cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 13, No 65 (2007)
9
Articles
HUBUNGAN KREATIVITAS DENGAN KINERJA GURU KIMIA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Sumiyati, Dr. ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 65 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4609.721 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kreativitas dengan kinerja guru Kimia SMA di DKI Jakarta pada tahun 2003. Jumlah sampel adalah sebanyak 118 orang guru Kimia SMA yang dipilih dengan secara acak sederhana. Data dikumpulkan dengan metode survei dan dianalisis dengan menggunakan korelasi regresi sederhana dam korelasi regresi ganda. Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara kreativitas dengan kinerja guru Kimia SMA.

KETERKAITAN ANTARA PERTUMBUHAN EKONOMI, KEMISKINAN, DAN STATUS GIZI BALITA DI INDONESIA

M.Si, Yuliana S.P., ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 65 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2700.438 KB)

Abstract

Rendahnya pertumbuhan ekonomi akibat krisis ekonomi yang terjadi menyebabkan meningkatnya insiden kemiskinan di negara ini. Peningkatan insiden kemiskinan sangat mungkin berlangsung melalui kenaikan harga-harga (khususnya komoditi makanan) karena depresiasi rupiah yang drastis, kontraksi sektor formal yang kemudian berakibat pada menjamurnya kebangkrutan usaha-usaha ekonomi, meningkatnya pengangguran terbuka dan memburuknya prospek pasar kerja di sektor informal perkotaan, melemahnya permintaan barang dan jasa, serta penurunan drastis produksi pertanian. Kesemuanya itu pada gilirannya berakibat pada penurunan tingkat pendapatan dan daya beli sebagian besar penduduk, khususnya kelompok dengan pendapatan rendah, baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan. Rendahnya daya beli masyarakat terhadap makanan menyebabkan semakin besarnya masalah gizi (gizi buruk) khususnya pada anak usia bawah Lima tahun (balita).

PEER COACHING SEBAGAI WAHANA GURU UNTUK BERKOLABORASI MELALUI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI

Sutjipto, Sutjipto ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 65 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4791.221 KB)

Abstract

Dengan kemudahan yang  ditawarkan data internet tidak heran jika  saat  ini semakin  banyak bidang pekerjaan yang mengoptimalkan fungsi teknologi tersebut, termasuk bidang pendidikan. Sa/ah satu program yang  telah memanfaatkan internet da/am pengajaran  dan pembelajaran  di sekolah adalah apa yang disebut dengan program peer coaching. Peer Coaching adalah suatu strategi pengembarigan profesionalisme guru yang ditujukan untuk meningkatkan hubungan antarmitra kerja {peer)yang  bersifat collegial dan mengembangkan proses pengajaran, be/ajar, dan pembelajaran. Dalam peer coaching  biasanya para  guru  secara bersama-sama berbagi ide-ide baru, melakukan observasi kelas, merefleksikan dan memperbaiki  cara-cara mereka mengajar. Hubungan mereka dibangun alas dasar kepercayaan dan kejujuran, bukan ancaman, serta menjamin lingkungan di mana mereka be/ajar dan tumbuh  bersama-sama. Oleh karena itu, peer  coaching  tidak menghakimi (non judgmental) dan tidak bersifat evaluatif  Program Peer Coaching memfokuskan pada pengembangan kolaborasi, perbaikan serta berbagi pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman dengan mengoptimalkan fungsi  teknologi informasi dan komunikasi. Peer coaching tidak untuk mata pelajaran tertentu, melainkan untuk semua mata pelajaran, sehingga dapat disesuaikan dengan disiplin ilmu apa pun, termasuk pengintegrasian teknologi  dalam pembelajaran.

ENTRY LEVEL ASSESSMENT SEBAGAI SALAH SATU PROGRAM DALAM UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS LULUSAN LPTK: KAJIAN LITERATUR TENTANG KONSEP DAN PENGAPLIKASIANNYA

Heryadi, Dedi ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 65 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2038.37 KB)

Abstract

Pelbagai komponen masyarakat menilai bahwa kualitas hasil pendidikan di Indonesia masih dianggap kurang. Penyebab kurangnya kualitas pendidikan disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu komponen sistem pendidikan yang dianggap menjadi faktor penghambat upaya meningkatkan kualitas hasil pendidikan adalah kualitas tenaga pendidikan. Di dalam upaya meningkatkan kualitas tenaga pendidikan pemerintah terus berupaya menyelenggarakan berbagai program, seperti mengadakan pelatihan-pelatihan bagi para guru, pemberian b antuan beasiswa untuk studi lanjutan, dan dimunculkannya Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dasen. Suatu ha! yang perlu segera mendapat perhatian yaitu perlunya memperbaiki sistem proses pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK), karena lembaga ini berperan sebagai pencetak (produsen) tenaga-tenaga kependidikan. Upaya perbaikan sistem proses pendidikan di LPTK yang cukup aw al dan mendasar perlu dilaksanakan dengan mengadakan entry level assessment (ELA) sebagai bentuk pengukuran atau penelusuran awal untuk menempatkan calon-calon peserta didikyang benar-benar sesuai dengan kemampuan dasar dan minat yang dimilikinya. Secara lebih operasional hasil ELA dapat digunakan sebagai dasar untuk melaksanakan pelayanan yang lebih terorganisir dan terarah kepada para peserta didik (student support service) sehingga hasil pendidikan (output) yang dicapai dapat memuaskan dan siap kerja.

UJIAN NASIONAL (UN) YANG AKURAT DAN ADIL UNTUK SEKOLAH-SEKOLAH DI INDONESIA YANG SANGAT BERVARIASI KONDISI DAN KUALITASNYA

Setiadi, Hari ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 65 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2718.638 KB)

Abstract

Salah satu fungsi Ujian Nasional (UN) adalah sebagai alat ukur yang akurat   untuk mengetahui kualitas atau mutu pendidikan di Indonesia secara menyeluruh di dalam wilayah NKRI. Bagaimana membuat Ujian Nasional (UN) tersebut hasil pengukurannya akurat dan adil untuk sekolah-sekolah di Indonesia yang sangat bervariasi kondisi dan kualitasnya?Pertama agar hasil pengukuran secara nasional akurat adalah data yang dikumpulkan diambil secara menyeluruh (sensus, bukan hanya sekedar survei). Selain itu, alat ukur atau ujian yang digunakan juga harus baik kualitasnya. Untuk mendapatkan alat ukur yang kualitasnya baik, soal-soalnya seharusnya diambil dari Bank Soal, karena semua soal-soal yang ada di dalam Bank Soal sudah jelas kualitas dan karakteristik. Kunci kedua, karena kondisi sekolah-sekolah dan kemampuan siswa di lndonesia sangat beragam, maka tingkat kesukaran soal-soal dalam UN seharusnya berbeda, sesuai dengan kemampuan peserta tesnya. Dengan menggunakan soal-soal yang ada di dalam Bank Soal yang sudah dikalibrasi dengan konsep Item Response Theory (Calibrated Item Bank), hal ini memungkinkan peserta UN mengerjakan perangkat tes yang berbeda sesuai dengan kemampuannya, tetapi tetap hasilnya dapat dibandingkan

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN INKLUSI BAGI ANAK BERKELAINAN

Widyastono, Herry ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 65 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2038.37 KB)

Abstract

Anak berkelainan berada di seluruh pelosok tanah air (kecamatan/desa), sedangkan sekolah untuk anak berkelainan, yakni Sekolah Luar Biasa (SLB}, pada umumnya berada di kabupatenlkota, sehingga banyak anak berkelainan dari keluarga yang kurang mampu ekonominya tidak bersekolah karena kesulitan transportasi dan sekolah umum (SDISMP) terdekat pada umumnya tidak bersediamenerimanya karena ketidaktahuan cara melayaninya. Hal ini tidak dapat dibiarkan terus menerus karena akan menghambat progam penuntasan wajib belajar pendidikan dasar. Oleh karena itu pemerintah perlu melakukan terobosan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusi dengan berbagai alternatif penempatan anak berkelainan pada: (1) kelas reguler tanpa tambahan bimbingankhusus; (2) kelas reguler dengan tambahan bimbingan khusus di dalam; (3) kelas reguler dengan tambahan bimbingan khusus di luar; (4) kelas khusus dengan kesempatan berada di kelas reguler; (5) kelas khusus penuh; (6) sekolah khusus; (7) sekolah berasrama (panti); atau (8) tempat khusus. Setiap penyelenggara pendidikan dapat memilih alternatif penempatan anak berkelainan yang didasarkan pada: (a) jumlah anak berkelainan yang akan dilayani; (b) jenis kelainan masing-masing anak; (c) gradasi (tingkat) kelainan anak; (d) ketersediaan dan kesiapan tenaga kependidikan, serta (e) sarana-prasarana yang tersedia.

PROSES INTERAKSI SOSIAL SISWA DALAM UPAYA MEMBINA WARGA NEGARA YANG BAIK (STUDI KASUS PADA SISWA PENGUNGSI KORBAN KERUSUHAN SOSIAL SAMBAS PADA SEKOLAH DASAR NEGERI DI SINGKAWANG SELATAN, PROVINSI KALIMANTAN BARAT)

R, Samion A ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud ) , Nur, Syafrial ( STKIP-PGRI Pontianak )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 65 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4805.255 KB)

Abstract

Usaha untuk menciptakan manusia menjadi warga negara yang baik, apabila dilakukan pada kondisi yang umum atau biasa, dapat diwujudkan atau direalisasikan. Namun lain halnya dengan siswa yang mengalami peristiwa yang sangat traumatis. Hal ini menimbulkan dampak psikologis yang sangat buruk, seperti yang dialami oleh siswa korban kerusuhan di Kabupaten Sambas pada awal Maret 1999. Kerusuhan sosial tersebut berakar pada masalah etnis sehingga mengakibatkan pengungsian secara besar-besaran yang sekarang ini masih berada di lokasi penampungan yang menyebar di berbagai lokasi di Provinsi Kalimantan Barat, seperti Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kota Singkawang, dan Kabupaten Bengkayang. Agar anak usia sekolah pada anak pengungsi mendapatkan pendidikan yang layak, anak-anak tersebut dititipkan pada sekolah-sekolah yang berada di sekitar lokasi pengungsian. Diharapkan siswa tersebut dapat mengikuti pendidikan dan sekaligus mampu berinteraksi dalam proses pembelajaran secara baik sehingga pada akhirnya terhindar dari trauma yang dialaminya. 

KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP): KEBIJAKAN DAN HARAPAN

Baedhowi, Baedhowi ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 65 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5324.95 KB)

Abstract

Tujuan melaksanakan kebijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah untuk mewujudkan kurikulum yang sesuai dengan kekhasan (karakteristik), kondisi, potensi daerah, kebutuhan dan permasalahan daerah, satuan pendidikan dan peserta didik, dengan mengacu pada standar nasional yang tercantum dalam Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) serta panduan penyusunan KTSP. Sebelum melaksanakan KTSP dalam pembelajaran, semua pihak yang terlibat langsung dalam pembelajaran terutama guru, kepala sekolah dan pengawas harus benar-benar (1) memiliki komitmen, (2) memahami KTSP secara benar, (3) memiliki dokumen pendukung yang diperlukan, dan (4) mampu melaksanakannya dalam pembelajaran sehingga harapan untuk melihat proses pembelajaran yang baik dan efektif bukan hanya merupakan slogan belaka, tetapi benar-benar menjadi suatu kenyataan.

KECERDASAN LINGUISTIK ANAK KEMBAR USIA DUA TAHUN TUJUH BULAN

Pelenkahu, Noldy ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 13, No 65 (2007)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3721.211 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi empiris tentang pemerolehan bahasa anak kembar usia dua tahun tujuh bulan dan gambaran pola pengembangan kecerdasan linguistik anak kembar dalam kehidupan keluarganya. Penelitian ini dilakukan kepada dua anak kembar dari sebuah keluarga yang memiliki status sosial ekonomi yang cukup baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) dalam mengujarkan satu dan dua serta tiga kata diawali dengan mengujarkan suku kata awal dan akhir yang dilakukannya secara bergantian; (2) dalam pemerolehan bahasa sangat tergantung pada pola kehidupan berbahasa yang ada di lingkungan keluarganya, yakni sedikit banyaknya bergantung pada pola berbahasa yang dilakukan oleh ibu mereka, kemudian ayah, dan saudara-saudaranya; (3) kebanyakan kata-kata yang mampu diujarkan menggambarkan kegiatan yang dilakukan di dalam kehidupan keluarga anak tersebut; (4) kedua anak itu baik dalam mengikuti kegiatan keluarga sehingga mereka mampu mengujarkan kata-kata yang sesuai dengan fakta sebenarnya; dan (5) kedua anak tersebut kurang memiliki bakat bahasa yang dib aw a sejak lahirnya sehingga orangtua perlu mengembangkannya agar tidak mengalami keterlambatan dalam pemerolehan bahasa yang baik dan benar.