cover
Filter by Year
Althea Medical Journal
Articles by issue : Vol 1, No 2 (2014)
10
Articles
Effects of Analgesic Advertisements on Community in Hegarmanah Village, Jatinangor

binti Shaharuddin, Nurhayati, Hidayat, Eva M., Sibarani, Jupiter

Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.948 KB)

Abstract

Background: Currently, there are numerous analgesic advertisements which have been published in various media and have also attracted attention of the society. The aim of this study is to find out effects of analgesic advertisements on awareness and attention towards these advertisements on the community in Hegarmanah Village, Jatinangor.Methods: The study used the descriptive method with participants consisting of community members in Hegarmanah Village who have seen, watched or heard about the analgesic advertisements and who were aged 18 years and above. The sample for this study consisted of 100 respondents. This study was conducted in September 2012–December 2012.Results: The results showed that 82% of the respondents have seen the ads in at least the last 3 months and mostly watched them on television. About 52% of respondents agreed that many of the ads did not provide sufficient information. In addition, 50% only read a little bit of the ads rather than the whole advertisement. Fifty three percents of the respondents had the intention to try the medication after seeing the ads. More than 80% were aware about how to use the medication, medication’s side effects, warnings and contraindications and 65% agreed that, they could make a better decision on their health condition after seeing the ads.Conclusions: The analgesic advertisements indeed affected the community by making them aware about the ads and attracted them to buy as well as try the product itself. Further studies on factors which influence intake of over-the-counter analgesic drugs and also about the self-medication are required. [AMJ.2014;1(2):1–6]Keywords: Analgesic advertisements, effects, society Pengaruh Iklan Analgesik terhadap Masyarakat di Desa Hegarmanah, JatinangorLatar Belakang: Saat ini, banyak iklan analgesik yang ditayangkan di beberapa media dan telah menarik perhatian masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh iklan analgesik terhadap kesadaran dan pemahaman mengenai obat analgesik pada masyarakat di Desa Hegarmanah, Jatinangor.Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan melibatkan partisipan yang terdiri dari anggota masyarakat di Desa Hegarmanah yang telah melihat, menyaksikan atau mendengar tentang iklan analgesik dan berusia 18 tahun ke atas. Sampel penelitian ini terdiri dari 100 responden. Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2012-Desember 2012.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 82% dari responden telah melihat iklan di setidaknya 3 bulan terakhir dan sebagian besar menonton di televisi. Sekitar 52% dari responden setuju bahwa banyak dari iklan tidak memberikan informasi yang cukup. Selain itu, 50% hanya membaca sedikit iklan daripada seluruh iklan. Lima puluh tiga persen dari responden memiliki niat untuk mencoba obat setelah melihat iklan. Lebih dari 80% yang sadar tentang penggunakan, efek samping, peringatan dan kontraindikasi obat  dan 65% setuju bahwa, mereka bisa membuat keputusan yang lebih baik tentang kondisi kesehatan mereka setelah melihat iklan.Simpulan: Iklan analgesik memang memengaruhi masyarakat dengan membuat mereka paham tentang obat yang diiklankan dan menarik mereka untuk membeli serta mencoba produk tersebut. Penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan obat analgesik yang dijual bebas dan juga tentang pengobatan sendiri masih diperlukan. Kata kunci: iklan analgesik, efek, masyarakat DOI: 10.15850/amj.v1n2.346

The Analgesic Effect of Pineapple Fruit Juice on Mice

binti Hilmi, Ainul Atiqah, Yunivita KD, Vycke, Sadeli, Henny Anggraini

Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.134 KB)

Abstract

Background: Pain is a feeling stimulated by the nervous system which  can be suppressed by giving an analgesic agent. Some studies revealed that pineapples have an analgesic effect. This study aim was to determine analgesic effect of pineapple on mice.Methods: In this experimental study, the effect was examined by using a writhing method on the 28 male mice. Subjects were divided into 4 groups with 7 mice each. The control group received aquades and other groups received pineapple fruit juice with 20%, 40% and 80% concentration with the dosage of 10 mL/kg/body weight. After 30 minutes, 3% acetic acid was injected intraperitoneally to induce pain. Writhing responseswere observed every 5 minutes for 30 minutes.Results: The result for mean of total writhing reaction was  2.39±0.40, 1.92±0.40, 1.50±2.13, 1.66±0.11 respectively for group 1 to 4. These data indicated a significant decrease of total writhing response in mice with 20%, 40% and 80% concentration compared to control group (p=0.023;p=0.000 and p=0.000 respectively). Most optimal concentration was40% with the protective percentage equal to 71.8%.Conclusion: Pineapple fruit juice concentrations (20%, 40%, and 80%has an analgesic effect with the most optimal concentration of 40%.Keywords: analgesic, pain, pineapple fruit, writhing method Efek Analgesik Jus Buah Nanas Pada Mencit Latar Belakang: Nyeri adalah sensasi perangsangan sistem saraf yang dapat ditekan dengan pemberian zat analgetik. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa nanas memiliki efek analgesik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek analgesik nanas pada mencit.Metode: Efek analgesik diperiksa dengan menggunakan metode “writhing“ pada 28 mencit jantan. Subyek penelitian dibagi menjadi 4 kelompok masing-masing 7 ekor. Kelompok kontrol menerima aquades dan kelompok lainnya menerima  jus buah nanas secara oral dengan konsentrasi  20%, 40% dan 80% dengan dosis 10 mL/kg/berat badan. Setelah 30 menit, asam asetat 3% disuntikkan intra peritoneal untuk menginduksi nyeri. Respons “writhing” diamati setiap 5 menit selama 30 menit.Hasil: Hasil rata-rata reaksi total ”writhing”adalah 2.39 ± 0.40, 1.92 ± 0.40, 1.50 ± 2.13, 1.66 ± 0.11 masing-masing untuk kelompok 1 sampai 4. Data ini menunjukkan penurunan yang signifikan dari jumlah respon ”writhing” pada tikus dengan 20%, 40 % dan konsentrasi 80% dibandingkan dengan kelompok kontrol (p=0,023; p=0,000; dan p=0,000masing-masing). Konsentrasi optimal adalah 40% dengan persentase pelindung sebesar 71,8%.Simpulan: Konsentrasi  jus buah nanas (20%, 40% dan 80%) memiliki efek analgesik dengan konsentrasi paling optimal pada 40%.Kata Kunci: analgesik, nyeri, nanas, writhingDOI: 10.15850/amj.v1n2.356

Differences of Anxiety Levels between Students of Natural Sciences and Social Studies Major Based on School Environmental Factors in Senior High Schools with Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional Scheme

Putri, Arviana Adamantina, Lubis, Leonardo, Sutaryan, Tatang Muchtar

Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (703.452 KB)

Abstract

Background: Senior High Schools with Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) scheme are senior high schools that pilot international standards in learning methods and high curriculum targets. This factor may lead to a rise of anxiety amongst students, both for students in Natural Sciences major and Social Studies major. There are three factors which cause anxiety in the school environment, namely: dissatisfaction towards the curriculum, the teacher, and the school management.Methods: This study used retrospective cohort design. Subjects were selected using the convenience sampling method. Natural Sciences students (n=32) and Social Studies students (n=14) had their anxiety level measured using the Taylor Manifest Anxiety Scale. The dissatisfaction towards the school environment factors was assessed using a school evaluation questionnaire.Results: The anxiety measurement showed that students in both Natural Sciences and Social Studies major experienced severe anxiety (Natural Sciences vs. Social Studies: 75% vs. 86%). The study results based on the school evaluation questionnaire showed dissatisfactions towards the three school environmental factors (curriculum factor, Natural Sciences vs. Social Studies: 59% vs. 64%; teacher factor, Natural Sciences vs. Social Studies: 3% vs. 43%; school management factor, Natural Sciences vs. Social Studies: 3% vs. 14%). The chi-square test results showed that the difference in the anxiety levels between the students of Natural Sciences and Social Studies majors was insignificant (p>0.05).Conclusions: Students of Natural Sciences and Social Studies majors of senior high schools with RSBI scheme experienced severe anxiety. However, there is no strong evidence that the school environment causes this severe anxiety. Keywords: Anxiety Level, Natural Sciences, Senior High School with RSBI Scheme, School Environment Factors, Social Studies Perbedaan Tingkat Kecemasan antara Siswa Kelas Ilmu Pengetahuan Alam dan Siswa Kelas Sosial Berdasarkan Faktor Lingkungan Sekolah di Sekolah Menengah Atas Rintisan Sekolah Bertaraf InternasionalLatar Belakang: Sekolah Menengah Atas Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SMA RSBI) adalah sekolah menengah atas yang menggunakan standar internasional dalam metode pembelajaran dan kurikulum.  Faktor ini dapat menyebabkan kenaikan kecemasan di kalangan siswa, baik bagi siswa kelas Ilmu Pengetahuan Alam dan siswa kelas Ilmu Sosial. Ada tiga faktor yang menyebabkan kecemasan di lingkungan sekolah, yaitu: ketidakpuasan terhadap kurikulum, guru, dan manajemen sekolah.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif. Subjek dipilih dengan menggunakan metode convenience sampling. Tingkat kecemasan siswa kelas Ilmu Pengetahuan Alam (n = 32) dan siswa kelas Ilmu Sosial (n = 14) diukur dengan menggunakan Skala Kecemasan Taylor Manifest. Ketidakpuasan terhadap faktor lingkungan sekolah dinilai menggunakan kuesioner evaluasi sekolah.Hasil: Pengukuran kecemasan menunjukkan bahwa siswa di kelas Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Sosial sama sama pernah mengalami kecemasan yang berat (Ilmu Pengetahuan Alam vs Studi Sosial: 75% vs 86%). Hasil penelitian berdasarkan kuesioner evaluasi sekolah menunjukkan ketidakpuasan terhadap tiga faktor lingkungan sekolah (faktor kurikulum, Ilmu Pengetahuan Alam vs Studi Sosial: 59% vs 64%; faktor guru, Ilmu Pengetahuan Alam vs Studi Sosial: 3% vs 43 faktor manajemen sekolah, Ilmu Pengetahuan Alam vs Ilmu Sosial;%: 3% vs 14%). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa perbedaan tingkat kecemasan antara siswa kelas Ilmu Pengetahuan Alam dan siswa kelas Ilmu Sosial jurusan tidak signifikan (p> 0,05).Simpulan: Siswa kelas Ilmu Pengetahuan Alam dan kelas Ilmu Sosial di SMA RSBI mengalami kecemasan yang berat. Namun, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa lingkungan sekolah sebagai penyebab kecemasan yang berat ini.Kata kunci: Tingkat Kecemasan, Ilmu Pengetahuan Alam, SMA RSBI, Faktor Lingkungan Sekolah, Ilmu Sosial DOI: 10.15850/amj.v1n2.348

Improvement of Near Vision for Low Vision Patients in National Eye Healthcare Center Cicendo Eye Hospital 2010-2011

Enoch, Muhammadnur Rachim, Musa, Ine Renata, Nurhayati, Titing

Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.276 KB)

Abstract

Background: “Low vision” is a term used refer to a person having a visual acuity of less than 6/18 (20/60) to light perception (LP). People with low vision can still be treated to perceive or see objects, although several limitations occur.  Treatments for people with low vision include either optical or non-optical devices. This research aims to reveal visual acuity for near vision that can serve as corrective benchmark after devices for near vision are given.Methods: This is a retrospective descriptive research, using medical records from  the National Eye Healthcare Center, Cicendo Eye Hospital, for the period of August 2010–September 2011 as the subject of the research. Approximately 475 patients were listed, 263  female and 212  male. The number of  patients with low vision given with corrective device for near vision were 81 patients.Results: The result showed that visual acuity was corrected after corrective devices  for near vision with the size of 1–10 M were given.Conclusions: The highest of overall corrections or improvements for near vision are  the one under the category of “severe visual impairment”.Key words: low vision, optical devices, visual acuity  Peningkatan Penglihatan Jarak Dekat Pada Penderita“ Low Vision” di RS Mata Nasional Cicendo 2010–2011 LatarBelakang: "Low vision" adalah istilah yang mengacu pada seseorang yang memiliki ketajaman visual kurang dari 6/18 (20/60) dengan persepsi cahaya. Orang dengan low vision masih dapat diobati untuk melihat benda meskipun dengan berbagai keterbatasan. Pengobatan terhadap penderita low vision meliputi perangkat optik atau non-optik.. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan ketajaman visual penglihatan dekat yang dapat berfungsi sebagai pedoman perbaikan setelah perangkat diberikan.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan rekam medis dari Pusat Mata Nasional Kesehatan, RS Mata Cicendo, periode Agustus 2010–September 2011 sebagai subjek penelitian. Sekitar 475 pasien yang terdaftar terdiri atas 263 perempuan dan 212 laki-laki, 81 diantaranya diberikan perangkat korektif untuk penglihatan dekat.Hasil: Ketajaman visual dapat diperbaiki setelah dilakukan pemberian perangkat korektif untuk penglihatan jarak dekat dengan ukuran 1–10 M.Simpulan: Peningkatan penglihatan jarak dekat terbaik adalah pada kelompok low vision yang termasuk kategori “gangguan penglihatan berat”.Kata kunci: low vision, perangkat optik, ketajaman visual DOI: 10.15850/amj.v1n2.355

Bixa Orellana L Leaf infusion as an Anti-inflammatory Agent in Carrageenan-induced Wistar Rats

Yusuf, Sabrina Munggarani, Rohmawaty, Enny, Nusjirwan, Rama

Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.412 KB)

Abstract

Background: One of the characteristics of inflammation is swelling or edema. Inflammation can be treated with traditional medicine, such as Bixa orellana L. Bixa orellana L leaf  contains flavonoid and tannin responsible for its anti-inflammatory effect. This study was conducted to analyse the ability of Bixa orellana L leaf infusion (BOLI) to suppress paw edema in carrageenan-induced Wistar rats.Methods: This study was conducted in the Animal Laboratory of Department of Pharmacology and Therapy Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran in October 2012. Bixa orellana L leaves were procured from Lembang, Bandung, and were botanically identified at the Herbarium of Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Thirty female Wistar rats were randomly divided into five groups. Group 1 was given 5 mL aquades as a control, three groups received BOLI with 0,09 g; 0,18 g; and 0,36 g dosage respectively; and group 5 was given 0,9 mg diclofenac. At 1 hour after treatment, all rats were induced by carrageenan injection subcutaneously. Paw edema changes were quantified at 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, and 24 hour afterwards. Data were analysed using Kruskal-Wallis and Mann-Whitney testResults: Based on paw edema inhibition percentage, 0.18 g of BOLI was shown most effective (16.97%) compared to 0.09 g (10.96%) and 0.36 g (7.50%). Interestingly, no significant differences of anti-inflammatory effect were observed between groups that were treated with 0,18 g of BOLI and diclofenac (p > 0,005).Conclusions: The BOLI can suppress inflammation comparable to diclofenac. The effective dosage is 0.18 g/200 g BW/day.[AMJ.2014;1(1):7–12]Keywords: anti-inflammatory, Bixa orellana L leaf, paw edema Infusa Daun Kesumba (Bixa Orellana L) sebagai Anti Inflamasi pada Tikus Wistar yang Diinduksi Carrageenan Latar Belakang: Salah satu ciri khas dari peradangan atau inflamasi adalah adanya pembengkakan atau edema. Peradangan dapat diobati  dengan obat tradisional, seperti Kesumba (Bixa orellana). Daun Kesumba diketahui mengandung flavonoid dan tanin yang berfungsi sebagai anti-inflamasi. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kemampuan infusa daun kesumba (Bixa orellana) (BOLI) dalam mengurangi edema tungkai pada kaki tikus Wistar yang diinduksi Carrageenan.Metode: Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Hewan Departemen Farmakologi dan Terapi di Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Oktober 2012. Daun Kesumba (Bixa Orellana) diperoleh dari Lembang, Bandung, dan diidentifikasi botani di Herbarium Universitas Padjadjaran, Jatinangor. Tiga puluh tikus Wistar betina secara acak dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok kontrol negatif diberi 5 mL aquades, tiga kelompok menerima BOLI dengan 0,09 g; 0,18 g; dan masing-masing 0,36 g dosis; sedangkan kelompok kontrol positif diberikan 0,9 mg diklofenak. Pada 1 jam setelah pengobatan, semua tikus diinduksi oleh subkutan injeksi karagenan. Perubahan edema (Paw) yang diukur pada 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 24 jam sesudahnya. Data dianalisis denganmenggunakanKruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney.Hasil: Berdasarkan persentase pengurangan edema tungkai, kelompok 0,18g BOLI terlihat paling efektif (16,9%) dibandingkan dengan 0,09 g (10,9%) dan 0,36 g (7,5%). Tidak ada perbedaan yang signifikan dari efek anti-inflamasi yang diamati antara kelompok-kelompok yang diobati dengan 0,18 g BOLI dan diklofenak (p> 0.005).Simpulan: Infusa Daun Kesumba (Bixaorellana) dapat menekan peradangan sama baiknya dengan diklofenak. Dosis efektif adalah 0,18 g /200 g BB / hari.Kata kunci: anti-inflamasi, daun kesumba (Bixaorellana), edema tungkai DOI: 10.15850/amj.v1n2.347

Nigella sativa Infusion as an Antioxidant Agent Against Gentamicin-Induced Kidney Damaged in Mice

binti Halim, Hamsiah, Achadiyani, Achadiyani, Tjahjodjati, Tjahjodjati

Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.903 KB)

Abstract

Background: Gentamicin is one of the most common antibiotics related to nephrotoxicity. It has been proposed that the nephrotoxicity is associated with the generation of the reactive oxygen species. Thymoquinone, an active compound of Nigella sativa, shows to have an antioxidant property. The study aims to identify the possible nephroprotective action of Nigella sativa infusion against gentamicin-induced kidney damaged in mice.Methods:This experimental study was carried out in the Department of Cell Biology Laboratory, Universitas Padjadjaran, Bandung from 10th November 2012 to 14th December 2012. There were four groups, each consisting of  6 mice. Group I (control negative), group II (gentamicin 100 mg/kg), group III (3.9 mg Nigella sativa infusion+gentamicin 100mg/kg) and group IV (7.8 mg Nigella sativa infusion+gentamicin 100mg/kg). The kidneys were evaluated histopathologically by light microscope. The percentage average number of normal proximal tubules in group I and the percentage average number of proximal tubules damaged in group II, III and IV were measured.Results: The results showed the percentage average number of the proximal tubules damaged in group II, III and IV were 14.53%, 7.49% and 3.94% respectively. Significant differences were observed between group II and III, group II and IV, and group III and IV.Conclusion:Nigella sativa infusion protects against gentamicin-induced kidney damage in mice.Keywords: gentamicin, kidney, Nigella sativa infusion  Infusa Nigella sativa sebagai Antioksidan Terhadap Kerusakan Ginjal padaTikus yang Diinduksi Gentamisin   LatarBelakang: Gentamisin adalah salah satu antibiotik yang paling sering dihubungkan dengan nefrotoksisitas. Nefrotoksisitas yang terjadi berhubungan dengan pembentukan reactive oxygen species. Thymoquinone, senyawa aktif Nigella sativa, telah terbukti memiliki sifat antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sifat nefroprotektif infusa Nigella sativa terhadap kerusakan ginjal pada tikus yang diinduksi gentamisin.Metode: Penelitian eksperimental ini dilakukan di Laboratorium Departemen Biologi Sel, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung dari 10 November 2012 –14 Desember 2012. Ada empat kelompok masing-masing terdiri atas 6 tikus. Kelompok I (control negatif), kelompok II (gentamisin 100 mg /kg), kelompok III (3,9 mg Nigella sativainfus + gentamisin 100mg/kg) dan kelompok IV (7,8 mg Nigella sativa infus + gentamisin 100mg/kg). Ginjal kemudian dievaluasi secara histopatologi dengan mikroskop cahaya. Persentase rata-rata jumlah tubulus proksimal yang normal dalam kelompok I dan persentase rata-rata jumlah tubulus proksimal rusak dalam kelompok II, III dan IV diukur.Hasil: Persentase rata-rata jumlah tubulus proksimal rusak dalam kelompok II, III dan IV adalah 14,53%, 7,49% dan 3,94%. Perbedaan signifikan yang diamati adalah pada kelompok II dengan III, kelompok II dengan  IV, serta kelompok III dan IV.Simpulan: Infusa Nigella sativa infuse melindungi terhadap kerusakan ginjal yang diinduksi gentamisin pada tikus.Kata kunci: gentamisin, ginjal, infusa Nigella sativaDOI: 10.15850/amj.v1n2.354

Allergic Rhinitis Patient Characteristics in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung Indonesia

Moeis, Raisa Mentari, Sudiro, Melati, Herdiningrat, RB. Soeherman

Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.412 KB)

Abstract

Background: Allergic rhinitis affects 500 million people worldwide, especially children and adolescents. This disease interferes with daily activities and productivity, leading to decreased quality of life. Allergic rhinitis is often accompanied by co-morbid conditions such as asthma, conjunctivitis, rhinosinusitis, urticaria and othersthat may worsen the disease. This study aimed to investigate the characteristics of patients with allergic rhinitis during the period of 2010-2011 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.Methods: This study was a descriptive study with a cross-sectional design using medical records of allergic rhinitis patients  who visited the allergy clinic of the Otorhinolaryngology ‒ Head and Neck Surgery ( ORL ‒ HNS ) Department of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.Results: There were 167 patients diagnosed as suffering from allergic rhinitis during the study time with more women (53.3%) affected compared to men (46.7%). Most of them were in the age group of 18-34 years old (52.7%) and their were student (53.3%). Most  were suffered from moderate-severe persistent allergic rhinitis based on the Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma-World Health Organization (ARIA-WHO) classification (52.7%). Co-morbid conditions were found in 73.7% of subjects and the allergic conjunctivitis (59.9%) was the most common.Conclusions: Allergic rhinitis is most commonly found in people at school age and productive age. Most allergic rhinitis patients are classified into persistent moderate/severe, showing that the rhinitis symptom has already interfered with their daily activities and decreased their quality of life.Key words: Allergic Rhinitis, Co-morbid Condition, school age  Karakteristik Pasien Rinitis Alergi di Rumah Sakit Dr Hasan Sadikin Bandung Indonesia Abstrak Latar Belakang: Rinitis alergi memengaruhi 500 juta orang di seluruh dunia, terutama anak-anak dan remaja. Penyakit ini mengganggu kegiatan dan produktivitas sehari-hari serta menyebabkan kualitas hidup menurun. Rinitis alergi sering disertai dengan penyakit penyerta seperti asma, konjungtivitis, rhinosinusitis, urtikaria dan lain-lain yang dapat memperburuk penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien dengan riinitis alergi periode 2010-2011 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain potong lintang dengan menggunakan rekam medis pasien rinitis alergi yang mengunjungi klinik alergi Departemen Telinga, Hidung, Tenggorokan - Kepala dan Leher (THT-KL)) RS Dr. Hasan Sadikin Bandung.Hasil: Ada 167 pasien yang didiagnosa menderita rinitis alergi selama usia sekolah. Perempuan lebih banyak yang terkena dampak (53,3%) dibandingkan dengan laki-laki (46,7%). Sebagian besar dari mereka berada di kelompok usia 18-34 tahun (52,7%) dan mereka adalah siswa (53,3%). Berdasarkan klasifikasi Organisasi Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma-World Health Organization (ARIA-WHO) (ARIA-WHO) sebagian besar menderita rinitis alergi persisten sedang-berat (52,7%). Kondisi co-morbid ditemukan di 73,7% dari subyek dan yang paling umum adalah konjungtivitis alergi (59,9%).Simpulan: Rinitis alergi paling sering ditemukan pada orang di usia sekolah dan usia produktif. Sebagian besar pasien rinitis alergi diklasifikasikan menjadi persisten sedang/berat. Hal ini menunjukkan bahwa gejala rinitis telah mengganggu kegiatan sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup mereka. Kata kunci: Rinitis alergi, Kondisi Co-morbid, usia sekolah DOI: 10.15850/amj.v1n2.350

Role of Knowledge and Attitude toward Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) of Medical Students 2009 Universitas Padjadjaran

Syaefullah, Sufia Permatasari, Herryadi, Noorman, Setiawati, Elsa Pudji, Djuhaeni, Henni

Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.936 KB)

Abstract

Background: Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) is one of the main pillars of preventive measures in Indonesia Sehat and also a strategy to reduce health cost caused by illness based on the desire, willingness, and ability to be able to help themselves in medical aspects. The health provider including a doctor as a community leader should behave toward PHBS which based on adequate knowledge and attitude.Methods: This study have been conducted in February–November 2012 with cross-sectional design of 152 medical students 7th semester admission 2009 Universitas Padjadjaran, using questionnaires. Data were analyzed using chi-square.Results: The number of students with good knowledge and poor knowledge were not different (50.7%vs 40.3%). Most of the respondens attitude are not in accordance with PHBS program(p=0.805).Conclusions: Knowledge of PHBS  for all medical students needs to be improved and needs to investigated whether there are other factors which affect student attitudes toward  PHBS.Key words: attitude, knowledge, PHBS, student   Peranan Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa Kedokteran Universitas Padjadjaran Angkatan 2009 terhadap Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS)  AbstrakLatar Belakang: Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu pilar utama pencegahan dalam program Indonesia Sehat serta strategi untuk mengurangi biaya kesehatan akibat penyakit yang berdasarkan keinginan, kemauan, dan kemampuan untuk membantu diri sendiri dalam aspek medis. Pelayanan kesehatan termasuk dokter sebagai pemimpin kesehatan di masyarakat harus mempunyai sikap dan pengetahuan yang memadai mengenai PHBS.Metode: Penelitian dilakukan pada bulan Februari-November 2012 dengan desain potong lintang terhadap 152 mahasiswa kedokteran angkatan 2009 Universitas Padjadjaran semester 7 dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis menggunakan chi-square.Hasil: Jumlah mahasiswa yang memiliki pengetahuan baik dan pengetahuan kurang tidak jauh berbeda (50,7% vs 40,3%). Sebagian besar responden mempunyai sikap yang tidak sesuai dengan program PHBS (p=0,805).Simpulan: Pengetahuan tentang PHBS bagi semua mahasiswa kedokteran perlu ditingkatkan dan perlu diteliti lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang memengaruhi sikap mahasiswa terhadap PHBS.Kata kunci: sikap, pengetahuan, PHBS, mahasiswa DOI: 10.15850/amj.v1n2.353

Larvacidal Effect of Imperata Cylindrical Root Decoction against Culex sp. Larvae

Resi, Afini Tiara, Dhianawaty, Diah, Syarifah, Neneng

Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (683.514 KB)

Abstract

Background: Filariasis is one of the neglected tropical diseases. About 337 of 401 districts in Indonesia are endemic areas for filariasis, especially in Sumatera,  Kalimantan, and Papua. Culex sp. is one of the lymphatic filariasis vectors which can be controlled by insecticide, including larvacide. This study was conducted to determine the larvacidal effect of Imperata cylindrical root decoction against Culex sp. larvae.Methods: This study was conducted at the Laboratory of Parasitology, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran during the period of September to November 2012. The study object was Culex sp. larvae III/IV instars. The design of this study was experimental laboratory using true experimental approach. The larvae were divided into three groups: negative control (distilled water), reference (Abate®), and decoction. The number of larvae in each group was 25 larvae, and the effects were evaluated by the total number of dead larvae in 48 hours under observation. The data were then analyzed by Mann-Whitney test and Probit test.Results: The result of the Mann-Whitney test to compare Imperata cylindrica root decoction treatment to distilled water as control  was significant (p<0.05). However, Abate® gave a better result. The Probit test resultwas LC50:  63% and LC90: 489%.Conclusions: Imperata cylindrical root decoction has a larvacidal effect against Culex sp. larvae.Keywords: Culex sp., Filariasis, Imperata cylindrica (L.) Beauv., Larvacidal, LC50  Pengaruh Larvasida Rebusan akar alang-alang (Imperata Cylindrical) terhadap Larva Nyamuk (Culex sp.) AbstrakLatar Belakang: Filariasis merupakan salah satu penyakit tropis yang terabaikan. Sekitar 337 dari 401 kabupaten di Indonesia adalah daerah endemik untuk filariasis terutama di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.  Nyamuk (Culex Sp.) adalah salah satu vektor filariasis limfatik yang dapat dikendalikan oleh insektisida, termasuk larvasida. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh larvasida dari rebusan  akar alang-alang terhadap larva nyamuk (Culex sp.)Metode: Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran selama periode September-November 2012. Objek penelitian adalah larva nyamuk (Culex sp.) instar III / IV.. Desain penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan menggunakan pendekatan eksperimental yang benar. Larva dibagi menjadi tiga kelompok: kontrol negatif (air suling), referensi (Abate®), dan rebusan. Jumlah larva dalam setiap kelompok adalah 25 larva, dan efek dievaluasi dengan jumlah total larva mati dalam 48 jam di bawah pengawasan. Data kemudian dianalisis dengan uji Mann-Whitney dan uji Probit. Hasil: Hasil uji Mann-Whitney untuk membandingkan pemberian rebusan akar alang-alang (Imperata cylindrica) terhadap air suling sebagai kontrol adalah signifikan (p <0,05). Namun, Abate® memberikan hasil yang lebih baik. Hasil tes Probit adalah LC50: 63% dan LC90: 489%.Simpulan: Rebusan akar alang-alang (Imperata cylindrical) memiliki efek larvsidal terhadap larva nyamuk (Culex sp.) Kata kunci: Nyamuk (Culex sp.), Filariasis, Alang-alang (Imperata cylindrica (L.) Beauv), Larvasida, LC50 DOI: 10.15850/amj.v1n2.349

Antipyretic Effect of Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume Infusion in Fever-induced Rat Models

Zaino, Qatrunnada, Hidayat, Eva M., Peryoga, Stanza Uga

Althea Medical Journal Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.297 KB)

Abstract

Background: Fever is a frequent clinical sign encountered in human especially in children. Unfortunately, access to health care and medications (antipyretics) are hampered by shortage of services and affordability, which are accentuated by local resources mainly for those living in remote areas. Therefore, using herbal medicineas an alternative in treating fever should be developed as substituent reliance on synthetic antipyretic. This study is conducted to observe antipyretic effect of Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume infusion using Diphtheria Tetanus Pertussis (DTP) vaccine-induced fever in rats.Methods: Twenty-eight male Wistar rats (150200 g) were randomly allocated into control and treatment groups. Fever was induced with DTP vaccine intramuscularly injected (0.7 mL/200 g body weight) and 4 hours later, distilled water (5 mL) was administered orally to the control group while the treatment group received 5 mL of 3%, 6%, and 12% of cinnamon infusion. Rectal temperature was measured before the pretreatment, 4 hours afterDTP vaccine-induced fever injection and at a 30-minute interval during 180 minutes after the infusion administration. All procedures and protocols were performed in October 2012 at the Pharmacology Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, Bandung.Results: Data analysis using the one way analysis of variance (ANOVA) showed significant reduction (p<0.001) of rectal temperature after 30 minutes and Duncan Post-Hoc test showed significant effect for  6% and 12% of cinnamon infusion groups.Conclusion The antipyretic effect of 6% and 12% of Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume infusion in fever-induced rat models is found in the first 30 minutes.Key words: Antipyretic, Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume, fever, herbal medicine Efek Antipiretik Infusa Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume pada Tikus yang Diinduksi Demam AbstrakLatar belakang: Demam merupakan suatu gejala yang sering muncul terutama pada anak-anak. Antipiretik merupakan obat yang sering digunakan untuk meringankan demam, namun akses kepada pelayanan kesehatan dan pengobatan masih belum terjangkau bagi penduduk yang tinggal di daerah terpencil. Menggunakan herbal sebagai alternatif pengobatan demam harus dikembangkan sebagai substituen terhadap ketergantungan pada obat sintetik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efek antipiretik infusa Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume pada tikus yang diinduksi demam menggunakan vaksin Diphtheria Tetanus Pertussis (DTP).Metode: Penelitian yang dilakukan menggunakan 28 ekor tikus putih jantan galur Wistar yang dikelompokkan secara acak dan diinjeksi dengan vaksin DTP (0.7 mL/200 g BB) secara intramuskular untuk menimbulkan demam. Setelah 4 jam, kelompok kontrol diberikan 5mL air suling per oral dan kelompok uji diberikan infusa Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume per oral dengan dosis masing-masing 3%/5 mL, 6%/5 mL dan 12%/5 mL. Pengukuran suhu tubuh dilakukan melalui rektal sebelum pemberian vaksin DTP, 4 jam setelah pemberian vaksin DTP dan 30 menit interval setelah perlakuan sampai menit 180. Semua prosedur dan protokol dilaksanakan pada Oktober 2012 di Laboratorium Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran, Bandung.Hasil: Hasil analisis data menggunakan uji ANOVA menunjukkan penurunan yang signifikan (p<0.001) dari suhu rektal pada menit 30 dan dengan uji Duncan Post-Hoc menunjukkan efek yang signifikan pada kelompok yang diberikan 6%/5 ml dan 12%/5 mL infusa Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume. Pada menit 60–180 tidak ada penurunan yang signifikan (p>0.05) dari suhu rektal, dimungkinkan karena durasi kerja yang singkat dari Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume.Simpulan: Efek antipiretik pada pemberian dosis 6% dan 12% infusa Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume pada tikus yang diinduksi demam ditemukan pada 30 menit pertama.Kata kunci: Antipiretik, Cinnamomum burmannii (Nees & T.Nees) Blume, demam, pengobatan herbal DOI: 10.15850/amj.v1n2.352