cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 44, No 3 (2012)
10
Articles
Efek Oksigen Konsentrasi Tinggi Pascaoperasi Laparotomi pada Peritonitis terhadap Tingkat Infeksi Luka Operasi

Djaya, Wildan ( Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu ) , Rudiman, Reno ( Departemen Bedah Digestif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Lukman, Kiki

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1611.935 KB)

Abstract

Metode sederhana untuk menambah tekanan oksigen secara adekuat pada perfusi jaringan yaitu dengan menambah konsentrasi oksigen yang diinspirasi pada penderita pascalaparotomi. Untuk melihat efektivitas oksigen konsentrasi tinggi tersebut dilakukan uji klinis di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Dilakukan uji klinis secara random pada 102 penderita yang menjalani laparotomi karena peritonitis lokal atau difus serta membagi penderita dalam dua grup masing-masing 51 penderita untuk mendapatkan oksigen 30% dan 80% selama 2 jam pascaoperasi. Oksigen 30% didapat dari nasal kanul dengan oksigen 3 liter, sedangkan oksigen 80% diperoleh dari nonrebreathing mask dengan oksigen 10 liter. Penanganan anestesi dilakukan standar dan semua penderita mendapat antibiotik profilaksis. Dengan menggunakan protokol single blind, luka dievaluasi saat penderita pulang atau hari ke-7 jika masih dirawat dan 2 minggu pascaoperasi. Uji klinis dilakukan di subbagian Bedah Digestif RSHS selama periode Oktober 2009–Mei 2010. Dari 51 penderita yang diberi oksigen 80%, terdapat 2 (4%) penderita mengalami infeksi luka operasi dibandingkan dengan 9 dari 51 penderita (18%) yang diberi 30% oksigen. Durasi perawatan di rumah sakit sama pada kedua grup penderita. Simpulan, pemberian terapi oksigen konsentrasi tinggi pascaoperasi dapat menurunkan insidensi infeksi luka operasi. [MKB. 2012;44(3):165–9].Kata kunci: Infeksi luka operasi, laparotomi, oksigen, peritonitisEffect of Laparotomy Post-Operative High Concentration Oxygen in Peritonitis to Surgical Wound Infection Level A simple method to improve oxygen pressure to tissue perfusion adequately is by increasing the concentration of inspired oxygen.We therefore tested the hypothesis that the supplemental administration of oxygen during the post-operative period decreases the incidence of wound infection.We randomly assigned 102 patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital who underwent exploratory laparotomy due to local and diffuse peritonitis to receive 30 percent or 80 percent inspired oxygen for two hours post-operation. The 30% oxygen was obtained from the nasal canule and 3 litres of oxygen whereas 80% oxygen was obtained from non-rebreathing mask and 10 litres of oxygen. Using the single-blind protocol, wounds were evaluated before the patients were discharged or 7 days post-operative and then two weeks after surgery. The clinical trial was performed at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung between October 2009–May 2010. From the 51 patients who received 80% oxygen, 2 (4%) had surgical-wound infections, whereas from the 51 patients given 30 percent oxygen, 9 (18%) had surgical-wound infections. The length of hospital stay for both groups were the same. In conclusion that post-operative administration of high concentration ofoxygen can reduce the incidence of surgical-wound infections. [MKB. 2012;44(3):165–9]. Key words: Laparotomy, oxygen, periotonitis, surgical wound infection DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.83

Polimorfisme Gly972Arg Gen IRS-1 dan Cys981Tyr Gen PTPN1 sebagai Faktor Risiko pada Sindrom Metabolik dengan Riwayat Berat Bayi Lahir Rendah

Permana, Hikmat ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam ) , Nugraha, Gaga Irawan ( Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakir Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Kariadi, Sri Hartini K. S. ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1889.983 KB)

Abstract

Peningkatan prevalensi obesitas terjadi di seluruh dunia dan dapat mengenai semua tingkatan usia. Faktor risiko peningkatan sindrom metabolik berhubungan dengan perubahan gaya hidup, obesitas, dan berat lahir rendah. Penelitian ini dilakukan bertujuan menganalisis genotipe IRS-1, genotipe PTPN1, dan berat bayi lahir rendah (BBLR) sebagai risiko terhadap sindrom metabolik. Pada tahun 2009 terkumpul sebanyak 97 BBLR dan 100 bayi berat lahir normal (BBLN) berusia 20–21 tahun. Penelitian kohort retrospektif ini merupakan bagian penelitian kohort sebelumnya di kecamatan Tanjung Sari pada tahun 1989. Peran genotipe IRS-1, genotipe PTPN1, dan BBLR terhadap sindrom metabolik diuji dengan regresi logistik multipel. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna genotipe IRS-1 dan PTPN1 dengan faktor-faktor sindrom metabolik, tetapi hanya genotipe IRS-1 berhubungan signifikan dengan trigliserida (p=0,006). Polimorfisme Gly972Arg gen IRS-1 pada BBLR mempunyai nilai prediksi terhadap peningkatan tekanan darah diastol, lingkaran perut, dan trigliserida. Polimorfisme Cys981Tyr gen PTPN1 menunjukkan faktor risiko terhadap tekanan darah sistol dan kolesterol high density lipoprotein (HDL). Polimorfisme Gly972Arg gen IRS-1 merupakan faktor dominan sebagai penyebab peningkatan tekanan darah diastol, lingkaran perut, dan trigliserida. Simpulan, polimorfisme Cys981Tyr gen PTPN1 merupakan faktor risiko peningkatan tekanan darah sistol dan kolesterol HDL. Bayi berat lahir rendah merupakan faktor risiko peningkatan gula darah puasa. [MKB. 2012;44(3):170–8].Role of Polymorphism Gly972Arg Gene IRS-1 and Cys981Tyr Gene PTPN1 as Risk Factors in Metabolic Syndrome with History of Low Birth WeightIncreasing prevalence of obesity occurs worldwide and can affect all ages levels. Risk factors of increasing metabolic syndrome were associated with changes in lifestyle, obesity and low birth weight (LBW). This study was aimed to analyze the genotype IRS-1, genotype PTPN1 and LBW in metabolic syndrome risk factors. In 2009, this restrospective cohort study was comprised of 97 LBW and 100 normal birth weight (NBW), aged 20–21 years old, from the previous cohort study in District Tanjung Sari since 1989. The role of IRS-1 gene, PTPN1 gene and LBW in the metabolic syndrome factors were analyzed using multiple logistic regressions. The result showed there were no significant relationship between IRS-1 and PTPN1 genotype with metabolic syndrome factors but only IRS-1 genotype was significantly associated with trygliceride (p=0.006). Gly972Arg IRS-1 gene polymorphism in LBW has predictive value of increasing diastolic blood pressure, waist circumference and trygliceride. Cys981 Tyr PTPN1 gene polymorphism showed a risk factor for systolic blood pressure and high density lipoprotein (HDL) cholesterol. Gly972Arg IRS-1 gene polymorphism was a dominant factor to increase diastolic blood pressure, waist circumference and trygliceride. In conclusions, Cys981 Tyr PTPN1 gene polymorphism is a risk factor of increased systolic blood pressure and HDL cholesterol, and LBW is the risk factor increasing fasting glucose level. [MKB. 2012;44(3):170–8]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.137

Karakteristik Dengue Berat yang Dirawat di Pediatric Intensive Care Unit

Lukmanul Hakim, Dzulfikar D. ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Garna, Herry ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Winiar, Wiwin ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran/Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1676.634 KB)

Abstract

Virus dengue dapat menyebabkan infeksi pada semua kelompok usia dengan manifestasi klinis beragam mulai dari asimtomatik, ringan, sampai berat yang biasanya merupakan kasus fatal. Dengue berat ditandai dengan kebocoran plasma, hemokonsentrasi, dan gangguan hemostasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik penderita dengue berat yang dirawat di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RS Dr. Hasan Sadikin Bandung sejak Januari 2009 sampai Desember 2010. Penelitian dilakukan secara retrospektif deskriptif berdasarkan data dari rekam medis penderita. Sebanyak 21 penderita dengue berat dirawat selama 2 tahun, 15/21 penderita perempuan dan 6/21 laki-laki, serta 5/21 anak meninggal dunia selama dirawat dengan sebab kematian tersering sindrom syok dengue (SSD) dan kogagulopati intravaskular diseminata (KID). Sebagian besar penderita berusia 1−5 tahun dengan status gizi baik. Hepatomegali ditemukan pada semua penderita dengan hematokrit rata-rata 38%. Pada penelitian ini, manifestasi klinis dengue berat berupa SSD (15/21), KID (11/21), ensefalopati (6/21), efusi pleura (5/21), miokarditis (3/21), serta acute respiratory distress syndrome (3/21). Simpulan, dengue berat lebih banyak didapatkan pada anak perempuan, usia 1–5 tahun, serta status gizi baik. Manifestasi klinis dengue berat yang dominan berupa syok, koagulasi intravaskular diseminata, dan ensefalopati. [MKB. 2012;44(3):147–51].Kata kunci: Dengue berat, karakteristik, pediatric intensive care unitCharacteristic of Severe Dengue Hospitalized in Pediatric Intensive Care UnitDengue viral infections affect all age groups and produce a spectrum of clinical illness that ranges from asymptomatic to severe and occasionally fatal disease. Severe dengue characterized by plasma leakage, hemoconcentration, and hemostatic disorder. The aim of this study was to know the characteristic of severe dengue patients admitted to Pediatric Intensive Care Unit (PICU) Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during January 2009 to December 2010. This was a retrospective descriptive study based on the data collected from the medical records. Twenty-one severe dengue cases in two years were admitted 15/21 girls and 6/21 boys, and 5/21 of them died during hospitalization because of dengue shock syndrome (DSS) and disseminated intravascular coagulation (DIC). Most of them were 1−5 years old with good nutritional status. Hepatomegaly was found in all cases with mean hematocrit was 38%. In this research, the most manifestation of severe dengue were DSS (15/21), DIC (11/21), encephalopathy (6/21), pleural effusion (5/21), myocarditis (3/21), and acute respiratory distress syndrome (3/21). In conclusions, severe dengue are more common in girls, 1–5 years old, and well-nourished children. The most common clinical manifestation of severe dengue are shock, disseminated intravascular coagulation, and encephalopathy. [MKB. 2012;44(3):147–51]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.85

Status Periodontal dan Kehilangan Tulang Alveolar pada Restorasi Proksimal yang Overhang

Garna, Devy Firena ( Bagian Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung ) , Amaliya, Amaliya ( Bagian Periodonsia Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1643.262 KB)

Abstract

Jaringan periodontal yang sehat bergantung pada penempatan restorasi yang tepat terutama di bagian proksimal, sedangkan penempatan yang berlebih (overhang) dapat berperan sebagai faktor terjadinya gingivitis dan kehilangan tulang alveolar. Tujuan penelitian untuk mengetahui relasi prevalensi status periodontal dan kehilangan tulang alveolar pada restorasi proksimal. Studi deskriptif potong lintang pada penderita yang berkunjung di Poli Gigi Puskesmas Tarogong kabupaten Garut periode bulan Maret–November 2010 dinilai status periodontal yang meliputi indeks perdarahan gusi menurut The National Institute of Dental Research, kedalaman poket menggunakan probe Williams dengan skala 0–10 mm, indeks plak Silness-Löe dan kehilangan tulang alveolar dengan analisis teknik Schei. Sampel yang didapat sebanyak 21 dari 35 restorasi proksimal overhang mengalami perdarahan gusi pada saat probing. Indeks plak Silness-Löe 8 dari 14 subjek penelitian termasuk dalam kategori buruk dan 6 dari 14 kategori sedang. Restorasi proksimal overhang dengan kedalaman poket di atas 3 mm sebanyak 24 dari 35 restorasi dengan kehilangan tulang alveolar rata-rata sebanyak 8%. Relative risk perdarahan gusi pada restorasi proksimal yang overhang 1,05 sedangkan kedalaman poket adalah 1,60. Simpulan, pada restorasi proksimal overhang didapatkan nilai indeks plak sedang hingga buruk, kedalaman poket lebih dari 3 mm, dan kehilangan tulang alveolar [MKB. 2012;44(3):133–7].Periodontal Status and Alveolar Bone Loss on Overhanging Proximal RestorationsA healthy periodontal tissue dependent on placing a proper restoration especially proximal restoration whereas to place an overhang restoration could be a risk factor for gingivitis and alveolar bone loss. The aim of the study was to find out relation prevalence periodontal status and alveolar bone loss on proximal restorations. A descriptive cross-sectional study was conducted on patients who visited Tarogong Dental Unit Public Health Centre, Garut Regency between March and November 2010 and their periodontal status including The National Institute of Dental Research. Gingiva bleeding index, probing pocket depth using Williams probe with scale 0–10 mm, Silness-Löe plaque index and Schei technic alveolar bone loss analysis were recorded. Twenty-one out of thirtyfive of overhanging proximal restorations had bleeding on probing. Based on plaque index (Silness-Löe) 8 out of 14 respondents were categorized as a poor and 6 out of 14 had moderate category of plaque index. Overhanging proximal restorations, which had pocket depth more than 3 mm, were 24 out of 35 restorations with 8% mean alveolar bone loss. Relative risk of gingival bleeding on overhanging proximal restoration was 1.05 meanwhile the relative risk of pocket depth was 1.60. In conclusions, on overhanging proximal restorations show that there are poor plaque index, bleeding gingival, probing pocket depth more than 3 mm and alveolar bone loss. [MKB. 2012;44(3):133–7]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.134

Kesesuaian Hasil Pemeriksaan Antibodi Virus Herpes Simpleks Metode Enzyme-Linked Immunofiltration Assay dengan Enzyme-Linked Immunosorbent Assay

Immanuel, Victor ( Laboratorium RSUD kabupaten Malinau Kalimantan Timur ) , Noormartany, Noormartany ( Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Dewi, Nina Susana ( Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi virus herpes simpleks (HSV) merupakan infeksi yang disebabkan oleh HSV tipe 1 (HSV-1) dan HSV tipe 2 (HSV-2). HSV-1 biasanya menyebabkan penyakit orofasial, sedangkan HSV-2 biasanya menyebabkan infeksi perigenital. Diagnosis infeksi HSV ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan laboratorium. Metode deteksi anti-HSV metode enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) memiliki sensitivitas 93–100% dan spesifisitas 95–100%, sedangkan metode enzyme-linked immunofiltration assay (ELIFA) memiliki sensitivitas 83,36–97% dan spesifisitas 83,93–98%. Tujuan penelitian adalah menilai kesesuaian hasil pemeriksaan anti-HSV antara metode ELIFA dan ELISA. Bila terdapat kesesuaian yang baik maka metode ELIFA dapat menggantikan metode ELISA. Penelitian dilakukan di laboratorium klinik RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung sejak bulan Januari–Mei 2011. Rancangan penelitian adalah potong lintang. Subjek penelitian adalah serum penderita tersangka infeksi HSV. Dilakukan analisis statistik untuk menilai agreement Kappa. Sebanyak 66 sampel diperiksa anti-HSV metode ELIFA dan ELISA. Hasil pemeriksaan IgM anti-HSV antara metode ELIFA dan ELISA memiliki kesesuaian baik (p<0,001; K=0,621), hasil pemeriksaan IgG anti-HSV-1 antara metode ELIFA dan ELISA memiliki kesesuaian sedang (p<0,001; K=0,533), dan hasil pemeriksaan IgG anti-HSV-2 antara metode ELIFA dan ELISA memiliki kesesuaian kurang (p=0,006; K=0,260). Simpulan, hanya pemeriksaan IgM anti-HSV metode ELIFA yang memiliki hasil kesesuaian baik dengan metode ELISA, sedangkan pemeriksaan IgG anti-HSV metode ELIFA memiliki kesesuaian sedang atau kurang. [MKB. 2012;44(3):152–8].Kata kunci: IgM anti-HSV, IgG anti-HSV, kesesuaian, metode ELIFA, metode ELISA Agreement of Herpes Simplex Virus Antibody Test Result between Enzymelinked Immunofiltration and Enzyme-linked Immunosorbent Assay MethodsHerpes simplex virus (HSV) infections are very common and are caused by HSV type 1 (HSV-1) and HSV type 2 (HSV-2). HSV-1 being mostly associated with orofacial disease, whereas HSV-2 is usually associated with perigenital infection. Diagnosis of HSV infection is established based on history, physical and laboratory examination. Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) method to detect anti-HSV has a sensitivity 93–100% and specificity 95–100%, whereas enzyme-linked immunofiltration assay (ELIFA) has a sensitivity 83.36–97% and specificity 83.93–98%. The aim of this study was to assess the agreement of anti-HSV between ELIFA and ELISA methods. This study was conducted in the clinical laboratory RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung since January to May 2011. The study design was cross sectional. Subjects of this study were serum of patients suspected HSV infection. Statistical analysis was performed to assess Kappa agreement. A total of 66 samples were examined anti-HSV using ELIFA and ELISA method. There was good agreement between test results of anti-HSV IgM ELIFA and ELISA method (p<0.001, κ=0.621), moderate agreement between test results of anti- HSV-1 IgG ELIFA and ELISA method (p<0.001, κ=0.533), and fair agreement between test results of anti-HSV-2 IgG ELIFA and ELISA method (p=0.006, κ= 0.260). In conclusions, only the anti-HSV IgM ELIFA method has good agreement with ELISA. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.86 

Perbandingan Efektivitas antara Omeprazol dan Lansoprazol terhadap Perbaikan Kualitas Hidup Penderita Rinosinusitis Kronik Akibat Refluks Laringofaring

Kurniawati, Tantri ( UPF Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala & Leher Rumah Sakit Pindad ) , Madiadipoera, Teti ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala & Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Sarbini, Tonny Basriyadi ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala & Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Saifuddin, Ongka M. ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala & Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1678.699 KB)

Abstract

Refluks laringofaring (RLF) adalah refluks cairan lambung melalui esofagus ke daerah laringofaring. Prevalensi RLF 15–20%, dan menjadi salah satu penyebab rinosinusitis kronik. Insidensi RLF pada penderita rinosinusitis kronik sebesar 37–72%. Prevalensi rinosinusitis kronik 16,3% pada dewasa dan berefek terhadap kualitas hidup. Omeprazol dan lansoprazol adalah proton pump inhibitor (PPI), digunakan sebagai terapi RLF, juga digunakan pada rinosinusitis kronik akibat RLF. Dilakukan penelitian periode Juni–Desember 2009. Penelitian ini merupakan randomized clinical trial dengan pengamatan open trial. Keikutsertaan 20 subjek penelitian dengan consecutive sampling, dibagi menjadi dua kelompok yang berbeda (dengan cara randomisasi sederhana) dalam pemberian PPI (omeprazol dan lansoprazol). Dilakukan pemeriksaan fisis THT, pengisian kuesioner sino-nasal outcome test 20, reflux symptom index, dan reflux finding score dengan menggunakan rinolaringoskopi serat lentur. Evaluasi setelah pemberian terapi 2 minggu dan 2 bulan. Data dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney. Tidak terdapat perbedaan efektivitas antara omeprazol dan lansoprazol terhadap perbaikan derajat berat refluks laringofaring (p>0,05), namun perbaikan kualitas hidup pada kelompok perlakuan lansoprazol lebih baik bila dibandingkan dengan kelompok perlakuan omeprazol (p<0,05). Simpulan, lansoprazol lebih efektif dibandingkan dengan omeprazol dalam memperbaiki kualitas hidup pada penderita rinosinusitis kronik akibat RLF. [MKB. 2012;44(3):138–46].Kata kunci: Kualitas hidup, lansoprazol, omeprazol, refluks laringofaring, rinosinusitis kronik    Effectiveness Comparison between Omeprazole and Lansoprazole on the Improvement of Quality of Life in Patients with Chronic Rhinosinusitis Caused by Laryngopharyngeal RefluxLaryngopharyngeal reflux (LPR) is the reflux of gastric acid through the esophagus that reaches laringopharyngeal area. The prevalence of LPR in the range 15–20%, and caused chronic rhinosinusitis (CRS). The incidence of LPR in patients with CRS has ranged between 37–72%. The prevalence of CRS 16,3% in adults and affecting quality of life. Omeprazole and lansoprazole are  proton pump inhibitors (PPIs) for LPR’s therapy and also a therapy for CRS with LPR as the etiology. This research method was randomized clinical trial with open trial observation,  conducted in June to December 2009. Twenty subjects with consecutive sampling method, divided into two groups (with simple randomization), the first group received omeprazole and the other lansoprazole. The subjects conducted complete physical otolaryngology examination, sino-nasal outcome test 20, reflux symptom index and reflux finding score with fiber optic rhinolaryngoscopy. These data was obtained before therapy, after 2 weeks and  two months therapy,  analyzed with Wilcoxon’s  and Mann-Whitney’s test. There was no effectivity difference between omperazole and lansoprazole in reducing the level of severity of LPR (p>0.05), but quality of life improvement was better in lansoprazole than omeprazole group (p<0.05). In conclusion, lansoprazole is more effective than omeprazole in improvement of quality of life in patients with chronic rhinosinusitis caused by LPR. [MKB. 2012;44(3):138–46].Key words: Chronic rhinosinusitis, lansoprazole, laryngopharyngeal reflux, omeprazole, quality of life DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.135

Pengaruh Lidah Buaya (Aloe vera L.) pada Paru-Paru Tikus yang Diinduksi Asap Rokok

Atik, Nur ( Departemen Biologi Sel ) , Avriyanti, Erda ( Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam ) , Iwan A. R, Januarsih ( Departemen Biologi Sel ) , Indrati, Agnes Rengga ( Departemen Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Gunadi W., Rachmat ( Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1278.829 KB)

Abstract

Kejadian merokok merupakan salah satu masalah kesehatan dunia karena dapat meningkatkan angka kejadian penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Lidah buaya (Aloe vera L.) merupakan tanaman fungsional sebagai antiinflamasi, imunomodulator, dan kandungan ß-sitosterol. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh lidah buaya pada pencegahan kejadian apoptosis, peningkatan jumlah serta penurunan fungsi fagositosis makrofag pada paru-paru tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi dengan asap rokok. Penelitian dilakukan periode Januari 2009–Januari 2010 bertempat di Departemen Biologi Sel, Patologi Klinik, Patologi Anatomi, dan Unit Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Penelitian laboratorik eksperimental menggunakan tikus sebagai subjek, dibagi menjadi 3 kelompok (kontrol, rokok, dan rokok ditambah lidah buaya) masing-masing sebanyak 8 ekor dan lama perlakuan selama 42 hari. Data diperoleh melalui pengamatan jumlah sel makrofag dan aktivitas fagositosisnya, serta ekspresi Bcl2 sel epitel alveolus kemudian dianalisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan jumlah makrofag rata-rata pada kelompok rokok (495,88±104,09) lebih banyak dibandingkan dengan kelompok rokok ditambah lidah buaya (295,63±176,79) (p<0,05) namun hasil uji fagositosis makrofag menunjukkan hasil sebaliknya. Kelompok rokok ditambah lidah buaya memiliki persentase yang lebih tinggi (11,67±12,84) dibandingkan dengan kelompok rokok (3,77±1,39). Ekspresi Bcl2 pada sel alveolus paru-paru tikus kelompok rokok ditambah lidah buaya lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol dan rokok (p<0,05). Simpulan, gel lidah buaya meningkatkan jumlah dan aktivitas sel makrofag serta ekspresi Bcl2 pada paru-paru tikus yang telah diinduksi asap rokok. [MKB. 2012;44(3):159–64].Kata kunci: Bcl2, lidah buaya (Aloe vera L.), makrofag, rokok The Effect of Aloe vera L. in Rat Lungs After Cigarette Smoke InductionThe incident of smoking is one of the world’s health problems, as smoking increases the incidence of chronic obstructive pulmonary disease (COPD). Aloe vera L has anti-inflammatory, immunomodulator, and β-sitosterol properties. A research was conducted to observe its effects in preventing the cell apoptotic events as well as the increasing numbers of macrophages and the decreasing phagocytotic function of macrophages in rat’s lung (Rattus norvegicus) that has been induced by cigarettes smoke. The study was conducted in January 2009–January 2010, located in Department of Cell Biology, Clinical Pathology, Anatomy Pathology and Health Research Unit of Faculty of Medicine University of Padjadjaran.This experimental study was conducted on rats which were divided into 3 groups each consisted 8 rats for 42 days in treatments. The data were collected from number of macrophages and its activity and also alveoli epithelial cell Bcl2 expression observation, than statistical analytic was performed using Mann-Whitney test. Result showed the significant difference (p<0.05) in number of macrophages, cigarette smoke group had a higher number (495.88±104.09) than cigarette smoke plus aloe group (295.63±176.79) but it showed the opposite for the phagocytotic function of macrophages. The cigarette smoke plus aloe group had higher percentage (11.67±12.84) than cigarette smoke group (3.77±1.39). Observation of Bcl2 expression in rat’s lungs alveoli cell showed that the group exposed to cigarettes and Aloe vera were more expressed compared with cigarette exposed group (p <0.05). This study proved that Aloe vera gel increases the number and cell activity of macrophages in addition to the Bcl2 expression in rat lungs which have been induced by cigarette smoke. [MKB. 2012;44(3):159–64].Key words: Aloe vera L., Bcl2, cigarette, macrophages DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.151

Antioksidan Ekstrak Air Biji Kopi Robusta Lampung dalam Menghambat Degenerasi Sel Hati Tikus Model Hepatitis yang Diinduksi CCL4

Sukohar, Asep ( Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung ) , Sastramihardja, Herri S. ( Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hati berperan penting dalam mempertahankan homeostasis dan sangat dibutuhkan untuk fungsi fisiologis organ lain. Perubahan morfologi hati akan berdampak pada perubahan fungsi dan dapat muncul sebagai manifestasi klinisnya. Hepatitis merupakan gangguan serius yang menyebabkan inflamasi sel hati disebabkan oleh virus, kimia, dan toksin. Reaksi yang terjadi berupa stres oksidatif serta meningkatnya radikal bebas yang dapat dinetralisir dengan senyawa antioksidan. Secara tradisional kopi digunakan sebagai minuman sehari-hari dan dikenal sebagai antioksidan karena mengandung flavonoid (asam klorogenat). Tujuan penelitian untuk menentukan efek hepatoprotektif/antioksidan kopi yang tumbuh di kabupaten Pesawaran Lampung, terhadap gambaran kerusakan sel hepatosit pada tikus Wistar model hepatitis yang diinduksi karbon tetraklorida (CCL4). Telah dilakukan penelitian eksperimental laboratorik di Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung dan pemeriksaan patologi anatomi dilakukan di Rumah Sakit Abdoel Moeloek Lampung pada Desember 2008–Juli 2009 dengan menggunakan 15 ekor tikus Wistar jantan yang terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol positif sebagai model hepatitis, dan perlakuan yaitu model hepatitis yang mendapat ekstrak air biji kopi robusta 25 mg/kgBB selama 7 hari dan mendapat induksi CCl4. Hasilnya dianalisis dengan uji analysis of variance dan uji independen t. Pemberian ekstrak air biji kopi robusta dapat mencegah kerusakan gambaran degenerasi sel hati dari 58,4±7,09 menjadi 34,4±5,85. Hasil ini berbeda bermakna (p≤0,05) bila dibandingkan dengan kontrol positif dan negatif. Simpulan, ekstrak air biji kopi robusta berpotensi mencegah gangguan fungsi hati dengan efek sebagai antioksidan pada tikus model hepatitis yang diinduksi CCL4. [MKB. 2012;44(3):127–32].Kata kunci: Antioksidan, gambaran degenerasi sel hati, kopi Antioxidant of Lampung Robusta Coffee Beans Water Extract in Inhibiting Liver Cell Degeneration in CCl4 Induced Hepatitis Rats ModelLiver plays an important role in maintaining homeostasis and is critical for physiological functions of other organs. Morphological changes of the liver will have an impact on changes in liver function and may appear as clinical manifestations. Hepatitis is a serious disorder that causes inflammation of the liver cells and is caused by viruses, chemicals and toxins. Reactions that occur in the form of oxidative stress, free radicals dominant condition of antioxidants. Traditionally coffee is used as an everyday beverage and known as antioxidants because it contains flavonoids (chlorogenic acid). This study aim was to determine the hepatoprotective/antioxidant effect of coffee growing in Pesawaran Lampung, on the description of hepatocyte cell damage in Wistar rats hepatitis model induced with carbon tetrachloride (CCl4). Laboratory experimental research has been conducted in Pharmacology >Department, Faculty Medicine Padjadjaran University Bandung and pathology examinations was performed at the Hospital Abdoel Moeloek Lampung in December 2008–July 2009, using 15 male Wistar rats divided in three groups, the negative control group, positive control as a model of hepatitis, and hepatitis model that received the water extract of robusta coffee beans 25 mg/kgBW/days for 7 days and then received CCl4 induction. The results were analyzed by analysis of variance and independent t test. Administration of water extract of robusta coffee beans can prevented damage to the liver cell degeneration picture from 58.4±7.09 to 34.4±5.85, these results differed significantly (p≤0.05) compared with positive and negative control. In conclusion, water extract of robusta coffee beans has the potential to prevent interference with the effects of liver function as antioxidants in the ra model of hepatitis which has been inducted with CCL4. [MKB. 2012;44(3):127–32].Key words: Antioxidants, coffee, degeneration of liver cells preview DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.84

Ketebalan Tunika Intima dan Media Arteri Karotis Komunis pada Karsinoma Nasofaring Pra dan Pascaradioterapi

Sofyan, Ferryan ( Rumah Sakit Haji Adam Malik Medan ) , Samiadi, Dindy ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Soeseno, Bogi ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Boesoirie, M. Thaufiq ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Lasminingrum, Lina ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1600.862 KB)

Abstract

Radioterapi eksternal merupakan pengobatan utama karsinoma nasofaring. Radioterapi  eksternal menyebabkan disfungsi endotel arteri karotis komunis yang menurunkan produksi nitrogen oksida dan prostasiklin di sel endotel sehingga terjadi penebalan dinding pembuluh darah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan ketebalan intima media dan diameter lumen arteri karotis komunis akibat radioterapi eksternal  pada penderita karsinoma nasofaring. Tipe penelitian adalah  studi deskriptif dengan rancangan pre-post design. Penelitian dilakukan di Departemen Telinga Hidung Tenggorok-Bedah Kepala Leher-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung mulai Maret 2009–Februari 2010. Pada penelitian ini dilakukan pemeriksaan  ultrasonografi  gray scale praradioterapi, pascaradioterapi, dan 10 minggu pascaradioterapi.  Hasil penelitian ini menggunakan uji Fischer dan T berpasangan. Terdapat 25 subjek karsinoma nasofaring dan hasil penelitian ditemukan peningkatan ketebalan intima media sebesar 0,1 mm di intima media arteri karotis komunis kanan dan 0,09 mm di intima media arteri karotis komunis kiri (p<0,001), juga ditemukan pengurangan diameter lumen arteri karotis komunis kanan sebesar 0,384 mm dan 0,342 mm di arteri karotis komunis kiri (p<0,001).  Simpulan, radioterapi eksternal menunjukkan ketebalan intima media dan pengurangan diameter lumen arteri karotis komunis pada penderita karsinoma nasofaring. [MKB. 2012;44(3):179–85].Kata kunci: Diameter lumen, karsinoma nasofaring, ketebalan intima media, radioterapi eksternal                     Intima and Media Tunica Thickness of Common Carotid Artery in Nasopharyngeal Carcinoma Pre and Post External RadiotherapyExternal radiotherapy is the main treatment for nasopharyngeal carcinoma. External radiotherapy  can cause endothelial dysfunction of common carotid artery and reduces nitrogen oxide and prostacyclin by endothelial cell and cause thickening of the vessels walls. Purpose of this study was to find out changes in intima-media thickness and lumen diameter of common carotid artery due to radiotherapy in patients with nasopharyngeal carcinoma. This research was descriptive with pre and post design and performed from March 2009 to February 2010 in the Ear Nose Throat-Head Neck Surgery Department of Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Gray scale ultrasound examination was performed before, after and ten weeks after radiotherapy and calculated by using Fischer’s test and paired T test.  They were 25 subjects and was found out 0.1 mm additional thickness in right intima media and 0.09 mm in left intima media common carotid artery (p<0.001), also found reduction in lumen diameter of common carotid artery in which 0.384 mm in the right and 0.342 mm in the left (p<0.001). In conclusions, external radiotherapy can cause increase intima media thickness  and reduction lumen  diameter  in common  carotid artery  in patients with nasopharyngeal carcinoma. [MKB. 2012;44(3):179–85].Key words: External beam irradiation, intima media thickness, lumen diameter, nasopharyngeal carcinoma DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.206

Validitas Hasil Pemeriksaan Skin Prick Test terhadap Imunoglobulin E RAST Tungau Debu Rumah dan Debu Rumah pada Dermatitis Atopik

Mulyana, Yeyen Yovita ( Siloam Hospital Jakarta ) , Sutedja, Endang ( Siloam Hospital Jakarta ) , Suwarsa, Oki ( Departemen Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1664.43 KB)

Abstract

Pada dermatitis atopik (DA) tipe ektrinsik terdapat peningkatan imunoglobulin E (IgE) spesifik terhadap tungau debu rumah (TDR) dan debu rumah (DR) dengan gambaran skin prick test (SPT) positif. Metode penelitian observasional analitik dengan rancangan studi potong lintang, bertujuan untuk mengetahui validitas hasil pemeriksaan SPT terhadap IgE radioallergosorbent testing (RAST) TDR dan DR pada penderita DA, supaya SPT dapat diaplikasikan untuk mendeteksi DA. Penelitian dilakukan selama Agustus–November 2011 di Poliklinik Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Uji statistik menggunakan Spearman’s rank correlation. Hasil penelitian menunjukkan SPT TDR yang positif pada DA lebih tinggi dibandingkan dengan non-DA secara statistik bermakna, sedangkan SPT DR yang positif pada DA lebih tinggi dibandingkan dengan non-DA secara statistik tidak bermakna. Nilai positivitas SPT dan IgE RAST terhadap TDR pada DA berbanding lurus, namun tidak terhadap DR. Nilai positivitas SPT TDR pada DA lebih tinggi (15/16) daripada non-DA (5/16) dan nilai positivitas SPT TDR berbanding lurus dengan IgE RAST TDR pada DA dengan Spearman’s rank correlation coefficient 0,541 (p=0,031). Hasil pemeriksaan SPT TDR terhadap IgE RAST TDR pada kelompok DA memberikan validitas yang lebih tinggi dengan sensitivitas 100%, spesifisitas 25%, dan akurasi 81%, dibandingkan SPT DR terhadap IgE RAST DR dengan sensitivitas 43%, spesifisitas 78%, dan akurasi 63%. Simpulan, pemeriksaan SPT TDR dapat dijadikan patokan diagnosis DA, karena hasil pemeriksaan SPT TDR yang positif dapat memberikan arti peningkatan IgE spesifik dengan pemeriksaan IgE RAST TDR. [MKB. 2012;44(3):186–91].Kata kunci: Debu rumah, dermatitis atopik, IgE RAST, skin prick test, tungau debu rumahValidity of Skin Prick Test toward House Dust Mite and House Dust Immunoglobulin E RAST in Atopic DermatitisIn extrinsic type atopic dermatitis (AD) there is an increased of specific immunoglobulin (IgE) towards house dust mites (HDM) and house dust (HD), resulting in positive skin prick test (SPT). The method of this study was cross sectional, analytic-observational, to find validity of SPT toward HDM and HD IgE radioallergosorbent (RAST) in AD patients. The study was held from August to November 2011 in Department of Dermatovenereology Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. Spearman’s rank correlation coefficient was used for statistical analysis. The results showed positive SPT to HDM in AD patients were statistically significant higher than non-AD. Positive SPT to HD in AD patients were higher than non-AD but statistically non significant. Value of HDM SPT positivity and IgE RAST in AD was directly proportional, but not with HD. There was a higher positivity of HMD SPT in AD patients (15/16) than in non-AD (5/16). Positivity value of HDM SPT was proportional to the HDM IgE RAST in AD patients with Spearman’s Rank correlation coefficient 0.541 (p=0.031). The results of HDM SPT toward HDM IgE RAST in AD patients showed higher validity sensitivity, specificity, and accuracy, 100%, 25% and 81% respectively, while HD SPT toward HD IgE RAST with sensitivity, specificity, and accuracy 43%, 78% and 63% respectively. In conclusions, HDM TDR examination could be used as a marker for AD diagnosis, due to positive HDM TDR examination result could give a meaning of increased specific IgE with RAST IgE examination. [MKB. 2012;44(3):186–91].Key words: Atopic dermatitis, house dust, house dust mites, IgE RAST, skin prick test DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.207