cover
Filter by Year
AL-FIKRA
Al-Fikra (p-ISSN: 1693-508X; e-ISSN: -; http://alfikra.pasca-uinsuska.info/index.php/alfikra/index) adalah peer-reviewed journal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah keislaman. Artikel-artikel yang dipublikasikan di jurnal Al-Fikra meliputi hasil-hasil penelitian ilmiah asli (prioritas utama), artikel ulasan ilmiah yang bersifat baru (tidak prioritas), atau komentar atau kritik terhadap tulisan yang ada di jurnal Al-Fikra. Jurnal Al-Fikra diterbitkan oleh Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Jurnal Al-Fikra menerima manuskrip atau artikel dalam bidang ilmiah keislaman dari berbagai kalangan akademisi dan peneliti baik nasional maupun internasional.
Articles by issue : Vol 2, No 1 (2003): Al-Fikra
6
Articles
MENGGALI AKAR KEILMUWAN HADIS YANG TRANSFORMATIF LIBERATIF

Husti, Ilyas

AL-FIKRA Vol 2, No 1 (2003): Al-Fikra
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.388 KB)

Abstract

Hadis sebagai perkataan, perbuatan, pernyataan (taqrir) dan hal ihwal Nabi Muhammad SAW, yang kini terhimpun dalam berbagai kitab hadis, merupakan sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an. Pada masa Nabi SAW, periwayatan hadis lebih banyak berlangsung secara lisan ketimbang tulisan. Hal itu memang logis karena apa yang disebut sebagai hadis Nabi tidak selalu terjadi di hadapan sahabat Nabi yang pandai menulis, di samping itu jumlah sahabat yang pandai menulis relatif tidak banyak. Ide penulisan hadis Nabi secara tertulis untuk pertama kalinya dikemukakan Khalifah Umar ibn al-Khattab ( w.23 H/644 M). Ide itu tidak dilaksanakan Umar karena khawatir, umat Islam terganggu perhatian mereka dalam mempelajari al-Qur’an. Kebijaksanaan Umar ini dapat dimengerti, karena pada masanya daerah kekuasaan Islam semakin meluas dan hal itu membawa akibat jumlah orang yang baru memeluk Islam makin bertambah banyak. Kepala negara yang secara resmi memerintahkan penghimpunan hadis Nabi ialah Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz ( w. 101 H/720 M). Perintah ini antara lain ditujukan kepada Abu Bakr ibn Muhammad ibn ‘Ammar ibn Hazm (w. 117 H/ 735 M), gubernur Madinah, dan Muhammad ibn Muslim ibn Syihab al-Zuhri ( w. 124 H/ 742 M), seorang ulama di Hijaz dan Syam. 

IDEOLOGI DAN MORALITAS KEPENDIDIKAN ISLAM: Suatu Telaah Filosofis Arah Bangun Pendidikan Islam dalam Paradigma

Muhmidayeli, Muhmidayeli

AL-FIKRA Vol 2, No 1 (2003): Al-Fikra
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.007 KB)

Abstract

Pendidikan berkenaan dengan keyakinan akan eksistensitas pengembangan sifat-sifat hakiki kemanusian yang sarat dengan nuansa moral. Dalam perkembangannnya kemudian, terutama setelah pendidikan telah menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, para cendikiawan  mengelompokkannya kepada dua aliran besar, yaitu konservativisme dan liberalisme, kendatipun realitas sejarah menunjukkan bahwa aliran konservatif pun sesungguhnya adalah  liberal pada masanya, bahkan yang diakui sebagai liberalisme saat ini  juga akan menjadi konservatif dikemudian hari, sesuai dengan kondisi historisitas manusia sebagai subjek ayang terus berkembang dan berproses.

REKONSTRUKSI SISTEM PENDIDIKAN PESANTREN TRADISIONAL DI INDONESIA: Telaah Filosofis Historis Kurikulum Pondok Pesantren Menuju Arah Baru Pendidikan Islam di Era Globalisasi

zaitun, zaitun

AL-FIKRA Vol 2, No 1 (2003): Al-Fikra
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.663 KB)

Abstract

Pendidikan adalah sebuah proses, sekaligus sistem yang bermuara pada pencapaian kualitas manusia tertentu yang dianggap dan diyakini sebagai kualitas idaman (desirable quality). Manusia sebagai hamba yang berperadaban tinggi, sudah barang tentu harus menjaga nilai-nilai dan karakteristiknya sebagai makhluk yang paling tinggi (the high quality). Di tengah keterbukaan informasi dan gencarnya proses transformasi nilai-nilai pendidikan Islam, pondok pesantren yang notabene lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia sangat diharapkan mampu membentengi gerak dan perkembangan yang menyebabkan problematika global semakin membengkak, suasana kehidupan kian bersaing, ditambah lagi dengan pluralitas kehidupan yang semakin kompleks, ini semua menimbulkan kekhawatiran bukan saja di kalangan pendidik, pejabat, pemerhati kehidupan, akan tetapi juga dirasakan oleh semua lapisan masyarakat, mulai dari kelas bawah (RW, kepala desa, lurah) sampai kelas atas (bupati, gubernur, menteri, presiden), dari kota sampai ke berbagai penjuru pelosok desa. 

REKONSTRUKSI PENDIDIKAN MORAL DI ERA GLOBAL: Studi terhadap Pemikiran Muhammad al-Ghazali; 1917-1996 M

arifin, Zuhairansyah

AL-FIKRA Vol 2, No 1 (2003): Al-Fikra
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.534 KB)

Abstract

Suasana moral yang terdapat sekarang membuktikan, seluruh dunia menghadapi kekacauan moral, baik di Barat maupun di dunia Timur sampai ke berbagai pelosok desa. Situasi yang menyebabkan problematika manusia global semakin membengkak dan mengarah kepada selfishness (egoisme) dan the sense of purposelessness (tidak adanya tujuan hidup) menunjukkan menipisnya kesadaran akan nilai-nilai hidup di dunia. Krisis moral yang melanda umat manusia akhir abad ke-20 memasuki millenium ketiga ditandai oleh perubahan-perubahan yang mencengangkan, diwarnai oleh semakin majemuknya wacana sosial, kultural dan keagamaan. Pluralisme keagamaan juga menjadi masalah yang senantiasa diperdebatkan, sebagai konsekuensinya dalam kehidupan masyarakat, lambat laun akan berhadapan dengan persoalan munculnya pluralitas dalam kehidupan bermoral. Manusia tidak dapat lagi menemukan motif yang dapat mendorongnya mengikuti jalan kebenaran dan kemuliaan.

SELF-PURIFICATION DALAM PEMIKIRAN ETIKA ISLAM: Suatu Telaah Atas Pemikiran Etika Raghib al-Isfahani dan Refleksinya dalam Mengatasi Qua Vadis Modernitas

M, Amril

AL-FIKRA Vol 2, No 1 (2003): Al-Fikra
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.772 KB)

Abstract

Dalam wacana  etika Islam klasik, jiwa  merupakan unsur yang sangat menentukan bagi kehidupan manusia. Jiwa tidak saja menjadikan manusia hidup, bergerak, merasa dan beraktivitas, bahkan juga berperilaku moral dan amoral serta memahami “yang wujud”  dan berkontemplasi dan mempercayai  tentang “Yang  Wujud” dengan segala implikasi dan konsekuensinya yang kesemuanya itu  dapat dikatakan berakar dari jiwa. Begitu besarnya peranan jiwa dalam hidup dan kehidupan bagi manusia, utamanya dalam konteks etika, tidak mengherankan bila  hampir seluruh filsuf Muslim klasik pada masa itu menumpukan perhatian kajian  etika mereka tentang bagaimana  memberdayakan jiwa sebagai sumber perilaku-perilaku moral, baik dari sisi metodologis-praksis, maupun dari sisi implementasi dan konsekuensi yang dihasilkan dalam upaya pemberdayaan jiwa tersebut. Pemberdayaan daya jiwa dalam kajian etika Islam klasik, sebagaimana hal tersebut di atas dalam pemikiran filsuf Muslim klasik, secara terminologis terakumulasi  pada apa yang dikenal dengan  sebutan  self-purification.

MASYARAKAT INDUSTRI: Konsep dan Bentuk Pendidikan Keluarga

asyri, Zul

AL-FIKRA Vol 2, No 1 (2003): Al-Fikra
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (109.997 KB)

Abstract

Masyarakat berarti suatu kelompok orang yang tinggal di suatu wilayah, bekerjasama dan saling bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan hidup mereka melalui lembaga dan organisasi yang tersedia. Masyarakat industri merupakan sekelompok orang yang mempunyai keterlibatan dalam kaitan teknologi, ekonomi, dan perusahaan di sentra-sentra produksi. Input industri terhadap warga masyarakat membentuk sikap dan tingkah laku yang tercermin pada sikap dalam bekerja. Oleh karena itu, masyarakat industri memiliki nilai-nilai tertentu yang membentuk sikap dan tingkah laku mereka dalam bekerja untuk mencapai tujuan-tujuan hidup mereka. Dalam proses kehidupannya, mereka memiliki wawasan, sikap, mentalitas dan nilai-nilai seperti penghargaan terhadap waktu, akurasi, produktivitas dan kewirausahaan.