scrutinize the school’s strengths and weaknessses. On the basis of the evaluation, school alongside with parents and community settleon school vision and mission of education quality improvement or to put together the expected eduaction quality for further developing on the planning of school program which includes school financing by refering to the scale of priorities and national policies in corresponding to the school condition and the capacity of its human resources. The consequences of the program implementation should imply a highly committed engagement among diversified parties, i.e., parents/community, teachers, principals, pupils and other staffs on one hand, and government (MONE) on the other hand, as the equal partner to attain the objective of quality improvement. ABSTRAKBeragamnya kondisi lingkungan sekolah dan bervariasinya kebutuhan siswa di dalam proses pembelajaran ditambah lagi dengan kondisi geografi Indonesia yang sangat kompleks, seringkali tidak dapat diapresiasikan secara lengkap oleh birokrasi pusat. Oleh karena itu, dalam proses peningkatan mutu pendidika perlu dicari alternatif pengelolaan sekolah. Hal ini mendorong lahirnya konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Manajemen alternatif ini memberikan kemandirian pada sekolah untuk mengatur dirinya sendiri dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, tetapi masih tetap mengacu pada kebijakan nasional. Konsekwensi dari pelaksanaan program ini antara lain komitmen yang tinggi dari berbagai pihak yaitu: orang tua/masyarakat, guru, kepala sekolah, siswa dan staf lainnya di satu sisi dan pemerintah (Kemendiknas) di sisi lainnya sebagai mitra dalam mencapai tujuan peningkatan mutu.

Peran Faktor Non Ekonomis dalam Penyelenggaraan Pendidikan

Agung, Iskandar ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud ) , Subroto, Gatot ( Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidkan, Balitbang-Kemendiknas )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (722.596 KB)

Abstract

The objectives of this study is to identify direct effect, indirect effect, and totally effect of variables of organizational culture, leadership, and job satisfaction to teachers performance. The study was conducted in several Public Senior High Schools categorized as outstanding schools in Jakarta in 2009. Outstanding schools are schools which have already achieved the “plus” school criteria by the Jakarta Province Education Office. From the 41 selected schools categorized as outstanding schools in Jakarta, ten of them was selected as sample schools. The samples of the respondents are 150 teachers who are selected using proportional random sampling technique. Data was collected by using questionnaire. Before the questionnaire was distributed, the study performs some initial testing in order to make sure its validity and reliability using Product Moment Correlation test and Alpha Cronbach test. To do the hypothetical testing, the researcher firstly tests the data being obtained with normality, homogeunity, and linearity testing, included model testing. The finding of this study shows that: 1) organizational culture and leadership has a significant influences to job satisfaction of the teachers; 2) organizational culture, leadership, and job satisfaction also have a significant influences to teachers’ performance. ABSTRAK Tujuan studi ini untuk mengidentifikasi pengaruh langsung, tidak langsung, dan total dari variabel budaya organisasi, kepemimpinan, dan kepuasan kerja terhadap kinerja pendidik/guru. Studi dilaksanakan di 10 SMA Negeri kategori unggulan (plus kotamadya, provinsi, dan berstandar nasional/internasional) di provinsi DKI Jakarta. Sampel responden dalam studi berjumlah 150 orang yang diambil melalui teknik proporsional random sampling. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner. Sebelum kuesioner disebarkan kepada responden, dilakukan pengujian validitas dan reliabil itas dengan menggunakan tes product moment correlation dan alpa cronbach. Untuk pengujian hipotesis, dilakukan pengujian persyaratan analisis terhadap data untuk mengetahui normalitas, homogenitas, dan linearitas data, termasuk pengujian fit model. Hasil studi menunjukkan bahwa: 1) budaya organisasi dan kepemimpinan di sekolah memiliki pengaruh positif terhadap kepuasan kerja; 2) budaya organisasi, kepemimpinan, dan kepuasan kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja guru di sekolah. 

Model Penilaian Bahasa Indonesia Dalam Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Dasar

Sutardi, Ambari ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.645 KB)

Abstract

The evaluation model for Indonesian language sustaining the implementation of the in-effect primary school curriculum is different from the previous one. Accordingly, this results in different perceptions and different use of the model by the implementers at some primary schools in different districts/municipalities. The difference of using the model are ranging from the simple to the more complext. The simple one merely covers one score for the subject concerned while the complext one encompasses four scores, for: listening, speaking, reading and writing respectively. The use of various evaluation models for Indonesian language would certainly results in a problem because the evaluation system has strong impact againsts the learning process in the classroom. So it is worried that the four predetermined competence catagories of Indonesian language would not totally be achieved by students in the primary schools which use the simple model one. Because of such reason, the ideal evaluation model to sustain the implementation of the an in-effect primary school curriculum is the complex one so that it would tell the information about learners’ achievement in more detailed and transparent. ABSTRAKModel penilaian Bahasa Indonesia dalam pelaksanaan kurikulum SD berbeda dari sebelumnya, di mana perbedaan tersebut dimaksudkan agar para pelaksana memahami dalam menerapkan mode penilaian di beberapa SD di kabupaten/kota yang berbeda. Perbedaan menggunakan model mulai dari yang sederhana hingga ke yang kompleks. Sederhana artinya hanya mencantumkan satu nilai untuk mata pelajaran tersebut dan kompleks karena mencantumkan empat nilai, untuk empat kategori kompetensi dalam berbahasa Indonesia, yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Penggunaan aneka ragam model penilaian Bahasa Indonesia akan menimbulkan permasalahan karena sistem penilaian memiliki pengaruh kuat terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas. Dikhawatirkan keempat kategori kompetensi Bahasa Indonesia yang telah ditetapkan tidak akan tercapai secara optimal oleh peserta didik, terutama sekolah yang menggunakan model penilaian yang sederhana. Oleh karena itu, model penilaian Bahasa Indonesia yang ideal merupakan model yang kompleks, dengan harapan agar penyampaian informasi tentang prestasi dapat dicapai peserta didik secara rinci dan objektif. 

Minat Siswa Dalam Kurikulum Muatan Lokal

--, Sumiyati ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.826 KB)

Abstract

This research is a survey research, which aim to know what is the relationship between motivation and lerning condition with learning interest of student local content at junior high school in West Jakarta. There are three research hypothesis, first is there is a positive relation between motivation with learning interest of student local content, second is there is a positive relation between learning condition with learning interest of student local content, and third is there is a positive relation between motivation and learning condition with learning interest of student local content. This subject research is student of junior high school in West Jakarta enlisted in the year lesson 2009/2010 with the sample amount 55 people. Technique of data collecting performed is use questionnaire. Based of the result analysis data and solution obtained that Fhit is more than Ftable or 4,66 more than 3,18. It means that there is a positive relation between motivation and learning condition with learning interest of student local content. ABSTRAK Penelitian survei ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara motivasi dan kondisi belajar dengan minat belajar muatan lokal siswa SMP di Jakarta Timur. Hipotesis penelitian ini ada tiga yaitu, pertama terdapat hubungan positif antara motivasi dengan minat belajar muatan lokal siswa, kedua terdapat hubungan positif antara kondisi belajar dengan minat belajar muatan lokal siswa, dan ketiga terdapat hubungan positif antara motivasi dan kondisi belajar dengan minat belajar muatan lokal siswa. Subjek penelitian ini adalah siswa SMP di Jakarta Timur yang terdaftar dalam tahun ajaran 2009/2010, dengan jumlah sampel 55 orang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menggunakan angket. Dari hasil analisis data dan pembahasan diperoleh bahwa F hitung > dari F tabel atau 4,66 lebih besar dari 3,18 artinya terdapat hubungan positif antara motivasi belajar dan kondisi belajar dengan minat belajar muatan lokal siswa. 

Mengelola Potensi Destruktif Olahraga Ke Arah Pengembangan Kebijakan Olahraga Yang Komprehensif

--, Syarifudin ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud ) , Rahmat, Abdi ( Jurusam Sosiologi, Universitas Negeri Jakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.916 KB)

Abstract

Sport reflects positive values referred by society. Sport can be a medium for building people character and personality. In the other hand, sport can also be an arena in spreading tensions and conflicts among groups of people, even fostering other social problems, like discrimination, unfairness, corruption and bribery, violence among players or supporters, and etc. Therefore, this article aims at describing the root of problem of destructive dimensions of sport that can threaten social integration, even national integration. This article offers some formulas of sport development that can minimize destructive potencies of the sport through a comprehensive sport policy. ABSTRAKOlahraga umumnya mencerminkan nilai-nilai apa yang menjadi rujukan masyarakat. Olahraga dapat menjadi wahana untuk membina dan sekaligus membentuk watak kepribadian. Di sisi lain, olahraga dapat pula menyebarkan nilai-nilai pertentangan atau konflik dan bahkan bisa mempersubur masalah sosial seperti: diskriminasi, ketidakjujuran, korupsi dan praktek suap, pemukulan wasit, perkelahian antarpemain atau antarsupporter, bahkan antarkeduanya, serta berbagai bentuk konflik lainnya. Karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menguraikan akar permasalahan perilaku potensi destruktif olahraga tersebut yang dapat mengancam integrasi sosial bahkan integrasi bangsa. Tulisan ini juga mengajukan tawaran suatu pola pengembangan olahraga yang dapat meminimalisir potensi destruktif tersebut melalui suatu kebijakan keolahragaan yang komprehensif. 

Impresi Moderasi Jalur Pembelajaran dengan Proses Belajar Kewirausahaan terhadap Persepsi Keberhasilan Usahawan Surakarta

Rohmat, H. ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims at reviewing the relations of entrepreneurial learning process aspect to the perception of the success of the small business entrepreneur, material and non material; also impression of moderation laerning line toward those relation. The result shows that the entrepreneurial learning process aspect related to the perception; success, but not with the material succes. The strong relations is the one with the perception of succes not material. Moreover, learning line impressed moderation to the entrepernuerial learning process toward perception; success, material success and non-material success. Among the three lines of learning, the strongest impression of moderation is the relationship of perceptual learning material success small business. ABSTRAK:Tujuan penelitian adalah mengkaji hubungan aspek proses pembelajaran kewirausahaan dengan persepsi keberhasilan usahawan kecil, material dan bukan material; serta impresi moderasi jalur pembelajaran terhadap hubungan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek proses pembelajaran kewirausahaan berhubungan dengan persepsi; keberhasilan, tetapi tidak dengan keberhasilan material, namun berhubungan dengan persepsi keberhasilan bukan material. Hubungan terkuat adalah dengan persepsi keberhasilan bukan material. Selain itu, jalur pembelajaran berimpresi moderasi dengan proses pembelajaran kewirausahaan terhadap persepsi; keberhasilan, keberhasilan material, dan keberhasilan bukan material. Diantara ketiga jalur pembelajaran, impresi moderasi yang terkuat ialah hubungan proses pembelajaran terhadap persepsi keberhasilan material usahawan kecil .

Kontroversi Ujian Nasional Sepanjang Masa

Silverius, Suke ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.571 KB)

Abstract

The existence and application of National Examination initiate critics and controversies correlated with the National Education System Act Number 20, Year 2003 about the National Education System. The set of Critics is composed of seven disagreements linked with the national examination matter which are appraising the cognitive aspects only with the result that it cannot be used as a standard made to measure up education quality, disregarding the diversification of regional potency and of students competence, taking away the teachers’ right to do the evaluation of students achievement, establishing the evaluation based merely on the students, determining the passing grade of the examination in the absence of teachers, national and regional government take away the right of teachers in giving the diploma to the graduate students. National examination evaluates the only process of momentary and incomprehensive learning activity and at the same time neglecting educational goal orientation that brings to an end without indicating the education quality. Explication of these controversies is aimed at providing teachers and education observers the prospect of the solutions in terms of educational evaluation policy improvement for the sake of the education enhancement that have access to national development for the augmentation of people’s prosperity. ABSTRAK Keberadaan dan penerapan UN menuai kritik dan kontroversi apabila dikaitkan dengan UU Sisdiknas Nomor 20, Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Rangkaian butir-butir kritik itu terjalin dalam tujuh untaian pelanggaran UN yakni hanya mengukur aspek kognitif sehingga tidak dapat dijadikan standar untuk mengukur mutu pendidikan, mengabaikan diversifikasi potensi daerah dan peserta didik, merampas hak guru untuk melakukan evaluasi hasil belajar peserta didiknya, mendasarkan evaluasi pada peserta didik semata, penentuan kelulusan bukan oleh guru, pemerintah dan pemerintah daerah merampas hak pemberian ijazah kepada peserta didik setelah lulus ujian. UN hanya mengevaluasi hasil akhir proses pembelajaran secara momental dan tidak komprehensif serta mengabaikan orientasi tujuan pendidikan sehingga tidak mengindikasikan mutu pendidikan. Paparan kontroversi ini dimaksudkan untuk dimanfaatkan para pendidik dan pemerhati pendidikan guna menemukan solusi dalam rangka pembenahan kebijakan penilaian pendidikan demi peningkatan pendidikan yang berakses pada pembangunan nasional bangsa menuju bertambahnya kesejahteraan rakyat.

Sistem Informasi Manajemen Perguruan Tinggi Dalam Bidang Pendataan Pendidikan Tinggi

Joko, Bambang S ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.959 KB)

Abstract

The purpose of descriptive research is to determine the objective conditions of the problems and constraints, data collection mechanisms, and use of information and communication technology to support higher education management information system. The approach used is kunatitatif approach that leads to the observation or measurement data expressed in numbers to get a picture of the problems faced by PT. This sample includes 30 countries and 30 private universities from 30 provinces in Indonesia. Please note, there are currently 83 government-run public universities, private universities and 2598 are managed by the private sector. With stratified random sampling method. PT PT grouped by type, then from each PT group took some samples to represent the 30 provinces. In qualitative data analysis techniques, namely descriptive measures argumentative with data description, data analysis, and conclusions. Study results showed that the majority of PT has conducted data collection and processing on a regular basis every year. Documenting all this walking is still dominated by the instrument of data collection via questionnaires, either by the Directorate General of Higher Education and Ministry of Education Research and Development Center for Education Statistics. There are two main causes of delay in data collection, the first coming from the government (Directorate General of Higher Education Department of Education and Research and Development PSP), and the second coming of PT’s own institution. Not to mention, there were respondents who felt not received a census questionnaire. The dominant constraints in SIM management of PT is a problem of human resources, and yet all the PT who become SIM PT sample of this study, and nearly half of the respondents complained that some of the applications used for SIM PT they are still not operating correctly. ABSTRAK Tujuan studi deskriptif ini adalah untuk mengetahui berbagai permasalahan dan hambatan, mekanisme pendataan, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam mendukung sistem informasi manajemen perguruan tinggi. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kuantitatif melalui observasi atau pengukuran data untuk mendapatkan gambaran permasalahan yang dihadapi PT. Sampel studi terdiri atas 30 PTN dan 30 PTS dari 30 provinsi di Indonesia yang dipilih secara stratified random sampling. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif, yakni secara deskriptif argumentatif dengan langkah-langkah pendeskripsian data, analisis data, dan penyimpulan. Hasil studi menunjukkan bahwa sebagian PT telah melaksanakan pengumpulan dan pengolahan data secara rutin setiap tahun. Pendataan didominasi oleh pengumpulan data melalui instrumen kuesioner, baik oleh Ditjen Dikti maupun oleh PSP Balitbang Depdiknas. Dua penyebab utama terhambatnya pendataan dari Ditjen Dikti dan PSP Balitbang Depdiknas dan dari institusi PT itu sendiri. SDM merupakan hambatan yang dominan dalam pengelolaan SIM PT dan belum semua PT yang menjadi sampel studi memiliki SIM PT, dan hampir separuh responden menunjukkan bahwa belum semua aplikasi SIM PT beroperasi dengan baik.

Model Posdaya Dalam Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun

Anwas, Oos M ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.728 KB)

Abstract

This paper aims to analyze solutions for the problems using Family and The Community Empowering (Posdaya). Theories used within this model refers to social change and community empowerment theories. Since the complexity of problems face by those hard rock society, the accomplishment of nine-year compulsory learning must be done by means of family empowerment within Posdaya. Posdaya is a forum for communications, ‘silaturahmi’, advocacy and education, and simultaneously the institution for activities to strengthen family functions in an integrated manner. Instead of establishing a new institution, the development of Posdaya can be done by optimizing the existing one by empowering activities. Posdaya become a place for discussing daily matters, especially the obstacles in accomplishing the nine-year compulsory learning, among children, parents and community that are fit with their own needs and potential/roles. Posdaya is also capable in re-developing local wisdom and social capital. At the end Posdaya is not only to solve educational problems but also to solve poverty and other social problems. For those reasons the accomplishment of nine-year compulsory learning requests cooperation across departments within coordination of welfare ministry in collaboration with local government and society. ABSTRAK Tulisan ini bertujuan mengkaji solusi dalam mengatasi masalah tersebut melalui model Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya). Teori-teori yang digunakan mengacu pada teori perubahan sosial dan teori pemberdayaan masyarakat. Dengan kompleksnya masalah yang dihadapi kelompok masyarakat hard rock tersebut, penuntasan wajar 9 tahun perlu dilakukan melalui upaya pemberdayaan keluarga dalam wahana Posdaya. Posdaya merupakan forum silaturahmi, komunikasi, advokasi dan wadah kegiatan penguatan delapan fungsi-fungsi keluarga secara terpadu. Pengembangan Posdaya tidak harus membuat lembaga baru dalam masyarakat, tetapi dapat mengoptimalkan yang ada melalui aktivitas pemberdayaan. Posdaya menjadi wahana diskusi dalam memecahkan permasalahan sehari-hari, khususnya kendala kendala penuntasan wajar 9 tahun secara bersama antara anak, orang tua, dan masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan potensi/peran masing-masing. Posdaya juga mampu membangun kembali kearifan lokal dan modal sosial. Pada akhirnya Posdaya tidak hanya memecahkan masalah pendidikan, akan tetapi juga masalah kemiskinan dan masalah sosial lainnya. Oleh karena itu penuntasan wajar 9 tahun perlu kerja sama lintas departemen di bawah koordinasi Menkokesra, terutama sektor pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan, bersama pemerintah daerah dan masyarakat.

Implementasi Model Siklus Belajar (Learning Cycle) Untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Pembelajaran Mengelas Dengan Gas Metal Siswa Kelas XII Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Makassar

--, Nulaela ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud ) , Tawil, Muh. ( SMK Negeri 3 Makassar ) , Bambang, Lukman ( SMK Negeri 3 Makassar ) , M, Abbas ( Universitas Negeri Makassar ) , Tamaluddin, Lukman ( Universitas Negeri Makassar ) , Rani, Syahril Ramli ( Universitas Negeri Makassar )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 2 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.423 KB)

Abstract

This action research aims to implement the Learning Cycle model to improve the quality of the learning process and learning outcomes with the gas metal welding class XII students in SMK 3 Makassar. Research problems are (1) how to get through the learning cycle model can be improved with the learning process gas metal welding class XII student of SMK 3 Makassar, and (2) how to get through the learning cycle model of learning outcomes can be improved with the gas metal welding class XII students SMK 3 Makassar. The data analysis technique used is descriptive statistical analysis. The results obtained by the action is an increase in the quality of the learning process of students of class XII SMK 3 semester 2 of the cycle I to cycle II, include: (1) the better the learning activities, (2) reliability management of the learning cycle model learning of 51%, (3 ) students’ responses to a very good learning and learning outcomes, which include (a) the product: for 47 percent (exhaustiveness of individuals) and 55 percent (exhaustiveness classical), (b) affective aspects of 30 percent, and (c) 60 percent of psychomotor aspects. Thus to implement the Learning Cycle model can improve the quality of the learning process and learning outcomes with the gas metal welding class XII student of SMK 3 Makassar. ABSTRAK Penelitian tindakan ini bertujuan mengimplementasikan model Siklus Belajar untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar mengelas dengan gas metal siswa kelas XII di SMK Negeri 3 Makassar. Masalah penelitian adalah 1) bagaimana cara agar melalui model siklus belajar dapat ditingkatkan proses pembelajaran mengelas dengan gas metal siswa kelas XII SMK Negeri 3 Makassar, dan 2) bagaimana cara agar melalui model siklus belajar dapat ditingkatkan hasil belajar mengelas dengan gas metal siswa kelas XII SMK Negeri 3 Makassar. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian tindakan yang diperoleh adalah terjadi peningkatan kualitas proses pembelajaran siswa kelas XII semester 2 SMK Negeri 3 dari siklus I ke siklus II, meliputi: 1) aktivitas belajar semakin baik, 2) reliabilitas pengelolaan pembelajaran model siklus belajar sebesar 51%, 3) respon siswa terhadap pembelajaran sangat baik dan hasil belajar, yang meliputi (a) produk: sebesar 47 persen (ketuntasan individu) dan 55 persen (ketuntasan klasikal), (b) aspek afektif sebesar 30 persen, dan (c) aspek psikomotor 60 persen. Dengan demikian dengan mengimplementasikan model Siklus Belajar dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil belajar mengelas dengan gas metal siswa kelas XII SMK Negeri 3 Makassar.