cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 16, No 1 (2010)
10
Articles
Belajar dari Iran: Dialektika Agama dan Politik Pasca Khomeini

Rochmat, Saefur ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.038 KB)

Abstract

Ethesami and Abrahamian named Iran Pst Khomeini as the Second Republic with a different reason. While Halliday name it with post-achundism. This paper is conduxted to show dialectic of religion and politics that goes rationally, so it can be used as the reflectionfor Moeslem in Indonesia. This paper used a multidimensional historical approach in order to get a complete view. This approach is expected to accomodate both of Enthesami view which focus on economic aspectsm and Abrahamian view which focus on cultural aspects, also Halliday view which saw the involvement of clerics in politics. The modification of Islamic system of government of Iran post Khomeini can not be separated from the basics of the changes that have been placed by Khomeini. ABSTRAKEhthesami dan Abrahamian menamakan Iran Pasca Khomeini sebagai the Second Republic dengan alasan yang berbeda. Sedangkan Halliday menamainya dengan post-akhundism. Tulisan ini ingin menampilkan dialektika agama dan politik yang berlangsung secara rasional, agar bisa dijadikan cermin bagi umat Islam di Indonesia. Tulisan ini menggunakan pendekatan sejarah multidimensional agar didapat pandangan yang lebih utuh. Pendekatan ini diharapkan dapat menampung baik pandangan Ehthesami yang lebih menekankan pada aspek ekonomi, dan pandangan Abrahamian yang lebih menekankan pada aspek budaya, maupun pandangan Halliday yang melihat keterlibatan ulama dalam politik. Modifikasi sistem pemerintahan Islam Iran pasca Khomeini tidak dapat dilepaskan dari dasar dasar perubahan yang telah diletakkan oleh Khomeini.

Optimalisasi Kompetensi Moral Anak Usia Dini

Sit, Masganti ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1268.602 KB)

Abstract

The objective of this research is to make early childhood’s moral competence optimally through the integrated learning based-moral model. The study was conducted at Tri Karya and Nusa Indah Kindergartens in Medan in the year of 2008 with n= 35. This action research was using Kemmis and Taggart model. The model has two cycles and each cycle has four steps. They are as follow (1) plan, (2) action, (3) observe and (4) reflect. To analyze the data, qualitative and quantitative were used. The result of the qualitative analyzes shows that the integrated learning based-moral model involved various activities, media and methods. The results of the quantitative analyze shows that there are significant differences between pre and post assessment of early childhood’s moral competence. To applying the integrated learning based-moral model was suggested to teacher, manager of early childhood education institution, researcher, government to plan, act, develop, and promote integrated learning based-moral model.ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan kompetensi moral anak usia dini melalui pembelajaran terpadu berbasis moral. Penelitian dilakukan di Taman Kanak-kanak Tri Karya dan Taman Kanak-kanak Nusa Indah di Medan pada tahun 2008 dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang anak. Penelitian tindakan ini menggunakan model dari Kemmis dan Taggart. Model ini telah dilaksanakan dalam dua siklus dan setiap siklus memiliki empat langkah yaitu: 1) perencanaan, 2) tindakan, 3) pengamatan, dan 4) refleksi. Analisis data menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil analisis kualitatif menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu berbasis moral melibatkan berbagai aktivitas, media, dan metode. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang berarti antara tes awal dan tes akhir kompetensi moral anak usia dini. Untuk menerapkan pembelajaran terpadu berbasis moral disarankan kepada guru, pengelola pendidikan anak usia dini, peneliti, dan pemerintah untuk merencanakan, melaksanakan, mengembangkan dan mendukung model pembelajaran terpadu berbasis moral.

FENOMENA TARI KONTEMPORER DALAM KARYA TARI

--, Indrayuda ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.131 KB)

Abstract

The aim of this articel is to reveal the contemporary phenomenom of the dance work of the student of Sendratasik UNP and STSI Padang Panjang through last assignment. This research is focused on the phenomenom and student’s tendency on creating the dance work on a contemporary form. The research method used is descriptive qualitative and for the main instrument is the researcher himself. The collection of data dance through observation, interview and collecting the related literature. The analysis of the data done through conventional analysis. The result of the research shows that there is a tendency from the student on creating each of their work for the last assignment by using contemporary model, such as an the pattern of work, the type of dance, the form of performance and the orientation of creation. The growth of this sympton is caused from high frequency of the student to be involved in many forums of contemporary dance, and thruogh the appreciation of lecturer’s figur and work. This research can be concluded that the sympton and tendency of contemporary is appeared in the student’s dance work because of: 1) the influence of the lecturer, 2) the influence of dance forum, 3) the influence of dance work of the artists of West Sumatera and 4) the freedom given to the students. It is essential to be suggested from this articel so that there is correct guide from the lecturer available of Sendratasik FBSS UNP and STSI Padang Panjang to pay attention for the monumental dance learning, so that the balance is created on the dance learning in academic field. ABSTRAK Tulisan ini bertujuan mengungkap fenomena karya tari kontemporer dari mahasiswa Sendratasik UNP dan STSI Padang Panjang dalam tugas akhir. Penelitian ini difokuskan pada fenomena kecenderungan mahasiswa dalam menciptakan karya tari dalam bentuk kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan instrumen utama adalah peneliti sendiri. Pengumpulan data dilakukan melalui metode observasi, wawancara, dan studi kepustakaan. Data dianalisa secara konvensional. Hasil penelitian menunjukkan ada kecenderungan mahasiswa menciptakan karya mereka dalam tugas akhir (TA) dengan model kontemporer, seperti pada pola tarian, tipe tarian, bentuk pertunjukan, dan orientasi tarian. Pertumbuhan gejala ini disebabkan frekuensi yang tinggi dari mahasiswa untuk terlibat dalam berbagai forum tarian kontemporer dan apresiasi terhadap figure dan karya dosen. Kesimpulan penelitian adalah gejala dan kecenderungan karya kontemporer muncul dalam karya mahasiswa karena 1) pengaruh dosen, 2) pengaruh forum tarian, 3) pengaruh karya tari artis-artis Sumatera, dan 4) kebebasan yang diberikan kepada mahasiswa. Dari penelitian ini sangat disarankan agar ada pedoman yang benar dari dosen Sendratasik FBSS UNP dan STSI Padang Panjang agar memperhatikan dasar-dasar pembelajaran tari sehingga ada keseimbangan pembelajaran tari dalam dunia akademis.

Kondisi Lima Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Tangerang dan Bandung dalam Upaya Meningkatkan Minat Baca Masyarakat

Listiawati, Nur ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.443 KB)

Abstract

The paper presents the condition of five Community Reading Places (TBM) in the effort to improve community reading interest. It aims to get data on the history of the establishment, facilities, the management, and networks of those TBM. This study is qualitative in nature with the object of social situation which has three elements; place, actors, and activities. The data collected by observation and interview to the manager or designer of TBM. TBM which was founded purely on community efforts established to improve public reading interest and culture , while the TBM founded on the idea of government, established because of instructions from the government. Organization of activities has already done well by the TBM which was founded purely from the community, whereas activities of the TBM initiated by the government depend on the dedication and motivation of the managers. TBM which was established purely by the community are working hard to build a network with various parties, while the TBM under PKBM network depends on the creativity of the managers. Based on the data, the writer tries to make a conclusion about TBM condition, and give suggestion to improve the quality of TBM including management of organization and programs. ABSTRAK Makalah ini menggambarkan kondisi lima Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dalam upaya untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Makalah ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang sejarah berdirinya, fasilitas, manajemen dan jaringan TBM tersebut. Studi ini bersifat kualitatif dengan tujuan situasi sosial yang memiliki tiga unsur; tempat, pelaku dan kegiatan. Data yang dikumpulkan melalui pengamatan dan wawancara kepada manajer atau desainer dari TBM. TBM yang didirikan sematamata pada upaya masyarakat yang didirikan untuk meningkatkan minat baca masyarakat dan budaya, sementara TBM didirikan atas gagasan pemerintah, yang didirikan karena instruksi dari pemerintah. Organisasi kegiatan telah dilakukan baik oleh TBM yang didirikan murni dari masyarakat; sedangkan kegiatan TBM yang diprakarsai oleh pemerintah tergantung pada dedikasi dan motivasi dari manajer. TBM yang didirikan oleh masyarakat murni bekerja keras untuk membangun jaringan dengan berbagai pihak, sementara TBM di bawah jaringan PKBM tergantung pada kreativitas para manajer. Berdasarkan data, penulis mencoba untuk membuat kesimpulan tentang kondisi TBM, dan memberikan saran untuk meningkatkan kualitas manajemen TBM termasuk organisasi dan program.

PENINGKATAN KREATIVITAS MAHASISWA MELALUI PEMBELAJARAN TRAINING MODEL DAN PORTOFOLIO

--, Yuliarma ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.798 KB)

Abstract

The formulation of research subject is to determine if the student creativity can be improve through training model studies and portfolio examination in the making of fashion design modification in traditional attire major. The purpose of the research is to discover that the training model study method and portfolio examination can improve the student learning creativity in the tradition apparel major. These developments are class action research, which was held in 3 cycles, the actions were completed by training model method application and portfolio examination. In each cycles, the application of training model method and portfolio examination were given twice, with 3 times schools practice, 3 times homework’s and 3 evaluations. The research was held at KK FT UNP faculty. The instruments used are observation guide, interview guide and test. The result shows that the average of student creativity and learning process can be improved through training and portfolio studies. Each cycles display student creativity improvement, with the average score of the 1 cycle of design fashion illustration practice 1.70, 2nd cycle 2.27, 3rd cycle 3.19; decorative variation design 1st cycle 1.33, 2nd cycle 2.34, and 3 cycle 3.17; drawing presentation practice 1st cycle 1.27, 2nd cycle 2.26, and 3rd cycle 3.23. ABSTRAKRumusan masalah penelitian adalah Apakah kreativitas mahasiswa dapat ditingkatkan melalui pembelajaran training model dan penilaian portofolio dalam pembuatan desain busana modifikasi pada mata kuliah busana daerah. Penelitian bertujuan untuk mengungkapkan bahwa metode pembelajaran training model dan penilaian portofolio dapat meningkatkan kreativitas belajar mahasiswa pada mata kuliah busana daerah. Pengembangan ini merupakan penelitian tindakan kelas, dilaksanakan 3 siklus, tindakan dilakukan dengan penerapan metode pembelajaran training model dan penilaian portofolio. Pada setiap siklus, penerapan metode training model dan penilaian portofolio diberikan selama 2 kali pertemuan, dengan 3 kali tugas latihan di sekolah dan 3 kali latihan di rumah dan 3 kali penilaian. Penelitian dilaksanakan di jurusan KK FT UNP. Instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, dan tes. Hasil penelitian rata-rata kreativitas dan hasil belajar mahasiswa dapat ditingkatkan melalui pembelajaran training dan portofolio. Pada setiap siklus terdapat peningkatan kreativitas mahasiswa. 

Implementasi KTSP dalam Pembelajaran IPA SMP

--, Sumiyati ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (608.248 KB)

Abstract

This research was aimed at describing teachers opinion about the implementation of the program comprises planning, activities in the classroom, and the report of Science Teaching-Learning of School-Based Curriculum implementation and its factors affecting it. There are 40 respondents from 11 State and Private Junior High Schools in Bekasi District. The instruments consist of questionnaires in theform of Liker Scale. The data is then analyzed using descriptive analyses in tables distributing frequency and percentage for each indicator and each dimension of School-Based Curriculum Implementation. The data shows that (1) The planning of the program: writing syllabus; lesson plan, and remedial/enrichment indicate that most respondents are at moderate level, others are at low level and the others are at very low level. (2) The implementation of the program including syllabus, lesson plan components and remedial/enrichment indicate most respondents are at moderate level while the remaining are at the very low level., and (3) The report consisting of process and outcome evaluations, indicate that only a few respondents are at moderate level, and most of them are at the level of very low. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan yang berkaitan dengan pemberlakuan KTSP khususnya pada pembelajaran IPA di SMP. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei dengan jumlah sampel sebanyak 40 orang yang tersebar di 11 SMP Negeri dan Swasta di Kabupaten Bekasi. Data dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase untuk setiap indikator dan untuk setiap dimensi implementasi KTSP. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) perencanaan program yang terdiri dari pembuatan silabus; pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan program remedial/pengayaan menunjukkan sebagian besar berada pada kategori cukup, hanya sebagian kecil saja berada pada kategori rendah dan kategori sangat rendah, 2) pelaksanaan program yang terdiri dari implementasi komponen silabus; implementasi komponen RPP, dan program remedial/pengayaan menunjukkan sebagian besar berada pada kategori cukup, dan sebagian kecil berada pada kategori sangat rendah, dan (3) pelaporan program yang terdiri dari penilaian proses dan penilaian hasil menunjukkan sebagian kecil saja berada pada kategori cukup, dan sebagian besar berada pada kategori sangat rendah

Pengembangan Kompetensi Profesional Guru dalam Menghadapi Sertifikasi

Cahyana, Ade ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.695 KB)

Abstract

Certification of teacher have been accounted for as one of the education core reforms to improve teacher professionalism. The release of the Act No. 14/ 2006 for Teacher and Lecturer (at higher education) is noticeable to be a historical tombstone which sets teacher and lecturer as profession as well as doctor, engineer or others. This will change the public perception to teacher to become more positive, to build up the teacher self-confident, and to magnetize the interest of those first quality candidates to turn out to be teachers, and to give the public trust back to school as an educational institution. It is highly recommended that the enhancement of teacher professional capacity to be integrated with the instructional activities implemented at schools, which, on one hand are capable of improving their quality of teaching as teachers, on the other hand capable of giving them the opportunities to improve their professional capacity while toting-up their cummulative credits mandatory for teacher certification. ABSTRAKSertifikasi guru dinilai sebagai salah satu kebijakan reformasi pendidikan untuk meningkatkan profesionalisme guru. Keluarnya Undang-Undang Nomor 14/2006 tentang Guru dan Dosen adalah merupakan tonggak sejarah tentang bagaimana guru dan dosen diakui sejajar sebagai pekerja profesi sebagaimana pula dokter, insinyur, atau profesi lainnya. Hal ini akan mengubah opini publik terhadap guru menjadi semakin positif, selain juga akan meningkatkan kepercayaan diri mereka, juga akan menarik minat orang-orang yang potensial dan berkualitas untuk menjadi guru, serta mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berwibawa. Berdasarkan elaborasi aspek aspek profesi guru, sangat disarankan bahwa peningkatan kemampuan profesional guru merupakan kegiatan yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran di sekolah, satu sisi mampu meningkatkan kualitas mengajar mereka sebagai guru, di sisi lain dapat memberi peluang bagi mereka meningkatkan kemampuan profesional sekaligus menambah kredit akumulatif mereka untuk kepentingan sertifikasi.

Peminimalan Beban dan Peminimalan Paksaan sebagai Cara Berperilaku Santun dalam Berbahasa Indonesia

Manaf, Ngusman Abdul ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.462 KB)

Abstract

This article describes and explains how bahasa Indonesia speakers try to be polite in using bahasa Indonesia by minimizing the load and force to the listener. This article written based on research carried out in Padang in 2006. The data of the research was bahasa Indonesia narration from bahasa Indonesia speakers from various ethnics of Indonesia domiciled in Padang. The data collection method were involved observation and interview. Data was analyzed with qualitative method based on pragmatic theory. The result shows that load minimizing and force minimizing to the listener by the speaker in their speech caused illocution softening so that their speech felt politer by the listener. ABSTRAK  Tujuan penulisan artikel ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan cara penutur bahasa Indonesia berperilaku santun dalam berbahasa Indonesia melalui peminimalan beban dan peminimalan paksaan kepada petutur. Artikel ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Padang pada tahun 2006. Data penelitian berupa tuturan bahasa Indonesia yang dihasilkan oleh penutur bahasaIndonesia dari berbagai etnis di Indonesia yang berdomisili di Padang. Data penelitian dikumpulkan dengan teknik pengamatan terlibat dan wawancara. Data dianalisis dengan teknik kualitatif yang didasarkan pada teori pragmatik. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa peminimalan beban dan peminimalan paksaan kepada petutur yang dilakukan penutur dalam tuturannya menimbulkan dampak pelunakan daya ilokusi sehingga tuturan dirasakan lebih santun oleh petutur.

Penuntasan Wajib Belajar 12 Tahun di Provinsi DKI Jakarta

Husin, Muhamad ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.531 KB)

Abstract

Program nine years of compulsory education in Indonesia started launched in 1994 and finished in the year targeted 2008. However, in practice still have a lot of obstacles, among others, is the cost factor, the means of schooling, and the circumstances that require students to work, so that the target of completing the nine-year compulsory education as a whole have not been met. Special Province of DKI Jakarta program compulsory education of 9-year, has been successfully completed. Gross Enrollment Rate (GER) Junior High School for DKI Jakarta province in 2004 has reached 102.86%, while for senior high school by 81.41%. Based on these facts, it should provincial DKI Jakarta began improving education quality by improving citizens 12 years of mandatory programs. This is in accordance with the development of Jakarta as a city service that is parallel to the major cities the other in Asia, which requires human resources and strong excel in the service industry. In order for completing compulsory education reached 12 years, still required additional budget from the state budget, budget and community participation and the business world. Financing programs compulsory education to 12-year, should be directed to the management and supervision of financial resources and improving the quality of education.

PROBLEM BASED INSTRUCTION SEBAGAI ALTERNATIF MODEL PEMBELAJARAN FISIKA DI SMA

--, Prayekti ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 16, No 1 (2010)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.275 KB)

Abstract

This research was conducted to prove the PBI model can improve learning outcomes, activities and responses of students in learning. The model is applied to two classes XI of High school in South Jakarta. The first is class-XI of IPA1 and the other is class-XI of IPA2. IPA1 given treatment by applying PBI learning model, while for class-XI IPA2 performed as conventional classical learning. After the application of learning models obtained PBI’s first treatment of Class-XI of IPA1 average value for the lowest pretes is 3.25 while the average value is the highest 6.75. Meanwhile, for class-XI of IPA2, value of the lowest average is 3.25 and the highest is 6.25. Posttes for first-class average score is 6.45 and the lowest the highest is 8.75, whereas for class XI posttes value IPA2 lowest average is 6.75 and the highest value of 9.00. In the second treatment available, IPA1 class-XI, the average value of the lowest student score is 5.00 and the highest average is 7.35, while for class-XI IPA2 average value is 6.45 the lowest and the highest is 8.5. In the third treatment results obtained pretes average grade XI of IPA1 lowest and the highest 3.25 for 4.25. and the average value posttes students obtained the lowest IPA1 is 7.25 and the highest 9.75. For class-XI IPA2 average score of students in the lowest pretes is 3.00 and the highest is 4.5. While the value posttes lowest average is 7.00 and the highest is 9.00. At first teachers were not used but the implementation of the third treatment teachers have mastered the learning model PBI well. Teachers have been able to design a model of the PBI with a good learning, teachers have been able to motivate students actively involved in problem-solving activities, define and organize learning tasks and determine the steps to solve the problem. Teachers motivate students to do reflection, and have been able to evaluate the process of investigations conducted so that students can understand their weaknesses and shortcomings of the reflection done. ABSTRAK  Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan model Problem Based Instructional (PBI) dapat meningkatkan hasil belajar, aktivitas dan respon siswa dalam pembelajaran. Model diterapkan pada 2 kelas XI paralel SMA Swasta di Jakarta Selatan. kelas XI IPA1 dan kelas XI IPA2 Siswa kelas XI IPA1 diberikan treatment dengan menerapkan model pembelajaran PBI sedangkan untuk kelas XI IPA2 dilakukan pembelajaran klasikal seperti biasa. Hasil penerapan model pembelajaran PBI treatment pertama diperoleh hasil Kelas XI IPA1 nilai rata-rata terendah untuk pretes 3,25 sedangkan nilai ratarata tertinggi 6,75. Sementara itu untuk kelas XI IPA2 nilai rata-rata terendah 3,25 dan tertinggi 6,25. Postes untuk kelas pertama nilai rata-rata terendah 6,45 dan tertinggi 8,75, sedangkan postes untuk kelas XI IPA2 nilai rata-rata terendah 6,75 dan nilai tertinggi sebesar 9,00. Pada treatment kedua kelas XI IPA1, nilai rata-rata siswa terendah 5,00 dan nilai rata-rata tertinggi 7,35, sedangkan kelas XI IPA2 nilai rata-rata terendah 6,45 dan tertinggi 8,5. Pada treatment ketiga hasil pretes diperoleh nilai rata rata siswa kelas XI IPA1 terendah 3,25 dan tertinggi 4,25. Nilai rata-rata postes terendah yang diperoleh siswa 1 adalah 7,25 dan tertinggi 9,75. Untuk kelas XI IPA22 nilai rata-rata siswa pada pretes terendah 3,00 dan tertinggi 4,5 sedangkan nilai postes rata-rata terendah 7,00 dan tertinggi 9,00. Pada akhirnya, guru dapat merancang model pembelajaran PBI dengan baik dan dapat memotivasi siswa terlibat aktif pada kegiatan pemecahan masalah, mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar serta menentukan langkah-langkah memecahkan masalah.