cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 43, No 3 (2011)
8
Articles
Hubungan Cedera Servikal dengan Fraktur Depresi Tulang Frontal pada Cedera Kepala Ringan

Arifin, Muhammad Zafrullah ( Department of Neurosurgery, Universitas Padjadjaran, Hasan Sadikin Hospital, Bandung, Indonesia ) , Gunawan, Wienorman ( Department of Neurosurgery, Universitas Padjadjaran, Hasan Sadikin Hospital, Bandung, Indonesia )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.846 KB)

Abstract

Pemahaman mekanisme cedera kepala penting dalam menentukan pola cedera secara anatomis. Fraktur depresi tulang frontal terjadi bila terdapat gaya mekanis yang cukup kuat pada kepala. Dalam hal ini pada aksis fleksi dan ekstensi. Gerakan fleksi ekstensi berlebihan dilaporkan berhubungan dengan cedera servikal. Penelitian analitik retrospektif di Departemen Bedah Saraf RS Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2008–Desember 2009 ini bertujuan untuk melihat hubungan cedera servikal dengan fraktur depresi tulang frontal pada penderita cedera kepala ringan. Uji statistik menggunakan chi-kuadrat dan Pearson correlation. Didapatkan 354 kasus cedera kepala ringan dengan 17 (4,8%) kasus fraktur depresi tulang frontal, 14 (3,9%) kasus cedera servikal termasuk satu kasus dengan keduanya. Mekanisme cedera kepala terbanyak adalah kecelakaan bermotor, terjatuh dari ketinggian, dan benturan benda tumpul di bagian kepala. Hasil analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan fraktur depresi tulang frontal dengan cedera servikal (p=0,000). Tidak didapatkan hubungan penggunaan helm dengan risiko cedera servikal (p=0,157). Simpulan, fraktur depresi tulang frontal pada kasus cedera kepala ringan merupakan indikator adanya cedera servikal. [MKB. 2011;43(3):122–7].Kata kunci: Cedera kepala ringan, cedera servikal, fraktur depresi tulang frontalCorrelation of Cervical Injury to Frontal Depressed Fracture in Mild Head InjuryAn understanding of head injury mechanism has a major role in predicting the anatomical injury. Frontal depressed fracture occurs if a substantial force is applied to the head. In this case, the flexion and extension axis. Overflexion and over-extension movement was reported to have correlation with cervical injury. This study was to find out the correlation cervical injury and frontal depresses fracture in mild head injury cases. A retrospective analytic study was carried out, chi-square and Pearson correlation test were performed using records of patients consulted to Neurosurgery Department of Dr. Hasan Sadikin Hospital in January 2008–December 2009. There were 354 cases of mild head injury with 17 (4.8%) cases of frontal depressed fracture, 14 (3.9%) cervical injuries, included one with both. The cause of the trauma were riding motorcycle, fell from height, and blunt trauma to the head. The statistical analysis showed a significant correlation between cervical injury and frontal depressed fracture (p=0.000). There was no correlation between helmet utilization and risk of cervical injury (p=0.157). In conclusion, fracture in mild head injury cases is an indicator of cervical injury. [MKB. 2011;43(3):122–7].Key words: Cervical injury, mild head injury, frontal depressed fracture

Perubahan Gambaran Histopatologi Paru pada Paparan Debu Batubara Memakai Alat Model 2010

Kania, Nia ( Bagian Patologi Anatomi, Rumah Sakit Umum Daerah Ulin, Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin ) , Setiawan, Bambang ( Bagian Kimia Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru ) , Nurdiana, Nurdiana ( Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang ) , Widodo, M. Aris ( Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang ) , Kusuma, HMS Chandra ( Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Rumah Sakit Umum Daerah Syaiful Anwar, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tambang batubara di permukaan tanah mendorong pembuatan alat paparan debu batubara skala laboratorium. Optimasi alat paparan debu batubara model 2010 dilakukan untuk menentukan lokasi akumulasi debu batubara serta perubahan histopatologi paru. Penelitian eksperimental dilakukan pada kontrol (K), paparan debu batubara 14 hari (BB1), dan debu batubara 28 hari (BB2). Karakterisasi debu batubara dilakukan dengan scanning electron microscope (SEM) dan X-ray fluorescence (XRF) di Laboratorium Fisika Universitas Negeri Malang. Pemeriksaan histopatologis paru dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian dilakukan periode Agustus−November 2010. Scanning electron microscope paru menunjukkan diameter partikel <10 mm dan akumulasi partikel di alveolus. Parenkim paru berupa struktur alveolus tipis (K), penebalan alveolus dan edema epitel edematous (BB1), peningkatan edematous dan penyempitan rongga alveolus (BB2). Epitel bronkus dilapisi epitel silindris, epitel goblet, sel radang yang minimal (K), perpanjangan epitel silindris, hiperplasia epitel goblet dan mukus (BB1). Sel epitel menjadi menipis, lebih banyak mukus dan morfologi epitel menjadi tidak jelas (BB2). Epitel bronkoalveolus dilapisi epitel silindris, minimal sel goblet dan sel radang (K). Hiperplasia epitel goblet yang mendominasi disertai mukus (BB1). Epitel silindris dengan proliferasi sel goblet, mukus, taburan sel radang, dan fibrosis (BB2). Simpulan, alat paparan model 2010 memicu akumulasi debu batubara di alveolus serta perubahan histopatologi berupa inflamasi, hiperplasia sel goblet, dan fibrosis. [MKB. 2011;43(3):127–33]. Kata kunci: Alveolus, debu batubara, histopatologi, paruLung Histopatology Changed in Coal Dust Exposure with Model 2010EquipmentCoal mining on surface ground stimulate to create coal dust exposure equipment on laboratory scale. Optimation of model 2010 coal dust exposure equipment focus on coal dust accumulation and histopathologic of lung. This experimental study was done in control (K), coal dust exposure for 14 days (BB1), and coal dust exposure for 28 days (BB2). Coal dust characterization was done by scanning electron microscope (SEM) and X-ray fluorescence in Physics Laboratory Malang State of University. Histopathologic analysis was done in Pathologic Laboratory Ulin General Hospital. Research was done August−November 2010. Lung SEM showed particle diameter 10 mm and particle accumulated in alveolus. Lung parenchym showed thin alveolus structure (K), thickenning of alveolus and edematous epithelial (BB1), increased edematous and narrower alveolus space (BB2). Epithelial in bronchus layering by cylindrical and goblet epithelial, inflammation cell (K), elongation of cylindrical epithelial, hyperplasia goblet epithelial and mucous (BB1). Epithelial became thick, more mucous, and epithelial morphology became unclear (BB2). Bronchoalveolus epithelial layering by cylindrical epithelial, minimal goblet cell and inflammation cell (K). Goblet cell hyperplasia and mucous (BB1). Cylindrical epithelial with goblet cell proliferation, mucous inflammation cell, and fibrosis (BB2). In conclusions, coal dust exposure with model 2010 equipment trigger coal dust accumulation in avelous and histopathologic changes of inflamation, goblet cell hyperplasia, and fibrotic. [MKB. 2011;43(3):127–33].Key words: Alveolus, coal dust, histopathologic, lung

Distribusi Genotipe dan Subtipe Virus Hepatitis B pada Penderita Hepatitis B Kronik di Pekanbaru

Arfianti, Arfianti ( Bagian Biologi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Riau ) , Zainal, Andi ( Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Riau-RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru ) , Andrini, Fauzia ( Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Riau ) , Endriani, Rita ( Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Riau )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (494.56 KB)

Abstract

Variasi genetik virus hepatitis B (VHB) dapat mempengaruhi manifestasi klinis, risiko karsinoma hepatoselular (KH), dan respons terhadap terapi antiviral. Desain penelitian adalah analitik cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan distribusi genotipe dan subtipe VHB pada berbagai manifestasi klinis hepatitis B kronik di Pekanbaru. Sebanyak lima puluh dua serum penderita hepatitis B kronik di Pekanbaru diperoleh sejak bulan Maret sampai Agustus 2009 telah diperiksa pada penelitian ini. Analisis statistik menggunakan uji Fisher. Penentuan genotipe VHB dilakukan dengan membandingkan sikuens gen S pada penelitian ini dengan sikuens gen S yang telah dipublikasi pada GenBank. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 31 (60%) penderita terinfeksi oleh genotipe C dan 21 (40%) oleh genotipe B. Berdasarkan manifestasi klinis, genotipe C merupakan genotipe yang paling banyak ditemukan pada donor darah (7/10 penderita) dan sirosis (7/10 penderita), sedangkan pada penderita hepatitis B kronik aktif dan KH ditemukan frekuensi genotipe B dan C yang hampir sama. Subtipe adr (60%) merupakan subtipe yang paling banyak ditemukan, diikuti oleh subtipe adw (38%) dan ayw (2%). Berdasarkan hasil uji stastitik tidak ditemukan perbedaan bermakna distribusi genotipe dan subtipe pada berbagai manifestasi klinis infeksi VHB. Namun, genotipe C (8/9 penderita) merupakan genotipe VHB yang paling banyak ditemukan pada penderita KH dengan sirosis, sedangkan genotipe B (8/11 penderita) merupakan genotipe VHB yang paling banyak menginfeksi penderita KH tanpa sirosis (p=0,01). Simpulan, genotipe VHB mungkin berhubungan dengan patogenesis karsinoma hepatoselular dengan sirosis dan tanpa sirosis. [MKB. 2011;43(3):105–11].Kata kunci: Genotipe, hepatitis B kronik, karsinoma hepatoselular, sirosis, subtipeDistribution of Hepatitis B Virus Genotypes and Subtypes Among Chronic Hepatitis B Patients in PekanbaruGenetic variance of hepatitis B virus (HBV) may influence the clinical manifestation, development of hepatocellular carcinoma (HCC), and response to antiviral treatment. This was analytic cross-sectional study which aimed to investigate the distribution of HBV genotypes and subtypes among different clinical status of chronic hepatitis B in Pekanbaru. A total of fifty-two of sera from chronic hepatitis B patients in Pekanbaru was collected from March to August 2009. Statistical analysis was performed by using Fisher test. HBV genotypes were examined based on homology of S gene from this study with those of GenBank database. Of these subjects, 31 (60%) and 21 (40%) were infected by genotype C and B, respectively. Based on clinical manifestation, genotype C was predominantly found among HBsAg-positive blood donors (7/10 patients) and liver cirrhosis (7/10 patients), whereas genotype B and C were comparable among chronic hepatitis B active and hepatocellular carcinoma patients. Subtype adr (60%) was the most prevalent, followed by subtype adw (38%) and subtype ayw (2%). There were no significant difference in the distribution of HBV genotypes and subtypes among diverse clinical manifestation of HBV infection. However, genotype C was predominantly detected among cirrhotic-HCC (8/9 patients) , while genotype B was mostly identified among non cirrhotic-HCC (8/11 patients) (p=0.01). In conclusion, HBV genotype may be associated with the pathogenesis of cirrhotic and noncirrhotic-HCC. [MKB. 2011;43(3):105–11].Key words: Chronic hepatitis B, genotype, hepatocellular carcinoma, liver cirrhosis, subtype

Keberhasilan Fusi Tulang Belakang pada Spondilitis Tuberkulosis

Rahim, Agus Rahadian ( Departemen Orthopaedi & Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Tiksnadi, Bambang ( Departemen Orthopaedi & Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Hidayat, Nucki N. ( Departemen Orthopaedi & Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Ramdan, Ahmad ( Departemen Orthopaedi & Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (834.592 KB)

Abstract

Fusi tulang belakang pada spondilitis tuberkulosis bertujuan untuk menghilangkan sumber infeksi, koreksi deformitas, dan mengatasi komplikasi neurologis. Data tingkat keberhasilan fusi ini masih belum tersedia. Kendala lain adalah harga instrumentasi bermerek untuk operasi fusi tulang belakang sangat mahal. Penelitian studi kohort retrospektif ini untuk evaluasi keberhasilan fusi tulang belakang pada spondilitis tuberkulosis di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung tahun 2005–2009. Didapatkan 115 kasus spondilitis tuberkulosis yang dioperasi terdiri atas 34 (29,3%) kasus anterior decompresion spinal fusion (ADSF) dan 81 (70,7%) kasus dengan menggunakan instrumentasi posterior. Dari 81 kasus tersebut, terdapat 3, 27, 26, dan 19 orang berturut-turut mengalami fusi tulang belakang setelah 4, 3, 2, dan 1 tahun pascaoperasi. Hanya 6 kasus yang belum mengalami fusi. Tingkat keberhasilan fusi tulang belakang pada kasus spondilitis tuberkulosis terbukti tinggi, 93%. Selain itu, instrumentasi lokal dapat digunakan sebagai alternatif instrumentasi yang bersifat cost effective untuk tindakan operasi fusi tulang belakang pada kasus spondilitis tuberkulosis dengan p=0,63. Sebagai kesimpulan, kasus spondilitis tuberkulosis yang memerlukan tindakan operasi fusi tulang belakang dapat ditangani dengan baik di RS Dr. Hasan Sadikin, dengan tingkat keberhasilan tinggi dan cost effective. [MKB. 2011;43(3):134–9].Kata kunci: Fusi tulang belakang, spondilitis tuberkulosisSuccessful Rate of Spinal Fusion in Spondylitis TuberculosisSpinal fusion for spondylitis tuberculosis is performed to diminish infection source, correct deformity and overcome neurologic complication. Data of spinal fusion rate has not been available yet. The other problem is that branded instrumentation price is very expensive. The aim of this retrospective cohort study was to evaluate successful rate of spinal fusion in spondylitis tuberculosis performed in Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung year 2005–2009. There were 115 cases of spondylitis tuberculosis which treated by operations, 34 cases (29.3%) with anterior decompresion spinal fusion (ADSF) and 81 cases (70.7%) using posterior instrumentation. From those 81 cases, 3, 27, 26, and 19 patients after surgery 4, 3, 2, dan 1 year had spinal fusion, consecutively. Only 6 cases who had not fused yet. The successful rate of spinal fusion in spondylitis tuberculosis, Bandung was proved to be high, 93%, and local instrument product could be used as a costly effective and good alternative treatment in operative management of spondylitis tuberculosis with p=0.63. As a conclusion, spondylitis tuberculosis cases which need spinal fusion can be well treated in Dr. Hasan Sadikin Hospital with high successful rate and cost effective. [MKB. 2011;43(3):134–9].Key words: Spinal fusion, spondylitis tuberculosis

Musim Hujan sebagai Faktor Risiko Kambuh pada Anak Penderita Sindrom Nefrotik Sensitif Steroid

Budiman, Arief ( Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Banjar ) , Hilmanto, Dany ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Garna, Herry ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.667 KB)

Abstract

Kekambuhan pada sindrom nefrotik sensitif steroid (SNSS) cukup sering terjadi. Faktor risiko kambuh antara lain adalah usia serangan pertama, atopi, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) karena virus, dan genetik. Mekanisme kambuh juga berkaitan dengan pelepasan interleukin yang dapat dicetuskan oleh kelembaban tinggi dan suhu rendah seperti yang terjadi pada musim hujan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah musim hujan dapat merupakan faktor risiko kambuh pada anak penderita SNSS. Penelitian dengan rancangan kohort prospektif ini dilakukan selama periode Oktober 2005–September 2006 di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan subjek penelitian penderita SNSS kambuh, berusia 1−14 tahun. Dilakukan wawancara serta dicatat waktu kambuh pada musim hujan (Oktober 2005–Maret 2006) dan kemarau (April–September 2006).Kriteria kambuh berdasarkan International Study of Kidney Disease in Children (ISKDC). Analisis statistik menggunakan uji perubahan McNemar. Faktor risiko kambuh ISPA dan riwayat atopi diuji dengan analisis multivariabel regresi logistik. Besar sampel berdasarkan rumus data berpasangan diperoleh sebesar 35. Terdapat 43 subjek terdiri atas 26 laki-laki dan 17 perempuan. Sebanyak 26 subjek kambuh pada musim hujan dan 7 subjek kambuh pada musim kemarau (X2=9,818; p=0,002; RR=3,71; 95% IK 2,6−9,8). Analisis multivariabel dengan regresi logistik yang mengikutsertakan faktor ISPA dan riwayat atopi tidak menunjukkan perbedaan kejadian kambuh pada musim hujan dan kemarau (p>0,05). Disimpulkan bahwa musim hujan merupakan faktor risiko terjadinya kambuh pada anak yang menderita SNSS. [MKB. 2011;43(3):112–6].Kata kunci: Kambuh, musim hujan, sindrom nefrotik sensitif steroidRainy Season as the Risk Factor of Relapse in Children with Steroid Sensitive Nephrotic SyndromeRelapse were common in children with steroid-sensitive nephrotic syndrome (SSNS). Risks of relapse were age at onset, atopic history, acute viral respiratory tract infection (ARI), and genetic. Releasing of interleukin is associated with relapse mechanism in nephrotic syndrome and may be precipitated by high humidity and low temperature as in rainy season. The aim of this study was to determine rainy season as the risk factor of relapse in SSNS. Other risk factors such as ARI and atopic history were also included. This cohort prospective studywas conducted of relapsing SSNS patients who fulfilled the criteria of International Study of Kidney Diseases in Children (ISKDC), aged 1−14 years. We recorded time of relapse in rainy season (October 2005–March 2006) and dry season (April–September 2006). Statistical analysis by McNemar and for ARI and atopic history by logistic multivariable regression. From statistical calculation minimal samples were 35. A total of 43 subjects (26 boys and 17 girls) fulfilled the inclusions criteria. Of these subjects, 26 relapsed in rainy season and 7 in dry seasons(X2=9.818, p=0.002, RR=3.71, 95% CI 2.6−9.8). Multivariable analysis with logistic regression revealed that ARI and atopic history had no association with relapses in both seasons (p>0.05). We conclude that rainy season is the risk factor for relapse of SSNS. [MKB. 2011;43(3):112–6].Key words: Rainy season, relapse, steroid-sensitive nephrotic syndrome

Kesesuaian antara Foto Toraks dan Mikroskopis Sputum pada Evaluasi Respons Pengobatan Tuberkulosis Paru setelah Enam Bulan Pengobatan

Soetikno, Ristaniah D. ( Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung ) , Derry, Derry ( Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.696 KB)

Abstract

Evaluasi pengobatan penderita tuberkulosis paru meliputi evaluasi klinis, bakteriologis, dan radiologis. Evaluasi bakteriologis bertujuan untuk mendeteksi ada tidaknya konversi sputum yang merupakan indikator keberhasilan pengobatan. Foto toraks merupakan pemeriksaan yang mudah, cepat dengan biaya yang relatif murah, tetapi belum dijadikan indikator keberhasilan pengobatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kesesuaian antara gambaran foto toraks dan sputum mikroskopis pada evaluasi respons pengobatan penderita tuberkulosis paru setelah enam bulan pengobatan. Penelitian dilakukan pada 246 orang penderita baru dengan diagnosis tuberkulosis paru yang telah mendapat pengobatan tuberkulosis selama enam bulan. Data diambil dari penelitian Proverty Related Infection Oriented Research (PRIOR) di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung yang berlangsung dari September 2000 sampai dengan Desember 2005. Pembacaan hasil foto toraks dilakukan oleh dua orang ahli radiologi. Subjek penelitian berusia 15−67 tahun. Hasil pembacaan kedua ahli radiologi menunjukkan kesesuaian antara penilaian foto toraks dan hasil mikroskopis sputum. Nilai kesesuaian hasil pembacaan oleh ahli radiologi I adalah 0,420 (fair) dan ahli radiologi II adalah 0,446 (fair). Simpulan, terdapat kesesuaian antara penilaian foto toraks dan hasil mikroskopis sputum pada evaluasi respons penderita tuberkulosis paru setelah enam bulan pengobatan. Foto toraks dapat dijadikan alternatif evaluasi respons tuberkulosis paru setelah enam bulanpengobatan. [MKB. 2011;43(3):140–5].Kata kunci: Foto toraks, sputum mikroskopis, tuberkulosis paruCompatibility between Chest Radiograph and Microscopic Sputum Examination at Response Evaluation of Lungs Tuberculosis after Six Months of TherapyEvaluation of pulmonary tuberculosis treatment include clinical, bacteriological, and radiological evaluation. Bacteriological evaluation aims to detect sputum conversion as an indicator of treatment success. Chest radiograph is simple, quick and relatively low cost, but it has not been used as an indicator of treatment success. This study aims was to compare the compatibility between chest radiograph and microscopic sputum in patients with lung tuberculosis after sixth months of treatment. The study was conducted on 246 new lung tuberculosis patients that had received treatment for six months. Data was taken from Proverty Related Infection Oriented Research (PRIOR) at Medical Faculty of Padjadjaran University in Bandung that was held from September 2000 to December 2005. Assessment of chest radiographs was performed by two expert radiologists. Age of the subjects were 15−67 years old. The study showed that chest radiograph assessment was compatible with sputum microscopy result. The suitability value between them was 0.420 (fair) by the first radiologist and 0.446 (fair) by the second radiologists. In conclusion, there is compatibility between assessment chest radiograph and microscopic sputum examination at the responses evaluation of the lung tuberculosis patients after six months of therapy. Chest radiograph can be an alternative for response evaluation of lung tuberculosis after six months of therapy. [MKB. 2011;43(3):140–5].Key words: Lungs tuberculosis, microscopic sputum, thorax photo

Uji Coba Penggunaan Limbah Air Kelapa Tua sebagai Bahan Dasar Media Isolasi

Yolanda, Hanna ( Departemen Parasitologi Unika Atma Jaya ) , Mulyana, Yanti ( Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.309 KB)

Abstract

Media pembenihan isolasi yang umumnya digunakan adalah media sintetik yang diimpor dan harganya mahal. Banyak bahan organik yang secara alamiah mengalami pemecahan senyawa organik kompleks menjadi senyawa sederhana oleh mikrob. Berdasarkan pemikiran inilah, peneliti mencoba membuat media isolasi dengan bahan dasar limbah air kelapa tua, sehingga dapat menjadi pertimbangan sebagai media yang lebih ekonomis. Metode penelitian adalah eksperimental laboratorik dengan mengisolasi bakteri uji menggunakan media berbahan dasar air kelapa tua. Media air kelapa tua dikomposisikan menyerupai komposisi agar MacConkey dan lempeng agar darah (LAD). Media standar yang digunakan adalah agar MacConkey dan LAD. Media kontrol yang digunakan adalah media agar 15 g/L dan media agar air kelapa tua. Bakteri yang diuji adalah beberapa spesies Enterobacteriaceae dan kokus gram positif. Variabel yang dinilai adalah gambaran makroskopis dan mikroskopis. Analisis data menggunakan teknik Wilcoxon matched pairs test dan sign test. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan tidak bermakna (p>0,05) antara media standar dan media air kelapa tua. Gambaran spesifik dari bakteri uji seperti koloni berwarna merah, gambaran mukoid, dan zona hemolitik tampak serupa antara media standar dan media air kelapa tua. Simpulan penelitian ini adalah air kelapa tua dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar media isolasi Enterobacteriaceae dan kokus gram positif. [MKB. 2011;43(3):117–21].Kata kunci: Agar MacConkey, air kelapa tua, isolasi, lempeng agar darah, media Using Ripe Coconut Waste-Water as Base for Isolation Media SubstanceThe culture media commonly used for isolation are imported and expensive. Many organic materials are naturally decomposed from complex organic compounds to simple ones by microbes. Based on this principles, this study wants to make isolation media with ripe coconut waste-water as based substance, so it can be considered as economical culture media. The method was laboratoric experimental by isolating tested bacteria with ripe coconut waste-water as based substance. The composition of the media were adjusted with MacConkey agar and blood agar base. Standard media were MacConkey agar and blood agar base. Control media were agar 15 g/L media and ripe coconut waste-water agar media. Tested bacteria were a number species of Enterobacteriaceae and positive gram cocci. The evaluated variables were macroscopic and microscopic images. Data was analized by Wilcoxon matched pairs test and sign test methods. This study did not find a significant differences (p>0.05) between standard media and ripe coconut waste-water media. Specific characteristics of tested bacteria, such as red colonies, mucoid, and hemolitic zone, were similar between standard media and ripe coconut waste-water media. The conclusion is ripe coconut waste-water can be used as base for isolation media substance of Enterobacteriaceae and gram positive cocci. [MKB. 2011;43(3):117–21].Key words: Blood agar base, MacConkey agar, isolation, media, ripe coconut waste-water

Laporan Kasus: Penyakit Kawasaki Atipikal

Setiabudiawan, Budi ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Ghrahani, Reni ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Sapartini, Gartika ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Anggara, Mohamad Yanuar ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Garna, Herry ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.166 KB)

Abstract

Penyakit Kawasaki merupakan penyebab utama kelainan jantung dapatan yang sering ditemukan pada anak. Di Indonesia, penyakit ini masih sangat jarang didiagnosis karena dianggap masih jarang dan belum diketahui secara luas. Dua laporan kasus berikut merupakan laporan kasus anak perempuan dan laki-laki, masing-masing berusia 17 bulan dan 3 tahun. Keduanya datang dengan demam yang persisten lebih dari 5 hari dan hanya memenuhi 3 kriteria klasik penyakit Kawasaki, yakni mata merah dan disertai dengan perubahan mukosa bibir serta ekstremitas. Penderita kemudian didiagnosis sebagai penyakit Kawasaki atipikal. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan peningkatan C-reactive protein dan laju endap darah disertai gambaran ekokardiografi yang normal. Kedua anak diberikan imunoglobulin intravena (IGIV) dengan dosis 2 gram/kgBB dosis tunggal dan aspirin dosis 80 mg/kgBB/hari. Penderita mengalami perbaikan setelah 1 hari mendapat terapi kombinasi tersebut. Disimpulkan bahwa pengobatan dengan kombinasi IGIV dan aspirin memberikan respons yang baik pada penyakit Kawasaki atipikal. [MKB. 2011;43(3):146–52].Kata kunci: Aspirin, imunoglobulin intravena, penyakit Kawasaki atipikal Case Reports: Atypical Kawasaki DiseaseKawasaki disease is the most common cause of acquired heart disease in children. In Indonesia the disease is rare to diagnosed, because of difficulty in diagnosis and not widely known. These were 2 case reports about a girl and a boy age 17 months and 3 years, who came with persistent fever more than 5 days and only fulfilled 3 criteria of Kawasaki disease, which are red eyes, changes in lips, mucose of oral and extremities. They were diagnosed as atypical Kawasaki disease. Laboratory examinations showed an increased of C-reactive protein and erythrocyte sedimentation rate with normal echocardiography. The patients were improved after treated with 2 grams per bodyweight of intravenous immunoglobulin (IVIG) and 80 mg per bodyweight of aspirin. The patients were better after one day combination therapy. In conclusion that atypical Kawasaki disease has good response to combination of IVIG and aspirin. [MKB. 2011;43(3):146–52].Key words: Aspirin, atypical Kawasaki disease, intravenous immunoglobulin