cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 47, No 3 (2015)
10
Articles
Aspek Kualitas Bakteriologis Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) di Kabupaten Bandung Barat

Khoeriyah, Ari ( Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Jl. Imam Barjo SH No. 5 Semarang, Jawa Tengah ) , Anies, - ( Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Jl. Imam Barjo SH No. 5 Semarang, Jawa Tengah )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (569.259 KB)

Abstract

Kebutuhan manusia akan air minum semakin bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, sedangkan kuantitas dan kualitas air minum semakin berkurang sehingga masyarakat mencari alternatif untuk mendapatkan air minum, salah satunya mengonsumsi air minum siap pakai dari Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU). Namun, tidak semua DAMIU terjamin kualitasnya. Penelitian bertujuan menganalisis keberadaan bakteri Coliform pada DAMIU di wilayah kerja Puskesmas Cipendeuy dan Padalarang Kabupaten Bandung periode Juni 2013. Pengumpulan data dilakukan pada 8 DAMIU dengan observasi dan uji laboratorium untuk mengetahui keberadaan bakteri Coliform dalam air DAMIU. Hasil pemeriksaan kadar Coliform pada beberapa sumber air baku, diketahui bahwa seluruh sumber air baku (100%) memenuhi syarat walaupun ada 2 sumber air baku yang mengandung Coliform, tetapi dengan keadaan yang masih memenuhi baku mutu. Sementara itu, pemeriksaan air minum yang berasal dari 8 DAMIU, ternyata air minum yang berasal dari 6 DAMIU tidak memenuhi persyaratan (5 DAMIU mengandung Coliform sebesar 3 MPN/100 dan 1 DAMIU sebesar 4 MPN/100 mL), sedangkan air minum yang berasal dari 2 DAMIU lainnya memenuhi syarat. [MKB. 2015;47(3):137–43]Kata kunci: Coliform, Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU), sumber air bakuAspect of Bacteriological Quality in DWRD as a Refill Drinking Water Station in the District of West BandungAbstractThe human need for water is increasing with population growth.Meanwhile the quantity and quality of drinking water are decreasing that people look for alternatives for drinking water source. One of the alternatives is ready-to-drink water from the Drinking Water Refill Depot (DWRD). However, not all of DWRDs provide good quality drinking water. This study aims to analyze the existence of Coliform bacteria in the drinking water provided by DWRDs. Data were collected from 8 DWRDs to reveal the DWRDs sanitation through observation  and laboratory testings were performed to determine the presence of Coliform bacteria in the drinking water produced by DWRDs. Based on the examination on the Coliform  level on several raw water sources, the raw water was considered qualified (100%). However, 2 raw water sources contained Coliform, even though they were still considered meeting the requirements of quality standard. Testing  was also conducted on the  drinking water produced by 8 DWRDs. It was revealed  that 6 DWRDs did not qualify (drinking water from 5 DWRDs contained 3 MPN/100 mL of Coliform and drinking water from 1 DWRDs contained 4 MPN/100 mL of Coliform), while 2 other DWRDs were qualified for providing drinking water. [MKB. 2015;47(3):137–43]Key words: Coliform, Drinking Water Refill Depot (DWRD), raw water DOI: 10.15395/mkb.v47n3.594

Hubungan BRAF V600E dan EGFR dengan Metastasis ke Kelenjar Getah Bening pada Adenokarsinoma Kolorektal

Ariyanni, Fenny ( Rumah Sakit Santosa Kopo Bandung ) , Hassan, Abdul Hadi ( Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Hernowo, Bethy S. ( Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1628.075 KB)

Abstract

Adenokarsinoma kolorektal adalah tumor ganas epitel kolorektal yang berdiferensiasi kelenjar. Metastasis ke kelenjar getah bening sangat memengaruhi prognosis dan penatalaksanaan penderita karsinoma kolorektal. Penelitian ini untuk mengetahui hubungan BRAF V600E dan EGFR dengan metastasis ke kelenjar getah bening. Disain penelitian potong lintang analisis kategorik tidak berpasangan terhadap kasus adenokarsinoma kolorektal yang dipilih secara konsekutif dari blok parafin massa tumor yang dilakukan pemeriksaan imunohistokimia BRAF V600E dan EGFR di Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Februari sampai Juni 2014. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan antara imunoekspresi BRAF V600E positif dan metastasis ke kelenjar getah bening dengan p=0,269 (uji chi-kuadrat) dan imunoekspresi EGFR yang positif dengan metastasis ke kelenjar getah bening dengan p=0,713 (uji chi-kuadrat). Imunoekspresi BRAF V600E dan EGFR yang positif tidak berhubungan dengan metastasis ke kelenjar getah bening, p=0,427 (Uji Fisher Exact). BRAF dan EGFR berperan pada epithelial mesencymal transition sehingga sel mampu bermigrasi, tetapi kemampuan migrasi ini tidak berperan pada kejadian metastasis tumor adenokarsinoma kolorektal ke kelenjar getah bening. Simpulan, imunoekspresi BRAF V600E dan EGFR pada adenokarsinoma kolorektal tidak dapat digunakan sebagai petanda agresivitas tumor adenokarsinoma kolorektal. [MKB. 2015;47(3):179–85]Kata kunci: Adenokarsinoma, BRAF V600E, EGFR, kelenjar getah bening, kolorektalAssociation of BRAF V600E and EGFR with Lymph Nodes Metastasis in Colorectal AdenocarcinomaAbstractColorectal adenocarcinoma is an epithelial malignant tumor with glandular differentiation. Lymph node metastasize affects the prognosis and management of colorectal carcinoma patients. In this study, association of BRAF V600E and EGFR with metastasis of the lymph nodes was investigated. This was a cross sectional study with unpaired categorical analysis of colorectal adenocarcinoma obtained from archival paraffin blocks from consecutively selected samples. The blocks were stained by BRAF V600E and EGFR antibody at the Department of Anatomical Pathology, Faculty of MedicineUniversitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital during the period of February to June 2014. There was no association between positive BRAF V600E immunoexpression  and lymph node metastasis, p=0.269 (p>0.05, chi-square test). Similarly, there was no association between positive EGFR immunoexpression and lymph node metastasis, p=0.713 (p>0.05, chi-square test). Positive BRAF V600E immunoexpresion and positive EGFR immunoexpression also had no association with lymph node metastasis, p=0.427 (Fisher Exact test). BRAF and EGFR may play a role in the epithelial mesencymal transition to increase cell migration and invasion. However, in colorectal adenocarcinoma, BRAF V600E and EGFR were not associated with lymph node metastasis. In conclusions, positive BRAF V600E immunoexpression and positive EGFR immunoexpression in colorectal adenocarcinoma should not be used as markers formetastazing potentials of colorectal adenocarcinoma tumors. [MKB. 2015;47(3):179–85]Key words: Adenocarcinoma, BRAF V600E, colorectal, EGFR, lymph node DOI: 10.15395/mkb.v47n3.600

Protektivitas, Reaksi Lokal dan Sistemik Pascaimunisasi dengan Vaksin Campak (Bio Farma) dari Bets Vaksin yang Berbeda pada Anak Sekolah Dasar di Sumatera Barat

Sundoro, Julitasari ( Komnas Pengkajian dan Pennanggulangan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi ) , Bachtiar, Novilia Sjafri ( PT. Bio Farma, Bandung ) , Syafriyal, Syafriyal ( Subdit Imunisasi Kementrian Kesehatan Republik Indonesia ) , Sari, Rini Mulia ( PT. Bio Farma, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.577 KB)

Abstract

Post Marketing Surveillance perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan produk yang telah dipasarkan tetap dalam kualitas yang baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui protektivitas, serta reaksi sistemik dan lokal setelah memperoleh dosis boster vaksin campak dari bets vaksin yang berbeda yang diproduksi pada fasilitas yang berbeda. Penelitian ini menggunakan desain kohort pada anak sekolah dasar di Sumatera Barat. Subjek di Kabupaten Agam  mendapatkan vaksin dengan nomor bets 250210, sedangkan subjek di Kabupaten Limapuluh Kota  vaksin campak bets 253080. Darah diambil sebelum dan 28 hari setelah imunisasi. Pengukuran antibodi menggunakan metode uji netralisasi dengan batas proteksi > 200 mIU/mL. Reaksi lokal dan sistemik dicatat pada kartu harian hingga 28 hari setelah imunisasi. Pengamatan berlangsung dari November 2010 hingga Maret 2011 melibatkan 170 anak di Kabupaten Agam dan 166 anak di Kabupaten Limapuluh Kota. Sebanyak 1,18–1.2% anak mengalami demam pada 3 hari pertama setelah imunisasi dan 1 (0,6%) timbul  pada 14 hari setelah imunisasi dengan instensitas  ringan. Reaksi lokal terbanyak adalah kemerahan pada tempat suntikan (14,46%). Tidak ditemukan kejadian pascaimunisasi serius. Sejumlah 96,99% dan 96,77% anak mempunyai antibodi campak protektif 28 hari pascaimunisasi imunisasi di Kabupaten Agam dan Limapuluh Kota dengan kenaikan GMT dari 329,66 IU/mL menjadi 983,43 IU/mL dan dari 198,00 menjadi 535,10 IU/mL (p=0,000) di Kabupaten Agam dan Limapuluh Kota. Simpulannya adalah kedua bets vaksin campak menunjukkan keamanan dan respons imun yang baik. [MKB. 2015;47(3):144–51]Kata kunci: Campak, Post Marketing Surveillance (PMS), reaksi lokal, reaksi sistemik, vaksinProtectiveness, Local Reaction, and Systemic Reaction after Measles Immunization using Different Batches of Bio Farma Vaccine in Elementary School Students in West Sumatra AbstractPost Marketing Surveillance should be conducted periodically to monitor whether the quality of marketed products is still favorable. The objectives of this study were to evaluate the protectiveness, local reaction, and systemic reaction after receiving booster dose of measles vaccine from different batch numbers. This study was a cohort study on elementary students in West Sumatra. Subjects from Agam District received measles vaccine with  a batch number of 250210 while subjects from Limapuluh Kota District received measles vaccine with a batch number of 253080. Blood samples were collected before and 28 days after immunization. Antibody titers were measured using neutralization assay with a protective level of >200 mIU/mL. Local and systemic reactions were recorded within 28 days after immunization. The observation was held from November 2010 to March 2011 and involved 336 students: 170 students from Agam District and 166 students from Limapuluh Kota District. There were 1.2% students who experienced fever in the first three days after immunization, and 1(0.6%) student experienced mild fever 14 days after immunization. The most common local reaction was redness in the injection site, contributing approximately 14.48%. There were no serious adverse events after immunization. About 96.99% and 96.77% students were protected against measles 28 days after immunization in Agam and Limapuluh Kota Districts with an increase in GMT from 329.66 IU/mL to 983.43 IU/mL and from 198.00 IU/mL to 535.10 IU/mL (p=0.000). In conclusion, both measles vaccine batches show good safety and immune response. [MKB. 2015;47(3):144–51]Key words: Local reaction, measles, Post Marketing Surveillance (PMS), systemic reaction, vaccine DOI: 10.15395/mkb.v47n3.595

Pengaruh Heat Treatment untuk Mengembalikan Sifat Mekanik Kawat T-loop Segmental Stainless Steel terhadap Besaran Gaya yang Dihasilkan

Lavina, Avi ( Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung, Jalan Sekeloa Selatan, No. 1 Bandung ) , Hambali, Tono S. ( Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung, Jalan Sekeloa Selatan, No. 1 Bandung ) , Thahar, Bergman ( Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung, Jalan Sekeloa Selatan, No. 1 Bandung ) , Mardiati, Endah ( Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung, Jalan Sekeloa Selatan, No. 1 Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.251 KB)

Abstract

Prosedur heat treatment dengan suhu dan teknik yang tepat pada pegas T-loop segmental stainless steel dapat mengembalikan sifak-sifat mekanik kawat yang menurun akibat prosedur pembengkokan kawat. Penelitian ini bertujuan membandingkan gaya yang dihasilkan oleh pegas T-loop segmental stainless steel tanpa dan dengan heat treatment pada suhu 4500C selama 15 menit,  dengan berbagai jarak aktivasi dan gable. Desain penelitian adalah eksperimental laboratoris murni secara in vitro. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kimia Murni FMIPA ITB pada tahun 2006. Sampel adalah 50 buah pegas T-loop segmental dengan gable: 0°–0°, 7,5°–7,5°; 15°–15°; 22,5°–22,5°; 30–30°, terdiri atas 25 pegas tanpa  heat treated  dan 25 pegas dengan heat treated. Gaya diukur menggunakan autograph pada jarak tarik 1, 2, dan 3 mm, serta hasilnya dilakukan analisis statistik ANOVA dengan desain faktorial 2 x 3 x 5 dan 5 replikasi tiap sel serta uji posthoc Student Newman Keuls dan Tukey. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan heat treated dibanding dengan tanpa heat treated serta interaksi antara perlakuan heat treatment dan gable memberikan efek yang signifikan terhadap gaya yang dihasilkan (p<0,05). Simpulan, heat treatment pada T-loop stainless steel menghasilkan efek berupa penurunan besar gaya yang dihasilkan. [MKB. 2015;47(3):167–73]Kata kunci: Gaya, heat treatment, T-loopThe Effect of Heat Treatment on Mechanical Properties in Restoring Stainless Steel Segmental T-Loop towards the Force CreatedAbstractHeat-treatment procedure with  precise temperature and technique on the stainless-steel segmental T-loop retraction spring can restore the mechanical properties that decreases after a wire-bending process. The goal of this study was to compare the force produced by a stainless-steel segmental T-loop spring without and with heat-treatment on 4500C for 15 minutes, with various activation distance and gable. The design of the study was in-vitro laboratory experimental design. This study was performed at the Chemistry Laboratory of the Faculty of Science, ITB in 2006. Sample included 50 segmental T-loop springs with α and β angle of 0°–0°, 7.5°–7.5°, 15°–15°, and 22.5°–22.5°, and  30°–30° which consisted of 25 springs without heat-treatment and 25 springs with heat-treatment. Force was measured using autograph with a retraction distance of 1, 2, and 3 mm and the results were gained from ANOVA statistics analysis with a factorial design of 2x3x5 and 5 replications for each cell and posthoc Student Newman Keuls and Tukey test. The result of the statistic test showed that heat-treatment compared to no heat-treatment and interaction between heat-treatment and gable gives significant effect to the force created (p-value <0.05). In conclusion, the heat-treatment on the stainless steel T-loop produces an effect  to decrease the created force. [MKB. 2015;47(3):167–73]Key words: Force, heat-treatment, T-loop DOI: 10.15395/mkb.v47n3.597

Aktivitas Polifenol Teh Hijau (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) Sebagai Imunomodulator melalui Respons Supresi Imunoglobulin E (IgE) pada Rinitis Alergika

Yusni, - ( Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh ) , Husni T. R,, Teuku ( Departemen Ilmu Penyakit THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala ) , Achmad, Tri Hanggono ( Departemen Ilmu Penyakit THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala 3Departemen Biokimia dan Biomolekuler Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (665.857 KB)

Abstract

Rinitis alergika adalah kondisi inflamasi mukosa nasal yang diakibatkan oleh interaksi antara alergen dan imunoglobulin E (IgE). Imunomodulator merupakan bagian terpenting dalam pengobatan rinitis alergika dan salah satu tanaman obat yang mempunyai aktivitas imunomodulator adalah teh hijau (Camellia sinensis L.) terutama polifenol. Tujuan penelitian adalah menganalisis aktivitas polifenol teh hijau sebagai imunomodulator pada pasien rinitis alergika. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juni–Desember 2011 di laboratorium Fisiologi Fakultas Kedokteran Unsyiah Banda Aceh dan pemeriksaan IgE dilakukan di laboratorium swasta. Desain penelitian adalah quasi experimental dengan rancangan pretest-posttest with control group. Subjek penelitian adalah 12 pasien rinitis alergika, yaitu 6 orang sebagai kelompok kontrol (diberikan plasebo) dan 6 orang sebagai kelompok perlakuan (diberikan kapsul polifenol teh hijau 2x350 mg/hari, selama 14 hari). Analisis data menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, dan uji-t (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan kadar imunoglobulin E sesudah pemberian perlakuan pada kelompok perlakuan lebih rendah dibanding dengan kelompok kontrol (1.475,2±940,7 vs 494,3±366,5 IU), namun tidak bermakna (p=0,05). Simpulan pemberian polifenol teh hijau  menurunkan sekresi IgE, namun tidak bermakna dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.  [MKB. 2015;47(3):160–66]Kata kunci: Imunoglobulin E, imunomodulator, polifenol teh hijau (Camellia sinensis L.), rinitis alergika Activity of Green Tea (Camellia sinensis (L) O. Kuntze) Polyphenols as Immunomodulator through Response of Suppression Immunoglobulin E (IgE) in Allergic RhinitisAbstractAllergic rhinitis is an inflammatory condition of the nasal mucosa caused by  interactions between allergens and immunoglobulin E (IgE). Immunomodulatory is an important part of the treatment of allergic rhinitis. One of the medicinal plants that have immunomodulatory activities is green tea (Camellia sinensis L.), specifically polyphenols. The purpose of this study was to analyze the activity of green tea’s polyphenols as an immunomodulator in patients with allergic rhinitis. This study was conducted in  June to December 2011 in the laboratory of Physiology, Faculty of Medicine Unsyiah with the IgE examinations conducted in private laboratories. This study is a pretest-postest quasi experimental study with control group design. Subjects were 12 patients with allergic rhinitis;  6 people were included in the control group (placebo) and 6 in the treatment group (green tea’s polyphenols 2x350 mg/day, for 14 days). Analysis of the data was performed using the  normality test, homogeneity test, and t-test (p<0.05). The results showed that the levels of immunoglobulin E after the administration of green tea’s polyphenols in the treatment group was lower than the control group (1.475.2±940.7 vs 494.3±366.5 IU), but not significantly (p=0.05). In conclusion, the administration of green tea’s polyphenols can insignificantly decrease the secretion of IgE. Hence, further research is required. [MKB. 2015;47(3):160–66]Key words: Allergic rhinitis, immunoglobulin E,  immunomodulator, green tea’s polyphenols (Camellia sinensis L.)DOI: 10.15395/mkb.v47n3.596

Pengembangan Metode In-House HLA-Typing Gen HLA Kelas I (HLA A, HLA B, dan HLA C) Menggunakan Next Generation Sequencing Illumina MiSeq

Yuliwulandari, Rika ( Universitas YARSI, Jakarta ) , Prayuni, Kinasih ( Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas YARSI Jakarta, ) , Kenconoviyati, Kenconoviyati ( Department of Histology, Fakultas Kedokteran, Universitas YARSI Jakarta ) , Susilowati, R. W. ( Department of Histology, Fakultas Kedokteran, Universitas YARSI Jakarta ) , M. Sofro, Abdul Salam ( Sekolah Pasca Sarjana Universitas YARSI Jakarta )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.787 KB)

Abstract

Human leucocyte antigen (HLA) adalah protein penyaji antigen yang lokus genetiknya berada di kromosom 6p21 dengan ukuran sebesar 3,8 Mb dan berasosiasi dengan lebih dari 100 penyakit berbeda yang  kebanyakan merupakan penyakit autoimun. Proses HLA-typing menggunakan sekuensing Sanger masih memberikan ambiguitas terhadap determinasi alel, low-throughput, dan membutuhkan biaya besar untuk sampel dalam jumlah besar. Next generation sequencing (NGS) menjadi metode yang dapat mengatasi kelemahan sekuensing Sanger. MiSeq dari Illumina merupakan salah satu NGS yang digunakan untuk HLA-typing. MiSeq memberikan kemudahan preparasi dan fleksibilitas metode yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan laboratorium penelitian. Penelitian dilakukan di Laboratorium Molekular Genetik, Laboratorium Terpadu Universitas YARSI pada empat orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI etnik Melayu selama periode Mei–Desember 2014. Hasil menunjukkan terdapat total 546 SNP heterozygous, 888 SNP homozygous, 25 insersi, dan 23 delesi dari keseluruhan 11 sampel amplikon dengan coverage 2.106,536x dengan 2x25 siklus pembacaan. Optimasi metode HLA-typing dapat dikatakan berhasil dengan mengombinasikan long-range PCR dan pemilihan ukuran library 300–600 bp. [MKB. 2015;47(3):152–159]Kata kunci: HLA Kelas I, MiSeq, next generation sequencingDevelopment of Class I HLA Gene In-House HLA-Typing Methods (HLA A, HLA B, and HLA C) using Next Generation Sequencing Illumina MiSeqAbstractHuman leukocyte antigen (HLA) is a 3.8 Mb protein presenting antigen whose genetic locus is located in chromosome 6p21 area and have association with more than 100 different diseases that are mostly autoimmune diseases. HLA-typing process using Sanger sequencing still  creates ambiguity in the  determination of  alleles, low-throughput, and costly as it requires a large quantity of sample. Next generation sequencing (NGS) is a method that can overcome the drawbacks of Sanger sequencing. MiSeq Illumina is one of the NGSs that are used for HLA-typing. This study was conducted at the Laboratory of Molecular, Universitas YARSI in a period from May to December 2014. MiSeq provides convenience and flexibility in the preparation methods that can be developed according to the needs of the research laboratory. The results showed that there were a total of 546 SNPs that were heterozygous, 888homozygous SNP, 25 insertions and 23 deletions from the overall 11 amplicon samples with an average coverage with 2x25 read length of  2,106,536x. Our protocol generates good result as we combined long PCR amplicon and size selection method to 300–600 bp fragment.  [MKB. 2015;47(3):152–159]Key words: HLA Class I, MiSeq, next generation sequencing DOI: 10.15395/mkb.v47n3.389

Analisis Filogenetik Gen L1 Human Papillomavirus 16 pada Penderita Kanker Serviks di Bandung

Fadhilah, Fitri Rahmi ( Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran ) , Sahiratmadja, Edhyana K. ( Department of Biochemistry, Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia ) , Safitri, Ratu ( Department of Biochemistry, Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia ) , Maskoen, Ani Melani ( Pusat Studi Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ) , Susanto, Herman ( Departemen Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.585 KB)

Abstract

Infeksi human papillomavirus (HPV) tipe high risk (hr) yang kronik dapat menyebabkan kanker serviks. Berbagai genotipe hrHPV telah teridentifikasi dan HPV-16 merupakan genotipe yang tersering menginfeksi serviks. Fragmen L1 HPV dapat digunakan untuk mengidentifikasikan asal usul HPV. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi asal usul HPV-16 dengan membuat pohon filogenetik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Penelitian dilakukan di Laboratorium Genetika Molekuler Unit Penelitian Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung pada Februari hingga Agustus 2013. Isolat biopsi dari pasien kanker serviks disumbangkan oleh Departemen Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Isolasi DNA dibuat dari biopsi jaringan kanker serviks dan fragmen L1 diamplifikasi dengan desain primer sendiri. Infeksi dengan HPV-16 dikonfirmasi dengan Linear Array test (Roche). Sekuens urutan basa kemudian dimasukkan dalam program filogenetik (MEGA5). Hasil konstruksi menunjukkan isolat pasien kanker serviks dari Bandung berada dalam satu subgrup dengan HPV asal Asia dan Asia Timur. Simpulan, cluster HPV Indonesia berada pada galur Asia dan Asia Timur. [MKB. 2015;47(3):174–78]Kata kunci: Filogenetik, fragmen L1,  human papillomavirus 16 (HPV-16)Phylogenetic Analysis of Human Papillomavirus 16 L1 Gene from Cervical Cancer Patient in BandungAbstractChronic infection with high-risk (hr) human papillomavirus (HPV) can lead to cervical cancer. Various hrHPV genotypes have been identified and HPV genotype 16 is the most common genotypes that infect cervical cancer. HPV L1 fragment can identify the origin of HPV. The purpose of this study was to explore the origins of HPV-16 by making a phylogenetic tree. This study used analytical descriptive method and was  was conducted at the Laboratory of Molecular Genetics, Health Research Unit, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran Bandung in the period of February to August 2013. Biopsy from cervical cancer patient was donated by the Department of Obstetrics, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran, Bandung. Isolation of DNA was prepared from tissue biopsies of cervical cancer and L1 fragment was amplified with the specific primer. Infection with HPV-16 was confirmed by Linear Array test (Roche) design. The sequence then was constructed using the phylogenetic program (MEGA5). Results showed that the isolate from patient with cervical cancer from Bandung was in one subgroup with HPV from Asia and East Asia. In conclusion, cluster HPV of Bandung is in the same strain as the strain in Asia and East Asia. [MKB. 2015;47(3):174–78]Key words: Human papillomavirus 16 (HPV-16), L1 fragment, phylogenetic DOI: 10.15395/mkb.v47n3.598

Korelasi Antara Visual Analogue Scale (VAS) dan Peak Nasal Inspiratory Flow (PNIF) Sebelum dan Sesudah Septoplasti

Tamus, Augustien Yuliet ( Rumah Sakit Umun Daerah Maria Walanda Maramis Kabupaten Minahasa Utara Sulawesi Utara ) , Boesoirie, M. Thaufiq S. ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Aroeman, Nur Akbar ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.302 KB)

Abstract

Deviasi septum merupakan keadaan yang sering terjadi, bervariasi dari ringan yang tidak mengganggu sehingga deviasi septum berat yang dapat menyebabkan obstruksi hidung. Diagnosis obstruksi hidung sangat kompleks dan bervariasi, selain berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis juga diperlukan pemeriksaan penunjang untuk pengukuran obstruksi hidung. Skor obstruksi hidung dengan menggunakan visual analogue scale (VAS) merupakan salah satu parameter untuk menilai obstruksi hidung secara subjektif, sedangkan secara objektif dengan peak nasal inspiratory flow (PNIF). Penelitian ini bertujuan menganalisis korelasi antara visual analogue scale (VAS) dan peak nasal inspiratory flow (PNIF) sebelum dan sesudah septoplasti. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian quasiexperimental pre and post test design, dengan pemilihan sampel secara consecutive sampling. Sampel penelitian diambil dari pasien yang datang ke Poliklinik THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Mei 2013–Juni 2014 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan septoplasti memperbaiki gejala klinis pasien septum deviasi, didapatkan peningkatan nilai PNIF dan penurunan nilai VAS sesudah satu bulan dilakukan septoplasti. Simpulan, terdapat korelasi antara visual analogue scale (VAS) dan peak nasal inspiratory flow (PNIF) sebelum dan sesudah septoplasti. [MKB. 2015;47(3):186–91]Kata kunci: Obstruksi hidung, peak nasal inspiratory flow, septum deviasi, septoplasti, visual analogue scaleCorrelation between Visual Anologue Scale (VAS) and Peak Nasal Inspiratory Flow (PNIF) Before and After SeptoplastyAbstractSeptal deviation is a frequently found state that varies from minor without interferences to severe cases of septal deviation that can cause nasal obstruction. Diagnosis of nasal obstruction is very complex and varies based on the anamnesis and physical examination due to the fact that  it also requires supports from nasal obstruction measurement results. Nasal obstruction severity is defined by using scores. Visual analogue scale (VAS) is one of the parameters used for assessing nasal obstruction subjectively while peak nasal inspiratory flow (PNIF) is used for objective assessment. This study aimed to analyze the correlation between  VAS and PNIF before and after septoplasty. This was a quasiexperimental study with pre- and post- test design. Sampling was performed using consecutive sampling method. Sample was taken from patients who visited ORL-HNS clinic of Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in May 2013–June 2014 according to the inclusion criteria . The results showed that septoplasty improved the clinical symptoms in patients with septum deviation, increase  PNIF score, and decrease VAS score after one month. In conclusions, there is a correlation between VAS and PNIF before and after septoplasty. [MKB. 2015;47(3):186–91]Key words: Nasal obstruction, peak nasal inspiratory flow, septum deviation, septoplasty, visual analogue scale DOI: 10.15395/mkb.v47n3.601

Pengaruh Paparan Artemisinin terhadap Ekspresi Gen PArt pada Plasmodium falciparum Galur Papua 2300

Plumeriastuti, Hani ( Departemen Patologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya, ) , Maslachah, Lilik ( Lab. Farmasi Veteriner Departemen Kedokteran Dasar Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ) , Nidom, Chairul A. ( Lab. Biokimia Departemen Kedokteran Dasar Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.763 KB)

Abstract

Plasmodium  resisten terhadap artemisinin menjadi salah satu permasalahan kesehatan di dunia karena belum ada obat baru pengganti artemisinin. Resistensi P. falciparum terhadap obat antimalaria  artemisinin dapat terjadi karena dipengaruhi oleh faktor internal dari P. falciparum, antara lain induksi ekspresi gen yang mengekspresikan protein. Salah satu gen tersebut adalah gen Triptophan-rich Protein (PArt). Fungsi Triptophan-rich Protein penting dalam membrane-spanning protein dan berperan dalam folding protein untuk menjaga kontak hidrofobik. Penelitian ini bertujuan membuktikan overekspresi gen Triptophan-rich Protein P. falciparum galur Papua 2300 yang disebabkan oleh paparan artemisinin berulang in vitro. Waktu penelitian dilaksanakan bulan Februari sampai November 2013. Tempat penelitian di Rumah Sakit Penyakit Tropik dan Infeksi Universitas Airlangga. Desain penelitian yang digunakan adalah experimental design dengan post test only control group design. Kultur  in vitro P. falciparum galur Papua 2300 dibagi dalam kelompok kontrol (K) dan kelompok perlakuan paparan artemisinin berulang, yaitu paparan artemisinin ke-1 (PO1), paparan artemisinin ke-2 (PO2) dan paparan artemisinin ke-3 (PO3) menggunakan konsentrasi IC50. Ekspresi gen Triptophan-rich Protein (PArt) diukur dengan qRTPCR. Hasil menunjukkan paparan artemisinin berulang pada P. falciparum  dapat meningkatkan level ekspresi gen Part (2ΔΔCT) relatif terhadap kontrol. Simpulan, paparan artemisinin in vitro menyebabkan overekspresi gen  Tryptophan-rich Proteins(PArt) oleh promoter P. falciparum galur Papua 2300. [MKB. 2015;47(3):129–36]Kata kunci: Artemisinin, fenotip, gen Triptophan-rich Protein (PArt), P. falciparum galur Papua 2300 Effect of Artemisinin Exposure toward PArt Gene Expression in Plasmodium falciparum Papua 2300 StrainAbstract Artemisinin resistant Plasmodium  has become one of the worldwide health problems, since there is currently no new therapeutic medicine to replace artemisinin. Even though the mechanism of artemisinin resistance has not been clearly understood, the resistance of P. falciparum towards the antimalaria artemisinin may occur due to the influence of by the internal factors of P. falciparum, including the induction of the protein-expressing gene expression. One of the genes is the Triptophan-rich Protein (PArt) gene that is important in the membrane-spanning protein and plays a role in protein folding to maintain hydrophobic contact.. This study aimed to prove that  Triptophan-rich Protein overexspression in P. falciparum Papua 2300 strain may cause repeated artemisin exposure in vitro. This study was performed in a period from February to November 2013 in Infection and Tropical Diseases Hospital, Airlangga University. The design used was experimental study with post-test only control group design. In-vitro culture of P. falciparum Papua 2300  strain were divided into a control group (K) and treatment groups that were treated regularly with artemisinin, i.e. artemisinin exposure I (PO1), artemisinin exposure 2 (PO2) and artemisinin exposure 3 (PO3)  using IC50 concentration. The Tryptophan-rich Protein gene expression level was detected using  qRTPCR. The result showed that in vitro repeated artemisinin exposure in P.  falciparum  Papua 2300 strain  relatively increased the expression level of the Tryptophan-rich Protein (PArt) genes (2ΔΔCT)  when comparedwith control. In conclusion, in vitro artemisinin exposure may cause Tryptophan-rich Proteins (PArt) gene overexpression by P. falciparum  Papua 2300 strain promoter. [MKB. 2015;47(3):129–36]Key words: Artemisinin, phenotype, Triptophan-rich Protein (PArt) gene,  P. falciparum Papua 2300 DOI: 10.15395/mkb.v47n3.593 

Hubungan Tipe Thalassemia β serta Polimorfisme c.-582 A>G Promotor Gen HAMP dan Status Besi thalassemia β Berat Baru

Susanah, Susi ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, Jalan Pasteur No. 38 Bandung ) , Idjradinata, Ponpon ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, Jalan Pasteur No. 38 Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.04 KB)

Abstract

Kelebihan besi merupakan penyebab morbiditas dan mortalitas penderita thalassemia β berat. Terdapat berbagai faktor yang memengaruhi status besi thalassemia β berat. Penelitian ini bertujuan menganalisis  hubungan  tipe thalassemia β serta polimorfisme c.-582 A>G promotor gen hepcidine antimicrobacterial peptide (HAMP) dengan status besi thalassemia β berat baru. Penelitian dengan metode potong lintang dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin/Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung selama November–Desember 2012. Subjek penelitian adalah penderita thalassemia β berat yang baru didiagnosis berdasarkan pemeriksaan klinis dan laboratorium. Subjek belum pernah mendapatkan transfusi darah dan memiliki kadar C-reactive protein normal. Status besi dinilai dengan mengukur kadar feritin serum (FS) dan saturasi transferin (ST). Analisis statistik yang digunakan adalah uji-t, Uji Mann-Whitney, dan uji chi-kuadrat. Didapatkan 29 subjek thalassemia β berat baru, 24 thalassemia β mayor dan 5 thalassemia β/HbE berat. Tidak ada perbedaan status besi antara kedua tipe thalassemia β berat baru maupun antara yang mengalami polimorfisme dan yang tidak mengalami polimorfisme c.-582 A>G promotor gen HAMP (p>0,05). Simpulan, tipe thalassemia β berat dan polimorfisme c.-582  A>G promotor gen HAMP tidak berhubungan dengan status besi penderita thalassemia β berat yang baru didiagnosis. [MKB. 2015;47(3):192-98]Kata kunci: Feritin, polimorfisme c.-582 A>G promotor gen HAMP, saturasi transferin, thalassemia β berat Association of β-thalassemia Type and Polymorphisms of c.-582 A>G Promoter HAMP Gene and Iron Status in Newly Diagnosed Severe β-thalassemiaAbstractIron overload is the common  cause of morbidity and mortality in severe β-thalassemia patients. Many factors influence the  iron status in severe β-thalassemia. This study aimed to analyze the association of β-thalassemia type, polymorphism c.-582 A>G promotor hepcidine antimicrobacterial peptide (HAMP) gene,  and  iron  status in newly diagnosed severe β-thalassemia. A cross-sectional study was performed at Dr. Hasan Sadikin General Hospital/Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran Bandung from November to December 2012. Subjects were newly diagnosed severe β-thalassemia patients who were diagnosed based on clinical manifestation and laboratory examination. Subjects had not received any blood transfusion before and had normal CRP level. Transferrin saturation (TS) and serum ferritin (SF) levels indicate iron status. The statistical analysis was performed using t test, Mann-Whitney, and Chi square test. Twenty nine subjects were diagnosed as newly severe β-thalassemia, 24 β-thalassemia mayor and 5 with severe β-thalassemia/HbE. There was no difference in the iron status between the two types of severe β-thalassemia  and  between those with and without polymorphism of c.-582 A>G promotor HAMP gene in  newly  diagnosed severe  β-thalassemia (p>0.05). In conclusiosn, the  β-thalassemia type and polymorphism of c.-582 A>G  promotor HAMP  gene do  not  associate with the iron status  in  newly diagnosed severe β-thalassemia patients.  [MKB. 2015;47(3):192-98]Key words: Ferritin, polymorphism of  c.-582 A>G  promotor HAMP gene, severe β-thalassemia, transferrin ration DOI: 10.15395/mkb.v47n3.599