cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 13, No 66 (2007)
10
Articles
STUDI PEMETAAN KEMAMPUAN TEKNOLOGI INFORMASI (TI) DI PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DI INDONESIA

Jakaria, Yaya ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 66 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4237.684 KB)

Abstract

Studi ini bertujuan untuk (a) memperoleh informasi tentang peta kemampuan sekolah dalam memanfaatkan Tl, dan (b) pengelolaan pendidikan dan pembelajaran agar mencapai hasil belajar yang lebih bermutu. Jenis penelitian ini adalah survei dan deskriptif research. Teknik sampling menggunakan Multistage Clus­ter Random Sampling, dari 27 provinsi sampel dan masing-masing provinsi dipilih 1 kabupaten dan 1 kota. Target populasi dalam penelitian ini adalah seluruh SD, SMP. SMA. SMK negeri maupun swasta. Sampel terpilih sebanyak 93 SD, 105 SMP. 107 SMA, dan 56 SMK. Sumber data meliputi 54 orang Kepala Dinas Kabupaten/Kota, 361 orang Kepala Sekolah, 720 orang Guru, dan 361 orang siswa. Hasil studi menunjukkan bahwa: (1). Ketersediaan fasilitas internet, LAN, program multimedia, dan Homepage di sekolah tidak mencapai separuh dari sekolah sampel; (2) Guru yang menguasai program komputer di sekolah masih sangat rendah, guru yang usianya relatif muda pada umumnya menguasai komputer; (3) Sebagian besar sekolah sudah melakukan kebijakan penggunaan TI dalam mendukung berbagai aktivitas di sekolah.

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN KAJIAN YURIDIS DAN KONSEPTUAL

Widyastono, Herry ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 66 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3010.469 KB)

Abstract

Terdapat sejumlah kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan yang dianggap kontroversial oleh sebagian masyarakat; ada yang pro, ada pula yang kontra. Kebijakan tersebut antara lain mengenai pergantian kurikulum. Yang kontra beranggapan bahwa setiap ganti menteri ganti pula kurikulum; misalnya, Kurikulum 2004 belum dipahami sepenuhnya, sudah diganti dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pemberlakuan KTSP merupakan pelaksanaan dari amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan; serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar lsi (SJ), Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI & SKL untuk satuan pendidikan dasar dan menengah. Selain itu, pemberlakuan KTSP juga merupakan penerapan dari berbagai teori pengembangan kurikulum. KTSP, ditinjau dari model kurikulum, merupakan penerapan model kurikulum berbasis kompetensi; ditinjau dari model pengelolaan pengembangan kurikulum, merupakan penerapan model pengelolaan pengembangan kurikulum oleh satuan pendidikan; ditinjau dari model implementasi kurikulum, merupakan penerapan gabungan model implementasi kurikulum mutual adap­tive dan enachment.

IMPLEMENTASI TUTORIAL TATAP MUKA RANCANGAN KHUSUS BAGI MAHASISWA PROGRAM S1 PGSD FKIP UNIVERSITAS TERBUKA

Said, Asnah ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud ) , Prayekti, Prayekti ( FKIP Universitas Terbuka, Jakarta )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 66 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4065.004 KB)

Abstract

Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui manfaat bantuan belajar Tutorial Tatap Muka Rancangan Khusus (TTMRK) terhadap prestasi belajar mahasiswa program S1 PGSD FKJP-UT Hasil evaluasi menunjukkan bahwa tugas-tugas tutorial memberikan kontribusi kelulusan mata kuliah sebanyak 30 % termasuk di dalamnya partisipasi kehadiran mahasiswa dalam tutorial. Hal ini mencerminkan bahwa pelaksanaan TTMRK telah berjalan dengan baik meskipun masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki atau disempurnakan. 0leh karena itu, disarankan agar rekrutmen tutor harus lebih selektif lagi, selain memiliki kemampuan akademik sesuai dengan mata kuliah yang ditutorialkan juga harus memiliki kemauan dan komitmen yang tinggi untuk membantu mahasiswa dalam memahami materi mata kuliah. Di samping itu tutor harus dapat berperan sebagai pembimbing dan penasihat mahasiswa, tutor harus siap mendengarkan keluhan mahasiswa dan memberikan alternatif solusi untuk mengatasinya sehingga mahasiswa merasa memiliki teman yang dapat memberikan kekuatan pada saat mengalami kesulitan. Dengan memberikan bantuan belajar melalui TTMRK maka prestasi belajar mahasiswa semakin meningkat sehingga kegiatan TTMRK bermanfaat bagi mahasiswa khususnya dan bagi pengelola Program S1 PGSD. 

KURIKULUM PENDIDIKAN DI INDONESIA SEPANJANG SEJARAH (SUATU TINJAUAN KRITIS FILOSOFIS)

Abdullah, Anzar ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 66 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4734.496 KB)

Abstract

Perjalanan praktek dan refleksi pendidikan selama 60 tahun Indonesia merdeka; dalam rekaman sejarah tidak mengalami kemajuan yang berarti, bahkan boleh dikatakan lemah dalam visi dan misi global. Selama Indonesia merdeka, yang terjadi dalam dunia pendidikan di Republik ini, hanyalah pergantian kurikulum dan uji­ coba kurikulum, sesuai dengan kepentingan politik penguasa. Padahal yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah dalam proses pendidikan, bukan terletak pada bongkar pasang kurikulum, tetapi adalah: menjadikan sektor pendidikan menjadi pilar utama pembangunan nasional untuk mengejar ketertinggalan bangsa In­donesia dalam mengikuti kompetisi global. Tulisan ini membahas tentang bagaimana sejarah perkembangan kurikulum pendidikan di Indonesia dalam prakteknya; bagaimana kurikulum pendidikan menjadi bagian dari kepentingan politik birokrasi; serta bagaimana guru dan sekolah menyikapi setiap perubahan dan pergantian kurikulum.

PENGARUH PEMBERIAN EVALUASI ULANGAN HARIAN TERHADAP PENINGKATAN MOTIVASI BELAJAR BAHASA INDONESIA PADA SISWA TINGKAT SMP KABUPATEN MAROS

Asdam, Muhammad ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 66 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3353.666 KB)

Abstract

Pengaruh pemberian evaluasi ulangan harian terhadap peningkatan motivasi belajar bahasa Indonesia pada tingkat SMP merupakan hal yang penting dikaji. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh pemberian ulangan harian terhadap peningkatan motivasi belajar bahasa Indonesia pada siswa tingkat SMP di Kabupaten Maros. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian evaluasi ulangan harian berpengaruh positif terhadap peningkatan motivasi belajar bahasa Indonesia siswa tingkat SMP di Kabupaten Maros. Hal ini dapat tercermin pada prestasi belajar bahasa Indonesia pada siswa yang selalu diberikan ulangan harian. Peningkatan prestasi yang dicapai ditopang motivasi belajar yang memadai. 0leh karena itu, guru diharapkan membiasakan memberikan evaluasi ulangan harian, mengoreksi secara tepat, dan mengembalikan kepada peserta didik tepat pada waktunya.

PROGRAM PENDIDIKAN LIFE SKILLS BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI WILAYAH PESISIR

Subijanto, Subijanto ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 66 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3432.162 KB)

Abstract

Tidak semua lulusan sekolah menengah atas (SMA) melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kebijakan pendidikan berbasis luas (broad based education) diimplementasikan dalam bentuk program life skills yang antara lain dikembangkan di SMA. Hal ini dimaksudkan agar tamatan SMA yang tidak melanjutkan pendidikannya memiliki bekal keterampilan dasar untuk bekal kehidupan dan!atau bekerja. Program pendidikan life skills selain disesuaikan dengan kebutuhan siswa juga dipertimbangkan kondisi potensi daerah atau lingkungan sekolah. Salah satu potensi daerah yang belum dikembangkan secara optimal antara lain pesisir yang sebagian besar wilayahnya dikelilingi laut. Potensi laut Indonesia sangat kaya dengan berbagai ragam ikan dan rumput laut. 0leh karenanya, bentuk life skills yang dapat dikembangkan di wilayah tersebut, antara lain: (a) Teknologi Pengolahan Ikan, (b) Pengolahan Tradisional atau Modern, (c) Pengolahan Rumput Laut, (d) Teknologi Budidaya Rumput Laut, (e) Budidaya lkan di Kolam Air Tawar, (f) Budidaya ikan dengan Pola Minapadi, (g) Budidaya Jkan dengan Air Tawar dengan Pola Keramba, (h) Budidaya ikan Air Payau (Tambak), dan (i) Pengolahan Hasil Kelautan dan Perikanan.

TIPE PENILAIAN DAN PROSES PEMBAKUAN PEDOMAN PENILAIAN KOMPETENSI KETERAMPILAN MUSIK

Arini, Sri Hermawati Dwi ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 66 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2481.947 KB)

Abstract

Tulisan ini ditujukan kepada para pendidik seni mulai menggunakan pedoman penilaian yang mengacu pada kaidah ilmu pengetahuan untuk mengeliminir faktor subyektivitas dan karakter seni, khususnya musik membutuhkan tipe-tipe penilaian yang sesuai. Oleh karena itu, penskoran, penilaian dan pelaporan hasil tes harus dilakukan dengan prosedur yang benar. Berdasarkan need assess­ment perlu dibenahi implementasi oleh para pendidik.

KONSEP INSTRUMEN PENELITIAN PENDIDIKAN

Sappaile, Baso Intang ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 66 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2596.503 KB)

Abstract

Instrumen merupakan suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis sehingga dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengukur suatu objek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variabel. Suatu instrumen dikatakan baik bila valid dan reliabel, baik validitas isi, konstruk, validitas empirik, reliabilitas konsistensi tanggapan, maupun reliabilitas konsistensi gabungan butir. Validitas internal skor butir dikotomi dan skor butir butir politomi berturut-turut digunakan KR-20 dan koefisien Alpha. Interpretasi terhadap koefisien reliabilitas merupakan interpretasi relati dalam artian bahwa tidak ada batasan mutlak yang menunjukkan berapa angka koefisien minimal yang harus dicapai agar suatu pengukuran dapat disebut reliabel. Namun dapat memberikan informasi tentang hubungan varians skor teramati dengan varians skor sejati kelomok individu. Tujuan mengestimasi reliabilitas tidak lain adalah untuk menentukan seberapa besar variabilitas yang terjadi akibat adanya kesalahan pengukuran dan seberapa besar variabilitas skor tes sebenarnya.

BAHASA ETNIK PENDATANG DI RANAH PENDIDIKAN KAJIAN SOSIOLINGUISTIK MASYARAKAT MADURA DI KOTA SURAKARTA

Saddhono, Kundharu ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 66 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3948.172 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini merupakan kajian deskriptif kualitatifmengenai pemakaian bahasa etnik Madura di Surakarta pada ranah pendidikan. Data berupa wacana /isan dan dikumpulkan denganteknik simak libat cakap (observasi partisipasi), teknik rekam, teknikcatat, dan teknik wawancara mendalam (in-depth interview). Data dianalisis dengan pendekatan sosiolinguistik yang memperhitungkankonteks sosial berupa komponen tutut; yaitu penutur; mitra tutur situasitutur, tujuan tuturan, dan ha/ yang dituturkan. Hasil analisis dan pembahasan menunjukkan bahwa bahasa Indonesia mendominasipada ranah pendidikan walaupun bahasa Madura dan bahasa Jawa digunakan. Fungsi bahasa Madura: kekeluargaan, keakraban,ungkapan perasaan, identitas etnik, kerahasiaan dan pemertahananbudaya; bahasa Jawa: kebiasaan, adaptasi dan keakraban; bahasa Indonesia: situasi formal, komunikasi antaretnik, sekadar bergengsi,pendidikan, dan pertemuan awal; bahasa campur: situasi nonformal,penegasan pesan, dan konsep baru. Kekhasan pemakaian bahasa meliputi kata sapaan, pemakaian partikel, bentuk peru/angan ataureduplikasi, bentuk kata, variasi bahasa, dan dialek Bangkalan.

IMPLEMENTASI KEPMENDIKNAS DI DAERAH

Suprastowo, Philip ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 66 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5634.762 KB)

Abstract

Tujuan studi adalah memperoleh rekomendasi kebijakan dalam upaya meningkatkan implementasi Kepmendiknas No.120/U/2001 tentang Persyaratan Khusus Pengangkatan Pejabat Struktural Pengelola Pendidikan Tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota. Persyaratan dimaksud terdiri atas: pendidikan, pengalaman kerja, Diklat, dan penguasaan bahasa lnggris. Studi ini bersifat evaluatif, dilaksanakan di 24 kota/kabupaten. Responden studi terdiri atas: Sekda, Kepala Dinas Pendidikan, dan Kasubdin Pendidikan Kabupaten/Kota. Hasil studi menunjukkan bahwa dalam pengangkatan pejabat struktural pengelola pendidikan, belum semua pemerintahan kota/kabupaten mengimplementasikan Kepmendiknas No. 120/U/2001. Pada aspek pendidikan, hampir semua pejabat struktural di dinas pendidikan kotalkabupaten pada eselon II. III dan IV telah memiliki tingkat berpendidikan sesuai persyaratan. Namun demikian, sebagian pejabat tidak memiliki pengalaman pekerjaan/jabatan di bidang pendidikan dan pengalaman diktat Berdasarkan hasil studi direkomendasikan: (1) Depdiknas perlu meyakinkan pemerintah kota/kabupaten tentang kekuatan hukum Kepmendiknas, (2) dalam pengangkatan jabatan struktural pengelola pendidikan secara konsisten mengacu pada Kepmendiknas No.120/U/2001; dan (3) sosialisasi Kepmendiknas perlu dilakukan melalui cara, mekanisme, dan sasaran yang lebih baik di masa mendatang.