cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 48, No 4 (2016)
10
Articles
Serum Otologus dan human Epidermal Growth Factor (hEGF) Mempercepat Proliferasi dan Migrasi Keratinosit pada Proses Re-Epitelisasi

Sari Agung, Syennie, Maksum, Iman Permana, Subroto, Toto

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.611 KB)

Abstract

Penggunaan serum otologus merupakan pendekatan terapeutik yang direkomendasikan untuk mengobati beberapa jenis penyakit yang bersifat kronis, menahun bahkan dapat bertahan seumur hidup. Serum otologus mengandung epidermal growth factor (EGF) yang dapat menstimulasi proses migrasi dan proliferasi keratinosit pada proses re-epitelisasi dalam penyembuhan luka. Penambahan hEGF pada serum otologus dilakukan sebagai upaya untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Pengujian aktivitas dilakukan dengan mengukur proliferasi dan migrasi sel keratinosit menggunakan cell line HaCaT. Proliferasi sel diukur dengan metode Water Soluble Tetrazolium-8 (WST-8) dan migrasi sel diukur dengan metode Scratch Assay. Variasi konsentrasi hEGF yang ditambahkan adalah 0,5; 1; 5; 10; 25 dan 50 ng/mL. Terdapat perbedaan yang bermakna pada hasil proliferasi sel HaCaT yang ditambahkan hEGF dan konsentrasi optimal pada penambahan hEGF 25 ng/mL (p<0,05), sedangkan penambahan variasi konsentrasi hEGF pada serum otologus tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna terhadap proliferasi sel HaCaT (p>0,05). Penambahan hEGF pada serum otologus terlihat peranannya dalam mempercepat laju migrasi sel. Dalam waktu 18 jam, persentasi migrasi sel HaCaT yang diberikan hEGF dan serum otologus adalah 55–70% kemudian menjadi 65–80% dalam waktu 24 jam, sedangkan yang diberikan hEGF saja 25–45% dan dalam waktu 24 jam meningkat menjadi 35-70%. [MKB. 2016;48(4):205–10]Kata kunci: hEGF, proliferasi dan migrasi, re-epitelisasi, serum otologusAutologous Serum and human Epidermal Growth Factor (hEGF) Accelerate Keratinocyte Proliferation and Migration during Re-epithelialization ProcessAbstractAutologous serum is used as a therapeutic approach recommended to treat certain types of chronic diseases that can even last a lifetime. Autologous serum contains Epidermal Growth Factor (EGF), which can stimulate the migration and proliferation of keratinocytes in the re-epithelialization process in wound healing. The addition of hEGF on autologous serum is a part of efforts to accelerate the wound healing process. Tests were performed by measuring proliferation and migration activities of keratinocytes cells using HaCaT cell line. The cell proliferation was measured using Water Soluble Tetrazolium-8 (WST-8) method while the cell migration was measured using Scratch Assay method. Variations in the concentration of hEGF added were 0.5, 1, 5, 10, 25, and 50 ng / mL. There were significant differences in the results of cell proliferation in hEGF-added HaCaTcells and the optimum concentration was seen in 25 ng/mL hEGF group (p <0.05). On the contrary, the addition of various concentrations of hEGF in autologous serum resulted in no significant difference in HaCaT cell proliferation (p>0 , 05). The addition of hEGF and autologous serum showed a visible role in accelerating the pace of cell migration. Within 18 hours, the percentage of cell migration in HaCaT cells added by hEGF and autologous serum reaches 55-70% and then 65-80% within 24 hours while HaCaT cells that receive hEGF only only reaches 25-45% cell migration which increases to 35-70% within 24 hours. [MKB. 2016;48(4):205–10]Key words: Autologous serum, hEGF, proliferation and migration, re-epithelialization

Methylenetetrahydrofolate Reductase C677T Distribution among Cervical Cancer Patients at Dr. Hasan Sadikin General Hospital

Maskoen, Ani Melani, Kurniawan, Cynthia, Susanto, Herman, Sahiratmadja, Edhyana

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.831 KB)

Abstract

Cervical cancer is the second most common cancer among women in the world. Persistent infection with high risk human papillomavirus (HPV) is one of the necessary causes of cervical cancer development. However, host genetic factors may also play a role in cervical cancer carcinogenesis. Methylenetetrahydrofolate reductase enzyme, encoded by the MTHFR gene, regulates folate metabolism which is important for genetic expression and stability. Single nucleotide polymorphism (SNP) C677T in MTHFR gene may produce a thermo-labile enzyme, resulting in a reduced enzyme activity. The aim of this study was to explore the SNP C677T of MTHFR gene and the susceptibility to cervical cancer among cancer patients visiting Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, Indonesia. This descriptive quantitative study involved cervical cancer patients recruited in 2010 and their control group. Genomic DNA was extracted from patients’ blood. MTHFR C677T genotype was performed using BeadXpress Reader Illumina® and some samples were re-genotyped for confirmation using conventional PCR-RFLP. The distribution of MTHFR C677T genotype in cervical cancer patients was 71.6%, 25.4%, and 3%, and 44%, 36%, and 20% in control group for CC, CT, and TT, respectively. This yielded a statistical significant difference of CC vs CT+TT (p 0.014 with OR 3.22 and CI 95% 1.24 – 8.33). Taken together, this result indicates that T allele has a protective effect against cervical cancer development. Further studies to confirm this effect in bigger population is warranted. [MKB. 2016;48(4):216–21]Key words: Cervical cancer, MTHFR C677T, polymorphism, Bandung Distribusi C677T gen Methylenetetrahydrofolate Reductase pada Pasien Kanker Serviks di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin BandungKanker serviks menduduki peringkat kedua sebagai kanker yang paling sering ditemukan pada wanita di dunia. Infeksi persisten oleh human papillomavirus (HPV) tipe risiko tinggi merupakan salah satu penyebab utama kanker serviks. Selain itu, factor genetic juga turut berperan dalam proses perkembangan kanker serviks. Enzim methylenetetrahydrofolate reductase yang disandi oleh gen MTHFR berfungsi meregulasi metabolism folat. Polimorfisme C677T pada gen MTHFR dapat membuat produksi enzim menjadi termolabil sehingga terjadi penurunan aktivitas. Distribusi folat yang abnormal dapat mengganggu proses metilasi, sintesis, dan perbaikan DNA yang dikaitkan dengan perkembangan kanker serviks. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui distribusi polimorfisme C677T gen MTHFR pada pasien kanker serviks di Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin Bandung, Indonesia. Penelitian deskriptif kuantitatif ini melibatkan pasien kanker serviks yang diinklusi tahun 2010 dan sebagai control adalah wanita yang datang untuk pemeriksaan PAPsmear. DNA genomic diisolasi dari darah pasien dan dihibridisasi dengan menggunakan system BeadXpress Reader Illumina® untuk menentukan jenis genotipenya. Genotipe beberapa sampel dikonfirmasi dengan metode PCR-RFLP. Hasil distribusi polimorfisme C677T gen MTHFR dengan genotipe CC, CT, dan TT pada pasien kanker serviks adalah 71,6%, 25,4%, dan 3% dan pada kontrol adalah 44%, 36%, and 20%. Hasil ini menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pasien kanker serviks dan kontrolnya, dengan genotipe CC vs CT+TT menunjukkan nilai p=0,014 (OR 3.22 dan IK 95% 1,24–8,33). Simpulan, alel T menunjukkan efek yang protektif pada perkembangan kanker serviks. Penelitian harus dilanjutkan untuk membuktikan efek protektif alel pada kanker serviks.[MKB. 2016;48(4):216–21]Kata kunci: Kanker serviks, MTHFR C677T, polimorfisme, Bandung

Uji Validasi Kadar Interleukin-4 (IL-4) Sebagai Alternatif Uji Diagnosis Infeksi Kecacingan

Hermawati, Ike, Herman, Herry, Agoes, Ridad

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.435 KB)

Abstract

Infeksi kecacingan yang disebabkan oleh soil transmitted helminth (STH) dapat mengakibatkan gangguan gizi dan menurunkan kualitas sumber daya manusia. Imunitas terhadap infeksi cacing mengaktifkan respons Th2 yang ditandai oleh peningkatan kadar interleukin-4. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar IL-4 pada anak kecacingan dan yang tidak kecacingan serta menganalisis validitas pemeriksaan IL-4 sebagai indikator infeksi kecacingan. Sebanyak 74 sampel plasma EDTA diambil dari anak-anak kelas 1–3 SD di Kecamatan Jatinangor kemudian dilakukan pemeriksaan kadar IL-4 dengan metode ELISA. Hasil penelitian didapatkan kadar IL-4 pada subjek yang terinfeksi kecacingan lebih tinggi secara bermakna dibanding dengan subjek yang tidak terinfeksi (3,001 pg/mL berbanding 1,406 pg/mL ; p<0,001). Pada cut-off point 1,585 pg/mL, kadar IL-4 memiliki sensitivitas 66,7%, spesifisitas 65,9%, dan akurasi 66,2%. validitas instrumen pemeriksaan telur cacing berdasarkan pemeriksaan kadar Interleukin-4 termasuk kategori cukup dengan koefisien Κ (Kappa) sebesar 0,635. Kadar IL-4 pada subjek yang terinfeksi kecacingan meningkat 1,6 kali lebih tinggi dibanding dengan subjek yang tidak terinfeksi kecacingan. Simpulan, IL-4 merupakan pemeriksaan yang valid digunakan sebagai diagnostik infeksi kecacingan. [MKB. 2016;48(4):211–5]Kata kunci: Infeksi kecacingan, interleukin-4, uji validasiInterleukin-4 (IL-4) Level Validation Testing as A Helminthiasis Infection Diagnostic Testing AlternativeHelminth infection caused by soil transmitted helminths (STH) could be one of the reasons for malnutrition, impaired growth, and intelligence which will reduce the quality of human resources. Helminth infections are potent inducers of Th2 type responses as well as increased secretion of interleukin-4. The purpose of this study was to determine the interleukin-4 concentration in subjects with helminth infection and without helminth infection and to assess the validity of the plasma Interleukin-4 concentration assessment in helminth infection patients. This study examined 74 plasma samples from 1st-3rd grade elementary students in Jatinangor district using ELISA method. The results indicated that IL-4 concentration of helminth infection subjects was significantly higher compared to that of non-infected subjects (3.001 pg/mL vs 1.406 pg/mL, p<0.001). A cut-off point of 1.585 pg/mL for IL-4 concentration means 66.7% sensitivity, 65.9% specificity, and 66.2% accuracy . The validity of the helminth ova assessment instrument based on Interleukin-4 level testing is fair with a K (Kappa) coefficient of 0.635. The IL-4 level in helminth infection patient increased 1.6 times compared to non-infected subjects. In conclusion, IL-4 is a valid marker for diagnosing helminthiasis. [MKB. 2016;48(4):211–5]Key words: Helminth infection, Interleukin-4, validity test

Albumin Telur Sebagai Lem pada Operasi Cangkok Konjungtiva

Kartiwa, R. Angga, Enus, Sutarya, Boediono, Arief, Miraprahesti, Retti N.

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.091 KB)

Abstract

Cangkok konjungtiva sudah lama digunakan pada bidang oftalmologi. Metode yang digunakan saat ini untuk menempelkan cangkok konjungtiva adalah menggunakan teknik jahitan dan lem fibrin. Pada penelitian ini dilakukan uji coba menggunakan lem albumin pada cangkok konjungtiva kelinci sebagai alternatif lain selain menggunakan teknik jahitan dalam penempelan cangkok konjungtiva. Tujuan penelitian adalah membandingkan penyembuhan luka cangkok konjungtiva bulbi antara teknik lem albumin dan jahitan pada mata kelinci. Dilakukan animalexperimental study pada 32 mata (16 ekor kelinci) di PT. Bio Farma (Persero) dan laboratorium Histologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dari bulan Maret 2014–Juli 2014, terbagi kelompok teknik lem albumin dan teknik jahitan. Dilakukan pemeriksaan meliputi perbandingan derajat perlekatan cangkok konjungtiva bulbi pada teknik lem albumin dan teknik jahitan yang diamati hari-1 pascabedah serta dilakukan pemeriksaan histologis secara mikroskopik untuk mendapatkan data celah luka yang diamati 10 menit dan hari-7 pascabedah. Analisis data dilakukan dengan Mann-Whitney test for small sample. Hasil penelitian memperlihatkan perlekatan cangkok konjungtiva bulbi secara bermakna lebih kuat pada teknik lem albumin (derajat 4) dibanding dengan teknik jahitan (derajat 2 dan 3) pada hari-1 pascabedah dengan nilai p=0,000 serta terdapat perbedaan celah luka (wound gap) bermakna antara teknik lem albumin (0–0,33 µm) dan jahitan (5,33–14 µm) (p=0,0005)pada cangkok konjungtiva dilihat sepuluh menit pascabedah dan pada hari-7 pascabedah untuk teknik lem albumin (0 µm) dan teknik jahitan (0,33–4 µm) dengan nilai p=0,0005. Simpulan penelitian ini adalah derajat perlekatan jaringan cangkok pada teknik lem albumin lebih baik dibanding dengan jahitan hari-1 pascabedah, sedangkan celah luka lebih kecil pada teknik lem albumin dibanding dengan teknik jahitan pada pengamatan 10 menit dan hari-7 pascabedah. [MKB. 2016;48(4):241–8]Kata kunci: Jahitan, lem albumin, penyembuhan luka konjungtivaEgg Albumin as Adhesive in Conjunctival Graft SurgeryCConjunctival graft has been frequently used in the field of ophthalmology. The frequently used methods to attach a conjunctival graft are suture technique and the use of fibrin glue. This study was to investigate albumin glue as an alternative to suture technique in attaching conjunctival grafts in rabbits. The aim of this study was to compare the conjunctival wound healing between albumin glue and suture technique in rabbit eye as a model. This was an experimental animal study that included 32 eyes (16 rabbits) conducted at PT. Bio Farma (Persero) and the Histology Laboratory, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran from March 2014 to July 2104. The subjects in this study were divided into albumin glue group and suture technique group. The examinations were comparison of conjunctival graft attachment and histologic microscopic examination to assess the wound gap. Data analysis was performed statistically using Mann-Whitney test for small sample. The statistical analysis results showed that the graft attachment was significantly better when using albumin glue (grade 4) compared to suture (grade 2–3) on day-1 after surgery (p=0.000). The wound gap was smaller using albumin glue (0-0,33 µm versus 5,33-14 µm; p0.0005) 10 minutes after surgery and 0 µm versus 0.33–4 µm, p 0,0005, on day-7 after surgery. In conclusion, graft attachment using albumi n glue is better and the wound gap is smaller when using albumin glue compared to the suture technique. [MKB. 2016;48(4):241–8]Key words: Albumin glue, conjunctival wound healing, suture

Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Ibu tentang Penggunaan Pewarna Makanan dengan Keracunan Makanan pada Anak di Kelurahan Penggaron Lor Semarang

Suparmi, Suparmi, Desanti, Ophi Indria

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26.703 KB)

Abstract

Rumah tinggal dan sekolah merupakan tempat kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan pertama dan kedua. Pengetahuan ibu tentang bahaya penggunaan pewarna sintetik dimungkinkan memengaruhi pemilihan pewarna makanan yang sehat sehingga dapat menyebabkan berbagai kasus keracunan makanan, antara lain ditandai dengan gejala nyeri kepala dan diare. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu tentang penggunaan pewarna makanan dengan kejadian nyeri kepala dan diare pada anak SD di Kelurahan Penggaron Lor. Uji potong lintang dengan pendekatan analitik dilakukan pada ibu-ibu yang memiliki anak kelas IV, V, dan VI sebanyak 70 orang. Pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu tentang bahan pewarna makanan serta kejadian nyeri kepala atau diare diukur dengan kuesioner pada Januari–Mei 2014. Hasil uji khi-kuadrat menunjukkan bahwa kejadian keracunan makanan berupa nyeri kepala atau diare pada anak tidak berhubungan dengan tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu mengenai pewarna makanan (p>0,05). Disimpulkan bahwa keracunan makanan berupa diare atau nyeri kepala tidak hanya disebabkan oleh penyalahgunaan pewarna makanan, akan tetapi juga faktor lain seperti penyedap rasa, borak, formalin ataupun akibat kesalahan pengolahan. [MKB. 2016;48(4):187–93]Kata kunci: Diare, keracunan makanan, nyeri kepala, pewarna sintetikCorrelation between Knowledge, Attitude, and Practice on Food Colorants and Children’s Food Poisoning among Mothers Living Penggaron Lor Village SemarangAbstractHousehold and school are the two most frequent sites in which food poisoning outbreak starts. This may be influenced by the lack of mother’s knowledge about the danger of synthetic food colorants for health. This study was conducted to analyze the relationship between the knowledge, attitude, and practice on food colorants among mothers and the incidence of headache and diarrhea as signs of food poisoning in their elementary school children in Penggaron Lor Village. This study was an cross sectional observational analytic study with involving 70 mothers whose children are IV, V and VI grade students . Data on knowledge, attitude, and practice on food collorants and the incident of headache or diarrhea were collected using a questionnaire on January–May 2014. The chi-square test results showed that the incidence of headache or diarrhea in children was not related to the mother’s knowledge, attitude, and behavior on food colorants (p>0.05). In conclusion, the rise of the incidence of diarrhea or headache in children is not only caused by the mother’s lack of knowledge, attitude, and practice on food colorants but also other factors, i.e food flavor, borax, formalin, or processing errors. [MKB. 2016;48(4):187–93]Key words: Diarrhea, food poisoning, headache, synthetic colorant

Potensi Quercetin-3-O-Glucoside (Q3g) dan Quercetin-4-O-Glucoside (Q4g) dari Daun Mimba (Azadirachta indica a.juss) terhadap Ambilan Glukosa

Rohmawaty, Enny, Yunivita, Vycke

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (201.819 KB)

Abstract

Daun mimba (Azadirachta indica A.Juss) yang berasal dari BPT Situbondo memiliki zat aktif quercetin-3-O-glucoside (Q3G) dan quercetin-4-O-glucoside (Q4G) yang diketahui mempunyai kemampuan menghambat ambilan glukosa melalui membran usus halus. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi isolat dan dosis optimal Q3G dan Q4G dari daun mimba terhadap ambilan glukosa melalui membran usus halus tikus putih (Rattus rattus novergicus). Zat aktif Q3G dan Q4G dari daun mimba diisolasi secara kualitatif dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat, antara lain: Laboratorium Kimia Organik FMIPA Unpad, Laboratorium Biokimia FK Unpad, serta Laboratorium Farmakologi dan Terapi FK Unpad. Penelitian dilakukan pada bulan Juni–Desember 2011. Penelitian laboratorium eksperimental dengan rancangan acak lengkap dilakukan terhadap 30 ekor tikus putih yang dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok kontrol diberi larutan glukosa 3,0 x 10-3M, dan 4 kelompok perlakuan diberi larutan glukosa berturut-turut Q3G 1 mg/kgBB, Q3G 2 mg/kgBB, Q4G 1 mg/kgBB, dan Q4G 2 mg/kgBB menggunakan alat perfusi in situ. Kadar ambilan glukosa diamati setiap 15 menit selama 1 jam. Data dianalisis menggunakan one-way ANOVA dan tes Duncan dengan taraf kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 53,1 mg isolat Q3G dan 14,4 mg Q4G diperoleh dari daun mimba BPT Situbondo sebanyak 1 kg. Isolat Q3G 1 mg/kgBB, Q4G 1 mg/kgBB, dan Q4G 2 mg/kgBB berbeda secara bermakna dalam menghambat ambilan glukosa melalui membran usus halus tikus dibanding dengan kontrol pada menit ke-45 (p<0,05). Simpulan, isolat Q3G dan Q4G dari daun mimba dapat menghambat ambilan glukosa melalui membran usus halus tikus putih. [MKB. 2016;48(4):222–7]Kata kunci: Ambilan glukosa, daun mimba, Q3G, Q4GPotential Influence of Quercetin-3-O-Glucoside (Q3g) and Quercetin-4-O-Glucoside (Q4g) from Mimba Leaves (Azadirachta indica a.juss) on Glucose UptakeAbstractMimba leaves (Azadirachta indica A.Juss), which was obtained from Brigade Proteksi Tanaman (BPT) Situbundo in this study, contain active compounds of quercetin-3-O-glucoside (Q3G) and quercetin-4’-O-glucoside (Q4G). These compounds were isolated using the Thin Layer Chromatography (TLC). From previous studies, Q3G and Q4G are known to inhibit the glucose uptake from intestinal membrane. This study was conducted to understand the potential influence of Q3G and Q4G isolated from mimba leaves in inhibiting glucose uptake in rat’s intestinal membrane (Rattus rattus norvegicus). This experimental study employed 30 male rats that met the inclusion criteria that were divided into 5 groups (n=6). Group I was the control group and only received glucose solution 3,0 x 10-3 M. Group II, III, IV, and V received glucose solution with Q3G 1 mg/kgBW, Q3G 2 mg/kgBW, Q4G 1 mg/kgBW, and Q4G 1 2 mg/kgBW, respectively. The inhibitory potentials of Q3G and Q4G on glucose uptake was measured every 15 minutes for one hour using in situ perfusion equipment. Data were analyzed using One-way ANOVA and Duncan test with a significance level 95% (α=0.05). From 1 kg fresh mimba leaves, 60.1 mg Q3G and 14.4 mg Q4G were isolated. This study showed that Q3G 1 mg/kgBW, Q4G 1 mg/kgBW, and Q4G 2 mg/kgBW significantly inhibited glucose uptake from rat intestinal membrane compared to negative control at 45th minute (p<0.05). Therefore, Q3G and Q4G isolated from mimba leaves have significantly inhibit glucose uptake from rat’s intestinal membrane (Rattus rattus norvegicus). [MKB. 2016;48(4):222–7]Key words: Glucose uptake, mimba leaves, Q3G, Q4G

Perbandingan Latihan Kontinu Intensitas Sedang dan Latihan Interval Intensitas Tinggi terhadap Kontrol Glukosa Darah

Atsari, Nadhila, Susanto, Hermawan, Argarini, Raden

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.808 KB)

Abstract

Pencegahan diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dapat dilakukan dengan memperbanyak latihan fisik. Latihan kontinu intensitas sedang (LKIS) dan latihan interval intensitas tinggi (LIIT) diketahui dapat meningkatkan kontrol glukosa pada orang dengan resistensi insulin/DMT2. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efek LIIT dan LKIS pada orang sehat terhadap kontrol glukosa darah, yaitu glukosa darah puasa (GDP) dan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Laki-laki (n=27), usia (20,07±0,62), IMT (23,94±3,59) kg/m2 berpartisipasi dalam kelompok LKIS, LIIT, atau kontrol. Latihan Ergocycle dilakukan 3 sesi/minggu selama 4 minggu; LKIS dengan total durasi 46 menit/sesi (intensitas sedang 50-60% denyut jantung cadangan [HRR] selama 40 menit); LIIT dengan total durasi 24 menit/sesi (6 siklus; 2 menit intensitas tinggi 80–90% HRR + 1 menit intensitas sedang 50–60% HRR). Kontrol tidak mendapat intervensi latihan. GDP dan TTGO (120’ setelah beban glukosa) diperiksa 3 hari sebelum dan setelah program latihan. Hasil penelitian menunjukkan GDP menurun pada semua kelompok, tetapi hanya LKIS yang menunjukkan penurunan signifikan (p=0,048). TTGO ditemukan tidak berubah di semua kelompok (p>0,05). LKIS memiliki potensi untuk meningkatkan kontrol glukosa darah pada subjek dewasa muda. Penelitian lanjutan dengan modifikasi dosis latihan diperlukan untuk mengetahui efek LIIT lebih lanjut. [MKB. 2016;48(4):194–9]Kata kunci: kontrol glukosa darah, latihan interval intensitas tinggi, latihan kontinu intensitas sedangComparison of Moderate Intensity Continuous Training and High Intensity Interval Training on Blood Glucose ControlAbstractType 2 diabetes mellitus (T2DM) can be prevented by intensive physical exercise/training. Moderate intensity continuous training (MICT) and high intensity interval training (HIIT) are known to improve glucose control in people with insulin resistance and T2DM. The purpose of this study was to compare the effects of MICT and HIIT in healthy people on blood glucose levels, which was measured through fasting blood glucose (FBG) and oral glucose tolerance test (OGTT). Healthy men (n=27), aged (20.07 ± 0.62), BMI (23.94 ± 3.59) kg/m2 participated in either MICT, HIIT, or Control group (n=9 each group). Ergocycle exercise were performed 3 times/week for 4 weeks; MICT with a total duration of 46 minutes/session (moderate intensity 50-60% heart rate reserve [HRR]) for 40 minutes); HIIT with a total duration of 24 minutes/session (6 cycles; 2 mins high intensity 80-90% HRR + 1 min moderate intensity 50-60% HRR). Controls did not receive any programmed training. FBG and OGTT (120’ after glucose load) were checked 3 days before and after the exercise program. This study found that FBG decreased in all groups but only the MICT group showed a significant reduction (p=0.048). OGTT was found unaltered in all groups (p>0.05). MICT has the potential to improve blood glucose control in healthy young adult subjects. However, further research with exercise dose modification is required to elucidate the effects of HIIT. [MKB. 2016;48(4):194–9]Key words: Blood glucose control, high intensity interval training, moderate intensity continuous training

Efektivitas Terapi Kortikosteroid Intranasal pada Hipertrofi Adenoid Usia Dewasa berdasarkan Pemeriksaan Narrow Band Imaging

Ratunanda, Sinta Sari, Satriyo, Jipie Iman, Samiadi, Dindy, Madiadipoera, Teti, Anggraeni, Ratna

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.465 KB)

Abstract

Hipertrofi adenoid merupakan proses perubahan ukuran adenoid yang membesar, merupakan penyebab utama hidung tersumbat. Hipertrofi adenoid dapat terjadi karena proses yang fisiologis, akibat inflamasi, atau suatu keganasan. Proses inflamasi adenoid dapat dinilai menggunakan nasoendoskopi serat lentur dengan pencahayaan narrow band imaging (NBI). Kortikosteroid intranasal menjadi pilihan terapi medikamentosa pada penatalaksanaan hipertrofi adenoid pada anak, namun belum banyak diteliti penggunaannya pada hipertrofi adenoid usia dewasa. Tujuan penelitian ini menilai efektivitas terapi kortikosteroid intranasal untuk mengurangi ukuran adenoid dewasa berdasarkan pemeriksaan NBI. Penelitian dimulai bulan November 2012–Januari 2013 di poliklinik Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin (THT-KL RSHS) Bandung dengan metode kuasieksperimental open labeled pre and posttest design. Pemilihan sampel berdasarkan urutan kedatangan, ditentukan 11 subjek penelitian. Penegakan diagnosis pada subjek penelitian berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis THT, pemeriksaan nasoendoskopi serat lentur dilengkapi dengan NBI, dan dilakukan biopsi mukosa adenoid. Subjek penelitian diberikan terapi kortikosteroid intranasal selama empat minggu, kemudian dilakukan evaluasi ulang pemeriksaan NBI dan biopsi. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon, hasilnya didapatkan perbaikan nilai derajat inflamasi adenoid secara signifikan pascaterapi kortikosteroid intranasal (p<0,05). Uji McNemar didapatkan hasil signifikan untuk penurunan ukuran adenoid (p<0,05). Uji rank Spearman untuk menganalisis hubungan gambaran histopatologi dengan penilaian NBI pra dan pascaterapi, hasilnya didapatkan korelasi bermakna (p<0,05). Simpulan, kortikosteroid intranasal efektif diberikan pada inflamasi penyebab hipertrofi adenoid usia dewasa berdasarkan pemeriksaan NBI. [MKB. 2016;48(4):228–33]Kata kunci: Hipertrofi adenoid, kortikosteroid intranasal, narrow band imagingEffectiveness of Intranasal Corticosteroids Treatment on Adult Adenoid Hypertrophy based on Narrow Band Imaging ExaminationAbstractAdenoid hypertrophy is a process in which adenoid size becomes enlarged and causes clinical symptoms, especially nasal obstruction. Adenoid hypertrophy can be due to physiological, inflammatory, or malignancy processes. Adenoid inflammatory process can be assessed using a flexible fiberoptic nasoendoscopy with narrow band imaging (NBI). Intranasal corticosteroid is one of the choices to treat adenoid hypertrophy in children; however, more experiments are needed to use it in adults. This study was performed in the period of November 2012 to January 2013 at the outpatient clinic of the Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery Department of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung, using pre- and post-test open-labeled quasiexperimental design. Sample was selected through consecutive sampling, involving 11 subjects. Diagnosis was based on research subject’s anamnesis, ear nose and throat (ENT) physical examination, NBI-equipped fiberoptic nasoendocopy examination, and adenoid mucosal biopsy. Subjects were given intranasal corticosteroid therapy for four weeks. NBI-equipped fiberoptic nasoendocopy examination and biopsy examination were performed after therapy. Data were analyzed using Wilcoxon test, showing significant improvement of the adenoid inflammation after intranasal corticosteroids therapy (p<0.05). McNemar test results showed a significant reduction in adenoid size (p<0.05). Spearman rank test showed a significant correlation between histopathologic findings and NBI examination result (p<0.05). In conclusion, intranasal corticosteroids are effective for adult adenoid hypertrophy treatment based on NBI examination. [MKB. 2016;48(4):228–33]Key words: Adenoid hypertrophy, intranasal corticosteroids, narrow band imaging

Luaran Penutupan Duktus Arteriosus Persisten Transkateter di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Kuswiyanto, Rahmat Budi, Firman, Armijn, Rayani, Putria, Rahayuningsih, Sri Endah

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.36 KB)

Abstract

Saat ini penutupan duktus arteriosus persisten (DAP) transkateter merupakan terapi pilihan karena memiliki efikasi yang baik, masa rawat yang singkat, risiko yang lebih rendah, dan bebas dari parut dada. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi luaran jangka pendek dan menengah penutupan DAP transkateter. Penelitian merupakan laporan deskriptif analitik pasien yang menjalani penutupan DAP transkateter secara konsekutif di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung selama periode Mei 2011 sampai dengan Juni 2014 dengan melakukan evaluasi pemeriksaan klinis dan ekokardiografi saat 24 jam, 1, 3, 6, dan 12 bulan setelah prosedur. Selama periode penelitian terdapat 132 pasien DAP yang menjalani penutupan transkateter, terdiri atas 42 laki-laki dan 90 perempuan, dengan median usia 3,9 tahun, berat badan 11,25 kg, tekanan sistol arteri pulmonalis 56 mmHg, ukuran defek 3,4 mm, flow ratio 2,8, fluoroscopy time 16 menit, dan procedure time 67 menit. Segera setelah prosedur 54% memperlihatkan penutupan lengkap, smoky residual 41%, dan residual ringan 6%. Sebagian besar pasien dipulangkan sehari setelah prosedur, tidak ada yang meninggal dan komplikasi hanya 3,8%. Semua pasien memperlihatkan penutupan lengkap pada follow-up. Penutupan DAP transkateter merupakan terapi yang aman dan efektif dengan masa rawat yang singkat dan komplikasi yang minimal. [MKB. 2016;48(4):234–40]Kata kunci: Duktus arteriosus persisten, penutupan transkateter Outcome of Transcatheter Occlusion of Patent Ductus Arteriosus in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung: a Preliminary ReportAbstractTranscatheter closure of patent ductus arteriosus (PDA) is a treatment of choice with good efficacy, shorter hospitalization, less risks, and chest scar free. The objective of this study was to evaluate the immediate and mid-term outcomes of transcatheter closure of PDA. An analytic descriptive study was peformed on patients underwent transcatheter PDA occlusion in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung between May 2011 and June 2014. Evaluation was conducted through clinical examination and echocardiography 24 hours, 1, 3, 6 and 12 months after the procedure. The procedure was successful in 132 PDA patients (42 males and 90 females). The median age, body weight, systolic pulmonary artery pressure, PDA size, flow ratio, fluoroscopy time, and procedure time were 3.9 years, 11.25 kg, 56 mmHg, 3.4 mm, 2.8, 16 minutes, and 67 minutes, respectively. Immediately after the procedure, 54% patients had complete closure, 41% experienced smoky residual shunt and only 5% experienced small residual shunt. The mortality and complication rate was 3.8%. Most of the patients were discharged the next day after the procedure. All patients showed complete closure during followed-up. Transcatheter closure of PDA is safe and effective with shorter hospitalization and minimum complications. [MKB. 2016;48(4):234–40]Key words: Patent ductus arteriosus transcatheter closure

Potensi Asam Lemak Pada Minyak Kelapa Murni Dalam Menghambat Candida Albicans Secara In Vitro

Novilla, Arina, Nursidika, Perdina, Resmelia, Meyli

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.101 KB)

Abstract

Kandidiasis merupakan penyakit infeksi Candida baik primer maupun sekunder. Penyebab utama kandidiasis adalah Candida albicans (C. albicans). Pengobatan kandidiasis dilakukan dengan pemberian obat anti jamur, terutama nistatin, amfoterisin-B dan azole, tetapi toksisitas dan resistensi obat ini menjadi masalah potensial. Diperlukan pemakaian obat lain yang lebih aman. Salah satunya adalah pemanfaatan bahan alami yaitu minyak kelapa murni. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi asam lemak minyak kelapa murni dalam menghambat pertumbuhan C. albicans. Desain penelitian eksperimental. Penelitian menggunakan difusi Kirby Bauer untuk mendapatkan konsentrasi hambat minimum minyak kelapa murni dalam menghambat C. albicans. Penelitian dilakukan pada bulan September–Oktober 2010 di Laboratorium Kimia dan Mikrobiologi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Cimahi. Hasil menunjukkan asam lemak dalam fraksi n-heksan dan metanol hasil hidrolisis berpotensi dalam menghambat pertumbuhan C. albicans. Fraksi n-heksan konsentrasi minimal yang memberikan hambatan yaitu 75% dengan diameter hambatan rata-rata sebesar 3,3 mm, sebanding dengan antibiotik nistatin 195 unit. Fraksi metanol memberikan hambatan dimulai pada konsentrasi 75% dengan diameter hambatan rata-rata sebesar 4 mm, sebanding dengan antibiotik nistatin 195 unit. Hasil konsentrasi hambat minimum masing-masing asam lemak untuk fraksi metanol konsentrasi 25% dan fraksi n-heksan 100%. Simpulan, asam lemak pada minyak kelapa murni dapat menghambat C. albicans. [MKB. 2016;48(4):200–4]Kata kunci: asam lemak, Candida albicans, in vitro, minyak kelapa murniPotential Of Virgin Coconut Oil Fatty Acid to Inhibit the Growth of Candida Albicans In VitroAbstractCandidiasis is Candida infection both primary or secondary diseases. The main cause of candidiasis is Candida albicans (C. albicans). Candidiasis is treated by antifungal drug treatment, especially nistatin, amphotericin-B, and azole, but toxicity and drug resistance become potential problems. Therefore, other method is needed as safer treatment. One of natural resources which has antifungal is virgin coconut oil. Research design was experimental. The objective of study was determine the potential of fatty acid in virgin coconut oil to inhibit C. albicans. This study used Kirby Bauer Method to determine minimum inhibition concentration. The study was performed in September-October 2010 at Chemistry and Microbiology Laboratory School of Health Sciences Jenderal Achmad Yani Cimahi. The result showed the fatty acid of n-hexane and methanol fractions after hydrolysed were potential to inhibit the growth of C. albicans. Minimum inhibitory concentration against C. albicans was 75% with average diameter of inhibiting zone 3.3 mm was equal to nistatin 195 units. The methanol fraction inhibited C. albicans start from 75% with average diameter 4 mm or equal to nistatin 195 units. Minimum fungicidal concentration showed C. albicans inhibited by methanol fraction 25% and n-hexane fraction with concentration 100%. In conclusion, fatty acid of virgin coconut oil was able to inhibit C. albicans. [MKB. 2016;48(4):200–4]Key words: Candida albicans, fatty acids, in vitro, virgin coconut oil