cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 44, No 2 (2012)
10
Articles
Perbandingan Keberhasilan Vaginal Birth After a Cesarean (VBAC) pada Inersia Uteri Hipotonik dengan dan tanpa Pemberian Oksitosin Drip

Setiawan, Dani ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Sumedang, jalan Palasari 80 Sumedang ) , Krisnadi, Sofie Rifayani ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Sabarudin, Udin ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1554.152 KB)

Abstract

Percobaan persalinan per vaginam dapat menjadi pilihan untuk wanita yang sebelumnya pernah mengalami seksio sesarea. Percobaan yang berhasil dinamakan sebagai vaginal birth after a cesarean (VBAC). Kegagalan VBAC sering kali disebabkan karena terjadinya inersia uteri hipotonik. Augmentasi oksitosin drip bukan merupakan kontraindikasi, pemberian augmentasi oksitosin drip merupakan upaya untuk meningkatkan angka keberhasilan VBAC akan tetapi harus diberikan dengan pemantauan kontinu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbedaan keberhasilan VBAC pada inersia uteri hipotonik dengan dan tanpa pemberian oksitosin drip. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan uji klinik acak terkontrol (randomized clinical trial), terhadap 40 penderita dengan riwayat seksio sesarea di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang, dan Rumah Sakit Astana Anyar yang memenuhi kriteria inklusi periode Maret–Mei 2009; dilakukan perbandingan dua kelompok, yaitu kelompok dengan oksitosin drip dan tanpa oksitosin drip. Karakteristik penderita, keberhasilan VBAC, dan komplikasi ibu serta keluaran neonatus dicatat sebagai data. Uji kemaknaan perbedaan dua proporsi dengan menggunakan chi-kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan VBAC secara statistik tidak memperlihatkan perbedaan bermakna antara kelompok oksitosin drip (80%) dan tanpa oksitosin drip (60%) dengan nilai p=0,168 (p>0,05), tetapi dengan interval kepercayaan 95% keberhasilan VBAC dengan oksitosin drip lebih besar 1,71 (0,72–4,06). Komplikasi pada ibu dan neonatus yang timbul pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Simpulan, pemberian oksitosin drip pada kasus inersia uteri hipotonik meningkatkan keberhasilan VBAC. [MKB. 2012;44(2):114–20].The Successful Comparison of Vaginal Birth After a Cesarean (VBAC) on Hypotonic Uterine Inertia with and without Oxytocin InfusionTrial of labor after cesarean section can be a choice on maternity with cesarean history. The successful trial of labor is then called vaginal birth after a cesarean (VBAC). The failure on VBAC is often caused by hypotonic uterine inertia. Oxytocin infusion augmentation is not a contraindication; it is a solution for increasing success on VBAC with requisite continuing observation. The aim of this research was to determine the successful differences of VBAC on hypotonic uterine inertia with and without oxytocin augmentation. This research was an experimental study on randomized clinical trial, using 40 patients with history of cesarean section at Dr. Hasan Sadikin Hospital and two satellite hospitals (Sumedang and Astana Anyar) during March–May 2009 which fulfilled inclusion criteria divided into two groups; the group using oxytocin infusion and the group without oxytocin infusion. The patients’ characteristic, the success on VBAC and the maternal complication also neonatal condition were noted as encode. Chi-square test was used for statistical analysis. There was no statistical significant difference of success between the group used oxytocin infusion (80%) and the group without using oxytocin infusion (60%) with p>0.05 (p=0.168), but using confidence interval 95% showed the successful on VBAC with oxytocin infusion was greater 1.71 (0.72–4.06). The maternity and neonatal complication on two groups did not indicate a significant difference. In conclusion, using oxytocin infusion on hypotonic uterine inertia can increase the success on VBAC. [MKB.2012;44(2):114–20]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.130

Hubungan Imunoekspresi E-cadherin dan C-erbB2 dengan Derajat Keganasan Histopatologik Karsinoma Kistik Adenoid Kelenjar Liur

Mariam, Marry Siti ( Jurusan Biologi Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran ) , Nasserie, Wazilah ( Jurusan Biologi Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1624.831 KB)

Abstract

Karsinoma kistik adenoid (KKA) merupakan keganasan kelenjar liur terbanyak, prognosisnya sukar diprediksi dengan tingkat kekambuhan yang tinggi. Berdasarkan beberapa penelitian, prognosis KKA kelenjar liur yang berhubungan dengan tingkat ketahanan hidup sangat terkait dengan derajat keganasan histopatologik berdasarkan tipe pola pertumbuhannya. Penelitian ini dilaksanakan di Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung tahun 2009. Tujuan penelitian untuk mengetahui perubahan imunoekspresi protein adhesi E-cadherin (molekul adhesi antar sel epitel) dan proto-onkogen C-erbB2 (keluarga C-erbB/reseptor faktor pertumbuhan epidermal) pada KKA kelenjar liur dikorelasikan dengan derajat keganasan histopatologik. Desain penelitian studi potong lintang tanpa acak secara retrospektif pada 51 blok parafin penderita karsinoma kistik adenoid kelenjar liur. Sampel didiagnosis ulang, serta ditentukan derajat keganasan histopatologiknya (menurut modifikasi Szantos dan Batsakis) dilanjutkan dengan pemeriksaan imunohistokimia terhadap E-cadherin dan C-erbB2. Hasil menunjukkan korelasi sangat bermakna (p<0,01) perubahan imunoekspresi E-cadherin yang negatif (82%) dengan derajat keganasan histopatologik 1, 2, dan 3 (4%, 33%, dan 46%). Perubahan imunoekspresi C-erbB2 tidak berkorelasi dengan meningkatnya derajat keganasan (p=0,11). Terjadi perubahan peningkatan imunoekspresi dari derajat 1 (5%) ke derajat 2 (11%), namun kembali menurun pada derajat 3 (8%). Simpulan, imunoekspresi E-cadherin dapat digunakan sebagai petanda tumor untuk memprediksi prognosis keganasan KKA kelenjar liur. Perubahan imunoekspresi C-erbB2 pada KKA kelenjar liur menunjukkan perilaku biologinya dan peran utama C-erbB2 pada KKA kelenjar liur terutama pada fase inisiasi dan promosi karsinogenesis. [MKB.2012;44(2):70–6].Correlation of E-cadherin and C-erbB2 Immunoexpression with the Degree of Histopathological Malignancy on Salivary Gland Adenoid Cystic CarcinomaAdenoid cystic carcinoma (ACC) is the most common salivary gland malignancies, with high rate of local recurrence and unpredictable prognosis. Based on previous research, prognosis of ACC in salivary gland which is correlated with survival rates, is related with histopathological malignancy degree based on its growth pattern type. This study was conducted in Pathology Anatomy Department of Medical Faculty, Padjadjaran University Bandung in 2009. The aim of this study was to analyze the alteration of immunoexpression of E-cadherin (adhesion molecule of epithelial cells) and C-erbB2 proto-oncogen (the family of C-erbB/epidermal growth factor receptor) in salivary gland. Adenoid cystic carcinoma correlated with cross-sectional non-random study on 51 paraffin blocks, from patients with salivary gland ACC retrospectively. The repeated histopatologic examination was to diagnose ACC and to get data of the histopathological malignancy degree (according to Szantos and Batsakis modification), and it was continued with immunohistochemistry examination of E-cadherin and C-erbB2. The alteration of negative immunoexpression of E-cadherin (82%) had correlation significantly (p<0.001) with the histological malignancy degrees 1, 2, and 3 (4%, 33% and 46%). The C-erbB2 immunoexpression change had no correlation with the increasing histopatologic malignancy degree (p=0.11). The alteration of C-erbB2 immunoexpression, increased from first (5%) to second degree (11%) but decreased on the third degree (8%). In conclusions, the immunoexpression of E-cadherin can be used as tumor marker to predict malignancy prognosis of salivary gland ACC. The expression changes of C-erbB2 in ACC indicate its biological behavior and the main role of C-erbB2 on salivary gland ACC is in the initiation and promotion phase of carcinogenesis. [MKB. 2012;44(2):70–6]. DOI:  http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.126

Uji Validitas Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin sebagai Penanda Diagnosis Gangguan Ginjal Akut pada Sepsis

Hidayat, - ( Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Dr. H. Abdul Moeloek Lampung ) , Parwati, Ida ( Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Dr. H. Abdul Moeloek Lampung ) , Gondodiputro, Rubin Surachno ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Rita, Coriejati ( Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Dr. H. Abdul Moeloek Lampung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1561.984 KB)

Abstract

Gangguan ginjal akut (GgGA) merupakan penurunan fungsi ginjal secara mendadak yang ditandai dengan peningkatan kreatinin serum ≥0,3 mg/dL atau meningkat >1,5 kali dari kadar sebelumnya atau penurunan urine output (UO) <0,5 mL per jam selama >6 jam. Sepsis merupakan penyebab tersering GgGA dengan angka kejadian berkisar 20–50% dan angka kematian mendekati 70%. Kadar neutrophil gelatinase associated lipocalin (NGAL) urine penderita GgGA dapat meningkat secara cepat dan lebih awal dibandingkan dengan kadar kreatinin serum sehingga NGAL dapat dijadikan penanda diagnosis GgGA. Penelitian bertujuan mengetahui validitas NGAL urine sebagai penanda diagnosis GgGA pada penderita sepsis. Sebanyak 50 sampel urine diambil dari penderita sepsis di Unit Gawat Darurat (UGD), Intensive Care Unit (ICU), dan Medical Intermediate Care (MIC) di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung selama Februari sampai Mei 2010 dan dilakukan pemeriksaan kadar NGAL urine dengan metode enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Data yang diperoleh dianalisis dengan uji nonparametrik Mann-Whitney, kurva receiver operating characteristic (ROC), dan uji validitas. Hasil penelitian didapatkan kadar NGAL urine penderita sepsis dengan GgGA lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan penderita sepsis tanpa GgGA (3.380 ng/mL berbanding 116 ng/mL; p<0,001). Pada cut-off point 107 ng/mL, NGAL urine memiliki sensitivitas 100%, spesifisitas 36%, positive predictive value (PPV) 60,9%, negative predictive value (NPV) 100%, dan akurasi 68%. Simpulan, kadar NGAL urine memiliki validitas yang baik dan dapat dijadikan sebagai penanda diagnosis terjadinya GgGA pada penderita sepsis. [MKB. 2012;44(2):121–6]. Validity Test of Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin as Diagnostic Marker forAcute Kidney Injury on SepsisAcute kidney injury (AKI) is an abrupt decrease of renal function which marked by increase of serum creatinine ≥0.3 mg/dL or ≥1.5 times of previous level or decrease urine output <0.5 mL/hour in >6 hours. Sepsis is the most common cause of AKI with incidence rate is about 20–50% and mortality nearly 70%. Urine neutrophil gelatinaseassociated lipocalin (NGAL) level in AKI patients can increase quickly and earlier compared with serum creatinine and could be as a marker for AKI. The purpose of this study was to assess the validity of urine NGAL as diagnostic marker of AKI on sepsis patients. Subjects were 50 urine samples of sepsis patients from Emergency Department (ED), Intensive Care Unit (ICU) and Medical Intermediate Care (MIC) in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung between February and May 2010 and were examined with enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) method. Data analysis was performed by non parametric Mann-Whitney test, receiver operating characteristic (ROC) analysis and validity test.The results found that urine NGAL of AKI patients were significantly higher compared with non AKI patients (3,380 ng/mL vs 116 ng/mL, p<0.001). A cut-off point >107 ng/mL for urine NGAL had a sensitivity of 100%, specificity of 36%, positive predictive value (PPV) of 60.9%, negative predictive value (NPV) of 100% and accuracy of 68%. In conclusions, urinary NGAL level has good validity and could be used as a screening test for AKI on sepsis patients. [MKB. 2012;44(2):121–6]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.131

Distribusi Subtipe Juvenile Idiopathic Arthritis di Bandung

Ghrahani, Reni ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Setiabudiawan, Budi ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Sapartini, Gartika ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Puspasari, Hesti ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1507.875 KB)

Abstract

Juvenile idiopathic arthritis (JIA) merupakan penyakit reumatik kronik tersering pada anak yang terjadi sebelum usia 16 tahun. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi profil penderita yang didiagnosis JIA. Dilakukan penelitian deskriptif retrospektif terhadap penderita JIA yang datang ke Divisi Alergi Imunologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode Januari 2006–Oktober 2011 berdasarkan rekam medis. Didapatkan 28 penderita JIA terdiri atas 10 anak laki-laki dan 18 anak perempuan, dengan rentang usia 2–14 tahun, usia rata-rata 8,25±3,62 tahun. Sebanyak 14 penderita JIA merupakan tipe oligoartritis persisten, 6 tipe sistemik, 5 tipe poliartritis, dan terdapat 1 orang penderita poliartritis tipe dewasa. Pada pemeriksaan laboratorium, didapatkan 2 penderita dengan faktor reumatoid positif dan 14 penderita negatif. Terapi yang diberikan obat antiinflamasi nonsteroid sebagai protokol terapi standar, steroid, dan disease modifying anti-rheumatic drugs (metotreksat). Terdapat 3 penderita meninggal yang semuanya merupakan tipe sistemik. Simpulan, sebagian besar JIA merupakan tipe oligoartritis persisten, lebih banyak ditemukan pada anak perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Kasus kematian terjadi pada JIA tipe sistemik. Sebagian besar penderita memberikan respons yang baikterhadap protokol terapi standar. [MKB. 2012;44(2):101–5].Kata kunci: Anak, juvenile idiopathic arthritis, subtipe Distribution of Juvenile Idiophatic Arthritis Subtypes in BandungJuvenile idiopathic arthritis (JIA) is the most common chronic rheumatic disease in children which begin before 16 years of age. The objective of this study was to evaluate the profile of patients who diagnosed as JIA. The descriptive retrospective study was done to patients with JIA who came to Allergy Immunology Division, Department of Child Health Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during January 2006–October 2011 period, based on the medical records. There were 28 patients with JIA consisted of 10 boys and 18 girls, age ranged 2–14 years, with mean age of onset of 8.25±3.62 years. There were 14 patients with persistent oligoarthritis type, 6 patients with systemic type, 5 patients with polyarthritis type and 1 patient with polyarthritis adult type. The laboratory data showed 2 patients with positive rheumatoid factor and 14 patients were negative. Non-steroidal anti-inflammatory drugs >as standard protocol therapy, steroids and disease modifying anti-rheumatic drugs (methotrexate) were used for treatment. There were 3 patients with systemic type death. In conclusions, most of JIA cases were persistent oligoathritis type, girls more than boys, and all death cases were systemic JIA. Most of cases had satisfactory therapeutic outcomes with standard protocol therapy. [MKB. 2012;44(2):101–5].Key words: Children, juvenile idiopathic arthritis, subtypes DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.78

Kadar N-Terminal Pro-Brain Natriuretic Peptide sebagai Prediktor Luaran Klinis Sindrom Koroner Akut

Tandhana, Florencia Idajanti ( Rumah Sakit Umum Daerah Subang ) , Noormartany, Noormartany ( Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandun ) , Aprami, Toni M., Tristina, Nina

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1586.353 KB)

Abstract

Kadar N-terminal pro-brain natriuretic peptide (NT-proBNP) plasma dapat menggambarkan tingkat keparahan iskemia walaupun tidak terjadi nekrosis, iskemia yang transien dapat meningkatkan peregangan dinding jantung yang akan menginduksi sintesis dan pelepasan brain natriuretic peptide (BNP) yang sebanding dengan tingkat keparahan iskemia. Tujuan penelitian untuk mengetahui apakah kadar NT-proBNP pada penderita sindrom koroner akut (SKA) dapat digunakan sebagai parameter prediktor luaran klinis. Penelitian dilakukan sejak bulan Januari hingga Maret 2010. Subjek penelitian penderita SKA yang datang ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung dan telah didiagnosis klinis sesuai kriteria World Health Organization. Pada subjek yang memenuhi kriteria inklusi dilakukan pemeriksaan kadar NT-pro BNP dengan metode electrochemiluminescence immunoassay, cardiac troponin T (kuantitatif), dan creatine kinase muscle brain (enzimatik). Analisis data uji normalitas menggunakan one-sample Kolmogorov-Smirnov test, analisis regresi logistik multipel untuk mengetahui parameter prediktor luaran klinis penderita SKA. Dari 83 subjek yang ikut dalam penelitian, didapatkan nilai prediksi kadar NT-proBNP sebesar 1,00 sehingga bukan merupakan prediktor utama luaran klinis, koefisien β NTproBNP sebesar 0,001 menyatakan bahwa setiap penambahan 1.000 pg/mL variabel NT-proBNP akan menambah lama perawatan 1 hari. Pada subjek SKA dengan luaran (outcome) sembuh nilai prediksi cTnT lebih baik sebagai faktor prediktor dibandingkan dengan konsentrasi NT-proBNP (OR=32,53; 95%IK; 0,58–1.819,26). Simpulan, NT-proBNP bukan merupakan prediktor utama luaran klinis pada SKA. Kadar NT-proBNP lebih dari 826,7 pg/mLterdapat kemungkinan prognosis yang buruk sampai dengan kematian. [MKB. 2012;44(2):106–13].The Role of NT-proBNP as Clinical Outcome Predictor for Acute Coronary SyndromesPlasma levels of N-terminal pro-brain natriuretic peptide (NT-proBNP) levels may reflect the severity of ischemia, although there is no necrosis. A transient ischemia which can increase the heart wall stretch would induces BNP synthesis and release. Synthesis and release of BNP are comparable with the severity of ischemia. The aim of this study was to analyze whether NT-proBNP levels in patients with acute coronary syndrome (ACS) can be used as a predictor for clinical outcome. Studies was held since January to March 2010. Subject were patients with ACS who came to emergency room Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung and were clinically diagnosed according to World Health Organization criteria. Subjects which were suited with the inclusion criteria, stored until assayed. NT-pro BNP concentration was examined by electrochemiluminescence immunoassay method along with creatine kinase muscle brain (enzymatic method) and cardiac troponin T (quantitative method). Statistical analysis was performed using the one-sample Kolmogorov-Smirnov test for verifying normality, normally distributed data were analyzed using parametric analysis and abnormal distributed data was assayed using multiple logistic regression analysis to determine the parameters which can be used as predictor for clinical outcome in patients with ACS. Multiple logistic regression analysis on 83 subjects showed predictive value of NT-proBNP levels with OR=1.00, which mean there was no different likelihood in patients with high and low concentration of NT-proBNP to have longer hospitality duration. NT-proBNP β coefficient of 0.001 states that every addition of 1,000 pg/mL of NT-proBNP concentration will increase the length of hospitality duration for one day. On convalesce subjects, the most significant predictive value for predicting clinical outcome cTnT was more better than NT-proBNP concentration in patients with ACS (OR=32.53, 95%CI; 0.58–1,819.26). In conclusions, NT-proBNP is not a major predictor of clinical outome in ACS. NT-proBNP levels of >826.7 pg/mL implies a poor prognosis to death. [MKB. 2012;44(2):106–13]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.132 

Nilai Indeks Terapi Ekstrak Etanol Daun Dewa {Gynura pseudochina (Lour.) DC} dan Natrium Diklofenak pada Tikus Model Inflamasi

Donaliazarti, Donaliazarti, Sitorus, Truly, Sigit, Josep I., Sudjatno, Muchtan

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indeks terapi merupakan parameter keamanan obat yaitu perbandingan dosis yang menyebabkan kematian pada 50% hewan uji (DL50) dengan dosis yang menghasilkan efek terapi pada 50% hewan uji (DE50). Inflamasi merupakan proses dasar berbagai penyakit dan daun dewa {Gynura pseudochina (Lour.) DC} merupakan salah satu tanaman obat yang terbukti sebagai antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks terapi ekstrak etanol daun dewa dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang banyak digunakan yaitu natrium diklofenak. Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi Klinik Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada bulan Agustus–Oktober 2009. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental laboratorium dengan rancangan acak lengkap. Nilai DE50 dihitung berdasarkan kemampuan menghambat pembesaran radang sampai maksimal 75% pada jam ke-5 setelah pemberian zat. Nilai DL50 dihitung berdasarkan jumlah tikus yang mati selama 14 hari setelah diberikan dosis tunggal per oral. Berdasarkan statistik probit, DE50 ekstrak etanol daun dewa (22,78 mg/kgBB) lebih besar daripada DE50 natrium diklofenak (1,13 mg/kgBB) dan DL50 ekstrak etanol daun dewa (28,352.84 mg/kgBB) lebih besar daripada DL50 natrium diklofenak (49,41 mg/kgBB). Indeks terapi ekstrak etanol daun dewa (1.245:1) sebagai antiinflamasi lebih besar daripada indeks terapi natrium diklofenak (44:1). Simpulan, dari segi keamanan, ekstrak etanol daun dewa lebih baik daripada natrium diklofenak pada tikus model inflamasi. [MKB. 2012;44(2):90–5].Kata kunci: Antiinflamasi, daun dewa, DE50, DL50, indeks terapi, natrium diklofenakTherapeutic Index of Dewa Leaf {Gynura pseudochina (Lour.) DC} Ethanol Extract and Sodium Diclofenac in Inflammation Rat ModelTherapeutic index, a drug safety parameter, is comparation between the dose at which 50% animals are dead (LD50) and the dose at which 50% animals exhibit the specified effect (ED50). Inflammation was a basic process in various diseases and Dewa leaf {Gynura pseudochina (Lour.) DC} was one of the herbal plants which has been proved as an anti-inflammatory. This study was conducted in order to know therapeutic index of Dewa leaf ethanol extract and sodium diclofenac, a common use non steroid anti inflammation drug (NSAID). The study was conducted in the Laboratory of Clinical Pharmacology Dr. Hasan Sadikin Hospital Faculty of Medicine Padjadjaran University in August–October 2009. This study used laboratory experimental design with a complete randomized block. Median effective dose was counted based on the ability to inhibit the inflammation process until maximal 75% in fifth hour after treatment. Median lethal dose was counted based on number animals dead until 14 days after single dose with oral administration. This research showed that ED50 of Dewa leaf ethanol extract (22.78 mg/kgBW) was bigger than ED50 of sodium diclofenac (1.13 mg/kgBW) and LD50 of Dewa leaf ethanol extract (28,352.84 mg/kgBW) was bigger than LD50 of sodium diclofenac (49.41 mg/kgBW). Therapeutic index of Dewa leaf ethanol extract (1,245:1) as anti-inflammatory was bigger than therapeutic index of sodium diclofenac (44:1). In conclusion, for a safetyness Dewa leaf ethanol extract is better than sodium diclofenac in inflammationrat model. [MKB. 2012;44(2):90–5].Key words: Anti-inflammatory, dewa leaf, ED50, LD50, sodium diclofenac, therapeutic index DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.80

Perbandingan Penyembuhan Luka Bakar Derajat Dua antara Rebusan Daun Sirih dan Moist Exposed Burn Ointment

Ihsan, - ( SMF Bedah Rumah Sakit Umum Daerah Al Ihsan ) , Hasibuan, Lisa ( Departemen Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Lukman, Kiki ( Departemen Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan obat topikal merupakan salah satu faktor utama dalam terapi luka bakar. Moist exposed burn ointment (MEBO) menjadi standar pengobatan luka bakar di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, tidak setiap tempat di Indonesia dapat mempergunakannya. Daun sirih sudah menjadi obat tradisional untuk pengobatan luka, termasuk luka bakar. Penelitian eksperimental membandingkan penggunaan rebusan daun sirih, MEBO, dan NaCl fisiologis (kontrol) dalam penatalaksanaan luka bakar derajat dua. Masing-masing kelompok terdiri atas 10 ekor tikus (Wistar sp.). Penelitian dilakukan selama 14 hari (25 Agustus–8 September 2009) di laboratorium hewan Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Variabel yang diukur berupa diameter luka, timbulnya pus, cairan serosa, dan eritema pada hari ke-4, 7, dan 14. Pemeriksaan histopatologik dilakukan pada hari ke-14 untuk melihat jumlah fibroblas, kolagen, dan epitel. Berdasarkan variabel diameter (kelompok daun sirih 17,4 mm) lebih kecil bermakna (p<0,001) daripada kelompok lainnya. Timbulnya pus kelompok kontrol bermakna dibandingkan dengan kelompok lainnya (p=0,043). Pemeriksaan patologi anatomi memperlihatkan kelompok kontrol dalam fase inflamasi, kelompok rebusan daun sirih dalam fase proliferasi, dan kelompok MEBO dalam fase remodeling (skor epitelisasi kelompok MEBO 1,9) berbeda bermakna (p<0,001). Simpulan, penggunaan rebusan daun sirih pada luka bakar derajat dua memberikan proses penyembuhan luka yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan NaCl fisiologis, tetapi tidak sebaik penggunaan MEBO. [MKB. 2012;44(2):63–9].Kata kunci: Luka bakar, moist exposed burn ointment, sirihThe Comparison of Second Degree Burn Injury Wound Healing between Boiled Piper Betle Leaves and Moist Exposed Burn OintmentThe use of topical agent is one of the main strategies in management of burn injury. At Dr. Hasan Sadikin Hospital, moist exposed burn ointment (MEBO) is the first line topical agent for treating burn injury, not all places in Indonesia able to use it. Piper betle is one of the traditional agent to treat wound including that caused burn injury. Our experimental study was to compare the second grade burn injury healing process by using Wistar sp. for boiled piper betle leaves, MEBO and as control physiologic sodium chloride for fourteen days (August 25th–September 8th 2009) at Animal Pharmacology Laboratory of Faculty of Medicine Padjadjaran University. The variables which measured were diameter of injury, pus development, evidence of serous and erythematous skin, at 4th, 7th and 14th day of studied. Histopathologic examination was conducted at day 14 to determine the amount of fibroblast, collagen and epithelial. The results according to the measurement of diameter (piper betle leaves group 17.4 mm) was smaller than other groups (p<0.001). In pus development control group was higher than other groups (p=0.043). In pathological findings, the control group was at inflammation phase, while in boiled piper betle leaves group was at proliferation phase and in MEBO group at remodeling phase (with epithel score 1.9 which higher than other groups (p<0.001)). In conclusions, application of boiled piper betle leaves in treating second degree burn injury gives a better result than physiologic sodium chloride, although MEBO is better for second degree burn injury healing process. [MKB. 2012;44(2):63–9].Key words: Moist exposed burn ointment, piper betle, second degree burn injury DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.81

Faktor yang Memengaruhi Kandungan E. coli Makanan Jajanan SD di Wilayah Cimahi Selatan

Riyanto, Agus ( Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Ahmad Yani Cimahi ) , Abdillah, Asep Dian ( Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Ahmad Yani Cimahi )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1491.522 KB)

Abstract

Data dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa 45% produk pangan olahan di lingkungan Sekolah Dasar (SD) tercemar oleh bahan berbahaya mulai dari fisik, kimiawi, maupun mikrobiologi. Dari studi pendahuluan didapatkan bahwa masih banyak makanan jajanan di SD wilayah Cimahi Selatan yang tidak memenuhi syarat kebersihan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang memengaruhi kandungan E. coli makanan jajanan SD. Desain penelitian yang digunakan potong lintang. Uji chi-kuadrat digunakan untuk menganalisis hubungan antar variabel dan analisis multivariat untuk melihat faktor dominan yang memengaruhi kandungan E. coli makanan jajanan dengan uji regresi logistik ganda. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 96 pedagang makanan jajanan di SD, teknik pengambilan sampel dengan cara acak sederhana. Penelitian dilakukan di SD wilayah Cimahi Selatan November 2010−Januari 1011. Hasil penelitian didapatkan bahwa faktor yang memengaruhi kandungan E. coli makanan jajanan SD yaitu kebersihan orang yang mengolah makanan (p=0,013), peralatan (p=0,033), bahan makanan (p=0,050), dan sarana penjualan (p=0,050). Variabel yang tidak memengaruhi yaitu penyajian makanan (p=0,381), pada analisis multivariat sarana penjualan makanan mempunyai Prevalency Odd Ratio (POR) paling tinggi (16,8). Simpulan, faktor yang dominan memengaruhi kandungan E. coli makanan jajanan SD yaitu sarana penjualan makanan. [MKB. 2012;44(2):77–82].Factors Affecting E. coli Content of Street Food at Elementary Schoolin South CimahiBased on Food and Drug Control Agency (FDA) data stated that 45% processed food product at the elementary school environment were contaminated with physical, chemical and microbiological dangerous substances. From previous study it was stated that many street food at elementary school in South Cimahi area did not qualify for food hygiene. This research was aim to know the factors affecting E. coli content of street food at elementary schools. The research design used was cross sectional. Chi-square test was used for statistical analysis of correlation between variables and multivariate analysis to see the dominant factors affecting E. coli content of street food by using multiple logistic regression. The samples were 96 street food traders at elementary schools, chosen by simple random sampling. Study was conducted at elementary school in South Cimahi in period November 2010−January 2011.The results showed that factors which correlate with E. coli content of street food at elementary school were the food processor persons hygiene (p=0.013), instruments (p=0.033), food materials (p=0.050) and the trade facilities (p=0.050). The variable that had no correlation was the food service (p=0.381), in the multivariate analysis food trader facilities had the highest Prevalency Odd Ratio (16.8). In conclusion, dominant factor that correlated to E. coli content of street food is food trader facilities. [MKB. 2012;44(2):77–82]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.127

Skrining Gangguan Dengar pada Pekerja Salah Satu Pabrik Tekstil di Bandung

Dewi, Yussy Afriani ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Anggraeni Agustian, Ratna ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1454.28 KB)

Abstract

Pabrik tekstil di Indonesia merupakan sumber devisa yang penting untuk negara karena jumlahnya yang cukup banyak. Para pekerja pabrik mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya gangguan dengar. Bunyi dengan intensitas yang cukup kuat (>85 dB) dalam waktu yang cukup lama dapat menyebabkan hilangnya pendengaran, baik sementara maupun tetap. Bila hal ini tidak mendapatkan perhatian yang serius maka dapat mengakibatkan dampak yang tidak diinginkan. Hal ini tidak sesuai dengan tujuan pembangunan kesehatan bangsa Indonesia, Garis-garis Besar Haluan Negara 1998 dalam Pelita IV yang mengarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia serta usia harapan hidup. Tujuan penelitian untuk mengetahui prevalensi gangguan dengar yang terjadi serta jenis dan derajat ketulian pada pekerja di salah satu pabrik tekstil di Majalaya kabupaten Bandung Jawa Barat. Subjek berjumlah 109 orang pekerja terdiri atas 47 orang laki-laki dan 62 orang perempuan yang dipilih secara total sampling, mulai tanggal 26 Agustus sampai 9 September 2004 dengan penelitian bersifat deskriptif potong lintang. Dilakukan anamnesis dengan pengisian kuesioner, pemeriksaan fisis telinga, dan pemeriksaan audiometri nada murni. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi gangguan dengar pada laki-laki 68,1% lebih banyak bila dibandingkan dengan perempuan 37,2%. Jenis gangguan dengar terbanyak akibat bising 41% kemudian gangguan dengar tipe sensori-neural 32%, tipe konduktif 23%, dan tipe campuran 4%. Prevalensi derajat gangguan dengar ringan 46,8%; sedang 3,7%; dan berat 0,9%. Simpulan, gangguan dengar yang sering ditemukan pada pekerja pabrik yaitu gangguan dengar yang diakibatkan oleh bising. [MKB. 2012;44(2):96–100].Kata kunci: Gangguan dengar, pekerja pabrik tekstil Hearing Test Screening at One of the Textile Factory Workers in BandungTextile factory in Indonesia is an important source of foreign exchange for the country because the numbers were quite a lot. The factory workers have a high risk for the occurrence of hearing disorders. Sound intensity more than 85 dB in a long time could cause hearing loss, both temporary or permanent. If this does not get serious attention, it can results in adverse effects. It is not in accordance with the objective of the development of Health of Indonesia, Outlines of State Policy 1998 to improve community health status and quality of human resources and life expectancy. The objective of this study was to determine the prevalence, degree and type of hearing loss in one of textile factory workers in Majalaya Bandung West-Java. Subjects were 109 workers, consisted of  47 males and 62 females, chosen by total sampling. Sampling was due in August 26 until September 9, 2004. The study design was descriptive cross-sectional. Data was obtained from anamnesis with questionnaire, otologic examination and pure tone audiometry evaluation. The results showed  that hearing loss was more common in male subjects 68.1% compared to female subjects 37.2%. The most common hearing loss was noise induced 41%, followed by sensorineural 32%, conductive 23%, mixed type hearing loss 4%. The prevalence of mild hearing loss was 46.8%, moderate 3.7% and severe 0.9%. In conclusion, hearing disorder which is frequently found in the factory workers is noise-induced hearing loss. [MKB. 2012;44(2):96–100].Key words: Hearing loss, textile factory workers  DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.82 

Efek Hepatoprotektif Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) pada Tikus Model Hepatitis

Husen, Ike Rostikawati ( Departemen Farmakologi & Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung ) , Sastramihardja, Herri S. ( Departemen Farmakologi & Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1171.802 KB)

Abstract

Hepatitis disebabkan oleh polutan yang menimbulkan stres oksidatif. Secara tradisional rosella (Hibiscus sabdariffa L.) mengandung flavonoid, suatu antioksidan yang digunakan untuk mengobati penyakit hati. Penelitian bertujuan menentukan efek hepatoprotektif ekstrak etanol bunga rosella segar (EEBRS) terhadap kadar malondialdehid (MDA) hati, serum glutamic piruvic transaminase (SGPT), dan kerusakan morfologi hepatosit tikus model hepatitis dibandingkan dengan efek vitamin E. Telah dilakukan penelitian ekperimental laboratorik di Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Agustus 2009 dengan menggunakan 25 ekor tikus Wistar jantan dibagi dalam 5 kelompok. Kelompok 1/kontrol negatif, kelompok 2/kontrol positif (model hepatitis-karbon tetraklorida/CCl4), kelompok 3 dan 4 merupakan model hepatitis yang selama 8 hari sebelumnya mendapat EEBRS 125 mg/kgBB/hr (kelompok 3) dan vitamin E 2,7 IU/hari per oral (kelompok 4), sedangkan kelompok 5 mendapat EEBRS. Pengamatan dilakukan 48 jam setelah induksi dengan CCl4. Analisis statistik menggunakan uji analysis of varian (ANOVA) dan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EEBRS mencegah kenaikan kadar MDA hati dan SGPT, berbeda secara bermakna dibandingkan dengan kontrol positif (MDA p=0,00; SGPT p=0,041) dan tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan kelompok 4 (MDA p=1,00; SGPT p=0,192). Gambaran histopatologi hati kelompok 3 berupa vakuolisasi makrovesikular, pada tikus model hepatitis berupa vakuolisasi mikrovesikular, sedangkan vitamin E menghambat kerusakan morfologi. Simpulan, EEBRS memiliki efek hepatoprotektif sebagai antioksidan pada tikus model hepatitis namun efeknya tidak lebih baik dibandingkan dengan vitamin E. [MKB. 2012;44(2):83–9].Kata kunci: Hepatosit, MDA, rosella, SGPT The Hepatoprotective Effect of Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) on Hepatitis Model Rats Hepatitis is initiated by pollutant which caused oxidative stress. Rosella (Hibiscus sabdariffa L.) contain flavonoid, an antioxidant which has been used traditionally in treating liver disease. The study aims to define the hepatoprotective effects of fresh rosella calyx ethanol extract (FRCEE) on hepatitis model rats with liver malondialdehyde (MDA) and serum glutamic piruvic transaminase (SGPT) level and hepatocyte morphology damage compared to vitamin E’s effects. The laboratory experimental study has been conducted on August 2009 at Department Pharmacology and Therapy Faculty of Medicine Padjadjaran University/Dr. Hasan Sadikin Hospital in 25 male Wistar rats, divided into 5 groups. Group 1 was negative control, group 2 was positive control (carbon tetrachloride/CCl4-hepatitis model rats), group 3 and 4 were hepatitis model rats that subsequently given 125 mg/kgBW of FRCEE (group 3) and 2.7 IU of vitamin E (group 4) for 8 days; group 5 was given FRCEE. Observations were done 48 hours after CCL4 induction. The results were analyzed by analysis of varian (ANOVA) and Tukey. The result showed that FRCEE inhibited increasing of liver MDA and SGPT level significantly different compared to positive control (MDA p=0.00, SGPT p=0.041) but not significantly different to group 4 (MDA p=1.00, SGPT p=0.192). Histological features showed macrovesicular on group 3, microvesicular vacuole on group 2; whereas vitamin E inhibited morphological damage. In conclusion, FRCEE has hepatoprotective effect on hepatitis model rats as antioxidant, but not superior compared to vitamin E. [MKB. 2012;44(2):83–9].Key words: Hepatocyte, MDA, rosella, SGPT DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.128