cover
Filter by Year
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan diterbitkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada bulan November 1995 dengan nama Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1997 berganti nama menjadi Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan.
Articles by issue : Vol 1, No 1 (2016)
7
Articles
Pengembangan Pembelajaran Permainan Adaptif Berbasis Perkembangan Aktual bagi Anak Berkebutuhan Khusus

--, Widodo ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.627 KB)

Abstract

This article aimed to examine the role of adapted game in overcoming psychological problems for children with special needs and role of learning of adapted game-based actual development model in improving the courage and confidence to try a new skill for children with special needs. The method used literature review. The results show, first, the psychological problems in this case courage and confidence to try a new skills can be overcomed by applying adapted game. The potency of adapted game in addressing the issue due to the concept of self-efficacy and Zone of Proximal Development (ZPD) and its scaffolding.With this concept, the application of adapted game involving other people as a successful model and a scaffold to help learn new skills, and the learning starts from the skills that can be performed by child independently. Second, the adapted game based on actual development model may increase the courage and confidence because of their emphasis on the planning function in the field with its main target ‘children want to try repeating’ causing a sense of comfort, and the development of the model put assesment of the child’s skills as a first step, and followed by the next four steps, namely accommodation and modification, implementation, instruction, and evaluation.This study concludes that the adapted game and the learning of adapted game based on actual development model can overcome the psychological problems of children with special needs, especially the problem of courageous and confidence to try out a new skill. ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran permainan adaptif dalam mengatasi permasalahan psikis anak berkebutuhan khusus (ABK) dan peran model pembelajaran permainan adaptif  berbasis perkembangan aktual dalam meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri ABK untuk mencoba suatu keterampilan baru. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka. Hasil kajian menunjukkan, pertama, permasalahan psikis ABK berupa keberanian dan kepercayaan diri untuk mencoba suatu keterampilan baru dapat diatasi dengan menerapkan permainan adaptif. Kemanjuran permainan adaptif dalam mengatasi permasalahan tersebut dikarenakan adanya konsep efikasi diri dan zona perkembangan terdekat beserta perancahnya. Dengan konsep tersebut, permainan adaptif diterapkan dengan melibatkan orang lain sebagai model sukses dan perancah untuk membantu ABK mempelajari keterampilan baru, serta pembelajarannya dimulai dari keterampilan yang sudah dapat dilakukan oleh ABK secara mandiri. Kedua, model permainan adaptif berbasis perkembangan aktual dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri ABK. Hal tersebut dikarenakan adanya penekanan pada perencanaan fungsional di lapangan dengan target utamanya ‘anak mau mencoba melakukan permainan dan mengulanginya’ sehingga timbul rasa nyaman. Pengembangan model dilakukan dengan menempatkan asesmen awal terhadap keterampilan ABK sebagai langkah pertama yang dikuti empat langkah berikutnya, yaitu akomodasi dan modifikasi, implementasi, pengajaran, dan evaluasi. Kesimpulan kajian ini adalah permainan adaptif dan model pembelajaran permainan adaptif berbasis perkembangan aktual dapat mengatasi permasalahan psikis ABK, terutama masalah keberanian dan kepercayaan diri untuk mencoba suatu keterampilan baru.

Kajian Prasarana Pendidikan Sekolah Dasar sebagai Salah Satu Indikator Pencapaian Standar Nasional Pendidikan

--, Relisa ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.302 KB)

Abstract

This study aimed to study the level of achievement of primary school infrastructure standards in Banjarmasin City. This method of the research was intended to obtain data of the achievement of educational infrastructure. Results of the study showed that the level of achievement of primary school infrastructure reached 60,94%. This level of achievement still seems to be low partly due to the lack of insfrastructure which is still owned by the school. In addition, although the school already has the infrastructure of education, the quality conditions of many infrastructures suffered heavy damage so it unfit for use. Types of infrastructure its educational echievement is higher than average includes: classroom, the boardroom, the teachers’s room, and playground. On the contrary, the educational infrastructure is below average achievement including: school’s health unit, library, and restroom. The conclusion of this study is that the achievement of educational infrastructure in Banjarmasin city has not met the requirements of education national standards. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat ketercapaian standar prasarana pendidikan sekolah dasar di Kota Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode survei. Hasil kajian menunjukkan bahwa tingkat ketercapaian prasarana pendidikan sekolah dasar mencapai 60,94%. Tingkat ketercapaian yang tegolong rendah ini antara lain disebabkan oleh masih minimnya prasarana yang dimiliki sekolah. Di samping itu, kondisi kualitas prasarana banyak mengalami kerusakan berat sehingga tidak layak untuk digunakan. Jenisjenis prasarana pendidikan yang ketercapaiannya di atas rata-rata meliputi ruang kelas, ruang pimpinan, ruang guru, dan tempat bermain. Sebaliknya, prasarana pendidikan yang ketercapaiannya di bawah rata-rata meliputi ruang UKS, ruang perpustakaan, dan jamban(toilet). Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketercapaian prasarana pendidikan di kota Banjarmasin belum memenuhi persyaratan standar nasional pendidikan.

Persepsi Mahasiswa terhadap Sistem Ujian ‘Buka Buku’: Studi pada Program Pascasarjana

--, Suciati ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.57 KB)

Abstract

This study was designed to explore student perceptions on ‘open-book’ examination system and the benefit of allowing access for online material to students during exam. The data was collected from 92 graduate students, age between 22 to 60 years old, 67% fall within the 28 to 50 age bracket. The instrument was a questionnaire consisting of 14 items to measure perceptions on ‘open-book’ exam. Open items about allowing students to access internet during ‘open-book’ exam was included in the instrument. The findings indicate that for various reasons, students (86.8 %) prefer open-book exam than closed-book exam. Students perceive open-book exam as more suitable for graduate study, inhibit remember-level knowledge , reduce exam anxiety , and encourage students to be well prepared for the exam. Some students consider that allowing students for free internet access during open book exam will benefit students, since they will be able to complement their answer with further analysis using online material. However, setting up a scheme for open-book exam and allowing students internet access during the exam will require a comprehensive, well-thought and well-developed exam items and procedure. This is truly a challenging task for lecturers and teachers. This study concludes that students have a positive perception in regards to open-book exam and use of internet in open-book exam. It is advisable to use open book exam as an alternatif assessment system in various levels of education, while at the same time investigating dimensions which affects the effectiveness of this system.ABSTRAK Penelitian ini merupakan studi eksploratori, bertujuan untuk mengkaji persepsi mahasiswa terhadap sistem ujian akhir ‘buka buku’, dan kemungkinan memberikan kebebasan kepada mahasiswa mengakses informasi online selama ujian. Responden penelitian sebanyak 92 mahasiswa magister, berusia 22 – 60 tahun, 67% berusia antara 28 sampai dengan 50 tahun.  Instrumen berupa kuesioner yang terdiri atas 14 pertanyaan tertutup tentang sistem ujian ’buka buku’ menggunakan skala Likert 1-5, dan pertanyaan terbuka tentang kebebasan menggunakan internet dalam ujian’buka buku.’ Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya (86.8%) mahasiswa mempunyai persepsi yang positif terhadap sistem ini dan sebagian besar (77%) lebih menyukai sistem ujian ’buka buku’ daripada ’tutup buku’. Sistem ini dinilai lebih sesuai untuk jenjang pendidikan pascasarjana yang sejalan dengan prinsip pendidikan yang baik karena tidak mengandalkan hafalan, mengurangi kecemasan mahasiswa dalam ujian, dan membuat mahasiswa lebih serius mempersiapkan diri. Penggunaan internet secara bebas dalam ujian sistem’buka buku’ dinilai baik karena mahasiswa dapat melengkapi jawabannya dengan analisis materi internet yang diakses. Penelitian ini menyimpulkan bahwa mahasiswa mempunyai persepsi yang positif terhadap sistem ujian ‘buka buku’ dan penggunaan internet dalam sistem ini, baik karena pertimbangan akademik maupun psikologis. Oleh sebab itu, sistem ujian ini dapat lebih luas digunakan pada berbagai jenjang pendidikan sebagai alternatif sistem ujian. Pada saat yang sama, perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai pengaruh sistem ini pada mahasiswa, serta berbagai strategi untuk menjadikan sistem ujian ini efektif.

Etos Kerja Pedagang Perempuan Pasar Terapung Lok Baintan di Sungai Martapura

--, Hendraswati ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.28 KB)

Abstract

This study aims to determine the work ethic and background of it which encourages the work ethic of female traders in Floating Market of Lok Baintan, Martapura River, Banjar. This study used qualitative method by interview, observation, and documentation. Data were analyzed using descriptive interpretative techniques. The results shows that the work ethic of female traders of Floating Market in Lok Baintan displayed their nature and characteristics in practicing their business, such as honesty, respect of time, hard work, and self-contained. Internal factors that influences their work ethic are education, their beliefs of God, culture which has existed from the past and the impact of hard work. While the external factor that inspires their work ethics are motivation among them and guidance from local government. The results of this study concludes that the female traders’ work ethic of Floating Market of Lok Baintan is very well as it meets the criteria of a high work ethic, as proposed by the experts, and their work ethic is also guided by the values and religious beliefs and noble culture. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji etos kerja serta latar belakang yang mendorong tumbuhnya semangat untuk bekerja atau etos kerja para pedagang perempuan di Pasar Terapung Lok Baintan Sungai Martapura, Kabupaten Banjar. Penelitian ini bersifat kualitatif dan menggunakan metode penelitian lapangan dengan teknik wawancara, pengamatan, dan dokumentasi dalam mengumpulkan data. Analisa data menggunakan teknik analisis deskriptif interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etos kerja pedagang perempuan Pasar Terapung Lok Baintan di Sungai Martapura terlihat pada sifat dan karakteristik mereka dalam berusaha, seperti sifat kejujuran, menghargai waktu, kerja keras, dan mandiri. Adapun latar belakang tumbuhnya etos kerja pedagang pasar terapung Lok Baintan, dipengaruhi oleh faktor dari dalam yaitu pendidikan, keyakinan terhadap agama mereka, kultur atau budaya yang sudah ada sejak dahulu, dan dampak dari kerja keras. Faktor luar yang mempengaruhi etos kerja mereka adalah; motivasi antar sesama pedagang dan pembinaan dari pemerintah. Hasil penelitian disimpulkan bahwa etos kerja pedagang perempuan Pasar Terapung Lok Baintan sangat baik dan memenuhi kriteria etos kerja yang tinggi, sebagaimana dikemukakan oleh para ahli, dan etos kerja mereka juga dilandasi oleh nilai dan keyakinan agama serta budaya luhur.

Model Ujian Nasional Berbasis Komputer: Manfaat dan Tantangan

Pakpahan, Rogers ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.391 KB)

Abstract

The purpose of this writing was to review, analyze, and discover the barriers of the implementation of the National Computer-Based Exam. The methodology used was qualitative method with descriptive analysis of the relevant studies and monitoring results of national examinations. The study results show that computer-based test can be implemented in all areas or educational unit when supported by computers and the internet. In order to implement it properly, the schools or educational units must set up the computer hardware, the Internet network and local network computers. The study also reveals that it is saving the printing costs, the security of the script, facilitating the distribution of exam materials, easy to reach the entire area, security, easy to score of the scoring process, and it is possible to print the certificate of test results after completing the exam. The barriers of implementing this model include a wide area or vast territory, computer hardwares, internet facilities, and the support of stakeholders. However, the implementation of computerbased national examinations can be carried out across the region in line with advances in technology information. It conclusion, the implementation of on line computer-based national examinations within a limited area either district/city, provincial, and national levels will shorten the chain of implementation of national examinations that benefits the stakeholders. In addition, implementing online computer based examination enables them to immediately obtain the result after the implementation of the test. ABSTRAKTujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji, menganalisis, dan menemukan hambatan pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Metodologi yang digunakan adalah metode kualitatif dengan analisis deskriptif pada studi atau hasil kajian yang relevan dan hasil pemantauan ujian nasional. Hasil kajian menunjukkan bahwa ujian berbasis komputer dapat dilaksanakan di seluruh wilayah atau satuan pendidikan bila didukung oleh perangkat komputer dan internet. Agar pelaksanaan ujian berbasis komputer dapat berjalan dengan lancar, satuan pendidikan harus menyiapkan perangkat keras, jaringan internet, dan jaringan lokal komputer. Selain itu, hasil kajian model ujian nasional berbasis komputer adalah menghemat biaya penggandaan naskah, keamanan naskah, memudahkan distribusi bahan, mudah menjangkau seluruh wilayah, keamanan, mudah proses penskoran, dan memungkinkan pencetakan sertifikat hasil ujian dilakukan setelah ujian berlangsung. Hambatan model ujian nasional berbasis komputer antara lain cakupan wilayah yang luas, perangkat keras, sarana internet, dan dukungan para pemangku kepentingan. Namun demikian, pelaksanaan ujian nasional dapat dilaksanakan di seluruh wilayah seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Kajian ini menyimpulkan bahwa penerapan ujian nasional berbasis komputer secara langsung dalam wilayah terbatas baik kabupaten/kota, provinsi, maupun nasional akan memotong rangkaian penyelenggaraan ujian nasional sehingga membantu pemangku kepentingan dan hasil ujian nasional berupa nilai dan sertifikat ujian nasional akan segera diperoleh atau dimiliki peserta didik setelah pelaksanaan ujian berlangsung, tidak seperti selama ini, dimana peserta didik harus menunggu lama untuk memperoleh hasil tersebut. 

Strategi Pelestarian Peralatan dan Infrastruktur Pertambangan Minyak dari Masa Kolonial di Sangasanga Kalimantan Timur

--, Wasita ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.186 KB)

Abstract

The study aimed to obtain a proper strategy in the preservation of colonial archaeological remains in Sangasanga with community involvement. Therefore, the method used was a descriptive analysis by providing a complete picture of archaeological data. The result shows that the most effective preservation is by involving local community. In this case, people are not merely engaged to work but a system is made which conducts utilization concept and has additional value to earn profit. Utilization of occupying the building (for example komplak) and earned income are through economic activities related to culturalheritage tour. Hopefully, involving local people in the conservation will be easily realized through the activities. Nevertheless, the system could not be allowed to work alone. There should be monitoring and evaluation in order to implement conservation habits become an attitude of life. The conclusion of this study is that the preservation action for oil company equipment and infrastructure in Sangasanga should promptly be done by conservation strategy with added values by involving the community.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi yang tepat dalam pelestarian peninggalan arkeologi kolonial di Sangasanga dengan melibatkan masyarakat. Untuk mendapatkan cara pelestarian yang tepat, dilakukan analisis deskriptif, yaitu dengan memberikan gambaran secara lengkap mengenai realitas tinggalan arkeologi yang dikaji. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pelestarian yang paling efektif adalah dengan cara melibatkan masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat tidak semata-mata hanya dilibatkan untuk bekerja, tetapi dibuat program pelestarian yang berwawasan pemanfaatan dan bahkan ada nilai tambah bagi masyarakat, yaitu menjadi sumber penghasilan. Pemanfaatan dengan menempati bangunan (misalnya komplak) dan perolehan penghasilannya melalui kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan wisata warisan budaya. Jika pola ini terbentuk, harapan agar keterlibatan masyarakat dalam pelestarian akan lebih mudah diwujudkan. Namun demikian, sistem itu tidak dapat dibiarkan bekerja sendiri dan harus ada pengawasan dan evaluasi, agar kebiasaan melaksanakan pelestarian menjadi sikap hidup masyarakat. Kesimpulan kajian ini adalah bahwa tindakan aksi pelestarian peralatan dan infrastruktur pertambangan minyak di Sangasanga dilakukan dengan strategi pelestarian yang berwawasan pemanfaatan dengan melibatkan masyarakat.

Peran Pemerintah Daerah dalam Implementasi Kurikulum 2013

Winingsih, Lucia H ( Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan, Balitbang Kemendikbud )

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.688 KB)

Abstract

The purpose of the study was to examine the local’s government role in implementing the newly Curiculum 2013, in particular related to the role in: (1) sosialization; (2) training for teachers, pricipal, and school supervisor; (3) providing and distribution of the books; (4) financing; and (5) monitoring and evaluation of the implementation of Curriculum 2013. The study used qualitative method, and used focus group discussion (FGD) in data collection. Descriptive Analysis used to explain the result of the study. The study shows that (1) Budget for the Curriculum 2013 is not provided by the local government so that they cannot socialize the curriculum formally;(2) though in the curriculum implementation their role is as only the coordinator,their role is increasing in financing by allocating fund for principal and teacher training ; (3) local government has important role in providing and distributing the books by supplying CD to substitute the books since the books were significantly delayed to reach the area; (4) most of the local government has improved their role in financing the implementation of curriculum, particularly for the financing of teachers training; and (5) the local government has very limited role for the monitoring and evaluation because the process of the implementation of Curriculum 2013 was still going on, also the competencies of the local actors for monitoring and evaluation is still needed to improve. The study concludes that the local governments do not have significant role in the beginning of the implementation of Curriculum 2013. ABSTRAKTujuan dari penelitian ini untuk mengkaji peran pemerintah daerah dalam pengimplementasian Kurikulum 2013, terutama terkait dengan (1) sosialisasi, (2) pendidikan dan pelatihan (diklat) guru, kepala sekolah dan pengawas, (3) pengadaan dan distribusi buku, (4) pendanaan, dan (5) monitoring dan evaluasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif, data dikumpulkan dengan cara focus group discussion (FGD). Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemerintah daerah pada umumnya tidak menyediakan anggaran secara khusus untuk kepentingan sosialisasi Kurikulum 2013, melakukan sosialisasi kepada guru, kepala sekola, pengawas umumnya yang disisipkan melalui berbagai kegiatan rapat dinas, workshop, seminar, pendidikan dan pelatihan, dan kegiatan-kegiatan seperti KKG, MGMP, KKS, dan forum pengawas sekolah; (2) peran pemerintah daerah dalam pendidikan dan pelatihan Kurikulum 2013 terbatas sebagai koordinator; (3) pemerintah daerah menjadi sangat berperan dalam mengatasi keterlambatan pengadaan dan distribusi buku, yaitu dengan cara memfasilitasi pengadaan compact disc (CD) pengganti buku, dan berkoordinasi dengan sekolah untuk memenuhi kebutuhan buku; (4) dalam hal pendanaan, pemerintah daerah mulai terlibat di tahun kedua implementasi Kurikulum 2013, sebagian besar pemerintah daerah menyediakan anggaran melalui APBD dalam berbagai bentuk, sebagian besar untuk melatih guru dan yang lainnya umumnya untuk melatih kepala sekolah dan pengawas; dan (5) pemerintah daerah umumnya belum melakukan monitoring dan evaluasi terhadap implementasi Kurikulum 2013 karena selain masih dalam proses implementasi, pengetahuan pelaku monitoring dan evaluasi mengenai Kurikulum 2013 di daerah masih terbatas. Penelitian ini meyimpulkan bahwa peran pemerintah daerah masih belum signifikan dalam pengimplementasian Kurikulum 2013.