cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 43, No 4 (2011)
9
Articles
Tricuspid Annular Plane Systolic Excursion pada Bayi Kurang Bulan dan Cukup Bulan

Rahayuningsih, Sri Endah ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin ) , Garna, Herry ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.223 KB)

Abstract

Bayi kurang bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Dibandingkan dengan bayi yang lahir normal, bayi kurang bulan memang cenderung bermasalah. Dengan prematurnya masa gestasi, maka dapat menyebabkan ketidakmatangan pada semua sistem organ, termasuk organ kardiovaskular. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui fungsi ventrikel kanan yang diukur dengan metode tricuspid annular plane systolic excursion (TAPSE) serta fungsi ventrikel kiri dengan metode fraksi ejeksi dan fraksi pemendekan yang dilakukan dengan ekokardiografi pada bayi kurang bulan. Subjek penelitian ini bayi cukup bulan dan kurang bulan yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu bayi sesuai masa kehamilan berusia 3–30 hari. Penelitian merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang yang dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung, selama Juli–Oktober 2010 dengan analisis statistik menggunakan perhitungan uji t, korelasi rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan antara fungsi ventrikel kanan yang diukur dengan metode TAPSE bayi kurang bulan dan bayi cukup bulan (p=0,006). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara fraksi ejeksi bayi kurang bulan dan cukup bulan (p=0,22) dan fraksi pemendekan rata-rata pada bayi kurang bulan dan bayi cukup (p=0,20). Simpulan penelitian ini, ditemukan perbedaan fungsi ventrikel kanan yang diukur dengan TAPSE pada bayi kurang bulan lebih rendah dibandingkan dengan bayi cukup bulan. [MKB.2011;43(4):178–82].Kata kunci: Bayi cukup bulan, bayi kurang bulan, ekokardiografi, fungsi ventrikel kanan, TAPSETricuspidAnnular Plane Systolic Excursion in Preterm and Term BabiesA preterm infant is a baby born with gestational age less than 37 weeks. Preterm babies tend to have problems compared to normal ones. Premature gestational age might result in immaturity of all organ systems of the body including cardiovascular organs. The aim of this study was to find out the right ventricle function by tricuspid annular plane systolic excursion (TAPSE) and left ventricle by ejection fraction and shortening fraction using echocardiography on preterm babies. The subject of this study were term and preterm babies who fulfilled the inclusion criteria: appropiate gestational age babies 3–30 days old. This was an analytic descriptive study with cross-sectional method held in Department of Child Health Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during July–October 2010, and statistical analysis using t–test Spearman rank correlation test. The result of the study showed that the right ventricle function examined by TAPSE method was different on preterm compared to term babies(p=0.006). No significant difference was found in the ejection fraction between preterm and term babies (p=0.22) and so did the shortening fraction (p=0.20). It was concluded that there is a difference in the right ventricle function by TAPSE method between preterm (lower) and term babies. [MKB. 2011;43(4):178–82].Key words: Echocardiography, preterm baby, right ventricle function, TAPSE, term baby

Efek Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.) dan Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap Sensitivitas Insulin pada Tikus Galur Wistar

Sovia, Evi ( Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, jalan Ganesa 10 Bandung 40132 ) , Sukandar, Elin Yulinah ( Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, jalan Ganesa 10 Bandung 40132 ) , Sigit, Joseph I. ( Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, jalan Ganesa 10 Bandung 40132 ) , N. Sasongko, Lucy Dewi ( Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, jalan Ganesa 10 Bandung 40132 )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.838 KB)

Abstract

Ekstrak kunyit dan bawang putih telah diketahui mempunyai efek antidiabetik, tetapi mekanisme kerjanya belum diketahui. Penelitian ini mengamati efek tiga ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dan bawang putih (Allium sativum L.), yaitu ekstrak heksan, etil asetat, dan etanol terhadap kadar glukosa darah dengan tes toleransi glukosa. Selanjutnya, ekstrak yang paling efektif dan komponen aktifnya (kurkuminoid dan S-metil sistein) diuji dengan tes toleransi insulin. Empat puluh ekor tikus galur Wistar dibagi menjadi 8 kelompok, yaitu kelompok normal, kelompok yang hanya diberi emulsi tinggi lemak (kontrol), dan sisanya selain diberi emulsi tinggi lemak juga masing-masing diberi ekstrak kunyit dengan dosis 50 mg/kgBB, ekstrak bawang putih dengan dosis 50 mg/kgBB, kurkuminoid dengan dosis 25 mg/kgBB, S-metil sistein dengan dosis 25 mg/kgBB, kombinasi ekstrak kunyitbawang putih dengan dosis masing-masing 25 mg/kgBB, dan kombinasi kurkuminoid-S-metil sistein dengan dosis masing-masing 12,5 mg/kgBB selama 10 hari. Resistensi insulin dievaluasi dengan tes toleransi insulin.Penelitian dilakukan pada bulan Agustus–Oktober 2010 di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) InstitutTeknologi Bandung (ITB). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KTTI (konstanta tes toleransi insulin) hewankelompok ekstrak bawang putih (7,2±0,84), kurkuminoid (7,14±0,74), dan kombinasi kurkuminoid-S-metil sistein(7,46±0,64) secara bermakna (p<0,05) lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol positif (3,2±1,92).Simpulan, ekstrak bawang putih, kurkuminoid, dan kombinasi kurkuminoid-S-metil sistein meningkatkan sensitivitas insulin. [MKB. 2011;43(4):153–9].Kata kunci: Ekstrak bawang putih, ekstrak kunyit, tes sensitivitas insulin Effect of Turmeric Extract (Curcuma longa L.) and Garlic Extract (Allium sativum L.) on Insulin SensitivityStudies have shown the antidiabetic effect of turmeric and garlic. However their mechanism of action remain unknown. In this study, we investigated the effect of three turmeric (Curcuma longa L.) and garlic extracts (Allium sativum L.), that are, hexane, ethyl acetate and ethanol extract on blood glucose levels with glucose tolerance test. Furthermore the most effective extracts and its active compound (curcuminoid and S-methyl cysteine) tested with insulin tolerance test. Forty Wistar rats were divided into 8 groups that was normal group, group that treated with a high fat emulsion (control group) and remaining groups were treated with a high fat emulsion and turmeric extract 50 mg/kgBW, garlic extract 50 mg/kgBW, curcuminoid 25 mg/kgBW, S-methyl cysteine 25 mg/kgBW, turmeric-garlic extract combination each 25 mg/kgBW and curcuminoid-S-methyl cysteine combination each 12,5 mg/kgBW for 10 days. Insulin resistance was evaluated by insulin tolerance test. This study conducted from August–October 2010 at Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB). Results of this study showed that insulin tolerance test constanta (KITT) were bigger in animals that treated with garlic extract (7.2±0.84), curcuminoid (7.14±0.74) and combination of curcuminoid-S-methyl cysteine (7.46±0.64) compared with positive control group (3.2±1.92). In conclusions garlic extract, curcuminoid and combination of curcuminoid and S-methyl cysteine improve insulin sensitivity. [MKB. 2011;43(4):153–9]Key words: Garlic extract, insulin sensitivity test, turmeric extract

Peran Lem Fibrin Otologus pada Penempelan Tandur Konjungtiva Bulbi Mata Kelinci terhadap Ekspresi Gen Fibronektin dan Integrin

Enus, Sutarya ( Departemen Ilmu Kesehatan Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Mata Cicendo ) , Natadisastra, Gantira ( Departemen Ilmu Kesehatan Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Mata Cicendo ) , Shahib, M. Nurhalim ( Departemen Bio Kimia Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Sulaeman, Rachmat ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (731.448 KB)

Abstract

AbstrakPenempelan jaringan dan penyembuhan luka pada cangkok konjungtiva lebih cepat pada teknik lem fibrin otologus (LFO) dibandingkan dengan teknik jahitan. Kedua proses tersebut memerlukan interaksi fibronektin (FN) dan integrin α5 yang mengaktivasi alur persinyalan intraselular. Tujuan penelitian untuk menentukan kekuatan ekspresi gen FN serta integrin α5 pada kelompok teknik LFO dan jahitan. Uji eksperimental hewan pada kelinci New Zealand White yang terbagi kelompok teknik LFO dan jahitan masing-masing 8 kelinci bertempat di Laboratorium Sentral (Biologi Molekuler) FK Unpad Bandung, periode Mei–Oktober 2008. Sampel jaringan untuk pemeriksaan reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) diambil dari eksterpasi satu hari sesudah jaringan cangkok konjungtiva bulbi. Analisis data untuk uji hipotesis dengan Mann Whitney for small sample. Ekspresi gen messenger ribonucleic acid (mRNA) FN secara bermakna lebih kuat pada teknik LFO dibandingkan dengan teknik jahitan (1,9 vs 1,0; p=0,014). Tidak terdapat perbedaan bermakna ekspresi gen (mRNA) integrin α5 antara teknik LFO dan teknik jahitan (1,2 vs 1,0; p=0,235). Sebagai simpulan ekspresi gen FN lebih kuat pada teknik LFO dibandingkan dengan jahitan, sedangkan ekspresi gen integrin α5 pada teknik LFO lebih kuat dibandingkan dengan teknik jahitan namun secara statistik tidak bermakna satu hari pascabedah. [MKB. 2011;43(4):183–8].Kata kunci: Fibronektin, integrin α5, lem fibrin otologus, RT-PCRThe Role of Autologous Fibrin Glue on Attachment Rabbit Conjungtival Graft Based on Fibronectin and Integrin Gene ExpressionThe tissue attachment and wound healing in conjunctional transplantation was more rapid with autologous fibrin glue (AFG) than suture techniques. Both tissue attachment and wound healing process need interaction between fibronectin (FN) dan integrin α5 activating the intra cellular signal transduction pathway. The aim of this study was to evaluate the gene expression, i.e. FN and integrin in conjunctival transplantation, comparing between AFG and suturing techniques. Animal experimental study was done in New Zealand White rabbits, which divided into AFG and suturing technique at Laboratorium Sentral (Biologi Molekuler) FK Unpad Bandung during May–October 2008, each 8 rabbits, respectively. The tissue sample for reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) examination was taken from the tissue excision one day after conjunctival bulbi transplantation. Data analysis was tested using Mann Whitney for small sample. The FN gene expression power of messenger ribonucleic acid (mRNA) in the AFG technique was stronger than that in suturing technique (1.9 vs 1.0, p=0.014). There was no significant difference in integrin α5 gene expression of mRNA between AFG and suturing techniques (1.2 vs 1.0, p=0.235). In conclusions, FN gene expression in AFG technique is stronger than suturing technique. There is no difference in integrin α5 gene expression between two techniques, however there is a tendency of increased integrin α5 gene expression one day after surgery. [MKB. 2011;43(4):183–8].Key words: Autologous fibrin glue, fibronectin, integrin α5, RT-PCR

Efek Ekstrak Air Buah Pepaya (Carica papaya L.) Muda terhadap Gambaran Histologi Kelenjar Mamma Mencit Laktasi

Kharisma, Yuktiana ( Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung, jalan Hariang Banga 2 Tamansari Bandung ) , Ariyoga, Armaya ( Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung ) , Sastramihardja, Herri S. ( Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Kedokteran Dasar Universitas Padjadjaran Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.958 KB)

Abstract

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi. Menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2005,ASI eksklusif di perkotaan 4−12% dan pedesaan 4–5%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak air buah pepaya muda (Carica papaya L.) terhadap gambaran histologi kelenjar mamma laktasi. Penelitian dilakukan di laboratorium Farmakologi Klinik Unpad dan laboratorium Unit Penelitian Kesehatan RS Dr. Hasan Sadikin pada bulan Juli−September 2009. Penelitian merupakan penelitian eksperimental laboratorium terhadap 21 ekor induk mencit laktasi galur Swiss Webster, diacak menjadi 3 kelompok (n=7) dengan jumlah anak 10 ekor/induk. Kelompok I merupakan kontrol negatif. Kelompok II diberikan luteotropin 6 mg/30 g BB/hari per oral (p.o.) dan kelompok III diberikan sediaan uji 20 mg/30 g BB/hari (p.o.). Peningkatan produksi air susu diketahui melalui peningkatan jumlah dan diameter rata-rata alveoli kelenjar mamma laktasi. Perlakuan diberikan pada hari ke-4 hingga ke-16 masa menyusui. Hasil dianalisis dengan uji analysis of variance (ANOVA), dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian terhadap jumlah alveoli kelompok I: 310,57±30,16; kelompok II: 464,42±25,83 dan kelompok III: 465,14±72,41. Diameter alveoli kelenjar mamma laktasi kelompok I, II, dan III berturut-turut sebesar 296,50±21,27 μ; 394,57±53,97 μ; dan 384,29±40,40 μ. Simpulan bahwa ekstrak air buah pepaya muda memberikan efek lebih baik dibandingkan dengan kontrol negatif dan sebanding dengan luteotropin dalam meningkatkan jumlah dan diameter alveoli rata-rata kelenjar mamma laktasi. [MKB.2011;43(4):160–5].Kata kunci: Carica papaya L., histologi kelenjar mamma, produksi air susuEffect of Unripe Papaya (Carica papaya L.) Aqueous Extract on Histological Feature of Mice Lactating Mammary GlandsBreast milk is the best food for infants. Household Health Survey in 2005 showed exclusive breastfeeding were 4–12% in urban and 4–5% in rural areas. Objective of the study was to examine the effect of unripe papaya aqueous extract (Carica papaya L.) on lactating mammary glands histological appearance. The experiment was held on July–September 2009 at Padjadjaran University Clinical Pharmacology Laboratory and Health Research Unit of Dr. Hasan Sadikin Hospital in July–September 2009. A laboratorium experimental study conducted to 21 lactating Swiss Webster mice with 10 babies each. They were divided randomly into 3 groups (n=7). Group I was negative control. Group II: luteotropin 6 mg/30 g BW/day (per oral) and group III: unripe papaya aqueous extract 20 mg/30 g BW/day (per oral). Increased milk production was measured by average lactating mammary glands alveolar amounts and diameter count. Experiment started at 4th–16th lactation day. The result was analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by Tukey test. The average of alveolar amounts of group I, II and III, were 310.57±30.16, 464.42±25.83, and 465.14±72.41, respectively. The average lactating mamary glands alveolar diameter of group I: 296.50±21.27 μ, group II: 394.57±53.97 μ and group III: 384.29±40.40 μ. Research showed that unripe papaya aqueous extract has better than negative control and equivalent effect with luteotropin on lactating mammary glands histological appearance. [MKB. 2011;43(4):160–5].Key words: Carica papaya L., histological mammary glands, milk production

Paparan Debu Batubara Subkronik pada Peroksidasi Lipid dan Kadar Gula Darah Tikus Diabetes Melitus

Yuwono, Agus ( Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUD Ulin Banjarmasin, jalan Ahmad Yani Km 2, Banjarmasin, Kalimantan Selatan ) , Setiawan, Bambang ( Bagian Kimia Kedokteran RSUD Ulin Banjarmasin ) , Kania, Nia ( Bagian Patologi Anatomi RSUD Ulin Banjarmasin, Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru ) , Widodo, M. Aris ( Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.448 KB)

Abstract

Di Kalimantan Selatan, prevalensi penderita diabetes melitus sebesar 11,1%. Kalimantan Selatan merupakan provinsi dengan tambang batubara tersebar di seluruh wilayah. Hal ini menjadikan penderita diabetes melitus terpapar debu batubara. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur peroksidasi lipid akibat paparan debu batubara subkronik dan pengaruhnya pada kadar gula darah tikus diabetes melitus. Kelompok penelitian meliputi tikus Wistar diabetes melitus (P1), kelompok diabetes melitus + paparan debu batubara dosis 12,5 mg/m3 1 jam/hari selama 28 hari (P2), dan kelompok diabetes melitus + paparan debu batubara dosis 25 mg/m3 1 jam/hari selama 28 hari (P3), masing-masing 6 ekor. Penelitian dilakukan mulai Agustus–Oktober 2010. Uji analysis of variance (ANOVA) terhadap kadar malondialdehid (MDA) plasma tidak didapatkan peningkatan secara bermakna antara kelompok perlakuan (p>0,05). Penurunan kadar gula untuk P1, P2, dan P3 berturut-turut sebesar 23,6%, 16,9%, dan 9,3%. Analisis uji t tidak berpasangan terhadap kadar gula darah tidak didapatkan perbedaan bermakna sebelum dan setelah perlakuan pada semua kelompok (p>0,05). Tidak terdapat korelasi antara kadar MDA plasma dan kadar gula darah setelah perlakuan pada berbagai kelompok (p>0,05). Disimpulkan bahwa paparan debu batubara subkronik tidak meningkatkan peroksidasi lipid yang mempengaruhi kadar gula darah pada tikus diabetes melitus dan tidak ada korelasi antara kadar MDA dan glukosa darah. [MKB. 2011;43(4):189–92].Kata kunci: Debu batubara, diabetes melitus, hiperglikemia, peroksidasi lipidSubchronic Coal Dust Exposure on Lipid Peroxidation and Blood Glucose Level in Diabetes Mellitus RatIn South Kalimantan, prevalence of diabetes mellitus was 11.1%. South Kalimantan is a province with coal mine spread in all districts. This condition induce coal dust exposure on diabetes mellitus patients. Aim of this study was to measure lipid peroxidation by subchronic coal dust exposure and its effect on glucose level in Wistar rats model of diabetes mellitus. Group included diabetes mellitus Wistar rats (P1), diabetes mellitus + coal dust exposure at dose 12.5 mg/m3 1 hour/day for 28 days (P2) and diabetes mellitus + coal dust exposure at dose 25 mg/m3 1 hour/day for 28 days (P3) on 6 rats, respectively. This research was done from August–October 2010. Analysis of variance (ANOVA) test concluded no significant differently on increased plasma malondialdehyde (MDA) level between all groups (p>0.05). Percentage of blood glucose level decreased 23.6%, 16.9% and 9.3% for P1, P2, P3 group, respectively. Unpaired t test concluded that blood glucose level were not significant differently between pre and post treatment in all groups (p>0.05). There was no correlation between plasma MDA level and blood glucose level in all groups of exposure (p>0.05). In conclusions, that subchronic coal dust exposure doesn’t increase lipid peroxidation and no effect on blood glucose level in diabetes mellitus rats and no correlation between MDA dan blood glucose level. [MKB. 2011;43(4):189–92].Key words: Coal dust, diabetes mellitus, hyperglycemia, lipid peroxidation

Ekspresi Bcl-2 dan Caspase-3 Pascapaparan Hipoksia Hipobarik Intermiten

Hidayat, Achmad ( Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa Dr. Saryanto (Lakespra Saryanto), jalan MT Haryono Ka 26 Jakarta Selatan, ) , Wiradisastra, Kahdar ( Departemen Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Hernowo, Bethy S. ( Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Achmad, Tri Hanggono ( Departemen Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (767.491 KB)

Abstract

Hipoksia hipobarik intermiten sering dialami oleh awak pesawat, karena selama di dalam kabin pesawat bernapas dengan tekanan udara yang lebih rendah. Tubuh akan beradaptasi dengan cara mengikat oksigen lebih banyak dan juga mengurangi dampak hipoksia. Fungsi mitokondria akan terganggu pada hipoksia, yaitu permiabilitas membran luar mitokondria karena protein Bcl-2 menurun. Jika hipoksia berlanjut akan terjadi kebocoran membran mitokondria, pelepasan sitokrom-c, dan proses apoptosis berlangsung. Penelitian ini bertujuan menganalisis protein Bcl-2 sebagai antiapoptosis dan caspase-3 sebagai indikator apoptosis akibat paparan hipoksia hipobarik intermiten. Dilakukan penelitian eksperimental pada tikus jantan Spraque Dawley periode Januari–April 2010 dengan melakukan paparan hipoksia hipobarik intermiten satu sampai empat kali dengan interval satu minggu. Jantung tikus dijadikan spesimen untuk dilakukan pemeriksaan ekspresi protein dengan pulasan imunohistokimia di Departemen Patologi Anatomi RS Dr. Hasan Sadikin Bandung dan western blot di Bagian Biomolekuler FK Universitas Indonesia Jakarta. Ekspresi protein Bcl-2 meningkat sesuai dengan frekuensi paparan hipoksia hipobarik intermiten, sebaliknya ekspresi protein caspase-3 menurun (rs=-0,448, p=0,013). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan tingkat apoptosis akibat paparan hipoksia hipobarik intermiten, hal ini disebabkan mekanisme adaptasi natural yang ditandai dengan menurunnya apoptosis sel dan secara tidak langsung akan memberi efek kardioprotektif. [MKB. 2011;43(4):166–70].Kata kunci: Apoptosis, Bcl-2, caspase-3, hipoksia hipobarik intermitenBcl-2 and Caspase-3 Expression Post Exposure of Intermittent Hypobaric HypoxiaIntermittent hypobaric hypoxia often suffered by cabin crew due to the fact that they are breathing lower pressured air inside the plane cabin. Human body will adapt by binding more oxygen and reducing hypoxia effect. Mitochondria function will be irritated by hypoxia which affect, outer mithochondrial membrane permeability due to decrease of Bcl-2 protein. Later on if hypoxia continues mitochondrial membrane will leaked cytocrome-c will released and apoptotic pathway will occur. The purpose of this study was to analyze Bcl-2 protein as antiapoptosis and caspase-3 as apoptosis indicator of intermittent hypobaric hypoxia exposure. Experimental study >was subjected to Spraque Dawley male mice during January–April 2010 by exposing them to several intermittent hypobaric hypoxias (one to four treatment) in an interval of one week. Protein expression on mice heart cell were detected by immunohistochemistry in the Department of Pathology Anatomy Padjadjaran University-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung and western blot methods in Department Biomolecullar Indonesia University Jakarta. Bcl-2 protein expressions increased according with the frequency of intermittent hypobaric hypoxia exposures while a reverse trend was found for caspase-3 protein expressions (rs=-0.448, p=0.013). From the study it can be concluded that apoptosis will be decreased as a result of intermittent hypobaric hypoxia exposures, which occurred from natural adaptation mechanism indicated by decrease of cell apoptosis and cardio protective effect will be emerged. [MKB. 2011;43(4):166–70].Key words: Apoptosis, Bcl-2, caspase-3, intermittent hypobaric hypoxia

Mutasi Gen NPHS2 (412C→T, 419delG) dan Manifestasi Klinis Sindrom Nefrotik Resisten Steroid Anak Indonesia

Rachmadi, Dedi ( Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Hilmanto, Dany ( Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Idjradinata, Ponpon ( Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Sukadi, Abdurahman ( Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.101 KB)

Abstract

AbstrakSindrom nefrotik resisten steroid (SNRS) karena mutasi gen nephrotic syndrome type 2 (NPHS2) mempunyai manifestasi klinis lebih berat dibandingkan dengan SNRS tanpa mutasi gen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutasi gen NPHS2 (412C→T, 419delG) pada SNRS anak Indonesia dan melihat perbedaan manifestasi klinisnya. Penelitian ini berupa observasional potong silang pada 88 penderita SNRS yang diambil secara consecutive admission dari 10 rumah sakit pendidikan di Indonesia, periode September 2006–Desember2007. Analisis mutasi 412C→T dan 419delG diperiksa dengan polymerase chain reaction. Analisis statistik menggunakan multivariat dan uji chi-square. Dari 88 SNRS didapat 58 (66%) mutasi 412C→T dan 69 (78%) mutasi 419delG. Hasil analisis multivariat variabel interval manifestasi klinis (tekanan darah sistol dan diastol, kadar kreatinin serum, usia serangan pertama, dan pertumbuhan) antara kelompok mutasi gen 412C→T, 419delG dan kelompok tanpa mutasi gen didapatkan masing-masing F=0,316; p=0,902 dan F=0,651; p=0,662. Hasil analisis univariat dari variabel nominal manifestasi klinis sebagai berikut: hematuria, p=0,231(0,726); hipertensi, p=0,286 (0,741); usia serangan pertama, p=0,372 (0,304); pertumbuhan skor Z, p=0,087 (0,595), dan kreatinin serum p=0,049 (0,080). Tidak terdapat perbedaan manifestasi klinis antara penderita SNRS dengan mutasi genNPHS2 (412C→T, 419delG) dan penderita SNRS tanpa mutasi gen, kecuali kadar kreatinin serum pada penderita SNRS dengan mutasi gen 412 C→T. [MKB. 2011;43(4):193–8].Kata kunci: Manifestasi klinis, mutasi gen NPHS2 (412C→T, 419delG), sindrom nefrotik resisten steroid NPHS2 (412 C→T and 419delG) Gene Mutation and Their Clinical Manifestation in Indonesian Steroid-Resistant Nephrotic SyndromeSteroid resistant nephrotic syndrome (SRNS) due to nephrotic syndrome type 2 (NPHS2) gene mutation has more severe clinical manifestation than those without mutation. This study was designed to find NPHS2 gene mutation in 412C→T and 419delG in Indonesian SRNS and to see differences in clinical manifestation. The observational cross sectional study was performed on 88 SRNS. Subjects were taken consecutively from 10 teaching hospitalsin Indonesia during September 2006 to December 2007. Analysis for 412 C→T and 419delG mutations were examined by polymerase chain reaction. Multivariate and chi-square-test analysis were used. Of 88 SNRS, 58 (66%) with 412 C→T and 69 (78%) with 419delG mutations. Multivariate analyses for interval variable of clinical manifestations (systolic and diastolic blood pressure, serum creatinin level, age of onset and growth) between SRNS with NPHS2 412C→T, 419delG mutation and SRNS without mutation were F=0.316, p=0.902 and F=0.651, p=0.662, respectively. While univariate analyses for nominal variable of clinical manifestation were as follow: hematuria, p=0.231 (0.726); hypertension, p=0.286 (0.741); age of onset, p=0.372 (0.304); Z-score growth, p=0.087 (0.595) and serum creatinin, p=0.049 (0.08). There is no difference of clinical manifestation between SRNS with NPHS2 412C→T, 419delG mutation and SRNS without mutation, except on serum creatinin in 412C→T mutation. [MKB. 2011;43(4):193–8].Key words: Clinical manifestation, NPHS2 (412C→T, 419delG) gene mutation, steroid resistant nephroticsyndrome

Uji Fungsional dan Karakteristik Sel Punca Hematopoetik Hasil Isolasi dari Darah Tali Pusat Manusia Menggunakan Metode Modifikasi Unpad- Aster

Djuwantono, Tono ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Wirakusumah, Firman F. ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Septiani, Leri ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Kristina, Ike ( Grup Peneliti Sel Punca, Unit Penelitian Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Natalia, Devi ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Halim, Danny ( Grup Peneliti Sel Punca, Unit Penelitian Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Faried, Ahmad ( Grup Peneliti Sel Punca, Unit Penelitian Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.636 KB)

Abstract

Metode isolasi sel-sel mononuklear/mononuclear cells (MNCs) dari darah tali pusat (DTP) manusia secara konvensional menghasilkan tingkat kontaminasi sel eritrosit yang sangat tinggi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah menilai perbedaan viabilitas dan kontaminasi sel eritrosit dalam populasi MNC DTP pada modifikasimetode isolasi yang kami kembangkan. Penelitian ini juga bertujuan untuk menguji fungsi dan karakteristik populasi MNCs dari DTP manusia sebagai dasar pembangunan bank darah tali pusat di Indonesia. Penelitian dilakukan di Departemen Obstetri dan Ginekologi RS Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari–Oktober 2010. Isolasi MNCs dengan metode modifikasi (dinamakan modifikasi Unpad-Aster) yang menghasilkan 5,1x106 sel/mL memiliki tingkat kontaminasi sel eritrosit yang lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional. Morfologi sel yang dibiakkan dalam medium unrestricted somatic stem cells (USSCs) tampak seperti sel-sel yang adheren (menempel di dasar), berbentuk sel spindle, dengan cluster of differentiation-90 (CD-90) (antigen leukosit) dan cluster of differentiation-105 (CD-105) yang positif serta dapat berdiferensiasi menjadi sel neuron dan adiposit; sedangkan morfologi untuk cord blood-derived multipotent progenitor cells (CB-MPCs) tampak seperti sel-sel fibroblas dengan cluster of differentiation-45 (CD-45) (antigen hematopoetik) yang positif serta dapat berdiferensiasi menjadi sel neuron. Disimpulkan bahwa metode modifikasi Unpad-Aster memberikan tingkat kontaminasi eritrosit yang lebih rendah dibandingkan dengan metode konvensional. Sel mononuklear yang berasal dari darah tali pusat ini dapat berdiferensiasi menjadi sel-sel neuron dan adiposit. [MKB. 2011;43(4):171–7].Kata kunci: Darah tali pusat (DTP), diferensiasi, karakterisasi, modifikasi Unpad-Aster, sel mononuklearFunctional Test and Characteristic of Hematopoietic Stem Cells Derived from Human Umbilical Cord Blood Using Unpad-Aster’s Modified MethodThe conventional method of mononuclear cells (MNCs) isolation from human umbilical cord blood (UCB) yielded high erythrocyte contamination level. Therefore, the aim of this study was to assess the differences of cell viability and erythrocyte contamination on the population of UCB MNCs in our modified isolation method. This study was also aimed to test the function and characteristic of human MNCs derived from UCB as the basis for the development of UCB banking in Indonesia. The study was conducted in Department of Obstetry and Ginecology >RS Dr. Hasan Sadikin Bandung in period of January–October 2010. The modified isolation method (namely Unpad Aster’s modification) yielded 5.1x106 MNC cell/mL has lower erythrocyte contamination level than conventional method. The morphology of MNCs cultured in unrestricted somatic stem cells (USSCs) medium looked like adhered cells (attached at the surface of culture flask), spindle-shaped cells with positive luster of ifferentiation-90 (CD-90) (leukocyte antigen) and cluster of differentiation-105 (CD-105) and could differentiate into neuronal cells and adipocytes. While the morphology of cord blood-derived multipotent progenitor cells (CB-MPCs) looked like fibroblast cells with positive cluster of differentiation-45 (CD-45) (antigen hematopoietic) and could differentiate into neuronal cells. In conclusions, the Unpad-Aster’s modified isolation method gives lower level of erythrocyte contamination compared with conventional method. Mononuclear cells derived from UCB could differentiate into neuronal cells and adipocytes. [MKB. 2011;43(4):171–7].Key words: Characteristic, differentiation, mononuclear cells (MNCs), umbilical cord blood, Unpad-Aster modification

Polimorfisme Gen MMP-9, Ekspresi MMP-9, dan Indeks Apoptosis Sel Serviks pada Kehamilan 21–36 Minggu

Sabarudin, Udin ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Mose, Johanes C. ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Krisnadi, Sofie R. ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (723.386 KB)

Abstract

Ekspresi berlebihan serta aktivasi beberapa matriks metaloproteinase (MMP) sebelum persalinan mengarah pada degradasi jaringan amnion korion yang secara klinis disebut ketuban pecah dini (KPD). Peningkatan aktivitas MMP akibat polimorfisme gen matrik metaloproteinase-9 (MMP-9) (C-1562T) akan diikuti oleh apoptosis. Penelitian ini bertujuan mencari perbedaan ekspresi MMP-9, indeks apoptosis (IA) sel serviks, serta polimorfisme gen MMP-9 (C-1562T) pada kehamilan 21–36 minggu tanpa dan disertai KPD. Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol yang dilakukan di RS Dr. Hasan Sadikin dan RS jejaring Bandung (Mei−November 2009). Tidak terdapat hubungan bermakna antara ekspresi MMP-9 dan IA sel serviks dengan setiap variabel pada kedua kelompok. Tiga kasus KPD ditemukan pada ibu berusia di bawah 20 tahun. Usia kehamilan 28−34 minggu memiliki peluang mengalami KPD lebih besar dibandingkan dengan usia kehamilan 21−28 minggu. Ibu hamil dengan indeks massa tubuh (IMT) 19–26 memiliki risiko mengalami KPD. Hanya terdapat satu sampel yang menunjukkan polimorfisme MMP-9 (C-1562T) di kelompok kehamilan 21–36 minggu disertai KPD. Dapat disimpulkan, tidak ditemukan hubungan bermakna antara ekspresi MMP-9 dan IA sel serviks pada kedua kelompok penelitian, begitu pula dengan polimorfisme MMP-9 (C-1562T) yang dapat menyebabkan peningkatan ekspresi MMP-9. [MKB.2011;43(4):199–206].Kata kunci: Apoptosis sel serviks, ekspresi MMP-9, ketuban pecah dini, polimorfisme gen MMP-9MMP-9 Gene Polymorphism, MMP-9 Expression and Cervical Apoptotic Index on 21–36 Weeks of PregnancyOver expression and premature activation of matrix metalloproteinase (MMP) can lead to degradation of amnion chorionic membrane which clinically called premature rupture of membrane (PROM). Increasing MMP activity caused by matrix metalloproteinase-9 (MMP-9) gene polymorphism (C-1562T) will be followed by apoptosis. This study was aimed to find the differences between MMP-9 expression and cervical apoptotic index (AI) and also MMP-9 (C-1562T) polymorphism on 21–36 weeks of pregnancy with or without PROM. This was case control study and conducted in Dr. Hasan Sadikin Hospital and Bandung Networking Hospitals (May−November 2009). There were no significant correlation between MMP-9 expression and cervical AI in every variable on both groups. Three cases of PROM were found in mothers below 20 years of age. Women with 28−34 weeks of pregnancy had a greater risk for PROM than 21−28 weeks. Pregnant women with body mass index (BMI) 19−26, had risk to have PROM. Only one sample that showed a MMP-9 (C-1562T) polymorphism in the premature labor with PROM group. It can be concluded that there are no significant correlation between MMP-9 expression and cervical cells AI on both groups as well as MMP-9 (C-1562T) polymorphism which can alter MMP-9 expression. [MKB. 2011;43(4):199–206].Key words: Cervical cell apopt